hacklink hack forum hacklink film izle hacklink Dubai online casinosonline casinos Nederlandmadritbetสล็อตเว็บตรงBetAndreas AzərbaycanjojobetromabetnakitbahisBetsalvadorenbetcasinolevant

Search the OES Encyclopedia

Article Toleransi dalam Pluralitas Agama

Toleransi dalam Pluralitas Agama

Hukum Toleransi dalam Pergaulan Antar Umat Beragama

Manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain, oleh sebab itu manusia disebut makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Lebih-lebih kita hidup dalam negara yang penuh keragaman, baik dari segi budaya, status sosial, suku, budaya maupun agama. Untuk hidup damai dan berdampingan, tentu dibutuhkan teposeliro (tenggang rasa) atau toleransi antara satu dengan yang lainnya.

Hukum toleransi dalam pergaulan antar umat beragama (pluralitas agama) adalah sebagai berikut:

  1. Dilarang (haram), apabila dalam berhubungan, rela (ridho) serta meyakini kebenaran aqidah agama lain.
  2. Boleh, bergaul atau menjalin hubungan baik dalam urusan dunia saja dengan sebatas dhohir.
  3. Dilarang, tapi tidak menjadi kufur yaitu apabila tolong menolong tersebut disertai rasa condong terhadap keyakinan (akidah) agama lain yang disebabkan ada hubungan kerabat atau cinta, tetapi tetap beri’tikad bahwa agama mereka adalah bathil. Dan apabila tolong menolong yang disertai rasa condong itu dapat membuat rasa simpati dan rela terhadap agama mereka maka bisa keluar dari agama Islam.
  4. Tidak dilarang, (bahkan dianjurkan) apabila bertujuan untuk menghindari bahaya yang berasal dari mereka atau untuk memperoleh kemanfaatan atau kemaslahatan.

Diterangkan dalam kitabTafsir Munir Lin Nawawi juz 1, hal. 94. kitab al-Bab Fii ‘Ulum al-Kitab bab surat Ali Imran juz 5 hal.143. dan dalam Hasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khatib pada Fasal Fii al-Jizyah juz 4 halaman 291-292:

وَاعْلَمْ أَنَّ كَوْنَ الْمُؤْمِنِ مُوَالِياً لِلْكاَفِرِ يَحْتَمِلُ ثَلاَثَةَ أَوْجُوْهٍ أَحَدُهَا أَنْ يَكُوْنَ رَاضِياً بِكُفْرِهِ وَيَتَوَلاَّهُ لِأَجْلِهِ وَهَذَا مَمْنُوْعٌ لِأَنَّ الرِّضَى بِالْكُفْرِ كُفْرٌ. وَثَانِيْهَا الْمُعَاشَرَةُ الْجَمِيْلَةُ فِى الدُّنْياَ بِحَسَبِ الظَّاهِرِ وَذَلِكَ غَيْرُ مَمْنُوْعٍ. وَثاَلِثُهاَ الرُّكُوْنُ إِلَى الْكُفْرِ وَالْمَعُوْنَةِ وَالنُّصْرَةِ إِمَّا بِسَبَبِ اْلقَرَابَةِ أَوْ بِسَبَبِ الْمَحَبَّةِ مَعَ اعْتِقَادٍ أَنَّ دِيْنَهُ باَطِلٌ فَهَذَا لاَ يُوْجِبُ الْكُفْرَ إِلاَّ أَنَّهُ مَنْهِىٌّ عَنْهُ لِأَنَّ الْمُوَالَةَ هَذَا الْمَعْنَى قَدْ تَجُرُّهُ إِلَى اسْتِحْساَنِ طَرِيْقِهِ وَالرِّضَى بِدِيْنِهِ وَذَلِكَ يَخْرُجُهُ عَنِ اْلإِسْلاَمِ (تفسير المنير، ج 1 ص 94)

KeteranganHasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khatib pada Fasal Fii al-Jizyah, sebagai berikut:

قَوْلُهُ: (تَحْرُمُ مَوَدَّةُ الْكَافِرِ) أَيْ الْمَحَبَّةُ وَالْمَيْلُ بِالْقَلْبِ وَأَمَّا الْمُخَالَطَةُ الظَّاهِرِيَّةُ فَمَكْرُوهَةٌ – – – اِلَخْ، أَمَّا مُعَاشَرَتُهُمْ لِدَفْعِ ضَرَرٍ يَحْصُلُ مِنْهُمْ أَوْ جَلْبِ نَفْعٍ فَلَا حُرْمَةَ فِيهِ ا هـ ع ش عَلَى م ر (حاشية البجيرمى على الخاطب، فصل فى الجزية  ج 4 ص 291-292)

Kata pengarang, “Haram mencintai non muslim” maksudnya, cinta, senang dan condong dengan hati. Adapun berinteraksi dengan orang-non muslim dalam urusan zhahir adalah makruh, sedangkan berinteraksi dengan mereka untuk menghindari bahaya yang berasal dari mereka atau untuk memperoleh manfaat maka tidak dilarang. (Hasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khatib pada Fasal Fii al-Jizyah, juz 4, hal. 291-292)

Hukum Mengucapkan Salam Kepada Non Muslim

Yang dimaksud dengan non muslim adalah orang yang bukan beragama Islam termasuk orang Yahudi, Nasrani, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Konghucu dan lain-lain.

Dalam hal memberi salam kepada orang non muslim, para ulama’ berbeda pandangan mengenai hal ini:

  1. Sebagian ulama’ berpendapat bahwa memberi salam kepada orang non muslim itu tidak boleh.

لَا يَجُوْزُ السَّلاَمُ عَلَى الْكُفَّارِ، هَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ الصَّحِيْحُ وَبِهِ قَطَعَ الْجُمْهُوْرُ. (المجموع شرح المهذب، ج 4، ص 507)

Tidak diperbolehkan memberi salam terhadap orang-orang kafir, menurut pendapat (madzhab) yang sahih yang disepakati mayoritas ulama’. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 4, hal. 507)

رُوِىَ عَنْ سَهْلِ بْنِ أَبِىْ صَالِحٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قاَلَ لاَ تَبْدَأُوْا الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى بِالسَّلاَمِ وَإِذاَ لَقِيتُمْ فِى الطَّرِيْقِ فَاضْطَرُّوْهُ إِلَى أَضْيَقِهِ (المجموع شرح المهذب، ج 4، ص 508)

Diceritakan dari sahal bin Abi shaleh, dari ayahnya, dari Abu Hurairah ra. Bahwa Nabi bersabda: janganlah engkau memberi salam kepada orang Yahudi dan orang Nasrani, dan ketika kamu bertemu di jalan, maka bergeserlah ke jalan yang lebih sempit. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 4, hal. 508)

  1. Sebagian ulama’ berpendapat bahwa memberi salam kepada orang non muslim hukumnya boleh.

وَحَكَى الْمَاوَرْدِي فِي الْحَاوِي فِيْهِ وَجْهَيْن أَحَدُهُمَا هَذَا، وَالثَّانِيْ: يَجُوْزُ ابْتِدَاؤُهُمْ بِالسَّلَامِ، لَكِنْ يَقُوْلُ السَّلاَمُ عَلَيْكَ، وَلَا يَقُوْلُ عَلَيْكُمْ. وَهَذَا شَاذُّ ضَعِيْفٌ. (المجموع شرح المهذب، ج 4، ص 507)

Dalam kitab Hawy Imam Mawardi menceritakan bahwa memberi salam kepada orang non muslim ada dua  macam: yang pertama tidak boleh, kedua: boleh memberi salam kepada orang non muslim, akan tetapi dengan mengucapkan as-Salamu ‘Alaika. Jangan mengucapkan as-Salamu ‘alaikum. Pendapat ini lemah dan langka. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 4, hal. 507)

عَنْ أَبِىْ أُمَامَةِ اْلبَاهِلِى أَنَّهُ كاَنَ لاَيَمُرُّ بِأَحَدٍ مِنَ الْيَهُودِي وَالنَّصَارَى إِلاَّ بِإِفْشاَءِ السَّلاَمِ عَلَيْهِمْ وَقاَلَ أَمَرَناَ رَسُوْلُ اللهِ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ عَلىَ سَلاَمِ كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُعَاهَدٍ

Diceritakan dari Abi Umamah al-Bahali, sesungguhnya dia tidak pernah berjalan bertemu orang yahudi kecuali dengan memberi salam kepada mereka. Abu Umamah berkata: Rasulullah memerintah kepada kita supaya menebar salam kepada setiap orang Islam dan orang kafir mu’ahad (orang kafir yang berjanji kepada pemerintah akan tunduk dan patuh pada undang-undang Negara).

Hukum Mengucapkan Salam Menggunakan Selain Bahasa Arab

Ucapan salam sering kita dengar di suatu acara atau setiap kali bertemu sanak famili, teman maupun saudara, namun salam yang diucapkan itu berbeda-beda, ada yang menggunakan bahasa arab dan juga ada yang menggunakan bahasa selain bahasa arab (selain ucapan Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh) seperti dengan bahasa Jawa (sugeng injing, sugeng dalu), dengan bahasa Indonesia seperti selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, salam kebangsaan, salam damai, salam sejahtera atau dengan bahasa Inggris seperti hello, good morning, good afternoon dan masih banyak lagi bahasa yang lain.

Bagaimanakah pandangan fiqih mengenai hukum ucapan salam selain bahasa arab tersebut?

Menurut imam Rafi’i ada tiga pendapat:

  1. Tidak cukup
  2. Sudah mencukupi
  3. Jika mampu menggunakan bahasa arab maka tidak mencukupi, tetapi kalau tidak bisa bahasa arab maka sudah mencukupi.
  4. Sah dan wajib menjawab bagi orang yang disalami jika bisa memahami maksudnya (pendapat yang shahih bahkan benar).

Keterangan kitab al-Majmu’, juz 4, hal. 505:

حَكَى الرَّافِعِىُّ فِي السَّلاَمِ بِالْعَجَمِيَّةِ ثَلاَثَةَ أَوْجُهٍ أَحَدُهَا لاَ يُجْزِئُ وَالثَّانِيْ يُجْزِئُ وَالثَّالِثُ إِنْ قَدَرَ عَلَى الْعَرَبِيَّةِ لَمْ يُجْزِئْهُ وَإِلاَّ فَيُجْزِئُهُ وَالصَّحِيْحُ بَلِ الصَّوَابُ صِحَّةُ سَلاَمِهِ بِالْعَجَمِيَّةِ وَوُجُوْبُ الرَّدِّ عَلَيْهِ إِذَا فَهِمَهُ الْمُخَاطَبُ سَوَاءٌ عَرَفَ الْعَرَبِيَّةَ أَمْ لاَ لِأَنَّهُ يُسَمَّى تَحِيَّةً وَسَلاَمًا، وَأَمَّا مَنْ لاَ يَسْتَقِيْمُ نُطْقَةً بِالسَّلاَمِ فَيَسْلِمُ كَيْفَ أَمْكَنَهُ بِاْلاِتِّفَاقِ لِأَنَّهُ ضَرُوْرَةٌ إهـ (المجموع شرح المهذب الباب صفة السلام وأحكامه، ج 4 ص 505)

Imam Rofi’i mengemukakan tiga pendapat tentang salam dengan menggunakan bahasa selain bahasa arab, 1. Tidak cukup, 2. Cukup, 3. Jika mampu menggunakan bahasa arab maka tidak cukup, tetapi kalau tidak bisa maka cukup, sedangkan pendapat yang shahih bahkan benar salam sah menggunakan bahasa apa saja selain bahasa arab dan wajib menjawab bagi orang yang disalami jika bisa dipahami maksudnya baik yang mengucapkan salam bisa bahasa arab atau tidak bisa, karena salam selain bahasa arab bisa disebut sebagai penghormatan dan ucapan selamat, sedangkan bagi orang yang tidak mampu mengucapkan salam maka para ulama’ sepakat baginya tetap disunnahkan salam sebisanya karena darurat. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, bab Shifat as-Salam wa Ahkamuhu, juz 4, hal. 505)

Penjelasan:

Ucapan “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu” adalah sebagai tanda penghormatan dan ucapan doa selamat, demikian pula ucapan salam dengan menggunakan berbagai bahasa yang bisa dimengerti, bahkan menurut kesepakatan para ulama’ “bagi orang yang tidak mampu mengucapkan salam dengan bahasa arab disunnahkan mengucapkan salam dengan menggunakan bahasa selain bahasa Arab yang mudah dimengerti atau mudah dipahami.

Hukum Nonmuslim Masuk ke Dalam  Masjid

Di Ponpes demo sering kali kedatangan tamu tokoh-tokoh dari lintas agama baik itu pendeta, romo, uskup, biarawati dan lain sebagainya. Ketika berada di Ponpes para tamu itu oleh sang Kyai demo diajak mengikuti suatu acara (pengajian seninan, pengajian selosoan, pengajian tafsir dan berdoa) bersama-sama masyarakat di dalam masjid. Bagaimanakah hukum nonmuslim masuk ke dalam masjid dan berdiam di dalamnya?

Hukum nonmuslim masuk ke dalam masjid dan berdiam di dalamnya secara mutlak adalah boleh, dengan syarat bisa menjaga kehormatan masjid. Hal ini dijelaskan dalam kitab al-Kurdii ‘ala al-Minhaj al-Qawim, halaman 98. Dan dalam kitab Busyra al-Kariim juz 1 halaman 37:

وَأَمَّا الْكَافِرُ فَلَا يُمْنَعُ الْمُكْثُ فِيْهِ اَىْ فِي الْمَسْجِدِ. (الكردى على المنهاج القويم ص 98)

Adapun orang-orang non muslim tidak dilarang diam di dalam masjid. (al-Kurdii ‘ala al-Minhaj al-Qawim, hal. 98)

وَأَمَّا الْكَافِرُ وَغَيْرُ الْمُكَلَّفِ وَالصَّـِبيُّ فَلاَ يَحْرُمُ عَلَيْهِمُ الْمُكْثُ بِهِ مُطْلَقاً اهـ. (بشرى الكريم الجزء 1 ص 37)

Adapun orang-orang nonmuslim, orang yang tidak mukallaf dan bocah, tidak haram diam di dalam masjid secara mutlak. (Busyra al-Karim, juz 1, hal. 37)

Dalam kitab al-Majmu’ pengikut Imam Syafi’i (ulama’ madzhab Syafi’iyah) berpendapat; bahwa orang nonmuslim boleh masuk bahkan menginap di dalam masjid (kecuali Masjidil Haram Makah), dengan seizin kaum muslimin;

قَالَ أَصْحَابُناَ لاَ يُمْكِنُ كاَفِرٌ مِنْ دُخُوْلِ حَرَمِ مَكَّةَ، وَأَمَّا غَيْرُهُ فَيَجُوْزُ أَنْ يَدْخُلَ كُلَّ مَسْجِدٍ وَيَبِيْتُ فِيْهِ بِإِذْنِ الْمُسْلِمِيْنَ وَيُمْنَعُ مِنْهُ بِغَيْرِ إِذْنٍ (المجموع شرح المهذب  ج 2، ص 198)

Menurut Ashhabuna (pengikut Imam Syafi’i) bahwa orang nonmuslim tidak diperbolehkan memasuki tanah haram Mekah, adapun masuk dan menginap di masjid selain tanah haram Mekkah diperbolehkan dengan izin kaum muslimin, dan dilarang jika tanpa ada izin”. (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, juz 2, hal. 198)

Bom Bunuh Diri

Akhir-akhir ini makin banyak kita jumpai fenomena yang unik yaitu tren bunuh diri sebagai gaya dan pilihan hidup, baik itu dilakukan oleh komunitas (kelompok atau organisasi) atau  perorangan yang mungkin karena salah paham atau bahkan paham yang salah terhadap ideologi atau keyakinan. Misalnya adalah anggota teroris yang berkeyakinan bahwa “mati bom bunuh diri dengan cara membunuh nonmuslim atau orang yang suka melakukan kemaksiatan maka itu dihukumi sebagai jihad dan matinya dihukumi syahid, kelak akan masuk surga dan mendapatkan bidadari-bidadari surga”. Selanjutnya bagaimanakah pandangan Ulama’ dalam hal ini?

Dalam hal ini, dengan tegas para Ulama’ menyatakan bahwa keyakinan mereka tersebut adalah sangat salah karena sudah jelas hal itu adalah bertentangan dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw. yaitu agar kita saling menyayangi dan saling mengasihi antar sesama manusia. Dan orang-orang yang telah membunuh manusia yang tidak bersalah dengan cara mengebom atau cara-cara yang lainnya maka orang yang melakukan bom bunuh diri itu tidak dihukumi mati syahid tetapi tetap dihukumi mati bunuh diri. Sedangkan orang yang mati bunuh diri adalah telah melakukan dosa besar dan tempat mereka adalah di neraka Jahannam untuk selama-lamanya. Sebagaimana keterangan di bawah ini:

تَتِمَّةٌ: مِنَ اْلكَباَئِرِ قَتْلُ اْلأِنْسَانِ نَفْسَهُ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ يُتَرَدَّى فِيْهَا خَالِدًا مُخَلِّدًا فِيْهَا أَبَدَا وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلَّذِيْ يَخْنَقُ نَفْسَهُ يَخْنَقُهَا فِي النَّارِ اهـ . (إسعاد الرفيق ، ج 2 ص 99)

Sebagian dari dosa besar adalah seseorang yang membunuh dirinya sendiri (bunuh diri) sebagaimana hadits Nabi Saw. “Barangsiapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung kemudian dia mati maka dia masuk neraka, dia dijatuhkan ke dalam neraka jahannam kekal dan abadi selama-lamanya”. Hadits Nabi yang lain “Seseorang yang mencekik lehernya sendiri sampai mati maka kelak dia akan disiksa dengan dicekik lehernya di neraka. (Keterangan dalam kitab Is’ad ar-Rafiq juz 2 hal.99 dan juga bisa dilihat keterangan dalam kitab Shahih Muslim bab ghildhu Tahrim Qotl al-Insan, juz 1, hal.72)

تَـنْبِيْهٌ. يَحْرُمُ عَلىَ الْمُتَأَلِّمِ قَتْلُ نَفْسِهِ وَإِنْ زَادَ أَلَمُهُ وَلَمْ يُطْـقِهِ لِأَنَّ بُرْأَهُ مَرْجُوٌّ ,اهـ (قليوبي وعميرة، ج 4، ص 210)

Haram bagi orang yang sakit untuk bunuh diri walaupun sakitnya bertambah parah dan dia tidak mampu untuk menahannya karena dengan cara membunuh dirinya sendiri dia berharap atau ingin segera bebas dari rasa sakit tersebut. (Qolyubi wa ‘Umairah, juz 4, hal. 210)

Maka dari itu kita harus waspada terhadap ajakan-ajakan atau doktrin-doktrin ajaran kelompok seseorang yang sering menanamkan benih-benih kedengkian, kebencian dan hasutan terhadap sesama manusia, karena kalau kita tidak waspada maka kita akan masuk perangkapnya yang perangkapnya itu hanya akan mengajak kita ke dalam kenistaan, kegelapan dan kehancuran belaka. Na’udzubillahi min dzalik.

Menanggapi Aksi Terorisme & Pemberantasannya di Indonesia

Tulisan ini sebagai bukti bahwa pondok pesantren ala NU bukanlah sarang teroris

Pengertian teror adalah kekacauan, tindakan sewenang-wenang untuk menimbulkan kekacauan, tindakan kejam dan mengancam dalam masyarakat. Pelaku teror disebut teroris yaitu orang yang melakukan kekacauan, tindakan kejam dan mengancam atau teror.

Memerangi teroris merupakan sebuah keharusan, karena bagaimanapun juga teroris adalah musuh bersama. Mereka memang manusia, akan tetapi mereka adalah manusia yang tidak mempunyai rasa prikemanusiaan. Oleh karena itu, negara terus menerus berusaha memberantas tokoh-tokoh teror sampai dengan akar-akarnya. Sebagai-mana hal ini telah diketahui bersama melalui media massa maupun media elektronik.

