Pemakaman dan Jenazah
- Version 1.0
- Published Monday, October 16, 2023
Table of Contents
- Macam-macam Orang Mati Syahid
- Talqin Saat Naza’ (Sakaratul Maut)
- Hukum Merawat Mayat yang Terpotong-potong
- Hukum Anggota Tubuh yang Terpisah
- Posisi Jenazah Ketika Dishalati
- Hukum Membaca Fatihah pada Shalat Jenazah
- Hukum Melaksanakan Shalat Jenazah Tanpa Wudlu
- Hukum Mendirikan Shalat Jenazah Setelah Shalat Ashar
- Hukum Shalat di Makam Para Nabi
- Menyalati Mayit Setelah 3 Hari atau Lebih
- Makmum Masbuq dalam Shalat Jenazah
- Hukum Menshalati Orang yang Mati Bunuh Diri
- Shalat Ghaib
- Shalat Jenazah bagi Wanita
- Hukum Shalat Jenazah di Atas Kuburan
- Qadla’ Shalat untuk Mayit
- Mengqodlo’ Puasa dan Haji untuk Mayit
- Fidyah sebagai Ganti Puasa yang Ditinggal oleh Mayit
- Hukum Mengqadha’ atau Membayar Fidyah untuk Mayit yang Meninggalkan Shalat dan Puasa dengan Dijama’ (Dilakukan secara Bergiliran oleh Orang Banyak)
- Kesaksian Terhadap Jenazah
- Budaya Memberi Makan pada Para Penta’ziyah
- Hukum Berpakaian Hitam ketika Melayat
- Mengantar Jenazah Sambil Mengucap Lafadz Laa Ilaha Illallah
- Tata Cara Membawa Jenazah ke Pemakaman
- Tata Cara Mengiringi Jenazah
- Tata Cara Memasukkan Jenazah ke Liang Lahat
- Hukum Mengubur Mayit sebelum Dishalati
- Mengubur Mayit di dalam Rumah
- Cara Mengubur Jenazah yang Mati di Tengah Laut
- Mengubur Jenazah Memakai Peti
- Hukum Mengubur Mayat Secara Massal
- Adzan dan Iqomah saat Mayit Dibaringkan dalam Liang Lahat
- Talqin Mayit
- Menyiram Kuburan dengan Air Bunga
- Hukum Selamatan atau Haul
- Perbedaan Pendapat Para Ulama’ Tentang Hukum Selametan 1-7 Hari, 40 Hari, 100 Hari dan Haul bagi Orang yang Telah Meninggal
- Rangkaian Acara Selametan atau Haul
- Hukum Nyekar
- Ziarah Kubur
- Keutamaan Ziarah Qubur
- Ziarah Kubur bagi Perempuan
- Mengharap Barokah
- Hukum Mencium Jenazah
- Membakar Kemenyan di Kuburan
- Hukum Membangun Kuburan
- Hukum Memindah Kuburan
- Membongkar Kuburan
- Hukum Nglendih Mayit di Kuburan
- Status Nonmuslim yang Meninggal Sebelum Baligh
- Liang Lahat itu Lebih Utama daripada Liang Syaq
- Hukum Duduk di Atas Kuburan
- Memasang Batu Nisan di Kuburan
- Citation
- Metadata
Macam-macam Orang Mati Syahid
Menurut Imam Ibnu Rif’ah dan sahabatnya, orang yang mati syahid itu ada tiga golongan, yaitu:
- Syahid ‘Indallah (mati syahid menurut Allah) diantaranya:
- Orang yang meninggal karena dibunuh secara zhalim
- Meninggal karena tenggelam
- Meninggal karena terbakar
- Meninggal karena tertimpa bangunan
- Meninggal karena sakit perut
- Meninggal karena dilukai oleh orang lain
- Meninggal karena kerinduan
- Meninggal mendadak
- Meninggal karena sakit waktu melahirkan
- Meninggal di negeri orang kafir Harbi (Musuh)
Orang yang meninggal di atas termasuk golongan yang wajib diperlakukan sebagaimana mestinya (dimandikan dan dishalati).
- Syahid Fid Dunya (mati syahid menurut manusia)
- Orang yang meninggal sebagai pengatur strategi perang yang tidak terjun langsung dalam medan peperangan.
- Orang yang meninggal dunia dalam peperangan akan tetapi memihak kepada kelompok lain.
- Orang yang meninggal dunia dalam peperangan karena riya’ dan mencari popularitas.
Orang-orang yang meninggal di atas sebagai syahid secara hukum, jadi tidak wajib dimandikan dan dishalati.
- Syahid Fid Dunya Wal Akhirat (mati syahid menurut Allah dan manusia).
Yang termasuk golongan ini, yaitu orang yang meninggal karena berperang membela agama Allah (fii sabilillah). Mayat golongan ini tidak dimandikan dan tidak perlu dishalati. (Kifayah al-Akhyar, Fashal Fii al-Mu’tadati al-Raj’iyah, juz I, hal.164).
وَاثْنَانِ لاَيُغَسَّلاَنِ وَلا يُصَلَّى عَلَيْهِمَا: اَلشَّهِيْدُ فِى مَعْرَكَةِ اْلكُفَّارِ وَالسِّقْطُ اَّلذِى لَمْ يَسْتَهِلْ
Dan dua orang yang tidak dimandikan dan tidak dishalati atas mereka: (1) orang yang meninggal dalam medan pertempuran melawan orang-orang kafir dan (2) janin yang jatuh (bayi kluron) yang belum sempat menangis.
(وَاثْنَانِ لاَ يُغَسَّلاَنِ وَلَا يُصَلّى عَلَيْهِمَا الشَّهِيْدُ فِي مَعْرَكَةِ الْكُفَّارِ وَالسِّقْطُ الَّذِيْ لَمْ يَسْتَهِلْ ) وَيُصَلَّى عَلَيْهِ إِنْ اخْتَلَجَ اعْلَمْ أَنَّ الشَّهِيْدَ يَصْدُقُ عَلَى كُلِّ مَنْ قُتِلَ ظُلْمًا أَوْ مَاتَ بِغَرَقٍ أَوْ حَرَقٍ أَوْ هَدَمٍ أَوْ مَاتَ مَبْطُوْناً أَوْ مَاتَ عِشْقًا أَوْ كَانَتْ إِمْرَأَةٌ وَمَاتَتْ فِي الطَّلْقِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَكَذَا مَنْ مَاتَ فُجْأَةً أَوْ فِي دَارِ الْحَرْبِ قَالَهُ ابْنُ الرِّفْعَةُ وَمَعَ صِدْقِهِ أَنَّهُمْ شُهَدَاءٌ فَهَؤُلَاءُ يُغْسَلُوْنَ وَيُصَلَّي عَلَيْهِمْ كَسَاِئرِ المْـَوْتَى وَمَعْنَى الشَّهَادَةِ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ. وَأَمَّا مَنْ مَاتَ فِْي قِتَالِ الْكُفَّارِ مُدَبِّرًا غَيْرَ مُتَحَرِّفٍ لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلىَ الْفِئَةِ أَوْ كَانَ يُقَاتِلُ رِيَاءً وَسُمْعَةً فَهَذَا شَهِيْدٌ فِي الْحُكْمِ بِمَعْنَى أَنَّهُ لَا يُغْسَلُ وَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ وَهُوَ شَهِيْدٌ فِي الدُّنْيَا دُوْنَ الآخِرَةِ وَأَمَّا مَنْ مَاتَ فِي قِتَالِ الْكُفَّارِ بِسَبَبِ الْقِتَالِ عَلَى الْوَجْهِ الْمَرْضِيِّ فَهَذَا شَهِيْدٌ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. (كفاية الأخيار، فصل ويلزم في الميت، ج 1 ص 154)
Talqin Saat Naza’ (Sakaratul Maut)
Talqin terhadap orang yang akan meninggal dunia adalah mengajari ucapan kalimah toyyibah supaya dalam akhir hayatnya tetap membawa kalimat “Laa Ilaha Illallah, Muhammad Rasulullah”.
عَنْ أَبِى سَعِيْدٍ الْخُدْرِىِّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: « لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ». أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ فِى الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ خَالِدِ بْنِ مَخْلَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ وَأَخْرَجَهُ أَيْضًا مِنْ حَدِيثِ أَبِى حَازِمٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ (صحيح مسلم باب تلقين الموتى، سنن أبي داود باب مافى التلقين، السنن الكبرى للبيهقى وفي ذيله باب ما يستحب من تلقين الميت)
Dari said dan Abu Hurairoh ra. Mereka berkata, Rasul bersabda: “Ajarilah orang mati kalian dengan kalimat Laa Ilaha Illallah”. Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim pada kitab sahihnya, dari cerita Khalid bin Makhlad, dari sulaiman. Imam Muslim juga meriwayatkan hadits ini dari cerita Abi Khazim, dari Abu Hurairah.
Yang dimaksud hadits di atas adalah Rasulullah mengutus kita agar mengajari orang yang sedang naza’ (menjelang meninggal dunia) dengan ucapan kalimat tauhid. Sebagaimana firman Allah:
يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللهُ مَا يَشَاء (سورة إبراهيم: 27)
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki”. (Qs. Ibrahim: 27)
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa sangat dianjurkan mengajari kalimat tauhid kepada orang yang akan meninggal dunia, karena pada saat menjelang kematiannya akan menjadi tolak ukur kebahagiaan dan kesengsaraan kehidupan manusia di akhirat selanjutnya.
Hukum Merawat Mayat yang Terpotong-potong
Merawat jenazah merupakan suatu kewajiban bagi orang Islam, namun apabila seorang jenazah tubuhnya sudah tidak lengkap lagi (terpisah-pisah/terpotong-potong) karena sebab-sebab tertentu seperti pengeboman yang dilakukan oleh teroris, apakah masih tetap harus dimandikan, dikafani, dishalati dan akhirnya dikebumikan. Bagaimana hukum memandikan, mengkafani, menyalati mayat yang tubuhnya terpotong-potong tersebut?
Apabila ditemukan salah satu potongan-potongan tubuh dari seorang mayat, maka masih tetap diharuskan untuk merawatnya (memandikan, mengkafani dan menyalatinya), karena sesungguhnya Sayidina Umar dan para sahabat yang lain juga melakukan hal tersebut. Sebagaimana keterangan berikut ini:
وَإِنْ وُجِدَ بَعْضُ الْمَيِّتِ غُسِلَ وَصُلِّيَ عَلَيْهِ لِأَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ صَلَّى عَلَى عِظَامٍ بِالشَّامِ وَصَلَّى أَبُوْ عُبَيْدَةَ عَلَى رُؤُوْسٍ وَصَلَّتْ اَلصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ عَلَى يَدِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَتاَبَ بْنِ أُسَيْدٍ أَلْقاَهاَ طَائِرٌ بِمَكَّةَ مِنْ وَقْعَةِ الْجَمَلِ (المهذب في فقه الإمام الشافعي، ج 1 ص 249)
Dan apabila ditemukan sebagian dari tubuh mayat, maka dimandikan dan dishalati, karena sesungguhnya sahabat Umar Ra telah menyalati tulang di negara Syam, dan Ubaidah menyalati kepalanya mayit dan para sahabat juga menyalati tangannya Abdir Rahman yang dijatuhkan oleh burung di negara Makah pada waktu perang Jamal. (al-Muhadzdzaab fii Fiqh al-Imam as-Syafi’i, juz 1, hal. 249)
Hukum Anggota Tubuh yang Terpisah
Sering kita jumpai ketika terjadi kecelakaan, ada sebagian anggota tubuh orang tersebut terpisah dengan badannya sedangkan orangnya masih hidup.
Bagaimana hukum anggota tubuh yang terpisah tersebut?
Tidak dimandikan dan tidak dishalati tetapi sunnah untuk dikuburkan. Hal ini diterangkan dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz VI, hlm. 236 sebagai berikut:
فقال: لَا خِلَافَ أنَّ الْيَدَ الْمَقْطُوْعَةَ فِى السِّرْقَةِ وَالْقِصَاصِ لَا تُغْسَلُ وَ لَا يُصَلَّى عَلَيْهَا، وَلَكِنْ تُلِفَ فِىْ خِرْقَةٍ وَ تُدْفَنُ، وَكَذَا الْأَظْفَارُ الْمَقْلُوْمَةُ وَالشَّعْرُ الْمَأْخُوْذُ مِنَ الْأَحْيَاءِ لَا يُصَلَّى عَلَى شَيْئٍ مِنْهَا، لَكِنْ يُسْتَحَبُّ دَفْنُهَا (المجموع شرح المهذب, ج 6، ص 246)
إِلَى أَنْ قَالَ أَمَّامَا إِنْفَصَلَ مِنَ الْاِنْسَانِ فِيْ حَيَاتِهِ فَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ مِنْ جُمْلَةٍ مَالَايُصَلَّى عَلَيْهِ (شرح الياقوت النفيس، ص 258)
Posisi Jenazah Ketika Dishalati
- Posisi jenazah ketika dishalati
- Posisi jenazah laki-laki yaitu posisi kepala terletak di sebelah kiri imam
- Posisi jenazah perempuan yaitu posisi kepala terletak di sebelah kanan imam.
وَيَجْرِىْ هَذَا التَّفْصِيْلُ فِى الْوُقُوْفِ فِى الصَّلاَةِ عَلىَ الْقَبْرِ إِلَى أَنْ قاَلَ وَيُضَمُّ لِهذِهِ الْقَاعِدَةِ قاَعِدَةٌ أُخْرَى سَيَأْتِيْ اَلتَّصْرِيْحُ بِهَا فِيْ عِباَرَةِ الْبَرْماَوِىِّ وَهِيَ يُجْعَلُ مُعْظَمُ الْمَيِّتِ يَمِيْنَ الْمُصَلِّى فَحِيْنَئِذٍ يَكُوْنُ رَأْسُ الذَّكَرِ فِيْ جِهَّةِ يَساَرِ الْمُصَلِّى وَاْلأُنْثَى باِلْعَكْسِ (حاشية الجمل على المنهاج، ج 2 ص 188)
- Posisi imam shalat jenazah
- Untuk jenazah laki-laki, posisi imam berdiri lurus searah dengan kepala jenazah.
- Untuk jenazah perempuan, posisi imam berdiri lurus searah dengan pantat jenazah. (Hasyiyah al-Jamal ‘ala al-Minhaj, juz II, hal. 188)
وَيَقِفُ نَدْباً غَيْرُ مَأْمُوْمٍ فِى إِماَمٍ وَمُنْفَرِدٍ عِنْدَ رَأْسِ ذَكَرٍ وَعَجِزِ غَيْرِهِ مِنْ اُنْثىَ وَخُنْثَى (حاشية الجمل على المنهاج، ج 2 ص 188)
Hukum Membaca Fatihah pada Shalat Jenazah
Shalat jenazah hukumnya adalah fardhu kifayah (satu orang yang mengerjakan sudah menggugurkan kewajiban yang lain), Dalam pelaksanaan shalat jenazah terdapat beberapa rukun yang harus dipenuhi, salah satunya adalah membaca surat Fatihah yang mana biasanya dibaca setelah takbir pertama. Bagaimana hukumnya membaca surat al-Fatihah tidak pada takbir pertama dalam melaksanakan shalat jenazah??
- Tidak boleh
اَمَّاالْاَحْكَامُ فَقِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ فَرْضٌ فِى صَلَاِة الْجَنَاَزِة بِلَا خِلَاِفٍ عِنْدَنَا (المجموع شرح المهذاب، ج 6، ص 225)
وَقَالَ النَّوَاوِيُ فِي التِّبْيَانِ: اَنَّهَا تَجِبُ بَعْدَالتَّكْبِيْرَةِ الْاُوْلَى (كفاية الاخيار، ص 136)
- Boleh
فَاِنْ قَرَأَهَا بَعْدَ تَكْبِيْرَةٍ اُخْرَى غَيْرَ الْاُوْلَى جَازَ (المجموع شرح المهذاب، ج 6، ص 225)
فِى الرَّوْضَةِ: تَبَعًا لِلرَّافِعِي فىِ الشَّرْحِ اَنَّهُ يَجُوْزُ تَأْخِيْرُهَا اِلَى الثَّانِيَةِ (كفايةالاخيار، ص 136)
- Adapun lebih utamanya membaca surat al-Fatihah dalam shalat jenazah pada takbir pertama.
وَالْاَفْضَلُ اَنْ يَقْرَاَهَا بَعْدَالتَّكْبِيْرَةِ الْاُوْلَى (المجموع شرح المهذاب، ج 6، ص 225)
وَقَالَ الشَّافِعِيُّ فِى الْاُمْ: وَاجِبٌ اِذَا كَبَّرَ عَلَى الْجَنَازَةِ اَنْ يَقْرَاَ بِاُمِّ الْقُرْآنِ بَعْدَ التَّكْبِيْرَةِ الْاُوْلَى (المجموع شرح المهذاب، ج 6، ص 225)
الْخَامِسُ: قِرَاَةُ الْفَاتِحَةِ بَعْدَالتَّكْبِيْرَةِ الْاُوْلَى، فَظَاهِرُالْكَلَامِ الْغَزَالِي اَنَّهُ يَنْبَغِي اَنْ تَكُوْنَ الْفَاتِحَةُ عَقِبَ الْاُوْلَى مُتَقَدِّمَةً عَلَى الثَّانِيَةِ، لَكِنْ حَكَى الرُّوْيَانِ وَغَيْرُهُ عَنْ نَصِّهِ: اَنَّهُ لَوْ اَخَرَ قِرَاَتَهَا اِلَى التَّكْبِيْرَةِ الثّانِيَةِ جَازًا (روضة الطالبين، ص 232 )
وَالرَّابِعُ: (فَاتِحَةُ) بَعْدَ اي تَكْبِيْرَةِ مِنْهَا، وَالْاُوْلَى اَفْضَلُ لَهُ فَلَهُ اَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الْفَاتِحَةِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ بَعْدَ التَّكْبِيْرَةِ وَبَيْنِهَا وَبَيْنَ الدُّعَاءِ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ التَّكْبِيْرَةِ الثَّانِيَةِ (نها ية الزين، ص 157)
Hukum Melaksanakan Shalat Jenazah Tanpa Wudlu
Pada suatu saat, setelah melaksanakan shalat jenazah, si Fulan ditanya temannya kenapa kamu shalat jenazah tanpa sesuci? Shalat itu kan harus punya wudlu’? Bagaimanakah status shalat si Fulan dalam kasus di atas?
Hukumnya khilaf:
- Tidak sah. Menurut ijma’ ulama’, setiap bentuk shalat yang diawali takbir dan diakhiri dengan salam harus dalam kondisi suci meskipun dalam shalat jenazah tanpa ruku’, i’tidal, sujud dan tahiyyat.
(فَرْعٌ) ذَكَرَناَ مَذْهَبُناَ أَنَّ صَلاَةَ الْجَنَازَةِ لاَتَصِحُّ إِلاَّ بِطَهَارَةٍ وَمَعْناَهُ إِنْ تَمَكَّنَ مِنَ اْلوُضُوْءِ لَمْ تَصِحَّ إِلاَّ بِهِ، وَإِنْ عَجَزَ تَيَمَّمَ، وَلَا يَصِحُّ التَّيَمُّمِ مَعَ إِمْكَانِ الْمَاءِ، وَإِنْ خَافَ فَوْتَ الْوَقْتِ (المجموع شرح المهذب، ج 5، ص177)
Telah saya sebutkan bahwa sesungguhnya shalat jenazah itu tidaklah sah kecuali dengan bersuci. Artinya apabila seseorang masih mungkin berwudlu’, maka shalat jenazah tersebut tidak sah kecuali dilakukan dengan memakai wudlu’. (al-Majmu’ syarh al-Muhadzab, juz 5, hal. 177)
- Sah. Menurut Imam Ibnu Jarir dan Imam Syi’bi. Karena shalat jenazah merupakan bentuk do’a bukan seperti shalat maktubah atau yang lain.
وَقاَلَ الشَّعْبِىْ وَمُحَمَّدُ ابْنُ جَرِيْرٍ اَلطَّبَرِيّ وَالشِّيْعَةُ تَجُوْزُ صَلاَةُ الْجَناَزَةِ بِغَيْرِ الطَّهَارَةِ مَعَ إِمْكَانِ الْوُضُوْءِ وَالتَّيَمُّمِ لِأَنَّهَا دُعَاءٌ (المجموع شرح المهذب، ج 5، ص 177)
Asya’bi, Muhammad bin Jarir al-Thabari dan kaum syi’ah berkata diperbolehkan shalat jenazah dengan tanpa bersuci, meskipun masih memungkinkan untuk mengerjakan wudlu’ dan tayammum, karena shalat jenazah itu hanya sekedar do’a. (al-Majmu’ syarh al-Muhadzab, juz 5, hal. 177)
Hukum Mendirikan Shalat Jenazah Setelah Shalat Ashar
Ketika di suatu desa terdapat salah satu warga yang meninggal dunia, dan kebetulan waktu meninggalnya setelah Ashar dan jamaah shalat Ashar telah selesai dilaksanakan. Setelah dimandikan dan dikafani, jenazah segera dishalati kemudian dikebumikan.
Pertanyaannya, bagaimanakah hukum mendirikan shalat jenazah setelah shalat Ashar, atau pada waktu-waktu yang diharamkan melakukan shalat sunnah?
Hukum mendirikan shalat jenazah pada waktu yang diharamkan untuk melaksanakan shalat sunnah adalah boleh, karena shalat jenazah itu termasuk shalat yang mempunyai sebab yang mendahului, yaitu sebab kematian seseorang.
