hacklink hack forum hacklink film izle hacklink Dubai online casinosonline casinos Nederlandmadritbetสล็อตเว็บตรงBetAndreas AzərbaycanjojobetromabetnakitbahisBetsalvadorenbetcasinolevant

Search the OES Encyclopedia

Article Tasawuf dan Etika

Tasawuf dan Etika

Definisi Sufi yang Dikemukakan oleh Para Ulama’

  1. Menurut Imam Junaidi al-Baghdady

وَقَالَ جُنَيْدِيْ: اَلصُّوْفِيْ كَالأَرْضِ يُطْرَحُ عَلَيْهَا كُلُّ قَبِيْحٍ وَلاَ يَخْرُجُ مِنْهَا إِلاَّ كُلُّ مَلِيْحٍ قَالَ أَيْضًا: اَلصُّوْفِى كَالأَرْضِ يَطَئُوْهَا الْبِرُّ وَالْفَاجِرُ وَكَالسَّمَاءِ وَكَالسَّحَابِ تُظِلُّ كُلَّ شَيْءٍ وَكَالْمَطَارِ يُسْقِى كُلَّ شَيْءٍ (نشأة التصوف وتصريف الصوفي، ص 22)

Seorang sufi itu bagaikan bumi yang bila dilempari keburukan maka ia akan selalu membalasnya dengan kebaikan. Seorang sufi itu bagaikan bumi yang mana di atasnya berjalan segala sesuatu yang baik maupun yang buruk (semua diterimanya). Seorang sufi juga bagaikan langit atau mendung yang menaungi semua yang ada di bawahnya, dan  seperti air hujan yang menyirami segala sesuatu tanpa memilah dan memilih, [yang baik maupun yang buruk semuanya diayominya]. (Nasyatu at-Tashawuf Wa Tashrifu as-Shufi, hal. 22)

  • Dan menurut Aba Bakar al-Syibly dalam Hilyah al-Auliya’, hal. 11:

قَالَ أَبُو بَكْرٍ الشِّبْلِيْ: اَلصُّوْفِيْ مَنْ صَفاَ قَلْبَهُ فَصَفَى، وَسَلَكَ طَرِيْقَ اْلمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَمَى الدُّنْيَا خَلْفَ اْلقَفَا، وَأَذَاقَ اْلهَوَى طَعْمَ اْلجَفَا (حلية الأولياء، ص 11)

“Orang sufi itu adalah seseorang yang membersihkan hatinya maka bersihlah hatinya, dan mengikuti jalannya Nabi al-Musthafa Saw. Serta tidak terlalu memikirkan perkara duniawi (lebih mementingkan masalah ukhrowi), dan menghilangkan keinginan hawa nafsunya. (Hilyah al-Auliya’, hal. 11)

  • Aba Hammam Abd. Rahman bin Mujib as-Shufi berpendapat:

سَمِعْتُ أَبَا هَمَّامٍ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنِ مُجِيْبٍ الصُّوْفِي وَسُئِلَ عَنِ الصُّوْفِيْ فَقَالَ: لِنَفْسِهِ ذَابِحٌ، وَلِهَوَاهُ فَاضِحٌ، وَلِعَدُوِّهِ جَارِحٌ، وَلِلْخَلْقِ نَاصِحٌ. دَائِمِ اْلوَجَلِ، يَحْكُمُ اْلعَمَلَ، وَيَبْعَدُ اْلأَمَلَ وَيَسُّدُّ اْلخِلَلَ، ويَغْضَى عَلىَ الزَّلَلِ، عُذْرُهُ بِضَاعَةٌ، وَحَزْنُهُ صَنَاعَةٌ وَعَيْشُهُ قَنَاعَةٌ، بِالْحَقِّ عَارِفٌ وَعَلىَ الْبَابِ عَاكِفٌ وَعَنِ الْكُلِّ عَازِفٌ (حلية الأولياء، ص 11)

Ciri-ciri orang sufi itu adalah sebagai berikut:

  1. Seseorang yang merasa dirinya hina
  2. Menahan dan memerangi hawa nafsunya
  3. Memberi nasehat kepada mahluk
  4. Selalu mendekatkan diri kepada Allah
  5. Berperilaku bijaksana
  6. Menjauhi berandai-andai (berangan-angan terlalu tinggi dalam hal duniawi)
  7. Tidak mau mencela
  8. Mencegah perbuatan dosa
  9. Waktu luangnya digunakan untuk beribadah
  10. Susahnya sengaja di buat-buat (karena memang seorang sufi itu terhindar dari berbagai macam kesedihan dan kesusahan duniawiyah)
  11. Hidupnya sederhana
  12. Arif terhadap sesuatu yang benar
  13. Mengasingkan diri dan mencegah dari segala sesuatu yang sia-sia.