Oleh karena itu, apresiasi layak diberikan kepada pihak berwajib atas kesigapan mereka dalam meredam kemungkinan adanya serangan teroris di Indonesia dengan menangkap gembong-gembong teroris yang disinyalir sebagai otak dari aksi teror di negeri ini.

Namun, upaya yang telah dilakukan oleh pihak berwajib tersebut ditanggapi pro dan kontra. Ada sebagian kalangan masyarakat yang setuju dengan tindakan para pihak berwajib, dengan alasan karena apabila teroris ditangkap hidup-hidup, meski sudah dipenjara, para teroris masih bisa merekrut orang dan tetap bisa menyebarkan ideologinya.

Ada juga masyarakat yang kurang setuju dengan tindakan aparat berwajib yang membrondong teroris dengan begitu saja. Salah satu alasan mereka adalah ketika tokoh-tokoh teroris ditembak mati oleh yang berwajib, narasi terorisme seolah terkubur bersama jasad mereka. Penyergapan dengan cara menembak mati memang memiliki dampak shock therapy kepada masyarakat bahwa inilah akibat bila terlibat dalam jaringan teroris (ditembak mati tanpa proses peradilan). Dalam jangka pendek, strategi ini memang cukup berhasil. Namun, perlu diingat bahwa kelompok atau orang yang sudah dibangun pemahamannya dengan jihad kekerasan adalah orang-orang yang siap mati. Mereka selalu mengatakan bahwa kematian adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu untuk mendapatkan tiket menuju surga Tuhan dan penjara hanyalah tamasya untuk bisa beribadah secara vertikal kepada Tuhan. Bagi para ”jihadis”, shock therapy seperti itu tak berpengaruh. Kelompok teroris akan terus berkembang biak dengan caranya.

Terlepas dari pro dan kontra sebagaimana paparan di atas, bagaimana pandangan syari’at hukum Islam terhadap aksi memerangi teroris dengan cara menembak mati, seperti yang telah dilakukan oleh pihak yang berwajib sebagai upaya pemberantasan terorisme di Indonesia?

Dari permasalahan di atas, perbuatan teror yang dilakukan oleh perorangan maupun kelompok, bisa dikategorikan dan dihukumi seperti bughah, apabila memenuhi kriteria-kriteria bughah. Adapun kriteria-kriteria kaum bughah dalam kitab Kifayat al-Akhyar, boleh diperangi dengan tiga syarat, yaitu:

  1. Pada mereka ada kekuatan.
  2. Mereka telah keluar dari penguasaan imam, yakni pemerintah yang adil dan yang sah.
  3. Pada mereka ada penafsiran yang membolehkan (mereka keluar dari kuasa pemerintahan yang sah). Kriteria ini berdasarkan pada dalil berikut ini:

فَصْلٌ وَيُقَاتَلُ أَهْلُ الْبَغْيِ بِثَلاَثِ شَرَائِطَ أَنْ يَكُوْنُوْا فِي مَنْعَةٍ وَأَنْ يَخْرُجُوْا عَنْ قَبْضَةِ اْلإِمَامِ وَأَنْ يَكُوْنَ لَهُمْ تَأْوِيْلٌ سَائِغٌ (كفاية الأخيار، ج 2، ص 184، دار العابدين)

Kata bughah berasal dari kata baghyun berarti zalim dan pelakunya disebut baaghi (yang zalim) bentuk jamaknya bughah. Dalam istilah ulama’, bughah ialah orang yang berbeda pendapat dengan pemerintah (imam) yang adil, dan dia tidak taat pada imam dengan tidak mau melakukan kewajiban yang dibebankan kepadanya. Berikut ini sikap yang diberikan oleh para ulama terhadap bughah dengan beberapa syarat sebagai berikut:

  1. Menurut ulama’; wajib memerangi kaum bughah dan mereka tidak kafir sebab sifatnya itu. Jika mereka kembali taat, maka tidak diperangi lagi dan taubat-nya diterima.
  2. Menurut Imam Nawawi; para sahabat r.a. bersepakat memerangi dan membunuh kaum bughah.

اَلْبَغْيُ: اَلظُّلْمُ وَالْباَغِيْ فِي اصْطِلاَحِ الْعُلَمَاءِ هُوَ الْمُخَالِفُ لِلْإِمَامِ اَلْعَدْلِ اَلْخَارِجُ عَنْ طاَعَتِهِ بِامْتِناَعِهِ مِنْ أَدَاءِ مَا وَجَبَ عَلَيْهِ أَوْ غَيْرِهِ بِالشُّرُوْطِ اْلآتِيَةِ قاَلَ الْعُلَمَاءُ وَيَجِبُ قِتاَلُ الْبُغَاةِ وَلاَ يَكْفُرُوْنَ بِالْبَغْيِ وَإِذَا رَجَعَ إِلَى الطَّاعَةِ تُرِكَ قِتاَلَهُ وَقُبِلَتْ تَوْبَتُهُ قَالَ النَّوَوِيُّ وَاَجْمَعَتِ الصَّحاَبَةُ رضي الله عنهم عَلَى قِتاَلِ الْبُغَاةِ (كفاية الأخيار، ج 2، ص 184، دار العابدين)

Apabila sekelompok orang memberontak kepada pemerintahan yang sah dan menuntut untuk memisahkan diri serta tidak mau melaksanakan kewajiban-kewajiban, mereka harus dilihat dari kriteria berikut ini;

  1. Jika pada mereka terdapat kriteria yang menyebabkan mereka dapat digolongkan sebagai bughah, maka hukum bughah diberlakukan atas mereka.
  2. Sebaliknya, jika tidak terdapat kriteria yang menyebabkan mereka dapat digolongkan sebagai bughah, maka hukum tersebut tidak diberlakukan.

فَإِذَا خَرَجَ عَلَى اْلإِمَامِ طَائِفَةٌ وَرَامَتْ عُزْلَهُ وَامْتَنَعُوْا مِنْ أَدَاءِ الْحُقُوْقِ فَيَنْظُرُ فِيْهِمْ إِنْ وُجِدَتْ فِيْهِمْ شُرُوْطُ الْبُغَاةِ أُجْرِىَ حُكْمُهُمْ عَلَيْهِمْ وَإِلاَّ فَلاَ (كفاية الأخيار، ج 2،  ص 184، دار العابدين)

Kaum bughah mempunyai sifat-sifat yang berbeda dengan kaum pemberontak terhadap pemerintahan, diantaranya ialah:

  1. Mereka berbeda dalam kekuatan yaitu mempunyai persenjataan dan sejumlah orang, yang mana untuk menundukkan mereka kembali (baca: menjadikan mereka patuh) pemerintah memerlukan upaya berat dengan mengeluarkan dana dan menyiapkan personil atau memaklumatkan perang. Kalau mereka itu perorangan dan mudah ditangkap maka mereka bukanlah bughah, mereka juga tidak disyarat-kan menyendiri di suatu tempat di desa atau disuatu padang pasir, ini qaul yang rajih menurut para peneliti.
  2. Menurut Imam Rafi’i, “kadang-kadang mereka dipandang keluar dari kuasa pemerintah yang sah”, inilah syarat kedua menurut pengarang (Syekh Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini).
  3. Mereka juga mempunyai penafsiran (takwil) yang diyakini yang me-nyebabkan mereka boleh memberontak terhadap pemerintah yang sah, atau tidak mau melaksanakan hak yang dihadapkan atas mereka.

وَلِلْبُغَاةِ صِفَاتٌ يَتَمَيَّزُوْنَ بِهَا عَنْ غَيْرِهِمْ مِنَ الْخَارِجِيْنَ عَلَى اْلإِمَامِ مِنْهَا أَنْ يَكُوْنُوْا فِي مَنْعَةٍ بِأَنْ يَكُوْنَ لَهُمْ شَوْكَةٌ وَعَدَدٌ بِحَيْثُ يَحْتاَجُ اْلإِمَامُ فِي رَدِّهِمْ إِلَى الطَّاعَةِ إِلَى كُلْفَةٍ بِبَذْلِ مَالٍ وَإِعْدَادِ رِجَالٍ أَوْ نَصْبِ قِتاَلٍ فَإِنْ كاَنُوْا أَفْرَادَا وَيَسْهُلُ ضَبْطُهُمْ فَلَيْسُوْا بِبُغاَةٍ وَلاَ يُشْتَرَطُ اِنْفِرَادُهُمْ بِمَوْضِعٍ مِنْ قَرْيَةٍ أَوْ صَحْرَاءَ عَلَى الرَّاجِحِ عِنْدَ الْمُحَقِّقِيْنَ قاَلَ الرَّافِعِيُّ وَرُبَّمَا يُعْتَبَرُ خُرُوْجُهُمْ عَنْ قَبْضَةِ اْلإِمَامِ وَهَذَا هُوَ الشَّرْطُ الثَّانِيْ عِنْدَ الشَّيْخِ وَمِنْهَا أَنْ يَكُوْنَ لَهُمْ تَأْوِيْلٌ يَعْتَقِدُوْنَ بِسَبَبِهِ جَوَازَ الْخُرُوْجِ عَلَى اْلإِمَامِ أَوْ مَنْعِ الْحَقِّ الْمُتَوَجَّهِ عَلَيْهِمْ. (كفاية الأخيار، ج 2  ص 184، دار العابدين)

Dengan demikian, jika suatu kaum tidak lagi taat dan menolak hak dengan tidak ada penafsiran (kekeliruan faham), baik hak itu berupa hukuman (had) qishash, maupun harta bagi Allah atau bagi anak Adam dengan keras kepala, dan tidak ada kaitan dengan suatu penafsiran, maka kepada mereka tidak diberlakukan hukum bughah, begitu pula orang murtad.

فَلَوْ خَرَجَ قَوْمٌ عَنِ الطَّاعَةِ وَمَنَعُوْا الْحَقَّ بِلاَ تَأْوِيْلٍ سَوَاءٌ كَانَ حَدًّا أَوْ قِصَاصًا أَوْ مَالاً لِلَّهِ تَعاَلَى أَوْ لِلْآدَمِيِّيْنَ عِنَادًا وَلَمْ يَتَعَلَّقُوْا بِتَأْوِيْلٍ فَلَيْسَ لَهُمْ حُكْمُ الْبُغاَةِ وَكَذاَ اَلْمُرْتَدُوْنَ (كفاية الأخيار، ج 2، ص 184، دار العابدين)

Kemudian jika penafsiran itu diyakini ketidak-benarannya (kebatalannya), maka ada dua pendapat sebagai berikut;

  1. Yang lebih dapat dimengerti ialah, karena memang sudah dikatakan oleh kebanyakan ulama’, bahwa penafsiran itu tidak banyak benar.
  2. Kalau ketidak-benarannya itu bersifat dugaan, maka penafsiran itu diperhitungkan.

Oleh sebab itu kata pengarang menggunakan redaksi ta’wil sa’igh. Dan diantara sahabat-sahabat kami ada yang menggunakan redaksi ta’wil muhtamal. Namun, semuanya kembali kepada arti (makna).

ثُمَّ التَّأْوِيْلُ إِنْ كاَنَ بُطْلاَنُهُ مَقْطُوْعًا بِهِ فَوَجْهاَنِ أَفْقَهُهُمَا لِإِطْلاَقِ اْلأَكْثَرِيْنَ أَنَّهُ لاَ يُعْتَبَرُ كَتَأْوِيْلِ الْمُرْتَدِيْنَ وَشِبْهِهِمْ وَإِنْ كاَنَ بُطْلاَنُهُ مَظْنُوْناً فَهُوَ مُعْتَبَرٌ وَلِهَذاَ قاَلَ الشَّيْخُ تَأْوِيْلٌ سَائِغٌ وَمِنَ اْلأَصْحاَبِ مَنْ يُعَبِّرُ عَنْ ذَلِكَ بِتَأْوِيْلٍ مُحْتَمِلٍ وَالْكُلُّ يَرْجِعُ إِلَى مَعْنَى. (كفاية الأخيار، ج 2، ص 184، دار العابدين)

Syarat lainnya untuk dapat disebut kaum bughah ialah mereka mempunyai panutan (pemimpin) yang ditaati, karena tak ada kekuatan  apa pun bagi orang yang sikapnya tidak menyatu dengan orang yang ditaati. Apabila anda yang memahami hal ini, maka barangsiapa mempunyai penafsiran (takwil) tanpa kekuatan atau kekuatan tanpa penafsiran, pada mereka tidak diperlakukan hukum bughah. Wallahua’lam.

وَمِنْهاَ أَنْ يَكُوْنَ لَهُمْ مَتْبُوْعُ مُطاَعٍ إِذْ لاَ قُوَّةَ لِمَنْ لاَ تَجْتَمِعُ كَلِمَتُهُمْ عَلَى مُطَاعٍ إِذَا عَرَفْتَ هَذَا فَمَنْ لَهُ تَأْوِيْلٌ بِلاَ شَوْكَةٍ أَوْ شَوْكَةٍ بِلاَ تَأْوِيْلٍ لَيْسَ لَهُمْ حُكْمُ الْبُغَاةِ وَاللهُ أَعْلَمُ. (كفاية الأخيار، ج 2، ص 185، دار العابدين)

Dari uraian di atas, perbuatan teror yang dilakukan oleh perorangan maupun kelompok yang sudah termasuk kategori bughah, maka pemerintah yang sah berhak dan wajib memeranginya demi menolak kejahatan dan mentaatkan/meluruskan mereka kembali. Adapun dalam hal bagaimana cara atau metode memerangi kaum bughah, para ulama’ berbeda pendapat:

  1. Apabila memungkinkan untuk menahan/menangkap mereka, maka tidak boleh membunuhnya.
  2. Apabila memungkinkan untuk melumpuhkan mereka, maka tidak boleh segera menghabisi nyawanya.
  3. Jika peperangan berkobar keadaan tentu sulit untuk dikendalikan. Oleh sebab itu, boleh bagi aparat yang berwenang untuk melumpuhkan mereka dengan cara melukai maupun dengan cara yang lainnya.
  4. Apabila seorang dari mereka tertawan/tertangkap atau dapat di-lumpuhkan, maka tawanan itu tidak boleh dibunuh, dan seseorang dari mereka yang terluka tidak boleh segera dihabisi nyawanya.
  5. Menurut Imam Abu Hanifah rahimahullah, kaum bughah yang ditawan harus dibunuh, dan yang terluka harus segera dihabisi nyawanya. Sebagaimana keterangan dalam kitab Kifayat al-Akhyar, berikut ini:

(وَلاَ يُقْتَلُ أَسِيْرُهُمْ وَلاَ يُغْنَمُ مَالُهُمْ وَلاَ يُذَفَّفُ عَلَى جَرِيْحِهِمْ) قَدْ عُرِفَتْ شُرُوْطُ الْبُغَاةِ وَالْكَلاَمُ اْلآنَ فِي كَيْفِيَّةِ قِتاَلِهِمْ وَطَرِيْقِهِمْ طَرِيْقُ دَفْعِ الصَّائِلِ كَمَا مَرَّ اْلآنَ الْمَقْصُوْدُ رَدُّهُمْ إِلَى الطَّاعَةِ وَدَفْعِ شَرِّهِمْ لاَ الْقَتْلُ فَإِذَا أَمْكَنَ اْلأَسَرُّ فَلاَ قَتْلَ وَإِذَا أَمْكَنَ اْلِإثْخَانُ فَلاَ تَذْفِيْفَ فَإِنِ اْلتَحَمَ الْقِتاَلُ خَرَجَ اْلأَمْرُ عَنِ الضَّبْطِ فَلَوْ أَسِرَ وَاحِدٌ مِنْهُمْ أَوْ أَثْخَنَ بِالْجَرَاحَةِ أَوْ غَيْرِهَا فَلاَ يُقْتَلُ اْلأَسِيْرُ وَلاَ يَذَفَّفُ عَلَى الْجَرِيْحِ وَالتَّذْفِيْفُ تَتْمِيْمُ الْقَتْلِ وَتَعْجِيْلُهُ وَقاَلَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ يُقْتَلُ اْلأَسِيْرُ وَيَذَفَّفُ عَلَى الْجَرِيْحِ. (كفاية الأخيار، ج 2، ص 185، دار العابدين)

(Kaum bughah yang tertangkap tidak boleh dibunuh, harta mereka tidak dijadikankan harta rampasan, dan orang yang terluka dari mereka tidak dibunuh). Telah anda ketahui syarat-syarat kaum bughah. Pembicaraan kini ialah mengenai bentuk peperangan melawan mereka, sedangkan caranya yakni cara menolak serangan ialah seperti tersebut di atas. Karena tujuanya adalah mentaatkan mereka kembali dan menolak kejahatan bukan mem-bunuh. Oleh  sebab itu apabila memungkinkan menawan, maka jangan membunuh dan apabila memungkinkan untuk melumpuhkan, maka jangan segera menghabisi nyawa. Jika peperangan berkobar keadaan tentu sulit dikendalikan. Oleh  sebab itu kalau seorang dari mereka tertawan atau dilumpuhkan, (boleh) melumpuhkan dengan melukai dan sebagainya, maka tawanan itu tidak boleh dibunuh, dan orang yang terluka tidak boleh segera dihabisi nyawanya. Dan kata Abu Hanifah rahimahullah, tawanan harus dibunuh, dan yang terluka harus segera dihabisi nyawanya. (Kifayah al-Akhyar, juz 2, hal. 185)

Untuk keterangan yang lebih jelas mengenai permasalahan ini, dapat dibaca dalam kitab Kifayah al-Akhyar, bab Bughah, atau dalam kitab-kitab lainnya yang menerangkan tentang masalah bughah.

Dampak dan Akibat Pemerintahan Otoriter

Di era reformasi untuk mewujudkan perbaikan di berbagai bidang menuju pemerintahan demokrasi (sebagaimana dalam Mitsaqul Madinah [Piagam Madinah] yang tercantum dalam beberapa kitab seperti al-Amwal, Sirah an-Nas, Shahih Bukhori, Shahih Muslim, dan sebagainya). Hendaknya harus kita dukung penuh dan kita tidak boleh melupakan Pancasila dan UUD 1945 sebagai asas. Jika kita lupa dengan asas, maka kita kebablas.

Oleh karena itu, pemerintah otoriter tidak boleh, karena pemerintah otoriter hanya akan membawa dampak negatif di masyarakat, sesuai dengan kitab Tafsir al-Munir (Murah Labid), juz 2, halaman 228:

(يَا دَاوُوْدُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيْفَةً فِى الْأَرْضِ) أَيْ نَبِيًّا مَلِيْكاً عَلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ نَافِذَ الْحُكْمِ عَلَيْهِمْ (فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ) أَيْ بِالْعَدْلِ لِأَنَّ اْلأَحْكَامَ إِذَا كَانَتْ مُطَابِقَةً لِلشَّرِيْعَةِ الْحَقِّيَّةِ الْإلَهِيَّةِ اِنْتَظَمَتْ مَصَالِحُ الْعَالَمِ وَاتَّسَعَتْ أَبْوَابُ الْخَيْرَاتِ عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوْهِ أَمَّا إِذَا كَانَتْ اَحْكَامُ الْسُّلْطَانِ الْقَاهِرِ عَلَى وَفْقِ هَوَاهُ وَلِطَلَبِ مَصَالِحِ دُنْيَاهُ عَظُمَ ضَرَرُهُ عَلَى الْخَلْقِ فَإِنَّهُ يَجْعَلُ الرَّعِيَّةَ فِدَاءً لِنَفْسِهِ وَذَلِكَ يُفْضِي إِلَى تَخْرِيْبِ الْعَالَمِ وَوُقُوْعِ الْهَرَجِ وَالْمَرَجِ فِى الْخَلْقِ وَذَلِكَ يُفْضِي إِلَى هَلاَكِ الْمَلِكِ (وَلاَ تَتَّبِعِ الْهَوَى) أَيْ هَوَى النَّفْسِ فِى الْحُكُوْمَاتِ وَغَيْرِهَا مِنْ أُمُوْرِ الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا (فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ للهِ) أَيْ إِنَّ مُتَابَعَةَ الْهَوَى تُوْجِبُ الضَّلاَلَ عَنْ سَبِيْلِ للهِ وَهُوَ يُوْجِبُ سُوْءَ الْعَذَابِ لِأَنَّ الْهَوَى يَدْعُوْ إِلَى اْلاِسْتِغْرَاقِ فىِ اللَّذَّاتِ الْجِسْمَانِيَّةِ وَهُوَ يَمْنَعُ مِنَ الْاِشْتِغَالِ فِى طَلَبِ السَّعَادَاتِ الرُّوْحَانِيَّةِ……..

