Haji
- Version 1.0
Table of Contents
- Tasyakuran Haji
- Macam-Macam Thawaf dan Hukumnya
- Hukum Thawaf dalam Kondisi Hadats
- Hukum Thawaf dengan menggunakan escalator
- Hukum Bermalam di Mina
- Waktu Melempar Jumrah Ula, Wustho, dan Aqobah pada Hari Tasyrik
- Hukum Mabit di Muzdalifah
- Sa’i dari Marwah ke Shafa
- Hukum Naik Haji dengan Arisan
- Haji Badal (menggantikan orang lain)
- Haji Anak Kecil
- Niat Membatalkan Haji dan Umrah
- Citation
- Metadata
Tasyakuran Haji
Setelah melaksanakan haji dan pulang ke rumahnya, jama’ah haji biasanya mengadakan tasyakuran yang disebut walimatul Naqi’ah yaitu: Walimah yang diadakan untuk selamatan orang yang datang dari bepergian (walimah haji), bahkan seorang yang telah melaksanakan haji disunnahkan untuk mengadakan tasyakuran, yakni dengan menyembelih sapi atau unta. Apakah walimah itu ada dasar hukumnya?
Dalam kitab al-Fiqih al-Wadhih dijelaskan:
يُسْتَحَبُّ لِلْحَاجِّ بَعْدَ رُجُوعِهِ اِلَى بَلَدِهِ اَنْ يَنْحَرَ جَمَلاً اَوْ بَقَرَةً اَوْ يَذْبَحَ شَاةً لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ وَالْجِيْرَانِ وَالْإِخْوَانِ تَقَرُّباً اِلىَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ كَماَ فَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (الفقه الواضح من الكتاب والسنة، ج 1 ص 673)
Disunnahkan bagi orang yang baru pulang haji untuk menyembelih seekor onta, sapi atau menyembelih kambing (untuk diberikan) kepada fakir, miskin, tetangga, saudara. (hal ini dilakukan) sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah ‘Azza Waa Jalla, Sebagaimana yang telah diamalkan oleh Nabi Saw. (al-Fiqih al-Wadlhih Min al-Kitab wa al-Sunnah, juz 1, hal. 673)
Kesunnahan ini berdasarkan hadits Nabi:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ نَحَرَ جَزُوْرًا اَوْ بَقَرَةً (صحيح البخاري، باب الطعام عند القدوم)
Dari Jabir bin Abdullah ra. Bahwa ketika Rasulullah Saw. Datang ke Madinah (usai melaksanakan ibadah haji), beliau menyembelih kambing atau sapi. (Shahih al-Bukhari, bab al-Tho’amu ‘Inda al-Qudum)
Namun di sebagian daerah, walimah haji itu tidak hanya dilaku-kan setelah mereka pulang dari tanah suci, selamatan itu juga dilakukan sebelum mereka berangkat ke tanah suci, atau setelah mereka melunasi ONH-nya. Kalau melihat isinya, maka walimah tersebut tujuannya tidak jauh berbeda dengan walimah setelah haji.
Dari beberapa keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa mengadakan walimatul haji merupakan suatu ibadah sunnah yang diajarkan oleh Nabi Saw.
Macam-Macam Thawaf dan Hukumnya
- Thawaf Ifadhah, thawaf ini merupakan salah satu rukunnya haji, jadi hukum melaksanakannya adalah wajib. Fath al-Qadir bab al-Ihram, juz 5, hal 234.