Ciri-ciri Kepribadian dan Perilaku Seorang Sufi

Menurut Imam Qusyairi dalam kitabnya Risalah al-Qusyairiyah hal. 126-127 ciri-ciri kepribadian dan perilaku seorang sufi dibagi menjadi dua yaitu:

  1. Seorang sufi as-Shadiq merasa miskin setelah memperoleh kekayaan, merasa hina setelah mendapatkan kemulyaan, dan menyamarkan dirinya setelah terkenal.
  2. Seorang sufi as-Kadzib merasa kaya akan harta sesudah faqir, merasa mulia setelah hina, merasa terkenal yang mana sebelumnya dia tidak masyhur.

عَلاَمَةُ الصُّوْفِيّ الصَّادِقِ: أَنْ يَفْتَقِرَ بَعْدَ الغِنىَ، وَيَذِلَّ بَعْدَ الْعِزِّ، وَيَخْفىَ بَعْدَ الشُّهْرَةِ، وَعَلاَمَةُ الصُّوْفِيْ اَلْكَاذِبِ: أَنْ يَسْتَغْنِيَ بِالدُّنْيَا بَعْدَ الْفَقْرِ، وَيَعِزَّ بَعْدَ الذِلِّ، وِيَشْتَهِرَ بَعْدَ الْخُلَفَاءِ (رسالة القشيرية، ص 126-127)

Hukum istri tanpa izin suami baiat thoriqoh

Bagaimana jika ada seorang istri yang ikut baiat thoriqah tanpa seizin suami?

Diterangkan dalam kitab Al- Dalailu Al- ‘Aliyah, yaitu dengan cara melihat dari kadar keikutan bai’atnya tersebut, bila bai’at tersebut dianggap fardhu ‘ain, maka seorang istri tidak wajib izin kepada suaminya. Dan jika bai’at tersebut dianggap sunnah, maka seorang istri wajib hukumnya untuk meminta izin kepada suaminya. Hal tersebut diibaratkan seperti halnya seorang istri yang akan menjalan Ibadah fardhu (berupa sholat lima waktu, dll) maka dalam hal ini seorang istri tidak harus izin kepada suaminya. Akan tetapi jika seorang istri akan menjalan Ibadah sunnah (seperti puasa sunnah, dll), maka seorang istri wajib meminta izin terlebih dahulu terhadap suaminya.

إذا أريد بالتصوف أنه عبارة عن التحلي بالفضائل والتخلي عن الرذائل، فهو فرض عين على كل مكلف من المسلمين والمسلمات. وإذا أريد بالتصوف هنا الانضمام إلى طرق الصوفية الصحيحة النسبة إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فهو سنة. )الدلائل العالية، ص: 36(

Hukum suami melarang istri bai’at thoriqoh

Bagaiamanakah hukum seorang suami tidak mengizini istri berbaiat?

Permasalahan yang ada ketika seorang suami tidak mengizinkan istrinya untuk mengikuti bai’at thoriqoh, maka penyelesaian dari permasalahan ini yaitu dengan cara mengkiyaskannya seperti halnya seorang istri yang ingin mencari ilmu, jika suaminya itu seorang yang ‘alim, maka suami wajib mengajari istrinya. Dan jika seorang suami tidak mampu mengajari istrinya, maka seorang istri boleh keluar untuk bertanya atau mencari ilmu kepada Ulama’ dan seorang suami tidak boleh melarang atau menghalanginya. Hal tersebut diterangkan dalam kitab Al- Bajuri juz 1 hal 113.

ويجب على المرأة أن تتعلم ما تحتاج اليه من أحكام الحيض والنفاس والإستحاضة فإن كان زوجها عالما لزمها تعليمها وإلا فلها الخروج لسؤل العلماء بل يجب عليها وليس له منعها إلا أن يسال هو ويخبرها فيستغنى بذلك وليس لها الخروج لمجلس ذكر وتعلم خبر إلا برضاه. (الباجوري، ج 1، ص: 113)

Hukum istri melakukan wirid sedangkan suami membutuhkannya

Bagaiamana jika sang suami membutuhkan seorang istri sedangkan istri sedang melakukan wirid thoriqoh?