Seperti halnya shalat jenazah yaitu shalat lisyukril wudhu’ (karena syukur setelah wudhu’), shalat tahiyyatul masjid (sebab untuk peng-hormatan kepada masjid), shalat thowaf (sebab akan melakukan thowaf), shalat gerhana matahari/gerhana bulan dan shalat-shalat sunnah yang lainnya yang mempunyai sebab (dzati sabab). Sebagaimana keterangan dalam kitab Hasyiah al-Bajuri ‘ala Ibn Qasim al-Ghuzy:
(قوله إما متقدم) أَىْ عَلَى الصَّلاَةِ أَوْ عَلىَ وَقْتِ اْلكَرَاهَةِ عَلَى الْخِلاَفِ فِى ذلِكَ (قَوْلُهُ كَاْلفَائِتَةِ) مِثَالٌ لِمَا لَهُ سَبَبٌ مُتَقَدِّمٌ فَإِنَّ سَبَبَهَا اْلوَقْتُ اْلمَاضِى سَوَاءٌ كَانَتْ الفَائِتَةُ فَرْضًا أَوْ نَفْلاً لِاَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بَعْدَ اْلعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ وَقَالَ هُمَا اللَّتَانِ بَعْدَ الظُّهْرِ وَمِثَالُ اْلفَائِتَةِ صَلاَةُ الْجَنَازَةِ وَالْمَنْذُوْرَةُ وَاْلمُعَادَةُ وَسُنَةُ اْلوُضُوْءِ وَالتَّحِيَةُ مَا لَمْ يَدْخُلِ اْلمَسْجِدَ فِى اْلوَقْتِ اْلكَرَاهَةِ بِنِيَّتِهَا فَقَطْ وَيُلْحَقُ بِذَلِكَ سَجْدَةُ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرُ إِلاَّ إِنْ قَرَأَ آيَةَ سَجْدَةٍ لِيَسْجُدَ لَهَا فِى وَقْتِ اْلكَرَاهَةِ وَلَوْ قَرَأَهَا قَبْلَهُ (حاشية الباجورى على ابن قاسم الغزى، ج 1، ص 190)
(Perkataan Musonnif “adakalanya mendahului”) yaitu sebab yang mendahului shalat atau mendahului waktu makruh yang ada perbedaan tentang hal itu (perkataan musannif “seperti shalat yang terlambat”) semisal shalat yang memiliki sebab yang mendahului, maka sesungguhnya sebabnya adalah waktu yang telah lewat, baik yang terlambat itu shalat fardhu atau sunnah, karena beliau Rasulullah Saw, mendirikan shalat dua rakaat setelah shalat Ashar, beliau bersabda “keduanya adalah shalat dua rakaat setelah dhuhur”. Dan contoh yang terlambat yaitu shalat jenazah, shalat yang dinadzarkan, shalat mu’aadah, shalat sunnah wudhu, shalat tahiyyatul masjid sebelum memasuki masjid di waktu makruh dengan niat tahiyyat saja, dan yang disamakan dengan itu adalah sujud tilawah dan sujud syukur kecuali jika ia membaca ayat sajdah agar dia sujud karenanya di waktu yang makruh walau membaca ayat sajdah tersebut sebelum waktu karohah. (Hasyiah al-Bajuri ‘ala Ibn Qasim al-Ghuzi, juz 1, hal. 190)
Hukum Shalat di Makam Para Nabi
orang yang melaksanakan ibadah haji biasanya mampir untuk berziarah kubur ke makam para nabi dengan tujuan menambah amal ibadahnya, mengharapkan limpahan barokah yang diyakini dapat mengalir dari do’a para nabi, serta mengingatkan bahwa setiap makhluk yang hidup akan mengalami kematian, terkadang mereka tidak hanya berziarah kubur tetapi menambahnya dengan shalat di makam para nabi. Lantas bagaimana hukum shalat di makam para nabi?
- Boleh, tapi harus shalat sendirian. Sebagaimana diterangkan dalam kitab al-Majmû’ Syarh al-Muhadzab, juz VI, hlm. 232 dan 242:
وَكَانَ أَبُوْ الْوَلِيْدِ يَقُوْلُ اَنَا اُصَلِّي الْيَوْمَ عَلَى قُبُوْرِ اْلَانْبِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ (المجموع شرح المهذب، ج 6، ص 242)
(وَالثَانِي) وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْوَِليْدِ النَّيْسَابُورِي مِنْ مُتَقَدِّمَي أَصْحَابِنَا أَنَّهُ يُصَلِّى عَلَيْهِ فُرَادَى لَا جَمَاعَةً (المجموع شر ح المهذب، ج 6، ص 232)
- Tidak boleh. Sebagiamana keterangan di bawah ini:
(أَصَحُّهُمَا) عِنْدَ الْخَرَاسَانيين والماوردي أَنَّهُ لَا تَجُوْزُ الصَّلاَةُ (المجموع شرح المهذّب، ج 6، ص 232)
وَلَا يُصَلِّى عَلَى قَبْرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَغَيْرِهِ مِنَ اْلاَنْبِيَاءِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (تحفة المحتاج بشرح المنهاج، ج 1، ص413)
Menyalati Mayit Setelah 3 Hari atau Lebih
Melihat kejadian tsunami yang terjadi beberapa tahun yang lalu dengan memakan banyak korban, mengakibatkan hilangnya salah satu anggota keluarga korban tsunami, Sehingga satu minggu kemudian pihak keluarga berusaha mencari informasi tentang keberadaan salah satu anggota keluarganya yang hilang, kemudian keluarga menemukan saudaranya yang sudah dimakamkan seminggu yang lalu. Bagaimana hukumnya shalat jenazah yang lebih dari tiga hari?
- Boleh, Karena nabi melakukan shalat jenazah ketika jenazah sudah dimakamkan.
وَاَمَّا حَدِيْثٌ اُمُّ سَعْدٍ فَرَوَاهُ التِّرْمِذِى وَالْبَيْهَقِى بِاِسْنَادِهِمَا عَنْ ابْنِ الْمُسَيَّبِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَلَّى عَلَى أُمَّ سَعْدٍ بَعْدَ مَوْتِهَا بِشَهْرٍ (الجموع شرح المهذب، ج 6، ص 238)
قَالَهُ الرُّويَانِى وَلَوْ صَلَّى عَلَى مَنْ دُفِنَ صَحَّتْ صَلَاتُهُ لِاَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ صَلَّى عَلَى قَبْرٍ بَعْدَ مَا دُفِنَ. رواه الشَّيْخَانِ زَادَ الدَّارُقُطْنِى بَعْدَ شَهْرٍ (كفاية الاخيار، ص 136)
قَالَ أَحْمَدُ: يُصَلِّي عَلَيْهِ اِلَى شَهْرٍ، وَاِنْ كَانَ الْوَالِيُ قَدْ صَلَّى عَلَيْهِ (اختلا ف الأئمة العلماء، ج 1، ص 187)
- Tidak boleh, Karena Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak ada shalat jenazah ketika sudah tiga hari dari pemakaman.
وَقَالَ اَبُو حَنِيْفَةَ رَحِمَ اللهُ: لَا يُصَلَّى عَلَى الْقَبْرِ بَعْدَ ثلَاَثَةَ اَيَّامٍ مِنْ دَفْنِهِ (المجموع شرح المهذب، ج 6، ص 244)
Makmum Masbuq dalam Shalat Jenazah
Ketika sedang melayat jenazah, sering kita jumpai orang-orang yang datang terlambat sehingga mereka tertinggal dari takbir imam.
Bagaimana cara makmum masbuq menyusul imam yang telah sampai pada takbir kedua?
Makmum masbuq (yang terlambat dari imam) dalam shalat jenazah langsung melaksanakan takbir pertama, dan membaca Fatihah. Jika imam di dalam shalat sedang membaca shalawat atau do’a sebaiknya makmum melanjutkan urutan shalat. Jika imam melaksanakan takbir yang lain sebelum makmum membaca fatihah maka makmum melaksanakan takbir bersama imam sebagaimana ketika imam ruku’ maka makmum ikut ruku’ bersamanya dan tidak boleh melanjutkan bacaannya. Ketika imam takbir sedangkan makmum masbuq sedang membaca fatihah maka sisa bacaan boleh ditinggalkan untuk mengikuti gerakan imam. Ketika imam telah salam, maka makmum masbuq melanjutkan sisa takbir dan dzikirnya shalat.
وَأَمَّا الْمَسْبُوْقُ فَيُكَبِّرُ وَيَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ وَإِنْ كَانَ الْإِمَامُ فِي الصَّلَاةِ عِنْدَ الصَّلَاةِ عَلىَ النَّبِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوِ الدُّعَاءِ بَلْ يُرَاعِيْ نَظْمَ صَلَاةِ نَفْسِهِ فَلَوْ كَبَّرَ الْإِمَامِ أُخْرَى قَبْلَ شُرُوْعِهِ فِي الْفَاتِحَةِ كَبَّرَ مَعَهُ سَقَطَتْ اَلْقِرَاءَةُ كَمَا لَوْ رَكَعَ الْإِمَامُ فِي الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ يَرْكَعُ مَعَهُ وَلَا يَقْرَأُ وَاِنْ كَبَّرَ الْإِمَامُ وَالْمَسْبُوْقُ فِي الْفَاتِحَةِ تَرَكَ الْبَقِيَّةَ وَتَابَعَهُ عَلَى الْمَذْهَبِ مُحَافَظَةً عَلَى الْمُتَابَعَةِ فَإِذَا سَلَّمَ الْإِمَامُ تَدَارَكَ الْمَأْمُوْمُ بَاقِيَ الصَّلاَةِ بِتَكْبِيْرَاتِهَا وَأَذْكَارِهَا (كفاية الأخيار، ج 1، ص 68، مكتبة دار إحياء الكتب)
(وَيُكَبِّرُ الْمَسْبُوْقُ وَيَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ وَإِنْ كَانَ الْإِمَامُ فِي غَيْرِهَا) كَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالدُّعَاءِ لِأَنَّ مَا أَدْرَكَهُ أَوَّلَ صَلاَتِهِ فَيُرَاعِى تَرْتِيْبَهَا (وَلَوْ كَبَّرَ الْإِمَامُ أُخْرَى قَبْلَ شُرُوْعِهِ فِي الْفَاتِحَةِ) بِأَنَّ كَبَّرَ عَقِبَ تَكْبِيْرِهِ (كَبَّرَ مَعَهُ وَسَقَطَتِ الْقِرَاءَةُ) عَنْهُ كَمَا لَوْ رَكَعَ الْإِمَامُ عَقِبَ تَكْبِيْرَةِ الْمَسْبُوْقِ فَإِنَّهُ يَرْكَعُ مَعَهُ وَيَتَحَمَّلُهَا عَنْهُ (وَإِنْ كَبَّرَهَا وَهُوَ) أَي الْمَأْمُوْمُ (فِي) أَثْنَاءِ (الْفَاتِحَةِ تَرْكُهَا وَتَابَعَهُ) أَي الْإِمَامُ فِي التَّكْبِيْرِ (فِي الْأَصَحِّ) وَتَحْمِلُ عَنْهُ بَاقِيَهَا كَمَا إِذَا رَكَعَ الْإِمَامُ وَالْمَسْبُوْقُ فِي أَثْنَاءِ الْفَاتِحَةِ وَلَا يُشْكِلُ هَذَا بِمَا مَرَّ مِنْ أَنَّ الْفَاتِحَةَ لَا تَتَعَيَّنُ فِي الْأُوْلَى لِأَنَّ الْأَكْمَلَ قِرَاءَتُهَا فِيْهَا فَيَتَحَمَّلُهَا عَنْهُ الْإِمَامُ وَلَوْ سَلَّمَ الْإِمَامُ عَقِبَ تَكْبِيْرَةِ الْمَسْبُوْقِ لَمْ تَسْقُطْ عَنْهُ الْقِرَاءَةُ وَتَقَدَّمَ فِي نَظِيْرِ الثَّانِيَةِ ثُمَّ إِنَّهُ إِنِ اشْتَغَلَ بِافْتِتَاحٍ أَوْ تَعَوُّذٍ تَخَلَّفَ وَقَرَأَ بِقَدْرِهِ وَإِلَّا تَابَعَهُ وَلَمْ يَذْكُرْهُ الشَّيْخَانُ هُنَا قَالَ فِي الْكِفَايَةِ وَلَا شَكَّ فِي جِرْيَانِهِ هُنَا بِنَاءً عَلَى نَدْبِ التَّعَوُّذِ أَي عَلَى الْأَصَحِّ وَالْاِفْتِتَاحِ أَيْ عَلَى الْمَرْجُوْحِ وَبِهِ صَرَّحَ الْفَوْرَانِيُّ (وَإِذَا سَلَّمَ الْإِمَامُ تَدَارَكَ الْمَسْبُوْقُ) حَتْمًا (بَاقِيَ التَّكْبِيْرَاتِ بِأَذْكَارِهَا) وُجُوْبًا فِي الْوَاجِبِ وَنَدْبًا فِي الْمَنْدُوْبِ كَمَا يَأْتِيْ فِي الرَّكَعَاتِ بِالْقِرَاءَةِ وَغَيْرِهَا (وَفِي قَوْلٍ لَا تُشْتَرَطُ الْأَذْكَارُ) بَلْ يَأْتِيْ بِبَاقِيِ التَّكْبِيْرَاتِ نَسْقًا لِأَنَّ الْجَنَازَةَ تُرْفَعُ بَعْدَ سَلاَمِ الْإِمَامِ فَلَيْسَ الْوَقْتُ وَقْتَ تَطْوِيْلٍ قَالَ الْمُحِبُّ الطَّبْرِيْ وَمَحَلُّ الْخِلَافِ إِذَا رُفِعَتِ الْجَنَازَةَ فَإِنْ اتَّفَقَ بَقَاؤُهَا لِسَبَبِ مَا أَوْ كاَنَتْ عَلَى غَائِبٍ فَلاَ وَجْهَ لِلْخِلَافِ بَلْ يَأْتِيْ باِلْأَذْكاَرِ قَطْعًا قَالَ الْأَذْرَعِيُّ وَكَأَنَّهُ مِنْ تَفَقُّهِهِ وَإِطْلَاقِ الْأَصْحَابِ يَفْهَمُ عَدَمَ الْفَرْقِ اهـ (مغني المحتاج، ج 1، ص 512، دار المعرفة بيروت لبنان)
Hukum Menshalati Orang yang Mati Bunuh Diri
Merupakan kewajiban bagi orang muslim terhadap orang yang meninggal dunia adalah menshalati, bagaimanakah hukum menshalati jenazah karena mati bunuh diri?
- Tidak boleh, karena nabi melarang untuk menshalati orang yang meninggal dunia karena bunuh diri.
- Boleh, karena orang tersebut masih dikatakan orang muslim.
وَإِنَّمَا اخْتَلَفُوْا فِي الصَّلَاةِ عَلَى مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ لِحَدِيْثِ جَابِرِ بْنِ سَمْرَةً أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَى أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رَجُلٍ قَتَلَ نَفْسَهُ فَمَنْ صَحَّحَ هَذاَ الْأَثَرِ قَالَ: لَا يُصَلَّى عَلَى قَاتِلِ نَفْسِهِ وَمَنْ لَمْ يُصَحِّحْهُ رَأَى أَنَّ حُكْمَهُ حُكْمُ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ كَمَا وَرَدَ بِهِ الْأَثَرُ لَكِنْ لَيْسَ هُوَ مِنَ الْمُخَلِّدِيْنَ لِكَوْنِهِ مِنْ أَهْلِ الْإِيْمَانِ (بداية المجتهد، ج 1، ص240)
وَفِىْ مُسْلِمٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ: أَنَّ رَجُلًا قَتَلَ نَفْسَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَوَى الدَّارُقُطْنِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ بِإِسْنَادِهِمَا الصَّحِيْحُ عَنْ مَكْحُوْلٍ عَنْ أَبِىْ هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: صَلُّوْا خَلْفَ كُلِّ بِرٍّ وَ فَاجِرٍ، وَصَلُّوْا عَلَى كُلِّ بِرٍّ وَ فَاجِرٍ، وَجَاهِدُوْا مَعَ كُلِّ بِرٍّ وَ فَاجِرٍ (المجموع شرح المهذب، ج 6، ص 266)
Shalat Ghaib
Shalat ghaib adalah shalat yang jenazahnya tidak berada di tempat. Bisa jadi jenazahnya sudah dimakamkan atau berada di tempat lain. Hal ini biasa dan bisa dilakukan dimana saja, apalagi ketika yang meninggal adalah para ulama’. Bagaimana hukum pelaksanaan shalat ghaib tersebut?
- Sah, jika jenazah berada diluar daerah atau sudah dimakamkan. Berdasarkan hadist Nabi, bahwa Rasulullah SAW menshalati orang Najasyi Ra. di Madinah ketika dia wafat di Habasyah. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Nihayah al-Zain, hlm. 159:
وَتَصِحُّ الصَّلاَةُ عَلَى غَا ئِبٍ عَنْ بَلَدٍ لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى النَّجَاشِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِالْمَدِيْنَةِ يَوْمَ مَوْتِهِ بِاْلحَبَشَةِ (نهاية الزين، ص 159)
Dan dijelaskan dalam kitab Sunan Ibn Majâh, juz I, hlm. 481:
1532 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَمِيْدٍ، حَدَّثَنَا مِهْرَانُ بْنُ أَبِي عُمَرَ، عَنْ أَبِي سِنَانٍ عَنْ عَلْقَمَةَ ابْنِ مَرْثَدٍ، عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيْهِ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى علَىَ مَيِّتٍ بَعْدَ مَا دُفِنَ.
- Tidak sah, jika jenazah masih dalam satu daerah dan belum dimakamkan. Berdasarkan keterangan dalam kitab Nihayah al-Zain, hlm. 159:
لاَ تَصِحُّ الصَّلاَةُ عَلَى اْلمَيِّتِ الَّذِي فِيْهَا أَىْ اْلبَلَدِ الَّتِى كَانَ اْلمُصَلِّي حَاضِرًا فِيْهَا وَلَمْ يَحْضُرْ فِى ذَلِكَ اْلمَيِّتُ: وَإِنْ كَبُرَتْ اَلْبَلَدُ لَتَيَسَّرَ الحُضُورُ غَالِبًا (نهاية الزين، ص 159)
“Tidak sah shalat mayit di suatu daerah yang memungkinkan untuk datang, namun dia tidak menghadirinya: walaupun daerah tersebut luas dan mudah dijangkau”.
Shalat Jenazah bagi Wanita
Shalat jenazah adalah fardlu kifayah (yang mengerjakan satu menggugurkan kewajiban yang lain). Shalat jenazah bagi wanita hukumnya adalah sah. Tatapi ulama’ masih khilaf tentang apakah shalat jenazah orang wanita dapat menggugurkan kewajiban shalat jenazah bagi orang laki-laki?
- Menurut Imam Ibnu Muqri dan dikukuhkan oleh imam al-Romli bahwa shalatnya orang perempuan sah dan hanya dapat menggugurkan fardu kifayah dari golongan perempuan saja, artinya tidak dapat menggugurkan kewajiban kaum laki-laki.
وَاِذَا صَلَّتْ اَلْمَرْأَةُ سَقَطَ اَلْفَرْضُ عَنِ النِّسَاءِ (شرح المنهج ج 2، ص 181)
Perempuan yang shalat jenazah hanya bisa menggugurkan kewajiban bagi kalangan perempuan saja (tidak bisa menggugurkan kewajiban bagi laki-laki). (Sarayh, al-Minhaj, juz II, hal. 181)
- Menurut Ibnu Hajar, melaksanakan shalat jenazah bagi perempuan sah dan bisa menggugurkan kewajiban shalat jenazah bagi yang lain dengan syarat tidak ada orang laki-laki. Dan shalat jenazah tersebut disunnahkan pula berjama’ah bagi golongan perempuan.
أَمَّا إِذاَ لَمْ يَكُنْ غَيْرُهُنَّ فَتَلْزَمُهُنَّ وَتَسْقُطُ بِفِعْلِهِنَّ وَتُسَنُّ لَهُنَّ الْجَمَاعَةُ (شرح المنهج، ج 2، ص 181)
(Shalat jenazah) boleh bagi perempuan selagi tidak ada yang lain (orang laki-laki) dan juga dapat menggugurkan kewajiban orang laki-laki serta disunnahkan pelaksanaan shalat jenazah dengan berjama’ah. (Syarh al-Minhaj, juz II, hal. 181)
Hukum Shalat Jenazah di Atas Kuburan
Banyak orang yang ingin mengerjakan shalat jenazah. Apalagi jika yang meninggal adalah seorang ulama’. Tidak jarang, shalat jenazah dilakukan setelah mayit disemayamkan dalam kuburannya. Bagaimana hukum shalat jenazah di atas kuburan itu?
Menanggapi hal ini ulama’ Syafi’iyah mengatakan boleh dan sah hal ini didasarkan pada hadits:
عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَلَمَّا وَرَدْنَا الْبَقِيعَ إِذَا هُوَ بِقَبْرٍ جَدِيدٍ، فَسَأَلَ عَنْهُ، فَقَالُوا: فُلانَةٌ، فَعَرَفَهَا، فَقَالَ: أَلا آذَنْتُمُونِي؟ قَالُوا: كُنْتَ قَائِلاً صَائِمًا، فَكَرِهْنَا أَنْ نُؤْذِنَكَ، فَقَالَ: لاَ تَفْعَلُوا لأَعْرِفَنَّ مَا مَاتَ مِنْكُمْ مَيِّتٌ مَا كُنْتُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ إِلا دَعَوْتُمُونِي، فَإِنَّ صَلاتِي عَلَيْهِ رَحْمَةٌ قَالَ: ثُمَّ أَتَى الْقَبْرَ، فَصُفِفْنَا خَلْفَهُ، فَكَبَّرَ عَلَيْهَا أَرْبَعًا (مسند أحمد بن حنبل، ج 4 ص 388 )
Diriwayatkan dari Zaid Bin Tsabit Ra, beliau berkata kami pernah keluar bersama Nabi Saw. Ketika kami sampai di Baqi’, ternyata ada kuburan baru. Lalu beliau bertanya tentang kuburan itu. Sahabat bertanya, yang meninggal adalah seorang perempuan, dan ternyata beliau mengenalnya. Kemudian beliau bersabda Kenapa kalian tidak memberitahu aku tentang kematiannya?. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, anda (waktu itu) sedang tidur qailulah (tidur sebentar sebelum waktu dhuhur) dan berpuasa. Maka kami tidak ingin mengganggumu. Rasulullah menjawab: Jangan begitu, seorang tidak akan mati di antara kalian selama aku berada di tengah-tengah kalian kecuali kalian mengabarkannya kepadaku. Karena shalatku merupakan rahmat baginya. Lalu beliau mendatangi kuburan itu dan kami pun berbaris di belakang beliau. Kemudian beliau bertakbir empat kali (shalat jenazah) untuknya. (Musnad Ahmad bin Hanbal, juz 4, hal. 388)
Dari hadits di atas dapat dipahami bahwa shalat jenazah di atas kuburan adalah boleh. as-Sham’ani mengatakan:
وَالْحَدِيْثُ دَلِيْلٌ عَلَى صِحَّةِ الصَّلاَةِ عَلَى الْمَيِّتِ بَعْدَ دُفْنِهِ مُطْلَقاً سَوَاءٌ صَلِّى عَلَيْهِ قَبْلَ الدُّفْنِ أَمْ لاَ وَإِلَى هذَا ذَهَبَ الشَّافِعِيُّ. (سبل السلام، ج 2 ص 100)
Hadits itu secara mutlak menunjukkan sahnya shalat jenazah setelah dikuburkan, baik sebelum dikuburkan sudah dishalati atau belum. (Subul al-Salam, juz 2, hal. 100).