قَالَ (وَهَذَا الطَّوَافُ هُوَ الْمَفْرُوضُ فِي الْحَجِّ) وَهُوَ رُكْنٌ فِيهِ إذْ هُوَ الْمَأْمُوْرُ بِهِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى {وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ} وَيُسَمَّى طَوَافُ الْإِفَاضَةِ وَطَوَافُ يَوْمِ النَّحْرِ
- Thawaf Qudum, thawaf ini dilaksanakan ketika memasuki Baitul Haram dan hukum untuk melaksanakannya adalah sunnah. (Fath al-Mu’in, hal. 62)
(وَطَوَافُ قُدُوْمٍ) ِلأَنَّهُ تَحِيَّةُ الْبَيْتِ وَإِنَّمَا يُسَنُّ لِحَاجٍ أَوْ قاَرِنٍ دُخُلُ مَكَّةَ قَبْلَ الْوُقُوْفِ وَلاَ يَفُوْتَ بِالْجُلُوْسِ وَلاَ بِتَأْخِيْرِ نعم يَفُوْتُ بِالْوُقُوْفِ بِعَرَفَةَ
- Thawaf Wada’, thawaf ini juga bisa dikatakan thawaf perpisahan, yaitu dilakukan ketika jama’ah haji hendak pulang dari Tanah Suci. Adapun hukumnya khilaf:
- Qoul mu’tamad, termasuk wajib
(قَوْلُهُ وَطَوَافُ الْوَدَاعِ) بِالرَّفْعِ مَعْطُوْفٌ عَلَى إِحْرَامٍ أَيْضًا وَقَدْ عَلِمْتَ أَنَّ عَدَّهُ مِنْ وَاجِبَاتِ الْحَجِّ رَأْيٌ ضَعِيْفٌ وَالْمُعْتَمَدُ أَنَّهُ وَاجِبٌ مُسْتَقِلٌّ
- Menurut Imam Syafi’i sunnah untuk melaksanakannya karena thawaf wada’ juga dilakukan pada tempat thawaf qudum. (al-Inayah Syarh al-Hidayah bab al-Ihram, juz 4, hal.2)
وَقَوْلُهُ (وَيُسَمَّى طَوَافَ الْوَدَاعِ) الْوَدَاعُ بِفَتْحِ الْوَاوِ اسْمٌ لِلتَّوْدِيعِ كَسَلَامٍ وَكَلَامٍ وَهُوَ وَاجِبٌ عِنْدَنَا خِلَافًا لِلشَّافِعِيِّ) فَإِنَّهُ عِنْدَهُ سُنَّةٌ لِأَنَّهُ بِمَنْزِلَةِ طَوَافِ الْقُدُومِ
Hukum Thawaf dalam Kondisi Hadats
Bagaimanakah hukum thawaf yang dilakukan dalam kondisi hadats?
Tentang thawaf yang dilaksanakan dalam kondisi hadats, terdapat perbedaan ulama di kalangan ulama:
Sebagaimana hal dijelaskan dalam kitab Hamisi Fathu al-Mu’in.
(وَشُرُوْطُ الطَّوَافِ) سِتَّةٌ اَحَدُهاَ (طُهْرٌ) عَنْ حَدَثٍ وَخُبُثٍ اهـ فتح المعين هذَا هُوَ الصَّحِيْحُ الْمُعْتَمَدُ وَلَناَ قَوْلٌ ضَعِيْفٌ ذَكَرَهُ اَلْمُزَنِىْ فِى مُخْتَصَرِهِ أَنَّ الطَّوَافَ يَصِحُّ مَعَ الْحَدَثِ اهـ (هامس فتح المعين, ص 61)
Syarat-syarat thawaf itu ada enam, salah satunya harus suci dari hadats dan najis. Demikian ini menurut pendapat shahih yang bisa dibuat pegangan. Dan kita pun sebenarnya menjumpai qoul dlaif yang telah disebutkan oleh al-Muzani dalam kitab mukhtasharnya yaitu: thawaf itu dihukumi sah meskipun dalam keadaan berhadats. (Hamisi Fath al-Muin, hal.61)
Hukum Thawaf dengan menggunakan escalator
Thowaf adalah salah satu rukun haji yang harus dilakukan oleh semua orang yang sedang melaksanakan haji, bagaimanakah hukum thowaf yang menggunakan escalator?
وَلَوْ طَافَ رَاكِبًا بِلَا عُذْرٍ، جَازَ بِلَا كَرَاهَةٍ، (روضة الطالبين، ص: 391)
قال الشافعي: الأفضل أن يطوف ماشيا، فإن طاف راكبا من غير عذر: فلا شيئ عليه. (الموسوعة الفقهية المقارنة التجريد، ج 4، ص: 1870)
ذكرنا أن مذهبنا أن الطواف ماشيا أفضل، فإن طاف راكبا بلا عذر فلا دم عليه، وذكرنا المذاهب فيه فيما سبق. (المجموع شرح مهذب، ج 9، ص:66)
