hacklink hack forum hacklink film izle hacklink Dubai online casinosonline casinos Nederlandmadritbetสล็อตเว็บตรงBetAndreas AzərbaycanjojobetromabetnakitbahisBetsalvadorenbetcasinolevant

Search the OES Encyclopedia

Article Masalah Lain

Masalah Lain

  • Version 1.0
  • Published Monday, October 16, 2023

Ulama’ Salaf dan Ulama’ Kholaf

Kata ulama’ merupakan bentuk jamak dari kata ‘alim yang berarti “yang tahu atau mempunyai pengetahuan”. Ulama’ berarti orang yang tahu atau yang memiliki pengetahuan ilmu agama dan ilmu pengetahuan lainnya yang dengan pengetahuannya tersebut memiliki rasa takut dan tunduk kepada Allah SWT.

Di dalam agama Islam seorang ulama’ digolongkan menjadi dua masa/periode, yaitu periode ulama’ salaf dan ulama’ kholaf. Dari pembagian periode tersebut ulama’ yang bagaimanakah yang masuk dalam kriteria golongan atau periode masa ulama’ salaf dan ulama’ yang bagaimanakah yang masuk dalam kriteria periode ulama’ kholaf (ulama’ zaman akhir)?

Dalam kitab Tuhfah al-Murid dijelaskan, bahwasanya ulama’ yang termasuk masa ulama’ salaf ialah:

  1. Para Nabi
  2. Para Sahabat
  3. Golongan Tabi’in
  4. Golongan Tabi’it Tabi’in (terutama imam dari madzhab empat yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali)

Sebagaimana keterangan berikut ini:

اَلْمُرَادُ بِمَنْ سَلَفَ مَنْ تَقَدَّمَ مِنَ الْاَنْبِيَاء وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ خُصُوْصًا الْاَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ الْمُجْتَهِدِيْنَ الَّذِيْنَ اِنْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى امْتِنَاعِ الْخُرُوْجِ عَنْ مَذَاهِبِهِمْ فِى الإِفْتَاءِ وَاْلحُكْمِ. اهـ (تحفة المريد، ص 125)

Yang dimaksud dengan ulama’ salaf ialah orang-orang yang terdahulu, diantaranya: para nabi, para sahabat dan tabi’in dan tabi’it tabi’in, khususnya imam empat, yang ahli berijtihad, yaitu orang-orang yang membuat kesepakatan larangan untuk keluar dari madzhabnya dalam memberikan fatwa dan hukum. (Tuhfah al-Murid, hal. 125)

Dari pendapat di atas, bisa disimpulkan bahwasanya siapa saja ulama’ yang hidup setelah masa tabi’ at-tabi’in (masa imam madzhab empat), semuanya dikategorikan sebagai ulama’ kholaf (ulama’ zaman akhir), berarti kalau berdasarkan perhitungan tahun masa akhir hidup dari imam madzhab empat yang terakhir (Imam Ahmad bin Hanbal lahir di Bagdad Rabi’ulakhir tahun 164 H/780 M, dan wafat Rabi’ulawal tahun 241 H/855 M), maka masa ulama’ salaf kira-kira berakhir sekitar tahun 241 H atau 855 M, dan selebihnya termasuk ulama’ kholaf.

Adapun pendapat yang lain mengatakan bahwasanya masa perubahan (batas) antara abad ulama’ salaf dan kholaf dibatasi dengan masa atau kurun tertentu, sebagaimana beberapa pendapat yang berbeda-beda di bawah ini:

  1. Ulama’ salaf ialah ulama’ yang hidup sebelum tahun 300 hijriyah dan ulama’ kholaf ialah ulama’ yang hidup setelah tahun 300 hijriyah.
  2. Ulama’ salaf ialah ulama’ yang hidup sebelum tahun 400 hijriyah. Sedangkan ulama’ kholaf ialah ulama’ yang hidup setelah tahun 400 hijriyah.
  3. Ulama’ salaf ialah ulama’ yang hidup sebelum tahun 500 hijriyah dan ulama’ kholaf ialah ulama’ yang hidup setelah tahun 500 hijriyah.

Hal ini diterangkan dalam kitab Raudlah al-Ulama’, hal. 51.

وَقِيْلَ السَّلَفُ الْمُتَقَدِّمُوْنَ وَالْخَلَفُ الْمُتَأَخِّرُوْنَ خِلاَفاً عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْوَالٍ: (1) اَلسَّلَفُ مَنْ قَبْلَ ثَلاَثِمِائَةٍ مِنَ الْهِجْرَةِ، وَالْخَلَفُ مَنْ بَعْدَهَا (2) اَلسَّلَفُ مَنْ قَبْلَ أَرْبَعِمِائَةٍ مِنَ الْهِجْرَةِ، وَالْخَلَفُ مَنْ بَعْدَهَا (3) اَلسَّلَفُ مَنْ قَبْلَ خَمْسِمِائَةٍ مِنَ الْهِجْرَةِ، وَالْخَلَفُ مَنْ بَعْدَهَا (روضة العلماء، ص 51)

Hukum Mengamalkan Macam-macam Shalawat

Shighot atau bentuk bacaan salawat kepada Nabi sangat banyak sekali macam dan jenisnya, dari berbedanya masing-masing bentuk bacaan atau shighotnya tersebut berbeda-beda pula namanya, contohnya seperti shalawat Nariyah, shalawat Burdah, shalawat Wahidiyah, shalawat al-Fatih, shalawat Ibrahimiyah, shalawat al-Banjari, shalawat  Ishari, shalawat Badar, shalawat Tibbilqulub, shalawat al-Barzanji, shalawat ad-Diba’i dan masih banyak jenis salawat-salawat yang lainnya.

Dan hukum dari semua shalawat seperti shalawat yang tersebut di atas adalah boleh dan sangat dianjurkan bahkan dalam kitab Khatsiyah as-Shawy juz 3 hal 246/penerbit Darul Kutub hal 354/penerbit al-Haromain, dijelaskan bahwa barang siapa yang istiqomah mengamalkan shalawat maka dia diganjar dengan kebaikan atau keuntungan yang sangat banyak dan besar.

قَوْلُهُ (أَيْ: قُوْلُوْا: اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ) أَىْ اِجْمَعُوْا بَيْنَ الصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ، وَصِيَغُ الصَّلاَةِ عَلىَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثِيْرَةٌ لاَ تُحْصَى، وَأَفْضَلُهَا ماَ ذُكِرَ فِيْهِ لَفْظُ اْلآلِ وَالصَّحْبِ، فَمَنْ تَمَسَّكَ بِأَيِّ صِيْغَةٍ مِنْهَا حَصَلَ لَهُ الْخَيْرُ اْلعَظِيْمُ (حاشية الصاوى على تفسير الجلالين، ج 3، ص 246)

Kata pengarang, “bacalah shalawat kepada Nabi ( اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ ) yaitu gabungkanlah antara lafadz اَلصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ  dan bentuk (redaksi) shalawat atas nabi Muhammad Saw. adalah sangat banyak sekali/ tidak terhingga, dan redaksi bacaan shalawat yang paling utama adalah yang di dalamnya disertakan lafadz اْلأَلِ وَالصَّحْبِ (keselamatan atas Nabi, keluarga dan sahabatnya), barang siapa yang berpegang teguh atau istiqomah bershalawat dengan salahsatu bentuk (redaksi) dari berbagai macam redaksi shalawat maka dia pasti memperoleh kebaikan yang sangat besar sekali. (Khatsiyah al-Shawy juz 3 hal 246/penerbit Darul Kutub hal 354/penerbit al-Haromain)

Mahal al-Qiyam, (Berdiri Ketika Membaca Barzanji)

Ketika membaca shalawat Barzanji, ketika sampai bacaan “Ya Nabi Salam ‘Alaika” biasanya orang-orang melantunkannya sambil berdiri yang dikenal dengan istilah Mahal al-Qiyam. Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa berdiri ketika membaca shalawat adalah bid’ah syayyiah sebab tidak ada dalil yang membenarkannya, benarkah begitu? Dan sebetulnya bagaimanakah hukum berdiri ketika membaca shalawat?

Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. merupakan ibadah yang sangat terpuji. Tujuan membaca shalawat itu adalah untuk mengagungkan Nabi Muhammad Saw. Salah satu cara untuk mengagungkan seseorang adalah dengan cara berdiri. Oleh karena itu boleh hukumnya berdiri ketika membaca shalawat Nabi Saw. Sebagaimana diterangkan dalam kitab al-Bayan wa at-Ta’rif fii Dzikr al-Maulid an-Nabawi, hal.29-30:

وَيَقُوْلُ اَلْبَرْزَنْجِىُّ فِىْ مَوْلِدِهِ الْمَنْثُوْرِ هَذَا وَقَدِ اسْتَحْسَنَ الْقِيَامُ عِنْدَ ذِكْرِ مَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ أَئِمَّةٌ ذُوْ رِوَايَةٍ، وَرِوَيَةٌ اِلَخْ فَطُوْبَى لِمَنْ كاَنَ تَعْظِيْمَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غاَيَةَ مَرَامِهِ وَمَرْماَهُ وَنَعْنِيْ بِالْاِسْتِحْسَانِ باِلشَّيْءِ هُناَ كَوْنُهُ جاَئِزًا مِنْ حَيْثُ ذَاتِهِ وَأَصْلِهِ وَمَحْمُوْدًا وَمَطْلُوْباً مِنْ حَيْثُ بِوَاعِثِهِ وَعَوَاقِبِهِ اِلَخْ لاَ بِالْمَعْنىَ الْمُصْطَلَحِ عَلَيْهِ فِيْ أُصُوْلِ الْفِقْهِ (البيان والتعريف فى ذكر المولد النبوى، ص 29-30) 

Imam al-Barzanji dalam kitab maulidnya, yang berbentuk prosa mengatakan sebagian ulama’ ahlu hadits yang mulia itu mengaggap baik (istihsan) berdiri ketika disebutkan sejarah kelahiran Nabi. Betapa beruntungnya orang yang mengagungkan Nabi Saw. Yang dimaksud dengan istihsan disini ialah jaiz (boleh) dilihat dari aspek perbuatan itu sendiri serta asal usulnya, dan dianjurkan dari sisi tujuan dan dampaknya. Bukan dari istihsan dalam pengertian ilmu usul fiqh. (al-Bayan Wa al-Ta’rif Fii Dzikri al-Maulid al-Nabawi, hal. 29-30)

Berdiri untuk menghormati sesuatu sebetulnya sudah menjadi tradisi kita. Bahkan tidak jarang berdiri untuk menghormati benda mati. Misalnya setiap tanggal 17 Agustus, maupun pada waktu yang lain, ketika bendera merah putih dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan, maka seluruh peserta diharuskan berdiri. Tujuannya tidak lain adalah untuk menghormati Sang Saka Merah Putih dan mengenang jasa para pejuang bangsa.

Jika dalam upacara bendera saja harus berdiri, maka berdiri untuk menghormati Nabi tentu lebih layak dilakukan, sebagai ekspresi dari bentuk penghormatan. Bukankah Nabi Saw. adalah manusia yang teragung yang lebih layak di hormati dari pada yang lain??? Oleh sebab itu Imam Nawawi berpendapat:

اَلْقِياَمُ لِلْقاَدِمِ مِنْ أَهْلِ الْفَضْلِ مُسْتَحَبٌّ وَقَدْ جَاءَ فِيْهِ أَحاَدِيْثُ وَلَمْ يَصَحْ فِى النَّهِىْ عَنْهُ شَيْئٌ صَرِيْحٌ (صحيح مسلم بشرح النووى رقم ج 12 ص 80)

Berdiri untuk (menyambut) kedatangan orang yang mempunyai keutamaan itu dianjurkan. Ada banyak hadits yang menerangkan hal tersebut. Tidak ada dalil yang secara nyata menyatakan larangan berdiri itu. (Shahih Muslim Bi Syarh al-Nawawi, juz XII, hal.80)

Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebagai salah satu bentuk penghormatan, berdiri menyambut kedatangan orang terhormat itu dianjurkan. Maka berdiri untuk menghormat Nabi ketika membaca shalawat itu lebih dianjurkan.

Hukum Membaca Manaqib Syeh Abdul Qodir atau Manaqib yang Lainnya

Di kalangan masyarakat Islam Indonesia seringkali kita temukan adanya kegiatan pembacaan manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jilany. Bagaimanakah hukum tradisi tersebut?

Manaqib adalah sejarah atau biografi seorang ulama’ yang mempunyai nilai-nilai yang patut untuk dijadikan suri tauladan seperti halnya Syekh Abdul Qadir al-Jilany. Adapun pembacaan manaqib beliau tidak lain adalah untuk mencari dan mendapatkan berkah, terkabulnya do’a dan turunnya rahmat di depan para wali baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Sebagaimana diterangkan dalam kitab Jala’ al-Dzulam ‘ala ‘Aqidah al-‘Awam.

اِعْلَمْ يَنْبَغِىْ لِكُلِّ مُسْلِمٍ طَالِبُ اْلفَضْلِ وَالْخَيْرَاتِ أَنْ يَلْتَمِسَ الْبَرَكاَتِ وَالنَّفَحاَتِ وَاسْتِجاَبَةِ الدُّعاَءِ وَنُزُوْلِ الرَّحْمَاتِ فِى حَضْرَاتِ الْلاَوْلِياَءِ فِى مَجَالِسِهِمْ وَجَمْعِهِمْ أَحْياَءً وَأَمْوَاتاً وَعِنْدَ قُبُوْرِهِمْ وَحاَلَ ذِكْرِهِمْ وَكَثْرَةِ الْجُمُوْعِ زِياَرَاتِهِمْ وَعِنْدَ مُذَاكِرَاتِ فَضْلِهِمْ وَنَشْرِ مَنَاقِبِهِمْ (جلاء الظلام على عقيدة العوام)

Ketahuilah! Seyogyanya bagi setiap muslim yang mencari keutamaan dan kebaikan agar ia mencari berkah dan anugerah, terkabulnya do’a dan turunnya rahmat di depan para wali, di majelis-majelis perkumpulan mereka, baik masih hidup maupun sudah mati, di kuburan mereka, ketika mengingat mereka, dan ketika banyak orang berkumpul dalam berziarah kepada mereka, serta ketika mengingat keutamaan mereka, dan pembacaan riwayat hidup mereka. (Jala’ al-Dzulam ‘ala ‘Aqidah al-‘Awam)

Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa pembacaan manaqib orang yang shalih adalah diperbolehkan bahkan dianjurkan.