Imam Dar al-Quthni menambahkan shalat jenazah di depan kuburan tetap sah meskipun jenazah sudah satu bulan dimakamkan.
وَلَوْ صَلَّى عَلَى مَنْ دُفِنَ صَحَّتْ صَلاَتُهُ لِأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ صَلَّى عَلَى الْقَبْرِ بَعْدَ مَا دُفِنَ (رَوَاهُ الشَّيْخَانِ) زَادَ دَارُ القُّطْنِى بَعْدَ شَهْرٍ (كفاية الأخيار، ج 1 ص 157)
Imam al-Rouyani berkata meskipun mayat telah dikebumikan tetap sah menshalatinya karena Nabi pernah melakukan hal tersebut di atas kuburan setelah mayat di tanam, bahkan Imam Daru al-Quthni menambahkan, meskipun sudah melewati satu bulan. (Kifayah al-Akhyar, juz I, hal. 157)
Qadla’ Shalat untuk Mayit
Salah seorang keluarga si A meninggal dunia, selama dua bulan terakhir, dia tidak mengerjakan shalat. Lalu dia berwasiat, kalau nanti dia mati supaya shalatnya diqadla’i oleh ahli warisnya. Bagaimana hukumnya mengqadla’ shalat untuk orang yang sudah mati?
Shalat merupakan ibadah mahdloh, yaitu ibadah yang dilakukan seorang hamba dengan langsung berhubungan dengan sang Khalik. Maka pertanggungjawabannya kepada Allah Swt. secara pribadi. Berkaitan dengan shalat yang pernah ditinggalkan oleh orang yang mati maka ada beberapa pandangan:
- Tidak boleh dan tidak sah mengqadha’ shalatnya karena shalat termasuk ibadah badaniyah, sebagaimana telah dijelaskan;
وَلَوْ قَضَاهَا وَارِثُهُ بِأَمْرِهِ لَمْ يَجُزْ لِأَنَّهَا عِبَادَةٌ بَدَنِيَّةٌ (إعانة الطالبين، ج 1 ص 33)
Seandainya ahli warisnya mengqadla’i atas perintah si mayit sebelum mati, maka tidak diperbolehkan melaksanakannya, karena shalat itu merupakan ibadah badaniyah. (I’anah al-Tholibin, juz I, hal. 33)
- Tidak ada kewajiban qadla’ bagi ahli warisnya. Demikian juga mereka tidak berkewajiban menebusnya dengan harta yang ditinggalkan oleh si mayit, hanya saja sebagian ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa shalat yang ditinggalkan si mayit boleh di qadla’ oleh ahli warisnya, baik sebelum meninggal dunia dia berwasiat atau tidak. Sebagaimana dijelaskan dalam I’anah al-Thalibin, juz I, hal. 33.
مَنْ ماَتَ وَعَلَيْهِ صَلاَةُ فَرْضٍ لَمْ تُقْضَ وَلَمْ تُفْدَ عَنْهُ، وَفِيْ قَوْلٍ أَنَّهَا تُفْعَلُ عَنْهُ. أَوْصَى بِهَا أَمْ لَا، مَا حَكَاهُ الْعُبَادِي عَنِ الشَّافِعِيِّ لِخَبَرٍ فِيْهِ. وَفَعَلَ بِهِ اَلسُّبْكِيُّ عَنْ بَعْضِ أَقاَرِبِهِ (إعانة الطالبين، ج 1 ص 33)
Barang siapa yang mati dan punya tanggungan shalat, maka tidak wajib mengqadla’ dan membayar tebusan (oleh ahli waris). Dan dalam satu pendapat, bahwa shalat itu diqadla’, baik si mayit berwasiat atau tidak. Sebagaimana yang diriwayatkan al-Ubbady dari Imam Syafi’i. Imam Subki pernah mengerjakan (Qadla’ shalat) itu untuk kerabatnya. (I’anah al-Thalibin, juz I, hal.33)
Mengqodlo’ Puasa dan Haji untuk Mayit
Mengqodlo’ puasa dan haji untuk orang yang telah meninggal, yaitu melakukan puasa dan haji untuk orang yang sudah meninggal ketika dia masih mempunyai tanggungan puasa dan haji. Seperti keterangan sebagai berikut:
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ ماَتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
Diceritakan dari Siti Aisyah, Rasulullah Saw. bersabda: Apabila ada orang mati, sementara dia masih punya tanggungan puasa, maka walinya harus berpuasa untuknya. (Shahih Muslim, juz II, hal. 463, al-Jam’u Baina al-Sakhikhaini al-Bukhari, dan dalam kitab-kitab hadits yang lainnya)
وَحَدَّثَنِى عَلِىُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِىُّ حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ مُسْهِرٍ أَبُو الْحَسَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَطَاءٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ رضى الله عنه قَالَ بَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ إِنِّى تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّى بِجَارِيَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ – قَالَ – فَقَالَ «وَجَبَ أَجْرُكِ وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيرَاثُ». قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ كَانَ عَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَصُومُ عَنْهَا قَالَ «صُومِيْ عَنْهَا». قَالَتْ إِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ قَطُّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ «حُجِّيْ عَنْهَا». (صحيح مسلم)
Telah bercerita kepadaku Ali bin Hujrin al-Sa’dy, telah bercerita kepadaku Ali bin Mushir Abu al-Hasan dari Abdullah bin Ato’ dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya ra. beliau berkata: suatu hari aku duduk di samping Nabi SAW. kemudian ada seorang perempuan datang kepada Nabi dan ia berkata; sebenarnya aku bersedekah untuk ibuku dengan seorang hamba, sedangkan ibuku telah meninggal. Maka Nabi berkata: Pahalanya tetap bagimu dan harta warisannya tetap kembali kepadanu. Perempuan itu berkata lagi, Ya Rasulallah, sesungguhnya ibuku mempunyai tanggungan puasa Ramadlan, bolehkan aku puasa untuknya?. Rasul menjawab: Berpuasalah untuk ibumu. Kemudian perempuan itu bertanya lagi sebenarnya ibuku belum melaksanakan ibadah haji, bolehkan aku melakukan haji untuknya? Rasul menjawab: Berhajilah untuk ibumu. (Sahih Muslim)
Dengan demikian, haji yang belum ditunaikan dan puasa yang telah ditinggalkan oleh mayit bisa diqodho’.
Fidyah sebagai Ganti Puasa yang Ditinggal oleh Mayit
Ibadah puasa merupakan kewajiban yang dibebankan oleh Allah Swt. kepada seluruh umat Islam. Orang-orang yang memenuhi syarat wajib melaksanakannya. Jika pada suatu saat, orang tersebut tidak puasa ia berkewajiban mengganti puasa yang ditinggalkan tersebut pada lain hari. Persoalannya adalah, bagaimanakah jika orang itu tidak mengganti puasanya sampai ia meninggal dunia, bolehkah keluarga atau kerabatnya menggantikan puasanya tersebut?
Ada beberapa kemungkinan orang yang meninggal dunia yang belum mengganti puasanya.
- Pertama,orang tersebut meninggalkan puasa karena udzur, ia meninggal sebelum sempat mengganti puasanya, misalnya tidak ada waktu untuk mengqadla’ puasanya. Seperti orang yang meninggal dunia pada pertengahan puasa atau pada saat hari raya, atau karena sakit yang ia derita tak kunjung sembuh hingga ajal menjemputnya.
- Kedua,tidak puasa karena tidak ada udzur, tatapi orang tersebut memiliki kesempatan mengqadla’ puasanya, namun ia tidak mengganti puasa yang telah ditinggalkannya itu, baik karena malas atau alasan yang dibenarkan oleh syara’ kemudian ia meninggal dunia sebelum mengganti puasanya.
Jawaban:
- Pada contoh yang pertama, orang tersebut tidak punya kewajiban untuk mengganti puasanya, sebab ia tidak berbuat lalai atau meremehkan masalah agama.
- Pada contoh yang kedua, orang itu mati dengan meninggalkan hutang puasa. Maka ada dua pilihan yang dapat dilakukan oleh waris atau familinya, yaitu:
- Memberikan makanan kepada fakir miskin
- Mengqadla’ puasanya.
Sebagaimana yang diterangkan dalam kitab Nihayah al-Zain, hal. 192:
وَمَنْ ماَتَ وَعَلَيْهِ صِياَمُ رَمَضَانَ أَوْ نَذَرٌ أَوْ كَفاَرَةٌ قَبْلَ إِمْكاَنِ فِعْلِهِ بِأَنْ اِسْتَمَرَّ مَرَضُهُ اَلَّذِيْ لاَ يُرْجَى بُرْؤُهُ أَوْ سَفَرُهُ الْمُباَحُ إِلَى مَوْتِهِ فَلاَ تَدَارُكَ لِلْفاَئِتِ بِالْفِدْيَةِ وَلاَ بِالْقَضَاءِ وَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ لِعَدَمِ تَقْصِيْرِهِ فَإِنْ تَعَدَّى بِاْلإِفْطَارِ ثُمَّ ماَتَ قَبْلَ التَّمَكُّنِ وَبَعْدَهُ أَوْ أَفْطَرَ بِعُذْرٍ وَماَتَ بَعْدَ التَّمَكُّنِ أَطْعَمَ عَنْهُ وَلِيُّهُ مِنْ تِرْكَتِهِ لِكُلِّ يَوْمٍ فاَتَهُ مُدَّ طَعاَمٍ مِنْ غاَلِبِ قُوْتِ الْبَلَدِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ تِرْكَةٌ لَمْ يَلْزَمْ اَلْوَلِيَّ إِطْعاَمٌ وَلاَ صَوْمٌ بَلْ يُسَنُّ لَهُ ذلِكَ لِخَبَرٍ مَنْ ماَتَ وَعَلَيْهِ صِياَمٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ (نهاية الزين، ص 192)
Orang mati dengan meninggalkan puasa Ramadhan, nadar atau puasa kafarot, sedangkan ia belum sempat menggantinya, seperti sakit yang ia derita terus berkepanjangan dan sedikit harapan untuk sembuh, atau ia terus melakukan perjalanan mubah (perjalanan yang tidak untuk maksiat) sampai ia mati. Maka orang itu tidak perlu mengganti puasa yang ditinggalkannya, baik dengan puasa atau dengan membayar fidyah (makanan pokok), sebab ia tidak lalai. Tapi jika ia sengaja tidak berpuasa (tanpa sebab yang dibenarkan), kemudian orang tersebut mati, baik sebelum sempat atau telah punya waktu untuk mengganti puasanya. Atau orang itu tidak puasa karena ada alasan yang dibenarkan, kemudian meninggal setelah ia memiliki kesempatan untuk mengqadla’ puasanya, (dalam kedua masalah ini) wali atau keluarga si mayit harus memberikan satu mud makanan pokok daerah itu setiap satu hari. Makanan itu diambilkan dari tirkah (harta peninggalan) si mayit (dan diberikan kepada para fakir miskin). Apabila orang yang meninggal itu tidak memiliki harta, maka wali tidak wajib berpuasa atau membayar fidyah yang diambil dari hartanya sendiri, tapi (perbuatan itu) disunnahkan kepada si wali. Sesuai dengan hadits Nabi Saw. barang siapa yang mati sedangkan ia punya tanggungan puasa, maka walinya boleh berpuasa untuknya. (Nihayah al-Zain hal. 192)
Ketentuan ini sesuai dengan sabda Nabi;
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ فَلْيُطْعَمْ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينٌ (سنن ابن ماجه، ج 1 ص 558، رقم 1747)
Dari Ibnu Umar ia berkata, Rasulullah Bersabda; Barang siapa yang mati dan dia mempunyai kewajiban berpuasa, maka hendaklah setiap hari (ahli warisnya) memberi makan kepada fakir miskin. (Sunan Ibnu Majah [1747])
(قَوْلُهُ فَإِطْعَامُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْناً إلخ) تَمْلِيْكُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْناً أَوْ فَقِيْرًا كُلُّ وَاحِدٍ مُدُّ طَعَامٍ، وَلَيْسَ الْمُرَادُ أَنْ يَجْعَلَ ذَلِكَ طَعَامًا وَيُطْعِمُهُمْ إِيَّاهُ فَلَوْ غَدَاهُمْ أَوْعَشَاهُمْ لَا يَكْفِيْ (إعانة الطالبين، جزء 2، ص240)
Fidyah adalah membayar denda untuk mengganti kewajiban yang ditinggalkan dengan memberi makan kepada 60 orang fakir miskin, masing-masing orang, satu mud (6 ons).
Dengan demikian ada beberapa pilihan, apabila ada keluarga kita yang meninggal dunia dengan mempunyai hutang puasa, yakni bisa dengan mengqadla’ puasanya atau dengan membayar fidyah.
Hukum Mengqadha’ atau Membayar Fidyah untuk Mayit yang Meninggalkan Shalat dan Puasa dengan Dijama’ (Dilakukan secara Bergiliran oleh Orang Banyak)
Fidyah yaitu denda yang dikeluarkan sebagai tebusan dari kewa-jiban yang telah ditinggalkan oleh seseorang yang telah meninggal yang belum sempat mengqadha’ seperti shalat fardhu, puasa fardhu.
Bagi keluarga seyogyanya untuk menebus tanggungan-tanggungan yang telah di tinggalkan oleh si mayit dengan mengqadha’ shalat atau puasa yang telah ditinggalkannya, atau bisa dengan cara yang lebih praktis yaitu dengan membayar fidyah yaitu dengan bersedekah 6 ons beras (1 mud) sebagai tebusan 1 kali shalat/puasa fardhu, dan selan-jutnya dikalikan dengan jumlah shalat atau puasa yang ditinggalkan.
Membayar fidyah bisa menggunakan harta tinggalan si mayit, apabila si mayit tidak meninggalkan harta maka keluarga bisa mensiasatinya yaitu: mengqadha’ shalat, puasa atau menebus dengan membayar fidyah yang dilaksanakan dengan cara dijama’. Hal ini hukumnya adalah sah, karena bertujuan untuk meringankan keluarga yang kurang mampu. Keterangan dari kitab I’anah al-Thalibin;
وَلَوْ لَمْ يَتْرُكْ مَالًا يَسْتَقْرِضْ وَارِثُهُ نِصْفَ صَاعٍ مَثَلًا وَيَدْفَعُهُ لِفَقِيرٍ ثُمَّ يَدْفَعُهُ الْفَقِيرُ لِلْوَارِثِ ثُمَّ وَثُمَّ حَتَّى يَتِمَّ . (اعانة الطالبين، ج 1 ص 24)
Kalau si mayit tidak meninggalkan harta, maka ahli warisnya meminjam setengah sha’ makanan, kemudian dibayarkan kepada orang fakir (sebagai fidyah), kemudian orang fakir tersebut menyerahkan kembali makanan itu kepada ahli waris lagi, kemudian diserahkan lagi, diserahkan lagi, diserahkan lagi, sampai sempurna (fidyahnya). (I’anah al-Thalibin, juz 1, hal.24)
Catatan:
Bagi keluarga yang mampu lebih utama untuk melaksanakan fidyah dengan sempurna, (membayar secara penuh/tidak dijama’) karena hal itu kurang ada manfaatnya bagi si mayit dan menandakan kepada sifat bakhil atau pelit.
Kesaksian Terhadap Jenazah
Ketika jenazah hendak diberangkatkan ke pemakaman dilakukan acara ibro’ terlebih dahulu di hadapan masyarakat, keluarga dan sanak famili yang ditinggalkannya untuk memohonkan maaf buat jenazah atas kesalahannya dan penyelesaian hutang-piutang selama hidupnya. Dalam kesempatan itu yang menarik adalah permintaan kesaksian masyarakat (isyhad) terhadap nilai perilaku jenazah selama hidupnya. Bagaimanakah hukum memberi kesaksian kepada jenazah yang akan diberangkatkan ke pemakaman?
Tradisi ibro’ yang telah berlaku di masyarakat ini hukumnya boleh (disunnahkan), bahkan dianjurkan memberi pujian baik kepada jenazah asalkan si mayit memang pantas untuk dipuji. Sebagaimana keterangan di bawah ini:
وَيُسْتَحَبُّ الثَّنَاءُ عَلَى الْمَيِّتِ وَذِكْرُ مَحَاسِنِهِ (الأذكار النواوى، ص 150)
Disunnahkan memuji atas mayit dan menyebutkan kebaikannya. (al-Adzkar al-Nawawi, hal. 150)
(فَإِنْ رَأَى خَيْرًا سُنَّ ذِكْرُهُ) لِيَكُوْنَ أَدْعَى لِكَثْرَةِ الْمُصَلِّينَ عَلَيْهِ وَالدَّاعِينَ لَهُ وَلِخَبَرِ ابْنِ حِبَّانِ وَالْحَاكِمِ اُذْكُرُوْا مَحَاسِنَ مَوْتَاكُمْ وَكَفُّوا عن مَسَاوِيهِمْ
Sunnah hukumnya menyebut kebaikan si mayit apabila mengetahuinya. Tujuannya tiada lain untuk mendorong agar lebih banyak yang memintakan rahmat dan berdoa untuknya. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Ibnu Hibban dan Hakim: Sebutlah kebaikan seseorang yang meninggal dunia dan hindari membuka aibnya. (Fath al-Wahab, bab Kitab al-Janaaiz juz 1 hal. 91)
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «أَيُّمَا مُسْلِمٍ شَهِدَ لَهُ أَرْبَعَةٌ بِخَيْرٍ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ». قَالَ قُلْنَا: وَثَلاَثَةٌ قَالَ: «وَثَلاَثَةٌ». قَالَ قُلْنَا: وَاثْنَانِ قَالَ: «وَاثْنَانِ». قَالَ: لَمْ نَسْأَلْهُ عَنِ الْوَاحِدِ رواه الْبُخَارِىُّ
Nabi bersabda: Setiap muslim yang disaksikan sebagai orang baik-baik oleh 4 orang, Allah akan memasukkan ke surga. Kami (para sahabat) bertanya: kalau disaksikan 3 orang? Nabi menjawab: kalau disaksikan 3 orang juga masuk surga. Kalau disaksikan 2 orang? Nabi menjawab: 2 orang juga. Kami (para sahabat) tidak menanyakan lagi bagaimana kalau hanya disaksikan oleh 1 orang. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab sahihnya. (Riyadh al-Shalihin, bab Fadl Man Maata Lahu Aulaadun Shighor, hal 388).
Budaya Memberi Makan pada Para Penta’ziyah
Di sebagian masyarakat terdapat budaya yang menurut sebagian orang agak aneh, budaya tersebut adalah budaya memberikan makan kepada para penta’ziyah ketika berta’ziyah kepada sanak famili, kerabat atau tetangga yang meninggal dunia. Dikata aneh karena, ketika hari berduka, keluarga yang ditinggal mati malah harus menyediakan makanan untuk menjamu para tamu yang berta’ziyah. Dari gambaran tersebut, bagaimanakah sebenarnya pendapat ulama’ menanggapi tradisi tersebut?
Terdapat beberapa pendapat ulama’ mengenai tradisi tersebut, sebagaimana keterangan berikut ini:
- Tidak boleh dan haram, apabila biaya penjamuan tersebut diambilkan dari harta peninggalan si mayit dan masih ada mahjur ‘alaih dari ahli warisnya (anak yang ditinggalkan/anak yatim), atau tanpa mendapat ridha/persetujuan dari sebagian ahli waris.
- Makruh, apabila mendapat ridha/persetujuan dari ahli waris, atau hidangan itu tidak diambilkan dari harta peninggalan si mayit, namun kemakruhan itu tidak menghilangkan pahala sedekah, kalau yang dimaksudkan sedekah itu adalah menjaga perasaan dari orang banyak.
Sebagaimana keterangan dalam kitab al-Fatawi al-Kubra, juz 1 hal. 398:
(فَأَ جَابَ) بِقَوْلِهِ جَمِيْعُ مَا يُفْعَلُ مِمَّا ذُكِرَ فِى السُّؤَالِ مِنَ الْبِدَعِ الْمَذْمُوْمَةِ لَكِنْ لَا حُرْمَةَ فِيْهِ إِلَّا إِنْ فُعِلَ شَيْءٌ مِنْهُ لِنَحْوِ نَائِحَةٍ أَوْ رِثَاءٍ وَمَنْ قَصَدَ بِفِعْلِ شَيْئٍ مِنْهُ دَفْعَ أَلْسِنَةِ الْجُهَّالِ وَحَوْضِهِمْ فِى عِرْضِهِ بِسَبَبِ التَّرْكِ يُرْجَى أَنْ يُكْتَبَ لَهُ ثَوَابُ ذلِكَ آخِذًا مِنْ أَمْرِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِى الصَّلَاةِ بِوَضْعِ يَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ. وَعَلَّلُوْا بِصَوْنِ عِرْضِهِ عَنْ حَوْضِ النَّاسِ فِيْهِ لَوْ إِنْصَرَفَ عَلَى غَيْرِ هَذِهِ الْكَيْفِيَّةِ وَلَايَجُوْزُ أَنْ يُفْعَلَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ مِنَ التِّرْكَةِ حَيْثُ كَانَ فِيْهَا مَحْجُوْرٌ عَلَيْهِ مُطْلَقًا أَوْ كَانُوْا كُلُّهُمْ رُشَدَاءَ لَكِنْ لَمْ يَرْضَ بَعْضُهُمْ. إهـ (الفتاوى الكبرى، ج 1 ص 389)
Ia menjawab: Semua yang dilakukan itu seperti yang tersebut dipertanyaaan tadi termasuk bid’ah yang tercela, tetapi tidak haram, kecuali jika itu dilakukan untuk na’ihah/niyahah (menangisi kematian sambil memukul-mukul wajah dengan mencakar baju) atau untuk ritsa’ (meratapi kematian). Barang siapa melakukan itu dengan sengaja, maka ia terjerumus dalam tradisi orang-orang bodoh, karena harga dirinya akan jatuh jika tidak melakukan itu. Dengan itu diharapkan akan tertulis pahala untuknya, dengan mengambil dasar dari perintah Rasulullah Saw. Kepada orang yang berhadas di dalam shalat agar menyumbat tangannya pada hidungnya. Menjaga harga diri dimata masyarakat maksudnya harga dirinya akan jatuh jika ia tidak melakukan tradisi tersebut, dan itu tidak boleh dilakukan dengan menggunakan biaya dari harta peninggalan jika di antara ahli waris masih terdapat mahjur ‘alaih (misalnya anak yatim) secara mutlak, atau ahli warisnya sudah dewasa semua tetapi ada sebagian mereka yang tidak rela (atas penggunaan harta tersebut). (al-Fatawi al-Kubra, juz 1 hal. 398)
Keterangan mengenai hal ini juga terdapat pada kitab Risalah Ashbabi al-Quwwah Fii Ihsani al-Qudwah, hal 85.
