Masjid dan Waqaf
- Version 1.0
Table of Contents
- Menghiasi Masjid
- Status Uang Kotak Amal
- Kewenangan Takmir Mengeluarkan Biaya
- Uang Masjid untuk Bisyarah Khatib Shalat Jum’at
- I’tikaf di Serambi Masjid
- Hukum Serambi Masjid
- Hukum Makan di dalam Masjid
- Hukum Membawa Sandal yang Terkena Najis Ke dalam Masjid
- Hukum Memperluas Masjid
- Hukum Memindahkan Sumur Masjid untuk Menjaga Masjid
- Hukum Alih Fungsi Masjid Menjadi Tempat Parkir, dan Masjid Dipindah ke Belakang
- Hukum Menukar Tanah Wakaf Masjid (Tukar Guling)
- Hukum Membatasi Waqaf dan Menangguhkannya
- Orang Kafir Mewaqafkan Tanah
- Hukum Wakaf dari Non Muslim
- Citation
- Metadata
Menghiasi Masjid
Seringkali kita menemukan hiasan-hiasan di dinding masjid seperti hiasan yang berbentuk kaligrafi yang sengaja dibuat atau ditempel untuk menghias dan menambah keindahan masjid, akan tetapi sangat disayangkan terkadang dalam kondisi shalat mata kita tanpa sengaja terpesona melihat hiasan tersebut sehingga membuat konsentrasi pikiran dan kekhusyukan hati menjadi terganggu.
Dari fenomena tersebut, bagaimanakah hukum menghiasi masjid?
- Makruh, apabila hiasan tersebut dapat mengganggu kekhusyukan orang yang shalat.
- Boleh, apabila hiasan tersebut tidak mengganggu kekhusyukan orang yang shalat. Keterangan kitab al-Majmu’ juz 3 hal. 180:
وَيُكْرَهُ زُخْرِقَةُ الْمَسْجِدِ وَنَقْشُهُ وَتَزِيْنُهُ لِلْاَحاَدِيْثِ الْمَشْهُوْرَةِ وَلِأَنَّهُ لاَتَشْتَغِلُ قَلْبَ الْمُصَلِّى اَلنَّاسُ اهـ (المجموع شرح المهذب، ج 3، ص 180)
Menghiasi masjid hukumnya makruh, karena bisa mengganggu ketenangan orang shalat. (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, juz III, hal. 180)
Hukum boleh dalam masalah ini, diambil dari mafhum mukhalafah dalil di atas yaitu: apabila hiasan untuk masjid tidak mengganggu orang yang shalat maka hukum menghiasi masjid adalah boleh.
Status Uang Kotak Amal
Apakah uang hasil dari kotak amal jariyah di masjid-masjid itu termasuk barang wakaf?
Uang dari hasil kotak amal bukan termasuk barang wakaf, karena uang tersebut tidak termasuk dalam kategori barang yang boleh diwakafkan, yakni tidak Baqa’ul ‘Ain (habis setelah dibelanjakan), juga tanpa adanya sighat wakaf. Sebagaimana keterangan sebagai berikut ini:
وَالْوَقْفُ جَائِزٌ بِثَلَاثَةِ شَرَائِطَ وَفِى بَعْضِ النُّسَخِ اَلْوَقْفُ جَائِزٌ وَلَهُ ثَلَاثَةُ شُرُوْطٍ اَحَدُهَا اَنْ يَكُوْنَ الْمَوْقُوْفُ مِمَّا يُنْتَفَعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ (فتح القريب هامش الباجورى ج 2 ص 42)
وَاِنْ مَلَكَ لِاَجْلِ الْاِحْتِيَاجِ اَوِ الثَّوَابِ مِنْ غَيْرِ الصِّيْغَةِ كَانَ صَدَقَةً فَقَطْ (اعانة الطالبين ج 3 ص 144)
وَالْمُرَادُ بِالْمَالِ الْمُعَيِّنَةِ بِشَرْطِهَا الاَّتِىْ غَيْرُ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيْرِ لِاَنَّهَا تَنْعَدِمُ بِصَرْفِهَا فَلَايَبْقَى لَهَا عَيْنٌ مَوْجُوْدَةٌ (اعانة الطالبين ج 3 ص 157)
Kewenangan Takmir Mengeluarkan Biaya
Takmir adalah orang yang mengabdikan dirinya untuk merawat masjid dan melayani kebutuhan orang yang ada kaitannya dengan fasilitas masjid demi kenyamanan para jama’ah dalam melaksanakan ibadah, sehingga dibutuhkan tenaga takmir secara rutin untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan dalam masjid, maka dari itu sudah layak kalau takmir masjid mendapatkan bisyarah dari kinerjanya tersebut. Bagaimana hukum takmir masjid yang mengeluar-kan uang masjid untuk kepentingan bisyarah ta’mir atau nadhir?