Hukum Ganti Kelamin

Seiring kemajuan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi seakan-akan tiada habisnya dalam memunculkan temuan-temuan baru yang semakin hari semakin mutakhir. Dari bayi tabung, cloning, hingga ganti kelamin pun seakan bukan hal aneh. Sehingga tidak jarang pula didapati dalam berbagai media tentang adanya berita pria yang berganti kelamin menjadi wanita.

Mengenai ganti kelamin, bagaimanakah pandangan agama terhadap hal ini?

  1. Tidak boleh. Dengan alasan untuk mempercantik, memperindah, karena hal ini sama halnya merubah fitrah ciptaan Allah.
  2. Boleh. Jika bagian-bagian tubuh menyebabkan rasa sakit (secara dhohir), maka boleh memotongnya atau membuangnya.

قَالَ أَبُوْ جَعْفَرٍ الطَّبَرِيُّ: حَدِيْثُ ابْنِ مَسْعُوْدٍ دَلِيْلٌ عَلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ تَغْيِيْرُ شَيْءٍ مِنْ خَلْقِهَا الَّذِيْ خَلَقَهَا اللهُ عَلَيْهِ بِزِيَادَةٍ أَوْ نُقْصَانٍ إِلَى أَنْ قَالَ قَالَ عِيَاضٌ: وَيَأْتِيْ عَلَى مَا ذَكَرَهُ أَنَّ مَنْ خُلِقَ بِأُصْبُعٍ زَائِدَةٍ أَوْ عُضْوٍ زَائِدٍ لاَ يَجُوْزُ قَطْعُهُ وَلاَ نَزْعُهُ مِنْ تَغْيِيْرِ خَلْقِ اللهِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ هَذِهِ الزَّوَائِدُ تُؤْلِمُهُ فَلاَ بَأْسَ بِنَزْعِهَا عِنْدَ أَبِيْ جَعْفَرٍ وَغَيْرِهِ. (تفسير الجامع لأحكام القرآن للقرطبي، ج 3، ص 1963).

Abu Ja’far at-Thobariy berkata: “Hadits Ibnu Mas’ud menjadi petunjuk tentang tidak diperbolehkannya merubah apapun dari bodinya yang telah Allah ciptakan bagi dirinya, baik dengan perubahan berupa menambah atau mengurangi. Selanjutnya Abu Ja’far at-Thobariy berkata, ‘Iyadh berkata: Berdasarkan apa yang disebutkan oleh Ibnu Mas’ud dipahami bahwa seorang yang diciptakan Allah dengan jari yang lebih atau anggota tubuh yang lebih, maka tidak boleh baginya untuk memotong, membuang, dan berbagai bentuk usaha untuk merubah apa yang Allah ciptakan baginya, kecuali jika memang bagian-bagian tubuh yang lebih tersebut dapat membuatnya sakit, maka boleh baginya untuk membuang bagian tubuh yang lebih itu (menurut Abu Ja’far dan para imam lainnya)”. (Tafsir al-Jaami’ li Ahkam al-Qur’an li al-Qurthubiy, juz 3, hal. 1963)

قَوْلُهُ تَعَالَى (وَلَأَمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرَنَّهُمْ خَلْقَ اللهِ) قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَعْنِي دِيْنَ اللهِ وَتَغْيِيْرَ دِيْنِ اللهِ، وتَحْلِيْلَ الْحَرَامِ وتَحْرِيْمَ الْحَلاَلِ وَقِيْلَ تَغْيِيْرُ خَلْقِ اللهِ تَغْيِيْرُ الْفِطْرَةِ الَّتِيْ فَطَرَ الْخَلْقَ عَلَيْهَا إِلَى أَنْ قَالَ وَقِيْلَ: يَحْتَمِلُ أَنْ يُحْمَلَ هَذا التَّغْيِيْرُ عَلَى تَغْيِيْرِ أَحْوَالٍ تَتَعَلَّقُ بِظَاهِرِ الْقَلْبِ مِثْلِ الْوَشْمِ وَوَصْلِ الشَّعْرِ…. (تفسير الخازن، ج 1، ص 405)

Firman Allah: “(setan berkata) niscaya akan benar-benar kusuruh mereka sehingga mereka akan merubah ciptaan Allah”. Ibnu ‘Abbas berkata: “(Yang dimaksud dengan ciptaan Allah) adalah agama Allah dan merubahnya, menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal. Dikatakan pula merubah ciptaan Allah adalah merubah fitrah yang telah diberikan Allah kepada makhluknya”. Ibnu ‘Abbas juga berkata: “Dikatakan bahwa termasuk dalam kategori merubah (ciptaan Allah atas diri) adalah merubah keadaan dhohir seperti tato, menyambung rambut”… (Tafsir al-Khozin, juz 1, hal. 405)

Bayi Tabung

Bayi tabung adalah bayi yang dihasilkan bukan dari hubungan senggama suami istri tetapi dengan cara mengambil mani/sperma laki-laki dan ovum/mani perempuan, kemudian dimasukkan dalam suatu alat (tabung) dalam waktu beberapa hari untuk proses pengawinan (pembuahan di luar rahim). Setelah hal tersebut dianggap mampu menjadi janin maka dimasukkan pada rahim seorang ibu/wanita. Dari fenomena tersebut bagaimanakah hukum dari bayi tabung?

Ulama’ memberikan perincian dalam masalah ini sebagai berikut:

  1. Haram, apabila mani (sperma dan ovum) yang berada dalam tabung dan yang dimasukkan ke dalam rahim seorang wanita tersebut ternyata bukan mani dari suami dan istri. Dan atau mani yang berada dalam tabung dan yang dimasukkan ke dalam rahim seorang wanita tersebut adalah mani dari suami dan istri akan tetapi cara mengeluarkannya tidak muhtarom (dengan cara yang tidak dibenarkan oleh syara’). Sebagaimana berikut ini;

وَقَالَ أَبُوْ بَكْرِ بْنِ أَبِيْ الدُّنْياَ: حَدَثَناَ عُمَارُ بْنُ نَصْرٍ، حَدَثَناَ بَقِيَّةٌ، عَنْ أَبِيْ بَكْرِ بْنِ أَبِيْ مَرْيَمُ، عَنِ الْهَيْثَمِ بْنِ مَالِكٍ اَلطَّائِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ: “مَا مِنْ ذَنْبٍ بَعْدَ الشِّرْكِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنْ نُطْفَةٍ وَضَعَهاَ رَجُلٌ فِيْ رَحْمٍ لاَ يَحِلُّ لَهُ” (تفسير ابن كثير ج 3 ص 113)

Abu Bakar bin Abiddunya berkata: Umar bin Nashir telah bercerita kepadaku, telah bercerita kepadaku Baqiyah, dari Abi Bakar bin Abi Maryam, dari al-Haitsam bin Malik at-Tha’i, dari Nabi Saw. Beliau bersabda: “Tidak ada dosa yang lebih besar setelah syirik dalam pandangan Allah Swt. dibandingkan perbuatan seorang lelaki yang meletakkan spermanya di dalam rahim perempuan yang tidak halal baginya”. (Tafsir Ibnu Katsir juz 3 hal 113)

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يُسْقِيَنَّ مَاءَهُ زَرْعَ أَخِيْهِ (حكمة التشريع وفلسفته ج 2 ص 48)

Barang siapa yang beriman kepada Allah Swt. dan hari kiamat, maka janganlah sekali-kali menyiramkan air spermanya (berzina) di kebun (rahim) saudaranya. (Hikmah al-Tasyri’ Wafalsafatihi, juz 2 hal. 48)

  • Boleh, apabila mani (sperma dan ovum) yang berada dalam tabung dan yang dimasukkan ke dalam rahim seorang wanita tersebut adalah mani dari suami istri dan cara mengeluarkan mani tersebut dengan cara yang dibenarkan oleh syara’ (muhtarom). Sebagaimana keterangan sebagai berikut;

(وَالْحَاصِلُ) أَنَّ الْمُرَادَ بِالْمَنِيِّ الْمُحْتَرَمِ حَالَ خُرُوجِهِ فَقَطْ عَلَى مَا اِعْتَمَدَهُ م ر وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مُحْتَرَمٍ حَالَ الدُّخُولِ، وَتَجِبُ الْعِدَّةُ بِهِ إذَا طَلُقَتْ الزَّوْجَةُ قَبْلَ الْوَطْءِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ خِلَافًا لِابْنِ حَجَرٍ لِأَنَّهُ يُعْتَبَرُ أَنْ يَكُونَ مُحْتَرَمًا فِي الْحَالَيْنِ كَمَا قَرَّرَهُ شَيْخُنَا (بجيرمي على الخطيب، ج 4 ص 26)

Kesimpulannya adalah, bahwa yang dimaksud dengan sperma yang terhormat (tidak haram) itu adalah hanya cara keluarnya saja, sebagaimana yang diyakini oleh Imam Ramli, walaupun tidak terhormat ketika masuk (saat bersetubuh). Karenanya maka wajib beriddah jika wanita tersebut dicerai sebelum disetubui sesuai dengan pendapat yang lebih kuat, berbeda dengan pendapat Ibnu Hajar yang menganggapnya sebagai sperma terhormat baik saat keluar maupun masuk sebagaimana yang ditetapkan oleh Syaikhuna. (Bujairami ‘ala al-Khatib juz 4 hal 26)

Pembahasan tentang dalil bayi tabung juga telah dijelaskan dalam kitab Ahkamul Fuqoha’ halaman 373.

Aborsi

Aborsi atau abortus menurut Bahasa adalah keguguran kandungan, pengguguran kandungan atau membuang janin. Menurut terminologi kedokteran berarti terhentinya kehamilan sebelum 28 minggu. Sedangkan dalam istilah hukum berarti pengeluaran hasil konsepsi dari rahim sebelum waktunya (sebelum dapat lahir secara alamiah).

Menurut para ahli medis abortus ada 2 macam yaitu:

  1. Abortus Spontaneus yaitu aborsi yang terjadi secara tidak disengaja, misalnya karena salah satu pasangan berpenyakit kelamin, sebab kecelakaan, dan lain-lain.
  2. Abortus Provocatus yaitu aborsi yang disengaja. Abortus Provocatus ini ada 2 Jenis yaitu:
  3. Abortus artificialis therapicus: aborsi yang dilakukan oleh dokter atas dasar indikasi medis, yakni apabila tindakan aborsi tidak diambil bisa membahayakan keselamatan jiwa ibu.
  4. Abortus provocatus criminalis: aborsi yang dilakukan tanpa dasar indikasi medis. Misalnya, aborsi yang dilakukan untuk melenyapkan janin dalam kandungan akibat hubungan seksual di luar nikah atau mengakhiri kehamilan yang tidak dikehendaki.

Dari uraian di atas, bagaimanakah hukum aborsi ditinjau dari hukum fikih?

Ulama fiqih kontemporer sebelum membahas hukum aborsi terlebih dahulu mengemukakan pembahasan tentang proses kejadian manusia di dalam rahim. Dalam surat al-Mu’minun ayat 12-14, Allah Swt. berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنْسَانَ مِنْ سُلاَلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ﴿12﴾ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِيْنٍ ﴿13﴾ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ ﴿14﴾ (سورة المؤمنون: 12-14) 

Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah (12). Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) (13). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik (14) (Qs. al-Mu’minun: 12-14)

Ahmad Azhar Basyir, tokoh fiqih Indonesia, mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan nutfah (air mani) dalam ayat 13 dan 14 dari surah al-Mu’minun (23) adalah tahapan pertama dari kejadian manusia, bukan cairan kental yang memancar dari kelamin laki-laki ketika terjadi ejakulasi. Karena jika nutfah diartikan sebagai cairan kental dari kelamin laki-laki atau air mani saja, hal tersebut tidak menunjukkan tahapan kejadian manusia. Oleh sebab itu, pengertian yang tepat tentang nutfah adalah hasil pembuahan setelah terjadinya pertemuan sperma dan ovum di dalam rahim. Demikian pula ‘alaqah diartikan sebagai segumpal darah dan tahapan kedua dari proses penciptaan manusia. ’Alaqah dalam arti asalnya, menurut Ahmad Azhar Basyir sejalan dengan hasil penyelidikan dalam ilmu embriologi, yaitu tahap buah melekat kemudian bersarang pada dinding rahim. Adapun mudhgah sebagai tahapan ketiga dari proses kejadian manusia lebih tepat diartikan sebagai embrio yang berproses menjadi calon bayi yang lengkap anggota tubuhnya, bukan sekadar segumpal daging. (Ensiklopedi Hukum Islam, jilid 1 hal.8)

Mengenai lamanya tahapan-tahapan janin berproses di dalam rahim dijelaskan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud (Ibnu Mas’ud): “Proses kejadian manusia pertama-tama merupakan bibit yang telah dibuahi dalam rahim ibu selama 40 hari, kemudian berubah menjadi ‘alaqah yang memakan waktu selama 40 hari, kemudian berubah menjadi mudhgah yang memakan waktu 40 hari pula. Setelah itu Allah mengutus malaikat yang diperintahkan menuliskan empat hal, yaitu tentang amalnya, rezekinya, ajalnya, dan nasibnya celaka atau bahagia, kemudian kepadanya ditiupkan roh…”.

قَالَ عَبْدُ اللهِ، حَدَّثَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ قَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكًا فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ وَيُقَالُ لَهُ اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ… (صحيح البخاري، كتاب بدء الوحي)

Menurut hadis di atas, janin baru dapat dikatakan menjadi makhluk hidup setelah melampaui batas waktu 120 hari; memasuki minggu ke-18 setelah terjadinya konsepsi atau pembuahan. Peniupan roh yang dimaksudkan dalam hadis ini atau yang dalam surah al-Mu’minun ayat 14 disebutkan dengan istilah:”…..kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain…”, menurut Sayyid Qutub (1906-1966; ahli tafsir dari Mesir), adalah dalam pengertian roh insani, yang membedakan manusia dari hewan. Bukan dalam artian bahwa sebelum itu belum ada roh kehidupan (secara biologis) dalam janin tersebut. Karena kalau roh kehidupan tidak ada, semua makhluk tidak bisa hidup dan berkembang. (Ensiklopedi Hukum Islam, jilid 1 hal.8)

Ulama fikih sepakat menyatakan bahwa aborsi yang dilakukan dengan tidak disengaja (abortus spontaneous) tidak dikenakan sanksi hukum. Aborsi yang dikenai sanksi hukum adalah aborsi yang dilakukan dengan sengaja (abortus provocatus). Dalam membahas tentang hukum aborsi ini, jumhur ulama fikih berpedoman pada hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari di atas, yang mengatakan bahwa sebelum melalui proses 120 hari kandungan belum hidup atau belum bernyawa.