Istri harus melakukan kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan atau hajat sang suami, setelah selesai memenuhi kebutuhan suaminya, istri kembali melanjutkan wirid, dengan alasan:

  1. ومنها مراعاة حقوق الأزواج والأبناء والأهل (al-dalail al-‘aliyyah asilah wa ajwabiha fi al-tasawwuf wa thariqah al-sadah al-naqsyabandiyyah, hlm: 351).

أما إذا رأى الشيخ إعطاء الطريقة لبعض الصالحات التقيات من ذوات الهمة العالية، ففيه ضوابط ينبغي مراعاتها، منها: رعاية حدود الشرع فلا احتلاط، ولا تجاوز لتعاليمه وآدابه. ومنها: مراعاة حقوق الأزواج والأبناء والأهل، فلا تعطيل في قيامهن بهذه الحقوق، (الدلائل العالية أسئلة وأجوابة في التصوف وطريقة السادة النقشبندية ص: 351).

Watak dan Nafsu Manusia

Semua manusia mempunyai empat dasar karakter (watak atau sifat), sebagai berikut:

  1. Sifat as-Sab’iyyah (صفة السبعية), yaitu sifat yang menyebabkan manusia berperilaku seperti hewan. Antara lain: sifat marah, rasa permusuhan, berbicara kotor, suka menganiaya dan meremehkan orang lain.
  2. Sifat al-Bahimiyyah (صفة البهمية), yaitu sifat yang menyebabkan manusia mempunyai perilaku mengumbar perkara jelek, boros, iri dan dengki. Bila sifat as-Sab’iyyah muncul, maka sifat al-Bahimiyyah akan kalah.
  3. Sifat as-Syaithoniyyah (صفة الشيطانية), yaitu sifat yang menyebabkan manusia selalu berperilaku menuruti hawa nafsunya, melakukan tipu daya, adu domba, berani menerjang larangan, dan suka membantah.
  4. Sifat ar-Rabbaniyah (صفة الربانية), yaitu sifat yang menyebabkan manusia mempunyai sifat-sifat ketuhanan. Seperti berilmu, berhikmah, berkeyakinan, mengetahui secara hakikat.

(Hal ini dijelaskan dalam kitab Ihya’ Ulumudin, juz 3, hal. 10, dan Bidayatul Hidayah Fil Ubudiyah, hal. 76)

اِعْلَمْ أَنَّ الْإِنْسَانَ قَدْ اصْطَحَبَ فِيْ خِلْقَتِهِ وَتَرْكِيْبِهِ أَرْبَعُ شَوَائِبَ فَلِذَلِكَ اجْتَمَعَ عَلَيْهِ أَرْبَعَةُ أَنْوَاعٍ مِنَ الْأَوْصَافِ وَهِيَ الصِّفَاتُ السَّبُعِيِّةُ وَالْبَهِيْمِيَّةُ وَالشَّيْطَانِيَّةُ وَالرَّبَّانِيَّةُ فَهُوَ مِنْ حَيْثُ سَلَّطَ عَلَيْهِ الْغَضَبُ يَتَعَاطَى أَفْعَالَ السِّبَاعِ مِنَ الْعَدَاوَةِ وَالْبَغْضَاءِ وَالتَّهَجُّمِ عَلَى النَّاسِ بِالضَّرْبِ وَالشَّتْمِ وَمِنْ حَيْثُ سَلَّطَتْ عَلَيْهِ الشَّهْوَةُ يَتَعَاطَى أَفْعَالَ الْبَهَائِمِ مِنَ الشَّرَهِ وَالْحِرْصِ وَالشَّبَقِ وَغَيْرِهِ وَمِنْ حَيْثُ إِنَّهُ فِيْ نَفْسِهِ أَمْرٌ رَبَّانِيٌّ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى قُلِ الرُّوْحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّيْ فَإِنَّهُ يَدَّعِيْ لِنَفْسِهِ الرُّبُوْبِيَّةِ وَيُحِبُّ الْاِسْتِيْلَاءَ وَالْاِسْتِعْلَاءَ وَالتَّخَصُّصَ وَالْاِسْتِبْدَادَ بِالْأُمُوْرِ كُلِّهَا وَالتَّفَرُّدَ بِالرِّيَاسَةِ وَالْإِنْسِلاَلَ عَنْ رِبْقَةِ الْعُبُوْدِيِّةِ وَالتَّوَاضُعِ وَيَشْتَهِيْ اْلاِطِّلاَعَ عَلَى الْعُلُوْمِ كُلِّهَا بَلْ يَدَّعِيْ لِنَفْسِهِ الْعِلْمَ وَالْمَعْرِفَةَ وَالْإِحَاطَةَ بِحَقَائِقَ الْأُمُوْرِ وَيَفْرَحُ إِذَا نُسِبَ إِلَى الْعِلْمِ وَيَحْزَنُ إِذَا نُسِبَ إِلَى الْجَهْلِ وَالْإِحَاطَةَ بِجَمِيْعِ الْحَقَائِقِ وِالْاِسْتِيْلاَءِ بِالْقَهْرِ عَلَى جَمِيْعِ الْخَلَائِقِ مِنْ أَوْصَافِ الرُّبُوْبِيَّةِ وَفِي الْإِنْسَانِ حِرْصٌ عَلىَ ذَلِكَ (إحياء علوم الدين، ج 3، ص 10)