Jawaban permasalahan ini ditafsil sebagai berikut:
- Tidak boleh, jika tidak mendapat izin dari hakim atau masyarakat.
وَاَلَّذِي يَظْهَرُ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِلنَّاظِرِ أَنْ يَسْتَقِلَّ بِأَخْذِ ما شُرِطَ لَهُ (الفتوى الكبرى الفقهية ج 3 ص 278)
- Boleh, jika jumlahnya di bawah upah minimum/shadaqah.
وَاَفْتىَ ابْنُ الصَّباَغِ بِاَنَّهُ اَلْاِسْتِقْلَالُ بِذَالِكَ مِنْ غَيْرِ الْحَاكِمِ (قَوْلُهُ اَلْاِسْتِقْلَالُ بِذَالِكَ) اَىْ بِأَخْذِ الْاَقَلِّ مِنْ نَفَقَةٍ وَاُجْرَةِ مِثْلِهِ (اعانة الطالبين ج 3 ص 186)
Uang Masjid untuk Bisyarah Khatib Shalat Jum’at
Bagaimana hukum membelanjakan uang dari kotak amal jariyah masjid untuk kebutuhan finansial, (misal, untuk bisyaroh khatib).
Boleh mengalokasikan sebagian hasil kotak amal jariyah masjid untuk orang yang berkhotbah (khatib) yang bersangkutan, karena hal ini termasuk membelanjakan untuk kepentingan masjid, seperti membeli lampu, membayar biaya listrik, pengeras suara, dan lain sebagainya.
(مَسْأَلَةٌ: ي) لَيْسَ لِلنَّاظِرِ الْعَامِ وَهُوَ الْقَاضِيُّ أَوِ اْلوَالِيُّ النَّظِرِ فِيْ أَمْرِ الْأَوْقَافِ وَأَمْوَالِ الْمَسَاجِدِ مَعَ وُجُوْدِ النَّاظِرِ الْخَاصِّ الْمُتَأَهِّلِ، فَحِيْنَئِذٍ فَمَا يَجْمَعُهُ النَّاسُ وَيُبْذِلُوْنَهُ لِعِماَرَتِهَا بِنَحْوِ نَذَرٍ أَوْ هِبَةٍ وَصَدَقَةٍ مَقْبُوْضِيْنَ بِيَدِ النَّاظِرِ أَوْ وَكِيْلِهِ كَالسَّاعِي فِي الْعِمَارَةِ بِإِذْنِ النَّاظِرِ يَمْلِكُهُ الْمَسْجِدُ، وَيُتَوَلَّى النَّاظِرُ اَلْعِمَارَةَ بِالْهَدْمِ وَالْبِنَاءِ وَشِرَاءِ اْلآلَةِ وَاْلاِسْتِئْجَارِ (بغية المسترشدين، ص 65)
I’tikaf di Serambi Masjid
I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat taqarrub ilallah atau mendekatkan diri kepada Allah. Banyak yang dapat dilakukan untuk beri’tikaf di masjid baik dengan cara berdzikir, membaca al-Qur’an, dan merenung atau tafakkur ilallah. Bagaimana hukum i’tikaf dilakukan di serambi masjid?
- Sah, diterangkan dalam al-Majmû’ Syarh al-Muhadzab, juz VIII, hlm. 7:
قَالَ اَصْحَابُنَا وَيَصِحُّ الْاِعْتِكَافُ فِيْ سُطْحِ الْمَسْجِدِ وَرَحْبَتِهِ بِلَا خِلَافٍ (مجموع الشرح مهذّب، ج 8، ص 7)
- Tidak sah, jika serambi tersebut diyakini bukan bagian dari masjid. Hal ini diterangkan dalam kitab I’anah al-Thâlibîn, juz II, hlm. 210:
(قوله أو رحبته) أَيْ أَوْ فِيْ رَحْبَةِ الْمَسْجِدِ (وقوله التي لم يتيقن إلخ) فَإِنْ تَيَقَّنَ حُدُوْثُهَا بَعْدَهُ مَعَ كَونِهَا غَيْرَ مَسْجِدٍ فَلَا يَصِحُّ الْاِعْتِكَافُ فِيْهَا (اعانة الطالبين، ج 2، ص 210)
Hukum Serambi Masjid
Bangunan masjid biasanya terdiri dari dua bagian, yaitu: ruang dalam (utama) dan ruang luar (serambi). Apakah hukum serambi masjid sama dengan masjid?