. قَالَ الشَّافِعِيُّ : وَلَا أَعْلَمُهُ فِي تِلْكَ الْحَجَّةِ اشْتَكَى ، وَلِأَنَّهُ رُكْنٌ لَوْ أَدَّاهُ مَاشِيًا لَمْ يَجْبُرْهُ بِدَمٍ ، فَوَجَبَ إِذَا أَدَّاهُ رَاكِبًا أَنْ لَا يُجْبِرَهُ بِدَمٍ كَالْوُقُوفِ وَغَيْرِهِ ، وَلِأَنَّهُ طَافَ رَاكِبًا فَوَجَبَ أَنْ لَا يَلْزَمَهُ لِجُبْرَانِهِ دَمٌ كَالْمَرِيضِ ، فَأَمَّا مَا اسْتَدَلَّ بِهِ فَغَيْرُ دَالٍّ لَهُ ، لِأَنَّهُ يَقْتَضِي أَنْ لَا يَجُوزَ طَوَافُ الرَّاكِبِ لِغَيْرِ عُذْرٍ حكمه ، وَقَدْ أَجْمَعْنَا عَلَى جَوَازِ طَوَافِهِ ، وَإِنَّمَا اخْتَلَفْنَا فِي وُجُوبِ الدَّمِ لِجُبْرَانِهِ ، وَلَيْسَ فِي ذَلِكَ دَلِيلٌ عَلَيْهِ ، فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ ذَلِكَ مُجْزِئٌ ، وَلَا دَمَ فِيهِ فَهُوَ مَكْرُوهٌ لِغَيْرِ الْمَعْذُورِ (الحاوى في فقه الشافعى، باب طواف ماشى أفضل من ….، ج 4، ص 152)
هذا كلام الرافعي وجزم جماعة من أصحابنا بكراهة الطواف راكبا من غير عذر (المجموع شرح المهذب، باب صفة الطواف الكاملة، ج 8، ص 27)
Hukum Bermalam di Mina
Ulama’ berbeda pendapat mengenai hukum bermalam di Mina:
- Menurut mayoritas ulama’, bahwa bermalam di Mina hukumnya wajib (karena termasuk wajib haji). Jadi ketika jama’ah haji tidak bisa bermalam di Mina, maka ada denda baginya. Hasyiyah al-Bajuri juz 1 hal. 322.
وَالسَّادِسُ الْمَبِيْتُ بِمِنَى هَذَا مَا صَحَّحَهُ الرَّافِعِيُّ لَكِنْ صَحَّحَ النَّوَاوِيُّ فِيْ زِياَدَةِ الرَّوْضَةِ الْوُجُوْبَ (حاشية الباجوري ج 1 ص 322)
- Sedangkan menurut Imam Syafi’i, ada dua pendapat: Yang pertama wajib bermalam di Mina dan yang kedua hukumnya sunnah, dengan catatan jika ditinggalkan tetap diharuskan membayar dam.
فِيْهِ قَوْلاَنِ لِلشَّافِعِيِّ أَظْهَرُهُمَا أَنَّهُ وَاجِبٌ وَالثَّانِيْ أَنَّهُ سُنَّةٌ فَإِنْ تَرَكَهُ جَبَّرَهُ بِدَمٍ (شرح المنهاج الجزء 2 ص 470)
Waktu Melempar Jumrah Ula, Wustho, dan Aqobah pada Hari Tasyrik
Kapankah waktu yang tepat untuk melempar jumrah Ula, Wustho dan Aqobah pada hari Tasyrik:
Ulama’ berbeda pendapat tentang kapankah waktu yang tepat untuk melempar jumrah, pendapat mereka adalah sebagai berikut:
- Harus setelah dhuhur, kalau sesuai dengan hari yang ditentukan, apabila tidak sesuai (molor/mundur) dari hari yang sudah ditentukan maka boleh dilakukan sebelum dhuhur.
(قَوْلُهُ بَعْدَ زَوَالِ إِلَخْ) مُتَعَلِّقٌ بِرَمْيٍ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْجَمَرَاتِ أَيْ وَيَكُوْنُ الرَّمْيُ إِلَى الْجَمَرَاتِ الثَّلاَثِ بَعْدَ الزَّوَالِ فَلاَ يَصِحُّ الرَّمْيُ قَبْلَ الزَّوَالِ وَهَذَا بِالنِّسْبَةِ لِرَمْيِ الْيَوْمِ الْحَاضِرِ أَمَّا بِالنِّسْبَةِ لِرَمْيِ الْيَوْمِ الْغَائِبِ فَيَتَدَارَكُ فِيْ بَقِيَّةِ أَياَمِ التَّشْرِيْقِ وَلَوْ كاَنَ قَبْلَ الزَّوَالِ (حاشية اعانة الطالبين ج 2 ص 306)
Melempar jumrah Ula, Wustho, Aqobah, wajib dilakukan setelah dhuhur. Maka tidak sah melempar sebelum dhuhur, ini kalau dilakukan untuk lemparan pada harinya, akan tetapi kalau untuk lemparan yang dilakukan tidak sesuai dengan harinya maka boleh dilakukan sebelum dhuhur. (Hasyiyah I’anah al-Thalibin bab Hajj, juz 2, hal. 306)
- Lebih utama dilaksanakan setelah masuk waktu dhuhur.