Terdapat perbedaan pendapat ulama fikih dalam menetapkan hukum terhadap aborsi, sebagaimana kami terangkan di bawah ini:

  1. Haram melakukan aborsi sekalipun roh belum ditiupkan, karena air mani apabila telah menetap di dalam rahim, meskipun belum melalui masa 40 hari, tidak boleh dikeluarkan. Alasannya adalah diterangkan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin hal. 246 sebagai berikut:

(مَسْأَلَةٌ: ك) يَحْرُمُ التَّسَبُّبُ فِيْ إِسْقَاطِ الْجَنِيْنِ بَعْدَ اسْتِقْرَارِهِ فِي الرَّحِمِ، بِأَنْ صَارَ عَلَقَةً أَوْ مُضْغَةً وَلَوْ قَبْلَ نَفْخِ الرُّوْحِ كَمَا فِي التُّحْفَةِ (بغية المسترشدين، ص 246)

  • Boleh, menurut Imam Romli jika belum ditiupkan roh yaitu sebelum seratus dua puluh hari.

Hal ini diterangkan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin dan I’anatut Thalibin, juz 4, hal. 130:

(مَسْأَلَةٌ: ك) يَحْرُمُ التَّسَبُّبُ فِيْ إِسْقَاطِ الْجَنِيْنِ بَعْدَ اسْتِقْرَارِهِ فِي الرَّحِمِ، بِأَنْ صَارَ عَلَقَةً أَوْ مُضْغَةً وَلَوْ قَبْلَ نَفْخِ الرُّوْحِ كَمَا فِي التُّحْفَةِ، وَقاَلَ (م ر) لاَ يَحْرُمُ إِلاَّ بَعْدَ النَّفْخِ، وَاخْتَلَفَ النَّقْلُ عَنِ الْحَنَفِيَّةِ فِي الْجَوَازِ مُطْلَقاً وَفِيْ عَدَمِهِ بَعْدَ نَفْخِ الرُّوْحِ، وَهَلْ هُوَ كَبِيْرَةٌ؟ اَلْأَحْوَطُ أَنْ يُّقَالَ: إِنْ عُلِمَ الْجَانِيْ بِوُجُوْدِ الْحَمْلِ بِقَرَائِنِ اْلأَحْوَالِ وَتَعَمَّدَ فِعْلُ مَا يَجْهَضُ غاَلِباً وَقَدْ نُفِخَ فِيْهِ الرُّوْحُ وَلَمْ يَقْلِدْ اَلْقَائِلُ بِالْحَلِ فَكَبِيْرَةٌ وَإِلاَّ فَلاَ (بغية المسترشدين، ص 246)

(قَوْلُهُ: فَرْعٌ أَفْتَى أَبُوْ إِسْحَاقِ إِلَخْ) عِبَارَةُ التُّحْفَةِ فِيْ فَصْلِ عِدَّةِ الْحَامِلِ. فَرْعٌ: اِخْتَلَفُوْا فِي التَّسَبُّبِ لِاِسْقاَطِ مَالَمْ يَصِلْ لِحَدِّ نَفْخِ الرُّوْحِ فِيْهِ وَهُوَ مِائَةٌ وَعِشْرُوْنَ يَوْماً، وَالَّذِيْ يُتَّجَهُ وِفَاقًا لِابْنِ الْعِمَادِ وَغَيْرِهِ الْحَرَمَةُ (إعانة الطالبين، ج 3 ص 130)

Aborsi yang dilakukan karena darurat atau apabila ada uzur yang benar-benar tidak mungkin dihindari, yang dalam istilah fikih disebut keadaan darurat, seperti apabila janin dibiarkan tumbuh dalam rahim akan berakibat kematian ibu. Ulama sepakat bahwa dalam keadaan seperti ini, ibu tidak dikorbankan untuk keselamatan bayi, sebab ibu adalah asal bagi terjadinya bayi. Dasar pendapat ini adalah kaidah fikih mengatakan bahwa apabila terdapat dua hal yang merugikan, padahal tidak mungkin dihindari keduanya, maka harus ditentukan pilihan kepada yang lebih ringan kerugiannya.

وَعِنْدَ وُجُوْدِ الضَّرُوْرَةِ فَعَلَى الْقَاعِدَةِ الْفِقْهِيَّةِ إِذَا تَعَارَضَتْ الْمَفْسَدَتَانِ رُوْعِيَ أَعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَابِ أَخَفِّهِمَا مَفْسَدَةٌ إهـ (البجورى على فتح القريب في كتاب النكاح، ج 2 ص 93 )

Dan ketika dalam keadaan darurat maka sesuai dengan qaidah fiqhiyah “Ketika terjadi dua mafsadat (bahaya) maka hindari mafsadat yang lebih besar dengan melakukan mafsadat yang paling ringan”. (al-Bajuri ala Fath al-Qarib, kitab an-Nikah, juz 2, hal. 93)

Pada kasus aborsi dalam keadaan darurat, menurut Ahmad Azhar Basyir, yang lebih ringan kerugiannya adalah dengan menyelamatkan ibu dan mengorbankan janin. Menurut Mahmud Syaltut, keadaan amat mendesak seperti ini sudah termasuk keadaan darurat dan dalam keadaan darurat, aborsi dapat dibenarkan oleh syariat islam. (Ensiklopedi Hukum Islam, jilid 1 hal.9)

Apabila aborsi dilakukan karena sebab-sebab lain yang sama sekali tidak terkait dengan keadaan darurat, seperti untuk menghindarkan rasa malu atau karena faktor ekonomi, maka hukumnya haram. Alasannya adalah firman Allah SWT dalam surah an-Nahl (16) ayat 58-59:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِاْلأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوْءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُوْنٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلاَ سَاء مَا يَحْكُمُونَ (59) (سورة النحل: 58-59)

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah Dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (Qs. an-Nahl: 58-59)

Dalam ayat ini, Allah Swt menceritakan kebiasaan orang Arab Jahiliah yang merasa malu mendapat anak perempuan, sehingga mereka sampai hati untuk menguburnya.

Aborsi Menurut Hukum Pidana Indonesia

Dalam kitab undang-undang hukum pidana Indonesia bab XIV tentang kejahatan terhadap kesusilaan pasal 299 ayat (1) dinyatakan bahwa perbuatan aborsi yang disengaja atas perbuatan sendiri atau minta bantuan pada orang lain dianggap sebagai tindakan pidana yang diancam dengan hukuman paling lama 4 tahun penjara atau denda paling banyak tiga ribu rupiah. Ayat (2) pasal 299 tersebut melanjutkan bahwa apabila yang bersalah dalam aborsi tersebut adalah pihak luar (bukan ibu yang hamil) dan perbuatan itu dilakukan untuk tujuan ekonomi, sebagai mata pencaharian, maka hukumannya dapat ditambah sepertiga hukuman pada ayat (1) di atas dan apabila selama ini perbuatan itu dilakukan sebagai mata pencaharian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan mata pencaharian tersebut.

Kemudian pada pasal 346 dikatakan bahwa wanita yang dengan sengaja menggugurkan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk melakukan hal itu diancam hukuman penjara paling lama empat tahun. Pada pasal 347 ayat (1) disebutkan orang yang menggugurkan atau mematikan kehamilan seorang wanita tanpa persetujuan wanita itu diancam hukuman paling lama 12 tahun penjara, dan selanjutnya ayat (2) menyebutkan jika dalam menggugurkan kandungan tersebut berakibat pada hilangnya nyawa wanita yang mengandung itu, maka pihak pelaku dikenakan hukuman penjara paling lama 15 tahun.

Dalam pasal 348 ayat (1) disebutkan bahwa orang yang dengan sengaja menggugurkan kandungan seorang wanita atas persetujuan wanita itu diancam hukuman paling lama 15 tahun penjara, dan ayat (2) melanjutkan jika dalam perbuatan itu menyebabkan wanita itu meninggal, maka pelaku diancam hukuman paling lama 17 tahun penjara. Dengan demikian, perbuatan aborsi di Indonesia termasuk tindakan kejahatan yang diancam dengan hukuman yang jelas. (Ensiklopedi Hukum Islam, jilid 1 hal.7)

Operasi Plastik

Operasi plastik atau bedah plastik adalah operasi yang dilakukan untuk memperbaiki bagian badan (terutama kulit) yang rusak atau cacat atau untuk mempercantik diri. Bagaimanakah hukum dari operasi/bedah plastik tersebut?

Persoalan bedah atau operasi plastik dalam ilmu fiqih disebut al-jirahah at-tajmiliyah. Ulama  membagi kriteria operasi plastik menjadi dua, yaitu operasi plastik dengan tujuan pengobatan dan operasi plastik dengan tujuan mempercantik diri. Adapun hukum operasi atau bedah plastik menurut para ulama’ adalah sebagai berikut:

  1. Haram, apabila operasi plastik dilakukan untuk mempercantik diri seperti untuk menghilangkan tanda-tanda ketuaan di wajah dan badan dengan mengencangkan kulit dan payudara, untuk melangsingkan pinggang, dan memperbesar pinggul.  Karena hal-hal tersebut termasuk kategori merubah ciptaan Allah, sebagaimana keterangan berikut:

فَهَذَا النَّوْعُ لاَ يَجُوْزُ لِمَا فِيْهِ مِنْ تَغْيِيْرِ خَلْقِ اللهِ تَعَالَى، وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى (إِنْ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ إِلاَّ إِنَاثاً وَإِنْ يَدْعُوْنَ إِلَّا شَيْطَاناً مَرِيْداً * لَعَنَهُ اللهُ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيْباً مَفْرُوْضاً * وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيّاً مِنْ دُوْنِ اللهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَاناً مُبِيْناً) النساء:119. (فتاوى الشبكية الإسلامية، باب حكم تطويل القامة بواسط)

اَلتَّجْمِيْلُ نَوْعَانِ: تَجْمِيْلُ لِإِزَالَةِ الْعَيْبِ اَلنَّاتِجِ عَنْ حَادِثٍ أَوْ غَيْرِهِ … وَهَذَا لاَ بَأْسَ بِهِ وَلاَ حَرَجَ فِيْهِ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذِنَ لِرَجُلٍ قُطِعَتْ أَنْفُهُ فِي الْحَرْبِ أَنْ يَتَّخِذَ أَنْفًا مِنْ ذَهَبٍ… وَالنَّوْعُ الثَّانِيْ: هُوَ التَّجْمِيْلُ الزَّائِدُ وَهُوَ لَيْسَ مِنْ أَجْلِ إِزَالَةِ الْعَيْبِ بَلْ لِزِيَادَةِ الْحُسْنِ وَهُوَ مُحَرَّمٌ لاَ يَجُوْزُ، لِأَنَّ الرَّسُوْلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ النَّامِصَةَ وَالْمُتَنَمِّصَةَ وَالْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ لِمَا فِيْ ذَلِكَ مِنْ إِحْدَاثِ التَّجْمِيْلِ اَلْكُمَّالِيْ اَلَّذِيْ لَيْسَ لِإِزَالَةِ الْعَيْبِ (مسائل فقهية عصرية متنوعة فى العبادات والمعاملات)

  • Boleh, apabila operasi dilakukan dengan tujuan pengobatan dan memperbaiki cacat atau kerusakan pada bagian tubuh. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam kitab Masaailu Fiqhiyyah Usriyah Fiil Ibadah Walmu’amalaat, dan Kutubun Warasailun Lil Atsimin:

اَلتَّجْمِيْلُ نَوْعَانِ: تَجْمِيْلُ لِإِزَالَةِ الْعَيْبِ اَلنَّاتِجِ عَنْ حَادِثٍ أَوْ غَيْرِهِ .. وَهَذَا لاَ بَأْسَ بِهِ وَلاَ حَرَجَ فِيْهِ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذِنَ لِرَجُلٍ قُطِعَتْ أَنْفُهُ فِي الْحَرْبِ أَنْ يَتَّخِذَ أَنْفًا مِنْ ذَهَبٍ…. وَالنَّوْعُ الثَّانِيْ: هُوَ التَّجْمِيْلُ الزَّائِدُ وَهُوَ لَيْسَ مِنْ أَجْلِ إِزَالَةِ الْعَيْبِ بَلْ لِزِيَادَةِ الْحُسْنِ وَهُوَ مُحَرَّمٌ لاَ يَجُوْزُ ، لِأَنَّ الرَّسُوْلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ النَّامِصَةَ وَالْمُتَنَمِّصَةَ وَالْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ لِمَا فِيْ ذَلِكَ مِنْ إِحْدَاثِ التَّجْمِيْلِ اَلْكُمَّالِيْ اَلَّذِيْ لَيْسَ لِإِزَالَةِ الْعَيْبِ (مسائل فقهية عصرية متنوعة فى العبادات والمعاملات)

Operasi atau bedah plastik dengan tujuan pengobatan dibagi lagi menjadi dua, yaitu;

  1. Operasi atau bedah plastik yang bersifat darurat (vital atau penting) seperti terjadi penyumbatan pada saluran keluarnya air seni, maka dibolehkan melakukan operasi atau pembedahan, sebab jika tidak dilakukan pembedahan, bisa menyebabkan air seni merembes ke tempat-tempat lain sehingga seseorang yang mengidap penyakit ini sulit untuk melaksanakan ibadah dengan tenang, karena pakaian dan badannya sering terkena najis. Selain itu, penyumbatan air seni juga dapat menimbulkan penyakit lain bagi yang bersangkutan.
  2. Operasi atau bedah plastik yang bersifat dibutuhkan (tidak sampai ke tingkat darurat), seperti bibir sumbing atau kulit rusak karena terbakar, maka dibolehkan untuk melakukan pembedahan, berdasarkan pertimbangan kecatatan pada seseorang itu dapat menghalanginya untuk menjalani kehidupan sosialnya.

Hukum Infotainment

Pada penghujung ahir tahun 2009 dan awal tahun 2010, dunia intertainmen (pertelevisian, radio, media cetak atau yang lainnya) digemparkan oleh fatwa bahwa infotainment haram untuk ditayangkan. Pada hal di beberapa stasiun televisi banyak yang menayangkan berbagai jenis acara infotainment, seperti Cek & Ricek, Kroscek, Kasak Kusuk, Gossip, Go Show, KiSS, Kabar-Kabari, dan masih banyak lagi. Demikian pula beberapa radio tidak ketinggalan untuk menyiarkan acara yang serupa. Acara-acara tersebut seringkali mengungkap serta membeberkan berbagai macam kejelekan seseorang, dan bahkan mengarah kepada penyebaran fitnah. Akan tetapi, acara-acara tersebut justru telah menarik minat banyak pemirsa.