- Serambi masjid termasuk masjid. (Talkhish Hamsy Bughyah al-Mustarsyidin hlm. 96, al-Asybah Wan Nazhair hlm. 86)
فهي رحبة لها أحكام المسجد ( تلخيص هامش بغية المسترشدين، ص 96)
فَصْلٌ: وَيَدْخُلُ فِى هَذِهِ الْقَاعِدَةِ حَرِيْمُ الْمَعْمُوْرُ وَلَا يَمْلِكُ بِالْاَحْيَاءِ قَطْعًا وَحَرِيْمُ الْمَسْجِدِ وَحُكْمُهُ حُكْمُ الْمَسْجِدِ وَلَا يَجُوْزُ الْجُلُوْسُ فِيْهِ لِلْبَيْعِ وَلَا لِلْجُنُبِ، وَيَجُوْزُ الْاِ قْتِدَاءُ فِيْهِ بِمَنْ فِى الْمَسْجِدِ وَالْاِعْتِكَافُ فِيْهِ (الأشباه والنظائر، ص 86)
- Serambi masjid bukan termasuk masjid dan beri’tikaf di serambi masjid dihukumi tidak sah. (I’anah al-Thalibin, juz II, hlm. 259-260).
أَوْ رَحْبَتِهِ الَّتِيْ لَمْ يُتَيَقَّنْ حُدُوْثُهَا بَعْدَهُ وَأَنَّهَا غَيْرُ مَسْجِدٍ (وقَوْلُهُ الَّتِيْ لَمْ يُتَيَقَّنْ الخ) فَإِنْ تُيُقِّنَ حُدُوْثُهَا بَعْدَهُ مَعْ كَوْنِهَا غَيْرَ مَسْجِدٍ فَلاَ يَصِحُّ اْلإِعْتِكَافُ فِيْهَا (إعانة الطالبين، ج 2، ص 259-260)
- Serambi masjid adakalanya termasuk masjid dan adakalanya bukan termasuk masjid tergantung atas ucapan waqif (orang yang mewaqafkan tanah). Demikian juga bila tidak diketahui keadaannya apakah termasuk masjid atau bukan. Sebagaimana keterangan ‘Al-Samhudi (Talkhish al-Murad, hlm. 96)
وَيَتَحَقَّقُ كَوْنُ الرَّحْبَةِ مِنَ الْمَسْجِد اِمَّا بِوَقْفٍ أَوْ بِاِطْلاَقِ الْمَسْجِدِ عَلَيْهَا وَكَذَا اِنْ جُهِلَ حَالُهَا اَهِيَ مِنَ الْمَسْجِدِ اَمْ لاَ كَمَا قَالَهُ السَّمْهُوْدِيّ (تلخيص المراد، ص 96)
Hukum Makan di dalam Masjid
Di kalangan masyarakat sering melakukan kegiatan seperti: Pengajian, Tahlilan, Selamatan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan lain-lain. Kegiatan ini sering dilakukan di masjid, yang mana acara ini biasanya diakhiri dengan makan bersama.
Bagaimanakah hukum makan dan minum di dalam masjid?