Adapun hukum makan di samping jenazah, dan memakan makanan orang yang meninggal hukumnya juga makruh. Sebagai-mana keterangan di bawah ini:
اَلثّاَنِي وَالْعِشْرُوْنَ، أَنْ يَأْكُلَ عِنْدَ الْجَنَازَةِ لِأَنَّهُ يُنَافِى الاِعْتِبَارَ بِهَا وَهُوَ مَنْدُوْبٌ. إهـ (رسالة أسباب القوة فى إحسان القدوة، ص 85)
(Larangan) yang kedua belas adalah makan di sisi jenazah, karena demikian itu bisa menghilangkan pengambilan pelajaran dari kematian, sedangkan pengambilan pelajaran dari kematian itu disunatkan.(Risalah Asbaab al-Quwwah fii Ihsaani al-Qudwah, hal. 85)
وَيُكْرَهُ الْاَكْلُ فِى السُّوْقِ بِمَا رَأَى النَّاسُ وَفِى الطَّرِيْقِ وَعِنْدَ الْقَبْرِ وَعِنْدَ الْجَنَازَةِ وَأَكْلُ طَعَامِ الْمَيِّتِ. إهـ (الطريقة المحمدية)
Dilarang (secara makruh), makan di pasar yang terlihat oleh orang banyak, di jalan, di kuburan, dan di sisih jenazah, serta memakan makanan orang mati.(at-Thariiqah al-Muhammadiyah)
Keterangan tentang permasalahan ini juga terdapat dalam kitab Kasyf as-Syubuhat oleh Syaikh Mahmud Hasan Rabi’, hal. 131. Dan dalam kitab al-Fuyudhat ar-Rabbaniyah hal. 85.
- Boleh, dan pahalanya sampai kepada mayit
رَوَى اِبْنُ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّيْ قَدْ تُوُفِّيَتْ أَيَنْفَعُهَا أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهَا فَقَالَ نَعَمْ قاَلَ فَإِنَّ لِيْ مِخْرَفًا فَأُشْهِدُكَ إِنِّي قَدْ تَصَدَّقْتُ بِهَا عَنْهَا (صحيح البخاري باب الجنائز)
Ibnu Abbas meriwayatkan, bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw.: “Sesungguhnya ibuku sudah meninggal, apakah bermanfaat baginya kalau aku bersedekah atas namanya?”, Rasulullah Saw. Menjawab “Ya”. Kemudian orang itu berkata, “Sesungguhnya aku memiliki sekeranjang buah, maka aku ingin engkau menyaksikan bahwa sesungguhnya aku menyedekahkannya atas namanya”. (Sahih al-Bukhari bab Janaiz)
Hukum Berpakaian Hitam ketika Melayat
Sudah menjadi tradisi di Indonesia khususnya di daerah per-kotaan ketika ada yang meninggal dunia keluarga yang berduka atau pelayat biasanya memakai pakaian warna hitam untuk menunjukkan rasa bela sungkawa kepada keluarga yang sedang berkabung.
Lantas bagaimana hukum memakai pakaian warna hitam ketika ber-ta’ziyah/melayat?
Hukum memakai pakaian warna hitam ketika berta’ziyah adalah sebagai berikut:
- Makruh bagi laki-laki
وَيُكْرَهُ لِلرِّجَالِ تَسْوِيدُ الثِّيَابِ وَتَمْزِيقُهَا لِلتَّعْزِيَةِ (فتاوي الهندية، ج 1، ص 167)
Dimakruhkan bagi laki-laki, memakai pakaian hitam dan menyobek-nyobek baju, karena berbela sungkawa. (Fatawi al-Hindiyah, juz 1, hal. 168)
- Boleh bagi wanita
لُبْسُ السَّوَادِ فِي الْحِدَادِ اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْمُتَوَفَّى عَنْهَا زَوْجُهَا لُبْسُ السَّوَادِ مِنَ الثِّيَابِ (الموسوعة الفقهية، ج 11، ص 351)
Ulama’ ahli fiqih bersepakat: bahwa wanita yang memakai pakaian hitam ketika berbela sungkawa hukumnya diperbolehkan apabila yang meninggal itu suaminya. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, juz 11, hal. 351)
وَيُكْرَهُ لِلرِّجَالِ تَسْوِيدُ الثِّيَابِ وَتَمْزِيقُهَا لِلتَّعْزِيَةِ وَلَا بَأْسَ بِالتَّسْوِيدِ لِلنِّسَاءِ. (فتاوي الهندية، ج 1، ص 167)
Dimakruhkan bagi laki-laki, memakai pakaian hitam dan menyobek-nyobek baju, karena berbela sungkawa, dan diperbolehkan bagi perempuan untuk memakai pakaian hitam. (Fatawi al-Hindiyah, juz 1, hal. 168)
Mengantar Jenazah Sambil Mengucap Lafadz Laa Ilaha Illallah
Sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat apabila mengiringi jenazah menuju ke pemakaman, dengan diiringi bacaan kalimat tahlil (Laa Ilaha Illallah). Bagaimanakah hukum membaca kalimat tersebut?
Tradisi seperti itu sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, dan amalan tersebut tidak dilarang oleh agama, sebab selain mengandung nilai-nilai kebaikan dengan berdzikir kepada Allah Swt. Perbuatan itu tentu jauh lebih baik dari pada berbicara masalah duniawi dalam suasana berkabung, sebagaimana dijelaskan oleh syekh Muhammad Bin A’lan al-Siddiqi dalam kitabnya al-Futuhat ar-Rabbaniyah:
وَقَدْ جَرَتْ اَلْعَادَةُ فِىْ بَلَدِناَ زَبِيْدٍ بِالْجَهْرِ باِلذِّكْرِ أَماَمَ الْجَناَزَةِ بِمَحْضَرٍ مِنَ اْلعُلَمَاءِ وَاْلفُقَهَاءِ وَالصُّلَحَاءِ وَقَدْ عَمَّتْ اَلْبَلْوَى بِمَا شَاهِدْناَهُ مِنْ اِشْتِغَالٍ غاَلِبٍ الْمُشَيِّعِيْنَ بِالْحَدِيْثِ اَلدُّنْيَوِيِّ وَرُبَّمَا أَدَاهُمْ ذَلِكَ إِلَى الْغِيْبَةِ أَوْ غَيْرِهَا مِنَ اْلكَلاَمِ اَلْمُحَرَّمَةِ فَالَّذِيْ اِخْتَارَهُ إِنَّ شُغْلَ إِسْمَاعِهِمْ بِالذِّكْرِ اَلْمُؤَدِّيْ إِلَى تَرْكِ اْلكَلاَمِ وَتَقْلِيْلِهِ أَوْلَى مِنِ اسْتِرْسَالِهِمْ فِى اْلكَلاَمِ الدُّنْيَوِيِّ اِرْتِكَاباً بِأَخَّفِ الْمَفْسَدَتَيْنِ. كَماَ هُوَ الْقَاعِدَةُ الشَّرْعِيَّةُ وَسَوَاءٌ اَلذِّكْرُ وَالتَّهْلِيْلُ وَغَيْرُهَا مِنْ أَنْوَاعِ الذِّكْرِ وَاللهُ أَعْلَمُ (الفتوحات الربانية على اذكر النواوية، ج 4 ص 183)
Telah menjadi tradisi di daerah kami Zabith untuk mengeraskan dzikir di hadapan jenazah (ketika mengantar ke kuburan). Dan itu dilakukan di hadapan para ulama’, ahli fiqih dan orang-orang saleh. Dan sudah menjadi kebiasaan buruk yang telah kita ketahui, bahwa ketika mengantarkan jenazah, orang-orang sibuk dengan perbincangan masalah-masalah duniawi, dan tidak jarang perbincangan itu menjerumuskan mereka ke dalam ghibah atau perkataan lain yang diharamkan. Adapun hal yang terbaik adalah mendengarkan dzikir yang menyebabkan mereka tidak berbicara atau meminimalisir pembicaraan adalah lebih utama dari pada membiarkan mereka bebas membicarakan masalah-masalah duniawi. Ini sesuai dengan prinsip memilih yang lebih kecil mafsadahnya, yang merupakan salah satu kaidah syar’iyah. Tidak ada bedanya apakah yang dibaca itu dzikir, tahlil ataupun yang lainnya, wa-Allahu a’lam. (al-Futuhat al-Rabbaniyah ‘ala Adzkari al-Nabawiyah, juz 4, hal. 183)
Dan lebih jelas lagi diterangkan dalam kitab Tanwirul Qulub, bahwa disunnahkan melantunkan ayat-ayat al-Qur’an, membaca dzikir atau membaca shalawat kepada nabi Muhammad Saw., dan dilarang gaduh atau berbincang-bincang tentang perkara yang tidak berguna:
وَيُسَنُّ الْمَشْيُ أَمَامَهَا وَقُرْبَهَا وَاْلإِسْرَاعُ بِهَا وَالتَّفَكُّرُ فِى الْمَوْتِ وَماَبَعْدَهُ. وَكُرِهَ اللُّغَطُ وَالْحَدِيْثُ فِيْ أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَرَفْعِ الصَّوْتِ إِلاَّ بِالْقُرْأَنِ وَالذِّكْرِ وَالصَّلاَتِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلاَ بَأْسَ بِهِ اْلآنَ لِأَنَّهُ شِعَارٌ لِلْمَيِّتِ (تنوير القلوب، ص 213)
Para pengantar jenazah yang berjalan kaki disunnahkan berjalan di depan keranda atau di dekatnya sambil berjalan cepat dan berfikir tentang dan sesudah mati. Tetapi tidak disunnahkan bagi para pengantar jenazah untuk gaduh, bercakap-cakap urusan dunia, apalagi dengan suara keras, kecuali melantunkan ayat-ayat al-Qur’an, membaca dzikir, atau shalawat kepada nabi karena hal ini menambah syi’ar bagi si mayit. (Tanwir al-Qulub, hal. 213)
Tata Cara Membawa Jenazah ke Pemakaman
Pada saat mayat atau jenazah dibawa ke kuburan/pemakaman akan dimakamkan dan diiringi dengan baca’an tahlil, yang didahulukan kepala atau kakinya?
Disunahkan mendahulukan kepalanya untuk mengikuti arah jalan, baik itu berjalan ke arah qiblat maupun bukan. Sebagaimana diterangkan dalam kitab: Tukhfah al-Mukhtaj Fii Syarhi al-Minhaj:
قَوْلُهُ (إِلَى تَنْكِيْسِ رَأْسِ الْمَيِّتِ) يُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّ السُّـنَّةَ فِىْ وَضْعِ رَأْسِ الْمَيِّتِ فِى حَالِ السَّيْرِ أَنْ يَكُوْنَ إِلَى جِهَّةِ الطَّرِيْقِ سَوَاءٌ اَلْقِبْلَةَ وَغَيْرَهَا بَصْرِىٌّ قَوْلُ الْمَتَنِ. (تحفة المحتاج فى شرح المنهاج فصل فى تكفين الميت، ج 4 ص 71)
Perkataan (Sampai membalikkan kepala mayit) diambil dari perkataan tersebut, sesungguhnya sunnah meletakkan kepala mayit ketika berjalan/ membawa ke makam sesuai arah jalan yang dilalui, baik menghadap kiblat atau tidak. Seperti dikatakan Sayid Umar Bashry. (Tukhfah al-Mukhtaj Fii Syarhi al-Minhaj, juz 4 hal. 71)
Juga terdapat dalam kitab Mauhibah dzii al-Fadhli juz 3 hal. 424. Hawasyi al-Syarwani Wa al-Ubadi Fashl Fii Takfin al-Mayit.
Tata Cara Mengiringi Jenazah
Ketika seseorang meninggal dunia, maka ada 4 kewajiban yang harus dilakukan oleh orang yang masih hidup, yaitu memandikan, mengkafani, menshalati, dan memakamkan.
Adapun tata cara mengantarkan jenazah ke pemakaman, yaitu:
- Berjalan di depan atau di belakang jenazah.
- Berjalan di sebelah kanan maupun kiri jenazah.
- Berjalan di belakang jenazah bagi orang yang menggunakan kendaraan.
Sebagaimana yang termaktub dalam Sunan Ibn Mâjah, juz I, hlm. 475:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، وَهِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، وَسَهْلُ بْنُ أَبِيْ سَهْلٍ، قَالُوْا: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَالِمٍ، عَنْ أَبِيْهِ، قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ، يَمْشُوْنَ أَمَامَ الجَنَازَةِ (سنن ابن ماجه، ج 1 ص 475 رقم الحديث 1482)
Sunan Abi Daud, juz II, hlm. 82:
حَدَّثَنَا القَعْنَبِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: «رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَمْشُوْنَ أَمَامَ الْجَنَازَةِ» (سنن أبي داود، ج 2، ص 82)
حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ عَنْ خَالِدٍ عَنْ يُوْنُسَ عَنْ زِيَادِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، قَالَ: وَأَحْسَبُ أَنَّ أَهْلَ زِيَادٍ أَخْبَرُوْنِيْ أَنَّهُ رَفْعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «اَلرَّاكِبُ يَسِيْرُ خَلْفَ الْجَنَازَةِ وَالْمَاشِي يَمْشِيْ خَلْفَهَا وَأَمَامَهَا وَعَنْ يَمِيْنِهَا وَعَنْ يَسَارِهَا قَرِيْباً» (سنن أبي داود، ج 2 ص 82)
Beberapa hadits di atas menjelaskan bahwa Nabi Saw. ketika mengiringi jenazah pernah berjalan di depan jenazah. Dan ketika membawa jenazah disunnahkan untuk mempercepat langkah dengan tidak berlebihan agar tidak membahayakan orang lain dan jenazah. Karena meskipun menyegerakan jenazah itu hukumnya sunnah, bukan berarti harus mengambil resiko yang bisa membahayakan orang lain. Sebagaimana diterangkan dalam kitab Raudhah al-Thâlibîn, hlm. 228:
فَصْلٌ: الْمَشْيُ أَمَامَ الجَنَازَةِ أَفْضَلُ لِلرَّاكِبِ وَالْمَاشِيِ، وَالأَفْضَلُ أَنْ يَكُوْنَ قَرِيْبًا مِنْهَا، بِحَيْثُ لَوِ الْتَفَتَ رَآهَا، وَلاَ يَتَقَدَّمَهَا إِلىَ الْمَقْبَرَةِ، فَلَوْ تَقَدَّمَ لَمْ يُكْرَهْ، وَهُوَ بِالْخِيَارِ، إِنْ شَاءَ قَامَ مُنْتَظِرًا لَهَا، وَإِنْ شَاءَ قَعَدَ. وَالسُّنَّةُ الْإِسْرَاعُ بِالْجَنَازَةِ، إِلاَّ أَنْ يَخَافَ مِنَ الْإِسْرَاعِ تَغَيُّرَ الْمَيِّتِ فَيَتَأَنَّى وَالْمُرَادُ بِالْإِسْرَاعِ فَوْقَ الْمَشْيِ الْمُعْتَادِّ دُوْنَ الْخَبَبِ فَإِنْ خِيْفَ عَلَيْهِ تَغَيُّرٌ أَوْ اِنْفِجَارٌ أَوْ اِنْتِفَاخٌ زِيْدَ فِي الْإِسْرَاعِ (روضة الطالبين، ص 228)
Tata Cara Memasukkan Jenazah ke Liang Lahat
Manusia adalah makhluk yang paling mulia dalam penciptaannya dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Oleh karena itu ketika manusia sudah meninggal dunia harus diberlakukan dengan terhormat, mulai dari tata cara memandikannya, mengkafani, menyalati dan menguburkannya tidak boleh sembarangan atau asal-asalan. Bagaimanakah tata cara memasukkan jenazah ketika hendak dimakamkan dalam liang lahat?
Ada beberapa cara atau tehnik untuk memasukkan jenazah ke liang lahat yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya, sebagai berikut:
- Dari arah kedua kaki si mayit, menurut sahabat Abdullah bin Yazid dan diikuti oleh Imam Hadawiyah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad
- Mendahulukan kepala si mayit, menurut sahabat Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’i
- Memasukkan jenazah dari arah kiblat dengan cara melintang agar lebih mudah, menurut Imam Abu Hanifah.
- Dan setelah jenazah dimasukkan ke liang lahat, sebelum menguburkan jenazah, sesuai perintah Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu, (tali yang mengikat kain kafan si mayit harus dilepas)
Sebagaimana keterangan di bawah ini:
عَنْ أَبِىْ إِسْحَاقَ قَالَ أَوْصَى الْحَارِثُ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ يَزِيْدَ فَصَلَّى عَلَيْهِ ثُمَّ أَدْخَلَهُ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيِ الْقَبْرِ وَقَالَ هَذَا مِنَ السُّنَّةِ. رواه أبو داود وسعيد في سننه (نيل الأوطار، ج 4 ص 91)
Abu Ishaq berkata: al-Harist pernah berwasiat agar dia dishalatkan oleh Abdulloh bin Yazid. (Pada saat al-Harits meninggal) Abdullah bin Yazid menyalatkan jenazahnya kemudian memasukkannya ke liang lahat dari arah kedua kakinya sambil berucap: “Demikian ini hukumnya sunnah”. HR. Abu Dawud dan Said.(Nail al-Authar, juz 4, hal. 91)
وَفِى الْمَسْأَلَةِ ثَلَاثَةُ أَقْوَالٍ. اَلْأَوَّلُ مَا ذَكَرَهُ وَإِلَيْهِ ذَهَبَتِ اْلهَادَوِيَّةُ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ. وَالثّاَنىِ يُسَلُّ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ لِمَا رَوَى الشَّافِعِيُّ عَنِ الثِّقَةِ مَرْفُوْعًا مِنْ حَدِيْثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ سَلَّ مَيِّتًا مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ وَهَذَا أَحَدُ قَوْلَيِ الشَّافِعِيِّ. وَالثَّالِثُ لِأَبِى حَنِيْفَةَ أَنَّهُ يُسَلُّ مِنْ قِبَلِ اْلقِبْلَةِ مُعْتَرِضًا إِذْ هُوَ أَيْسَرُ. (سبل السلام، ج 2 ص 109)
Dalam masalah di atas ada 3 pendapat: Pertama pendapat dari penulis kitab, “Bahwa pendapat tadi diikuti Imam Hadawiyah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Kedua, mengurus mayit dari kepala dulu, berdasar pada riwayat terpercaya dari Imam Syafi’i yang disandarkannya pada hadits Ibnu Abbas bahwa nabi mengurus mayit dari kepalanya. Ini salah satu dari dua pendapat Imam Syafi’i. Ketiga, pendapat dari Abu Hanifah, yakni mengurus mayit dari arah kiblat dengan cara melintang agar lebih mudah. (Subul as-Salam, juz 2, hal. 109)
وَرَوَى عَنْ عَلِيٍّ كَرَمَ اللهُ وَجْهَهُ قَالَ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَنَازَةِ رَجُلٍ مِنْ وَلَدِ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ فَاَمَرَ بِالسَّرِيْرِ فَوُضِعَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيِ اللَّحْدِ ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَسَلَّ سَلًّا ذَكَرَهُ الشَّارِحُ وَلَمْ يُخْرِجْهُ.
Diriwayatkan dari sahabat Ali Karramallahu Wajhahu, ia berkata: Rasulullah Saw. menyalati jenazah salah seorang anak Abdil Muththalib kemudian ia memerintahkan agar mayit diletakkan di dipan dan kedua kakinya ke arah liang lahat, lalu ia memerintahkan untuk mengubur mayit itu dan melepas tali yang mengikatnya. Demikian kata Syarih yang ia sendiri tidak meriwayatkan hadist tersebut. (Subul al-Salam, juz 2, hal. 109)
Hukum Mengubur Mayit sebelum Dishalati
Salah satu kewajiban merawat jenazah adalah menyolatinya, akan tetapi bagaimana hukummengubur mayit sebelum dishalati adalah Haram
وَالرَّابِعُ دَفْنُهُ فِي قَبْرٍ بَعْدَ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ فَيَحْرُمُ قَبْلَهَا وَإِنْ أَجْزَأَتْ بَعْدَهُ لِأَنَّ فِي الدَّفْنِ قَبْلَ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ إِزْرَاءٌ بِالْمَيِّتِ (نهاية الزين ص:153)
Mengubur Mayit di dalam Rumah
Pada umumnya mengubur jenazah di pemakaman, baik pemakaman keluarga atau pun pemakaman umum. Namun ada sebagian orang melakukan pemakaman tidak pada tempat yang semestinya, seperti mengubur anggota keluarga di dalam rumah karena begitu beratnya ditinggalkan orang yang yang disayanginya.
Bagaimana hukum mengubur jenazah di dalam rumah?
- Makruh kecuali karena ada hajat dan kemashlahatan. Sebagaimana dijelaskan pada kitab Mughni al-Muhtaj, juz I, hlm. 490:
وَفِىْ فَتَاوِى الْقَفَّالُ أَنَّ الدَّفْنَ بِالْبَيْتِ مَكْرُوْهٌ، قَالَ الْأَذْرَعِىُّ: إِلَّا أَنْ تَدْعُوْ إِلَيْهِ حَاجَةٌ أَوْ مَصْلَحَةٌ. عَلَى أَنَّ الْمَشْهُوْرَ أَنَّهُ خِلَافَ الْأَوْلَى لَامَكْرُوْهٌ. وَأَمَّا دَفْنُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِىْ بَيْتِهِ فَلِأَنَّ اللهُ تَعَالَى لَمْ يَقْبِضْ نَبِيًّا إِلَّا فِى الْمَوْضِعِ الَّذِىْ يَجِبُ أَنْ يُدْفَنَ فِيْهِ (مغنى المحتاج، ج 1، ص 490)
- Boleh mengubur mayat di dalam rumah dan pekarangan. Hal ini dijelaskan pada kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz VI, hlm. 282:
اَلثَّانِيَةُ: يَجُوْزُ الدَّفْنُ فِى الْبَيْتِ وَفِى الْمَقْبَرَةِ وَالْمَقْبَرَةُ أَفْضَلُ بِالْاِتِّفَاقِ. وَدَلِيْلُهَا فِى الْكِتَابِ، وَفِىْ مَعْنَى الْبَيْتِ الْبُسْتَانُ وَ غَيْرُهُ مِنَ الْمَوَاضِعِ الَّتِىْ لَيْسَتْ فِيْهَا مَقَابِرُ (المجموع شرح المهذب, ج 6، ص 282)
Cara Mengubur Jenazah yang Mati di Tengah Laut
Berbagai macam mata pencaharian keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ada yang bekerja menjadi pedagang, petani, kuli bangunan nelayan dan lain-lainnya. Bagi nelayan bekerja siang malam di tengah laut sudah terbiasa bahkan ada yang sampai berbulan-bulan. Terkadang ada diantara mereka yang meninggal pada waktu perjalan bekerja. Saat di daratan mudah saja memenuhi empat kewajiban (memandikan, mengkafani, menyolati dan mengubur) yang harus dilakukan pada jenazah nelayan tersebut.