Dari fenomena tersebut, bagaimanakah hukum menayangkan, menyiarkan, menonton atau mendengarkan acara televisi, radio atau dalam bentuk lainnya (seputar infotainment) yang isinya mengungkap serta membeberkan kejelekan seseorang atau mengorek-ngorek sisi yang sangat pribadi dalam kehidupan seseorang yang mestinya tidak boleh disiarkan kepada orang lain?

  1. Haram, menayangkan, menyiarkan, menonton atau mendengarkan acara apa pun (seperti infotainmen atau acara yang lainnya) yang mengungkap serta membeberkan kejelekan seseorang, karena hal tersebut termasuk kategori/mengandung unsur:
  2. Ghibah yaitu mengungkap tentang kejelekan orang lain yang memang dilakukannya.
  3. Fitnah yaitu mengungkap tentang kejelekan orang lain yang tidak pernah dilakukannya.
  4. Tajassus yaitu mencari-cari kesalahan dan kejelekan orang lain yang belum pasti dilakukannya (gosip)

Sebagaimana keterangan di bawah ini:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُوْا وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْـتُمُوْهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ  (سورة الحجرات: 12)

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Qs. al-Hujurat: 12)

Imam Qurtubi memberikan penjelasan bahwa ghibah itu adalah sama dengan memakan daging orang mati karena orang mati tidak mungkin mengetahui kalau dagingnya sedang dimakan, seperti saat ia hidup tidak mengetahui bahwa dirinya sedang digunjingkan.

قاَلَ الْقُرْطُبِيُّ: “… قَوْلُهُ تَعَالَى (أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيِّتاً) مَثَّلَ اللهُ الْغِيْبَةَ بِأَكْلِ الْمَيِّتَةِ لِأَنَّ الْمَيِّتَ لاَ يَعْلَمَ بِأَكْلِ لَحْمِهِ كَمَا أَنَّ الْحَيَّ لاَ يَعْلَمَ بِغِيْبَةِ مَنْ إِغْتاَبَهُ (تفسير القرطبي الباب سورة الحجرات)

Imam Qurtubi berkata: Allah Swt. berfirman, “Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati”: Allah memberikan perumpamaan mengenai kejelekan ghibah dengan memakan daging orang mati karena orang mati tidak mungkin mengetahui kalau dagingnya sedang dimakan, seperti saat ia hidup tidak mengetahui bahwa dirinya sedang digunjingkan. (Tafsir al-Qurthubi, bab Surah al-Hujurat)

وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِيْنًا  (الأحزاب: 58)

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (al-Ahzab: 58)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ «ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ «إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ» رواه مسلم (صحيح مسلم باب تحريم الغيبة)

Dari Abu Hurairah, seunguhnya Rasulullah Saw. bersabda, “Apakah kalian mengetahui apa ghibah itu?” Para shababat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau mengatakan, “Ghibah itu adalah bercerita tentang saudara kalian apa-apa yang tidak ia sukai.” Rasul bersabda, “Bagaimana menurut kalian kalau yang direcitakan itu benar-benar nyata apa adanya? Maka inilah yang disebut ghibah, dan apabila apa yang kalian ceritakan tidak nyata, maka berarti kalian telah membuat kedustaan (fitnah) kepadanya”. (Shahih Muslim bab Tahrim al-Ghibah)

  • Boleh bahkan bisa wajib, apabila didasari dengan tujuan yang dibenarkan secara syara’ dan dengan catatan jika hanya dengan cara melakukan ghibah tujuan tersebut dapat tercapai. Ghibah (menggunjing) yang diperbolehkan ada enam sebab:
  • Boleh bagi orang yang teraniaya untuk mengadukan orang yang menganiaya kepada penguasa.
  • Ghibah karena meminta tolong untuk melenyapkan orang yang berbuat kemungkaran dan mengembalikan kepada jalan yang benar.
  • Ghibah untuk meminta nasehat atau fatwa.
  • Ghibah untuk memberi peringatan kepada orang lain agar tidak terjerumus dalam kejahatan.
  • Ghibah untuk memberi penjelasan atau pengertian seseorang yang lebih dikenal dengan gelar atau julukan.
  • Ghibah dengan terus terang menegur orang yang melakukan kefasikan dengan terang-terangan.

Sebagaimana keterangan dalam kitab Is’adurrafiq juz 1 halaman 72, sebagai berikut:

ثُمَّ اْلأَصْلُ فِيْهَا الْحُرْمَةُ وَقَدْ تَجِبُ أَوْ تُباَحُ لِغَرْضٍ صَحِيْحٍ شَرْعِيٍّ لاَيُتَوَصَّلُ إِلَيْهِ إِلاَّبِهَا. وَيَنْحَصِرُ فِى سِتَّةِ أَسْباَبِ: اَلْأُوَّلُ اَلْمُتَظَلِّمُ فَلِمَنْ ظُلِمَ أَنْ يَشْكُوْ لِمَنْ يَظُنُّ أَنَّ لَهُ قُدْرَةً عَلَى إِزَالَةِ ظُلْمِهِ أَوْ تَخْفِيْفِهِ. اَلثَّانِى اَلْاِسْتِعَانَةُ عَلَى تَغَيُّرِ مُنْكَرٍ يَذْكُرُهُ لِمَنْ يَظُنُّ قُدْرَتَهُ عَلَى إِزَالَتِهِ بِنَحْوِ فُلاَنٌ يَعْمَلُ كَذَا فاَزْجُرْهُ بِقَصْدِ التَّوَصُّلِ لِإِزَالَةِ الْمُنْكَرِ وَإِلاَّ كَانَ غِيْبَةً مُحَرَّمَةً مَا لَمْ يَكُنْ جَاهِلاً. اَلثَّالِثُ اَلْاِسْتِفْتاَءُ بِأَنْ يَقُوْلَ لِمُفْتٍ ظَلَّمَنِىْ فُلاَنٌ بِكَذَا فَهَلْ يَجُوْزُ لَهُ وَمَا طَرِيْقِى فِى خَلاَصِىْ مِنْهُ أَوْ تَحْصِيْلِ حَقِّى أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ وَاْلأَفْضَلُ أَنْ يُبْهِمَهُ فَيَقُوْلُ مَا تَقُوْلُ فِى شَخْصٍ أَوْ زَوْجٍ كاَنَ مِنْ أَمْرِهِ كَذَا، وَإِنَّمَا جَازَ التَّصْرِيْحِ بِاِسْمِهِ لِأَنَّ الْمُفْتِى قَدْ يُدْرِكُ مِنْ تَعْيِيْنِهِ مَعْنًى لاَيُدْرِكُهُ مِنْ اِبْهَامِهِ. اَلرَّابِعُ تَحْذِيْرُ الْمُسْلِمِيْنَ مِنَ الشَّرِّ وَنُصْحِهِمْ كَجُرْحِ الرُّوَاةِ وَالشُّهُوْدِ وَالْمُصَنِّفِيْنَ وَالْمُتَصَدِّيْنَ لِإِفْتَاءٍ أَوْعِلْمٍ أَوْ قِرَاءَةٍ مَعَ عَدَمِ أَهْلِيَّةٍ أَوْ مَعَ نَحْوِ فِسْقٍ أَوْ بِدْعَةٍ وَهُمْ دُعَاةٌ إِلَيْهَا وَلَوْ سِرًّا فَتَجُوْزُ إِجْمَاعًا بَلْ تَجِبُ وَكَأَنْ يُشْيِرَ وَإِنْ لَمْ يَسْتَشِرْ عَلَى مُرِيْدِ تَزَوُّجٍ أَوْ مُخَالَطَةٍ لِغَيْرِهِ فِى أَمْرِ دِيْنِيٍّ أَوْ دُنْيَوِىٍّ وَقَدْ عَلِمَ فِى ذَلِكَ الْغَيْرُ قَبِيْحًا مُنَفِّرًا كَفِسْقٍ أَوْ بِدْعَةٍ أَوْ طَمَعٍ أَوْ غَيْرِ ذلِكَ كَفَقْرٍ فِى الزَّوْجِ بِتَرْكِ تَزَوُّجِهِ ثُمَّ إِنِ اكْتَفَى بِنَحْوٍ لاَ يَصْلُحُ لَكَ لَمْ يَزِدْ عَلَيْهِ، وَإِنْ تَوَقَّفَ عَلَى ذِكْرِ عَيْبٍ ذَكَرَهُ بِلاَ زِيَادَةٍ كَإِبَاحَةِ مَيِّتَةٍ لِمُضْطَّرٍّ وَلاَبُدَّ أَنْ يَقْصِدَ بِذلِكَ بَذْلَ النَّصِيْحَةِ للهِ دُوْنَ حَظٍّ أَخَرَ وَكَثِيْرًا مَا يَغْفُلُ عَنْ ذلِكَ وَمِنْ ذلِكَ أَنْ يَعْلَمَ فِى ذِىْ وِلاَيَةٍ قَادِحًا فَيَجِبُ عَلَيْهِ ذِكْرُ ذلِكَ لِمَنْ يَقْدِرُ عَلَى عَزْلِهِ وَتَوْلِيَّةِ غَيْرِهِ أَوْ عَلَى نُصْحِهِ وَحِثِّهِ عَلَى اْلاِسْتِقَامَةِ. اَلْخَامِسُ أَنْ يَتَجَاهَرَ بِفِسْقِهِ أَوْ بِدْعَتِهِ كاَلْمُكَلِّسِيْنِ وَشَرَبَةِ الْخَمْرِ ظَاهِرًا وَذِىْ الْوِلاَياَتِ اَلْباَطِلَةِ فَيَجُوْزُ ذِكْرُهُمْ بِمَا تَجَاهَرُوْا بِهِ دُوْنَ غَيْرِهِ فَيَحْرُمُ ذِكْرُهُمْ بِعَيْبٍ أَخَرَ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ سَبَبٌ أَخَرَ مِمَّا مَرَّ، اَلسَّادِسُ اَلتَّعْرِيْفُ بِنَحْوِ لَقَبٍ كَالْأَعْمَشِ وَاْلأَصَمِّ وَالْأَقْرَعِ وَاْلأَعْوَرِ فَيَجُوْزُ وَإِنْ أَمْكَنَ تَعْرِيْفُهُ بِغَيْرِهِ وَتَعْرِيْفُهِ بِهِ عَلَى جِهَّةِ التَّعْرِيْفِ لاَ التَّنْقِيْصِ وَاْلأَوْلَى بِغَيْرِهِ إِنْ سَهُلَ وَأَكْثَرُ هَذِهِ اْلأَسْبَابِ اَلسِّتَّةِ مُجْمَعٌ عَلَيْهِ وَيَدُلُّ لَهَا مِنَ السُّنَّةِ أَحَادِيْثُ صَحِيْحَةٌ مَشْهُوْرَةٌ (إسعاد الرفيق، ج 1 ص 72)

Hukum Merokok

  1. Haram

Menurut Syekh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz hukum merokok itu haram secara syar’i karena bisa membahayakan kesehatan (mendatangkan berbagai macam penyakit yang bisa menyebabkan kematian seseorang). Diterangkan dalam kitab Hukm Syurb al-Dukhan Wa Imamati Man, juz 1, hal. 1-3.

فَقَدْ دَلَّتْ اْلأَدِلَّةُ اَلشَّرْعِيَّةُ عَلىَ أَنَّ شُرْبَ الدُّخَانِ مِنَ اْلأُمُوْرِ اَلْمُحَرَّمَةِ شَرْعًا لِمَا اِشْتَمَلَ عَلَيْهِ مِنَ اْلأَضْرَارِ، قاَلَ تَعَالىَ: «وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ» فَهِيَ مِنَ الْخَبَائِثِ اَلْمُحَرَّمَةِ، وَيُؤَدِّيَ شُرْبَهَا إِلىَ أَمْرَاضِ مُتَعَدِّدَةِ تُؤْدِيْ إِلىَ الْمَوْتِ، وَقَالَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ»، فاَلضَّرَرُ بِالْجِسْمِ أَوِ اْلإِضْرَارُ بِالْغَيْرِ مَنْهِيٌ عَنْهُ، فَشُرْبُهُ وَبَيْعُهُ حَرَامٌ. (كتاب حكم شرب الدخان وإمامة من، ج 1 ص 1-3)

Dalil-dalil syar’i menunjukkan bahwa sesungguhnya merokok itu termasuk perkara yang diharamkan karena mengandung banyak bahaya. Allah berfirman “Dan (Allah) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk”. Maka merokok termasuk perkara buruk yang diharamkan, menghisapnya menyebabkan penyakit yang menyebabkan kematian. Nabi bersabda: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain”. Maka membahayakan diri sendiri atau membahayakan orang lain itu dilarang, maka menghisap dan menjual rokok itu haram. (Hukm Syurb al-Dukhan Wa Imamati Man, juz 1, hal. 1-3)

Menurut Imam al-Bajuri merokok terkadang juga bisa haram jika membelinya dengan uang jatah nafaqah yang dibutuhkan keluarga atau berkeyakinan tentang bahaya merokok. Diterangkan dalam kitab al-Bajuri, juz 1, hal. 343.

….وَقَدْ تَعْتَرِيْهِ الْحُرْمَةُ إِذَا كَانَ يَشْتَرِيْهِ بِمَا يَحْتَاجُهُ نَفَقَةَ عِيَالِهِ أَوْ تَيَقَّنَ ضَرَرَهُ (البجوري، ج 1 ص 343)

  • Makruh

Menurut Qaul Mu’tamad, seperti pendapat Imam al-Bajuri, hukum merokok itu adalah makruh. Pendapat ini diterangkan dalam kitab. Irsyad al-Ihwan fi Bayani Ahkami Syurbi al-Qahwah Wa al-Dukhan hal. 37-38.

(الْمُعْتَمَدُ أَنَّهُ) اَيْ شُرْبُ الدُّخَانُ (مَكْرُوْهٌ كَمَا يَقُوْلُ اَلْبَاجُوْرِى اَلْأَفْقَهُ) مِنْ كِتَابِ الْبُيُوْعِ مِنْ حَاشِيَةِ عَلىَ شَرْحِ اْلغَايَةِ، وَعِبَارَتُهُ بَعْدَ ذِكْرِ الْقَوْلِ باِلْحَرَمَةِ وَهَذَا ضَعِيْفٌ وَكَذَا اْلقَوْلُ بِأَنَّهُ مُبَاحٌ وَاْلمُعْتَمَدُ أَنَّهُ مَكْرُوْهٌ (إرشاد الإخوان: في بيان أحكام شرب القهوة والدخان. ص 38 – 37)

(Qoul yang mu’tamad) sesungguhnya merokok itu makruh seperti yang dikatakan oleh Imam al-Bajuri dari kitab al-buyu’ dari hasyiyah syarah al-Ghoyah, perkataannya setelah menyebutkan hukum haram, ini pendapat yang lemah, begitu juga dengan perkataan bahwa hukumnya boleh, dan yang mu’tamad hukumnya makruh.