(وَاعْلَمْ) أَنَّ الرَّمْيَ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ ثَلاَثَةُ أَوْقَاتٍ وَقْتُ فَضِيْلَةٍ وَهُوَ بَعْدَ الزَّوَالِ (حاشية اعانة الطالبين ج 2 ص 306)
Ketahuilah sesungguhnya waktu melempar jumrah mempunyai tiga waktu, dan waktu yang lebih utama adalah setelah dhuhur. (Hasyiyah I’anah al-Thalibin bab Hajj, juz 2, hal. 306)
- Menurut Imam Haromain dan Imam Rofi’i dan pengikutnya Imam Asnawi, berpendapat bahwa melempar jumrah sebelum masuk waktu dhuhur hukumnya mubah (boleh), tetapi dengan syarat setelah keluarnya fajar. Diterangkan dalam kitab I’anah al-Thalibin:
وَالْمُعْتَمَدُ جَوَازَهُ فِيْهَا أَيْضًا وَجَوَازَهُ قَبْلَ الزَّوَالِ بَلْ جَزَمَ الرَّفِعِىُّ وَتَبِعَهُ اْلاَسْنَوِىُّ وَقاَلَ اِنَّهُ الْمَعْرُوْفُ بِجَوَازٍ رَمَى كُلَّ يَوْمٍ قَبْلَ الزَّوَالِ وَعَلَيْهِ فَيَدْخُلُ بِالْفَجَرِ (إعانة الطالبين جز 2، ص 307)
Menurut pendapat yang bisa dijadikan pedoman, bahwa boleh melempar jumrah sebelum dhuhur sebagaimana telah ditetapkan oleh imam Rofi’i dan diikuti oleh imam Asnawi bahwa boleh melempar jumrah setiap hari sebelum dhuhur dengan syarat setelah masuk waktu fajar. (I’anah al-Thalibin bab Haji, juz 2 hal, 307)
Hukum Mabit di Muzdalifah
Ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima, dan dilaksanakan bagi orang yang mampu. Dalam ibadah haji terdapat rukun haji, wajib haji dan sunnah haji. Dalam pelaksanaan ibadah haji terdapat aktivitas yang harus dilakukan oleh para jama’ah yaitu mabit di Muzdalifah.
Bagaimana hukum mabit di Muzdalifah?
Ulama’ fiqih berselisih pendapat tentang status mabit di Muzdalifah.
- Wajib meskipun hanya sebentar pada saat malam hari dan jika tidak mabit di Muzdalifah maka diharuskan membayar dam (denda) yang diterangkan dalam kitab Hasyiah al-Jamal ala Syarh al-Minhaj, juz IV, hlm. 145:
(يَجِبُ) بَعْدَ الدَّفْعِ مِنْ عَرَفَةَ (مَبِيْتٌ) أَيْ مُكْثٌ (لَحْظَةً) وَلَوْ بِلَا نَوْمٍ (بِمُزْدَلِفَةَ) لِلْاِتِّبَاعِ الْمَعْلُوْمِ مِنَ الْأَخْبَارِ الصَّحِيْحَةِ وَالتَّصْرِيْحُ بِالْوُجُوْبِ وَبِالْاِكْتِفَاءِ بِلَحْظَةٍ مِنْ زِيَادَتِيْ فَالْمُعْتَبَرُ الْحُصُوْلُ فِيْهَا لَحْظَةً (مِنْ نِصْفِ ثَانٍ) مِنَ اللَّيْلِ لَا لِكَوْنِهِ يُسَمَّى مَبِيْتًا إِذِ الْأَمْرُ بِالْمَبِيْتِ لَمْ يَرِدْ هُنَا بَلْ لِأَنَّهُمْ لَا يُصَلُّوْنَهَا حَتَّى يُمْضِيَ نَحْوُ رُبْعِ اللَّيْلِ (حاشية الجمل على شرح المنهج، ج 1، ص ١٤٥).
Dan dalam kitab Bidayah al-Mujtahid, juz I, hlm. 349-350:
الْمَبِيْتُ بِهَا مِنْ سُنَنِ الْحَجِّ أَوْ مِنْ فُرُوْضِهِ؟ فَقَالَ الْأَوْزَاعِى وَجَمَاعَةٌ مِنَ التَّابِعِيْنَ هُوَ مِنْ فُرُوْضِ الْحَجِّ، وَمَنْ فَاتَهُ كَانَ عَلَيْهِ حَجَّ قَابِلٌ وَالْهَدْي. (بداية المجتهد، ج 1، ص 349-350).
