hacklink hack forum hacklink film izle hacklink Dubai online casinosonline casinos Nederlandmadritbetสล็อตเว็บตรงBetAndreas AzərbaycanjojobetromabetnakitbahisBetsalvadorenbetcasinolevant

Search the OES Encyclopedia

Article Thaharah

Thaharah

Macam-macam Najis dan pembagiannya

Najis merupakan sesuatu yang menyebabkan terhalangnya seseorang untuk beribadah kepada Allah Swt. Ada berapakah pembagian dan macam-macam najis? :

  1. Najis mukhaffafah yaitu:
  2. Air kencing anak laki-laki yang kurang dari umur 2 tahun dan belum makan apapun kecuali ASI

النَّجَاسَةُ الْمُخَفَّفَةُ: هِيَ بَوْلُ الصَّبِيِّ الَّذِىْ لَمْ يَبْلُغِ الْحَوْلَيْنِ وَلَمْ يَتَغَذَّ اِلاَّ بِاللَّبَنِ (المبادئ الفقهية، ج 4، ص 5-6 )

  • Najis mutawassitah antara lain:
  • Nanah
  • Darah
  • Muntahan
  • Perkara cair yang memabukkan
  • Bangkai kecuali bangkai manusia, ikan dan belalang
  • Perkara yang keluar dari dua jalan, yakni vagina dan dubur, kecuali mani
  • Susunya hewan hidup yang tidak bisa dimakan dagingnya, kecuali manusia
  • Anggota yang terpisah dari hewan yang hidup, kecuali rambut hewan yang bisa dimakan, bulunya dan bulu kasarnya

النَّجَاسَةُ الْمُتَوَسِّطَةُ : هِيَ الْقَيْحُ وَالدَّمُ وَالْقَيْءُ وَالْمُسْكِرُ الْمَائِعُ وَالْمَيْتَةُ بِجَمِيْعِ اَجْزَائِهَا (اِلاَّ مَيْتَةَ اْلأَدَمِيِّ وَالسَّمَكِ وَالْجَرَادِ) وَالْخَارِجُ مِنَ السَّبِيْلَيْنِ (اِلاَّ الْمَنِيِّ فَإِنَّهُ طَاهِرٌ) وَلَبَنُ حَيٍّ لاَ يُؤْكَلُ لَحْمُهُ (غَيْرَ الْأَدَمِيِّ) وَالْمُنْفَصِلُ مِنْ حَيَوَانٍ حَيٍّ كَمَيْتَتِهِ (اِلاَّ شَعَرَ الْمَأْكُوْلِ وَصُوْفَهُ وَرِيْشَهُ). (المبادئ الفقهية، ج 4، ص 6-7)

  • Najis mughalladhah antara lain:
  • Anjing
  • Babi
  • Segala sesuatu yang keluar dari anjing dan babi

النَّجَاسَةُ الْمُغَلَّظَةُ: هِيَ نَجَاسَةُ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيْرِ وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُمَا اَوْ مِنْ اَحَدِهِمَا مَعَ حَيَوَانٍ اَخَرَ (المبادئ الفقهية، ج 4، ص 5)

Berikut ini adalah beberapa hal yang dihukumi najis, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Muhadzab, juz I, hlm. 46:

  1. Air kencing
  2. Kotoran/Tahi
  3. Muntah
  4. Wadi
  5. Mani selain manusia
  6. Darah
  7. Nanah
  8. Cairan bisul
  9. Gumpalan darah
  10. Khamar
  11. Air anggur (Jawa: peresan buah anggur)
  12. Anjing
  13. Babi
  14. Hewan yang terlahir dari anjing dan babi, atau dari salah satunya.
  15. Air susu hewan yang tidak halal untuk dikonsumsi
  16. Cairan (lendir) vagina
  17. Segala sesuatu yang terkena najis (tersebut di atas).

بَابُ إِزَالَةِ النَّجَاسَةِ: النَّجَاسَةُ هِيَ الْبَوْلُ وَالْغَائِطُ وَالْقَيْءُ وَالْمَذِي وَالْوَدِي وَمَنِيُّ غَيْرِ الْآدَمِيِّ وَالدَّمُ وَالْقَيْحُ وَمَاءُ الْقُرُوْحِ وَالْعَلَقَةُ وَالْمَيِّتَةُ وَالْخَمْرُ وَالنَّبِيْذُ وَالْكَلْبُ وَالْخِنْزِيْرُ وَمَا تَوَالَدَ مِنْهُمَا وَمَا تَوَالَدَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَبَنُ مَا لَا يُؤْكَلُ لَحْمُهُ غَيْرُ الْآدَمِيِّ وَرُطُوْبَةُ فَرْجِ الْمَرْأَةِ وَمَا تَنَجَّسَ بِذَلِكَ (مهذب، ج 1، ص 46)

Pengertian Najisnya Orang Musyrik

Dalam al-Qur’an surat al-Taubat ayat 28: إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ sesungguhnya orang-orang musryik itu najis, bagaimana para ulama’ menafsiri ayat tersebut?