Bagaimana cara mengubur mayat yang berada di tengah laut?
- Apabila dekat dengan daratan maka harus dikubur di daratan.
- Apabila jauh dari daratan maka ditenggelamkan dengan memberi papan agar supaya si mayat terapung dan bisa menepi dengan harapan ditemukan orang dan dikubur di daratan.
Sebagaimana dijelaskan di bawah ini:
اَلشَّرْحئُ: قَالَ أَصْحَا بُنَا -رَحِمَهُ اللهُ-: إِذَا مَاتَ مُسْلِمٌ فِى الْبَحْرِ وَمَعَهُ رِفْقُهُ: فَإِنْ كَانَ بِقُرْبِ السَّاحِلِ وَأَمْكَنَهُمْ الْخُرُوْجَ بِهِ إِلَى السَّاحِلِ، وَجَبَ عَلَيْهِمُ الخُرُوْجُ بِهِ، وَغُسْلُهُ وَ تَكْفِيْنُهُ وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ وَ دَفْنُهُ فِى السَّاحِلِ، قَالُوْا: فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْهُمْ– لِبُعْدِهِمْ مِنَ السَّاحِلِ، أَوْ لِخَوْفِ عَدُوٍّ، أَوْسَبُعٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ– لَمْ يَجِبُ الدَّفْنُ فِى السَّاحِلِ، بَلْ يَجِبُ غُسْلُهُ وَ تَكْفِيْنُهُ وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ، ثُمَّ يجْعَلُ بَيْنَ لَوْحَيْنِ وَ يُلْقَى فِى الْبَحْرِ لِيُلْقِيْهِ إِلَى السَّاحِلِ، فَلَعَلَّهُ يُصَادِفُهُ مَنْ يَدْفَنُهُ (المجموع شرح المهذب، ج 6، ص 285)
- Jika sulit mendapatkan daratan maka boleh melemparkan ke laut dan di beri beban , agar dapat tenggelam. Jika memungkinkan untuk dibawa kedarat maka tidak boleh dilemparkan ke laut. Hal ini dijelaskan pada kitab Fath al-Mu’in, hlm. 48:
نَعَمْ، مَنْ مَاتَ بِسَفِيْنَةٍ وَ تُعُذِّرَ الْبَرُّ جَازَ إِلْقَاؤُهُ فِى الْبَحْرِ وَ تَثْقِيْلُهُ لِيَرْسُبَ وَ اِلَّا فَلَا (فتح المعين، ص 48)
Mengubur Jenazah Memakai Peti
Pada umumnya masyarakat mengubur jenazah langsung pada liang lahat. Namun hal tersebut tidak bisa dilakukan pada daerah yang tanahnya gembur dan lembab, karena itu masyarakat yang hidup di daerah yang tanahnya mudah longsor terkadang menggunakan peti karena takut kuburannya longsor. Bagaimanakah hukum mengubur jenazah menggunakan peti?
- Makruh, jika tanah tidak gembur dan basah. Sebagaimana diterangkan pada kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz VI, hlm. 288:
يُكْرَهُ أَنْ يُدْفِنَ الْمَيِّتَ فِىْ تَابُوْتٍ إِلَّا إِذَا كَانَتِ الْأَرْضُ رِخْوَةً أوْنَدِيَةً (المجموع شرح المهذب، ج 6، ص288)
- Boleh, jika tanahnya itu gembur atau berair bahkan ada yang mengatakan wajib. Hal tersebut dijelaskan di bawah ini:
يُكْرَهُ أَنْ يُدْفِنَ الْمَيِّتَ فِىْ تَابُوْتٍ إِلَّا إِذَا كَانَتِ الْأَرْضُ رِخْوَةً أوْنَدِيَةً (المجموع شرح المهذب، ج 6، ص288)
وَكُرِهَ صُنْدُوْقٌ إِلَّا لِنَحْوِ نَدَاوَةٍ فَيَجِبُهُ (إعانة الطالبين، ج 2، ص 117 )
Hukum Mengubur Mayat Secara Massal
Akhir-akhir ini sering terjadi bencana alam, seperti tsunami, tanah longsor, gempa bumi, kebakaran, gunung meletus dan lain sebagainya. Dan dari beberapa bencana tersebut menyebabkan banyak korban meninggal dunia. Karena banyaknya korban meninggal dunia, hal ini berakibat pada sulitnya proses evakuasi dan penguburan. Walhasil, solusi yang diambil adalah dengan menguburkan mayat korban bencana secara massal dalam satu tempat. Menurut tinjauan fiqh, bagaimana hukum mengubur mayat dengan cara massal?
Hukum menguburkan mayat secara massal adalah sebagai berikut:
- Tidak boleh, apabila masih bisa menguburkannya secara normal (satu lubang kuburan untuk satu mayat)
- Boleh, apabila dalam keadaan darurat (tidak memungkinkan untuk menguburkan mayat dengan normal). Sebagaimana keterangan dalam kitab al-Muhadzdzab berikut ini:
وَلاَ يُدْفَنُ مَيِّتٌ فِيْ مَوْضِعٍ فِيْهِ مَيِّتٌ إِلاَّ أَنْ يُعْلَمَ أَنَّهُ قَدْ بَلِيَ وَلَمْ يَبْقَ مِنْهُ شَيْءٌ وَيُرْجَعُ فِيْهِ إِلَى أَهْلِ الْخُبْرَةِ بِتِلْكَ اْلأَرْضِ وَلاَ يُدْفَنُ فِيْ قَبْرٍ وَاحِدٍ اِثْناَنِ لِأَنَّ النَّبِيَ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَدْفَنْ فِي كُلِّ قَبْرٍ إِلاَّ وَاحِدًا فَإِنْ دَعَتْ إِلَى ذلِكَ ضَرُوْرَةٌ جَازَ لِأَنَّ النَّبِيَ صلى الله عليه وسلم كاَنَ يَجْمَعُ اْلاِثْنَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي قَبْرٍ وَاحِدٍ…. (المهذب في فقه الإمام الشافعي، ج 1 ص 253)
Dan mayit tidak boleh dikuburkan pada suatu tempat yang sudah ada mayatnya, kecuali mayat (yang sudah dikubur) telah rusak, dan tidak ada sesuatu di dalamnya, dan hal ini diserahkan pada ahlinya. Dan tidak dikuburkan dalam satu kuburan dua mayat, karena Nabi tidak mengubur dalam satu lubang kubur kecuali satu mayat, namun apabila dalam keadaan darurat maka diperbolehkan, karena sesungguhnya Nabi pernah mengumpul-kan dua mayat dalam satu kuburan pada saat perang uhud. (al-Muhadzdzab fii Fiqh al-Imam as-Syafi’i, juz 1, hal. 253)
Adzan dan Iqomah saat Mayit Dibaringkan dalam Liang Lahat
Adzan merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan oleh agama Islam. Karena di dalam adzan ada manfaat yang sangat besar, serta terkandung syiar agama Islam. Ketika akan melaksanakan shalat, adzan dikumandangkan sebagai tanda masuknya waktu shalat. Dan salah satu kebiasaan yang berlaku di masyarakat adalah adzan setelah mayit diletakkan dalam kuburan. Bagaimanakah hukum adzan tersebut?
Dalam hal ini pandangan ulama’ terbagi menjadi dua:
- Tidak disunnahkan adzan setelah mayit diletakkan dalam liang lahat, karena tidak ada dalil yang menunjukkan kesunnahan pelaksanaan hal tersebut dari Nabi.
- Sunnah karena bisa disamakan pada adzan dan iqomah ketika anak baru lahir ke dunia.
وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا يُسَنُّ الْأَذَانُ عِنْدَ دُخُوْلِ الْقَبْرِ خِلَافًا لِمَنْ قَالَ بِسُنَّتِهِ قِيَاسًا لِخُرُوْجِهِ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى دُخُوْلِهِ فِيْهِ (إِعَانَةُ الطَّالِبِيْنَ، ج 1، ص 230).
Ketahuilah, sesungguhnya adzan itu tidak disunnahkan ketika memasukkan jenazah ke dalam kubur. Berbeda dengan orang yang berpendapat bahwa adzan itu sunnah, karena kematian dikiaskan dengan kelahiran. (Ianah at-Thaliban, juz 1, hal. 230).
Dengan demikian adzan dan iqomah tersebut tidak dapat dikatakan haram.
Talqin Mayit
Talqin mayit adalah mengajari dan menuntun aqidah kepada mayit, dengan harapan si mayit mampu menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir.
(قَوْلُهُ يَقُوْلُ ياَ عَبْدَ اللهِ إِلَخْ) رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ بِلَفَظٍ إِذَا ماَتَ أَحَدٌ مِنْ إِخْوَانِكُمْ فَسَوَيْتُمُ التُّرَابَ عَلَى قَبْرِهِ فَلْيَقُمْ أَحَدُكُمْ عَلَى رَأْسِ قَبْرِهِ ثُمَّ لْيَقُلْ ياَ فُلاَنُ ابْنُ فُلاَنَةٍ فَإِنَّهُ يَسْمَعُهُ ثُمَّ يَقُوْلُ ياَ فُلاَنُ ابْنُ فُلاَنَةٍ فَإِنَّهُ يَسْتَوِيْ قاَعِدًا ثُمَّ يَقُوْلُ ياَ فُلاَنُ ابْنُ فُلاَنَةٍ فَإِنَّهُ يَقُوْلُ أَرْشَدْناَ يَرْحَمُكَ اللهُ وَلَكِنْ لاَ تَشْعَرُوْنَ فَلْيَقُلْ اُذْكُرْ مَا خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنَ الدُّنْياَ شَهَادَةُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَأَنَّكَ رَضِيْتَ باِللهِ رَباَّ وَبِالْإِسْلاَمِ دِيْناَ وَبِمُحَمَّدٍ نَبِياًّ وَبِالْقُرْآنِ إِماَماً (رواه الطبرانى، إعانة الطالبين، ج 2 ص 14)
Rasulullah bersabda; apabila salah seorang dari saudara kamu meninggal dunia, maka ratakanlah tanah kuburannya, berdirilah di atas kepala kuburan mayit, lalu berkatalah wahai fulan bin fulan; sesungguhnya mayit tersebut mendengar ucapan itu, lalu orang yang menalqin berkata: bahwa fulan bin fulan! bahwa mayit tersebut mendengar ucapan itu, lalu mayit tersebut duduk, dan orang yang menalqin berkata lagi, wahai fulan bin fulan, sesungguhnya mayit itu berkata, tunjukkan aku maka engkau akan diberi rahmat oleh Allah Swt., sesungguhnya kalian (manusia) tidak mengetahuinya, lalu orang yang menalqin berkata, aku ingatkan padamu (mayit) sesuatu (yang harus) engkau bawa keluar dari dunia, yaitu penyaksian bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah Swt. dan sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-NYA, dan sesungguhnya kamu ridho bahwa Allah Swt. adalah tuhanmu, islam menjadi agamamu, Muhammad menjadi Nabimu dan al-Qur’an menjadi imammu. (HR. Imam at Tabrani) (I’anat al-Thalibin, juz II, hal. 14)
Menurut Imam al-Adzra’i:
- Disunnahkan mentalqin mayit yang sudah baligh sesuai dengan firman Allah yang artinya dan berdzikirlah sesungguhnya dzikir itu memberikan manfaat kepada orang-orang yang beriman.
- Tidak disunnahkan mentalqin anak yang belum baligh karena dia tidak mendapat fitnah di dalam kuburnya, begitu juga orang gila. Hal ini diterangkan dalam kitab I’anah al-Thalibin, juz 2, halaman 140.
(قَوْلُهُ وَتَلْقِيْنُ بَالِغٍ) مَعْطُوْفٌ عَلَى أَنْ يُلَقِّنَ أَيْضًا أَيْ وَيُنْدَبُ تَلْقِيْنُ بَالِغٍ إلخ وَذَلِكَ لِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَذْكُرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ} وَأَحْوَجُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ إِلَى التَّذْكِيْرِ فِيْ هَذِهِ الْحَالَةِ وَخَرَجَ بِالْبَالِغِ الطِّفْلِ فَلاَ يُسَنُّ تَلْقِيْنُهُ لِأَنَّهُ لاَ يُفْتَنُ فِيْ قَبْرِهِ وَمِثْلُهُ اَلْمَجْنُوْنُ إِنْ لَمْ يَسْبِقْ لَهُ تَكْلِيْفٌ وَإِلاَّ لُقِنَ وَعِبَارَةُ النِّهَايَةِ وَلاَ يُلَقَّنُ طِفْلٌ وَلَوْ مُرَاهِقًا وَمَجْنُوْنٌ لَمْ يَتَقَدَّمَهُ تَكْلِيْفٌ كَمَا قَيَّدَ تْهُ اْلأَذْرَعِيَّ لِعَدَمِ اِفْتِتَانِهِمَا اهـ (إعانة الطالبين، ج 2 ص 140)
Dengan demikian talqin mayit adalah hal yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw.
Menyiram Kuburan dengan Air Bunga
Ketika berziarah, rasanya tidak lengkap jika seorang peziarah yang berziarah tidak membawa air bunga ke tempat pemakaman, yang mana air tersebut akan diletakkan pada pusara. Hal ini adalah kebiasaan yang sudah merata di seluruh masyarakat. Bagaimanakah hukumnya? Apakah manfaat dari perbuatan tersebut?
Para ulama mengatakan bahwa hukum menyiram air bunga atau harum-haruman di atas kuburan adalah sunnah. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi al-Bantani dalam Nihayah al-Zain, hal. 145:
وَيُنْدَبُ رَشُّ الْقَبْرِ بِمَاءٍ باَرِدٍ تَفاَؤُلاً بِبُرُوْدَةِ الْمَضْجِعِ وَلاَ بَأْسَ بِقَلِيْلٍ مِنْ مَّاءِ الْوَرْدِ ِلأَنَّ الْمَلاَئِكَةَ تُحِبُّ الرَّائِحَةَ الطِّيْبِ (نهاية الزين 154)
Disunnahkan untuk menyirami kuburan dengan air yang dingin. Perbuatan ini dilakukan sebagai pengharapan dengan dinginnya tempat kembali (kuburan) dan juga tidak apa-apa menyiram kuburan dengan air mawar meskipun sedikit, karena malaikat senang pada aroma yang harum. (Nihayah al-Zain, hal. 154)
Pendapat ini berdasarkan hadits Nabi;
حَدثَناَ يَحْيَ : حَدَثَناَ أَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ اْلأَعْمَشِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ طَاوُوْسٍ عَن ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذِّباَنِ فَقاَلَ: إِنَّهُمَا لَـيُعَذِّباَنِ وَماَ يُعَذِّباَنِ فِيْ كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِِ وَأَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ يَمْشِيْ باِلنَّمِيْمَةِ. ثُمَّ أَخُذِ جَرِيْدَةً رَطْبَةً فَشْقِهَا بِنَصْفَيْنِ، ثُمَّ غُرِزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةٍ، فَقَالُوْا: ياَ رَسُوْلَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا ؟ فقاَلَ: ( لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَالَمْ يَيْـبِسَا) (صحيح البخارى، حديث رقم 1361)
Dari Ibnu Umar ia berkata; Suatu ketika Nabi melewati sebuah kebun di Makkah dan Madinah lalu Nabi mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di dalam kuburnya. Nabi bersabda kepada para sahabat “Kedua orang (yang ada dalam kubur ini) sedang disiksa. Yang satu disiksa karena tidak memakai penutup ketika kencing sedang yang lainnya lagi karena sering mengadu domba”. Kemudian Rasulullah menyuruh sahabat untuk mengambil pelepah kurma, kemudian membelahnya menjadi dua bagian dan meletakkannya pada masing-masing kuburan tersebut. Para sahabat lalu bertanya, kenapa engkau melakukan hal ini ya Rasul?. Rasulullah menjawab: Semoga Allah meringankan siksa kedua orang tersebut selama dua pelepah kurma ini belum kering. (Sahih al-Bukhari, [1361])
Lebih ditegaskan lagi dalam I’anah at-Thalibin;
يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيْدَةٍ خَضْرَاءَ عَلَى الْقَبْرِ لِلْإ تِّباَعِ وَلِأَنَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيْحِهَا وَقيِْسَ بِهَا مَا اعْتِيْدَ مِنْ طَرْحِ نَحْوِ الرَّيْحَانِ الرَّطْبِ (إعانة الطالبين، ج 2، ص119)
Disunnahkan meletakkan pelepah kurma yang masih hijau di atas kuburan, karena hal ini adalah sunnah Nabi Muhammad Saw. dan dapat meringankan beban si mayat karena barokahnya bacaan tasbihnya bunga yang ditaburkan dan hal ini disamakan dengan sebagaimana adat kebiasaan, yaitu menaburi bunga yang harum dan basah atau yang masih segar. (I’anah at-Thalibin, juz 2, hal. 119)
Dan ditegaskan juga dalam Nihayah al-Zain, hal. 163:
وَيُنْدَبُ وَضْعُ الشَّيْءِ الرَّطْبِ كَالْجَرِيْدِ الْأَحْضَرِ وَالرَّيْحَانِ، لِأَنَّهُ يَسْتَغْفِرُ لِلْمَيِّتِ مَا دَامَ رَطْباً وَلاَ يَجُوْزُ لِلْغَيْرِ أَخْذُهُ قَبْلَ يَبِسِهِ (نهاية الزين 163)
Berdasarkan penjelasan di atas, maka memberi harum-haruman di pusara kuburan itu dibenarkan termasuk pula menyiram air bunga di atas pusara, karena hal tersebut termasuk ajaran Nabi (sunnah) yang memberikan manfaat bagi si mayit.
Hukum Selamatan atau Haul
Kata ”haul” berasal dari bahasa Arab yang berarti telah lewat atau berarti tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya ”khol utowo selametane wong mati” (haul atau selamatan untuk mendo’akan orang yang sudah meninggal) yaitu: suatu upacara ritual keagamaan untuk memperingati meninggalnya seorang ulama’ (tokoh agama, kyai) atau salah satu dari anggota keluarga.
Dalil mengenai haul adalah berdasarkan hadits yang menerangkan bahwa junjungan kita Sayyidina Muhammad Saw. setiap tahun telah melakukan ziarah kubur pada syuhada’ Uhud (para sahabat yang gugur waktu peperangan uhud) yang kemudian diikuti oleh sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman pada setiap tahun. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dari al-Waqidi;
عَنِ اْلوَاقِدِى قَالَ: كَانَ النَّبِىُّ يَزُوْرُ شُهَدَاءَ اُحُدٍ فِيْ كُلِّ حَوْلٍ وَاِذَا بَلَغَ رَفَعَ صَوْتـَهُ فَيَقُوْلُ: سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ . ثُمَّ اَبُوْ بَكْرٍ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ (رواه البيهقى)
al-Waqidy berkata: “Nabi Muhammad Saw. berziarah ke makam syuhada’ uhud pada setiap tahun, apabila telah sampai di makam syuhada’ uhud beliau mengeraskan suaranya seraya berdo’a: keselamatan bagimu wahai ahli uhud dengan kesabaran-kesabaran yang telah kalian perbuat, sungguh ahirat adalah tempat yang paling nikmat/sebaik-baik rumah peristirahatan. Kemudian Abu Bakar pun melakukannya pada setiap tahun begitu juga Umar dan Utsman. HR. Baihaqi. (Mukhtashar Ibnu Katsir, juz 2, hal. 279)
Sedangkan selametan pada hari ke 1 sampai hari ke 7 setelah kematian adalah tradisi orang Jawa kalau ada keluarga yang meninggal, tradisi atau budaya selametan tidaklah bertentangan dengan syara’, budaya tersebut berdasarkan pada hadits di bawah ini;
قَالَ طاَوُسُ: إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِى قُبُوْرِهِمْ سَبْعاً فَكَانُوْا يُسْتَحَبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَياَّمَ إِلىَ أَنْ قَالَ عَنْ عُبَيْدِ ابْنِ عُمَيْرٍ قَالَ: رَجُلاَنِ مُؤْمِنٌ وَمُناَفِقٌ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيُفْتَنُ أَربَعِيْنَ صَبَاحاً. (الحوى إلى فتوى للسيوطي، ج 2 ص 178)
Imam Thawus berkata: Seorang yang mati akan memperoleh ujian dari Allah Swt. dalam kuburnya selama 7 hari. Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan sebuah jamuan makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut. (Sampai kata-kata) Dari sahabat Ubaid Ibn Umair, dia berkata: Seorang mukmin dan seorang munafik sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mukmin akan beroleh ujian selama 7 hari, sedang seorang munafik selama 40 hari di waktu pagi. (al-Haway Ilaa Fatawa Lii al-Suyuty, juz 2 hal 178)
Perbedaan Pendapat Para Ulama’ Tentang Hukum Selametan 1-7 Hari, 40 Hari, 100 Hari dan Haul bagi Orang yang Telah Meninggal
Mengenai hukum haul dan selametan, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama’, tetapi mayoritas ulama’ dari empat madzhab berpendapat bahwa pahala ibadah atau amal shaleh (seperti: selametan) yang dilakukan oleh orang yang masih hidup bisa sampai kepada orang yang sudah meninggal. Namun di sini akan kami paparkan seputar khilaf para ulama’ mengenai hal ini baik yang memperboleh-kan maupun yang tidak memperbolehkannya. Adapun berbagai pendapat ulama’ madzhab beserta dalil-dalilnya adalah seperti di bawah ini;
- Pendapat yang memperbolehkan
- Menurut Ibnu Taimiyah
Syaikhul Islam Taqiyuddin Muhammad ibnu Ahmad ibn Abdul Halim (yang lebih populer dengan julukan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari madzhab Hambali) dalam kitab Majmu’ al-Fatawa, juz 24, halaman 314-315, menjelaskan sebagai berikut ini:
اَمَّا الصَّدَقَةُ عَنِ الْمَيِّتِ فَاِنَّهُ يَنْتَفِعُ بِهَا بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِيْنَ. وَقَدْ وَرَدَتْ بِذَلِكَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَحَا دِيْثُ صَحِيْحَةٌ مِثْلُ قَوْلِ سَعْدٍ يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِّيْ اُفْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَاَرَاهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ يَنْفَعُهَا أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهَا؟ فَقَالَ: نَعَمْ، وَكَذَلِكَ يَنْفَعُهُ الْحَجُّ عَنْهُ وَاْلاُضْحِيَةُ عَنْهُ وَالْعِتْقُ عَنْهُ وَالدُّعَاءُ وَاْلاِسْتِغْفَارُ لَهُ بِلاَ نِزاَعٍ بَيْنَ اْلأَئِمَّةِ
Adapun sedekah untuk mayit, maka ia bisa mengambil manfaat berdasarkan kesepakatan umat Islam, semua itu terkandung dalam beberapa hadits shahih dari Nabi Saw. seperti perkataan sahabat Sa’at “Ya Rasulallah sesungguhnya ibuku telah wafat, dan aku berpendapat jika ibuku masih hidup pasti ia bersedekah, apakah bermanfaat jika aku bersedekah sebagai gantinya?” maka Beliau menjawab “Ya”, begitu juga bermanfaat bagi mayit: haji, qurban, memerdekakan budak, do’a dan istighfar kepadanya, yang ini tanpa perselisihan di antara para imam.