- Boleh, Jika tidak mengotori masjid. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Sunan Ibn Mâjah, juz II, hlm. 291, hadits 3300:
حَدَّثَنَا يَعْقُوْبُ بْنِ حَمَيْدِ بْنِ كَاسِبِ، وَحَرْمَلَةُ بْنِ يَحْيَ، قَالَا: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنِ وَهْبٍ. أَخْبَرَنِيْ عَمْرُو بْنِ الحَارِثِ. حَدَّثَنِيْ سُلَيْمَانُ بْنِ زِيَادٍاْلحَضْرَمِيْ، أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدُ اللهِ بْنِ الحَارثِ بْنِ جُزْءٍ الزُّبَيْدِيِّ يَقُوْلُ: كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اْلمَسْجِدِ، الخُبْزَ وَاْللَّحْمَ (سنن ابن ماجه،ج 2، ص 291، رقم الحديث 3300)
واَلتَّضَيُّفُ فِى الْمَسْجِدِ الْباَدِيَةِ يَكُوْنُ بِاِطْعاَمِ الطَّعَامِ النَّاشِفِ كَالتَّمْرِ لاَ اِنْ كَانَ مُقَذِّرًا كَالطَّبْحِ وَالبِطِّيْحِ وَاِلاَّ حَرُمَ اِلاَّ بِنَحْوِ سُفْرَةٍ تُجْعَلُ تَحْتَ اْلاِنَاءِ بِحَيْثُ يَغْلِبُ عَلَى الظَّنِّ عَدَمُ التَّقْذِيْرِ فَالظَّاهِرُ اَنَّهُ يَقُوْمُ مَقَامَ النَّاشِفِ (فتاوى العلامة الشيخ حسين ابراهيم المقري فى فصل أحكام المساجد)
Penjamuan dalam masjid di pedesaan dengan menyuguhkan makanan kering seperti kurma hukumnya boleh, dan diharamkan jika bisa mengotori masjid seperti makanan basah semisal semangka, kecuali jika menggunakan alas (bejana) yang sekiranya kuat dugaan tidak akan mengotori masjid. Dalam hal ini sama dengan makanan yang kering (hukumnya boleh). (Fatawi al-Allamah as-Syaikh Husain Ibrahim al-Muqarri dalam Fasal Ahkam al-Masajid)
- Haram, apabila sampai mengotori masjid. Diterangkan dalam kitab al-Madzâhib al-Arba’ah, juz I, hlm. 293.
- Makruh, apabila makanan yang dibawa ke dalam masjid berbau tidak enak. Hal ini juga dijelaskan dalam kitab al-Madzâhib al-Arba’ah, juz I, hlm. 293:
الشافعية قَالُوْا: الأَكْلُ فِي الْمَسْجِدِ مُبَاحٌ مَا لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ تَقْذِيْرُ الْمَسْجِدِ كَأَكْلِ اْلعَسَلِ وَالسَّمَنِ، وَكُلُّ مَا لَهُ دُسُوْمَةٌ وَإِلاَّ حَرُمَ، لِأَنَّ التَقْذِيْرَ الْمَسْجِدِ بِشَيْئٍ مِنْ ذَلِكَ وَنَحْوَهُ حَرَامٌ وَإنْ كَانَ طَاهِرًا، أَمَّا إذَا تَرَتَّبَ عَلَيْهِ تَعْفِيْشُ اْلمَسْجِدِ بِالطَّاهِرِ لَا تَقْذِيْرَهُ كَأَكْلِ نَحْوُ اْلفُوْلِ فِي اْلمَسْجِدِ فَمَكْرُوْهٌ (المذاهب الأربعة، ج 1، ص 293)
Hukum Membawa Sandal yang Terkena Najis Ke dalam Masjid
Sandal merupakan alas kaki yang dipakai dalam sehari-hari sehingga tidak menutup kemungkinan terkena najis. Sering kita temui orang membawa sandalnya ke dalam masjid, baik karena khawatir hilang atau yang lainnya. Bagaimana hukum membawa sandal yang terkena najis kedalam masjid?
- Tidak boleh, kecuali dikhawatirkan hilang dan aman dari jatuhnya najis. (bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 43, al-Fatawi al-Kubrâ (imam syafi’i) juz I hlm. 251-252, (Al-Majmu’ : juz III hlm. 163)
وَلَا يَجُوْزُ إِدْخَالَ النَّعْلِ الْمُتَنَجِّسِ إِلَّا إِنْ خَشِيَ عَلَيْهِ خَارِجَهُ وَأَمَنَ تلويثه اه وف (بغيةالمسترشدين، ص 43)
عن أبي سعيد الخدري قال: بينما رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلي بأصحابه إذ خلع نعليه فوضعهما عن يساره فلما رأى ذلك القوم ألقوا نعالهم فلما قضى رسول الله صلى الله عليه و سلم صلاته قال: ((ما حملكم على إلقائكم نعالكم؟))، قالوا رأيناك ألقيت نعليك فألقينا نعالنافقال رسول الله صلى الله عليه و سلم: ((إن جبريل صلى الله عليه و سلم أتاني فأخبرني أن فيهما قذرا)) أو قال أذىوقال صلى الله عليه : إذا جاء أحدكم إلى المسجد فلينظر فإن رأى في نعليه قذرا أو أذى فليمسحه وليصل فيهما (المجموع، ج 3، ص 163)
- Boleh, ketika najis tidak dikhawatirkan jatuh didalam masjid. (Hawasyi Syarwany, juz I, hlm. 635)
يجوز إدخال النعل المتنجس المسجد حيث أمن وصول نجاسة منه للمسجد وكذا دخوله بثوب متنجس نجاسة حكمية (حواشى الشروانى، ج 1، ص 635)
Hukum Memperluas Masjid
Saat ini perluasan masjid banyak dilakukan diberbagai daerah dengan tujuan untuk menambah atau mencukupi volume jama’ah di daerah tersebut. Bagaimana hukum memperluas masjid?