Terdapat beberapa penafsiran mengenai kata najis pada ayat diatas antara lain:

  1. Tidak najis badannya, yang najis hanya i’tiqadnya.

وَ اَمَّا قَو لُهُ تَعَا لَى (إِنَّمَا المُشْرِكُوْنَ نَجَسٌ) فَالْمُرَادُ نَجَاسَةُ الْاِعْتِقَادِ أَوْ اِجْتِنَابُهُمْ كَالنَّجْسِ لَا نَجَاسَةَ الْاَبْدَانِ (حاشية الجمل، ج ۱، ص ٢٧٣)

Pengertian najis menurut Tafsir Hasyiah al-Shawi, juz I, hlm. 40 dan Tafsir al-Kabir, juz XVI hlm. 20-21, Tafsir Ibn Katsir, juz II, hlm. 358: adalah najis ma’nawi (hati, i’tiqad) bukan hissi (badan).

  • Dihukumi najis badannya

Menurut sebagian Ulama’ Dhahiriyah yang dimaksud ayat al-Qur’an di atas adalah najis badannya, sebagaimana di terangkan dalam Kitab Tafsir Ibn Katsir, juz II, hlm. 330:

وَ ذَهَبَ بَعْضُ الظَّاهِرِيَّةِ إِلَى نَجَاسَةِ أَبْدَانِهِمْ (تفسير ابن كثير، ج ٢، ص ٣٣۰)

Hukum Berobat dengan Benda Najis

Hukum berobat dengan menggunakan obat yang terbuat dari unsur najis adalah sebagai berikut:

  1. Tidak boleh, jika masih ada obat yang terbuat dari benda suci dan kualitasnya sama atau lebih dari kualitas obat yang terbuat dari benda najis.
  2. Boleh, apabila kesulitan berobat dengan obat yang terbuat dari perkara yang suci yang kualitasnya menyamai kualitas obat yang terbuat dari benda najis.

Hal ini berdasarkan keterangan dalil di bawah ini:

وَأَمَّا أَمْرُهُ (صلى الله عليه وسلم) اَلْعُرَنِيِّيْنَ بِشُرْبِ أَبْوَالِ اْلاِبِلِ، فَكاَنَ لِلتَّدَاوِي وَالتَّدَاوِي بِالنَّجِسِ جَائِزٌ عِنْدَ فَقْدِ الطَّاهِرِ اَلَّذِيْ يَقُوْمُ مَقَامَهُ، وَأَمَّا قَوْلُهُ (صلى الله عليه وسلم) لَمْ يَجْعَلِ اللهُ شِفَاءَ أُمَّتِيْ فِيْمَا حُرِّمَ عَلَيْهَا فَمَحْمُوْلٌ عَلَى الْخَمْرِ (الإقناع في حل الفاظ أبي شجاع، ج 1، ص 86)

Adapun perintah Rasulullah Saw. terhadap kaum Uroniyyin dengan meminum air kencing unta, maka air kencing unta tersebut untuk berobat, dan berobat dengan perkara yang najis itu boleh ketika kesulitan berobat dengan perkara yang suci yang menyamai kualitas obat yang najis tersebut. Adapun sabda Rasulullah Saw. Allah tidak menjadikan obat bagi umatku di dalam sesuatu yang diharamkan baginya, maka yang dimaksud ialah arak. (al-Iqna’ fi Hilli Alfaadz Abi Syujaa’, juz 1, hal. 76)

Hukum Sesuatu yang Terbuat dari Kotoran atau Benda Najis (Studi Kasus Biogas)

  1. Boleh (dihukumi suci)
  2. Menurut  Syekh Abi Abdul Mukti atau Imam Nawawi al-Bantani al-Jawi dalam kitabnya Kasyifah as-Saja halaman 21, bahwasanya hukum biogas yang dihasilkan dari benda najis (seperti kotoran manusia atau kotoran hewan) adalah diper-bolehkan dan dihukumi suci, dengan alasan karena biogas adalah termasuk bukhor (istilah Arab) yang berarti uap.