Dan dalam kitab al-Sirâj al-Wahhâj hlm. 163:
فَصْلٌ فِي الْمَبِيْتِ بِمُزْدَلِفَةَ وَيَبِيْتُوْنَ بِمُزْدَلِفَةَ وُجُوْبًا بَعْدَ دَفْعِهِمْ مِنْ عَرَفَةَ وَلَيْسَ الْمَبِيْتُ بِرُكْنٍ وَيَكْفِي فِيْهِ الْحُصُوْلُ بِهَا وَلَوْ مُرُوْرًا بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ وَمَنْ دَفَعَ مِنْهَا أَيْ الْمُزْدَلِفَةَ بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ وَلَمْ يَعُدْ أَوْ قَبْلَهُ عَادَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ مِنْ الدِّمَاءِ (السراج الوهاج، ص 163).
Dan dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Muqaranah al-Tajriyah, juz IV, hlm. 1921:
قَالَ أَصْحَابُنَا: الوُقُوْفُ بِالْمُزْدَلِفَةِ وَاجِبٌ، وَوَقْتُهُ بَعْدَ طُلُوْعِ الْفَجْرِ مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ مَا لَمْ تَطْلُعْ الشَّمْسُ (الموسوعة الفقهية المقارنة التجريد، ج 4، ص 1921).
- Sunnah, menurut Ibn al-Rusyd bermalam di Muzdalifah tidak termasuk fardhu haji, dan apabila tidak melaksanakannya maka harus membayar dam (denda). Dijelaskan dalam kitab Bidayah al-Mujtahid, juz I, hlm. 350:
وَفَّقَهَا الْأَمْصَارِيُّوْنَ أَنَّهُ لَيْسَ مِنْ فُرُوْضِ الْحَجِّ، وَأَنَّ مَنْ فَاتَهُ الْوُقُوْفُ بِالْمُزْدَلِفَةِ وَالْمَبِيْتِ بِهَا فَعَلَيْهَ دَمُّ (بداية المجتهد، ج 1، ص 350)
Sa’i dari Marwah ke Shafa
Salah satu rukun haji adalah sa’i, yang dimulai dari bukit Shafa menuju Marwah sebanyak 7 kali. Maksudnya, sa’i (perjalanan) dari Shafa ke Marwah dihitung 1 kali, dan dari Marwah ke Shafa dihitung 1 kali. Bagaimana jika sa’i dimulai dari Marwah ke Shafa, apakah sa’i tersebut juga dihitung?
- Tidak dihitung, menurut Imam Malik, Imam Ahmad dan jumhur ulama’. Karena syarat sa’i adalah secara berurutan dimulai dari Shafa.
- Tetap dihitung, menurut Imam Abu Hanifah. Jadi, sa’i yang dimulai dari Marwah ke Shafa tetap dihitung 1 kali.
Dijelaskan dalam Kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab juz IX, hlm. 85 dan al-Idhah fi Manasik al-Haj wa al-‘Umrah, hlm. 263:
قَالَ مَالِكٌ وَ أَحْمَدُ وَدَاوُدُ وَجُمْهُوْرُ الْعُلَمَاءِ، وَحَكَاهُ إِبْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ أَبِى حَنِيْفَةَ أَيْضًا، وَالْمَشْهُوْرُ عَنْ أَبِى حَنِيْفَةَ: أَنَّهُ لَيْسَ بِشَرْطٍ فَيَصِحُّ الاِبْتِدَاءُ بِالْمَرْوَةِ (المجموع شرح المهذب، ج 9، ص 85)
اَلتَّرْتِيْبُ فِي السَّعِي شَرْطٌ فَيَبْدَأُ بِالصَّفَا فَلَوْ عَكْسَهُ لَمْ يُعْتَدَّ بِهِ، وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَجُمْهُوْرُ الْعَلَمَآءِ، وَالْمَشْهُوْرُ عَنْ أَبِيْ حَنِيْفَةَ يُعْتَدُّ بِهِ (كتاب الإيضاح في مناسك الحج و العمرة، ص 263)
Hukum Naik Haji dengan Arisan
Haji adalah rukun Islam yang kelima, bagi setiap muslim yang sehat jasmani dan rohani, sudah baligh, dan sudah mampu membayar ongkos naik haji maka wajib untuk menunaikannya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, banyak sekali program-program yang bisa membantu dan memudahkan seseorang yang kurang mampu dalam membayar ONH. Salah satunya dengan sistem arisan haji, sistem ini bisa dibilang dapat memudahkan bagi seseorang yang ingin me-nunaikan ibadah haji, karena dana atau ONH bisa dibayar dengan secara bergiliran. Bagaimana pandangan agama dalam hal ini?
- Tidak wajib, karena tidak termasuk kategori istitho’ah (mampu) jika yang mendapat arisan haji itu orang yang masih harus melunasi setoran berikutnya, sebab sebagian dari uang yang diterimanya adalah uang pinjaman. Kecuali apabila dia memiliki kelebihan (uang) yang cukup untuk membayar hutangnya.