Boleh memperluas/merubah bangunannya dengan syarat mendapatkan izin dari nazhir perwakilan orang yang mewakafkan dan jika tidak diizinkan oleh nazhir maka hakim berhak memberikan izin. Bughyah al-Mustarsyidin hlm. 65:
ويجوز توسيع المسجد وتغيّر بنائه بنحو رفع الحجة بشرط إذن الناظر من جهة الواقف ثم الحاكم الأهل فإن لم يوجد (بغية المشترشدين، ص 65)
Hukum Memindahkan Sumur Masjid untuk Menjaga Masjid
Untuk memudahkan para jama’ah dalam beribadah, masjid menyediakan fasilitas kamar mandi atau tempat wudhu’ bagi para jama’ah. Untuk penyediaan fasilitas itu, biasanya masjid menggunakan jasa PDAM atau dengan membangun sumur di area tanah masjid.
Namun, bagaimana jika sumur masjid letaknya berdekatan dengan masjid, sehingga menyebabkan tembok masjid menjadi berlumut? Bolehkah sumur tersebut ditutup, lalu dipindah ke sumur lain?
Sumur yang berdekatan dengan masjid dan bisa merusak bangunan masjid, maka boleh dipindahkan. Bahkan wajib bagi ta’mir untuk menutupnya, dan menggali sumur di tempat lainnya.
Sebagaimana ini diterangkan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 65:
(مسألة): بئر قرب مسجد تضرر بها وخيف على جداره بنداوتها جاز بل وجب على الناظر طمها وحفر غيرها، ولا ينقطع الثواب بحفر الثانية إنكان من غلّة المسجد، وفي الإ يعاب: لا يكره حفر البئر في المسجد لحاجة كأنّ لا يحضره جماعة لعدم ماء فيه الخ (بغية المسترشدين، ص 65)
Hukum Alih Fungsi Masjid Menjadi Tempat Parkir, dan Masjid Dipindah ke Belakang
Di salah satu desa, ada sebuah masjid yang selalu ramai dan penuh ketika dilaksanakan shalat Jum’at. Karena banyaknya jumlah jama’ah dan masjid yang kurang, halaman masjid menjadi sempit dan area parkir pun dijadikan tempat shalat para jamaah, sehingga tidak ada lagi tempat parkir untuk kendaraan.
Dengan pertimbangan keamanan separuh masjid bagian depan dijadikan halaman dan area parkir, sementara masjid dimundurkan sedikit ke belakang.
“Bagaimana hukum merubah fungsi tanah yang semula berupa masjid menjadi halaman masjid atau tempat parkir untuk kemaslahatan masjid tersebut ?
Tentang hal ini terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama’: Hukum tanah yang semula berfungsi sebagai masjid, kemudian berubah menjadi halaman atau tempat parkir:
- Menurut mayoritas Madzhab Syafi’i tidak boleh
(قَوْلُهُ وَلَا يُبَاعُ مَوْقُوْفٌ) أَيْ وَلَا يُوْهَبُ لِلْخَبَرِ الْمَارِ أَوَّلُ الْبَابِ وَكَمَا يُمْتَنَعُ بَيْعُهُ وَهَبْتُهُ يُمْتَنَعُ تَغْيِيْرُ هَيْئَتِهِ كجَعْلِ الْبُسْتَانِ دَارًا (إعانة الطالبين، ج 3، ص 179)
- Menurut Imam Subki boleh, dengan Syarat :
- Yang dialih fungsikan hanya sedikit dan tidak merubah status
- Tidak menghilangkan wujud tempat atau harus ditukar dengan tempat yang lain
- Proses alih fungsinya harus ada unsur maslahah
قَالَاَلسُّبْكِي يَجُوْزُ تَغْيِيْرُهُ بِثَلَاثَةِ شُرُوْطٍ أَنْ يَكُوْنَ يَسِيْرًا لَا يُغَيِّرُ مُسَمَّاهُ وَأَنْ لَا يَزِيْلَ شَيْئًا مِنْ عَيْنِهِ بَلْ يَنْقُلُهُ مِنْ جَانِبٍ إِلَى آخَرٍ وَأَنْ يَكُوْنَ فِيْهِ مَصْلَحَةٌ لِلْوَقْفِ (نهاية الزين، ص 273)
Hukum Menukar Tanah Wakaf Masjid (Tukar Guling)
Hukum menukar tanah wakaf masjid:
- Tidak boleh Menurut mayoritas Madzhab Syafi’i
(قَوْلُهُ وَلَا يُبَاعُ مَوْقُوْفٌ) أَيْ وَلَا يُوْهَبُ لِلْخَبَرِ الْمَارِ أَوَّلُ الْبَابِ وَكَمَا يُمْتَنَعُ بَيْعُهُ وَهَبْتُهُ يُمْتَنَعُ تَغْيِيْرُ هَيْئَتِهِ كجَعْلِ الْبُسْتَانِ دَارًا (إعانة الطالبين، ج 3 ص 179)
- Boleh Menurut madzhab Hanafi, dengan syarat “Tanah wakaf tersebut sudah tidak layak dan harus ditukar dengan yang lebih baik manfaat dan kegunaannya atas persetujuan hakim”.