Dari paparan di atas, manusia berpotensi bisa menjadi makhluk yang paling baik dan mempunyai derajat yang tinggi di hadapan Allah dan di hadapan manusia. Atau sebaliknya, manusia juga bisa menjadi makhluk yang berperilaku buruk karena hilang sifat kemanusiaannya.

Musuh-musuh Iblis

Iblis mempunyai beberapa musuh sebagai berikut:

  1. Nabi Muhammad Saw.
  2. Pemimpin yang adil
  3. Orang kaya yang rendah hati
  4. Pedagang yang jujur
  5. Orang alim yang melakukan sholat dengan khusyu’
  6. Orang mukmin yang selalu mengharapkan kebaikan
  7. Orang mukmin yang selalu mengasihi
  8. Orang yang menetapi taubatnya
  9. Orang yang menjauhi perkara haram
  10. Orang mukmin yang selalu dalam keadaan suci
  11. Orang yang memperbanyak sedekah
  12. Orang mukmin yang mempunyai budi pekerti yang luhur
  13. Orang mukmin yang bermanfaat bagi orang lain
  14. Orang yang hafal al-Qur’an dan selalu membacanya
  15. Orang yang selalu shalat malam, sementara yang lain tidur. (Durratun Nasihin, hal. 215)

وَذُكِرَ عَنْ وَهَبٍ بْنِ مُنْبِهٍ أَنَّهُ قَالَ: أَمَرَ اللهُ تَعَالَى إِبْلِيْسً أَنْ يَأْتِىَ مُحَمَّدً عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ وَيُجِيْبُهُ عَنْ كُلِّ مَا يَسْأَلُهُ، فَجَاءَهُ عَلَى صُوْرَةٍ شَيْخٌ صَبِيْحٌ وَبِيَدِهِ عُكَازَةٌ، فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ أَنَا إِبْلِيْسٌ، قَالَ لِمَاذَا جِئْتَ؟ قَالَ إِنَّ اللهَ أَمَرَنِى أَنْ آتَيْكَ وَأُجِيْبُكَ عَنْ كُلِّ مَا سَأَلْتَنِى، فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ: يَا إِبْلِيْسُ كَمْ أَعْدَاؤُكَ مِنْ أُمَّتِىْ؟ قَالَ خَمْسَةَ عَشَرَ: اْلأَوَّلُ أَنْتَ يَا مُحَمَّدُ. وَالثَّانِى إِمَامٌ عَادِلٌ. وَالثَّالِثُ غَنِىٌّ مُتَوَاضِعٌ. وَالرَّابِعُ تَاجِرٌ صَادِقٌ. وَالْخَامِسُ عَالِمٌ مُصَلٌّ يَتَخَشَّعُ. وَالسَّادِسُ مُؤْمِنٌ نَاصِحٌ. وَالسَّابِعُ مُؤْمِنٌ رَحِيْمٌ. وَالثَّامِنُ تَائِبٌ ثَابِتٌ عَلَى تَوْبَتِهِ. وَالتَّاسِعُ مُتَوَرِّعٌ عَنِ الْحَرَامِ. وَالْعَاشِرُ مُؤْمِنٌ يُدَاوِمُ عَلَى الطَّهَارَةِ. وَالْحَادِىَ عَشَرَ مُؤْمِنٌ كَثِيْرُ الصَّدَاقَةِ. وَالثَّانِىَ عَشَرَ حَسَنُ الْخَلْقِ. وَالثَّالِثَ عَشَرَ مُؤْمِنٌ يَنْفَعُ النَّاسِ. وَالرَّابِعَ عَشَرَ حَامِلُ الْقُرْآنِ يُدَيِّمُ قِرَاءَتَهُ. وَالْخَامِسَ عَشَرَ قَائِمٌ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ (درة الناصحين، ص 215)