(مُسْتَطِيْعٌ) لِلْحَجِّ بِوُجْدَانِ الزَّادِ ذِهَابًا وَإِيَّابًا وَأُجْرَةُ خَفِيْرٍ أي مُجِيْرٍ يَأْمَنُ مَعَهُ وَالرَّاحِلَةِ أَوْ ثَمَنِهَا إِنْ كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَكَّةَ مَرْحَلَتَانِ أَوْ دُوْنَهُمَا وَضَعُفَ عَنِ الْمَشْيِ مَعَ نَفَقَةِ مَنْ يَجِبُ عَلَيْهِ نَفَقَتُهُ وَكِسْوَتُهُ إِلَى الرُّجُوْعِ
Orang yang mampu haji adalah adanya ongkos pulang pergi dan upahnya buruh yang manjaga keamanannya, adanya kendaraan atau ongkos untuk naik kendaraan apabila jarak antara dia dan Mekah dua marhalah atau kurang dan dia tidak mampu jalan kaki, adanya biaya hidup untuk orang yang menjadi tanggungannya (makanan dan pakaian) sampai dia pulang. (Fath al-Mu’in, hal. 60)
Dan apabila orang yang masih harus melunasi setoran berikutnya jadi melaksanakan haji, maka hajinya tetap sah selama ia termasuk orang yang mukallaf:
فَيُجْزِي حَجُّ الْفَقِيرِ وَكُلُّ عَاجِزٍ حَيْثُ اجْتَمَعَ فِيهِ الْحُرِّيَّةُ وَالتَّكْلِيفُ كَمَا لَوْ تَكَلَّفَ الْمَرِيضُ حُضُورَ الْجُمُعَةِ (نهاية المحتاج الجزء 3 ص 233)
Sah hajinya orang yang faqir dan orang yang tidak mampu selama ia termasuk orang yang merdeka dan mukallaf sebagaimana orang yang sakit memaksakan diri melaksanakan shalat Jum’at. (Nihayah al-Muhtaj, juz 3, hal. 233)
- Wajib, apabila dia menerima giliran terakhir, sehingga dia tidak lagi menanggung hutang.
(مُسْتَطِيْعٌ) لِلْحَجِّ بِوُجْدَانِ الزَّادِ ذِهَابًا وَإِيَّابًا وَأُجْرَةُ خَفِيْرٍ أي مُجِيْرٍ يَأْمَنُ مَعَهُ وَالرَّاحِلَةِ أَوْ ثَمَنِهَا إِنْ كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَكَّةَ مَرْحَلَتَانِ أَوْ دُوْنَهُمَا وَضَعُفَ عَنِ الْمَشْيِ مَعَ نَفَقَةِ مَنْ يَجِبُ عَلَيْهِ نَفَقَتُهُ وَكِسْوَتُهُ إِلَى الرُّجُوْعِ
Orang yang mampu haji adalah adanya ongkos pulang pergi dan upahnya buruh yang manjaga keamanannya, adanya kendaraan atau ongkos untuk naik kendaraan apabila jarak antara dia dan Mekah dua marhalah atau kurang dan dia tidak mampu jalan kaki, adanya biaya hidup untuk orang yang menjadi tanggungannya (makanan dan pakaian) sampai dia pulang. (Fath al-Mu’in, hal. 60)
Adapun ONH dari hasil arisan pada dasarnya tidak ada masalah:
(فَرْعٌ) الجَمَاعَةُ المَشْهُورَةُ بَيْنَ النِّسَاءِ بِأَنْ تَأْخُذَ اِمْرَأَةٌ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُنَّ قَدْرًا مُعَيَّنًا فِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ أَوْ شَهْرٍ فَتَدْفَعَهُ لِوَاحِدَةٍ إلَى آخِرِهِنَّ جَائِزَةٌ كَمَا قَالَهُ الوَلِيُّ العِرَاقِيُّ. (القليوبى الجزء 2 ص 258)
Perkumpulan yang sudah terkenal di antara para wanita, dimana masing-masing dari wanita tersebut mengeluarkan sejumlah uang tertentu pada setiap hari jumat atau setiap bulan, dan memberikannya kepada seseorang dari mereka secara bergantian sampai giliran yang terakhir, maka yang demikian adalah boleh, sebagaimana pendapat al-Wali al-Iraqi. (al-Qolyubi, juz 2, hal. 258)
Haji Badal (menggantikan orang lain)
Bagi orang Islam yang mampu, berkewajiban melaksanakan ibadah haji namun hanya sekali seumur hidup. Dalam pelaksanaannya haji juga bisa dikerjakan dengan cara badal (diganti oleh orang lain). Siapa saja yang hajinya boleh dibadali dan bagaimana hukumnya?