  • Mubah

Menurut Syekh Ali al-Ujhuri al-Maliki, merokok dihukumi sebagai sesuatu yang diperbolehkan, dan pendapatnya tersebut juga diperkuat oleh pendapat al-‘Arif Abdul Ghani an-Nablusy. Diterangkan di dalam kitab Takmilah Hasyiah Rad al-Muhtar, juz 1, hal. 15.

وَلِلْعَلَّامَةِ الشَّيْخِ عَلِيٍّ الْأُجْهُورِيِّ الْمَالِكِيِّ رِسَالَةٌ فِي حِلِّهِ نَقَلَ فِيهَا أَنَّهُ أَفْتَى بِحِلِّهِ مَنْ يُعْتَمَدُ عَلَيْهِ مِنْ أَئِمَّةِ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ .قُلْت: وَأَلَّفَ فِي حِلِّهِ أَيْضًا سَيِّدُنَا الْعَارِفُ عَبْدُ الْغَنِيِّ النَّابْلُسِيُّ رِسَالَةً سَمَّاهَا (الصُّلْحُ بَيْنَ الْإِخْوَانِ فِي إبَاحَةِ شُرْبِ الدُّخَانِ) وَتَعَرَّضَ لَهُ فِي كَثِيرٍ مِنْ تَآلِيفِهِ الْحِسَانِ، (تكملة حاشية رد المختار، ج 1 ص 15)

  • Wajib

Menurut pendapat Imam al-Bajuri, hukum merokok itu terkadang bisa wajib apabila akan terjadi bahaya jika meninggalkannya. Hal ini diterangkan dalam kitab al-Bajuri, juz 1, hal. 343.

…. بَلْ قَدْ يَعْتَرِيْهِ اْلوُجُوْبُ كَمَا يَعْلَمُ الضَّرَرُ بِتَرْكِهِ (البجوري، ج 1 ص 343)

at-Thommah al-Kubro berpendapat kalau menghukumi haram atau makruh itu harus ada dalil karena keduanya itu adalah hukum syar’i, sedangkan dalam masalah rokok ini tidak ada dalil (al-Qur’an atau Hadits) yang menetapkannya dengan hukum haram atau makruh, karena rokok tidaklah membuat mabuk, tidak mengganggu pikiran juga tidak membahayakan, bahkan ada beberapa manfaatnya sesuai dengan qoidah“al-Aslu fil Asyyaai al-Ibaahah”, karena sesuatu yang membahayakan bagi sebagian orang tidak bisa menjadi sebab mengharamkan kepada setiap orang. Seperti halnya madu!, pada satu sisi madu bisa membahayakan bagi orang yang mengidap penyakit kuning dan memperparah penyakitnya, tetapi di sisi lain madu bisa menjadi obat bagi penyakit yang lain dengan keterangan yang pasti bahwa madu adalah obat.Hal ini diterangkan dalam kitab Takmillah Hasiyah Raddul Muhtar , juz 1, hal. 15.

وَأَقَامَ الطَّامَّةَ الْكُبْرَى عَلَى الْقَائِلِ بِالْحُرْمَةِ أَوْ بِالْكَرَاهَةِ فَإِنَّهُمَا حُكْمَانِ شَرْعِيَّانِ لَا بُدَّ لَهُمَا مِنْ دَلِيلٍ وَلَا دَلِيلَ عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّهُ لَمْ يَثْبُتْ إسْكَارُهُ وَلَا تَفْتِيرُهُ وَلَا إضْرَارُهُ، بَلْ ثَبَتَ لَهُ مَنَافِعُ، فَهُوَ دَاخِلٌ تَحْتَ قَاعِدَةِ الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ وَأَنَّ فَرْضَ إضْرَارِهِ لِلْبَعْضِ لَا يَلْزَمُ مِنْهُ تَحْرِيمُهُ عَلَى كُلِّ أَحَدٍ، فَإِنَّ الْعَسَلَ يَضُرُّ بِأَصْحَابِ الصَّفْرَاءِ الْغَالِبَةِ وَرُبَّمَا أَمْرَضَهُمْ مَعَ أَنَّهُ شِفَاءٌ بِالنَّصِّ الْقَطْعِيِّ (حاشية رد المختار، ج 1 ص 15)

Macam-Macam Batasan Aurat

  1. Definisi Aurat

Aurat adalah bagian tubuh manusia yang tabu dan dosa untuk diperlihatkan kepada orang lain kecuali terhadap makhrom atau suami dan istri sendiri. Secara umum aurat itu dibagi menjadi dua yaitu;

  1. Aurat Ghalidhah yaitu qubul, lubang depan yang biasanya disebut dzakar atau vagina dan dubur, yaitu lubang belakang atau anus.
  2. Aurat Khafifah yaitu seluruh anggota tubuh selain dari qubul dan dubur.

Keterangan dalam kitab al-Jauhar al-Nirah, juz 1, hal. 189.

الْعَوْرَةُ عَلَى نَوْعَيْنِ: غَلِيظَةٌ كَالْقُبُلِ وَالدُّبُرِ ، وَخَفِيفَةٌ وَهِيَ مَا عَدَاهُمَا

  • Kriteria Pembagian Batasan Aurat

Pendapat berbagai ulama’ dalam membagi kriteria aurat secara terperinci diuraikan di bawah ini:

  1. Aurat Laki-Laki
  2. Menurut pendapat madzhab Syafi’iyah, aurat orang laki-laki di dalam shalat dan di luar shalat adalah anggota tubuh mulai dari pusar sampai dengan lutut. Diterangkan di dalam kitab Hasyiyah al-Jamal juz 4 hal. 12-14 dan kitab I’anah al-Thalibin, juz 1, Fasal Fii Syuruti as-Shalat.

وَالْعَوْرَةُ مِنَ الرَّجُلِ مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إلَى الرُّكْبَةِ (قَوْلُهُ وَالْعَوْرَةُ مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ) هُوَ تَتِمَّةُ الْحَدِيثِ وَالْمُرَادُ الْعَوْرَةُ فِي الصَّلَاةِ وَغَيْرِهَا بِقَرِينَةِ الْإِظْهَارِ فِي مَحَلِّ الْإِضْمَارِ ا هـ

  • Menurut Imam Zarkasyi, aurat pria di luar shalat dan ketika berada di tempat yang sepi adalah hanya dubur dan dzakar (alat kelaminnya) saja. Hal ini diterangkan dalam kitab: Syarhu al-Bahjah al-Wardiyah, juz 3 hal. 467 dan kitab Tuhfah al-Muhtaj Fii Syarhi al-Minhaj, juz 6, hal. 243.

قَالَ الزَّرْكَشِيُّ وَالْعَوْرَةُ الَّتِي يَجِبُ سَتْرُهَا فِي الْخَلْوَةِ السَّوْأَتَانِ فَقَطْ مِنَ الرَّجُلِ

Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, aurat orang laki-laki di luar shalat adalah hanya kubul dan dubur saja. Diterangkan dalam kitab Bughya al-Mustarsyidin bab Fii Syuruti al-Shalat hal 34.

فائدة: قاَلَ فِي الْقَلاَئِدِ: لَناَ وَجْهٌ أَنَّ عَوْرَةَ الرَّجُلِ فِيْ غَيْرِ الصَّلاَةِ اَلْقُبُلُ وَالدُّبُرُ فَقَطْ وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ مَالِكٍ وَأَحْمَدَ اهـ (بغية المسترشدين باب شروط الصلاة ص 34)

  • Dalam kitab Hasyiah al-Jamal, juz 1, hal. 411. diterangkan bahwa aurat orang laki-laki di dalam shalat hanyalah qubul (dzakar) dan dubur (anus) saja. Tetapi pendapat ini hanya khusus untuk orang laki-laki saja tidak berlaku bagi budak perempuan (amat).

قَوْلُهُ أَيْضًا بِجَامِعِ أَنَّ رَأْسَ كُلٍّ مِنْهُمَا لَيْسَ بِعَوْرَةٍ أَيْ: فِي الصَّلَاةِ نَعَمْ يَفْتَرِقَانِ فِي أَنَّ لَنَا وَجْهًا بِأَنَّ عَوْرَةَ الرَّجُلِ الْقُبُلُ وَالدُّبُرُ خَاصَّةً وَهُوَ لَا يَجْرِي فِي الْأَمَةِ

  • Dikatakan, Imam Malik juga berpendapat bahwa aurat yang wajib ditutupi bagi orang laki-laki dan amat (budak perempuan) adalah dua alat kelaminnya saja. (Mughni al-Mukhtaj, juz 1, hal. 256.)

وَخَرَجَ بِذَلِكَ السُّرَّةُ وَالرُّكْبَةُ فَلَيْسَا بِعَوْرَةٍ عَلَى الْأَصَحِّ وَقِيْلَ الَرُّكْبَةُ مِنْهَا دُوْنَ السُّرَّةِ وَقِيْلَ عَكْسُهُ وَقِيْلَ اَلسَّوْاَ تَانِ فَقَطْ وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَجَمَاعَةٌ.

Dan menurut Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi perintah menutupi aurat itu adalah bertujuan untuk memuliakan dan menjaga kemaluan, tidak untuk merendahkan dan menghinakannya, karena kemaluan adalah termasuk barang yang tabu dan jijik apabila terbuka atau telanjang dan tidak buruk secara dhahir dan hakikinya. Barang yang harus ditutupi itu adalah qubul (dzakar atau vagina) dan dubur (anus) sebagaimana dijelaskan di dalam kitab: Hasyiah al-Shawi ‘ala Syarhi al-Shaghir, juz 1, bab Satr al-‘Aurat.

قَوْلُهُ: (وَسَتْرِ الْعَوْرَةِ): السَّتْرُ بِفَتْحِ السِّينِ لِأَنَّهُ مَصْدَرٌ ، وَأَمَّا بِالْكَسْرِ فَهُوَ مَا يَسْتَتِرُ بِهِ. وَالْعَوْرَةُ: مِنْ الْعَوَرِ، وَهُوَ الْقُبْحُ لِقُبْحِ كَشْفِهَا لَا نَفْسِهَا، حَتَّى قَالَ مُحْيِي الدِّينِ بْنُ الْعَرَبِيِّ: الْأَمْرُ بِسَتْرِ الْعَوْرَةِ لِتَشْرِيفِهَا وَتَكْرِيمِهَا لَا لِخِسَّتِهَا فَإِنَّهُمَا – يَعْنِي الْقُبُلَيْنِ – مَنْشَأُ النَّوْعِ الْإِنْسَانِيِّ الْمُكَرَّمِ الْمُفَضَّلِ. ا هـ

  • Aurat Wanita
  • Pendapat dari pengikut madzhab Syafi’iyah, bahwa aurat wanita di luar shalat ketika bersama orang laki-laki lain adalah seluruh tubuhnya. Sebagaimana diterangkan dalam kitab: Matan Safinah an-Najah, hal. 12.

وَعَوْرَةُ اْلحُرَّةِ وَاْلأَمَّةِ عِنْدَ اْلأَجَانِبِ جَمِيْعُ الْبَدَنِ

  • Aurat orang perempuan ketika shalat adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan dua telapak tangan. Hal ini diterangkan dalam kitab Hasyiah Bujairami, juz 4, hal. 74 dan Hasyiah al-Jamal, juz 4, hal. 12-14.

(وَ) عَوْرَةُ (حُرَّةٍ غَيْرُ وَجْهٍ وَكَفَّيْنِ) ظَهْرًا وَبَطْنًا إلَى الْكُوعَيْنِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى:{وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا} وَهُوَ مُفَسَّرٌ بِالْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ وَإِنَّمَا لَمْ يَكُونَا عَوْرَةً ؛ لِأَنَّ الْحَاجَةَ تَدْعُو إلَى إبْرَازِهِمَا

  • Menurut Imam Muzani, telapak kaki orang perempuan dalam shalat maupun di luar shalat adalah bukan termasuk aurat. Diterangkan dalam kitab Mughni al-Mukhtaj, juz 1, hal. 257.

وَفِيْ قَوْلِهِ أَوْ وَجْهٌ أَنَّ بَاطِنَ قَدَمَيْهَا لَيْسَ بِعَوْرَة وَقَالَ الْمُزَانِيْ لَيْسَ القَدَمَانِ عَوْرَةً

  • Dikatakan aurat orang perempuan ketika dalam keadaan sendirian atau pada tempat yang sepi adalah cukup menutupi sesuatu di antara pusar sampai dengan lutut. Diterangkan dalam kitab Hasyiyah al-Jamal ala al-Minhaj juz 1 hal 411.

وَأَمَّا فِى الْخَلْوَةِ فَكاَلْمَحَارِمِ وَقِيْلَ كَالرَّجُلِ (حاشية الجمل على شرح المنهاج، ج 1 ص 411)

Imam al-Zarkasyi berpendapat dalam kitab Syarhu al-Bahjah al-Wardiyah, juz 3, hal. 467. bahwa orang perempuan ketika dalam keadaan sendirian atau pada tempat yang sepi adalah cukup menutupi sesuatu di antara pusar sampai dengan lutut.

قَالَ الزَّرْكَشِيُّ وَالْعَوْرَةُ الَّتِي يَجِبُ سَتْرُهَا فِي الْخَلْوَةِ السَّوْأَتَانِ فَقَطْ مِنْ الرَّجُلِ، وَمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ مِنْ الْمَرْأَةِ

  • Dalam kitab Matan Sulam al-Safinah, hal 12-13: aurat orang perempuan adalah dari pusar sampai dengan lututnya saja ketika bersama muhrimnya atau ketika bersama dengan sesama wanitanya.

وَعَوْرَةُ اْلحُرَّةِ وَاْلأَمَّةِ عِنْدَ اْلأَجَانِبِ جَمِيْعُ الْبَدَنِ وَعِنْدَ مَحَارِمِهَا واَلنِّسَاءِ مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ

  • Aurat Budak atau Hamba Sahaya
  • Menurut penganut madzhab Syafi’i aurat budak ketika shalat adalah seperti auratnya wanita khurri (wanita merdeka) yaitu seluruh tubuhnya kecuali kepala, wajah dan kedua telapak tangannya, diterangkan dalam kitab: Hasyiah Qulyubi wa ‘Amirah, juz 3, hal. 442. dan bisa dilihat dalam kitab Nihayah al-Zain, hal. 46.