(Hai Daud, sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penugasa) di muka bumi) yakni sebagai nabi juga pemimpin bagi Bani Israil, yang menjadi orang yang menentukan hukum bagi mereka (maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan benar), yakni dengan adil. Karena sesungguhnya ketika hukum telah sesuai dengan syariat ketuhanan yang benar, maka tertatalah kemaslahatan alam, pintu-pintu kebaiakan terbuka dengan selebar-lebarnya. Adapun hukum-hukum (yang dibuat oleh) pemimpin otoriter hanya untuk memenuhi hawa nafsu dan kemaslahatan duniawinya (sendiri), maka sengat besar bahaya (yang diakibatkan) bagi makhluk (lainnya). Dia (pemimpin otoriter) menjadikan rakyat sebagai bentuk tebusan bagi dirinya sendiri, yang hal ini akan mengakibatkan rusaknya alam, terjadinya saling bunuh, dan peperangan di masyarakat, dan juga akan menyebabkan pemimpin tersebut binasa. (dan jangan engkau ikuti hawa) nafsu dalam urusan pemerintahan, urusan agama dan agama. (karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah) sesungguhnya mengikuti hawa nafsu mengharuskan kesesatan yang jauh dari Allah, sedangkan kesesatan mengharuskan pula siksa yang pedih. Karena hawa nafsu hanya mengajak (kita) untuk tenggelam dalam kenikmatan raga, yang akan mencegah (kita) dari sibuk untuk mencari kebahagian ruhani……….

Pemberontak, Teroris adalah Seburuk-Buruk Manusia

Saat ini, para bughaat (teroris, pemberontak dan pembangkang pemerintahan resmi) banyak sekali tersebar di belahan bumi nusantara ini. Ciri khas prilaku mereka antara lain adalah menyebarkan isu atau fitnah, menciptakan kerusuhan dan kekacauan, baik yang berupa isu politik ataupun sara (ras dan agama), hingga teror pembunuhan dan bom bunuh diri, dan lain sebagainya.

Berbagai hal tersebut mereka lakukan tidak lain hanya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan secara pribadi atau golongan. Dan ujung-ujungnya hanya keuntungan yang bersifat duniawi yang mereka cari, yaitu uang dan penghidupan yang layak bagi mereka. Sebagaimana hal ini dijelaskan berikut ini:

هَذِهِ الطَّائِفَةُ الْخَبِيْثَةُ مِنْ شَرِّ النَّاسِ فِى اْلأُمَّةِ لِأَنَّهَا تَسْعِيْ فِى اْلأَرْضِ بِالْفَسَادِ، وَتَخِلُّ نِظَامَ الدَّوْلَةِ، وَتَخْلُقُ الْفِتَنَ وِالدَّسَائِسَ فِى اْلأُمَّةِ بِحَقٍّ وَبِغَيْرِ حَقٍّ، لِأَنَّهَا لاَ يُهِمُّهَا إِلاَّ حُصُوْلُ الْفِتَنِ وَالْقَلاَقِلِ الَّتِيْ تَرْبَحُ مِنْ وَرَاءِ ذَلِكَ كُلِّهِ مَغْنِمًا تَعِيْشُ مِنْهُ (حكمة التشريع جز 2 ص 209)

Kelompok yang buruk ini adalah seburuk-buruk manusia yang ada dalam masyarakat. Hal ini disebabkan karena mereka berjalan di muka bumi dengan berbuat kerusakan, melanggar aturan negara, menciptakan fitnah dan kekacauan dalam masyarakat, baik dengan cara yang benar atau tidak benar. Mereka hanya peduli pada tercapainya fitnah dan kegoncangan, yang mana dari kekacauan tersebut mereka mendapatkan keuntungan dan dari sanalah (perbuatan menyebar fitnah dan kekacauan) mereka mencari penghidupan. (Hikmatut Tasyrii’, juz 2, hlm. 209)

Agama dan Dunia Tidak Bisa Berdiri Tegak Tanpa Empat

Tiap bangunan baik rumah, gedung, bahkan gubuk sekalipun tentu memiliki pilar-pilar yang menjadikan bangunan tersebut bisa berdiri tegak. Demikian halnya dengan agama dan dunia ini, juga memiliki pilar-pilar yang menjadi penopangnya. Penopang agama dan dunia ada empat, yaitu para ulama, pemerintah, TNI, POLRI, dan para pekerja (pengusaha).

Keempat unsur tersebut saling melengkapi antara yang satu dengan yang lain. Para ulama menjadi sumber hikmah, pengetahuan dan pemikiran bagi para pemimpin dan masyarakat umum. Sedangkan para pemimpin menjadi pelaksananya. TNI, POLRI menjadi penjaga keamanan dan ketertiban. Dan para pekerja yang menjadi penyeimbang kekuatan ekonominya.

حَدَّثَنَا حَمْزَةُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ الْقَاسِمِ أَحْمَدُ بْنُ حمٍ عَنْ نَصِيْرِ بْنِ يَحْيَ قَالَ بَلَغَنَا عَنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّهُ قَالَ لاَيَقُوْمُ الدِّيْنُ وَالدُّنْيَا إِلاَّ بِأَرْبَعَةٍ الْعُلَمَاءِ وَالأُمَرَاءِ وَالْغُزَاةِ وَأَهْلِ الْكَسَبِ (تنبيه الغافلين ص 165)

Hamzah ibn Muhammad menyampaikan kepadaku: Abu Qaasim Ahmad ibn Hamim menyampaikan kepadaku dari riwayat Nashir ibn Yahya, dia berkata: telah sampai kepadaku dari ahli ilmu, dia berkata: “Agama dan dunia tidak akan bisa berdiri tegak kecuali dengan empat hal; ulama’ (ilmuwan, cendekiawan), umara’ (pemimpin pemerintahan), TNI, POLRI, dan para pekerja (pengusaha, karyawan, petani, pedagang dll)”. (Tanbiihul Ghaafiliin, hlm. 165)

Kewajiban Untuk Melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Menyuruh pada kebaikan (amar ma’ruf) dan mencegah dari kemunkaran (nahi munkar) adalah sebuah kewajiban bersama. Kewajiban ini tidak harus menunggu apakah kita sudah melaksanakan perbuatan ma’ruf tersebut, atau kita telah meninggalkan perbuatan munkar tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:

رَوَى أَبُوْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مُرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَإِنْ لَمْ تَعْمَلُوْا بِهِ وَانْهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَإِنْ لَمْ تَنْتَهُوْا عَنْهُ (تنبيه الغافلين ص 32)

Abu Hurairah ra. meriwayatkan hadits dari Nabi saw., beliau bersabda: “Memerintahlah kalian kepada kebajikan, meskipun kalian belum melaksanakannya. Dan melaranglah kalian dari perbuatan munkar, meskipun kalian belum meninggalkannya”. (Tanbiihul Ghaafiliin, hlm. 32)

Namun, kewajiban untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar tersebut memiliki batasan-batasan tersendiri, sesuai dengan kadar keimanan dan kemampuan yang dimiliki.

  1. Amar ma’ruf nahi munkar dengan kekuasaan, yaitu untuk pemerintah/aparat yang berwajib (penegak hukum).
  2. Amar ma’ruf nahi munkar dengan lisan, yaitu untuk para ulama (ilmuwan).
  3. Amar ma’ruf nahi munkar dengan hati, yaitu untuk orang awam.

وَرَوَى أَبُوْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ يَعْنِي أَضْعَفُ فِعْلِ أَهْلِ اْلإِيْمَانِ قَالَ بَعْضُهُمْ التَّغْيِيْرُ بِالْيَدِ لِلأُمَرَاءِ وَبِاللِّسَانِ لِلْعُلَمَاءِ وَبِالْقَلْبِ لِلْعَامَّةِ وَقَالَ بَعْضُهُمْ كُلُّ مَنْ قَدَرَ عَلَى ذَلِكَ فَالْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُغَيِّرَهُ (تنبيه الغافلين ص 33)

Abu Sa’iid al-Khudhriy ra. meriwayatkan hadits dari Nabi saw., beliau bersabda: “Jika seseorang di antara kalian ada yang melihat kemunkaran, maka hendaknya dia merubahnya dengan tangannya (kekuasaannya). Namun, jika tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya. Namun, jika tidak mampu, maka dengan hatinya (do’a). Dan yang demikian itu adalah iman yang paling lemah. Maksudnya adalah hal tersebut adalah perbuatan yang paling lemah dari orang-orang yang memiliki keimanan. Sebagian ulama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan perbuatan merubah dengan tangan adalah untuk pemerintah/aparat yang berwajib (penegak hukum), merubah dengan lisan adalah bagi ulama (ilmuan), dan merubah dengan hati adalah bagi orang awam. Dan sebagian ulama lainnya juga menyatakan bahwa tiap orang yang memiliki kemampuan untuk merubah kemunkaran tersebut, maka hal itu adalah wajib baginya untuk merubahnya. (Tanbiihul Ghaafiliin, hlm. 33)

Hakikat Jihad

Jihad seringkali diartikan dengan perang, adapula yang mengartikan berjuang dan lain sebagainya. Seringkali makna jihad  dijadikan senjata utama oleh para pengusung khilafah Islamiyah.

Namun, hakikat jihad adalah bertujuan untuk menolak bahaya, menghilangkan kelaliman, dan mencegah dari segala perbuatan yang dilarang. Jihad adalah upaya untuk memerangi:

  1. Orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi dengan upaya mereka untuk merobohkan tiang-tiang keamanan, meresahkan ketentraman masyarakat yang hidup tentram di negeri mereka.
  2. Orang-orang yang menyebarkan fitnah. Adakalanya dengan cara menyimpang dari agama, keluar dari golongan, merobohkan tiang ketaatan.
  3. Orang-orang yang ingin memadamkan cahaya Allah, menciptakan permusuhan di antara kaum muslim dan mengusir mereka dari negeri mereka, mengingkari janji dan kewajiban. Dengan demikian, jihad adalah bertujuan untuk menolak bahaya dan segala sesuatu yang tidak diharapkan, menghilangkan kelaliman, dan mencegah dari segala perbuatan yang dilarang.

الْجِهَادُ فِى اْلإِسْلاَمِ هُوَ قِتَالُ مَنْ يَسْعَوْنَ فِى اْلأَرْضِ فَسَادًا لِتَقْوِيْضِ دَعَائِمِ اْلأَمْنِ وَإِقْلاَقِ رَاحَةِ النَّاسِ وَهُمْ آمِنُوْنَ فِيْ دِيَارِهِمْ، أَوِ الَّذِيْنَ يُثِيْرُوْنَ الْفِتَنَ مِنْ مَكَامِنِهَا إِمَّا بِإِلْحَادٍ فِى الدِّيْنِ وَخُرُوْجٍ عَنِ الْجَمَاعَةِ، وَشَقِّ عَصَا الطَّاعَةِ. أَوِ الَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ إِطْفَاءَ نُوْرِ اللهِ وَيَنَاوَئُوْنَ الْمُسْلِمِيْنَ الْعَدَاءَ وَيُخْرِجُوْنَهُمْ مِنْ دِيَارِهِمْ وَيَنْقُضُوْنَ الْعُهُوْدَ وَيَخْفَرُوْنَ بِالذِمَمِ. فَالْجِهَادُ إِذَنْ هُوَ لِدَفْعِ اْلأَذَى وَالْمَكْرُوْهِ، وَرَفْعِ الْمَظَالِمِ وَالذُّوْدِ عَنِ الْمَحَارِمِ (حكمة التشريع جز 2 ص 217)

Jihad dalam Islam adalah memerangi orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi dengan upaya mereka untuk merobohkan tiang-tiang keamanan, meresahkan ketentraman masyarakat yang hidup tentram di negeri mereka. Atau, memerangi orang-orang yang menyebarkan fitnah. Adakalanya dengan cara menyimpang dari agama, keluar dari golongan, merusak tongkat ketaatan. Atau, memerangi orang-orang yang ingin memadamkan cahaya Allah, menciptakan permusuhan di antara kaum muslim dan mengusir mereka dari negeri mereka, mengingkari janji dan kewajiban. Dengan demikian, jihad adalah bertujuan untuk menolak bahaya dan segala sesuatu yang tidak diharapkan, menghilangkan kelaliman, dan mencegah dari segala perbuatan yang dilarang. (Hikmatut Tasyrii’, juz 2, hlm. 217)

Namun, sebaik-baik jihad dan yang paling berat adalah memerangi diri sendiri dan segala keinginan yang timbul darinya. Karena, jika diri mampu dikuasai, maka diri tidak akan mudah untuk terjerumus dalam perbuatan yang tidak baik.

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهِدَ الرَّجُلُ نَفْسَهُ وَهَوَاهُ (فيض القدير جز 2 ص 40)

Sebaik-baik jihad adalah seorang lelaki yang memerangi dirinya dan nafsunya. (Faidhul Qadiir, juz 2, hlm. 40)

Dosa Pembunuhan

Teror bom sangat marak di negeri ini sehingga banyak sekali jiwa tak berdosa yang menjadi korbannya. Dalih yang diusung oleh para teroris antara lain amar ma’ruf nahi munkar, menghilangkan kemaksiatan, khilafah Islamiyah, dan berbagai dalih lainnya.

Namun, bagaimanapun tiap usaha untuk mendapatkan kemaslahatan (mashaalih) yang dilaksanakan dengan cara yang dapat menyebabkan kerusakan dan kebinasaan (mafaasid) adalah hal yang tidak bisa dibenarkan. Apalagi banyak sekali korban jiwa tak berdosa yang menjadi akibat dari teror bom tersebut. Bagaimanapun, hal tersebut termasuk pembunuhan, dan pembunuhan adalah salah satu dosa besar. Meskipun korbannya adalah seorang kafir mu’ahad (kafir yang telah mengadakan perjanjian damai dengan pemerintahan Islam, yang harus dilindungi hak-hak dan kewajibannya) yang tentunya non muslim, hal tersebut tetap termasuk dosa besar.

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا (جامع الصغير ص 177)

Barangsiapa membunuh non muslim, maka dia tidak akan bisa mencium aroma surga, meskipun aromanya dapat ditemui dari jarak perjalanan 40 tahun. (Jaami’us Shaghiir, hlm. 177)

Bahkan, apabila yang menjadi korban pembunuhan adalah orang mukmin, maka balasannya kelak adalah siksa neraka Jahannam dan laknat serta kemurkaan Allah bagi pelaku pembunuhan tersebut.

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُّتَعَمِّداً فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً (سورة النساء: 93)

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (Qs. an-Nisa’: 93)

مَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا فَاعْتَبَطَ بِقَتْلِهِ لَمْ يَقْبَلِ اللهُ مِنْهُ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً (جامع الصغير ص 177)

Barangsiapa membunuh seorang mukmin dan dia merasa senang dengan membunuh mukmin tersebut, maka Allah tidak akan menerima (pahala) dari ibadah sunnahnya maupun fardhunya. (Jaami’us Shaghiir, hlm. 177).

73 Golongan dalam Islam (Buah Akibat dari Politik Jabatan atau Kekuasaan)

حَدَّثَنَا مَحْمُوْدُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُوْ دَاوُدَ الْحَفْرِيُّ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زِيَادٍ اْلأَفْرِيْقِيِّ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ يَزِيْدَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِيْ مَا أَتَى عَلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِيْ أُمَّتِيْ مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ، وَإِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوْا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ» (سنن الترمذي، ج 5، ص26، دار إحياء التراث العربي – بيروت، 1975)

Jika ditelaah dari sejarah, perpecahan umat muslim menjadi 73 golongan itu terjadi karena dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan tentang siapa yang lebih layak untuk menjadi pemimpin setelah Rasulullah saw. wafat. Satu kelompok orang menyatakan bahwa yang layak untuk menjadi pengganti adalah Abu Bakar, sebagian yang lain menyatakan Umar bin al-Khattab, sebagian yang lain menganggap Utsman bin ‘Affan yang layak, dan yang lainnya memandang bahwa ‘Ali bin Abi Thalib yang seharusnya menjadi pengganti Rasulullah.

Dari sinilah awal perpecahan terjadi, orang-orang yang merasa tidak puas, dengan sikap fanatik mereka yang tinggi, mereka agung-agungkan pemimpin mereka, hingga akhirnya bermunculan berbagai macam golongan di antara mereka yang saling mengklaim kelompok mereka sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah.

Barangsiapa yang menolak sayyidina Ali Krw., maka bisa jadi dia adalah golongan Khawarij. Dan jika, hanya menerima Imamah sayyidina Ali krw. saja, maka bisa jadi dia adalah Syi’ah, atau Rafidhah, atau Ghaliyah, dsb.

Oleh karena itu, barangsiapa mengaku sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah, maka dia harus menerima dan mengakui kekhalifahan keempat imam; Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Dan jika tidak demikian, maka dia bukanlah golongan Ahlussunnah wal Jama’ah. Karena dalam sebuah hadits telah disebutkan:

حَدَّثَنَا أَبُوْ أُمَيَّةَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُوْ عَاصِمٍ عَنْ ثَوْرِ ابْنِ يَزِيْدَ عَنْ خَالِدِ ابْنِ مَعْدَانَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ابِنْ عَمْرٍو وَالسُّلَمِيْ عَنْ إِرْبَاضِ ابْنِ سَارِيَّةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَىْهِ وَ سَلَّمَ: “عَلَىْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّةِ الْخُلَفَآءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ وَ عَضُّوْا عَلَىْهَا بِالنَّوَاجِذِ” (شرح مشكل الآثار ص 223 ج 3، حلية الأولياء ج 1 ص 18)

“Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khalifah (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan, dan Ali bin Abi Thalib) yang lurus dan mendapat petunjuk setelah (wafat) ku, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham.”

Berikut ini adalah penjelasan tentang macam-macam 73 golongan yang dinukil dari kitab al-Ghunyah, yang ditulis oleh al-Syaikh ‘Abdul Qadir bin Abi Shalih al-Jailani, juz 1, halaman 175-192, cetakan Darul Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut-Libanon, cetakan 2010.

Ahlussunnah wal Jama’ah hanya 1 golongan, Khawarij terdiri dari 15 golongan, Mu’tazilah terdiri dari 6 golongan, Murjiah terdiri dari 12 golongan, Syi’ah terdiri dari 32 golongan, Jahmiyah, Najjariyah, Dharariyah dan Kilabiyah masing-masing terdiri dari 1 golongan saja, Musyabbihah 3 golongan, dan jika ditotal seluruhnya berjumlah 73 golongan.

1. AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH (hanya terdiri dari satu golongan)

  • Kelompok ini, oleh al-Najiyah al-Qadariyah dan al-Mu’tazilah disebut dengan Mujbirah, dengan argumen mereka bahwa seluruh perbuatan makhluk, baik kuasa, kemampuan, dan kehendaknya semata-mata atas kehendak Allah.
  • Sedangkan menurut kalangan al-Murjiah, mereka menyebutnya Syakakiyah karena sifat keraguan mereka tentang pengecualian keimanan. Seperti apa yang mereka ucapkan; “Saya adalah seorang mukmin, insya Allah”.
  • Sedangkan menurut al-Rafidhah, mereka menyebutnya dengan Nashibah, karena mereka mengangkat dan mengukuhkan pemimpin dengan akad (ikrar atau perjanjian).
  • Sedangkan al-Jahmiyah dan al-Najjariah, menyebutnya dengan Musyabbihah, alasan mereka karena kalangan ini menambahkan sifat ilmu, qudrah (kuasa), al-hayat (hidup), dan lain sebagainya kepada dzat Allah.
  • Sedangkan al-Bathiniyah menyebutnya dengan sebutan Hasywiyah, karena penyebutan mereka terhadap khabar tapi yang mereka maksud adalah atsar (kedua istilah yang masyhur dalam ilmu hadits, antara khabar dan atsar kedua-duanya bisa berarti hadits, hanya ada spesifikasi tersendiri dari masing-masing istilah tersebut).

2. AL-KHAWARIJ (golongan yang keluar dari golongan sayyidina Ali krw./Oposisi) terdiri dari 15 golongan.

Berikut ini beberapa sebutan lain untuk golongan Khawarij:

  • Disebut dengan Khawarij karena mereka keluar dari (kepemimpinan sah) sayyidina Ali krw.
  • Disebut juga dengan Muhakkimah, karena mereka mengingkari dua hakim yang terkenal yakni Abu Musa al-Asy’ari dan ‘Amr bin al-‘Ash, dan juga karena ucapan mereka yaitu “tidak ada hukum kecuali hukum Allah, dan tidak pula putusan hukum dua Imam (Abu Musa al-Asy’ari dan ‘Amr bin al-‘Ash).
  • Disebut dengan al-Haruriyyah karena mereka (dahulu) tinggal di Harura (sebuah daerah di Irak dekat Kota Kufah)
  • Disebut juga dengan Syurah, karena ucapan mereka “Kami menjual diri kami kepada Allah” (kami menjual diri kami dengan pahala dan ridha Allah Swt. atas surganya”
  • Disebut pula dengan al-Maariqah (yang keluar dari agama). Sebagaimana yang telah digambarkan oleh Rasulullah Saw. bahwa mereka keluar dari agama layaknya anak panah yang keluar (melesat) dari busurnya dan tak pernah kembali.

Khawarij adalah golongan yang keluar dari agama Islam, memisahkan diri dan menjauhkan diri mereka dari Islam, mereka tersesat dari petunjuk dan jalan yang lurus serta keluar dari pemimpin yang sah. Mereka juga mengacungkan pedang kepada pemerintah sah, dan menghalalkan darah dan harta para pemimpin pemerintahan tersebut, serta mengkafirkan orang-orang yang berbeda dengan golongan Khawarij. Mereka juga memaki-maki para sahabat Rasulullah dan anak cucunya, dan menganggap mereka kafir dan melakukan dosa besar. Golongan Khawarij tidak percaya atas adanya siksa kubur, telaga Kautsar dan syafa’at. Mereka juga berpendapat bahwa barangsiapa yang berbohong atau melakukan satu dosa kecil/besar dan meninggal sebelum sempat bertobat, maka dia kafir dan akan abadi di neraka.

Mereka juga tidak mengakui golongan lain selain golongan yang dipimpin oleh pemimpin mereka. Mereka juga membenarkan sholat untuk ditunda, melaksanakan puasa atau berbuka sebelum melaksanakan rukyah, dan juga mereka menghalalkan nikah tanpa wali.

Mereka juga menghalalkan nikah mut’ah, satu dirham ditukar dengan dua dirham.

Tidak pula mereka membenarkan sholat dengan khuf (sejenis sepatu yang terbuat dari kulit) dan tidak pula mengusap khuf. Tidak pula mereka taat kepada pemimpin dan para pemimpin dari kalangan Quraisy.

Khawarij banyak terdapat di daerah Arab, Aman, Maushil, Hadramaut, dan pinggiran daerah Maghrib.

Di antara penulis mereka adalah Abdullah bin Zaid, Muhammad bin Harb, Yahya bin Kamil dan Sa’id bin Harun.

Golongan-golongan yang termasuk dalam Khawarij

  1. An-Najdat, yang dinisbatkan pada Najdah bin ‘Amir al-Hanafi dari suku Yamamah dan Tamim. Mereka ini adalah golongan dari Abdullah bin Nashir. Mereka berpandangan bahwa barang siapa yang berbohong, atau melakukan dosa kecil dan dilakukan berulang-ulang, maka dia adalah musyrik. Namun, barang siapa yang melakukan zina, pencurian, atau minum khamr, tanpa menjadikannya sebagai kebiasaan maka dia adalah muslim. Mereka tidak pula membutuhkan pemimpin (imam), akan tetapi wajib bagi mereka untuk memahami al-Qur’an saja.
  1. Al-Azariqah. Mereka adalah golongan Nafi’ bin al-Azraq. Mereka berpendapat bahwa setiap dosa besar adalah kufur. Mereka juga mengkafirkan Abu Musa dan ‘Amr bin al-‘Ash, tatkala Ali krw. memberikan pandangan kepada keduanya tentang yang lebih layak untuk memimpin antara Ali krw. dan Mu’awiyah. Mereka juga memperbolehkan untuk membunuh anak-anak kaum musyrikin, mengharamkan ranjam. Mereka juga tidak menghukum dengan hukum had bagi para penuduh zina muhshon laki-laki, dan sebaliknya mereka memberlakukan had bagi penuduh zina muhshon perempuan.
  1. Al-Fadakiyah, yang dinisbatkan pada Ibn Fadik
  2. Al-‘Athawiyah, yang dinisbatkan pada ‘Athiyah bin al-Aswad
  3. Al-‘Ajaridah
  4. Al-Yamuniyah. Mereka memperbolehkan (untuk menikahi) cucu baik dari anak laki-laki atau perempuan, atau keponakan dari saudara laki-laki atau perempuan. Mereka juga menyatakan bahwa surat Yusuf tidak termasuk salah satu surat al-Qur’an
  5. al-Khazimiyah, yang menyatakan bahwa kekuasaan (kepemimpinan) dan permusuhan termasuk sifat yang ada pada Allah. Al-Khazimiyah bercabang dari golongan al-Ma’lumiyah, yang berpendapat bahwa seseorang yang tidak tahu nama-nama Allah maka dia adalah jahil (orang yang bodoh). Mereka juga menafikan bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, demikian halnya dengan kemampuan untuk berbuat tidak termasuk ciptaan Allah.
  1. al-Majhuliyah, yang menyatakan bahwa seseorang yang mengetahui beberapa nama Allah, maka dia adalah ‘alim (orang yang tahu), bukan orang yang jahil.
  2. al-Shilatiyah, yang dinisbatkan kepada ‘Utsman bin al-Shilat. Kelompok ini berpendapat bahwa barang siapa yang mengikuti kami dan masuk Islam, sedangkan dia memiliki seorang anak, maka anak tersebut belum masuk Islam sampai dia dewasa (baligh). Dengan demikian mereka akan mengajak anak tersebut masuk Islam, namun jika dia membangkan maka boleh untuk dibunuh.
  3. al-Akhnasiyah, yang dinisbatkan pada seseorang yang dikenal dengan nama al-Akhnas. Kelompok ini berpandangan bahwa seorang tuan jika dia memang sedang butuh, boleh untuk mengambil zakat dari budaknya dan memberikan zakat tersebut kepada orang lain sebagai zakat dirinya (si tuan).
  4. al-Shifriyah (al-Hafshiyah), mereka beranggapan bahwa seseorang yang mengenal Allah, dan mengkufuri selain-Nya (para rasul, surga dan neraka), dan dia melakukan dosa jinayat seperti pembunuhan, serta menghalalkan perzinahan, maka dia bebas dari syirik. Namun, dia hanya dihukumi syirik jika dia tidak mengenal Allah dan mengingkari-Nya. Mereka juga beranggapan bahwa yang dimaksudkan lafadz حَيْرَان (orang-orang yang bingung) dalam al-Qur’an adalah golongan Ali krw. (Tentang hal ini, lihat surat al-An’am ayat 71).
  5. al-Abadhiyah, mereka beranggapan bahwa segala sesuatu yang diwajibkan oleh Allah bagi makhluk-Nya adalah iman, dan segala perbuatan dosa besar adalah kufur nikmat, bukan kufur syirik.
  6. al-Baihasiyah, yang dinisbatkan kepada Abu Baihas. Mereka beranggapan bahwa seseorang tidak menjadi muslim sampai dia mengetahui segala sesuatu yang telah dihalalkan atau diharamkan oleh Allah semata.
  7. al-Syamrakhiyah, yang dinisbatkan kepada Abdullah bin al-Syamrakh yang menganggap bahwa membunuh kedua orang tua adalah halal. Namun, ketika dia mengakuinya di Dar at-Taqiyyah, para golongan Khawarij menyatakan tidak sependapat dengan pernyataannya tersebut.
  8. al-Bid’iyah, seperti kelompok al-Azariqah yang telah disebutkan di atas, namun mereka juga mewajibkan shalat dua rakaat pada waktu pagi dan dua rakaat pada waktu sore. Ini mereka sandarkan pada Qs. Hud ayat 114: “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” al-Bid’iyah sependapat dengan al-Azariqah tentang dibolehkannya memaki-maki perempuan, membunuh anak-anak orang kafir dengan argumen mereka yang didasarkan pada Qs. Nuh 26: “janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” Seluruh golongan Khawarij sependapat tentang kafirnya Ali krw. karena peristiwa tahkim (arbitrase: usaha perantara dalam meleraikan sengketa [kamus Besar Bahasa Indonesia]), dan kekafiran Ali adalah termasuk dosa besar. Namun, kafir Ali yang dikategorikan dosa besar ini ditentang oleh kelompok an-Najdat.

    3. AL-SYI’AH (pendukung sayyidina Ali krw.) terdiri dari 32 golongan.

    Disebut Syi’ah karena mereka mengagung-agungkan dan mengunggulkan Ali ra. atas para sahabat lainnya.

    Syi’ah disebut juga dengan al-Rafidhah karena penolakan mereka terhadap kebanyakan para sahabat, dan kepemimpinan Abu Bakar, dan Umar ra.

    Syi’ah disebut juga dengan al-Rawafidh karena penolakan mereka terhadap Zaid bin Ali tatkala dia memilih Abu Bakar ra sebagai pemimpin. Dikatakan juga – disebut dengan al-Rawafidh – karena mereka tidak sepakat dengan kepemimpinan Abu Bakar ra.

    Dikatakan juga bahwa Syi’ah adalah orang yang tidak mengagungkan Utsman atas Ali.

    Nama lain dari Syi’ah antara lain al-Rafidhah, al-Ghaliyah, al-Thayarah, akan tetapi al-Rafidhah adalah orang yang mengunggulkan Ali atas Utsman.

    Mereka disebut juga dengan al-Qath’iyah, dijuluki demikian karena mereka menolak atas kematian Musa bin Ja’far.

    Mereka disebut juga dengan al-Ghaliyah, dijuluki demikian karena pengagungan mereka atas Ali krw, yaitu pengagungan mereka terhadap Ali dengan sifat-sifat ketuhanan dan kenabian.

    Orang-orang yang menulis buku-buku mereka antara lain: Hisyam bin al-Hakam, Ali bin Manshur, Abu al-Ahwash, al-Husain bin Sa’id, al-Fadhl bin Syadzan, Abu ‘Isa al-Waraq, Ibn al-Rawanda, dan al-Maniji.

    1. Al-Rafidhah terdiri dari 3 golongan, al-Ghaliyah, al-Zaidiyah, dan al-Rafidhah sendiri. Dengan rincian sebagai berikut:
      • Al-Ghaliyah bercabang menjadi 12 golongan, yaitu al-Bayaniyah, al-Thayariyah, al-Manshuriyah, al-Mughiriyah, al-Khattabiyah, al-Ma’mariyah, al-Bazi’iyah, al-Mufaddaliyah, al-Mutanasikhah, al-Syari’iyah, al-Sab’iyah, al-Mufawwadhiyah.
      • Al-Zaidiyah bercabang lagi menjadi 6 golongan, yaitu al-Jarudiyah, al-Sulaimaniyah, al-Batriyah, al-Na’imiyah, al-Ya’qubiyah, al-Raj’ah.
      • Al-Rafidhah bercabang menjadi 14 golongan, yaitu al-Qath’iyah, al-Kaisaniyah, al-Kuraibiyah, al-Umariyah, al-Muhammadiyah, al-Husainiyah, al-Nawusiyah, al-Isma’iliyah, al-Qaramithah, al-Mubarakiyah, al-Syamithiyah, al-‘Ammariyah, al-Mamthuriyah, al-Musawiyah, al-Imamiyah.

    Berikut ini adalah beberapa pandangan mereka secara umum:

    • Satu hal yang disepakati oleh al-Rafidhah dan cabang-cabangnya adalah tentang pentepan al-imamah (kepemimpinan) secara akal, dan sejatinya al-imamah itu didasarkan atas nash, dan juga para pemimpin mereka adalah orang-orang yang ma’shum (dijaga) dari kerusakan, seperti keliru, lupa, dan salah.
    • Termasuk keyakinan mereka adalah pengingkaran mereka terhadap imam /pemimpin yang tidak mereka yakini kebenarannya. Dan mereka mengunggulkan Ali krw atas seluruh sahabat. Mereka meyakini bahwa kepemimpinan Ali itu berada setelah masa kepemimpinan Rasulullah saw, serta kebebasan mereka dari kekuasaan Abu Bakar, Umar, dan para sahabat lainnya. Kecuali beberapa golongan Zaidiyah yang mengingkari tentang hal ini.
    • Termasuk dari keyakinan mereka adalah pengakuan mereka atas kemurtadan seluruh golongan yang tidak mengakui kepemimpinan Ali krw, kecuali 6 orang, yaitu Ali, ‘Ammar, al-Miqdad bin al-Aswad, Salman al-Farisi, dan dua orang lainnya (yang tidak disebutkan).
    • Termasuk pemahaman mereka adalah seperti apa yang mereka ucapkan “Seorang imam ketika dalam keadaan taqiyyah boleh untuk mengucapkan: ‘Aku bukanlah seorang imam”. Karena – menurut mereka – Allah tidak mengetahui apa yang akan terjadi sebelum hal itu terjadi.

    Keterangan:

    Yang dimaksud taqiyyah disini adalah menyembunyikan kebenaran dan menutupi keyakinannya, serta menyembunyikannya dari orang-orang yang berbeda dengan mereka dan tidak menampakkannya kepada orang lain kerana dikhawatirkan akan berbahaya terhadap aqidah dan urusan duniawinya. Ringkasnya, taqiyah adalah berdusta untuk menjaga rahasia.

    • Menurut mereka, orang-orang yang mati (ketika hari kiamat) akan kembali ke dunia sebelum mereka dihisab. Namun, kelompok al-Ghaliyah tidak termasuk golongan yang berpendapat demikian. Karena menurut al-Ghaliyah, hari penghisaban itu tidak ada, demikian halnya dengan padang mahsyar yang juga tidak ada.
    • Termasuk dari ucapan mereka adalah al-Imam itu mengetahui segala sesuatu baik yang telah ada maupun yang akan ada tentang urusan dunia maupun agama. Bahkan, al-Imam mengetahui jumlah kerikil, tetesan hujan, dan daun-daun pepohonan. Al-Imam menurut mereka juga memiliki mukjizat sebagaimana mukjizat para nabi.
    • Sebagian besar mereka juga mengatakan bahwa barangsiapa memerangi Ali krw., maka dia kufur kepada Allah swt.

    Berikut ini adalah beberapa hal yang menjadikan beberapa golongan dalam Syi’ah menjadi berbeda antara yang satu dengan lainnya:

    • al-Ghaliyah menyatakan bahwa Ali krw itu lebih mulia daripada para nabi.

    Golongan ini menyatakan juga bahwa Ali krw. itu tidak dikubur dalam tanah layaknya para sahabat lainnya. Akan tetapi, berada di atas awan membunuh musuh-musuh Allah dari atas awan. Dan kelak di Hari Akhir beliau akan kembali untuk membunuh orang-orang yang dibencinya dan musuh-musuhnya. Menurut mereka, Ali krw. dan para imam lainnya tidak meninggal, tapi mereka semua kekal sampai datangnya hari kiamat.

    Mereka juga mengakui bahwa Ali krw. adalah nabi, dan malaikat Jibril itu salah salah karena menurunkan wahyu pada Muhammad saw.

    Mereka juga menyatakan bahwa Ali adalah tuhan, mereka telah sampai pada puncak pengagungan mereka dan mereka benar-benar kafir, mereka tinggalkan Islam dan keimanan, mereka ingkari Allah, Rasul-nya dan al-Qur’an, dan kita berlindung kepada Allah dari orang-orang yang telah berpendapat seperti ini.

    Al-Ghaliyah bercabang lagi menjadi beberapa cabang:

    1. al-Bayaniyah, yang dinisbatkan kepada Bayan bin Sam’an.

    Di antara kebatilan mereka adalah bahwa Allah itu dalam bentuk manusia. Maha Luhur Allah dari semua itu dengan keluhuran yang agung. Padahal Allah telah berfirman: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Qs. Al-Syura: 11).

    • al-Thayyariyah, yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Mu’awiyah bin Abdilllah bin Ja’far al-Thayyar. Mereka berpendapat tentang adanya tanasukh (reinkarnasi), mereka beranggapan ruh nabi Adam as. adalah ruh Allah swt. yang dipindah ke nabi Adam.

    Kelompok yang termasuk dari bagian al-Ghaliyah ini beranggapan bahwa ruh yang dipindah ke alam dunia ini adalah setelah ruh tersebut keluar dari dunia melalui kematian. Kemudian dipindahkan lagi ke dalam kandungan, lalu berpindah lagi ke bentuk yang lain, selamanya.

    Sebagian golongan ini bahkan menyatakan bahwa arwah orang-orang yang maksiat akan dipindahkan ke besi, tanah liat, tembikar, dan disiksa dengan api, dimasak, dipukul, dilempar, dan dicaci sebagai bentuk siksaan atas kejahatan mereka.

    • al-Mughiriyah, yang dinisbatkan kepada Mughirah bin Sa’id yang mengaku nabi, yang menyatakan bahwa Allah adalah cahaya yang berbentuk seorang laki-laki, dia juga mengaku bisa menghidupkan orang mati, dan lain sebagainya.
    • al-Manshuriyah, yang dinisbatkan kepada Abu Manshur, dia menyatakan pernah naik ke atas langit dan Allah mengusap kepalanya, dia juga menganggap bahwa Isa as. adalah makhluk ciptaan Allah yang pertama kali, lalu Allah ciptakan Ali krw., kemudian para rasul secara beruntun. Dia juga menyatakan bahwa surga dan neraka itu tidak ada.

    Kelompok ini menganggap bahwa golongan mereka yang membunuh 40 orang yang berbeda dari mereka maka akan masuk surga. Mereka juga menghalalkan harta orang lain, dan menyatakan bahwa Jibril telah salah dalam menyampaikan wahyu.