- Haji yang boleh dibadali yaitu:
- Orang yang meninggal
تَجِبُ إِنَابَةٌ عَنْ مَيِّتٍ عَلَيْهِ نُسُكٌ مِنْ تِرْكَتِهِ (فتح المعين، ص ٦۰)
Hal ini juga sesuai dengan hadits Nabi yang berbunyi:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الصَّنْعَانِىُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ سُلَيْمَانِ الشَّيْبَانِىِّ عَنْ يَزِيْدِ بْنِ الْأَصَمِّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ اِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَحُجُّ عَنْ أَبِي قَالَ نَعَمْ حُجَّ عَنْ أَبِيْكَ فَإِنْ لَمْ تَزِدْهُ خَيْرًا لَمْ تَزِدْهُ شَرًّا (سنن ابن ما جه، جز ٢ ،ص ١٦٥).
- Orang yang tidak mampu melaksanakan ibadah haji seperti lumpuh, sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, dan orang tua yang tidak memungkinkan untuk menjalankan ibadah haji.
تَجِبُ إِنَابَةٌ عَنْ مَيِّتٍ …. وَعَنْ اَفَاقِيٍّ مَعْضُوْبٍ عَاجِزٍ عَنِ النُّسُكِ بِنَفْسِهِ لِنَحْوِ زَمَانَةٍ اَوْ مَرَضٍ لَايُرْجَى بُرُؤُهُ (فتح المعين، ص ٦۰ )
اِنَّ امْرَاَةً مِنْ خُثْعَمٍ قَالَتْ يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّ فَرِيْضَةَ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ اَدْرَكْتُ ابْنُ شَيْخًا كَبِيْرًا لاَ يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ اَفَأَحُجَّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ (اعانةالطالبين, جز٢, ص ٢٨٥).
- Hukum haji badal (menggantikan orang lain)
- Wajib dengan syarat:
- Jika orang yang meninggal tersebut mempunyai harta peninggalan (yang cukup)
- Jika orang tersebut tidak mampu secara fisik, dan ada orang yang mau untuk menggantikan dengan upah yang tidak melebihi standart (haji)
- Sunnah, jika orang yang meninggal tersebut tidak mempunyai harta peninggalan.
تَجِبُ إِنَابَةٌ عَنْ مَيِّتٍ عَلَيْهِ نُسُكٌ مِنْ تِرْكَتِهِ فَلَوْ لَمْ تَكُنْ لَهُ تِرْكَةٌ سُنَّ لِوَارِثِهِ اَنْ يَفْعَلَهُ عَنْهُ فَلَوْ فَعَلَهُ أَجْنَبِيٌّ جَازَ وَ لَوْ بِلَا إِذْنٍ وَعَنْ آفَاقِيٍّ مَعْضُوْبٍ عَاجِزٍ عَنِ النُّسُكِ بِنَفْسِهِ لِنَحْوِ زَمَالَةٍ أَوْ مَرَضٍ لَا يُرْجَى بَرْؤُهُ بِأُجْرَةِ مِثْلٍ فَضُلَتْ عَمَّا يَحْتَاجُهُ الْمَعْضُوْبُ يَوْمَ الْاِسْتِئْجَارِ (فتح المعين، ص ٦۰)
- Tidak sah, jika tidak mendapat izin dari ma’dhub (orang yang tidak mampu secara fisik)
وَلَا يَصِحُّ اَنْ يَحُجَّ عَنْ مَعْضُوْبٍ بِغَيْرِ اِذْنِهِ (فتح المعين، ص ٦۰)
Haji Anak Kecil
Haji itu diwajibkan bagi orang islam yang mampu. Dan dalam kenyataannya banyak anak kecil yang ikut mengerjakan ibadah haji bersama orang tuanya. Bagaimana hukum hajinya anak kecil tersebut?
Jika anak kecil belum tamyiz (belum bisa membedakan mana yang benar dan salah).
- Sah, jika yang melakukan niat itu walinya.
اَمَّاالْاِحْرَامُ: فَاِنْ لَمْ يَكُنْ الصَّبِيُّ مُمَيِّزًا اَحْرَمَ عَنْهُ وَلِيُّهُ، وَهَلْ لِلْمُقِيْمِ ذَلِكَ؟ فِيْهِ وَجْهَانِ وَفِي ثُبُوْتِهِ لِلْأُمِّ طَرِيْقَانِ، وَالْاَصَحُّ الْجَوَازُ (الوسيط في المذهب، ج 2، ص ٣٩)
Hal ini juga disebutkan dalam kitab Sunan Ibn Majâh, juz II, hlm. 167, sebagai berikut:
حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ مُحَمَّدٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ طَرِيْفٍ قَالاَ حَدَّثَنَا اَبُوْ مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سُوْقَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللهِ قَالَ رَفَعَتِ امْرَأَةٌ صَبِيًّا لَهَا اِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةٍ فَقَالَتْ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَلِهَذَا حَجٌّ؟ قَالَ نَعَمْ، وَلَكِ اَجْرٌ (سنن ابن ما جه، جز ٢، ص ١٦٧).