Nama-nama Syaitan Beserta Tugasnya

Macam-macam jenis nama syaitan ada 9 dan mempiunyai tugas sendiri-sendiri seperti di bawah ini:

  1. Syaitan Zalitun, bertempat di pasar. Ia bertugas menghias dengan hiasan sumpah palsu, mengurangi timbangan dan takaran yang bertujuan untuk menipu.
  2. Syaitan Watsin, bertugas menggoda orang yang tertimpa musibah dengan tujuan agar selalu mengeluh.
  3. Syaitan Laqus, bertugas menggoda orang yang sedang shalat dan wudlu’ dengan cara menumbuhkan rasa was-was.
  4. Syaitan A’wan, bertugas menghias para pejabat atau pemimpin dengan hiasan rasa kesewenang-wenangan.
  5. Syaitan Haffaf, bertugas menemani orang yang minum khamer/pemabuk.
  6. Syaitan Murroh, bertugas melalaikan orang yang meniup terompet atau seruling.
  7. Syaitan Masuth, bertugas mendampingi orang yang membawa berita bohong.
  8. Syaitan Dasim, berada dalam rumah. Bertugas untuk membuat pertengkaran dalam rumah tangga dan menghiasi pantat perempuan supaya kelihatan bahenol.
  9. Syaitan Walhan, bertugas untuk mengganggu orang yang sedang melakukan shalat, wudlu’ dan ibadah yang lain.

Hal ini dijelaskan dalam kitab Syarah Nashaikhul Ibad, Hal. 57.

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ (قاَلَ عُمَرُ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ: إِنَّ ذُرِّيَةَ الشَّيْطَانِ) أَىْ أَوْلاَدِ إِبْلِيْسَ اِسْمُهُ عَزَازِيْلٌ (تِسْعَةٌ زَلِيْتُوْنٌ وَوَثِيْنٌ وَلَقُوْسٌ) وَيُقَالُ لاَقِسٌ (وَأَعْوَانٌ وَهَفَافٌ وَمُرَّةٌ) بِضَمِّ الْمِيْمِ وَتَشْدِيْدِ الرَّاءِ وَكُنْيَةِ إِبْلِيْسٍ أَبُوْ مُرَّةٍ (وَمَسُوْطٌ وَدَاسِمٌ وَوِلْهَانٌ، فَأَمَّا زَلِيْتُوْنَ فَهُوَ صَاحِبُ اْلأَسْوَاقِ فَيُنْصَبُ فِيْهَا رَأَيْتُهُ) أَىْ لِوَاءُهُ، وَعِنْدَ بَعْضُهُمْ إِنَّ هَذَا يُقَالُ لَهُ زَلْنِبُوْرٌ بِزَاىْ مَفْتُوْحَةٌ وَلاَمٌ مُشَدَّدَةٌ بَعْدَهَا نُوْنٌ فَمُوَحِّدَةٌ آخِرُهُ رَاءٌ وَهُوَ فِىْ كُلِّ سُوْقٍ يَزِيْنُ لِلْباَئِعِيْنَ اَللَّغْوُ وَالْحَلْفُ اْلكاَذِبُ وَمَدْحُ السِّلْعَةُ وَتَطْفِيْفُ الْكَيْلِ وَالْمِيْزَانِ (شرح نصائح العباد، ص 57)

Status Ulama’ (Para Ilmuwan)

Status ulama’ atau para ilmuwan secara umum dalam konteks sosial pemerintahan, sosial kemasyarakatan dan sosial keagamaan selalu menjadi perdebatan. Pro kontra tentang status ulama’ dan para ilmuwan tersebut bertitik berat pada peran fungsinya dan sejauhmana mafsadah dan manfa’at yang ditimbulkannya.