Ibnu Taimiyah juga menjelaskan perihal diperbolehkannya menyampaikan hadiah pahala shalat, puasa dan bacaan al-Qur’an kepada mayit dalam kitab Fatawa, juz 24 halaman 322sebagai berikut ini:
فَاِذَا أُهْدِيَ لِمَيِّتٍ ثَوَابُ صِياَمٍ أَوْ صَلاَةٍ أَوْ قِرَاءَةٍ جَازَ ذَلِكَ
Jika saja dihadiahkan kepada mayit pahala puasa, pahala shalat atau pahala bacaan (al-Qur’an/kalimah thayyibah) maka hukumnya diperbolehkan.
- Menurut Imam Nawawi
al-Imam Abu Zakariya Muhyiddin Ibn al-Syarof, dari madzhab Syafi’i yang terkenal dengan panggilan Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, juz 5 hal. 258 menegaskan;
يُسْتَحَبُّ أَنْ يَمْكُثَ عَلىَ اْلقَبْرِ بَعْدَ الدُّفْنِ سَاعَةً يَدْعُوْ لِلْمَيِّتِ وَيَسْتَغْفِرُ لَهُ. نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِىُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اْلأَصْحَابُ قَالوُا: يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَأَ عِنْدَهُ شَيْئٌ مِنَ اْلقُرْأَنِ وَإِنْ خَتَمُوْا اْلقُرْأَنَ كَانَ أَفْضَلُ (المجموع، ج 5 ص 258)
Disunnahkan untuk diam sesaat di samping kubur setelah menguburkan mayit untuk mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya”, pendapat ini disetujui oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan pengikut Imam Syafi’i mengatakan “sunnah dibacakan beberapa ayat al-Qur’an di samping kubur si mayit, dan lebih utama jika sampai menghatamkan al-Qur’an.
Imam Nawawi juga memberikan penjelasan lain, sebagai-mana berikut:
وَيُسْتَحَبُّ لِلزَّائِرِ أَنْ يُسَلِّمَ عَلىَ اْلمَقَابِرِ وَيَدْعُوْ لِمَنْ يَزُوْرُهُ وَلِجَمِيْعِ أَهْلِ اْلمَقْبَرَةِ. وَاْلأَفْضَلُ أَنْ يَكُوْنَ السَّلاَمُ وَالدُّعَاءُ بِمَا ثَبَتَ مِنَ اْلحَدِيْثِ وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَأَ مِنَ اْلقُرْأنِ مَا تَيَسَّرَ وَيَدْعُوْ لَهُمْ عَقِبَهَا وَنَصَّ عَلَيْهِ الشَّاِفعِىُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اْلأَصْحَابُ (المجموع، ج 5 ص 258)
Dan disunnahkan bagi peziarah kubur untuk memberikan salam atas (penghuni) kubur dan mendo’akan kepada mayit yang diziarahi dan kepada semua penghuni kubur, salam dan do’a itu akan lebih sempurna dan lebih utama jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan atau diajarkan dari Nabi Muhammad Saw. dan disunnahkan pula membaca al-Qur’an semampunya dan diakhiri dengan berdo’a untuknya, keterangan ini dinash oleh Imam Syafi’i (dalam kitab al-Um) dan telah disepakati oleh pengikut-pengikutnya.
- Menurut Imam Ibnu Qudamah
al-‘Allamah al-Imam Muwaffiquddin ibn Qudamah dari madzhab Hambali mengemukakan pendapatnya dan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab karyanya al-Mughny juz 2 hal. 566.
قَالَ: وَلاَ بَأْسَ بِالْقِراَءَةِ عِنْدَ اْلقَبْرِ. وَقَدْ رُوِيَ عَنْ أَحْمَدَ أَنَّهُ قَالَ: إِذاَ دَخَلْتمُ الْمَقَابِرَ اِقْرَئُوْا آَيَةَ اْلكُرْسِىِّ ثَلاَثَ مِرَارٍ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ثُمَّ قُلْ اَللَّهُمَّ إِنَّ فَضْلَهُ لِأَهْلِ الْمَقَابِرِ
al-Imam Ibnu Qudamah berkata: tidak mengapa membaca (ayat-ayat al-Qur’an atau kalimah tayyibah) di samping kubur, hal ini telah diriwayatkan dari Imam Ahmad ibn Hambal bahwasanya beliau berkata: Jika hendak masuk kuburan atau makam, bacalah Ayat Kursi dan Qul Huwa Allahu Akhad sebanyak tiga kali kemudian iringilah dengan do’a: Ya Allah keutamaan bacaan tadi aku peruntukkan bagi ahli kubur.
- Menurut golongan dari madzhab Syafi’i dalam kitab al-Adzkar al-Nawawi hal 150. dijelaskan lebih spesifik lagi seperti di bawah ini:
وَذَهَبَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَجَمَاعَةٌ مِنَ اْلعُلَمَاءِ وَجَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الشَّاِفِعى إِلىَ أَنَّهُ يَصِلُ . فَاْلاِخْتِيَارُ أَنْ يَقُوْلَ الْقَارِئُ بَعْدَ فِرَاغِهِ: اَللَّهُمَّ أَوْصِلْ ثَوَابَ مَا قَرأْ تُهُ إِلَى فُلاَنٍ . وَالله أَعْلَمُ
Imam Ahmad bin Hambal dan golongan ulama’ dan sebagian dari sahabat Syafi’i menyatakan bahwa pahala do’a adalah sampai kepada mayit. Dan menurut pendapat yang terpilih, hendaknya orang yang membaca al-Qur’an setelah selesai untuk mengiringi bacaannya dengan do’a:
اَللَّهُمَّ أَوْصِلْ ثَوَابَ مَا قَرأْ تُهُ إِلَى فُلاَنٍ
Ya Allah, sampaikanlah pahala bacaan al-Qur’an yang telah aku baca kepada si fulan (mayit).
- Menurut Fuqaha’ (Ulama’ ahli Fiqih) Ahlussunnah wal Jama’ah
Menurut jumhur fuqoha’ ahlussunnah wal jama’ah seperti yang telah diterangkan oleh al-‘Allamah Muhammad al-‘Araby mengutip dari hadits Rasulullah Saw. dari sahabat Abu Hurairah ra.
وَعَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ دَخَلَ الْمَقَابِرَ ثُمَّ قَرَأَ فَاتِحَةَ اْلكِتَابِ وَقُلْ هُوَاللهُ اَحَدٌ، وَاَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرْ، ثُمَّ قَالَ: إِنِّى جَعَلْتُ ثَوَابَ مَا قَرَأْتُ مِنْ كَلاَمِكَ لِأَهْلِ اْلَمقَابِرِ مِنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ كَانُوْا شُفَعَاءَ لَهُ اِلَى اللهِ تَعَالىَ
Dari Abi Hurairah ra. berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa berziarah ke makam/kuburan kemudian membaca al-Fatikhah, Qul Huwa Allahu Ahad, dan Alhakumuttakatsur, kemudian berdo’a “Sesungguh-nya aku hadiahkan pahala apa yang telah kubaca dari firmanmu kepada ahli kubur orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, maka pahala tersebut bisa mensyafaati si mayit di sisi Allah Swt”.
- Pendapat yang tidak memperbolehkan
- Menurut golongan Madzhab Syafi’i
Pendapat masyhur dari golongan madzhab Syafi’i bahwa pahala membaca al-Qur’an tidak bisa sampai pada mayit, hal ini diterangkan dalam kitab al-Adzkar al-Nawawi, hal 150.
وَاخْتَلَفَ اْلعُلَمَاءُ فِيْ وُصُوْلِ ثَوَابِ قِراَءَةِ اْلقُرْأَنِ فَالْمَشْهُوْرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِى وَجَمَاعَةٍ أَنَّهُ لاَيَصِلُ، وَاللهُ اَعْلَمُ
Ulama’ berbeda pendapat dalam masalah sampainya pahala bacaan al-Qur’an kepada mayit, maka menurut pendapat yang masyhur dari madzhab syafi’i dan golongan ulama’ menyatakan tidak bisa sampai kepada mayit, dan Allah lah yang lebih mengetahui.
- Menurut Imam Malik
Menurut pendapat sebagian ulama’ pengikut madzhab Maliki dan Syafi’i bahwasanya pahala puasa, shalat sunnah dan bacaan al-Qur’an adalah tidak bisa sampai kepada mayit. Keterangan kitab Majmu’ al-Fatawa, juz 24, hal. 314-315, yang berbunyi:
وَأَمَّا الصِّيَامُ عَنْهُ وَصَلاَةُ التَّطَوُعِ عَنْهُ وَقِرَاءَةُ اْلقُرْأَنِ عَنْهُ فَهَذَا قَوْلاَنِ لِلْعُلَمَاءِ: أَحَدُهُمَا: يَنْتَفِعُ بِهِ وَهُوَ مَذْهَبُ أَحْمَدَ وَأَبِىْ حَنِيْفَةَ وَغَيْرِهِمَا وَبَعْضُ أَصْحَابِ الشَّافِعِى وَغَيْرِهِمْ وَالثَّانِىْ: لاَتَصِلُ إِلَيْهِ وَهُوَ اَلْمَشْهُوْرُ مِنْ مَذْهَبِ مَالِكٍ وَالشَّافِعِى.
Adapun puasa, shalat sunnah, dan membaca al-Qur’an untuk mayit ada dua pendapat salah satunya; Mayit bisa mengambil manfaat dengannya, pendapat ini menurut Imam Ahmad, Abu Hanifah dan sebagian sahabat Syafi’i yang lain, dan yang kedua; tidak sampai kepada mayit, ini menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab Imam Malik dan Imam Syafi’i.
Rangkaian Acara Selametan atau Haul
Dalam acara selamatan atau haul biasanya dirangkai dengan beberapa rangkaian acara sebagai berikut:
- Khotmul Qur’an, yaitu membaca al-Qur’an 30 juz (mulai dari juz 1 s/d juz 30). Menurut Imam Nawawi di dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, juz 5, hal. 258 menegaskan bahwa disunnahkan untuk membacakan al-Qur’an untuk si mayit;
يُسْتَحَبُّ أَنْ يَمْكُثَ عَلىَ اْلقَبْرِ بَعْدَ الدَّفْنِ سَاعَةً يَدْعُوْ لِلْمَيِّتِ وَيَسْتَغْفِرُ لَهُ. نَصَّ عَلَيْهِ اَلشَّافِعِىُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اَلأَصْحَابُ قَالوُا: يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَأَ عِنْدَهُ شَيْئٌ مِنَ اْلقُرْأَنِ وَإِنْ خَتَمُوْا اْلقُرْأَنَ كَانَ أَفْضَلُ (المجموع،ج 5، ص 258)
Disunnahkan untuk diam sesaat di samping kubur setelah menguburkan mayit untuk mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya”. Pendapat ini disetujui oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan pengikut Imam Syafi’i mengatakan: “Sunnah dibacakan beberapa ayat al-Qur’an di samping kubur si mayit, dan lebih utama jika sampai menghatamkan al-Qur’an.
- Tahlilan, Ibnu Taimiyah menegaskan masalah tahlil dengan keterangannya sebagai berikut:
إِذَا هَلَّلَ اْلإِنْسَانُ هكَذَا سَبْعُوْنَ أَلْفًا أَوْ أَقَلَّ أَوْ أَكْثَرَ وَأُهْدِيَتْ إِلَيْهِ نَفَعَهُ اللهُ بِذَلِكَ
Jika seseorang membaca tahlil sebanyak 70.000 kali, kurang atau lebih dan (pahalanya) dihadiahkan kepada mayit, maka Allah memberikan manfaat dengan semua itu. (Fatawa, 24/323)
- Do’a yang dihadiahkan kepada si mayit, Syeh Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa ulama’ telah sepakat mengenai sampainya do’a dan istighfar (memohonkan ampunan) untuk mayit sebagaimana dalil di bawah ini:
اَلدُّعَاءُ وَاْلاِسْتِغْفَارُ وَهَذَا مُجْمَعٌ عَلَيْهِ لِقَوْلِ اللهِ تَعَالىَ (وَالَّذِيْنَ جَاءُوْ مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِاْلاِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ للَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ) وَتَقَدَّمَ قَوْلُ الرَّسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (وَإِذاَ صَلَّيْتُمْ عَلىَ اْلمَيِّتِ فَأَخْلِصُوْا لَهُ اَلدُّعَاءَ) وَحُفِظَ مِنْ دُعَاءِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (اَللَّهُمَّ اْغفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا) وَلاَ زَالَ اَلسَّلَفُ وَالْخَلَفُ يَدْعُوْنَ لِلْأَمْوَاتِ وَيَسْأَلُوْنَ لَهُمْ الرَّحْمَةُ وَاْلغُفْرَانُ دُوْنَ إِنْكَارٍ مِنْ أَحَدٍ
Do’a dan memohonkan ampun untuk mayit, pendapat ini telah menjadi kesepakatan Ulama’, hal ini berdasarkan firman Allah Swt. dalam al-Qur’an surah al-Hasyr ayat 10 (Dan orang-orang yang datang setelah mereka muhajirin dan anshar berdo’a: Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan iman, dan jangan engkau jadikan hati kami “mempunyai sifat” dengki kepada orang-orang yang beriman, Ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha penyantun dan Maha penyayang). Dan telah disebutkan sebelumnya sabda Rasulullah Saw. Jika kamu menyalati mayid, maka ikhlaslah dalam berdo’a. Dan juga do’a Rasulullah Saw. Ya Allah, ampunilah orang-orang yang hidup dan yang meninggal kami (umat Nabi). Ulama’ salaf dan khalaf selalu mendo’akan orang-orang meninggal dan mereka memohonkan kepadanya rahmat dan ampunan, tanpa seorang pun mengingkarinya.
- Pengajian Umum, yang kadang dirangkai dengan pembacaan secara singkat sejarah orang yang dihauli, yang mencakup nasab, tanggal lahir dan wafat, jasa-jasa, serta keistimewaan yang patut diteladani. Hal ini sesuai dengan keterangan di bawah ini:
وَقَدْ يُذْكَرُ فِيْهِ مَنَاقِبُ الْمُتَوَفَّى وَذَلِكَ مُسْتَحْسَنٌ لِلْحَثِّ عَلىَ سُلُوْكِ طَرِيْقَتِهِ الْمَحْمُوْدَةِ كَمَا فِى الْجُزْءِ الثاَّنِىْ مِنَ اْلفَتَوَى اْلكُبْرَى……
Terkadang dituturkan juga manaqib (biografi) orang yang telah meninggal, cara ini baik untuk mendorong orang lain agar mengikuti jalan (perilaku) terpuji yang telah dilakukan si mayit, sebagaimana telah diterangkan dalam kitab Fatawa al-kubra juz II.
- Sedekah, diberikan kepada orang-orang yang berpartisipasi pada acara selametan, atau diserahkan langsung ke rumah tetangga (adat Jawa: ater-ater atau weh-weh/saling memberi). Hal ini berdasarkan pada perintah Nabi dalam kitab Durratu al-Nasihin yang berbunyi:
وَقاَلَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ: (تَصَدَّقوُاْ عَنْ أَنْفُسِكُمْ وَعَنْ مَوْتاَكُمْ وَلَوْ بِشُرْبَةِ مَاءٍ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرُوْا عَلَى ذَلِكَ فَبِايَةٍ مِنْ كِتاَبِ اللهِ فَاِنْ لَمْ تَعْلَمُوْا شَيْأً مِنْ كِتاَبِ اللهِ فَادْعُوْا بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ فَقَدْ وَعَدَ كُمْ بِاْلإِجَابَةِ)
Rasulullah Saw. bersabda: “bersedekahlah kamu sekalian untuk dirimu sendiri dan untuk ahli quburmu walau hanya dengan seteguk air, jika kamu sekalian tidak mampu bersedekah dengan seteguk air maka bersedekahlah dengan satu ayat dari kitab Allah, jika kamu tidak mengetahui/tidak mengerti sesuatu dari kitab Allah, maka berdo’alah dengan memohon ampunan dan mengharap rahmat Allah, maka sesungguhnya Allah Swt. telah berjanji akan mengabulkan”. (Durrah an-Nasihin, hal. 95)
Imam Nawawi berpendapat bahwa:
اَلصَّدَقَةُ: وَقَدْ حَكىَ اَلنَّوَوِىُّ اَلإِجْمَاعَ عَلىَ أَنَّهَا تَقَعُ عَنِ اْلمَيِّتِ وَيَصِلُهُ ثَوَبُهَا سَوَاءٌ كَانَتْ مِنْ وَلَدٍ أَوْ مِنْ غَيْرِهِ . لِمَا رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ وَغَيْرُهُمَا عَنْ أَبِىْ هُرَيْرَةَ: إِنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِىِّ: إِنَّ أَبِيْ مَاتَ وَتَرَكَ مَالاً وَلَمْ يُوْصِ فَهَلْ يُكَفِّرْ عَنْهُ أَنْ اَتَصَدَّقَ عَنْهُ ؟ قَالَ النَّبِىْ: نَعَمْ
Sedekah (shadaqah) itu dapat diambil manfaatnya oleh mayit dan pahalanya pun sampai kepadanya, baik sedekah dari anaknya (keluarga) maupun selain anak (orang lain), dan ini sudah menjadi kesepakatan Ulama’, karena hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Muslim dan lainnya. Dari Abi Hurairah ra.: Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Saw.: Bapak saya telah meninggal, dia meninggalkan harta dan tidak meninggalkan wasiat. Apakah dapat menebus dosanya jika aku bersedekah sebagai gantinya?. Nabi menjawab: Ya, bisa. (Kitab Peringatan Haul hal. 23-26)
Hukum Nyekar
Nyekar adalah suatu ritual keagamaan yaitu berziarah ke makam atau ke kubur dari salah satu keluarga, kerabat, sanak famili atau para tokoh seperti makam para auliya’ullah, makam kyai atau makam para alim ulama’ dengan menaburkan bunga-bunga yang segar dan wangi di atas makam atau kuburannya.
Budaya nyekar ini tidaklah bertentangan dengan hukum Islam, akan tetapi sangat dianjurkan dan hukumnya adalah sunnah, karena bunga yang ditaburkan di atas makam tersebut akan memintakan ampunan dosa-dosa si mayit kepada Tuhannya yang ahirnya dapat meringankan siksa Tuhan terhadap si mayit sampai bunga itu layu. Perintah nyekar ini di jelaskan dalam kitab Kasyfu as-Subuhat halaman 131.
(فرع) يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيْدَةٍ خَضْرَاءَ عَلَى اْلقَبْرِ لِلْاِتِّبَاعِ وَسَنَدُهُ صَحِيْحٌ وَلِاَنّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيْحِهِ إِذْ هُوَ أَكْمَلُ مِنْ تَسْبِيْحِ اْليَابِسَةِ لِمَا فِىْ تِلْكَ مِنْ نَوْعِ حَياَةٍ وَقِيْسَ بِهَا مَا اعْتِيْدَ مِنْ طَرْحِ الرَّيْحَانِ وَنَحْوِهِ وَيَحْرُمُ أَخْذُ ذَلِكَ كَمَا بَحَثَ لِمَا فِيْهِ مِنْ تَفْوِيْتِ حَقَّ اْلمَيِّتِ وَظَاهِرُهُ أَنَّهُ لاَ حُرْمَةَ فِى أَخْذِ ياَبِسٍ أُعْرِضَ عَنْهُ لِفَوَاتِ حَقِّ اْلمَيِّتِ بِسَبَبِهِ (كشف الشبهات ص 131)
Disunnahkan meletakkan pelepah daun yang masih hijau di atas kubur atau makam karena mengikuti sunnah Nabi (hadits ini sanadnya shahih). Pelepah seperti itu dapat meringankan beban (dosa/siksaan) si mayit berkat bacaan tasbihnya. Untuk memperoleh tasbih yang sempurna, sebaiknya dipilih daun yang masih basah atau segar. Analog dengan meletakkan pelepah tadi ialah menaburkan bunga atau sejenisnya. Pelepah atau bunga yang masih segar tadi haram diambil karena menjadi hak si mayit, akan tetapi kalau sudah kering hukumnya boleh lantaran bukan hak si mayit lagi (sebab pelepah, bunga atau sejenisnya sudah tidak bisa bertasbih). (Kasyfu al-Syubuhat, hal. 131)
Dan dalam Sahih Bukhari juga dijelaskan sebagai berikut;
عَنْ طَاوُوْسٍ عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذِّباَنِ فَقاَلَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذِّباَنِ وَماَ يُعَذِّباَنِ فِيْ كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ وَأَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ يَمْشِيْ باِلنَّمِيْمَةِ . ثُمَّ أَخُذِ جَرِيْدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا بِنَصْفَيْنِ، ثُمَّ غَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً، فَقَالُوْا: ياَ رَسُوْلَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا ؟ فقاَلَ: لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبِسَا (صحيح البخارى ج 1 ص 65)
Dari Thawus, dari Ibnu Abbas, ia berkata; Suatu ketika Nabi melewati sebuah kebun di Makkah dan Madinah lalu Nabi mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di dalam kuburnya. Nabi bersabda kepada para sahabat “Kedua orang (yang ada dalam kubur ini) sedang disiksa. Yang satu disiksa karena tidak memakai penutup ketika kencing sedang yang lainnya lagi karena sering mengadu domba”. Kemudian Rasulullah menyuruh sahabat untuk mengambil pelepah kurma, kemudian membelahnya menjadi dua bagian dan meletakkannya pada masing-masing kuburan tersebut. Para sahabat lalu bertanya, kenapa engkau melakukan hal ini ya Rasul?. Rasulullah menjawab: Semoga Allah meringankan siksa kedua orang tersebut selama dua pelepah kurma ini belum kering. (Sahih al-Bukhari, juz 1 hal. 65)
Ziarah Kubur
Pada malam Jum’at atau siang harinya, sudah lazim bagi masyarakat Nahdliyin melakukan ziarah kubur. Mereka berziarah ke makam leluhur dan sanak kerabat yang telah lebih dahulu meninggalkannya. Berbagai kegiatan mereka lakukan di sana seperti membaca al-Qur’an, dzikir ataupun tahlil. Bagaimanakah sebenarnya hukum ziarah kubur tersebut apakah manfaat dan kegunaannya?