وَالثَّانِي عَوْرَتُهَا (أي اْلأَمَةُ) كَالْحُرَّةِ إلَّا رَأْسَهَا، أَيْ عَوْرَتُهَا مَا عَدَا الْوَجْهَ وَالْكَفَّيْنِ وَالرَّأْسَ

  • Menurut qoul yang lebih shahih seperti yang telah diterangkan oleh Imam al-Baihaqi aurat budak ketika shalat maupun di luar shalat adalah seperti auratnya orang laki-laki yaitu antara pusar sampai dengan lutut.

Keterangan kitab Fathu al-Wahab, juz 1, hal. 87 dan kitab Hasyiah Qulyubi Wa ‘Umairah, juz 3, hal. 442.

(وَ) ثَالِثُهَا (سَتْرُ الْعَوْرَةِ) صَلَّى فِي الْخَلْوَةِ أَوْ غَيْرِهَا، فَإِنْ تَرَكَهُ مَعَ الْقُدْرَةِ لَمْ تَصِحَّ صَلاَ تُهُ (وَعَوْرَةُ الرَّجُلِ) حُرًّا كَانَ أَوْ عَبْدًا (مَا بَيْنَ سُرَّتِهِ وَرُكْبَتِهِ) لِحَدِيثِ الْبَيْهَقِيّ، وَإِذَا زَوَّجَ أَحَدُكُمْ أَمَتَهُ عَبْدَهُ أَوْ أَجِيرَهُ فَلَا تَنْظُرُ إلَى عَوْرَتِهِ، وَالْعَوْرَةُ مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ، (وَكَذَا اْلأَمَةُ) عَوْرَتُهَا مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ (فِي اْلأَصَحِّ) إلْحَاقًا لَهَا بِالرَّجُلِ

  • Aurat Karyawati (Wanita Karier)
  • Aurat karyawati adalah seluruh badan, kecuali kepala.

وَفِيْهِ وَجْهٌ أَنَّ جَمِيْعَ ذَلِكَ عَوْرَةٌ كَمَا فِيْ حَقِّ الْحُرَّةِ سِوَى الرَّأْسِ (الشرح الكبير للرافعى ج 4)

  • Aurat karyawati adalah seluruh badan, kecuali anggota badan yang tampak dan terbuka ketika bekerja, seperti kepala, leher, lengan tangan dan ujung betis. Karena anggota tersebut butuh untuk dibuka dan sulit untuk menutupnya.

(وَالثَّانِيَّةُ) مَا يَبْدُو وَيَنْكَشِفُ فِيْ حَالِ الْمِهْنَةِ فَلَيْسَ بِعَوْرَةٍ مِنْهَا وَهُوَ الرَّاْسُ وَالرَّقَبَةُ وَالسَّاعِدُ وَطَرْفُ السَّاقِ لِأَنَّهَا تَحْتَاجُ إِلَي كَشْفِهِ وَيَعْسُرُ عَلَيْهَا سَتْرُهُ (الشرح الكبير للرافعى ج 4)

ثَالِثَتُهَا جَمِيْعُ الْبَدَنِ إِلاَّ مَا يَظْهَرُ عِنْدَ الْمِهْنَةِ وَهِيَ عَوْرَتُهَا عِنْدَ النِّسَاءِ الْكَافِرَاتِ (نهاية الزين ص 47)

  • Aurat Khuntsa (orang yang mempunyai dua jenis kelamin)
  • Aurat khuntsa adalah semua badannya sebagaimana wanita merdeka. (Hasyiyah Qulyubi bab Suruti al-Shalat juz 1)

عَوْرَةُ الْخُنْثَى الرَّقِيْقِ لاَ تَخْتَلِفُ، وَالْخُنْثَى الْحُرِّ كَاْلأُنْثَى الْحُرَّةِ، اِبْتِدَاءً وَكَذَا دَوَامًا، عِنْدَ شَيْخِنَا الرَّمْلِيُّ وَخَالَفَهُ الْخَطِيْبُ (حاشية قليوبى باب شروط الصلاة ج 1)

  • Aurat khuntsa adalah semua anggota badannya, kecuali wajah, kedua telapak tangan dan kepalanya. Diterangkan dalam kitab Khawasyi al-Syarwani, juz 2, hal 120.

وَالْخُنْثَى (فِي اْلأَصَحِّ) عَوْرَتُهَا كَالْحُرَّةِ إلَّا رَأْسَهَا، أَيْ عَوْرَتُهَا مَا عَدَا الْوَجْهَ وَالْكَفَّيْنِ وَالرَّأْسَ (حاشية الشروانى)

Pornografi

Pornografi adalah bentuk gambar atau patung yang menampilkan keindahan bagian tubuh yang dapat menimbulkan syahwat bagi orang lain, baik yang terdapat pada media cetak, elektronik, maupun pada perilaku seseorang, terutama yang bersumber dari kaum wanita. Dan sangat disayangkan pada saat ini di berbagai daerah di Indonesia makin banyak aksi-aksi porno, baik penayangan dari media cetak, media elektronik maupun langsung.

Dari fenomena tersebut kemudian memunculkan RUU APP. Dan kemudian Pro dan kontra terhadap RUU itupun semakin ramai dan menguat.

Bagaimanakah hukum melihat pornografi?

  1. Haram melihat, apabila sampai menimbulkan syahwat dan fitnah.

وَمِنْ مَعَاصِى الْعَيْنِ اَلنَّظْرُ بِهَا مِنَ الذَّكَرِ إِلَى شَيْئٍ مِنْ جَمِيْعِ بَدَنِ أَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ اْلأَجْنَبِيَّاتِ مَعَ الْقَصْدِ. (تَنْبِيْهٌ) عَدَّ فِى الزَّوَاجِرِ نَظْرُ اْلأَجْنَبِيَّةِ بِشَهْوَةٍ وَخَوْفِ فِتْنَةٍ وَلَمْسُهَا كَذٰلِكَ (إسعاد الرفيق ص 67)

  • Boleh, asal tidak menimbulkan fitnah dan syahwat. (Tuhfah al-Muhtaj, juz 9, hal. 20 – 21)

فَلَا يَحْرُمُ نَظَرُهُ فِي نَحْوِ مِرْآةٍ كَمَا أَفْتَى بِهِ غَيْرُ وَاحِدٍ وَيُؤَيِّدُهُ قَوْلُهُمْ لَوْ عَلَّقَ الطَّلَاقَ بِرُؤْيَتِهَا لَمْ يَحْنَثْ بِرُؤْيَةِ خَيَالِهَا فِي نَحْوِ مِرْآةٍ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَرَهَا وَمَحَلُّ ذَلِكَ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ حَيْثُ لَمْ يَخْشَ فِتْنَةً وَلَا شَهْوَةً وَلَيْسَ مِنْهَا الصَّوْتُ فَلَا يَحْرُمُ سَمَاعُهُ إلَّا إنْ خَشِيَ مِنْهُ فِتْنَةٌ وَكَذَا إنْ اِلْتَذَّ بِهِ كَمَا بَحَثَهُ الزَّرْكَشِيُّ. (تحفة المحتاج، ج 9 ص 20 – 21)

Terlepas dari pro-kontra di atas, para ulama’ sepakat melarang untuk mengeksploitasi keindahan tubuh di depan publik terutama bagi kaum hawa, hal itu menunjukkan bahwa agama sebenarnya lebih menjunjung tinggi kehormatan manusia.

Hukum Pergaulan Bebas

Pada zaman sekarang memang lebih marak dengan yang namanya pergaulan bebas, sehingga seakan-akan negara kita punya nilai kebebasan tanpa adanya moral, bahkan masyarakat Indonesia yang biasa dikenal kental dengan adat ketimurannya, sedikit demi sedikit mulai luntur, karena semakin hebatnya pengaruh, transformasi budaya luar.

Pada suatu forum, misalnya acara ulang tahun atau pesta-pesta yang lain sering terlihat dalam acara tersebut banyak bercampurnya antara laki-laki dan perempuan, yang notabene adalah remaja. Sehingga para santri merasa sangat tabu akan hal itu. Bagaimanakah hukum menghadiri suatu acara atau pesta yang demikian itu?

Hukum berbaurnya laki-laki dan perempuan:

  1. Haram dan berdosa apabila menghadiri acara tersebut jika nantinya dapat menimbulkan fitnah. Keterangan kitab Is’ad ar-Rafiq:

مِنْ أَقْبَحِ الْمُحَرَّمَاتِ، وَأَشَدِّ اْلمَحْظُوْرَاتِ إِخْتِلاَطُ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ فىِ الْجُمُوْعَاتِ لِمَا يَتَرَتَّبُ عَلَى ذَلِكَ مِنَ الْمَفَاسِدِ وَاْلفِتَنِ اْلقَبِيْحَةِ (إسعاد الرفيق ص 67)

Sebagian perkara yang sangat diharamkan dan dikhawatirkan adalah bercampurnya laki-laki dan perempuan dalam tempat perkumpulan yang dapat menimbulkan fitnah. (Is’ad al-Rafiq hal. 67)

  • Makruh, bilamana menilai kehadirannya dalam acara tersebut timbul rasa khawatir atau takut terkena fitnah/berdampak negatif.

قاَلَ فى الزَّوَاجِرِ: وَهُوَ مِنَ الْكَبَائِرِ لِصَرِيْحِ هَذِهِ اْلأَحَادِيْثِ، وَيَنْبَغِى حَمْلُهُ لِيُوَافِقَ قَوَاعدُنَا عَلىَ مَا إِذَا تَحَقَّقَتْ الفِتْنَةُ: أَمَّا مُجَرَّدُ خَشْيَتِهَا فَاِنَّمَا هُوَ مَكْرُوْهٌ، وَمَعَ ظَنِّهَا حَرَامٌ غَيْرُ كَبِيْرَةٍ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ (إسعاد الرفيق ص:136)

  • Boleh, menghadiri acara tersebut jika ada keperluan dan tidak menimbulkan fitnah serta tidak melanggar aturan agama dan norma-norma yang berlaku, sehingga pergaulan mereka memang merupakan hal yang wajar. Sebagaimana keterangan dalam kitab (‘asyratun nisaa’ linasa’i, juz 1 hlm 170)

وَيَجُوْزُ اْلاِخْتِلاَطٌ إِذَا كَانَتْ هُنَاكَ حَاجَةٌ مَشْرُوْعَةٌ مَعَ مُرَاعَاةِ قَوَاعِدِ الشَّرِيْعَةِ وَلِذَلِكَ جَازَ خُرُوْجُ الْمَرْأَةِ لِصَلاَةِ الْجَمَاعِ وَصَلاَةِ الْعِيْدِ ، وَأَجَازَ الْبَعْضُ خُرُوْجِهَا لِفَرِيْضَةِ الْحَجِّ مَعَ رُفْقَةٍ مَأْمُوْنَةٍ مِنَ الرِّجَالِ. كَذَلِكَ يَجُوْزُ لِلْمَرْأَةِ مُعَامَلَةُ الرِّجَالُ بِبَيْعٍ أَوْ شِرَاءٍ أَوْ إِجَارَةٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكْ. (عشرة النساء للنسائي، ج 1ص 170 )

Hukum Onani atau Masturbasi

Onani adalah merangsang kemaluan sendiri untuk mencapai orgasme (bagi laki-laki) dan bagi perempuan disebut masturbasi.

Bagaimanakah hukum dari masturbasi atau onani?

  1. Haram, menurut Imam Malik, Imam syafi’i, dan Imam Abu Hanifah
  2. Boleh, menurut Imam Ahmad bin Hanbal tetapi dengan tiga syarat:
  3. Khawatir akan melakukan perzina’an.
  4. Tidak mampu menikah (tidak punya mahar untuk menikahi wanita)
  5. Dengan menggunakan tangannya sendiri, tidak menggunakan tangan orang lain.

Hal ini dijelaskan dalam kitab as-Showi ‘ala Syarhi Tafsir al-Jalalain juz 3 halaman 112.

قَوْلُهُ كَاْلاِسْتِمْناَءِ بِالْيَدِّ أَيْ فَهُوَ حَرَامٌ عِنْدَ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيْ وَأَبِيْ حَنِيْفَةَ فَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلْ يَجُوْزُ بِشُرُوْطٍ ثَلاَثَةٍ أَنْ يَخَافَ الزِّناَ وَأَنْ لاَ يَجِدَ مَهْرَ حُرَّةٍ أَوْ ثَمَنَ أَمَّةٍ وَأَنْ يَفْعَلَهُ بِيَدِهِ لاَ بِيَدِ أَجْنَبِيِّ أَوْ أَجْنَبِيَّةِ (الصاوي على شرح تفسير الجلالين، ج 3 ص 112)

Hukum Pria Memakai Perhiasan Emas

Wanita akan tampak kelihatan anggun dan cantik apabila memakai perhiasan (emas) yang tidak berlebihan, akan tetapi lain halnya apabila pria yang memakainya. Bagaimanakah hukum pria memakai perhiasan emas?