    • al-Khattabiyah, yang dinisbatkan kepada Abu al-Khattab. Mereka menganggap bahwa para imam mereka adalah para nabi yang terpercaya, dan dalam tiap masa ada utusan yang nathiq (berbicara) dan shamit (diam); nabi Muhammad saw. adalah nabi yang nathiq, dan Ali ra. adalah nabi yang shamit.
    • al-Ma’mariyah, sama halnya dengan al-Khattabiyah, namun yang membedakan adalah tentang tark al-shalah (meninggalkan shalat).
    • al-Bazi’iyah, yang dinisbatkan kepada Bazi’. Mereka menganggap bahwa sahabat Ja’far adalah Allah yang tidak dapat dilihat, akan tetapi Allah menyerupai bentuk wujud Ja’far.
    • al-Mufadhdhaliyah, yang dinisbatkan pada al-Mufadhdhal al-Shairafi, mereka menyatakan kerasulan dan kenabian, ucapan mereka tentang pemimpin (al-Imam) sama halnya dengan ucapan kaum Nasrani tentang Isa al-Masih.
    • al-Syari’iyah, yang dinisbatkan pada Syari’. Mereka menganggap bahwa Allah ada dalam 5 nabi dan kerabatnya, yaitu diri Nabi sendiri, al-‘Abbas, ‘Ali, Ja’far, dan ‘Uqail.
    • al-Sabaiyah, yang dinisbatkan pada Abdullah bin Saba’. Di antara pernyataan mereka adalah bahwasanya Ali tidak mati, dan akan kembali ketika hari kiamat. al-Sayyid al-Humairi termasuk dari golongan ini.
    • al-Mufawwadhiya. Mereka ini adalah golongan yang menyatakan bahwa Allah memberikan kekuasaan kepada para pemimpin mereka (al-Imam) untuk mengatur makhluk, Allah juga memberikan kekuasaan kepada Nabi saw. untuk menciptakan alam dan mengaturnya, meskipun Allah sendiri tidak menciptakannya.

    Demikian halnya tentang Ali krw., ketika golongan mereka melihat awan, maka mereka mengucapkan salam kepada awan tersebut, karena mereka menganggap bahwa Ali krw, ada di awan tersebut, sebagaimana yang telah dijelaskan di muka.

    • al-Zaidiyah. Disebut demikian karena kecondongan mereka pada pendapat Zaid bin ‘Ali tentang kekhalifahan sahabat Abu Bakar dan Umar.
    • al-Jarudiyah, yang dnisbatkan kepada Abu al-Jarud. Mereka menganggap bahwa Ali krw. telah berwasiat kepada Rasulullah saw., bahwa dia adalah al-Imam.

    Mereka menyatakan bahwa Nabi saw. telah menetapkan sifatnya kepada Ali krw, bukan namanya. Mereka juga mengusung al-imamah ini kepada sayyidina Husain bin Ali.

    • al-Sulaimaniyah, yang dinisbatkan kepada Sulaiman bin Katsir. Mereka menganggap bahwa ali krw. adalah sang Imam, dan baiat Abu Bakar dan Umar ra. itu adalah kesalahan, keduanya tidak berhak untuk menjadi khalifah. Oleh karena itu, umat kala itu telah meninggalkan yang lebih baik bagi mereka.
    • al-Batriyah, yang dinisbatkan kepada al-Abtar (an-Nawa). Mereka menganggap bahwa baiat Abu Bakar dan Umar ra. tidaklah salah, karena Ali krw. meninggalkan kepemimpinan bagi keduanya. Dan mereka mauquf terhadap kekhalifahan Utsman, karena mereka menyatakan Ali yang menjadi Imam tatkala Utsman dibaiat.
    • al-Nu’aimiyah, yang dinisbatkan kepada Nu’aim bin al-Yaman. Pandangan mereka sama dengan al-Batriyah, hanya saja mereka menyatakan tidak sepakat dengan kekhalifahan Utsman bin ‘Affan, dan mengkafirkannya.
    • al-Ya’qubiyah, mereka mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan Umar ra., akan tetapi mereka lebih mengunggulkan Ali krw. atas keduanya. Mereka juga mengingkari adanya al-raj’ah (secara bahasa berarti kembali, maksudnya adalah ruh yang kembali ke dunia setelah kematian. Hal ini terjadi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, setelah kemunculan Imam Mahdi, sebelum kesyahidan beliau dan sebelum terjadi peristiwa hari Kiamat).

    Dari golongan ini ada juga yang menyatakan tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan Umar ra, tetapi mengakui tentang adanya al-raj’ah.

    • Al-Rafidhah, terdiri dari 14 golongan, lalu bercabang menjadi beberapa golongan berikut:
    • al-Qoth’iyah, disebut demikian karena mereka menolak kematian Musa bin Ja’far, mereka menyatakan al-Imamah adalah Muhammad bin al-Hanafiyah karena dialah yang berhak.
    • al-Kaisaniyah, yang dinisbatkan kepada Kaisan. Mereka berpandangan bahwa al-Imamah adalah Muhammad bin al-Hanafiyah, karena dialah yang menerima bendera kepemimpinan ketika di Basrah.
    • al-Kuraibiyah, mereka adalah orang-orang Ibnu Karib al-Dharir
    • al-‘Umairiyah, mereka adalah orang-orang ‘Umair. ‘Umair menjadi imam mereka sampai Imam al-Mahdi muncul.
    • al-Muhammadiyah, mereka menganggap bahwa yang berhak untuk menjadi Imam adalah Muhammad bin Abdullah bin al-Hasan bin al-Husain. Muhammad bin Abdullah telah berwasiat kepada Abu Manshur, bukan kepada Bani Hasyim. Sebagaimana nabi Musa as. telah berwasiat kepada Yusa’ bin Nun, bukan kepada anaknya dan anak nabi Harun as.
    • al-Husainiyah, mereka menganggap bahwa Abu Manshur berwasiat kepada anaknya, al-Husain bin Abu Manshur, dengan demikian al-Husain bin Abu Manshur yang menjadi al-Imam.
    • al-Nawusiyah, disebut demikian karena mereka menisbatkan golongannya kepada Nawus al-Bashari.
    • al-Isma’iliyah, mereka menyatakan bahwa sahabat Ja’far telah meninggal, dan yang berhak menjadi al-Imam setelahnya adalah Isma’il.
    • al-Qaramithah, mereka menyatakan bahwa al-Imamah adalah sahabat Ja’far, dan Ja’far telah menitahkan al-Imamah kepada pewarisnya, yaitu Muhammad bin Isma’il. Muhammad tidak mati, dia masih hidup, dialah Imam Mahdi.
    • al-Mubarakiyah, yang dinisbatkan kepada pimpinan mereka yaitu al-Mubarak. Mereka menyatakan bahwa Muhammad bin Isma’il telah mati, dan tampuk al-Imamah jatuh kepada anaknya.
    • al-Syamthiyah, yang dinisbatkan kepada pimpinan mereka yang dikenal dengan nama Yahya bin Syamith. Mereka beranggapan bahwa al-Imam itu adalah sahabat Ja’far, lalu Muhammad bin Ja’far, lalu anak dari Muhammad bin Ja’far.
    • al-Ma’mariyah, disebut juga dengan al-Afthahiyah. Mereka beranggapan bahwa al-Imam setelah sahabat Ja’far adalah anaknya, yaitu Abdullah.
    • al-Mamthuriyah, disebut demikian karena mereka beradu argumen dengan Yunus bin Abdurrahman (dari golongan al-Qath’iyah yang menolak kematian Musa bin Ja’far), Yunus berkata kepada golongan ini: “Antum ahwanu min al-kilab al-mamthurah (kalian lebih hina dari anjing yang kehujanan)”. Dari sinilah mereka disebut dengan al-Mamthuriyah. Golongan ini juga disebut dengan al-Waqifah, karena sikap abstain (tidak menolak dan mengiyakan) mereka atas Musa bin Ja’far, mereka menyatakan bahwa Musa bin Ja’far hidup dan belum meninggal, bahkan dia tidak akan meninggal. Menurut mereka Musa bin Ja’far adalah Imam al-Mahdi.
    • al-Musawiyah, disebut demikian karena sikap abstain mereka atas Musa bin Ja’far. Mereka menyatakan bahwa mereka tidak tahu apakah Musa bin Ja’far meninggal atau tidak. Mereka juga menyatakan bahwa jika kepemimpinan selain Musa bin Ja’far dianggap sah, maka mereka mengamininya.
    • al-Imamiyah, mereka mengusung al-Imamah kepada Muhammad bin al-Husain. Dialah yang layak dan ditunggu-tunggu.
    • al-Zirariyah, mereka adalah orang-orang dari Zirarah, yang mengakui apa yang telah dinyatakan oleh golongan al-‘Ammariyah. Disebutkan bahwa dia meninggalkan pendapat golongan al-‘Ammariyah ketika dia menanyakan beberapa pertanyaan kepada Abdullah bin Ja’far, tapi Abdullah tidak mengetahui jawabannya, oleh karena itu Zirarah beralih kepada Musa bin Ja’far.

    Madzhab (pandangan-pandangan) al-Rawafidh (al-Rafidhah) menyerupai dengan madzhab orang-orang Yahudi, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Sya’bi:

    • Mahabbah (cinta) Syi’ah adalah mahabbah Yahudi
      • Yahudi berkata: “al-Imamah (kepemimpinan) itu tidak layak, kecuali dari golongan keluarga nabi Dawud”. al-Rafidhah berkata: “al-Imamah itu tidak layak, kecuali dari keturunan Ali bin Abu Thalib”.
      • Yahudi berkata: “Tidak ada jihad di jalan Allah, hingga datangnya Dajjal yang turun dari langit dengan suatu sebab tertentu”. al-Rafidhah berkata: “Tidak ada jihad di jalan Allah sampai muncul al-Mahdi, dan adanya suara yang memanggil-manggil dari langit”.
      • Orang-orang Yahudi menunda-nunda shalat maghrib sampai bintang-bintang tampak, begitu juga dengan orang-orang al-Rafidhah.
      • Yahudi merubah arah kiblat, begitu juga dengan al-Rafidhah.
      • Yahudi menggunakan lampu dalam sembahyangnya, begitu juga dengan al-Rafidhah.
      • Yahudi ketika sembahyang mereka membiarkan pintunya terbentang, begitu juga dengan al-Rafidhah.
      • Yahudi menghalalkan darah orang muslim, demikian halnya dengan al-Rawafidh.
      • Yahudi menganggap perempuan tidak memiliki masa ‘iddah, begitu juga dengan al-Rafidhah.
      • Yahudi memandang bahwa thalaq tiga kali layaknya thalaq biasa, begitu juga dengan al-Rafidhah.
      • Yahudi merubah Taurat, begitu juga dengan al-Rafidhah yang merubah al-Qur’an. Mereka menyatakan bahwa al-Qur’an berubah, baik tatanannya maupun urutannya, mereka pun merubah apa yang telah diturunkan dalam al-Qur’an. Mereka membacanya bukan dengan cara yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw. Mereka menambah dan menguranginya.
      • Yahudi membenci Jibril as., bahkan mereka menganggapnya musuh mereka dari golongan malaikat. Begitu juga salah satu golongan al-Rafidhah yang menyatakan bahwa malaikat Jibril as. yang salah menyampaikan wahyu kepada Muhammad saw., yang seharusnya – menurut mereka – Jibril itu diutus kepada Ali krw.
    • AL-MURJIAH

    Terdiri dari 12 golongan, yaitu al-Jahmiyah, al-Shalihiyah, al-Syamriyah, al-Yunusiyah, al-Yunaniyah, al-Najjariyah, al-Ghailaniyah, al-Syabibiyah, al-Ghassaniyah, al-Mu’adziyah, al-Muraisiyah, al-Karamiyah.

    Murji’ah disebut demikian karena mereka menyatakan bahwa seorang muslim mukallaf yang telah mengucapkan kalimat “laa ilaaha illallaah Muhammad rasulullah”, lalu dia melakukan berbagai macam dosa, maka dia tidak masuk neraka sama sekali.

    Mereka juga menyatakan bahwa iman adalah ucapan tanpa perbuatan, tanpa amaliyah syari’at. Iman menurut mereka hanyalah ucapan semata.

    Seluruh manusia tidak ada yang saling mengungguli dalam hal keimanan. Oleh karena itu, iman manusia, para malaikat dan para nabi adalah satu, tidak bertambah, dan tidak pula berkurang, dan tidak ada yang dikecualikan (diistimewakan). Barang siapa yang telah berikrar dengan lisannya, dan dia tidak mengamalkan syari’at, maka dia adalah mukmin.

    Berikut ini golongan-golongan yang ada dalam golongan Murji’ah:

    1. al-Jahmiyah, yang dinisbatkan kepada Jahm bin Shofwan yang berkata: “Iman adalah makrifat kepada Allah dan rasul-Nya, dan segala sesuatu yang datang dari rasul-Nya saja”.

    Mereka beranggapan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Dan Allah ta’ala tidak pernah berbicara dengan Musa as. Allah sama sekali tidak pernah berbicara, tidak bisa dilihat, tidak bisa diketahui. Allah bertempat, namun Allah tidak memiliki ‘Arsy, tidak pula memiliki Kursi, tidak juga Allah bersemayam di atas ‘Arsy.

    Mereka mengingkari adanya timbangan di akhirat dan siksa kubur, surga dan neraka keduanya adalah makhluk. Dan jika keduanya adalah makhluk, maka keduanya bisa rusak.

    Allah swt. tidak akan berbicara dengan makhluk-Nya, tidak pula memandang mereka ketika hari kiamat. Penduduk surga pun tidak dapat melihat-Nya.

    Menurut mereka, iman adalah ma’rifat (pengetahuan) hati, bukan pengakuan lisan. Mereka juga mengingkari semua sifat Allah swt.

    • al-Shalihiyah, disebut demikian karena mereka bermadzhab Abu al-Husain al-Shalihi. Abu al-Husain al-Shalihi berkata: “Iman adalah pengetahuan. Kufur adalah kebodohan. Orang yang menyatakan Allah itu tuhan dari trinitas, maka dia tidaklah kafir, meskipun itu tidak tampak. Kecuali itu ucapan orang yang pada dasarnya memang kafir. Tiadalah ibadah itu kecuali iman”.
    • al-Yunusiyah, yang dinisbatkan kepada Yunus al-Bara yang menganggap bahwa iman adalah makrifat (pengetahuan), khudhu’ (pasrah), dan mahabbah (cinta) kepada Allah. Barangsiapa yang meninggalkan salah satu dari ketiganya, maka dia kafir.
    • al-Syamriyah, yang dinisbatkan kepada Abu Syamr. Dia beranggapan bahwa iman adalah khudhu’ (pasrah), dan mahabbah (cinta), dan pengakuan bahwa Allah itu esa, firman Allah: ‘Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat’ (Qs. al-Syura: 11). Kumpulan dari ketiganya adalah iman”.

    Abu Syamr juga berkata: “Sama sekali aku tidak menyebut orang yang melakukan dosa besar sebagai orang yang fasiq. Tidak akan aku menyebut seorang dengan sebutan fasiq karena perbuatan ini atau itu”.

    • al-Yunaniyah, yang dinisbatkan kepada Yunan. Mereka menganggap bahwa iman dan percaya dan pengakuan tentang Allah dan rasul-Nya, dan apa yang terlintas di dalam akal, maka itu harus dilakukan.
    • al-Najjariyah, dinisbatkan kepada al-Husain bin Muhammad al-Najjar. Mereka menyatakan bahwa iman adalah pengetahuan tentang Allah dan rasul-Nya, berikut hal-hal yang difardhukan-Nya, pasrah kepada-Nya, serta pengakuan lisan. Ketika seseorang lalai dari salah satunya, lalu tampak adanya bukti, namun dia tidak mengakuinya, maka dia adalah kafir.
    • al-Ghailaniyah, yang dinisbatkan kepada Ghailan. Mereka sepakat dengan pandangan al-Syamriyah, mereka juga menganggap bahwa ilmu tentang sifat alam yang hadits (baru) adalah penting. Ilmu tentang ketauhidan itu adalah dengan lisan.

    Sebagaimana yang dikisahkan Zarqan bahwa Ghailan berkata: “Iman adalah ikrar dengan lisan, yakni dengan pembenaran”.

    • al-Syabibiyah. Mereka ini adalah orang-orang Muhammad bin Syabib. Menurut mereka iman adalah mengakui Allah dan mengetahui sifat keesaan-Nya dan menafikan penyerupaan kepada-Nya. Muhammad bin Syabib beranggapan bahwa iman juga ada pada diri iblis, akan tetapi iblis kafir karena kesombongannya.
    • al-Ghassaniyah. Mereka adalah orang-orang Ghassan al-Kufi. Dia beranggapan bahwa iman adalah makrifat dan pengakuan tentang Allah dan rasul-Nya, dan segala sesuatu yang datang dari Rasulullah secara global, sebagaimana hal ini disebutkan oleh al-Burhuti dalam kitab al-Syajarah.
    • al-Mu’adziyah, yang dinisbatkan kepada Mu’adz al-Mushi. Dia berkata: “Seseorang yang meninggalkan ketaatan kepada Allah, maka dia disebut fisq (berbuat kefasikan), dan bukan disebut dengan fasiq (orang yang sering berbuat kefasikan). Dan orang yang disebut fasiq bukanlah musuh Allah, bukan pula wali”.
    • al-Muraisiyah, dinisbatkan kepada Basyar al-Muraisi. Mereka beranggapan bahwa iman adalah pembenaran. Dan pembenaran itu dengan hati dan lisan. Kepada pandangan inilah Ibnu al-Rawandi bermadzhab. Mereka juga beranggapan bahwa sujud kepada matahari tidaklah kufur, itu hanya tanda-tanda kufur saja.
    • al-Karamiyah, dinisbatkan kepada Abdullah Muhammad bin Kiram. Mereka beranggapan bahwa iman adalah ikrar dengan lisan tanpa hati. Oleh karena itu, orang munafik pada hakikatnya adalah orang mukmin.

    Di antara pandangan mereka adalah kemampuan itu mendahului perbuatan, meski keberadaannya bersamaan dengan perbuatan itu sendiri. Hal ini berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Ahlussunnah, mereka memandang bahwa kemampuan itu bersamaan dengan perbuatan, namun kekuasaan itu tidak bisa mendahului perbuatan.

    Para penulis kalangan al-Murji’ah antara lain; Abu al-Hasan al-Shalihi, Ibnu al-Rawandi, Muhammad bin Syabib, al-Husain bin Muhammad al-Najjar.

    Dan kebanyakan madzhab mereka berada di daerah timur dan pinggiran Khurasan.

    • AL-MU’TAZILAH WA AL-QADARIYAH

    Disebut dengan al-Mu’tazilah karena menarik diri mereka dari kebenaran. Dikatakan juga bahwa disebut dengan al-Mu’tazilah karena menyingkir dari ucapan-ucapan orang muslim. Mereka memandang bahwa manusia itu berbeda-beda dalam melakukan dosa-dosa besar.

    Sebagian mereka menyatakan: “Kaum muslimin itu beriman, karena ada keimanan dalam hati mereka”. Sebagian mereka yang lain juga menyatakan: “Mereka adalah orang-orang kafir”. Washil bin ‘Atha menjadi pembaharu mereka dengan menambahkan satu pandangan, “Tidaklah mereka itu mukmin, tidak pula kafir”. Dari sinilah, mereka lalu disebut dengan al-Mu’tazilah.

    al-Mu’tazilah mengikuti ‘Amar bin ‘Ubaid. Suatu ketika al-Hasan al-Bishri marah kepada ‘Amar bin ‘Ubaid, al-Hasan lalu dicemooh. al-Hasan pun lalu berkata: “Bukankah kalian mencemoohku demi seorang laki-laki (‘Amar bin ‘Ubaid) yang lebih memilih untuk menyembah matahari daripada Allah???”.

    Golongan ini juga disebut dengan al-Qadariyah karena mereka menolak adanya qadha’ Allah berikut kekuasaan-Nya dalam perbuatan maksiat hamba-hamba-Nya. Mereka berpandangan bahwa manusia berbuat dosa atas kehendak mereka sendiri.

    Madzhab al-Mu’tazilah, al-Jahmiyah dan al-Qadariyah tentang Allah yang tak bersifat, adalah sama.

    Di antara para penulis buku mereka adalah Abu al-Hudzail, Ja’far bin Harb, al-Khayyath, al-Ka’bi, Abu Hasyim, Abu ‘Abdillah al-Bishri, ‘Abdul Jabbar bin Ahmad al-Hamadani.

    al-Mu’tazilah ada 6 golongan, yaitu al-Hudzailiyah, al-Nidzamiyah, al-Ma’mariyah, al-Jubbaiyah, al-Ka’biyah, al-Bahsyamiyah.