Dalam konteks ini, dengan tanpa memperpanjang pro kontra yang berkembang, lebih baiknya kita kembali memahami status ulama’ dan para ilmuwan pada koridor etik yang digariskan oleh Nabi Muhammad Saw. Koridor etik yang digariskan Rasulullah tentang status ulama’ dan ilmuwan adalah sebagai pewaris para Rasul yakni khalifah fil ardli. Sebagaimana keterangan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra. berikut ini:    

(قَالَ اَلْفَقِيْهُ) أَبُوْ اَلْلَّيْثِ اَلسَّمَرْقَنْدِىُّ رَضِىَ اللهُ  تَعَالىَ عَنْهُ وَاَرْضَاهُ حَدَّثَنَا اَلْحَاكِمُ أَبُوْ الْحَسَنِ عَلِىُّ بْنُ الْحُسَيْنِ حَدَّثَنَا اَلْحَسَنُ بْنُ إِسْمَعِيْلَ اَلْقَاضِىُّ حَدَّثَنَا يُوْسُفُ بْنُ مُوْسَى حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ رُسْتَمٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ اْلأَثَرِ عَنْ إِسْمَعِيْلَ بْنِ سَمِيْعٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِىَ اللهُ  تَعَالىَ عَنْهُ قاَلَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  اَلْعُلَمَاءُ أُمَناَءُ الرُّسُلِ عَلىَ عِباَدِ اللهِ مَالَمْ يُخَالِطُوْ اَلسُّلْطَانَ وَيَدْخُلُوْا فِى الدُّنْيَا، فَإِذَا دَخَلُوْا فِى الدُّنْياَ فَقَدْ خَانُوْا الرُّسُلَ فاَعْتَزِلُوْهُمْ وَاحْذَرُوْهُمْ (تَنْبِيْهُ اْلغَافِلِيْنْ، ص 156)

Telah berkata al-Faqih Abu al-Laits as-Samarqondi ra. Telah bercerita kepadaku al-Hakim Abul Hasan yaitu Ali bin Husain, telah bercerita kepadaku al-Hasan bin Ismail al-Qodhi, telah bercerita kepadaku Yusuf bin Musa, telah bercerita kepadaku  Ibrahim bin Rustam, telah bercerita kepadaku Hafs al-Atsari beliau menerima hadits dari Ismail bin Sami’, dari Anas bin Malik ra. dia berkata, Rasulullah Saw. telah bersabda “ Ulama’ adalah seseorang yang dipercaya para Rasul untuk hamba-hamba Allah, selagi dia tidak bergaul atau bercampur dengan pemerintahan dan tidak mementingkan materi atau kepentingan duniawiyah, apabila seorang ulama’ itu lebih mementingkan materi atau kepentingan duniawiyah  maka sesungguhnya dia telah menghianati para Rasul, maka dari itu segera jauhi dan waspadai mereka. (Tanbih al-Ghafilin hal. 156)

Dari keterangan tersebut di atas dikatakan “ulama’ itu berkhianat kepada Rasul kalau bercampur dengan pemerintah”, bukan berarti pemerintah itu jelek dan harus dijauhi, tetapi hal itu mengandung pengertian bahwa memang job-nya ulama’ dan job-nya pemerintah itu berbeda (sendiri-sendiri), jadi harus berjalan sesuai dengan relnya masing-masing, ulama’ dan pemerintah juga harus mengerti wilayah-nya masing-masing, jangan sampai dicampur adukkan. Beda job, beda wilayah, beda penampilan tetapi tujuannya tetap sama, membangun dan mencerdaskan bangsa.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa status ulama’ (kaum cendekiawan atau ilmuwan) sebagai kepercayaan dan pewaris para Rasul, mempunyai peranan sebagai pengabdi kepada semua hamba Allah Swt. Dalam arti harus melindungi dan mengayomi semuanya tanpa membeda-bedakan agama baik itu muslim maupun non muslim, kepercayaan, ras, suku, bahasa, golongan apalagi atas nama partai. Hal ini dapat dipahami dari teks hadits tersebut, dimana Nabi mengatakan  عَلىَ عِباَدِ اللهِ  bukanعَلىَ الْمُسْلِمِيْنَ dan juga tidak mengatakan  عَلىَ اْلمُؤْمِنِيْنَ .

Pemaparan diatas, jika dikontekskan dalam ranah pluralistik (kemajemukan, ke-Indonesiaan), maka ulama’ dan ilmuwan berperan penting sebagai pengayom umat manusia, baik yang beragama Hindu, Budha, Katholik, Kristen, Islam, Konghucu maupun yang beragama lain termasuk aliran kepercayaan dengan tanpa diskriminatif dan bahkan sampai pada tanpa memperbedakan antara insan yang berbudi maupun yang tak berbudi, semuanya adalah sama, yaitu sama-sama hamba Allah Swt.