Dalam hal ini ada beberapa pandangan di kalangan ulama’:

  1. Haram bagi pria memakai emas murni maupun campuran

وَكَذَا يَحْرُمُ عَلَى الرِّجاَلِ وَمِثْلُهُمْ اَلْخُنَاثَى (اَلتَّخْتِمُ بِالذَّهَبِ) لِخَبَرِ أَبِيْ دَاوُدَ بإِسْناَدٍ صَحِيْحٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ فِيْ يَمِيْنِهِ قَطْعَةَ حَرِيْرٍ وَفِيْ شِمَالِهِ قَطْعَةَ ذَهَبٍ. وَقَالَ هَذَانِ أَيْ اِسْتِعْمَالُهُمَا حَرَامٌ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِيْ حَلَّ لِأُناَثِهِمْ، وَأُلْحِقَ باِلذُّكُوْرِ اَلْخُناَثَى اِحْتِيَاطًا. وَاحْتَرَزَ بِالتَّخَتُّمِ عَنْ اِتْخَاذُ أَنْفٍ أَوْ أَنْمِلَةٍ أَوْ سِنٍّ فَإِنَّهُ لاَ يُحْرَمُ اِتْخَاذُهاَ مِنْ ذَهَبٍ عَلَى مَقْطُوْعِهَا وَإِنْ أَمْكَنَ اِتْخَاذُهَا مِنَ الْفِضَّةِ (الإقناع فى حال ألفاظ أبى شجاع، ص 172)

Begitu juga bagi laki-laki, diharamkan memakai cincin dari emas sedangkan bagi khuntsa hukumnya disamakan dengan laki-laki karena adanya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad shahih; Bahwa Rasulullah Saw. mengambil sepotong sutra pada tangan kanannya dan sepotong emas pada tangan kirinya. Beliau bersabda; sutra dan emas ini, keduanya haram dipakai kaum laki-laki dari umatku. Para khuntsa disamakan dengan laki-laki, karena berhati-hati, dikecualikan dari haramnya memakai cincin yaitu untuk membuat hidung, ujung jari atau gigi palsu dari bahan emas. Demikian itu diperbolehkan bagi orang yang organ-organnya tersebut terpotong, meskipun masih memungkinkan membuatnya dari bahan perak. (al-Iqna’ Fii Haali al-Fadzi Abi Syuja’, hal.172)

ذَهَبَ الْجُمْهُوْرُ مِنَ الْعُلَمَاءِ إِلَى حُرْمَةِ التَّخَتُّمِ بِالذَّهَبِ لِلرِّجَالِ دُوْنَ النِّسَاءِ. (فقه السنة، ج 3 ص  258)

Mayoritas ulama’ berpendapat bahwasanya haram bagi laki-laki memakai cincin dari emas, bukan untuk  orang perempuan. (Fiqih as-sunnah, juz III, hal. 258)

  • Makruh bagi pria memakai perhiasan baik dari emas murni maupun campuran. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Fiqih al-Sunnah, juz III, hal.364

وَذَهَبَ جَمَاعَةٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ إِلَى كَرَاهَةِ التَّخَتُّمِ بِالذَّهَبِ لِلرِّجَالِ كَراَهَةَ تَنْزِيْهٍ وَلَقَدْ لَبِسَهُ جَمَاعَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ مِنْهُمْ سَعْدُ ابْنُ أَبِيْ وَقَاصٍ وَطَلْحَةُ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَصُهَيْبٌ وَحُذَيْفَةُ وَجَابِرُ بْنُ سَمْرَةَ وَالْبَرَّاءُ بْنُ عاَزِبٍ وَلَعَلَّهُمْ حَسَبُوْا أَنَّ النَّهِيَّ لِلتَّنْزِيْهِ (فقه السنة، ج 3 ص 259)

Ada sebagian ulama’ yang memakruhkan laki-laki memakai perhiasan emas, karena ada sebagian sahabat yang memakainya, diantaranya adalah Said bin Abi Waqhas dan Talhah bin Abdullah, Suhaib, Hudzaifah, Jabir bin Samroh, Barra’ bin ‘Azib, mereka mengira bahwa larangan itu adalah makruh tanzih. (Fiqih al-Sunnah, juz III, hal.259)

Hukum Tindik bagi Laki-Laki

Sering terlihat di sebagian kalangan dan kadang menjadi tradisi atau trend menindik (melubangi) hidung atau telinga guna memasang anting atau sejenisnya baik laki-laki maupun perempuan.

Bagaimanakah pandangan fiqih apabila orang laki-laki menindik hidung atau telinga?

  1. Haram mutlak bagi anak atau orang laki-laki menindik/melubangi hidung atau telinganya, menurut Ulama’ Syafi’iyah

(وَحَرَمٌ تَثْقِيْبُ) أَنْفٍ مُطْلَقًا (وَأُذُنِ) صَبِيٍّ قَطْعًا وَصَبِيَّةٍ عَلَى اْلأَوْجُهِ لِتَعْلِيْقِ الْحَلْقِ كَمَا صَرَحَ بِهِ الْغَزَالِى وَغَيْرُهُ لِأَنَّهُ إِيْلاَمٌ لَمْ تَدْعُو إِلَيْهِ حَاجَةٌ

Haram mutlak menindik (melubangi) hidung, para ulama’ sepakat atas keharaman menindik telinga anak laki-laki yang masih kecil guna memasang anting, sedangkan pada anak perempuan yang masih kecil menurut qoul aujah juga haram sebab hal itu menyakiti sebelum ada keperluan. (I’anah at-Thalibin, juz 4, hal. 175-178)

  • Makruh bagi anak laki-laki yang masih balita, menurut sebagian Ulama’ Hambaliyah.

وَفِي الرِّعَايَةِ لِلْحَنَابِلَةِ يَجُوْزُ فِي الصَّبِيَّةِ لِغَرْضِ الزِّيْنَةِ. وَيُكْرَهُ فِي الصَّبِيِّ. إهـ

Dalam kitab Ri’ayah karangan pengikut madzhab Hanbali menyatakan boleh menindik anak perempuan yang masih kecil, sebab bertujuan sebagai perhiasan, sedangkan pada anak laki-laki yang masih kecil hukumnya makruh.

  • Boleh, menurut Imam Zarkasyi, melubangi telinga laki-laki yang masih balita.

وَجَوَّزُهُ الزَّرْكَشِىُّ وَاسْتَدَلَّ بِمَا فِي حَدِيْثِ أُمِّ زَرْعٍ فِي الصَّحِيْحِ، وَفِي فَتَاوِى قَاضِيْخَان مِنَ الْحَنَفِيَّةِ أَنَّهُ لاَبَأْسَ بِهِ لِأَنَّهُمْ كَانُوْا يَفْعَلُوْنَهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَلَمْ يَنْكِرُ عَلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم

Imam Zarkasyi memperlobehkannya berdasarkan hadits Ummi Zarin di dalam hadits Shahih. Fatwa-fatwa Syech Qodikhon pengikut Madzhab Hanafi, menyatakan bahwa tidak mengapa melakukan hal itu sebab pernah dilakukan pada zaman jahiliyah, sedangkan Nabi Saw. tidak mengingkarinya.

Menindik telinga bagi perempuan kebanyakan ulama’ tidak melarang karena hal itu ada hak baginya untuk memperindah dan menghiasi dirinya. Asalkan saat menindik tidak menimbulkan dampak negatif.

وَالتَّعْذِيْبُ فِي مِثْلِ هَذِهِ الزِّيْنَةِ الدَّاعِيَةِ لِرَغْبَةِ اْلأَزْوَاجِ إِلَيْهِنَّ سَهِلَ مُحْتَمِلٌ وَمُغْتَفِرٌ لِتِلْكَ الْمَصْلَحَةِ، فَتَأَمَّلَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ مُهِمٌّ (إعانة الطالبين، ج 4، ص 175-178) 

Sedangkan menyakiti demi untuk perhiasan yang dapat menimbulkan rasa cinta suami pada istrinya itu sangat ringan dan tidak masalah sebab ada unsur kemaslahatan. (I’anah at-Thalibin, juz 4, hal. 175 – 178)

Hukum Tato

Di kalangan remaja sering kita jumpai banyak para remaja yang bertato, menurut mereka tato merupakan style atau mode, bahkan bagi sebagian dari mereka merasa ada suatu kebanggaan tersendiri kalau bisa mentato tubuhnya, bahkan ada yang hampir seluruh tubuhnya dilukis dengan tato.

Tato adalah zat yang dapat dituangkan pada tubuh dengan bentuk gambar atau yang lain melalui berbagai cara sehingga tato tersebut terkadang berada di kulit lapisan luar atau kulit lapisan dalam, dan bisa menyebabkan tidak meresapnya air pada kulit baik ketika mandi besar ataupun wudlu’. Bagaimanakah hukum orang yang tubuhnya di tato? Dan sahkah wudlu’nya?

Ulama’ berpendapat: Hukum mentato tubuh adalah Haram, karena perbuatan itu dilaknat Allah Swt dan Nabi pun melaknatnya juga. Sebagaimana keterangan dalam kitab Is’ad al-Rafiq hal. 122:

وَمِنْهاَ الْوَشْمُ وَطَلَبُ عَمَلِهِ قاَلَ الْكُرْدِىُّ وَهُوَ أَىْ الْوَشْمُ غَرْزُ الْجِلْدِ بِالْإِبْرَةِ حَتَّى يَخْرُجَ الدَّمُ ثُمَّ يَذُرَّ عَلَيْهِ وَيَحْشَى بِهِ الْمَحَلُّ مِنْ نَيْلَةٍ أَوْ نَحْوِهاَ لِيَزْرُقَ أَوْ يَسْوَدَّ لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ فاَعِلَ ذلِكَ (إسعاد الرفيق، ص 122)

Mengenai tentang sah dan tidaknya wudlu’ atau mandi besar orang yang tubuhnya bertato para ulama’ berbeda berpendapat:

  1. Tidak sah wudlu’ atau mandi besarnya tubuh yang bertato, apabila tato tersebut berada di lapisan luar kulit, karena bisa mencegah sampainya air kepada kulit. (Fath al-Mu’in, hal. 5)
  2. Apabila di bawah kulit maka sah, karena tidak menghalangi sampainya air kepada kulit. (Fath al-Mu’in, hal. 5)

وَ(رَابِعُهَا) أَنْ لَا يَكُوْنَ عَلَى الْعُضْوِ حَائِلٌ بَيْنَ الْمَاءِ وَالْمَغْسُوْلِ كَنُوْرَةٍ وَشَمْعٍ وَدَهْنٍ جَامِدٍ وَعَيْنِ حَبْرٍ وَحَنَاءٍ بِخِلاَفِ دُهْنٍ جَارٍ أَيْ مَائِعٍ وَإِنْ لَمْ يَثْبُتْ الْمَاءُ عَلَيْهِ وَأَثْرُ حَبْرٍ وَحَنَاءٌ (فتح المعين، ص 5)

  • Apabila tato itu dilakukan atas dasar persetujuan orang yang ditato, dia tidak khawatir akan terjadi bahaya ketika menghilangkannya, dan apabila tato tersebut tidak dihilangkan, maka dia tidak bisa menghilangkan hadatsnya, karena tatonya bercampur najis. Otomatis kalau dia ingin bersuci harus menghilangkan tatonya terlebih dahulu.
  • Akan tetapi apabila dia khawatir dengan bahaya apabila menghilangkannya, maka di-ma’fu/dimaafkan untuk membiarkan tatonya tersebut, dan bersucinya tetap sah dan orang tersebut tetap sah menjadi imam. Sebagaimana diterangkan dalam kitab Nihayah al-Muhtaj, juz 1, hal. 178.

وَكَذَا الْوَشْمُ وَهُوَ غَرْزُ الْجِلْدِ بِالْإِبْرَةِ حَتَّى يَخْرُجَ الدَّمُ ثُمَّ يَذُرَّ نَحْوَ نِيْلَةٍ لَيَزْرُقَ بِهِ أَوْ يَخْضُرَ فَفِيْهِ تَفْصِيْلُ الْجَبْرِ خِلَافًا لِمَنْ قَالَ إِنَّ بَابَهُ أَوْسَعُ فَعُلِمَ مِنْ ذَلِكَ أَنَّ مَنْ فَعَلَ الْوَشْمَ بِرِضَاهُ فِي حَالَةِ تَكْلِيْفِهِ وَلَمْ يَخَفْ مِنْ إِزَالَتِهِ ضَرَرًا يُبِيْحُ التَّيَمُّمَ مُنِعَ ارْتِفَاعُ الْحَدَثِ عَنْ مَحَلِّهِ لَتَنَجُّسِهِ وَإِلَّا عُذِرَ فِي بَقَاِئهِ وَعُفِيَ عَنْهُ بِالنِّسْبَةِ لَهُ وَلِغَيْرِهِ وَصَحَّتْ طَهَارَتُهُ وَإِمَامَتُهُ وَحَيْثُ لَمْ يُعْذَرْ فِيْهِ وَلَا فِي مَاءٍ قَلِيْلًا أَوْ مَاِئعًا أَوْ رَطْبًا نَجْسُهُ كَذَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَإِلَّا أَيْ بِأَنْ وَصَلَهُ بِهِ مَعَ وُجُوْدٍ صَالِحٍ طَاِهرٍ أَوْ مَعَ عَدَمِ الْحَاجَةِ أَصْلًا حَرُمَ عَلَيْهِ لِلتَّعَدِّي وَوَجَبَ عَلَيْهِ نَزْعُهُ وَيجْبِرُ عَلَى ذَلِكَ إِنْ لَمْ يَخَفْ ضَرَرًا ظَاهِرًا يُبِيْحُ التَّيَمُّمَ وَإِنْ اكْتَسَى لَحْمًا كَمَا لَوْ حَمَلَ نَجَاسَةً تَعَدَّى بِحَمْلِهَا مَعَ تَمَكُّنِهِ مِنْ إِزَالَتِهَا وَكَوَصْلِ الْمَرْأَةِ شَعْرَهَا بِشَعْرٍ نَجِسٍ فَإِنْ امْتَنَعَ لَزِمَ الْحَاكِم نَزْعَهُ لِدُخُوْلِ النِّيَابَةِ فِيْهِ كَرَدِّ الْمَغْصُوْبِ وَلَا اعْتِبَارَ بِأَلَمِهِ حَالًا إِنْ أَمِنَ مَآلًا وَلَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ حِيْنَئِذٍ

Hukum Wanita Memakai Celana Ketat

Cara berbusana tiap orang berbeda-beda, sesuai dengan budaya dari setiap daerah tertentu. Sebagai contoh cara berbusana di Indonesia juga berbeda-beda, yang Jawa memakai pakaian adat Jawa, yang dari Batak memakai busana adat Batak, dan lain-lain. Demikian halnya dengan jubah yang merupakan budaya bangsa Arab. Intinya setiap daerah pasti memiliki ciri khas dari budayanya masing-masing.

Namun di masa modern seperti saat ini, perkembangan mode atau style dalam berbusana berkembang sedemikian pesat, khususnya bagi kaum hawa banyak sekali perkembangan dalam model atau cara berpakaian. Seperti halnya memakai celana, disamping berfungsi sebagai penutup aurat juga sebagai sarana untuk mempercantik diri dan memperindah penampilan. Tidak sedikit dari para wanita yang menggunakan celana ketat, sehingga sampai terlihat lekukan tubuhnya.

Dari fenomena di atas, bagaimanakah pandangan fiqih tentang hukum wanita yang  berbusana dengan memakai celana ketat?

Dalam hal ini, para ulama’ berbeda pandangan;

  1. Tidak diperbolehkan bagi wanita memakai celana ketat sehingga menimbulkan syahwat bagi yang melihatnya apalagi sampai kelihatan warna kulitnya.
  2. Makruh bagi wanita memakai celana ketat.

وَيَكْفِى مَا يُحْكِي لِحَجْمِ الْأَعْضَاءِ (أَيْ وَ يَكْفِيْ جِرْمٌ يَدْرِكُ النَّاسُ مِنْهُ قَدْرَ الْأَعْضَاءِ كَسَرَاوِيْلَ  ضَيِّقَةٍ) لَكِنَّهُ خِلَافُ الْأَوْلَى (أَيْ لِلرَّجُلِ وَأَمَّا الْمَرْأَةُ وَالْخُنْثَي فَيُكْرَهُ لَهُمَا) (حاشية إعا نة الطا لبين، ج 1 ص 134)

وَشَرْطُ السَّاتِرِ فِى الصَّلاَةِ وَخاَرِجِهاَ أَنْ يَشْمِلَ الْمَسْتُوْرُ لَبِسًا وَنَحْوَهُ مَعَ سَتْرِ اللَّوْنِ فَيَكْفِى مَا يَمْنَعُ إِدْرَاكَ لَوْنِ الْبَشَرَةِ

(Mauhibah Dzil Fadlal, juz 2, hal. 326-327, dan al-Minhaj al-Qawim juz 1 hal 234).