    Keenam golongan al-Mu’tazilah ini seluruhnya meniadakan sifat dari Allah swt. Mereka menafikan sifat qudrat (kuasa), hayat (hidup), sama’ (mendengar) dan bashar (melihat) dari Allah swt.

    Mereka juga berpendapat bahwa Kalamullah itu baru, kehendak-Nya baru. Allah juga berbicara dengan bahasa makhluk-Nya. Allah berkehendak dengan kehendak-Nya yang baru, dan tidak bertempat. Allah berkehendak tidak sesuai dengan apa yang diketahui-Nya. Dia juga berkehendak atas makhluk-Nya atas sesuatu yang tiada, dan sesuatu yang ada yang tidak dikehendaki-Nya. Allah juga tidak memiliki kuasa atas kehendak makhluk-Nya. Allah tidak menciptakan perbuatan hamba-Nya, namun para makhluk itu sendiri yang membuatnya, bukan Allah.

    Keharaman yang dimakan oleh manusia bukanlah rizki yang diberikan oleh Allah, Dia hanya memberikan rizki yang halal. Manusia bisa dibunuh, tapi bukan ajalnya. Pembunuh hanyalah memotong ajalnya sebelum tiba waktunya.

    Mereka menyatakan bahwa seorang yang mengesakan Allah yang berbuat dosa besar, meskipun dia tidak kufur, maka dengan perbuatan itu dia telah keluar dari keimanannya, dan abadi selama-lamanya di nereka. Seluruh amal kebajikannya batal. Mereka juga meniadakan syafa’at Rasulullah saw. bagi pelaku dosa besar.

    Kebanyakan golongan mereka menyatakan bahwa siksa kubur dan timbangan amal itu tidak ada. Dan mereka keluar dari kekuasaan pemimpin negara dan tidak taat kepada mereka.

    Mereka juga menyatakan bahwa do’a orang yang hidup bagi orang yang mati itu tidak ada manfaatnya. Begitu juga dengan pahala shadaqah, tidak akan bisa sampai kepada mayit.

    Mereka juga menganggap bahwa Allah tidak pernah berbicara kepada nabi Adam, nabi Nuh, nabi Ibrahim, nabi Musa, nabi Isa, dan tidak pula kepada nabi Muhammad saw. Tidak pula Allah pernah berbicara dengan Jibril, Mikail, Israfil, dan para malaikat Hamlatul ‘Arsy, tidak juga Allah memandang kepada mereka. Sama halnya Allah juga tidak berbicara kepada iblis, kaum Yahudi dan kaum Nasrani.

    Berikut ini adalah beberapa hal yang membedakan beberapa golongan al-Mu’tazilah yang telah disebutkan di atas:

    1. al-Hudzailiyah. Yang membedakan golongan ini dengan golongan lainnya adalah pemimpin yang mereka anut, yaitu Abu al-Hudzail yang menyatakan bahwa Allah adalah ilmu, qudrat (kuasa), sama’ (mendengar), dan bashar (melihat). Sebagian dari Kalamullah itu makhluk, dan sebagian yang lain bukan makhluk. Dia melandaskan pada ayat al-Qur’an: “Kun (jadilah”.

    Dia menyatakan bahwa Allah tidak bertentangan dengan makhluk-Nya, dan sesungguhnya takdir Allah itu terbatas. Oleh karena itu, penduduk surga itu tetap, mereka tidak berubah. Allah tidak mampu untuk merubah mereka, dan penduduk surga pun tidak mampu untuk melakukan perubahan.

    Bisa jadi mayit, sesuatu yang tiada, dan yang tidak kuasa, mampu untuk melakukan perbuatan. Dia juga mengingkari bahwa Allah itu Maha Mendengar.

    • al-Nizhamiyah. Pemimpin mereka adalah al-Nizham. Dia berkata: “Benda-benda mati itu berbuat (bergerak), karena dia diciptakan. al-Insan (manusia) adalah ruh, oleh karena itu siapapun belum pernah melihat Nabi Saw., dia hanya melihat raganya saja”.

    Pernyataannya juga melanggar ijmak, yaitu: “Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja, tapi dia ingat, maka tidak ada kewajiban untuk mengulangi shalat”.

    Dia juga meniadakan konsensus (ijmak) umat, bahkan dia melampauinya secara batil. Dia berkata: “Iman itu seperti kufur, taat itu seperti maksiat, perbuatan Nabi Saw. itu seperti perbuatan iblis yang dilaknat, dan perjalanan Umar dan Ali itu seperti perjalanan orang-orang yang berhaji”.

    Dia berkata demikian, karena dia memandang bahwa hewan itu semuanya satu.

    Dia juga menganggap al-Qur’an dari segi susunannya bukanlah mukjizat. Allah tidak kuasa untuk membakar bayi meskipun dia berada di tepian Jahannam, dan tidak pula Allah kuasa untuk melemparkannya ke dalam Jahannam.

    al-Nizham adalah orang pertama yang menyatakan orang-orang yang shalat menghadap kiblat adalah kafir. Dia juga berkata: “Jisim itu terdiri dari bagian-bagian yang tak terbatas”.

    Dia berkata: “Ular, kalajengking, dan kumbang itu berada di surga. Anjing dan babi, juga berada di surga”.

    • al-Ma’mariyah. Syaikh mereka Ma’mar berpendapat dengan pendapat kalangan naturalis. Dia menganggap bahwa Allah tidak menciptakan warna, rasa, dan bau, dan tidak pula Allah menciptakan kematian dan kehidupan. Karena semua itu adalah perbuatan jisim yang sifatnya alami.

    Dia juga menyatakan bahwa al-Qur’an adalah perbuatan fisik. Menurutnya, al-Qur’an bukanlah dari perbuatan Allah. Dia juga mengingkari tentang sifat Allah yang qadim (lampau).

    • al-Jubbaiyah. Syaikh mereka adalah al-Jubbai, dia telah melanggar apa yang telah disepakati oleh ijma’ (konsensus/kesepakatan) umat, sebagaimana beberapa pendapatnya berikut ini:
    • Semua hamba (manusia) adalah pencipta perbuatannya.
    • Allah lah yang membuahi seluruh perempuan di dunia ini, dengan menciptakan kandungan di dalam tubuh mereka.
    • Allah patuh pada hamba-Nya, jika hamba tersebut melakukan apa yang diinginkan-Nya.
    • Seseorang yang berjanji akan melunasi hutangnya kepada orang yang menghutanginya pada esok hari, kemudian dia menggunakan istisna’ (pengecualian) dengan mengucapkan kalimat “insya Allah”, maka hal itu tidak ada gunanya. Oleh karena itu, jika dia tidak melunasi hutangnya pada esok hari, maka dia telah melanggar janjinya.
    • Seseorang yang mencuri 5 dirham (1 dirham + 50 ribu rupiah), maka dia adalah orang yang fasiq. Dan jika dia mencuri kurang dari 5 dirham, maka dia tidak fasiq.
    • al-Bahsyamiyah, yang dinisbatkan kepada Hasyim bin al-Jubbai. Dia menyatakan bahwa seorang mukallaf itu memiliki kuasa, sedangkan Allah tidak berbuat dan tidak meninggalkan perbuatan manusia itu. Allah akan menyiksa mukallaf karena perbuatan yang dilakukannya.

    Barangsiapa bertaubat dari berbagai amal perbuatan dosanya, namun ada satu dosa yang dia belum bertobat darinya, maka taubatnya dari seluruh perbuatan dosanya tidak diterima.

    • al-Ka’biyah, dinisbatkan kepada Abu al-Qasim al-Ka’bi, dia mengikuti madzhab Baghdad.

    Dia mengingkari bahwa Allah itu Maha Mendengar dan Maha Melihat. Allah berkehendak atas hakikat. Dan kehendak Allah atas perbuatan hambanya adalah berupa perintah kepadanya. Kehendak-Nya adalah perbuatan diri-Nya sendiri.

    Dia berpendapat bahwa seluruh ala mini bergerak, dan yang menggerakkannya adalah lapisan awal dari jisim. Manusia seandainya menggunakan minyak, lalu dia bisa berjalan, maka sebenarnya bukanlah dirinya yang menggerakkan, akan tetapi minyak itulah yang menggerakkannya.

    Dia menyatakan bahwa al-Qur’an itu baru, tapi dia menganggapnya makhluk.

    • AL-MUSYABBIHAH, terdiri dari 3 golongan, yaitu al-Hisyamiyah, al-Muqatiliyah, al-Wasimiyah.

    Ketiga golongan al-Musyabbihah memiliki kesamaan pandangan bahwa Allah itu adalah jisim. Karena bagi mereka, tidak bisa sesuatu yang ada itu akan diterima akal kecuali hal itu memiliki jisim. Golongan yang banyak mempengaruhi mereka adalah al-Rafidhah dan al-Karamiyah (keduanya dari golongan Syi’ah).

    Orang yang menulis buku-buku mereka adalah Hisyam bin al-Hakam.

    1. al-Hisyamiyah, dinisbatkan kepada Hisyam bin al-Hakam yang beranggapan bahwa Allah itu jisim yang tinggi, lebar, dan dalam, cahaya yang bersinar, dengan kemuliaan bagaikan cahaya murni. Dia bergerak, diam, berdiri dan duduk.

    Suatu ketika dia ditanya: “Tuhanmu itu agung atau esa?”. Dia menjawab: “Tuhanku agung”.

    • al-Muqatiliyah, dinisbatkan pada Muqatil bin Sulaiman. Dikisahkan bahwa dia pernah berkata: “Allah adalah jisim, memiliki tubuh dengan bentuk manusia, memiliki daging, darah, anggota tubuh seperti kepala, lidah, dan leher. Akan tetapi, bentuknya tak menyerupai sesuatu apapun, dan segala sesuatu itu tidak ada yang menyerupai-Nya”.
    • AL-JAHMIYAH, hanya satu golongan yang dinisbatkan pada Jahm bin Shufwan. Dia menyatakan bahwa kata al-insan itu disandarkan pada manusia karena apa yang tampak darinya secara majazi, bukan secara hakiki.

    Doa mengingkari ungkapan: “Allah itu sesuatu”. Dia berkata: “Ilmu Allah itu baru”. Dia juga melarang ungkapan: “Allah itu mengetahui segala sesuatu sebelum adanya”. Dia juga berkata: “Surga dan neraka itu fana’ (rusak)”. Dia juga meniadakan sifat-sifat Allah.

    Madzhab Jahm itu ada di daerah Turmudz. Dia juga memiliki sebuah tulisan yang membahas tentang tiadanya sifat Allah. Dia dibunuh oleh Muslm bin Ahwar al-Mazini.

    • AL-DHARARIYAH, hanya satu golongan yang dinisbatkan pada Dharar bin ‘Amr. Dia berkata: “Jisim adalah bagian-bagian yang terkumpul”. Tapi dia juga membolehkan untuk membalik istilah tersebut, bagian-bagian adalah jisim. Kekuasaan/kemampuan adalah sebagian dari orang yang memiliki kuasa. Kekuasaan itu ada sebelum perbuatan dan ada bersamaan dengan perbuatan. Dia juga mengingkari bacaan al-Qur’an Ibnu Mas’ud dan Ubay bin Ka’b.
    • AL-NAJJARIYAH, hanya satu golongan yang dinisbatkan pada al-Husain bin Muhammad al-Najjar. Dia menetapkan bahwa secara hakikat Allah dan hamba itu memilki perbuatan. dia juga menafikan adanya sifat-sifat Allah. Dia berpendapat sebagaimana pandangan kaum al-Mu’tazilah tentang tiadanya sifat bagi Allah, namun tentang sifat iradah (kehendak) dia menyatakan bahwa Allah hanya memiliki kehendak atas diri-Nya sendiri.

    Dia juga menyatakan bahwa al-Qur’an itu makhluk. Allah juga berkehendak, dalam artian bahwa Allah bukanlah dzat yang dipaksa, tidak pula dikalahkan. Allah juga berbicara, dalam artian Allah bukanlah dzat yang tidak mampu untuk berbicara. Allah juga pemurah, dalam artian untuk meniadakan sifat pelit dari-Nya.

    1. AL-KILABIYAH, hanya satu golongan yang dinisbatkan pada Abdullah bin Kilab. Dia berpendapat bahwa sifat-sifat Allah itu tidak qadim (dahulu, lampau), dan juga tidak hadits (baru). Dia berkata: “Aku tidak mengatakan sifat-sifat Allah adalah Dia, dan tidak pula aku mengatakan sifat-sifat-Nya adalah selain-Nya. Akan tetapi, maksud dari istiwa’ adalah tiadanya keadaan yang bengkok. Firman Allah: ’Tuhan Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘arsy’ (Qs. Thaha: 5)”. Dia juga menyatakan bahwa Allah itu tetap sebagaimana adanya, dia tidak bertempat. Dia juga menafikan tentang al-Qur’an itu berupa huruf.
    2. AL-SALIMIYAH, yang dinisbatkan kepada Ibnu Salim.

    Berikut ini adalah beberapa pandangan dari golongan al-Salimiyah:

    • Allah bisa dilihat pada hari kiamat dengan rupa manusia dari golongan nabi Muhammad. Kelak pada hari kiamat, Allah akan menampakkan diri-Nya kepada masing-masing makhluk, baik dari golongan jin, manusia, malaikat, maupun hewan.

    Dengan demikian mereka telah membuat kebohongan, padahal di dalam al-Qur’an telah disebutkan: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Qs. al-Syura: 11).

    • Allah itu sirr (rahasia), jika Alah menampakkan rahasia itu, maka rusaklah segala pengaturan-Nya. Para nabi juga memiliki sirr, yang jika mereka tampakkan, maka rusaklah kenabian. Para ulama juga memiliki sirr, yang jika mereka tampakkan, maka rusaklah ilmu.

    Pendapat ini rusak, Allah Maha Bijaksana, segala pengaturan-Nya telah ditetapkan. Allah tidak dihampiri/ditimpa kerusakan. Pendapat mereka ini memberikan arti bahwa ketetapan-Nya itu rusak. Pendapat demikian adalah sebuah bentuk kekufuran.

    • Orang-orang kafir kelak akan bisa melihat Allah. Dan mereka kelak akan dihisab.
    • Iblis itu bersujud kepada nabi Adam as. pada kedua kalinya. Mereka telah membuat kebohongan atas al-Qur’an. Padahal Allah telah berfirman: “kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (Qs. al-Baqarah: 34). Dan juga firman Allah: “kecuali iblis; dia tidak termasuk mereka yang bersujud” (Qs. al-A’raf: 11).
    • Iblis tidak pernah masuk surga. Padahal disebutkan dalam al-Qur’an: “Allah berfirman: ‘Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk’” (Qs. al-Hijr: 34, dan Qs. Shad: 77).
    • Jibril itu mendatangi Nabi saw., akan tetapi dia tidak meninggalkan tempatnya.
    • Ketika Allah berbicara dengan nabi Musa as., nabi Musa kagum dengan dirinya sendiri. Kemudian Allah berfirman kepadanya: “Wahai Musa, apakah engkau kagum dengan dirimu sendiri? Jauhkanlah pandanganmu!”. Kemudian nabi Musa menjauhkan pandangannya, maka dia menyaksikan ada 100 gunung, yang di tiap gunung itu ada nabi Musa.

    Hal ini bertengan dengan para ahli al-Qur’an dan al-hadits. Nabi Saw. telah mengancam orang yang membuat kebohongan atas diri beliau saw., beliau bersabda: “Barang siapa yang sengaja membuat kebohongan tentang diriku, maka siapkanlah tempat duduknya dari api (neraka)”.

    • Allah menghendaki ketaatan dari hamba-hamba-Nya, dan tidak menghendaki kemaksiatan dari mereka. Oleh karena itu, Allah menghendaki ketaatan karena hamba.

    Ini adalah sebuah kebatilan mereka. Karena Allah telah berfirman: “Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah” (Qs. al-Maidah: 41).

    Juga firman Allah: “Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya” (Qs. al-An’am: 112)

    Juga firman Allah: “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya” (Qs. al-An’am: 137)

    Juga firman Allah: “Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan.” (Qs. al-Baqarah: 253)

    • Nabi telah hapal al-Qur’an sebelum masa kenabian, dan sebelum malaikat Jibril as. datang kepada beliau.

    Ini juga salah satu kebohongan mereka tentang al-Qur’an. Padahal Allah telah berfirman: “052. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu” (Qs. al-Syura: 52).

    Juga firman Allah: “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (al-Qur’an) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu” (Qs. al-‘Ankabut: 48)

    • Allah membaca dengan bahasa masing-masing orang yang membaca al-Qur’an. Oleh karena itu – menurut mereka – barangsiapa yang mendengar bacaan orang yang sedang membaca al-Qur’an, maka sebenarnya dia mendengarnya dari Allah”.
    • Pendapat mereka ini memberikan pemahaman tentang konsep hulul (keadaan dua esensi, yang satu mengambil tempat pada yang lain).
    • Allah berada di semua tempat, baik itu ‘Arsy atau tempat-tempat yang lain.

    (فصل) فأصل ثلاث وسبعين فرقة عشرة: أهل السنة، والخوارج، والشيعة، والمعتزلة، والمرجعة، والمشبهة، والجهمية، والضرارية، والنجارية، والكلامية.

    فأهل السنة طائفة واحدة، والخوارج خمس عشرة فرقة، والمعتزلة ست فرق، والمرجئة اثنتا عشرة فرقة، والشيعة اثنتان وثلاثون فرقة، والجهمية والنجارية والضرارية والكلابية كل واحدة فرقة واحدة، والمشبهة ثلاث فرق، فجميع ذلك ثلاث وسبعون فرقة على أخبر به النبى صل الله عليه وسلم.

    1. أما الفرقة الناجية فهى اهل السنة والجماعة.

    وقد مذهبهم واعتقادهم على ما قدمنا ذكره.

    وتسمي هذه الفرقة الناجية القدرية والمعتزلة: مجبرة لقولها إن جميع المخلوقات بمشيئة الله تعالى وقدرته وإرادته وخلقه.

    وتسميها المرجئة شكاكية لاستثنائها فى الإيمان، يقول أحدهم: أنا مؤمن إن شاء الله تعالى، على ما قدمنا بيانه.

    وتسمية الرافضة ناصية، لقولها باختبار الإمام ونصبه بالعقد.

    وتسميها الجهمية والنجارية مشبهة، لإتيانها صفات البارى عز وجل من العلم والقدرة والحياة وغيرها من الصفات.

    وتسميها الباطنية حشوية، لقولها بالأخبار وتعلقها بالآثار.

    وما اسمهم إلا أصحاب الحديث وأهل السنة، على ما بينا.

    • وأما الخوارج فلهم أسام وألقاب :

    سموا الخوارج: لخروجهم على على بن أبي طالب رضي الله عنه.

    وسموا محكمة: لإنكارهم الحكمين أبا موسى الأشعرى وعمرو بن عاص رضى الله عنهما، ولقولهم لا حكم إلا الله، لا حكم الحكمين.

    وسموا أيضا حرورية: لأنهم نزلوا بحروراء، وهو موضع.

    وسموا شراة: لقولهم شرينا أنفسنا فى الله : أى بعناها بثواب الله وبرضاه الجنة.

    وسموا مارقة: لمروقهم من الدين، وقد وصفهم النبى صل الله عليه وسلم، بأنهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية ثم لا يعودون فيه.

    فهم الذين مرقوا من الدين والإسلام، وفارقوا الملة وشردوا عنها وعن الجماعة، وضلوا عن سواء الهدى والسبيل وخرجوا على السلطان، وسلوا السيف على الأئمة، واستحلوا دماءهم وأموالهم، وكفروا من خالفهم، ويسبون أصحاب رسول الله صل الله عليه وسلم وأصهاره، ويتبرؤون منهم ويرمونهم بالكفر والعظائم، ويرون خلافهم، ولا يؤمنون بعذاب القبر ولا الحوض ولا الشفاعة، ولا يخرجون أحدا من النار، ويقولون : من كذب كذبة أو أتى صغيرة أو كبيرة من الذنوب فمات من غير توبة فهو كافر وفى النار مخلد.