- Tidak sah, jika dilakukan sendiri.
اَمَّاالْاِحْرَامُ: فَاِنْ لَمْ يَكُنْ الصَّبِيُّ مُمَيِّزًا………………..وَاِنِ اسْتَقَلَ فَوَجْهَانِ اَحَدُهُمَا: لاَ يَنْعَقِدُ، لِاَنَّهُ عَقْدُ خَطِيْرٌ (الوسيط في المذهب، ج 2، ص ٣٩)
Jika anak kecil sudah tamyiz (bisa membedakan mana yang benar dan salah):
- Sah, jika mendapat izin dari walinya.
وَاِنْ كَانَ مُمَيِّزًا وَاَحْرَمَ بِإِذْنِ الْوَلِيِّ صَحَّ (الوسيط في المذهب، ج 2، ص ٤۰)
- Tidak sah, jika tidak mendapat izin dari walinya.
(قَوْلُهُ وَلاَيَصِحُّ اِحْرَامُ الصَّبِيِّ بِغَيْرِ اِذْنِ وَلِيِّهِ) لِاَنَّ شَأْنَ النُّسُكِ الْاِحْتِيَاجُ اِلَى الْمَالِ وَبِذَلِكَ فَارَقَ الصَّلَاةُ وَالصَّوْمُ (قليوبى و عميرة، جز ٢، ص ٨٥)
Niat Membatalkan Haji dan Umrah
Haji merupakan rukun Islam yang kelima yang wajib dilaksanakan bagi umat muslim yang mampu untuk melaksanakannya. Namun, ketika dalam proses pelaksanaan haji atau umrah ada salah satu rukun yang belum terpenuhi, sehingga orang tersebut berniat untuk membatalkan pelaksanaan haji atau umrahnya. Bagaimanakah hukum orang yang berniat untuk membatalkan haji atau umrah ketika sedang melaksanakan ritual ibadah tersebut?
Orang yang telah berniat untuk melaksanakan haji atau umrah, dan di tengah-tengah pelaksanaannya dia berniat untuk membatalkannya, atau berniat untuk keluar dari rangkaian ibadah haji atau umrah, maka haji atau umrah orang tersebut tetap dan tidak bisa putus dan masih tetap statusnya sebagai orang yang sedang melaksanakan haji atau umrah. Karena haji atau umrah tidak bisa dibatalkan hanya dengan berniat untuk membatalkannya.Hal ini dijelaskan dalam kitab al-Majmû’ Syarh al-Muhadzab, juz IV, hlm. 262:
الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ: فَإِذَا نَوَى الْخُرُوْجَ مِنْهُمَا وَنَوَى قَطْعَهُمَا لَمْ يَنْقَطِعَا بِلَا خِلَافٍ، وَلِأَنَّهُ لَا يَخْرُجُ مِنْهُمَا بِالْإِفْسَادِ (المجموع شرح المهذب، ج 4، ص 262)
فَلَا يَبْطُلُ مَا مَضَى مِنْهُ نِيَّةُ الْخُرُوْجِ مِنْهُ عَلَى الأَصَحِّ، لَكِنْ يَحْتَاجُ لِنِيَّةٍ لِمَا بَقِيَ. قَالَ أَئِمَّتُنَا فِي الْعِبَادَاتِ: فِي قَطْعِ النِّيَّةِ أَرْبَعَةُ أَضْرُبٍ: اَلأَوَّلُ: الإِسْلَامُ وَالصَّلَاُةُ فَيَبْطُلَانِ بِنِيَّةِ الْخُرُوْجِ مِنْهُمَا بِلَا خِلَافٍ. الثَّانِي: اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ لَا يَبْطُلَانِ بِذَلِكَ بِلَا خِلَافٍ لِأَنَّهُ لَا يَخْرُجُ مِنْهُمَا بِالْإِفْسَادِ (تحفة الحبيب على شرح الخطيب البجيرمي على الخطيب، ج 2، ص 156)
Citation
Santri Pondok Pesantren demo: „Haji“,Version 1.0. In: OES demo. Published by Pondok Pesantren demo, Pasuruan, Indonesia,