Dengan demikian, maka tak dianggap berlebihan jika bentuk peran ulama’ dan ilmuwan sebagai pengayom umat dengan tanpa pilah-pilih adalah bentuk karakter kepribadian seorang sufi, karena sifat pengayom dengan tanpa pilah-pilih adalah ciri kepribadian seorang sufisme. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam Junaidi al-Baghdady sebagai berikut:

وَقَالَ جُنَيْدِيْ: اَلصُّوْفِيْ كَالأَرْضِ يُطْرَحُ عَلَيْهَا كُلُّ قَبِيْحٍ وَلاَ يَخْرُجُ مِنْهَا إِلاَّ كُلُّ مَلِيْحٍ وَقَالَ أَيْضًا: اَلصُّوْفِى كَالأَرْضِ يَطَئُوْهَا الْبَارُّ وَالْفَاجِرُ وَكَالسَّمَاءِ وَكَالسَّحَابِ تُظِلُّ كُلَّ شَيْءٍ وَكَالْمَطَرِ يُسْقِى كُلَّ شَيْءٍ (نشأة التصوف وتصريف الصوف، ص 22)

Seorang sufi itu bagaikan bumi yang bila dilempari keburukan maka ia akan selalu membalasnya dengan kebaikan. Seorang sufi itu bagaikan bumi yang mana di atasnya berjalan segala sesuatu yang baik maupun yang buruk (semua diterimanya). Seorang sufi juga bagaikan langit atau mendung yang menaungi semua yang ada di bawahnya, dan  seperti air hujan yang menyirami segala sesuatu tanpa memilah dan memilih, [yang baik maupun yang buruk semuanya diayominya]”. (Nasyah at-Tashawuf Wa Tashrifu as-Shufi, hal. 22)

Kode etik ulama’ dan ilmuwan tersebut adalah kode etik yang berlaku umum tanpa pengecualian. Kemudian yang menjadi polemik baru adalah bagaimana bagi para ulama’ dan ilmuwan yang menjadi pejabat pemerintah?

Dalam konteks persoalan ini, para ulama’ fiqih memberikan catatan khusus, yaitu jika para ulama’ yang menjabat pemerintah tersebut, menjabatnya mutlak dikarenakan adanya faktor hajat/darurat atau demi kemaslahatan agama yang mampu meminimalisir kemafsadatan, dan dengan niat yang baik, maka diperkenankan. Sebagaimana keterangan dalam kitab Is’ad ar-Rafiq ‘ala Sullam at-Taufiq, juz 2, hal.31, berikut ini:

وَأَنْ لاَيَكُوْنَ مُتَرَدِّدًا عَلَى السَّلاَطِيْنِ وَغَيْرِهِمْ مِنْ أَرْبَابِ الرِّيَاسَةِ فِى الدُّنْيَا إِلاَّ لِحَاجَةٍ وَضَرُوْرَةٍ أَوْ مَصْلَحَةٍ دِيْنِيَّةٍ رَاجِحَةٍ عَلَى اْلمَفْسَدَةِ إِذَا كَانَتْ بِنِيَّةٍ حَسَنَةٍ صَالِحَةٍ وَعَلَى هَذَا يَحْمِلُ مَا جَاءَ لِبَعْضِهِمْ مِنَ اْلمَشْيِ وَالتَّرَدُّدِ إِلَيْهِمْ كَالزُّهْرِىِّ وَالشَّافِعِىِّ وَغَيْرِهِمَا لاَ عَلَى أَنَّهُمْ قَصَدُوْا بِذَالِكَ فُضُوْلَ اْلعَرَاضِ اَلدُّنْيَوِيَةِ قَالَهُ السَّمْهُوْدِىُّ (إسعاد الرفيق على سلم التوفيق، ج 2، ص 31)

Tanda-tanda Kerusakan Alam Semesta

Tanda-tanda kerusakan alam semesta ini adalah apabila ilmuwan sudah tidak mengamalkan lagi ilmunya, baik untuk dirinya sendiri, kepada orang lain maupun terhadap lingkungan atau alam di sekitarnya. Hal ini sesuai dengan keterangan sebagai berikut:

وَعَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ سُئِلَ أَىُّ النَّاسُ شَرٌّ قَالَ اَلْعَالِمُ إِذَا فَسَدَ وَيُقاَلُ إِذَا فَسَدَ اْلعَالِمُ فَسَدَ لِفَسَدِهِ اْلعاَلَمُ  (تنبيه الغافلين، ص 157)