    ولا يرون الجماعة إلا خلف إمامهم، ويرون تأخير الصلاة عن وقتها والصوم قبل رؤية الهلال، والفطر مثل ذلك، والنكاح بغير ولى.

    ويرون المتعة والدرهمين يدا بيد حلالا.

    ولا يرون الصلاة فى الخفاف ولا المسح عليها ولا طاعة السلطان ولاخلافة قريش.

    وأكثر ما يكون الخوارج بالجزيرة وعمان والموصل وحضرموت ونواحى المغرب.

    والذين وضع لهم الكتب وصنفها عبد الله بن زيد محمد بن حرب ويحيى بن كامل وسعيد بن هارون.

    فهم خمس عشرة فرقة :

    • منهم النجدات : نسبوا إلى نجدة بن عامر الحنفى، من اليمامة وتميم، وهم أصحاب عبد الله بن ناصر.

    ذهبوا إلى أن من كذب كذبة أو أتى صغيرة وأصر عليها فهو مشرك، وإن زنى وسرق وشرب الخمر من غير أن يصر عليها فهو مسلم، وأنه لا يحتاج إلى إمام إنما الواجب العلم بكتاب الله فحسب.

    • ومنهم الأزارقة : وهم أصحاب نافع بن الأزرق ذهبوا  إلى أن كل كبيرة كفر وأن الدار دار كفر، وأن أبا موسى وعمرو بن العاص رضى الله عنهما كفرا بالله حين حكمهما على رضى الله عنه بينه وبين معاوية رضى الله عنه فى النظر فى الأصلح للرعية.

    ويرون أيضا قتل الأطفال، يعنى أولاد المشركين، ويحرمون الرجم، ولا يحدرون قادف المحصن، ويحدرون قادف المحصنات.

    • ومنهم الفدكية : منسوبة إلى ابن فديك.
    • ومنهم العطوية : منسوبة إلى عطبةإلى عطية بن الأسود.
    • ومنهم العجاردة : وهم فرق كثيرة.
    • ومنهم اليمونية : جميعا.

    يجيزون بنات البنين وبنات البنات وبنات الإخواة وبنات الأخوات، ويقولون إن سورة يوسف ليست من القرآن.

    • ومنهم الخازمية : تفردت بأن الولاية والعداوة صفتان فى ذات تعالى.

    وتشعبت الخازمية من المعلومية، ذهبت إلى أن من لم يعلم الله بأسمائه فهو جاهل، ونفوا أن تكون الأفعال خلقا لله تعالى، وأن تكون الاستطاعة مع الفعل.

    ومن أصل الخمس عشرة :

    • المجهولية: وهى تقول أن من علم الله ببعض أسمائه فهو عالم به غيره جاهل.
    • ومنهم الصلتية: وهى منسوبة إلى عثمان بن الصلت، واعدت أن من استجاب لنا وأسلم وله طفل فليس له إسلام حتى يدرك، ويدعوه فإن أبى فيقتله.
    • ومنهم الأخنسية : منسوبة إلى رجل يقال له الأخنس، ذهبوا إلى أن السيد يأخذ من زكاة عبده ويعطيه من زكاته إذا احتاج وافتقر.
    • ومنهم الصفرية : والحفصية طائفة متشعبة منها، يزعمون أن من عرف الله وكفر بما سواه من رسول وجنة ونار، وفعل سائر الجنايات من قتل النفس، واستحلال الزنا فهو برئ من الشرك، وإنما يشرك من جهل الله وأنكره فحسب.

    ويزعون أن الحيران الذى ذكره الله تعالى فى القرآن هو على وحزبه وأصحابه، يدعونه إلى الهدى ائتنا، وهم أهل النهروان.

    • ومنهم الأباضية: زعموا أن جميع ما افترضه الله تعالى على خلقه إيمان، وأن كل كبيرة فهو كفر نعمة لا كفر شرك.
    • ومنهم البيهسية : منسوبة إلى أبى بهيس، تفردوا فزعموا أن الرجل لا يكون مسلما حتى يعلم جميع ما أحل الله له وحرم بعينه ونفسه.

    ومن البيهسية من يقول : كل من واقع ذنبا حراما عليه ليس يكفر حتى يرفع إلى السلطان فيحده عليه، فحينئذ يحكم بالكفر.

    • ومنهم الشمراخية: منسوبة إلى عبد الله بن الشمراخ زعم أن قتل الأبوين حلال.

    وكان حين ادعى ذلك فى دار التقية، فتبرأت منه الخوارج بذلك.

    • ومنهم البدعية: قولها كقول الأزراقة، وتفردت بأن الصلاة ركعتان بالغداد وركعتان بالعشى، لقول الله عز وجل : وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفاً مِّنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّـيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ ﴿هود: ١١٤﴾ .

    واتفقت مع الأزارقة على جواز سبى النساء وقتل الأطفال من الكفر مغتالا لقوله تعالى : لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّاراً ﴿نوح : ٢٦﴾.

    واتفقت جميع الخوارج على كفر على رضى الله عنه لأجل التحكيم، على كفر مرتكب الكبيرة، إلا النجداة فإنها لم توافقهم على ذلك.

    • 3.  ( فصل) وأما الشيعة فلهم أسام منها : الشيعة والرافضة والغالية والطيارة.

    وإنما قيل لها الشيعة، لأنها شيعت عليا رضى الله عنه وفضلوه على سائر الصحابة.

    وقيل لها الرافضة لرفضهم أكثر الصحابة وإمامة أبى بكر وعمر رضى الله عنهما.

    وقيل سموا الروافض لرفضهم زيد بن على لما تولى أبا بكر وعمر رضى الله عنهما وقال بإمامتهما، وقال زيد : رفضونى، سموا رافضة.

    وقيل إن الشيعى من لا يفضل عثمان على على رضى الله عنهما، لأن الرافضى من فضل عليا على عثمان رضى الله عنهما.

    ومنهم القطعية لقبوا به لقطعهم على موت موسى بن جعفر منهم الغالية سموا بذلك لغلوهم فى على رضى الله عنه، وقولهم فيه ما لا يليق به م صفات الربوبية والنبوة.

    والذين صنفوا كتبهم: هشام بن الحكم، وعلى بن منصور، وأبو الأحوص، والحسين بن سعيد والفضل بن شاذان وأبوا عيسى الوراق وابن الراوندى والمنجى.

    وأكثر ما يكونون فى بلاد قم وقاشان وبلاد إدريس والكوفة.

    • (فصل) فأما الرافضة، فهم ثلاث أصناف: الغالية، والزيدية، والرافضة.
    • أما الغالية فيتفرق منها اثنتا عشرة فرقة :

    منها البيانية والطيارية، والمنصورية، والمغيرية، والخطابية، والمعمرية، والبزيعية، والمفضلية، والمتناسخة، والشريعية، والسبئية، والمفوضة.

    • وأما الزيدية فتشعبت ست شعب :

    منها الجارودية، والسليمانية، والبترية، والنعيمية، واليعقوببة، والسادسة لا تنكر الرجعة ويتبرؤون من أبى بكر وعمر رضى الله عنهما.

    • وأما الرافضة فتفرقت أربع عشرة فرقة :

    القطعية، والكريبية، والعميرية، والمحمدية، والحسينية، والناوسية، والإسماعيلية، والقرامطة، والمباركية، والشميطية، والعمارية، والممطورية، والموسوية، والإمامية.

    والذى اتفقت علىه طوائف الرافضة وفرقها، إثبات الإمامة عقلا وأن الإمامة نص، وأن الأئمة معصومون من الآفات من الغلط والسهو والخطأ.

    ومن ذلك إنكارهم إمامة المفضول والاختيار الذى قدمناه فى الذكر الأئمة.

    ومن ذلك تفضيلهم عليا رضى الله عنه على جميع الصحابة وتنصيصهم على إمامته بعد النبى صل الله عليه وسلم، وتبرؤهم من أبى بكر وعمر رضى الله عنهما وغيرهما من الصحابة إلا نفرا منهم سوى ما حكى عن الزيدية، فإنهم خالفوهم فى ذلك.

    ومن ذلك أيضا ادعاؤهم أن الأمة ارتدت بتركهم إمامة على رضى الله عنه إلا ستة نفر.

    وهم على وعمار والمقداد بن الأسود وسلمان الفارسى ورجلان آخران.

    ومن ذلك قولهم : إن للإمام أن يقول لست بإمام فى حال التقية.

    وإن الله تعالى  لا يعلم  ما يكون قبل أن يكون، وإن الأموات يرجعون إلى الدنيا قبل يوم الحساب.

    إلا الغالية منهم، فإنها زعمت بأن لا حساب ولا حشر.

    ومن ذلك قولهم : أن الإمام يعلم كل شيئ ما كان وما يكون من أمر الدنيا والدين حتى عدد الحصى وقطر الأمطار وورق الشجر، وأن الأئمة تظهر على أيديهم المعجزات كالأنبياء عليهم السلام.

    وقال الأكثرون  منهم : إن من حارب عليا رضى الله عنه فهو كافر بالله عز وجل، وأشياء ذكروها غير ذلك.

    • وأما الذى انفردت به كل فرقة :

    فمنهم الغالية: وقد ادعت أن عليا رضى الله عنه أفضل من الأنبياء صلوات الله عليهم أجمعين.

    وادعت أنه ليس بمدفون فى التراب كبقية الصحابة رضى الله عنهم، بل هو فى السحاب يقاتل أعداءه تعالى من فوق السحاب، وأنه كرم الله وجه يرجع فى آخر الزمان يقتل مبغضية وأعداءه، وأن عليا وسائر الأئمة لم يموتوا، بل هم باقون إلى أن تقوم الساعة، ةلا يجوز عليهم الموت.

    وادعت أيضا أم عليا رضى الله عنه نبى وأن جبريل عليه السلام غلط فى نزول الوحى عليه.

    وادعت أيضا أن عليا كان إلها – عليهم لعنة الله وملائكته وسائر خلقه إلى يوم الدين، وقلع آثارهم وأباد خضراءهم، ولا جعل منهم فى الأرض ديارا-.

    لأنهم بالغوا فى غلوهم ومردوا على الكفر، وتركوا الإسلام وفارقوا الإيمان، وجحدوا الإله والرسل والتنزيل، فنعوذ بالله ممن ذهب إلى هذه المقالة.

    ويتفرع عن الغالية:

    • البيانية: وهم ينسبون إلى بيان بن سمعان.

    ومن جملة فريتهم وأباطيلهم أن الله على صورة الإنسان. كذبوا على الله، تعالى الله عن ذلك علواً كبيراً، قال عز وجل: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ ﴿الشورى:١١﴾.

    • و أما الطيارية:من الغالية، وهو منسوبة إلى عبد الله بن معاوية بن عبد الله بن جعفر الطيار يقولون بالتناسخ، وأن روح آدم عليه سلام روح الله نسخت فيه.

    والمتعمقون من الغالية القائلون بالتناسخ يزعمون أن الروح المنقولة إلى هذه الدار بعد أن خرجت من الدنيا بالموت أول ما تنسح في حمل، ثم تنقل إلى ما دون هيكله أبداً حالاً بعد حال، إلى أن تنقل إلى دود العذرة وما شكل ذلك، وهو آخر ما ينسخ فيه. 

    حتى قال بعضهم: إن أرواح العصاة تنسخ في الحديد والطين والفخار، وتكون معذبة بالنار والطبخ والضرب والسبك والإبتذال والامتهان عقباً على إجرامهم. 

    • وأما المغيرية: فمنسوبة إلى مغيرة بن سعيد، ادعى النبوة، وزعم أن الله نور على صورة رجل، وادعى احياء الموتى وغير ذلك.
    • وأما المنصورية: فمنسوبة إلى أبى منصور، كان يزعم أنه صعد إلى السماء، ومسح الرب رأسه، وزعم أن عيسى عليه السلام أول خلق الله، ثم على رضى الله عنه، ورسل الله لا تنقطع، وأن لا جنة ولا نار، وتزعم هذه الطائفة أن من قتل أربعين نفساً ممن خلفهم دخل جنة، ويستحلون أموال الناس، وأن جبريل عليه السلام أخطأ بالرسالة، وهو الكفر الذى لا يشوبه شيئ.
    • وأما الخطابية: فمنسوبة إلى أبى الخطاب، يزعمون أن الأئمة أنبياء أمناء، وفي كل وقت رسول ناطق وصامت فمحمد ناطق وعلى رضي الله عنه صامت.
    • وأما المعمرية: فكذلك تقول، وانفردت عن الخطابية بالزيادة في ترك الصلاة.
    • وأما البزيعية: المنسوبة إلى بزيع، زعموا أن جعفراً هو الله فلا يرى ولكن شبه هذه الصورة، تباً لهم ما أعظم فريتهم وكذبهم وأباطيلهم، بل يحطون إلى أسفل السافلين، إلى الهاوية والدرك الأسفل من النار بمقالتهم السوء ودعواهم الزور.
    • وأما المفضلية: فمنسوبة إلى المفضل الصيرفى، ينتحلون الرسالة والنبوة، وقولهم في الأئمة،كقول النصارى في المسيح.
    • وأما الشريعية: فمنسوبة إلى شريع،زعموا أن الله تعالى في خمسة أشخاص النبى وآله، يعنى في النبى وآله وهم: العباس وعلى وجعفر وعقيل.
    • وأما السبئية: فمنسوبة إلى عبد الله بن سبأ، من دعواهم أن علياً لم يمت، وأنه يرجع قبل يوم القيامة، والسيد الحميرى منهم.
    • وأما المفوضية: فهم القائلونإن الله فوض تدبير الخلق إلى الأئمة، وإن الله تعالى  قد أقدر النبى صل الله عليه وسلم على الخلق العالم وتدبيره، وإن كان ما خلق الله من ذلك شيأً، وكذلك قالوا في حق على رضي الله عنه فيه، على ما بيناً من قبل.
    • وأما الزيدية: فإنما سموا بذلك لميلهم إلى قول زيد بن على في تولية أبى بكر وعمر رضى الله عنهما.
    • وأما الجارودية: فمنسوبة إلى أبى الجارود، زعموا أن علياً رضى الله عنه وصى رسول الله صل الله عليه وسلم وهو الإمام.

    وقالوا إن النبى صلى الله عليه وسلم نص على عليّ رضي الله عنه ببصفته لا باسمه، ويسوقون الإمامة إلى الحسين، ثم هى شورى بينهم فيمن خرج منهم.

    • وأما السليمانية: فمنسوبة إلى سليمان بن كثير، قال زرقان: زعموا أن علياً كرم الله وجهه كان الإمام، وأن بيعة أبى بكر وعمر رضى الله عنهما خطأ، لا يستحقان اسم السبق، وأن الأمة تركت الأصلح.
    • وأما البترية: فمنسوبة إلى الأبتر وهو النواء، وكان يلقب به وزعموا أن بيعة أبى بكر وعمر رضى الله عنهما ليست بخطأ، لأن علياً رضى الله عنه ترك الإمارة لهما، وهم واقفون في عثمان، ويقولون علىّ إمام حين بويع.
    • وأما النعيمية: فمنسوبة إلى نعيم بن اليمان، وهو تقول بقول الأبترية، إلا أنها تبرأت من عثمان بن عفان رضي الله عنه وكفرت به.
    • وأما اليعقوبية: فيقولون: (بإمامة أبى بكر وعمر رضى الله عنهما إلا أنهم يقولون بتفضيل على عليهما) وينكرون الرجعة، فهى تنسب إلى رجل يقل له يعقوب.
      ومنهم من تبرأ من أبى بكر وعمر رضى الله عنهما ويقولون بالرجعة.


    • (فصل) وأما الرافضة، فالأربع عشرة فرقة التى تفرعت عنها:
    • أولها: القطعية: سموا بذلك لقطعهم على موت موسى بن جعفر، ساقوا الإمامة إلى محمد بن الحنفية، وهو القائم المنتظر.
    • والثانية: الكيسانية: وهى منسوبة إلى كيسان، يقولون بإمامة محمد بن الحنفية، لأنه دفع إليه الراية بالبصرة.
    • والثالثة: الكريبية: وهم أصحاب ابن كريب الضرير.
    • والرابعة: العميرية: وهم أصحاب عمير وهو إمامهم إلى خروج المهدى.
    • والخامسة: المحمدية: وقد زعمت أن القائم محمد بن عبد الله بن الحسن بن الحسين، وأنه أوصى إلى أبى منصور دون بنى هاشم، كما أوصى موسى عليه السلام إلى سوشع بن نون دون ولده وولد هارون.
    • وأما السادسة: فالحسينية: زعمت أن أبا منصور أوصى إلى ولده الحسين بن أبى منصور وهو الإمام بعده.
    • وأما الناوسية: فلقبوا به لأنهم نسبوا إلى ناوس البصرى.
    • وأما الإسماعيلية: فقد قالوا إن جعفراً ميت والإمام بعده إسماعيل، وقالوا إنه يملك، وهو المنتظر عندهم.
    • وأما القرامطة: فهم يسوقون الإمامة إلى جعفر، وأن جعفراً نص على وارثة محمد ابن إسمعيل مات، وأن الإمامة في ولده.
    • وأما المباركية: فمنسوبة إلى إلى رئيسهم المبارك، زعموا أن محمد بن إسماعيل مات، وأن الإمامة في ولده.
    • وأما الشمطية: فمنسوبة إلى رئيسهم يقال له يحيى بن شميط، زعموا أن الإمام جعفر ثم محمد بن جعفر ثم في ولده.
    • وأن المعمرية: ويقال لهم الأفطحية، لأن عبد الله بن جعفر كان أفطح الرجلين، يقولون إن الإمام بعد جعفر ابنهعبد الله وهم عدد كثير.
    • وأما الممطورية: فسموا بذلك لأنهم نظروا يونس بن عبد الرحمن وهو من القطعية الذي يقطعون على موت موسىبن جعفر، فقال لهم يونس: أنتم أهون من الكلاب الممطورة، فلزمهم هذا اللقب، ويسمون الواقفة، لوقوفهم على موسى بن جعفر، وقولهم هو حى لم يمت، ولا يموت، وهو المهدى عندهم.
    • أما الموسوية: فيسوقون الإمامة إلى محمد بن الحسن، وأنه القائم المنتظر الذى يظهر فيملأ الأرض عدلا كما ملئت جوراً.
    • وأما الزرارية: فهم أصحاب زرارة، ادعى ما ادعت العمارية، وقيل إنه ترك مقالتها وأنه سأل عبد الله بن جعفر عن مسائل ولم يعلمها فصار إلى موسى بن جعفر.

    فقد شبهت مذاهب الروافض باليهودية؛ قال الشعبى: محبة الروافض محبة اليهود، قالت اليهود: لا تصلح الإمامة إلا لرجل من آل داود، وقالت الرافضة: لا تصلح الإمامة إلا لرجل من ولد على بن أبى طالب؛ وقالت اليهود: لا جهاد في سبيل الله حتى يخرج المسيح الدجال، وينزل بسبب من السماء، وقالت الروافض: لا جهاد في سبيل الله حتى يخرج المهدى وينادى مناد من السماء، وتؤخر اليهود صلاة المغربحتى تشتبك النجوم، وكذلك الروافض يؤخرونها؛ واليهود تزول عن القبلة شيئًا، وكذلك الرافضة؛ واليهود تنور في الصلاة، وكذلك الرافضة؛ واليهود تسدل أبوابها في الصلاة، وكذلك الروافض؛ واليهود تستحل دم المسلم، وكذلك الروافض؛ واليهود لا ترى على نساء عدة، وكذلك الرافضة واليهود لا ترى في الطلاق ثلاث شيئاً، وكذلك الروافض؛ واليهود حرفت التوراة، وكذلك الرافضة حرّفوا القرآن؛ لأنهم قالوا القرآن غيّر وبدل، وخلف بين نظمه وترتيبه، وأحيل عما أنزل عليه، وقرىء على وجوه غير ثابتة عن الرسول صلى الله عليه وسلم، وأنه نقص منه وزيد فيه؛ واليهود يبغضون جبريل عليه السلام ويقولون هو عدوّنا من الملائكة، وكذلك صنف من الروافض يقولون غلط جبريل عليه السلام بالوحى إلى محمد صلى الله عليه وسلم، وإنما بعث إلى علىّ رضى الله عنه، كذبوا تباً لهم إلى آخر الدهر.