Pada masa awal Islam, Rasulullah memang melarang umat Islam untuk melakukan ziarah kubur. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga akidah umat Islam yang waktu itu masih lemah. Setelah akidah umat Islam kuat dan tidak ada kekhawatiran untuk berbuat syirik, Rasulullah membolehkan para sahabatnya untuk melakukan ziarah kubur. Karena ziarah kubur dapat membantu orang yang hidup untuk mengingat akan kematiannya. Nabi telah bersabda;
عَنْ بَرِيْدَةٍ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِياَرَةِ اْلقُبُوْرِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِيْ زِياَرَةِ قَبْرِ أُمِّهِ فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُذَكِرُ اْلآخِرَةَ (سنن الترمذى: 973)
Dari Buraidah ia berkata, Rasulullah bersabda; saya pernah melarang kamu berziarah kubur. Tapi sekarang, Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang, berziarahlah! Karena perbuatan itu dapat mengingatkan kamu pada akhirat. (Sunan al-Tirmidzi, [974])
Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanya tentang ziarah ke makam para wali, sebagaimana keterangan berikut ini:
وَسُئِلَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ زِيَارَةِ قُبُورِ الْأَوْلِيَاءِ فِيْ زَمَنٍ مُعَيَّنٍ مَعَ الرِّحْلَةِ إلَيْهَا هَلْ يَجُوزُ مَعَ أَنَّهُ يَجْتَمِعُ عِنْدَ تِلْكَ الْقُبُورِ مَفَاسِدٌ كَثِيرَةٌ كَاخْتِلَاطِ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ وَإِسْرَاجِ السُّرُجِ الْكَثِيرَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ زِيَارَةُ قُبُورِ الْأَوْلِيَاءِ قُرْبَةٌ مُسْتَحَبَّةٌ وَكَذَا الرِّحْلَةُ إلَيْهَا (الفتاوى الفقهية الكبرى، ج 1 ص 421)
Beliau ditanya tentang berziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengan melakukan perjalanan khusus ke makam mereka. Beliau menjawab, berziarah ke makam para wali adalah ibadah yang disunnahkan. Demikian pula perjalanan ke makam mereka. (al-Fatawi al-Kubra, juz I, hal. 421)
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa ziarah kubur memang dianjurkan dalam agama Islam bagi laki-laki ataupun perempuan, sebab di dalamnya terkandung manfaat yang sangat besar, baik bagi orang yang telah meninggal dunia yaitu berupa hadiah pahala bacaan al-Qur’an dan kalimat-kalimat thayyibah, maupun bagi orang yang berziarah itu sendiri, yakni mengingatkan manusia akan kematian yang pasti akan menjemputnya.
Keutamaan Ziarah Qubur
Fadhilah atau keutamaan ziarah kubur ditegaskan dalam Nihayah al-Zain hal.164 bahwa: “Disunnahkan untuk berziarah kubur, barang siapa berziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari Jum’at, maka Allah mengampuni dosa-dosanya dan dia dicatat sebagai anak yang taat dan berbakti kepada kedua orang tuanya”. Dalam riwayat lain disebutkan, “Barang siapa berziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari Jum’at dan membacakan surat Yaasin dan al-Qur’an al-Hakim di samping kuburnya maka Allah mengampuni dosa-dosanya sebanyak jumlah bilangan huruf yang terdapat pada ayat surat Yaasin dan al-Qur’an al-Hakim”. Dan riwayat lain menyebutkan pahala ziarah kubur kepada orang tua adalah seperti pahala ibadah haji:
وَيُسَنُّ زِيَارَةُ الْقُبُوْرِ وَوَرَدَ أَنَّ مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِيْ كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً غُفِرَ لَهُ وَكَانَ باَرًا لِوَالِدِيْهِ، وَفِيْ رِوَايَةٍ: مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِيْ كُلِّ جُمُعَةٍ فَقَرَأَ عِنْدَهَ يَس وَالْقُرْآنَ الْحَكِيْمَ غَفَرَ اللهُ لَهُ بِعَدَدِ ذَلِكَ آيَةً وَحَرْفًا، وَفِيْ رِوَايَةٍ: مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِيْ كُلِّ جُمُعَةٍ كاَنَ كَحَجَّةٍ. (نهاية الزين ص 164)
Mengenai keutamaan ziarah kubur juga diterangkan oleh Ibnu Najar dalam tarikhnya dari Abu Bakar Assiddiq, Rasulullah bersabda; “Barang siapa berziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari Jum’at dan membacakanya surat Yaasin maka Allah mengampuni dosa-dosanya sebanyak jumlah bilangan huruf yang terdapat pada surat Yaasin”. Hal ini diterangkan dalam kitab: ad-Dar al-Mansur, juz 7, hal. 40, Makarim al-Akhlak, juz 1, hal. 73 dan 248, dan lain-lain.
وَأَخْرَجَ اِبْنُ النَّّجَارِ فِيْ تَارِيْخِهِ عَنْ أَبِيْ بَكْرٍ اَلصِّدِّيِقِ قاَلَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهِ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: “مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِيْ كُلِّ جُمُعَةٍ فَقَرَأَ عِنْدَهَا يَس غَفَرَ اللهُ لَهُ بِعَدَدِ كُلِّ حَرْفٍ مِنْهَا” (في الكتاب الدر المنثور، ج 7 ص 40 و مكارم الأخلاق، ج 1 ص 83 , 248)
Rasulullah bersabda; “Barang siapa berziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari Jum’at maka Allah mengampuni dosa-dosanya dan dia dicatat sebagai anak yang ta’at dan berbakti kepada kedua orang tuanya”. Diterangkan dalam kitab: al-Mu’jam al-Kabir Litthabrani, juz 19, hal. 85.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن أَحْمَدَ أَبُو النُّعْمَانِ بن شِبْلٍ الْبَصْرِيُّ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا عَمُّ أَبِي مُحَمَّدِ بن النُّعْمَانِ، عَنْ يَحْيَى بن الْعَلاءِ الْبَجَلِيِّ، عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ أَبِي أُمَيَّةَ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ:”مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ غُفِرَ لَهُ وَكُتِبَ بَرًّا. (كتاب المعجم الكبير للطبرانى، ج 19 ص 85)
Rasulullah juga bersabda; “Barang siapa berziarah ke makam bapak atau ibunya, paman atau bibinya, atau berziarah ke salah satu makam keluarganya maka pahalanya adalah sebesar pahala haji yang mabrur. Dan barang siapa yang istiqamah berziarah kubur sampai datang ajalnya maka para malaikat akan selalu menziarahi kuburannya”. Hal tersebut diterangkan dalam kitab: al-Maudhu’at, juz 3, hal. 240.
أَنْبَأَناَ إِسْمَاعِيْلُ بِنْ أَحْمَدَ أَنْبَأَناَ حَمْزَةُ أَنْبَأَناَ أَبُوْ أَحْمَدُ بِنْ عُدَى حَدَثَناَ أَحْمَدُ بِنْ حَفْصِ السَّعْدِى حَدَثَناَ إِبْرَاهِيْمُ بِنْ مُوْسَى حَدَثَناَ خَاقَانِ السَّعْدِى حَدَثَناَ أَبُوْ مَقَاتِلْ اَلسَّمَرْقَنْدِى عَنْ عُبَيْدِ اللهِ عَنْ ناَفِعِ عَنْ اِبْنُ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبِيْهِ أَوْ أُمِّهِ أَوْ عَمَّتِهِ أَوْ خَالَتِهِ أَوْ أَحَدٍ مِنْ قَرَابَاتِهِ كَانَتْ لَهُ حَجَّةٌ مَبْرُوْرَةٌ، وَمَنْ كَانَ زَائِراً لَهُمْ حَتَّى يَمُوْتُ زَارَتْ اَلْمَلاَئِكَةُ قَبْرَهُ” (كتاب الموضوعات، ج 3 ص 240)
Ziarah Kubur bagi Perempuan
Pada dasarnya ziarah kubur merupakan tuntunan Nabi bagi umatnya untuk selalu mengingat bahwa setiap makhluk yang hidup akan mengalami kematian dan adanya kehidupan akhirat kelak. Lalu bagaimanakah hukum ziarah kubur bagi perempuan:
- Makruh, apabila perempuan mudah susah dan resah, menangis dengan menjerit akibat lemahnya hati dan perasaannya.
(قَوْلُهُ فَتُكْرَهُ) أَيْ اَلزِّياَرَةُ لِأَنَّهَا مَظِنَّةٌ لِطَلَبِ بُكَائِهِنَّ وَرَفْعِ أَصْوَاتِهِنَّ لِمَا فِيْهِنَّ مِنْ رِقَّةِ اْلقَلْبِ وَكَثْرَةِ الْجَزَعِ (إعانة الطالبين، ج 2 ص 142)
Dimakruhkan bagi wanita berziarah kubur karena hal tersebut cenderung membantu pada kondisi yang melemahkan hati dan jiwa. (I’anah al-Thalibin, juz 2, hal. 142)
- Sunnah, jika ziarah ke makam para Nabi, auliya’ dan orang shaleh.
يُسَنُّ لَهَا زِياَرَةُ قَبْرِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِلَخْ وَقَالَ بَعْضُهُمْ اَىْ مِثْلُ زِياَرَةِ قَبْرِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زِياَرَةُ سَائِرِ قُبُوْرِ اْلأَنْبِيَاءِ وَاْلعُلَمَاءِ وَاْلأَوْلِياَءِ (إعانة الطالبين، ج 2، ص 142)
Disunnahkan bagi wanita berziarah kuburnya para Nabi, ulama’ dan para wali atau orang-orang yang shalih. (I’anah al-Thalibin, juz 2, hal. 142)
Mengharap Barokah
Dari dahulu masyarakat Indonesia marak melakukan ziarah makam para wali. Ziarah makam para wali yaitu mendatangi makam seseorang yang dianggap sebagai waliyullah (orang yang dekat dengan Allah Swt.) yang berada di wilayah tertentu. Seperti di pulau jawa terdapat makam wali songo dan wali-wali lainnya.
Tujuan melakukan ziarah selain untuk mengingatkan kepada kematian juga untuk mengharap limpahan barokah (berkah) yang diyakini dapat mengalir dari do’a para wali tersebut. Ada sebagian orang berpendapat bahwa mengharap barokah itu termasuk syirik. Benarkah anggapan tersebut?
Sebelum membahas tentang hukum mengharap barokah terlebih dahulu kita harus mengetahui pengertian barokah. Menurut Imam Syamsudin al-Syakhawi barokah adalah: Berkembang dan bertambah-nya kebaikan dan kemulyaan. Hal ini diterangkan dalam kitab al-Qaul al-Badi’ Fii al-Shalati ‘ala al-Habibi al-Syafi’:
اَلْمُرَدُ بِالْبَرَكَةِ اَلنُّمُوُّ وَالزِّياَدَةُ مِنَ الْخَيْرِ وَالْكَرَمَةِ. (القول البديع فى الصلاة على الحبيب الشفيع، ص 91)
Yang dimaksud dengan barokah adalah berkembang dan bertambahnya kebaikan dan kemulyaan. (al-Qaul al-Badi’ Fii al-Shalati ‘ala al-Habibi al-Syafi’, hal. 91)
Barokah itu ada yang diletakkan pada diri seseorang atau atsar (hal-hal yang membekas, memberikan kesan berupa jasa atau yang lain) dari seseorang. Mengenai dalil yang menerangkan barokah yang terdapat pada diri seseorang adalah perkataan Imam Mujahid dan Imam Atho’ dalam kitab Tafsir al-Baghawy;
(وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ) اَىْ نَفَّاعًا حَيْثُ مَا تَوَجَّهْتُ. وَقَالَ مُجَاهِدٌ مُعَلِّمًا لِلْخَيْرِ، وَقَالَ عَطَاءٌ أَدْعُوْ إِلَى اللهِ وَإِلَى تَوْحِيْدِهِ وَعِبَادَتِهِ. وَقِيْلَ مُبَارَكاً عَلَى مَنْ تَبِعَنِيْ(تفسير البغوى، ج 3، ص 233)
(Dan Dia (Allah) menjadikan aku (Nabi Isa as) seorang yang diberkati di mana saja aku berada) yaitu berguna di manapun aku menghadap. Imam Mujahid berkata: Mengajarkan kebaikan. Imam Atho’ berkata: Aku berdo’a kepada Allah, dan mengesakan-Nya juga menyembah-Nya. Dan dikatakan diberkahi atas orang yang mengikutiku (Nabi Isa As.). (Tafsir al-Baghawy, juz 3, hal. 233)
Adapun dalil yang menerangkan barokah yang terdapat pada atsar seseorang adalah hadits sebagai berikut;
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ مَوْلَى أَسْمَاءَ عَنْ أَسْمَاءَ قَالَ أَخْرَجَتْ إِلَيَّ جُبَّةً طَيَالِسَةً عَلَيْهَا لَبِنَةُ شَبْرٍ مِنْ دِيبَاجٍ كِسْرَوَانِيٍّ وَفَرْجَاهَا مَكْفُوفَانِ بِهِ قَالَتْ هَذِهِ جُبَّةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَلْبَسُهَا كَانَتْ عِنْدَ عَائِشَةَ فَلَمَّا قُبِضَتْ عَائِشَةُ قَبَضْتُهَا إِلَيَّ فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرِيضِ مِنَّا يَسْتَشْفِي بِهَا (مسند أحمد بن حنبل، باب حَدَّثَنَا أَسْمَاءُ بنت أبي بكر الصديق، رقم 25705)
Telah bercerita kepadaku Yahya bin Sa’id dari Abdul Malik, beliau berkata: Abdullah budaknya Asma’ binti Abu Bakar ra, menceritakan dari Asma’, dia berkata; Asma’ memperlihatkan kepadaku pakaian yang berlubang yang berjahit sutra, lalu asma berkata, ini adalah pakaian Rasulullah Saw. yang pernah beliau pakai. Pakaian itu dulu disimpan oleh ‘Aisyah ra. Ketika Aisyah ra. Wafat, saya yang menyimpannya. Kami selalu mencelupnya ke air untuk mengobati orang yang sakit dari kalangan kami. (Musnad Ahmad bin Hambal bab Hadatsana Asma’ binti Abu Bakar as-Shiddiq, [25705]).
Berdasarkan paparan di atas, hukumnya boleh mencari barokah (berkah) dengan berziarah ke makam-makam para wali, dengan catatan tidak meyakini bahwa tempat itulah yang memberikan berkah, akan tetapi hanya Allah Swt. semata yang memberikan barokah.
Hukum Mencium Jenazah
Ketika seseorang meninggal dunia, disunnahkan bagi yang hidup melakukan beberapa hal diantaranya mendo’akannya, berta’ziah dan menghibur keluarga yang ditinggalkan.
Sering pula kita jumpai ahli waris dan keluarga mencium jenazah yang akan disemayamkan. Bagaimanakah pandangan Islam terhadap hukum mencium jenazah?
Boleh, asalkan tidak sampai menimbulkan tangisan yang terlalu seperti dengan menampar pipi, atau menjambak rambut. Sebagaimana yang termaktub dalam Sunan Ibn Mâjah, juz I, hlm. 468, nomor hadist 1456:
حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَعَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالاَ: حَدَثَّنَا وَكِيْعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ، عَنِ القَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَبَّلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُوْنٍ وَهُوَ مَيِّتٌ، فَكَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى دُمُوْعِهِ تَسِيْلُ عَلَى خَدَّيْهِ (سنن ابن ماجه، ج 1، ص 468 رقم الحديث 1456)
Sunan Abi Daud, juz II, hlm. 79:
حَدَثَّنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيْرٍ، أَنْبَأَنَا (أَخْبَرَنَا) سُفْيَانُ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ عَنْ قَاسِمِ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ عُثْمَانَ بْنُ مَظْعُوْنٍ وَهُوَ مَيِّتٌ حَتَّى رَأَيْتُ الدُّمُوْعَ تَسِيْلُ (سنن أبي داود، ج 2، ص 79)
Subul al-Salâm, juz II, hlm. 91-92:
(وَعَنْهَا) أَىْ عَائِشَةَ (أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيْقَ قَبَّلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ مَوْتِهِ. رواه البخارى)
اُسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى جَوَازِ تَقْبِيْلِ الْمَيِّتِ بَعْدَ مَوْتِهِ. وَعَلَى أَنَّهَا تُنْدَبُ تَسْجِيَتُهُ، وَهَذِهِ أَفْعَالُ أَصْحَابِهِ بَعْدَ وَفَاتِهِ لَا دَلِيْلَ فِيْهَا لِانْحِصَارِ الْأَدِلَّةِ فِى الْأَرْبَعَةِ. نَعَمْ هَذِهِ الْأَفْعَالُ جَائِزَةٌ عَلَى أَصْلِ الْإِبَاحَةِ وَقَدْ أَخْرَجَ التُّرْمُذِيُّ مِنْ حَدِيْثِ عَائِشَةَ ((أَنَّ النّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَ عُثْمَانَ بْنُ مَظْعُوْنٍ وَهُوَ مَيِّتٌ وَهُوَ يَبْكِيْ، أَوْ قَالَ: عَيْنَاهُ تَهْرَقَانِ)) قَالَ التُّرْمُذِيُّ: حَدِيْثُ عَائِشَةَ حَسَنٌ صَحِيْحٌ (سبل السلام، ج 2، ص 91-92)
Membakar Kemenyan di Kuburan
Di kalangan masyarakat terkadang melakukan upaya membakar kemenyan (dupo) di kuburan, pada waktu mulai membangun rumah, ataupun pada waktu mulai menanam padi dan acara selamatan-selamatan lainnya. Bagaimanakah hukum perilaku masyarakat seperti di atas?
Perilaku masyarakat di atas terkait dengan keyakinan dan pengharapan, dengan demikian hukumnya ditafsil:
- Haram dan kufur, bila beri’tikad bahwa kemenyan yang dibakar memberikan pengaruh, misalnya dapat mendatangkan kebe-runtungan dan rizki.
- Boleh, melakukan upaya membakar kemenyan untuk meng-hilangkan bau yang tidak nyaman dan beri’tikad bahwa semua kemanfaatan yang dihasilkan hanya datang dari Allah. (Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 249)
جَعَلَ الْوَسَائِطِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ، فَإِنْ صاَرَ يَدْعُوْهُمْ كَمَا يَدْعُوْ اللهَ فِي اْلأُمُوْرِ وَيَعْتَقِدُ تَأْثِيْرُهُمْ فِي شَيْءٍ مِنْ دُوْنِ اللهِ تَعاَلَى فَهُوَ كُفُرٌ، وَإِنْ كاَنَ نِيَتُهُ التَّوَسُّلَ بِهِمْ إِلَيْهِ تَعَالَى فِي قَضَاءِ مُهِمَّاتِهِ، مَعَ اعْتِقَادٍ أَنَّ اللهَ هُوَ النَّافِعُ الضَّارُّ الْمُؤْثِرُ فِي اْلأُمُوْرِ دُوْنَ غَيْرِهِ، فاَلظَّاهِرُ عَدَمُ كُفْرِهِ وَإِنْ كاَنَ فِعْلُهُ قَبِيْحاً (بغية المسترشدين، ص 249)
Hukum Membangun Kuburan
Banyak sekali pemakaman baik di pemakaman umum maupun di tanah pribadi yang diberi pagar, diperbaiki dengan rapi dan indah, bahkan ada yang membangun dengan melakukan pengkijingan, pemasangan atap dan seterusnya. Kadang hal ini menelan dana yang tidak sedikit, misalnya makam para wali, makam dari golongan keluarga kaya dan sebagainya. Bagaimanakah hukum membangun makam seperti di atas?
- Haram, membangun kuburan di tanah musabbalah (tanah kuburan umum) dan tanah wakaf.
- Makruh, membangun kuburan di tanah pribadi atau tanah yang tidak diwakafkan karena termasuk menyia-nyiakan harta.