وَلاَ يَجُوْزُ اسْتِبْدَالُ الْمَوْقُوْفِ عِنْدَنَا وَإِنْ خَرَبَ خِلاَفًا لِلْحَنَفِيَّةِ وَصُوْرَتُهُ عِنْدَهُ أَنْ يَكُوْنَ الْمَحَلُّ قَدْ آلَ إِلَى السُّقُوْطِ فَيُبَدِّلُهُ بِمَحَلٍّ آخَرَ أَحْسَنَ مِنْهُ بَعْدَ حُكْمِ حَاكِمٍ يَرَى صِحَّتَهُ (الشرقاوي، ج 2، ص 178)
- Boleh Menurut madzhab Hambali, dengan syarat uang hasil penjualan diwujudkan barang yang sama.
وَقَالَ أَحْمَدُ : يَجُوْزُ بَيْعُهُ وَصَرْفُ ثَمَنُهُ فِي مِثْلِهِ وَفِي الْمَسْجِدِ إِذَا كَانَ لَا يُرْجَى عَوْدُهُ كَذَلِكَ (اختلاف الأئمة العلماء، ج 2، ص 48)
Disebutkan oleh imam Qidâmah dalam Kitab Syarh al-Kabîr, juz III, hlm. 420, boleh dijual dengan syarat masjid tidak bisa dimanfaatkan lagi, karena perpindahan penduduk (bedol desa) atau sempitnya lahan yang tidak mungkin dilakukan perluasan.
فَإِنْ تَعَطَّلَتْ مَنَافِعُهُ بِالْكُلِّيَّةِ كَدَارٍ اِنْهَدَمَتْ أَوْ أَرْضٍ خَرَبَتْ وَعَادَتْ مَوَاتًا لَمْ يُمْكِنْ عِمَارَتُهَا أَوْ مَسْجِدٍ اِنْتَقَلَ أَهْلُ الْقَرْيَةِ عَنْهُ وَصَارَ فِى مَوْضِعٍ لاَيُصَلَّى فِيْهِ أَوْ ضَاقَ بِأَهْلِهِ وَلَمْ يُمْكِنْ تَوْسِيْعُهُ فِيْ مَوْضِعِهِ، فَإِنْ أَمْكَنَ بَيْعُ بَعْضِهِ لِيُعَمَّرَ بَقِيَّتُهُ جَازَ بَيْعُ الْبَعْضِ وَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ الإِنْتِفَاعُ بِشَيْءٍ مِنْهُ بِيْعَ جَمِيْعُهُ (حاشية الدسوقي على شرح الكبير، ج 3، ص 420)
Hukum Membatasi Waqaf dan Menangguhkannya
Waqaf adalah menahan harta atau barang yang dapat dimanfaatkan ketika barang tersebut dalam keadaan utuh, dengan cara memutuskan tasharrufnya, guna di tasharrufkan kepada hal yang mubah dan badan tertentu (jihah). Barang waqaf haruslah dimanfaatkan sesuai dengan keinginan waqif (orang yang mewaqafkan) dengan tanpa batas waktu tertentu.
Bagaimana hukum seseorang membatasi waqaf dalam waktu tertentu?. Seperti contoh:“Saya waaqafkan rumahku ini dalam waktu 10 tahun”.