    •  (فصل) وأما المرجئة ففرقها اثنتا عشرة فرقة:

    الجهمية، والصالحية، والشمرية، واليونسية، واليونانية، والنجارية، والغيلانية، والشبيبية، والغسانية، والمعاذية، والمريسية، والكرامية.

    وإنما سموا المررجئة لأنها زعمت أن الواحد من المكلفين إذ قال لا إله إلا الله محمد رسول الله وفعل بعد ذلك سائر المعاصى لم يدخل النار أصلاً.

    وأن الإيمان قول بلا عمل، والأعمال الشرائع، والإيمان قول مجرد، والناس لا يتفاضلون في الإيمان، وأن إيمانهم وإيمان الملائكة والأنبياء واحد لا يزيد ولا ينقص ولا يستثنى فيه، فمن أقر بلسانه ولم يعمل فهو مؤمن.

    (فصل):

    ·   وأما الجهمية: فمنسوبة إلى جهم بن صفوان، وكان يقول: الإيمان هو المعرفة بالله ورسوله وجميع ما جاء من عنده فقط.

    ويزعمون أن القرآن مخلوق، وأن الله تعالى لم يكلم موسى، وأنه تعالى لم يتكلم ولا يرى ولايعرف له مكان

    ·   وأما الصالحية: فإنما سميت بذلك لقوله بمذهب أبى الحسين الصالحى.

    وكان يقول: الإيمان هو المعرفة، والكفر هو الجهل، وإن قول من قال ثالث ثلاثة ليس بكفر وإن كان لا يظهر إلا ممن كان كافراً، وأن لا عبادة إلا الإيمان.

    ·   وأما اليونسية: فمن سوبة إلى يونس البرى، زعم أن الإيمان هو المعرفة والخضوع والمحبة والإقرار بأنه واحد “لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ ﴿الشورى:١١﴾ وذلك باجتماعه إيماناً.

    وقال أبو شمر: لا أسمى من ركب الكبيرة فاسقاً على الإطلاق دون أن أقول فاسق فى كذا وكذا.

    ·   وأما اليونانية: فمنسوبة إلى يونان، زعموا أن الإيمان هو الإيمان والإقرار بالله ورسله، وما يجوز فى العقل إلا أن يعفله.

    ·   وأما النجارية: فمنسوبة إلى الحسين بن محمد النجار.

    يقولون: إن الإيمان هو المعرفة بالله زبرسله، وفرائضه المجتمع عليها، والخضوع له والإقرار باللسان، فمتى جهل منه شيأً وقامت عليه الحجة ولم يقر به كان كافراً.

    ·   وأما الغيلانية: فمنسوبة إلى غيلان، وافقوا الشمرية و زعموا ان العلم بحدوث الأشياء ضرورى، والعلم بالتوحيد باللسان.

    وفى حكاية زرقان أن غيلان يقول: بأن الإيمان هو الإقرار باللسان وهو التصديق.

    ·   وأما البيبية: فهم أصحاب محمد بن شبيب.

    زعموا أن الإيمان هو الإقرار بالله والمعرفة بوحدانية ونفى التشبيه عنه.

    وزعم محمد أن الإيمان كان فى إبليس، وإنما كفر لاستكباره.

    ·   وأما الغسانية: فهم أصحاب غسان الكوفى، زعم أن الإيمان هو المعرفة والإقرار بالله ورسوله وبما جاء من عنده جملة على ما ذكره البُرْهُوْتى فى كتاب الشجرة.

    ·   وأما المعاذية: فمنسوبة إلى معاذ الموصى، كان يقول: من ترك طاعة الله يقول له إنه فسق، ولا يقال فاسق، والفاسق ليس بعدو لله ولا ولى.

    ·   وأما المريسية: فمنسوبة إلى بشر المريسى، يزعمون أن الإيمان هو التصديق، وأن التصديق يكون بالقلب واللسان وإلى هذا كان يذهب ابن الراوندى.

    وزعم أيضا أن السجود للشمس ليس بكفر ولكنه أمارة الكفر.

    (فصل):

    ·   وأما الكرامية: فمنسوبة إلىأبى عبدالله محمد بن كرام، زعموا أن الإيمان هو الإقرار باللسان دون القلب، وأن المنافقين كانوا مؤمنين في الحقيقة.

    ومن قولهم إن الإستطاعة تتقدم الفعل مع وجود كونها مقارنة له، بخلاف ما قال أهل السنة من أنها مع الفعل، ولا يجوز أن تتقدمه من غير شرط.

    ومؤلفهم كتبهم: ابو الحسين الصالحى، وابن الراوندى، ومحمد بن شبيب، والحسين ابن محمد النجار.

    وأكثر ما يكون مذهبهم بالمشرق ونواحى خراسان.

    § (فصل) في ذكر مقالة المعتزلة و القدرية.

    و إنما سموا المعتزلة لاعتزالهم الحق، و قيل لاعتزالهم أقاويل المسلمين، لأن الناس كانوا مختلفين في مرتكب الكبيرة.

    فقال  بعضهم: هم مؤمنون بما معهم من الإيمان، و قال بعضهم: هم كافرون، فأحدث واصل بن عطاء قولاً ثالثاً و فارق المسلمين واعتزل المؤمنين فقال: ما هم بمؤمنين و لا كافرين فسموا بذلك المعتزلة.

    و قيل: إنما سموا بذلك، لاعتزال مجلس الحسن البصرى رحمه الله، فمر الحسن بهم و قال: هؤلاء معتزلة فلقبوا بذلك.

    و هم يقتدون بعمرو بن عبيد، و لما غضب الحسن البصرى على عمرو بن عبيد عوتب في ذلك، فقال: أتعاتبوننى في رجل رأيته يسجد للشمس من دون الله في المقام؟.

    و سموا أيضاً قدرية لردهم قضاء الله عز و جل و قدره في معاصى العباد، و إتيانهم بها بأنفسهم.

    و مذهب المعتزلة و الجهمية و القدرية في نفى الصفات واحد، و قد ذكرنا بعض مذاهبهم في الاعتقاد.

    و مؤلفو كتبهم: أبو الهذيل، و جعفر بن حرب، و الخياط، و الكعبى، و أبو هاشم، و أبو عبد الله البصرى، و عبد الجبار بن أحمد الهمدانى.

    و أكثر ما يكون مذهبهم بالعسكر و الأهواز و جهرم.

    و هم ست فرق: الهذلية، و النظامية، و المعمرية، و الجبائية، و الكعبية، و البهشمية.

    و الذي اجتمعت علىه فرق المعتزلة نفى الصفات جميعها.

    فنفت أن يكون له عز و جل علم و قدرة و حياة و سمع و بصر.

    و كذلك نفى الصفات المثبة بالسمع، من الاستواء و النزول و غير ذلك.

    و اجتمعت أيضاً على أن كلام الله محدث، و إرادته محدثة، و أنه تعالى تكلم بكلام خلقه في غيره، و يريد بإرادة محدثة، لا في محل، و أنه تعالى يريد خلاف معلومه، و يريد من عباده ما لا يكون، و يكون ما لا يريد، و أنه لعالى لا يقدر على مقدورات غيره، بل يستحيل ذلك.

    و أنه لم يخلق أفعال عبيده، بل هم الخالقون لها دون ربهم.

    و إن أكثر ما يتغذاه الإنسان لم يرزقه الله إذا كان حراماً، و إنما الذي يرزق الله الحلال دون الحرام، و أن الإنسان قد يقتل دون أجله، و القاتل يقطع أجله قبل حينه.

    و أن من ارتكب كبيرة من الموحدين و إن لم يكن كفراً فإنه يخرج بها من إيمانه، و يخلد في النار أبد الآبدين، و تبطل جميع حسناته.

    و أبطلوا شفاعة النبى صلى الله علىه و سلم لأهل الكبائر، و أكثرهم نفوا عذاب القبر و الميزان، و رأوا الخروج على السلطان و ترك طاعته.

    و أنكروا انتفاع الميت بدعاء الحى له و الصدقة عنه و وصول ثوابها إلىه.

    و زعمت أيضاً أن الله سبحانه لم يكلم آدم و نوحاً و إبراهيم و موسى و عيسى و محمداًصلوات الله علىهم أجمعين، و لا جبريل و لا ميكائيل و لا إسرافيل و لا حملة العرش و لا ينظر إلىهم، مثل ما لا يكلم إبليس و اليهود و النصارى.

    و أما الذي انفردت به كل فرقة منها:

    o أما الهذيلية: فقد انفرد شيخهم أبو الهذيل بأن الله علماً و قدرة و سمعاً و بصراً، و أن كلام الله بعضه مخلوق و بعضه غير مخلوق، وهو قوله تعالى: (كن) [البقرة: 117، و آل عمران: 47، 59، و الأنعام: 73، و النحل: 40، و مريم: 35، و يس: 82، و غافر: 68].

    و قال: إن الله تعالى ليس بخلاف خلقه، و أن مقدور الله متناه فيبقى أهل الجنة لا حركة لهم، و الله تعالى لا يقدر على تحريكهم و لا هم يقدرون على ذلك.

    و يجوز أن يكون الميت و المعدوم و العاجز يفعل الأفعال، و أبى أن يكون الله تعالى لم يزل سميعاً.

    o و أما النظامية: فكان شيخهم النظام يقول: إن الجمادات تفعل بإيجاب الخلقة.

    و كان ينفى الأعراض إلا الحركة الاعتمادية، و يقول: إن الإنسان هو الروح، و إن أحداً لم ير النبى صلى الله علىه و سلم، و إنما رأى ظرفه يعنى جسمه.

    و خرق الإجماع فقال: من ترك الصلاة عامداً ذاكراً فلا إعادة علىه.

    و كان ينفى إجماع الأمة، و يجوز اجتماعها على باطل، و يقول: إن الإيمان مثل الكافر، و الطاعة كالمعصية و فعل النبي صلى الله علىه و سلم كفعل إبليس اللعين و أن سيرة عمر و على رضى الله عنهما كسيرة الحجاج.

    و إنما التزم ذلك و ركبه لأنه كان يقول إن الحيوان كله جنس واحد.

    و زعم أن القرآن ليس ومعجز في نظمه، و أن الله تعالى ليس بقادر على تحريق الطفل و لو كان على شفير جهنم و لا على طرحه فيها.

    وهو أول من قال بالكفر من أهل القبلة، و كان يقول: إن الجسم يتجزأ إلى ما لا غاية له.

    و كان يقول: إن الحيات و العقارب و الخنافس في الجنة، و كذلك الكلاب و الخنازير في الجنة.

    o و أما المعمرية: فكان شيخهم معمريقول بقول أهل الطبائع و يتجاوز و يزعم أن الله تعالى لم يخلق لوناً و لا طعاماً و لا رائحة و لا موتاً و لاحياة، و لأن ذلك كله فعل الجسم بطبعه.

    و كان يقول إن القرآن فعل الأجسام، و ليس هو بفعل الله تعالى.

    و أنكر أن يكون الله تعالى قديماً – تباً له و أبعده الله تعالى مع هذه المقالة

    o و أما الجبائية: فكان شيخهم الجبائى، خرق الإجماع و شذ عنه في أشياءمنها:

    أنه كان يقول: إن العباد خالقون لأفعالهم و لم يسبقه إلى هذه المقالة أحد.

    و كان يقول: إن الله مطيع لعباده إذا فعل ما أراده.

    وقال من حلف أن يعطى غريمه حقه غداً و استثنى في ذلك بقول إن شاء الله لم ينفعه الاستثناء، و إذا لم يعط حنث.

    و كان يقول إن من سرق خمسة دراهم كان فاسقاً، و إن نقصت منه حبة لم يفسق.

    o و أما البهشمية: فمنسوبة إلى أبى القاسم الكعبى و كان بغدادى المذهب.

    فأنكر أن يكون الله سميعاً بصيراً، و أن يكون مريداً بالحقيقة، و أن إرادة الله تعالى من فعل عباده هي الأمر به، و إرادته من فعل نفسه فعله، و زعم أن العالَم كله ملأ،و أن المتحرك إنما هو الصحفةالأولى من الأجسام، و أن الإنسان لو تدهن بدهن ومشى لم يكن المتحرك، و إنما الدهن هم المتحرك.

    و كان يقول: إن القرآن محدث و لا يقول مخلوق.

    § (فصل) في ذكر مقالة المشبهة، فهم ثلاث فرق:الهشامية، و المقاتلية، و الواسمية.

    و الذي انفقت علىه الفرق الثلاث إن الله جسم، و أنه لا يجوز أن يعقل الموجود إلا جسماً، و الذي غلب علىهم التشبيه فرق الروافض و الكرامية.

    و الذي ألف كتبهم: هشام بن الحكم، و له كتاب في إثبات الجسم.

    o أما الهاشمية: فمنسوبة إلى هشام بن الحكم زعم أن الله تعالى جسم طويل عريض عميق نور ساطع له قدر من الأقدار كالسبيكة الصافية يتحرك و يسكن و يقوم و يقعد.

    و حكى عنه أنه قال: أحسن الأقدار أن يكون سبعة أشبار، و قيل له: ربك أعظم أم أحد؟ فقال رب أعظم.

    o و أما المقاتلية: فمنسوبة إلى مقاتل بن سليمان حكى عنه أنه قال: إن الله تعالى جسم، و إنه جثة على صورة الإنسان لحم و دم و له جوارح و أعضاء من رأس و لسان و عنق.

    و إنه في جميع ذلك لا يشبه الأشياء، و الأشياء لا تشبهه.

    § (فضل) في ذكر مقالة الجهمية:

    تفرد جهم بن صفوان بأن الإنسان إنما ينسب إلىه ما يظهر منه على المجاز لا على الحقيقة، كما يقال: طالت النخلة و أدركت الثمرة.

    و كان يأبى أن يقول: (إن الله شيء و يقول يحدث علم الله و يمتنع أن يقول)، إن الله  كان عالماً بالأشياء قبل كونها، و يقول: إن الجنة و النار تفنيان و ينفى الصفات.

    و كان مذهب جهم بترمذ وهو بلد، و قيل بمرو، و له تآليف في نفى الصفات، قتله مسلم بن أحور المازنى.

    o و أما الضرارية: فمنسوبة إلى ضرار بن عمرو، و كان يقول ضرار إن الأجسام أعراض مجتمعة، و جوز أن تنقلب الأعراض أجساماً، و أن الاستطاعة بعض المستطيع وهي قبل الفعل و مع الفعل، و أنكر قراءة ابن مسعود و أبى بن كعب رضى الله عنه.

    o و أما النجارية: فهي منسوبة إلى الحسين بن محمد النجار كان يثبت فعل الفاعلين بالحقيقة لله و للعبد.

    و كان يقول بنفى الصفات، و قال بقول المعتزلة في نفى الصفات، إلا في نفى الإرادة، فإنه أثبت أن القديم مريد لنفسه.

    و كان يقول بخلق القرآن، و يقول إن الله مريد على معنى أنه ليس بمقهور و لا مغلوب، و إن الله متكلم بمعنى أنه ليس بعاجز عن الكلام، و أنه لم يزل جواداً بمعنى نفى البخل عنه.

    و مذهبه موافق لمذهب ابن عون و ابن يوسف الرازى، و أكثر ما يكون مذهبه بقاشان.

    o و أما الكلابية: فمنسوبة إلى عبد الله بن كلاب، و كان يقول صفات الله ليست بقديمة و لا محدثة و كان يقول: لا أقول صفاته هي هو، و لا هي غيره، و إن معنى الاستواء نفى الاعوجاج في قوله تعالى: (الرحمن على العرش استوى) [طه: 5] و إن الله لم يزل على ما كان علىه من قبل و أن لا مكان له، و نفى أن يكون القرآن حروفاً.

    § (فصل) في ذكر مقالة السالمية: و هم منسوبة إلى أبن سالم.

    من قولهم إن الله سبحانه يرى يوم القيامة في صورة آدمى محمدى، و إنه عز و جل يتجلى لسائر الخلق يوم القيامة من الجن و الإنس و الملائكة و الحيوان أجمع لكل واحد في معناه، و في كتاب الله تكذيبهم، وهو في قوله عز و جل: (ليس كمثله شيء وهو السميع البصير) [الشورى: 11]

    و من قولهم إن الله تعالى سراً لو أظهره لبطل التدبير،و للأنبياء سراً لو أظهروه لبطلت النبوة، و للعلماء سراً لو أظهروه لبطل العلم.

    وهذا فاسد، لأن الله تعالى حكيم و تدبيره محكم لا يطرق نحوه بطلان و الفساد، و ما ذكروه يؤدى إلى إبطال حكمته تعالى و هذا كفر.

    و من قولهم إن الكفار يرون الله تعالى في الآخرة و يحاسبهم.

    و من قولهم إن إبليس سجد لآدم في الثانية، و في القرآن تكذيبهم، وهو قول الله عزّ و جلّ: (إلا إبليس أبى و أستكبر و كان من الكافرين) [البقرة: 34]، و قوله تعالى: (إلا إبليس لم يكن من الساجدين) [الأعراف: 11].

    و من قولهم: إن إبليس ما دخل الجنة، و في القرآن تكذيبهم، وهو قوله تعالى: (فاخرج منها فإنك رجيم) [الحجر: 24، و ص: 77].

    و من قولهم إن الله تعالى لما كلم موسى علىه السلام أعجب موسى بنفسه، فأوحى الله إلىه يا موسى أتعجبك نفسك، مد عينيك، فمد موسى عىنىه فنظر فإذا مائة طور، على كل طور موسى.

    و هذا منكر عند أهل النقل و أصحاب الحديث، و قد أوعد النبى صلى الله علىه وسلم من كذب علىه فقال: “من كذب علىَّ متعمداً فليتبوأ مقعده من النار”.

    و من قولهم إن الله تعالى يريد من العباد الطاعات و لا يريد منهم المعاصى، و إنه عز و جل أرادها بهم لا منهم.

    و هذا باطل منهم، لأن الله تعالى قال: (و من يريد الله فتنته فلن تملك له من الله شيئاً) [المائدة: 41] يعنى كفره، و قال الله تعالى: (و لو شاء ربك ما فعلوه) [الأنعام: 112]، (ولو شاء الله ما فعلوه) [الأنعام: 137]، و قال تعالى: (و لو شاء الله ما اقتتلوا) [البقرة: 253].

    و من قولهم إن النبى صلى الله علىه و سلم كان يحفظ القرآن قبل النبوة و قبل أن يأتيه جبريل علىه السلام.

    و في القرآن تكذيبهم، وهو قوله تعالى: (ما كنت تدرى ما الكتاب و لا الايمان) [الشورى: 52]، و قوله تعالى: (و ما كنت تتلو من قبله من كتاب و لا تخطه بيمينك) [العنكبوت: 48].

    و من قولهم: إن الله تعالى يقرأ على لسان كل قارئ، و إنهم إذا سمعوا القرآن من قارئ فإنما يسمعونه من الله.

    و هذا القول يفضى إلى الحلول، نعوذ بالله من ذلك، و يؤدى إلى أن الله تعالى يلحن و يغلط، وهذا كفر.

    و من قولهم: إن الله تعالى في كل مكان، و لا فرق بين العرش و غيره من الأمكنة. (الغنية لطالبي طريق الحق، ص 175-192).

    Citation

    Santri Pondok Pesantren demo: „Toleransi dalam Pluralitas Agama“,Version 1.0. In: OES demo. Published by Pondok Pesantren demo, Pasuruan, Indonesia,