- Boleh, membangun kuburan Nabi, sahabat, auliya’ dan orang-orang shaleh karena dibuat untuk tabarruk (mencari berkah). (Khasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khatib, Fashlun Fil Janazah, juz 2, hal.297)
(وَلَا يُبْنَى) أَيْ يُكْرَهُ فِي غَيْرِ الْمُسَبَّلَةِ وَالْمَوْقُوفَةِ وَيَحْرُمُ فِيهِمَا كَمَا أَشَارَ لِذَلِكَ الشَّارِحُ ، إلَّا إنْ خِيفَ نَبْشُهُ أَوْ تَخْرِقةُ سَيْلٍ لَهُ فَلَا يُكْرَهُ حِينَئِذٍ وَلَا فَرْقَ فِي عَدَمِ الْكَرَاهَةِ لِأَجْلِ ذَلِكَ بَيْنَ الْمُسَبَّلَةِ وَغَيْرِهَا كَمَا صَرَّحَ بِهِ الزَّرْكَشِيّ .ا هـ .حَجّ وَلَوْ وُجِدَ بِنَاءٌ فِي أَرْضٍ مُسَبَّلَةٍ وَلَمْ يُعْلَمْ أَصْلُهُ تُرِكَ لِاحْتِمَالِ أَنَّهُ وُضِعَ بِحَقٍّ قِيَاسًا عَلَى مَا حَرَّرُوهُ فِي الْكَنَائِسِ وَمِنْ الْبِنَاءِ الْأَحْجَارُ الَّتِي جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِتَرْكِيبِهَا نَعَمْ اسْتَثْنَى بَعْضُهُمْ قُبُورَ الْأَنْبِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَنَحْوَهُمْ، بِرْمَاوِيٌّ وَعِبَارَةُ الرَّحْمَانِيِّ: نَعَمْ قُبُورُ الصَّالِحِينَ يَجُوزُ بِنَاؤُهَا وَلَوْ بِقُبَّةِ الْأَحْيَاءِ لِلزِّيَارَةِ وَالتَّبَرُّكِ (حاشية البجيرمي على الخطيب، فصل في الجنازة، ج 2، ص 297)
Hukum Memindah Kuburan
Terkadang kita menjumpai di tengah-tengah masyarakat ada pemindahan mayit dari pemakaman yang satu ke pemakaman yang lain, baik tempatnya berjauhan maupun dekat. Hal ini dilakukan karena berbagai alasan diantaranya karena perluasan jalan raya, sengketa tanah, bahkan juga keinginan dari pihak keluarga sendiri untuk dipindahkan. Hal semacam ini bolehkah dilakukan?
- Haram, dilakukan pemindahan tersebut, baik tempatnya berjauhan maupun dekat, karena mengakibatkan terbukanya aib si mayit, kecuali dalam keadaan dharurat. Sebagaimana keterangan dalam kitab Mahalli, juz I, hal. 352.
وَنَبْشُهُ بَعْدَ دَفْنِهِ لِلنَّقْلِ وَغَيْرِهِ حَرَامٌ إلَّا لِضَرُورَةٍ: بِأَنْ دُفِنَ بِلَا غُسْلٍ أَوْ فِي أَرْضٍ، أَوْ ثَوْبٍ مَغْصُوبَيْنِ، أَوْ وَقَعَ فِيهِ مَالٌ، أَوْ دُفِنَ لِغَيْرِ الْقِبْلَةِ لَا لِلتَّكْفِينِ فِي الْأَصَحِّ. (المحلى، ج 1 ص 352)
Menggali kembali kuburan untuk dipindahkan atau tujuan lainnya hukumnya haram kecuali karena ada sesuatu yang dharurat seperti: mayit belum dimandikan, mayit dikubur atau memakai pakaian ghosob, terdapat harta berharga, atau mayit dikubur tidak menghadap kiblat, bukan karena untuk mengkafani (menurut pendapat yang lebih sahih). (al-Mahalli, juz I, hal. 352)
- Makruh, pemindahan tersebut baik tempatnya berjauhan maupun dekat karena tidak ada dalil yang jelas mengenai hal ini. Sebagaimana dijelaskan dalam Hawasyi al-Syarwani;
وَقَضِيَّةُ قَوْلِهِ بَلَدٍ آخَرَ أَنَّهُ لَا يَحْرُمُ نَقْلُهُ لِتُرْبَةٍ وَنَحْوِهَا وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ غَيْرُ مُرَادٍ وَأَنَّ كُلَّ مَا لَا يُنْسَبُ لِبَلَدِ الْمَوْتِ يَحْرُمُ النَّقْلُ إلَيْهِ ثُمَّ رَأَيْت غَيْرَ وَاحِدٍ جَزَمُوا بِحُرْمَةِ نَقْلِهِ إلَى مَحَلٍّ أَبْعَدَ مِنْ مَقْبَرَةِ مَحَلِّ مَوْتِهِ (وَقِيلَ يُكْرَهُ) إذْ لَمْ يَرِدْ دَلِيلٌ لِتَحْرِيمِهِ (حاشية الشروانى، ج 4 ص 199)
Batasan pemindahan itu selagi tidak melebihi jarak kuburan daerahnya si mayit. Dalam hal ini menurut sebagian ulama’ pemindahan itu tidak diharamkan, akan tetapi dihukumi makruh, karena tidak ada dalil yang tegas dalam hal ini. (Hasyiyah al-Syarwani, juz 4, hal. 199)
Membongkar Kuburan
Di suatu daerah terdapat peristiwa pembongkaran makam, hal ini dilakukan karena mayat di dalamnya harus divisum terkait dengan kasus kriminal yang terjadi. Bagaimanakah hukum dari pembongkaran pemakaman mayat tersebut?
- Haram, karena hal tersebut merupakan perkara yang membuka aib si mayit.
- Boleh, apabila hal ini mendapat izin dari keluarga mayat.
Keterangan di atas berdasarkan kitab Bujairami ‘ala al-Khotib, juz 2, hal. 309.
وَأَمَّا نَبْشُهُ بَعْدَ دَفْنِهِ وَقَبْلَ الْبَلَى عِنْدَ أَهْلِ الْخِبْرَةِ بِتِلْكَ الْأَرْضِ لِلنَّقْلِ وَغَيْرِهِ كَالصَّلَاةِ عَلَيْهِ وَتَكْفِينِهِ فَحَرَامٌ لِأَنَّ فِيهِ هَتْكًا لِحُرْمَتِهِ إلَّا لِضَرُورَةٍ بِأَنْ دُفِنَ بِلَا غُسْلٍ وَلَا تَيَمُّمٍ بِشَرْطِهِ وَهُوَ مِمَّنْ يَجِبُ غُسْلُهُ لِأَنَّهُ وَاجِبٌ، فَاسْتَدْرَكَ عِنْدَ قُرْبِهِ فَيَجِبُ عَلَى الْمَشْهُورِ نَبْشُهُ وَغُسْلُهُ إنْ لَمْ يَتَغَيَّرْ أَوْ دُفِنَ فِي أَرْضٍ أَوْ فِي ثَوْبٍ مَغْصُوبَيْنِ وَطَالَبَ بِهِمَا مَالِكُهُمَا فَيَجِبُ النَّبْشُ وَلَوْ تَغَيَّرَ الْمَيِّتُ لِيَصِلَ الْمُسْتَحِقُّ إلَى حَقِّهِ ، وَيُسَنُّ لِصَاحِبِهِمَا التَّرْكُ .(البجيرمى على الخاطب ج 2 ص 309)
Sebab-sebab wajibnya membongkar kuburan:
- Mayat belum dimandikan
- Mayat tidak menghadap kiblat
- Jika mayat membawa barang orang lain (ghosob)
- Ada janin pada perut mayat dan diperkirakan janin tersebut masih hidup, (misalnya karena janin berumur 6 bulan lebih), menurut ahli kedokteran.
- Orang kafir yang dikubur di pemakaman orang islam.
- Terkena banjir atau bencana yang lain.
- Orang kafir yang dikubur di Tanah Suci (Makkah)
- Adanya tuntutan orang lain terhadap ahlul waris mayit karena terjadi kasus.
Keterangan dalam kitab Inarah ad-Duja, hal. 158
وَيَنْبَسُ الْمَيِّتُ لِلْأَرْبَعَةِ لِلْغُسْلِ مَعْ تَوْجِيْهِهِ لِلْقِبْلَةِ
هَذَا لَمْ إِذَا يَتَغَيَّرْ وَانْتِقَا لِلْمَالِ إِنْ دُفِنَ مَعْهُ مُطْلَقًا
كَذَاكَ لِلْجَنِيْنِ حَيْثُ دُفِنَا مَعْ أُمِّهِ وَظُنَّ حَيًّا هَاهُنَا
Dengan demikian membongkar kuburan hukumnya boleh ketika dalam keadaan darurat.
Hukum Nglendih Mayit di Kuburan
Di kalangan masyarakat, apalagi masyarakat yang hidup di daerah perkotaan, terkadang terjadi saling tindih dalam hal pemakaman mayat. Kuburan yang sudah lama yang diperkirakan mayatnya sudah menjadi tanah, digali kembali untuk diganti dengan mayat yang baru yang akan dimakamkan. Hal itu dikarenakan area pemakaman yang sempit. Dari permasalahan tersebut, bagaimanakah hukum nglendih mayat (menggusur makam yang sudah ada mayatnya, diganti dengan mayat yang baru) menurut syari’at Islam?
- Tidak boleh, kecuali mayat yang didalamnya sudah membusuk dan sudah menjadi debu.
فَرْعٌ لاَ يَجُوْزُ نَبْشُ الْقَبْرِ إِلاَّ فِي مَوَاضِعَ مِنْهَا: أَنْ يَبْلَيَ الْمَيِّتُ وَيصِيْرُ تُرَابًا فَيَجُوْزُ نَبْشُهُ وَدَفْنُ غَيْرِهِ وَيُرْجَعُ فِي ذَلِكَ إِلَى أَهْلِ الْخُبْرَةِ وَتَخْتَلِفُ بِاخْتِلاَفِ الْبِلاَدِ وَاْلأَرْضِ وَإِذَا بَلِيَ المَيِّتُ لَمْ يَجُزْ عِمَارَةُ قَبْرِهِ وَتَسْوِيَةُ التُّرَابِ عَلَيْهِ فِي الْمَقَابِرِ المُسَبَّلَةِ لِئَلاَّ يَتَصَوَّرَ بِصُوْرَةِ الْقَبْرِ الْجَدِيْدِ فَيَمْتَنِعُ النَّاسُ مِنَ الدَّفْنِ فِيْهِ (روضة الطالبين ص 238)
Tidak boleh menggali kuburan kecuali dalam beberapa tempat, diantaranya: Apabila mayat sudah membusuk dan menjadi debu, maka boleh menggali dan mengubur mayat yang lainnya. Sedangkan masalah sudah membusuknya mayat ataupun belum dikembalikan pada yang ahlinya, juga karena perbedaan tanah dan daerah. Dan apabila mayat membusuk maka tidak boleh meramaikan kuburan (merawat/ membangun) dan meratakan tanahnya di tempat pemakaman umum supaya tidak dianggap seperti kuburan yang baru sehingga orang lain tidak bisa mengubur di dalamnya. (Raudhah at-Thalibin, hal. 238)
- Sunnah mengumpulkan beberapa kerabat dalam satu area/lokasi pemakaman.
قَالَ الشَّافِعِيُّ وَاْلأَصْحَابُ رَحِمَهُمُ الله يُسْتَحَبُّ أَنْ يُجْمَعَ الأَقَارِبُ فِي مَوْضِعٍ وَاحِدٍ مِنَ الْمَقْبَرَةِ (روضة الطالبين ص 239)
Imam Syafi’i dan para sahabatnya ra. berkata: Sunnah mengumpulkan beberapa kerabat dalam satu tempat pekuburan. (Raudhah at-Thalibin hal. 239)
Status Nonmuslim yang Meninggal Sebelum Baligh
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, ada 3 pendapat:
- Menurut sebagian ulama’ anak orang kafir yang meninggal belum baligh akan masuk neraka karena dinisbatkan (digolongkan) pada orang tuanya yang kafir.
عَنْ خَدِيْجَةَ أَنَّهَا سَاَلَتْ اَلنَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَوْلاَدِهَا اَلَّذِيْنَ مَاتُوْا فِى الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ زَوْجٍ لَهَا قَبْلَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقاَلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ شِئْتِ أَرَأَيْتُكِ تَقْبِلَهُمْ فِى النَّارِ وَإِنْ شِئْتِ اِسْمَعْكِ نَعْلاَئِهِمْ فِى النَّارِ وَلِأَنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ وَلاَ يَلِدُوْا إِلاَّ فاَجِرًا كَفَّارًا، فَإِنَّهُمْ حِيْنَ وَلَدُوْا كاَنُوْا كُفَّارًا
Diceritakan dari Siti Khadijah Ra., sesungguhnya dia bertanya pada Nabi tentang anak-anaknya yang telah meninggal pada masa Jahiliyah dengan suami sebelum Nabi, Maka Nabi Muhammad Saw. Berkata: Kalau kamu ingin mengetahui, aku akan menunjukkan keberadaan anakmu di neraka, kalau kamu ingin mengetahui aku akan memperdengarkan sandal anakmu yang ada di neraka, Allah Swt. berfirman: Anak-anak orang kafir tidak dilahirkan kecuali menjadi orang yang rusak dan kafir.
- Menurut sebagian ulama anak orang kafir yang meninggal sebelum baligh akan masuk surga karena dikembalikan pada fitrah (suci)
رُوِىَ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاَبُوْاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ
Diceritakan dari Nabi Muhammad Saw. beliau bersabda; setiap bayi yang dilahirkan adalah suci, tergantung orang tuanya yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi.
- Menurut sebagian ulama’, anak orang kafir yang meninggal sebelum baligh akan dijadikan pelayan surga.
عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَذَرُوْنَ مِنَ اللاَّهُوْنِ مِنْ أُمَّتِىْ فَقَالُوْا اَللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ فَقاَلَ أَطْفاَلُ الْمُشْرِكِيْنَ لَمْ يَذْنِبُوْا فَيُعَذِّبُوْا وَيُعَمِّلُوْا حَسَنَةً فَيُثاَبُوْا فَهُمْ خُدَّامُ أَهْلِ الْجَنَّةِ
Diceritakan dari Nabi Muhammad Saw. Beliau bersabda: apakah kalian tahu apa yang dinamakan Lahun dari umatku? Para sahabat menjawab: Allah dan rasulnya yang lebih tahu. Kemudian Nabi bersabda: mereka adalah anak-anak orang kafir yang meninggal sebelum baligh, belum melakukan dosa dan akan disiksa, dan belum melakukan perbuatan baik kemudian mendapat pahala, yaitu anak-anak orang kafir (yang meninggal sebelum baligh) mereka akan menjadi pelayan di surga. (Bustan al-Arifin, hal. 101-102)
Liang Lahat itu Lebih Utama daripada Liang Syaq
Pemakaman jenazah dilakukan agar jasad si mayit terjaga dari jangkauan binatang buas atau agar baunya tidak merebak keluar.
Ada dua macam cara penguburan jenazah yaitu menggunakan liang lahat (menggali kubur yang bagian bawah sebelah barat dibuatkan liang yang sekiranya cukup untuk memasukkan jenazah dan menutupinya) atau liang syaq (menggali kubur yang bagian tengahnya dibuatkan galian semacam parit (tempat jenazah) yang kiri kanannya di bangun dengan batu bata atau semacamnya). Dan hukum menggunakan salah satu dari keduanya sama-sama diperbolehkan,
يَجُوْزُ الدَّفْنُ فِي الشَّقِّ وَاللَّحْدِ (روضة الطالبين، ص 235)
Akan tetapi manakah yang lebih baik antara menggunakan liang lahad atau liang syaq dalam penguburan jenazah?
Dalam hal ini penggunakan liang lahat lebih utama daripada liang syaq. Sebagiamana keterangan dalam kitab:
- Sunan Ibn Majâh, juz I, hlm. 496:
1554 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ. حَدَّثَنَا حَكَّامُ بْنُ سَلْمٍ الرَّازِيُّ. سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ عَبْدِ اْلأَعْلَى يَذْكُرُ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: اَللَّحْدُ لَنَا وَالشَّقُّ لِغَيْرِنَا (سنن ابن ماجة، ص 496، ج 1، رقم الحديث 1554)
- kitab Kifayah al-Akhyâr, hlm. 137:
يُسْتَحَبُّ اَنْ يُدْفَنَ فِي اللَّحْدِ وَهُوَ اَفْضَلُ مِنَ الشَّقِ
- Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqash, bahwasanya beliau berkata :
(وعن سعد بن أَبي وقّاص قال: “اِلْحِدُوْا لِيْلَحْداً وانْصِبُوا عَليَّ اللَّبِنَ نَصْباً كَمَا صُنِعَ بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ” رواهُ مُسْلم (سبلالسلام، ج 2، ص 110)
“Buatkanlah liang lahat untukku dan dirikan batu diatasku sebagaimana yang diberlakukan kepada Rasulullah SAW”.
(وَيُدْفَنُ فِي لَحْدٍ) وَهُوَ بِفَتْحِ اللَّامِ وَضَمِّهَا وَسُكُوْنِ الْحَاءِ فِيْهِمَا أَصْلُهُ الْمَيْلُ، وَالْمُرَادُ أَنْ يُحْفَرَ فِي أَسْفَلِ جَانِبِ الْقَبْرِ الْقبلي مَائِلًا عَنِ الْاِسْتِوَاءِ قَدْرَ مَا يَسَعُ الْمَيْتُ وَيَسْتُرُهُ وَهُوَ أَفْضَلُ مِنَ الشَّقِّ – بِفَتْحِ الْمُعْجَمَةِ – إِنْ صَلَبَتِ الْاَرْضُ، وَهُوَ أَنْ يُحْفَرَ قَعْرَ الْقَبْرِ كَالنَّهْرِ وَيُبْنَى جَانِبَاهُ بِلَبِنٍ أَوْ غَيْرِهِ غَيْرِ مَا مَسَّتْهُ النَّارُ وَيُجْعَلُ الْمَيِّتُ بَيْنَهُمَا، أَمَّا الْاَرْضُ الرَّخْوَةُ فَالشَّقُ فِيْهَا أَفْضَلُ خَشْيَةَ الْاِنْهِيَارِ وَيُوْضَعُ فِي اللَّحْدِ أَوْ غَيْرِهِ. (حاشية البجيرامى على الخطيب، ج 6، ص 146)
Hukum Duduk di Atas Kuburan
Pada saat mengiringi jenazah, kita dianjurkan untuk tidak tergesa-gesa pulang sebelum proses pemakaman jenazah selesai, dan dianjurkan pula untuk mengikuti pemakaman tersebut dengan khidmat, namun tidak jarang pada proses pemakaman, masyarakat lupa bahwa yang berada dibawahnya juga kuburan, sehingga banyak masyarakat yang duduk diatas kuburan. Bagaimana hukum duduk di atas kuburan?
- Boleh, jika duduk disaat proses pemakaman
- Haram, jika duduk bertujuan untuk kencing dan buang hajat.
- Makruh, jika duduknya tidak bertujuan untuk kencing dan buang hajat.
رَوَاهُ أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتَحْرِقَ ثِيَابِهِ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ فَتَأَوَّلَ مَالِكٌ رَحِمَهُ الله هَذَا عَلَى أَنَّ النَّهْيَ عَنْ الْجُلُوسِ عَلَى الْقُبُورِ إنَّمَا تَنَاوَلَ الْجُلُوسَ عَلَيْهَا لِقَضَاءِ الْحَاجَةِ، وَقَدْ قَالَ مِثْلَ قَوْلِ مَالِكٍ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَهُوَ الْأَظْهَرُ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم قَدْ زَارَ الْقُبُورَ وَأَبَاحَ زِيَارَتَهَا وَلَا خِلَافَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ فِي جَوَازِ الْجُلُوسِ عَلَيْهَا عِنْدَ الدَّفْنِ فَيُحْمَلُ الْحَدِيثُ عَلَى ذَلِكَ وَيُجْمَعُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَا رُوِيَ مِنْ قَوْلِ عَلِيٍّ رَضِيَ الله عَنْهُ وَفِعْلِهِ (المنتقى– شرح الموطأ، ج 2 ص 51: المكتبة الشاملة)
(لأن يجلس أحدكم على جمرة فتحرق ثيابه فتخلص إلى جلده) أي فتصل الجمرة إلى الجلد (خير له من أن يجلس على قبر) قال الطيبي : جعل الجلوس على القبر وسريان ضرره إلى قلبه وهو لا يشعر بمنزلة سراية النار من الثوب إلى الجلد ثم إلى داخله اهـ. وهذا مفسر بالجلوس للبول والغائط كما في رواية أبي هريرة فالجلوس والاستناد والوطء على القبر لغير ذلك مكروه لا حرام بل لا يكره لحاجة (فيض القدير، ج 5، ص 328)
وَجَزْمُ شَرْحِ مُسْلِمٍ، كَاَخَرِيْنَ بِحُرْمَةِ اْلقُعُودِ عَلَيْهِ وَاْلوَطْءِ لِخَبَرٍ فِيهِ، يَرُدُّهُ أَنَّ اْلمُرَادُ بِالْجُلُوسِ عَلَيْهِ جُلُوسُهُ لِقَضَاءِ اْلحَاجَةِ (فتح المعين، ص 46)
Memasang Batu Nisan di Kuburan
Batu nisan (mahesan) adalah penanda kuburan yang biasanya dibuat dari batu bata atau papan kayu, dan juga ditulisi dengan nama orang yang dikebumikan disana, tanggal lahir, dan tanggal mati. Secara realita, sudah menjadi tradisi di desa kita ketika selesai penguburan jenazah, orang-orang memasang mahesan di atas kuburan tepat di posisi kepala jenazah. Bagaimana hukum memasang mahesan di kuburan?
Sunnah, apabila untuk mengetahui dimana kuburan itu serta memudahkan keluarga yang menziarahinya. Bertujuan untuk menandakan batu atau kayu sebagai pengenal saja dan sebagai ciri bahwa itu adalah kuburan. Sebagaimana diterangkan dalam kitab Sunan Ibn Majâh, juz I, hlm. 489 dan dalam kitab al-Muhadzab Imam as-Syafi’i, juz I, hlm. 138 disebutkan:
1561 – حَدَّثَنَا اْلعَبَّاسُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّد بْنُ أَيُّوبَ أَبُو هُرَيْرَةَ اْلوَاسِطِيُّ. حَدَّثَنَا عَبْدُ اْلعَزِيْزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ كَثِيْرِ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ نُبَيْطٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَعْلَمَ قَبْرَ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ بِصَخْرَةٍ. (سنن اين مجاه، ج 1، ص 489)
يُسْتَحَبُّ اَنْ يُجْعَلَ عِنْدَ رَأسِهِ عَلاَمَةً مِنْ حَجَرٍ اَوْ غَيْرِهِ، لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَفَنَ عُثْمَانِ بْنُ مَظْعُونٍ وَوُضِعَ عِنْدَ رَأْسِهِ حَجَرٌ وَلِأَنَّهُ يَعْرِفُهُ بِه. (المهذب الإمام الشفعي،ج 1، ص 138)
Citation
Santri Pondok Pesantren demo: „Pemakaman dan Jenazah“,Version 1.0. In: Ensiklopedi Fikih. Published by Pondok Pesantren demo, Pasuruan, Indonesia, Pasuruan, 16.10.2023.