Dari Nabi Saw. sesungguhnya beliau telah ditanya, “Siapakah manusia yang jelek dan hina itu Ya Rasul? Rasul menjawab, Manusia yang hina itu adalah ulama’ yang rusak (ilmuwan yang tidak mengamalkan ilmunya) dan di katakan apabila seorang alim itu rusak maka alam semesta ini juga akan rusak karena disebabkan kerusakan para alim. (Tanbih al-Ghafilin hal 157)

Isu Kiamat 

Isu kiamat 2012 ini sudah cukup lama diangkat kepermukaan dan kian marak dibicarakan baik melalui media masa, cetak dan elektronik. Yang menjadi hebohnya adalah hampir seluruh tokoh dan pakar para ilmuwan (astronomi, geologi, saintologi), paranormal, selebriti, pejabat, termasuk sebagian tokoh masyarakat dan kyai ikut memberikan komentar tentang isu kiamat 2012 ini. Bagaimanakah pandangan Islam dalam hal ini?        

Dalam Islam, ulama’ memberikan fatwa bahwasanya mengenai kapan terjadinya hari kiamat secara pasti tidak ada yang mengetahui kecuali Allah Swt. Hal ini berdasarkan al-Qur’an surah al-Ahzab ayat 63 juz 22, bahwa penentuan hari kiamat itu adalah hak Allah semata.

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللهِ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوْنُ قَرِيْبًا (سورة الأحزاب: 63)  

Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh Jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. (Qs. al-Ahzab: 63)

Meskipun tiada satupun yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat selain Allah semata, akan tetapi Rasulullah Muhammad Saw. telah memberikan keterangan bahwa hari kiamat itu tidak akan pernah terjadi selagi di muka bumi ini masih terdapat orang yang mengingat dan menyebut nama Allah Swt.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَ يَبْقىَ عَلَى وَجْهِ اْلأَرْضِ مَنْ يَّقُوْلُ اَللهُ اَللهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Rasulullah Saw. bersabda: Kiamat tidak akan terjadi selagi di muka bumi masih terdapat orang yang berdzikir kepada Allah dengan mengucapkan lafadz “Allah, Allah” dari lisan maupun ingatnya hati akan “Allah”. (Diterangkan dalam kitab Tanwir al-Qulub hal. 511 dan dalam kitab al-Ma’arif al-Muhammadiyah hal. 18)

Oleh karena itu, manusia tidak usah terlalu histeris membayangkan kiamat karena yang mengetahui kapan datangnya hari kiamat itu hanya Tuhan Yang Maha Esa. Namun, kita sebagai manusia hendaknya tetap waspada dengan selalu berbenah atas segala tingkahlaku buruk, membenahi sifat-sifat tercela dan menggantikannya dengan sifat-sifat terpuji, berbuat baik untuk diri sendiri, berbuat baik kepada sesama manusia, juga berbuat dan memberikan yang terbaik untuk alam semesta raya, karena rusaknya alam semesta raya ini adalah diakibatkan oleh ulah atau perbuatan manusianya sendiri. Hal ini telah dijelaskan dalam al-Qur’an surah ar-Ruum ayat 41;

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ (سورة الروم: 41)  

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Qs. ar-Ruum: 41)

Dari keterangan surat ar-Ruum ayat 41, sudah jelas bahwa semua kejadian bencana alam seperti sunami, gempa bumi, banjir, longsor, kebakaran, pemanasan global dan lain sebagainya adalah semata-mata diakibatkan oleh ulah manusia sendiri, seperti penebangan liar yang merajalela, semakin maraknya pertikaian atau pertengkaran sesama manusia yang berlarut-larut.

Maka dari itu marilah kita semuanya segera bertaubat, berbenah diri dari kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat, jangan sampai kita menyalahgunakan dan mengingkari nikmat Tuhan yang telah diberikan kepada kita, karena Tuhan telah berfirman dalam al-Qur’an surah Ibrahim ayat  7;

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ (سورة إبراهيم: 7)

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Qs. Ibrahim: 7)

Dari keterangan ayat di atas telah jelas kita ini sebagai manusia adalah kurang pandai bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan limpahan nikmat-Nya kepada kita semua, akibatnya azab Tuhan kerap kali diberikan kepada manusia yang mengingkari nikmat-nikmat-Nya.

Citation

Santri Pondok Pesantren demo: „Tasawuf dan Etika“,Version 1.0. In: OES demo. Published by Pondok Pesantren demo, Pasuruan, Indonesia,