Hukumnya adalah tidak sah. Sebagaimana diterangkan dalam kitab Nihayah al-Zain, hlm. 269, sebagai berikut:
(تَأْبِيْدٌ) فَلَوْ قَالَ وَقَفْتُ هَذَا عَلَى الْفُقَرَاءِ أَوْ عَلَى مَسْجِدٍ مَثَلًا سَنَةً فَوَقْفُهُ بَاطِلٌ لِفَسَادِ الصِّيْغَةِ إِذْ وَضْعُهُ عَلَى التَّأْبِيْدِ سَوَاءٌ فِيْ ذَلِكَ طَوِيْلُ الْمُدَّةِ وَ قَصِيْرُهَا، نَعَمْ اِنْ اَشْبَهَ التَّأْقِيْتُ التَّحْرِيْرَ كَقَوْلِهِ جَعَلْتُ هَذَا مَسْجِدًا سَنَةً صَحَّ مُؤَبَّدًا وَيَنْبَغِي أَنْ يُقَالَ لَوْ وَقَفَ عَلَى فُقَرَاءِ أَلْفَ سَنَةٍ أَوْ نَحْوَهَا مِمَّا يُبْعِدُ بَقَاءُ الدُّنْيَا إِلَيْهِ صَحَّ نَظْرًا لِمَقْصُوْدِ اللَّفْظِ وَهُوَ التَّأْبِيْدُ دُوْنَ مَدْلُوْلِهِ وَهُوَ التَّأْقِيْتُ فَإِنَّ الْمَقْصُوْدَ مِنَ الْوَقْفِ قُرْبَةٌ مَحْضَةٌ بِخِلَافِ الْبَيْعِ وَ النِّكَاحِ (نهاية الزين، ص 269)
Ketika ada seseorang semisal mempunyai tanah kemudian dia berkata: “saya mewaqafkan tanah ini kalau saya sudah meninggal”.
Bagaimana hukum kalau waqaf ditangguhkan menunggu matinya waqif?
Hukumnya adalah sah. Sebagaimana diterangkan dalam kitab Nihayah al-Zain, hlm. 269, sebagai berikut:
نَعَمْ يَصِحُّ تَعْلِيْقُهُ بِالْمَوْتِ كَقَوْلِهِ إِذَا مُتُّ فَدَارِيْ وَقْفٌ عَلَى كَذَا أَوْ فَقَدْ وَقَفْتُهَا إِذِ الْمَعْنَى فَاعْلَمُوْا أَنِّي فَقَدْ وَقَفْتُهَا بِخِلَافِ قَوْلِهِ إِذَا مُتُّ وَقَفْتُهَا وَالْفَرْقُ أَنَّ الْأَوَّلَ إِنْشَاءُ تَعْلِيْقٍ وَالثَّانِي تَعْلِيْقٌ وَهُوَ بَاطِلٌ لِأَنَّهُ وَعْدٌ مَحْضٌ (نهاية الزين، ص 269)
Orang Kafir Mewaqafkan Tanah
Waqaf adalah menahan bentuk harta yang tidak dapat dipindah tangankan dan hanya bisa diambil kemanfaatannya serta bentuk barang tersebut tidak berubah-ubah. Waqaf bertujuan untuk mendekatkat diri kepada Alloh SWT. Bagaimana hukumnya orang kafir yang mewaqafkan sesuatu, meskipun untuk masjid?
- Sah, meskipun untuk masjid. Sebagaimana dijelaskan pada kitab Fath al-Wahab, juz I, hlm. 256:
اَرْكَانُهُ مَوْقُوْفٌ وموقوف عليه وصيغة وواقف وشرط فيه كونه مختارا اهل تبرع فيصح من كافر ولو لمسجد (فتح الوهب، ج ١، ص ٢٥٦)
- Batal, menurut Malikiyah. Hal ini dijelaskan pada kitab Hasiyah al-Dasuqi ‘ala Syarh al-Kabir, juz V, hlm. 459-460:
وَبَطَلَ مِنْ كَافِرٍ وَلَوْ ذِمِّياً لَكَمَسْجِدٍ وَرِبَاطٍ مِنْ كُلِّ مَنْفَعَةٍ عَامَّةٍ دِيْنِيَّةٍ (حاشية الدسوقي على شرح الكبير، ج ٥، ص ٤٥٩-٤٦0)
- Tidak sah, menurut Ulama’ Hanafiyah; Mausu’ah Fatawa al-Mu’amalah al-Maliyah,juz 17, hlm. 378:
وقف الذمي لا يصح عند الحنفية إلا فيما هو قربة عندنا وعنده وعلى ذلك فوقفه مسجدا لا يصح عندهم (موسوعة فتاوي المعاملاة المالية، ج 17، ص 378)
Hukum Wakaf dari Non Muslim
Wakaf adalah menahan suatu harta yang boleh dimanfaatkannya dengan syarat kekal zatnya, yang dilarang menasharrufkan zatnya itu, dan dibelanjakan kemanfaatannya pada jalan kebajikan untuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah ta’ala.Wakaf boleh dilakukan oleh siapapun yang memenuhi syarat sebagai waqif (orang yang waqaf), namun bagaimanakah hukum waqaf yang diterima dari non muslim?