Hukum Wanita Kerja Pada Malam Hari

Di era globalisasi saat ini, jumlah tenaga kerja wanita bertambah besar bahkan hampir mendominasi lapangan pekerjaan dalam bidang industri. Di perusahaan besar pekerjaan berjalan full time/24 jam atau sehari penuh, dan dalam 24 jam tersebut biasanya dibagi menjadi 3 shift (giliran), berarti setiap delapan jam ganti shift. Ketika seorang pekerja wanita mendapat giliran jam kerja pada waktu malam hari, dikhawatirkan terjadi kerawanan dan tidak menutup kemungkinan bisa membahayakan kemanan dari pekerja wanita tersebut.

Jika dipandang dari sisi agama, bagaimanakah hukum seorang wanita bekerja pada malam hari di luar rumah?

Dalam hal ini para ulama’ mempunyai pandangan yang berbeda-beda:

  1. Haram, apabila diduga kuat bisa menimbulkan fitnah.
  2. Makruh, apabila hanya sekedar ada kekhawatiran akan terjadinya fitnah.

Sebagaimana keterangan dalam kitab Is’ad ar-Rofiq:

قاَلَ فِى الزَّوَاجِرِ وَهُوَ مِنَ الْكَباَئِرِ لِصَرِيْحِ هَذِهِ اْلأَحَادِيْثِ وَيَنْبَغِيْ حَمْلُهُ لِيُوَافِقَ عَلَى قَوَاعِدِناَ عَلَى مَا إِذَا تَحَقَّقَتْ اَلْفِتْنَةُ. أَمَّا مُجَرَّدُ خَشْيَتِهاَ فَإِنَّمَا هُوَ مَكْرُوْهٌ وَمَعَ ظَنِّهَا حَرَامٌ غَيْرُ كَبِيْرٍ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ (إسعاد الرفيق، ج 2 ص 136)

Dalam kitab az-Zawajir disebutkan bahwa sesuai dengan redaksi hadits di atas, maka (keluarnya wanita dari rumah) adalah termasuk dosa besar. Agar pernyataan ini sesuai dengan kaidah-kaidah kita, maka harus dipahami dalam keadaan jika memang benar-benar akan terjadi fitnah. Adapun jika hanya sekedar ada kekhawatiran terjadinya fitnah, maka hukumnya makruh. Sedangkan jika disertai dengan dugaan kuat adanya fitnah, maka hukumnya haram, namun bukan dosa besar. (Is’ad al-Rofiq, juz II, hal. 136)

  • Boleh, bagi wanita bekerja di malam hari karena untuk mencari nafkah, asalkan aman dari fitnah dan mendapat ijin dari suaminya atau wali (bagi yang masih belum punya suami). Hal ini diterangkan dalam kitab I’anah al-Thalibin:

وَمِنْهاَ (أَيْ مِنَ الْمَوَاضِعِ الَّتِيْ يَجُوْزُ الْخُرُوْجُ لِأَجْلِهَا) إِذَا خَرَجَتْ لِاكْتِسَابِ نَفَقَةٍ بِتِجَارَةٍ أَوْ سُؤَالِ أَيْ سُؤَالِ نَفَقَةٍ أَيْ طَلَبِهاَ عَلَى وَجْهِ الصَّدَقَةِ أَوْ كَسْبٍ إِذَا عَسَرَ الزَّوْجُ (إعانة الطالبين، ج 4 ص 81 )     

Dan diantara hal-hal yang memperbolehkan wanita bekerja di luar rumah adalah jika keluarnya itu untuk mencari nafkah, dengan berdagang, meminta sedekah atau mencari pekerjaan ketika suami sedang dalam kesulitan uang (ada udzur). (I’anah al-Thalibin, juz IV, hal. 81)

Berobat dengan Upas

Di wilayah negara yang banyak hidup berbagai jenis ular berbisa (seperti Srilangka, Bangladesh, dan India) telah mentradisi sistem pengobatan akibat gigitan ular berbisa dengan memanfaatkan cairan berbahan baku serum ular tertentu. Fakta keampuhan serum ular berbisa tersebut telah dikembangkan untuk memproduksi obat-obatan bagi proses penyembuhan berbagai jenis penyakit. Daya anti toksin (penangkal racun) yang membawa muatan anti biotik menjadi pertimbangan sendiri oleh kalangan farmakologi.

Hukum haram yang diletakkan pada ular selama ini terbatas pada upaya memakan daging untuk kebutuhan pemenuhan konsumsi yang ada.

Dalam mengantisipasi terhadap kemajuan perusahaan Farmasi dan produk obat-obatan tradisional, bagaimana hukum tentang pemanfaatan serum ular berbisa sebagai obat proses penyembuhan (imunisasi) ancaman penyakit tertentu?

  1. Boleh, dengan kadar yang diperlukan, selama tidak ditemukan obat lain yang lebih efektif. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidîn, hlm. 16:

(مسئلة: ي) تَحْرُمُ مُبَاشَرَةُ النَجَاسَةِ مَعَ الرُطُوْبَةِ لِغَيْرِ حَاجَةٍ فَيَجِبُ غَسْلُهَا فَوْرًا بِخِلَافِهِ لِحَاجَةٍ كَاْلِاسْتِنْجَاءِ وَغَسْلِهَا مِنْ نَحْوِ بَدَنٍ وَوَضْعِهَا فِى نَحْوِ زَرْعٍ أَوْ بِنَحْوِ قَصْدٍ وَكَذَا التَّدَاوِى بِشَرْطِ فَقْدِ طَاهِرٍ صَالِح (بغية المسترشدين، ص 16)

  • Tidak boleh, sesuai yang dijelaskan dalam kitab Sunan Ibn Mâjah, juz I, hlm. 336, hadits 3459 berikut:

حَدَّ ثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ حَدَّ ثَنَا وَكِيْعٌ عَنْ يُوْنُسَ بْنِ أَبِيْ إِسْحَاقَ، عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمْ عَنِ الدَّوَاءِ الْخَبِيْثِ. يَعْنِي السُّمَّ (سنن ابن ما جه، ج  2، ص 336، رقم الحديث 3459)

Rukhsah Bagi Musafir (orang yang bepergian)

Bepergian merupakan perjalanan yang dilakukan manusia karena ada suatu kepentingan, misalnya untuk berdagang, rekreasi dan silaturrahim. Di dalam hadits dijelaskan  bahwa pergi merupakan sebagian dari siksa karena bepergian menyebabkan kita tidak bisa tidur, makan dan minum seperti biasanya. Maka dari itu jika urusannya sudah selesai, segeralah pulang. Oleh karena itu Allah Swt. memberikan rukhshah (kemudahan) bagi orang yang musafir (orang yang bepergian). Sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Sunan Ibn Majâh, juz II, hlm. 159:

حَدَّثَناَ هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ وَاَبُوْ مُصْعَبٍ الزُّهْرِيُّ وَسُوَيْدُ بْنُ سَعِيْدٍ قَالُوْ حَدَّثَنَا مَالِكُ ابْنُ اَنَسٍ عَنْ سُمِّيٍّ مَوْلَى اَبِى بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ اَبِى صَالِحٍ السَّمَّانِ عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ يَمْنَعُ اَحَدَكُمْ نَوْمَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ فَاِذَا قَضَى اَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ سَفَرِهِ فَلْيُعَجِّلِ الرُّجُوْعَ اِلَى اَهْلِهِ حَدَّثَنَايَعْقُوْبُ بْنُ حُمَيْدِ بْنِ كَاسِبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُالْعَزيْزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَحْوِهِ (سنن ابن ما جه , جز ٢ ,ص ١٥۹)

Apa sajakah rukhsah (kemudahan) yang diberikan kepada musafir?

Rukhsah-rukhsah tersebut yaitu:

  1. Dalam bersuci:
  2. Mengusap muzah (sepatu boot)
  3. Tayammum

وَالسَّفَرُ يُفِيْدُ فِى الطَّهَارَةِ رُخْصَتَيْنِ مَسْحُ الْخُفَّيْنِ وَالتَّيَمُّمِ (احياء علوم الدين، جز٢ ، ص ٢٥٦)

  • Dalam Shalat:
  • Shalat fardhu
  • Boleh qashar
  • Boleh jama’

صَلاَةُ الْمُسَافِرِ كَغَيْرِهِ، اِلاَّ اَنَّ لَهُ التُّرْخَصُ بِالْقَصْرِ وَالْجَمْعِ فَالْقَصْرُ جَائِزٌ بِالْإِجْمَاعِ (روضة الطالبين، ص ١٧۰)

  • Shalat sunnah
  • Boleh dilakukan di atas kendaraan
  • Boleh dilakukan dengan berjalan

وَالسَّفَرُ يُفِيْدُ فِى الطَّهَارَةِ رُخْصَتَيْنِ مَسْحُ الْخُفَّيْنِ وَالتَّيَمُّمِ وَفِي صَلاَةِ الْفَرْضِ رُخْصَتَيْنِ الْقَصْرُ وَالْجَمْعُ وَفِي النَّفْلِ رُخْصَتَيْنِ أَدَاؤُهُ عَلَى الرَّاحِلَةِ وَاَدَاؤُهُ مَاشِيًا وَفِي الصَّوْمِ رُخْصَةٌ وَاحِدَةٌ وَهِيَ الْفِطْرَةُ. فَهَذِهِ سَبْعُ رَخْصٌ (احياء علوم الدين، جز٢ ، ص ٢٥٦)

  • Shalat Jum’at, musafir (orang yang bepergian) boleh meninggalkan shalat jum’at (sunnah mendirikan shalat jum’at ketika bepergian).

اَلرَّابِعُ الْإِقَامَةُ، فَلَا جُمْعَةٌ عَلَى مُسَافِرٍ لَكِنْ يُسْتَحَبُّ لَهُ (روضة الطالبين، ص ١۹٤)

  • Puasa, musafir (orang yang bepergian) boleh meninggalkan puasa.

وَ(لِلْمُسَافِرِ سَفَرًا طَوِيْلًا مُبَاحًا) لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ وَيَأْتِى هُنَا جَمِيْعُ مَا مَرَّ فَالْقَصْرُ فَحَيْثُ جَازَ جَازَ الْفِطْرُ وَحَيْثُ لَا فَلَا… (تحفة المحتاج بشرح المنهاج، ج ١، ص ٥٢٢)

Status Ikan dari Tambak yang Hanyut Karena Banjir

Pada musim penghujan, seringkali di beberapa tempat terjadi banjir. Terutama di daerah yang cukup rawan dengan banjir. Demikian halnya dengan beberapa tempat yang dekat dengan pesisir pantai, yang terkadang beberapa masyarakat di sana memiliki usaha tambak ikan. Karena hujan yang cukup deras dan laut sedang pasang, sehingga menyebabkan tambak ikan tersebut ikut tergenang dan meluap. Walhasil, ikan-ikan dalam tambak tersebut ikut hanyut sampai berserakan ke beberapa daerah sekitar. Masyarakat di sekitar daerah tersebut pun memanfaatkan ikan-ikan tersebut untuk dikonsumsi.

Bagaimana hukum mengambil (nyeser) ikan sekaligus memanfaatkan-nya sebagaimana deskripsi di atas?

  1. Tidak boleh, karena ikan tersebut termasuk kategori amwaal ad-dhooi’ah (harta yang hilang) yaitu ikan tersebut ada yang mempunyai akan tetapi tidak diketahui pemiliknya dan mengambil ikan tersebut adalah termasuk ghosob.

وَسُئِلَ عَنْ مَغْصُوبٍ تَحَقَّقَ جَهْلُ مَالِكِهِ هَلْ هُوَ حَرَامٌ مَحْضٌ أو شُبْهَةٌ وَهَلْ يَحِلُّ التَّصَرُّفُ فِيْهِ كَاللُّقَطَةِ أَوْ كَغَيْرِهَا فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ لاَ يَحِلُّ التَّصَرُّفُ فِيْهِ مَا دَامَ مَالِكُهُ مَرْجُوَّ الْوُجُودِ بَلْ يُوضَعُ عِنْدَ قَاضٍ أَمِينٍ إنْ وُجِدَ وَإِلَّا فَعَالِمٌ كَذَلِكَ فَإِنْ أَيِسَ مِنْ مَعْرِفَةِ مَالِكِهِ صَارَ مِنْ جُمْلَةِ أَمْوَالِ بَيْتِ الْمَالِ كَمَا فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ فَإِنَّهُ قَالَ مَا مُلَخَّصُهُ مَنْ مَعَهُ مَالٌ حَرَامٌ وَأَيِسَ مِنْ مَعْرِفَةِ مَالِكِهِ وَلَيْسَ لَهُ وَارِثٌ فَيَنْبَغِي أَنْ يَصْرِفَهُ في الْمَصَالَحِ الْعَامَّةِ كَالْقَنَاطِرِ وَالْمَسَاجِدِ وَإِلَّا فَيَتَصَدَّقُ بِهِ عَلَى فَقِيرٍ أَوْ فُقَرَاءَ (الفتاوى الفقهية الكبرى، ج 3 ص 97)

  • Boleh, apabila diyaqini ikan tersebut tidak dihiraukan atau diikhlaskan oleh pemiliknya.

مَنْ تَصَرَّفَ فِيْ مَالِ غَيْرٍ بِبَيْعٍ أَوْ غَيْرِهِ ظَانًّا تَعْدِيَهُ فَبَانَ أَنَّ لَهُ عَلَيْهِ وِلاَيَةً كَأَنْ كَانَ مَالَ مُوَرَّثِهِ فَبَانَ مَوْتُهُ أَوْ مَالَ أَجْنَبِيٍّ فَبَانَ إِذْنُهُ لَهُ أَوْ ظَانًّا فَقْدَ شَرْطٍ فَبَانَ مُسْتَوْفِيًّا لِلشُّرُوْطِ صَحَّ تَصَرَّفُهُ لِأَنَّ الْعِبْرَةَ فِيْ الْعُقُوْدِ بِمَا فِيْ نَفْسِ اْلأَمْرِ (إعانة الطالبين ج 3 ص 16)

Citation

Santri Pondok Pesantren demo: „Masalah Lain“,Version 1.0. In: Ensiklopedi Fikih. Published by Pondok Pesantren demo, Pasuruan, Indonesia, Pasuruan, 16.10.2023.