- Menurut Ulama’ Syafi’iyah hukumnya sah. Diterangkan dalam kitab Hasyiyah al-Jamal ‘ala Syarh al-Minhaj, juz V, hlm. 579:
(أَرْكَانُهُ) أَرْبَعَةٌ (مَوْقُوْفٌ وَمَوْقُوْفٌ عَلَيْهِ وَصِيْغَةٌ وَوَاقِفٌ وَشُرِطَ فِيْهِ) أَيْ فِي الْوَاقِفِ (كَوْنُهُ مُخْتَارًا) وَالتَّصْرِيْحُ بِهِ مِنْ زِيَادَتِيْ (أَهْلُ تَبَرُّعٍ) فَيَصِحُّ مِنْ كَافِرٍ وَلَوْ لِمَسْجِدٍ وَمِنْ مُبَعَّضٍ لَا مِنْ مُكْرَهٍ وَمُكَاتَبٍ وَمَحْجُوْرٍ عَلَيْهِ بِفَلَسٍ أَوْ غَيْرِهِ وَلَوْ بِمُبَاشَرَةِ وَلِيِّهِ (حاشية الجمل على شرح المنهج، ج ٥، ص ٥٧٩)
- Menurut ulama’ Hanafiyah wakaf orang kafir dzimmi tetap sah, dengan syarat wakaf tersebut bisa digunakan untuk ibadah orang muslim dan non muslim. Diterangkan dalam kitab al-Bahr al-Râiq, juz V, hlm. 204 karangan imam Zainuddin Ibn Nazim al-Hanafi:
وَأَمَّا الْإِسْلَامُ فَلَيْسَ من شَرْطِهِ فَصَحَّ وَقْفُ الذِّمِّيِّ بِشَرْطِ كَوْنِهِ قُرْبَةً عِنْدَنَا وَعِنْدَهُمْ (البحر الرائق، ج ٥ ص ٢۰٤، المكتبة الشاملة).
- Menurut ulama’ Hanabilah (kalangan Hanbali) wakaf dari orang kafir dzimmi sah dengan catatan untuk selain masjid dan sejenisnya. Sebagaimana yang diterangkan dalam kitab Akhshar al-Mukhtasharat, juz I, hlm. 198:
وَيَصِحُّ مِنْ مُسْلِمٍ عَلَى ذِمِّيٍّ وَعَكْسُهُ وَكَوْنُهُ فِيْ غَيْرِ مَسْجِدٍ وَنَحْوِهِ عَلَى مُعَيَّنٍ يَمْلِكُ (أخصر المختصرات في الفقه على مذهب الإمام أحمد بن حنبل، ج ١، ص ١٩٨، المكتبة الشاملة).
- Menurut ulama’ Malikiyah tidak sah, waqaf non muslim untuk masjid. seperti yang diterangkan dalam kitab Syarh Mukhtashar al-Khalil, juz VII, hlm. 82:
وَكَذَلِكَ يَبْطُلُ وَقْفُ الْكَافِرِ عَلَى مَسْجِدٍ مِنْ مَسَاجِدِ الْمُسْلِمِيْنَ أَوْ عَلَى رِبَاطٍ أَوْ قُرْبَةٍ مِنَ الْقُرَبِ الدِّيْنِيَّةِ وَلِذَلِكَ رَدَّ مَالِكٌ دِيْنَارَ النَّصْرَانِيَّةِ عَلَيْهَا حَيْثُ بُعِثَتْ بِهِ إِلَى الْكَعْبَةِ ابْن عَرَفَةَ لَا يَصِحُّ الْحَبْسُ مِنْ كَافِرٍ فِيْ قُرْبَةٍ دِيْنِيَّةٍ (شرح مختص خليل، ج ٧، ص ٨٢، المكتبة الشاملة)
Citation
Santri Pondok Pesantren demo: „Masjid dan Waqaf“,Version 1.0. In: OES demo. Published by Pondok Pesantren demo, Pasuruan, Indonesia,