وَخَرَجَ بِدُخَانِ النَّجَاسَةِ بُخَارُهَا وَهُوَ الْمُـتَصَاعِدُ مِنْهَا لاَ بِوَاسِطَةِ نَارٍ فَهُوَ طَاهِرٌ وَمِنْهُ الرِّيْحُ الْخَارِجُ مِنَ الْكُـنُـفِ أَوْ مِنَ الدُّبُرِ فَهُوَ طَاهِرٌ فَلَوْ مَلاَأَ مِنْهُ قِرْبَةٌ وَحَمَلَهَا عَلَى ظَهْرِهِ وَصَلَّى بِهَا صَحَّتْ صَلاَتـُهُ

Tidak termasuk dalam asapnya benda najis, yaitu uap dari benda najis yang tidak disebabkan oleh api, maka uap ini adalah suci. Demikian halnya dengan angin yang keluar dari jamban (sapiteng) atau kentut yang keluar dari dubur juga dihukumi suci. Bahkan seandainya qirbah (sejenis wadah air atau susu yang terbuat dari kulit) berisi penuh dengan angin atau uap tersebut, kemudian seseorang shalat dengan membawa qirbah tersebut di atas punggungnya, maka shalatnya dihukumi sah. (Kasyifah as-Saja hal. 21)

  • Menurut Imam al-Bujairami,uap atau angin (biogas) yang dihasilkan dari benda najis termasuk suci menurut qoul yang rajih (unggul), karena angin tersebut berasal dari asap benda najis yang tidak menggunakan perantara atau  media api.

قَوْلُهُ: (طَاهِرًا) وَمِنْهُ الرِّيحُ عَلَى الرَّاجِحِ؛ لِأَنَّهُ مِنْ بُخَارِ النَّجَاسَةِ بِغَيْرِ وَاسِطَةِ نَارٍ ق ل. وَنَصَّ م ر عَلَى أَنَّ الْبُخَارَ الْخَارِجَ مِنْ الْكَنِيفِ طَاهِرٌ، وَكَذَا الرِّيحُ الْخَارِجُ مِنْ الدُّبُرِ كَالْجُشَاءِ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَتَحَقَّقْ أَنَّهُ مِنْ عَيْنِ النَّجَاسَةِ لِجَوَازِ أَنْ تَكُونَ الرَّائِحَةُ الْكَرِيهَةُ الْمَوْجُودَةُ فِيهِ لِمُجَاوَرَةِ النَّجَاسَةِ لَا أَنَّهُ مِنْ عَيْنِهَا

Qoul Kyai mushonnif, (suci) uap atau angin termasuk suci menurut qoul yang rajih (unggul), karena angin tersebut berasal dari asap benda najis yang tidak menggunakan perantara atau  media api (Imam Qoffal). Dan Imam Ramli  juga menegaskan bahwa asap yang keluar dari WC atau kandang ternak itu suci, begitu juga angin yang keluar dari dubur atau anus seperti serdawa (perut mual) karena belum tentu serdawa tersebut berasal dari benda (ain) yang najis, dan kemung-kinan bau busuk atau menjijikkan yang ada di dalamnya itu disebabkan karena dekatnya dengan najis bukan dari benda najisnya. (Hasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khatib, juz 1, hal. 202-203)

  • Tidak boleh (tetap dihukumi najis)
  • Menurut pendapat Syekh Sulaiman al-Jamal dalam kitab Hasyiyah al-Jamal pada bab al-Najasat wa Izalatiha, juz 1, hal. 179, dijelaskan sebagai berikut:

Termasuk kategori asap yaitu benda atau angin yang dihasilkan dari pembakaran kotoran hewan hingga menjadi bara api (mowo) yang tidak berasap, akan tetapi uap atau asap yang keluar dari proses pembakaran kotoran tersebut dihukumi najis, karena melalui perantara api. Dan apabila ada sesuatu yang disulutkan dari bara api ini seperti tangan anda dan tempat tinta (tabung asap), akhirnya ada kelembaban (basah) disalah satu sisi keduanya, sampai-sampai benda yang suci menjadi najis karenanya, maka asap yang naik atau muncul itu hukumnya najis, bila tidak maka sebaliknya.

( قَوْلُهُ وَبُخَارُهَا كَذَلِكَ إلَخْ ) ، وَمِنْهُ مَا يَقَعُ مِنْ حَرْقِ الْجُلَّةِ حَتَّى تَصِيرَ جَمْرًا لَا دُخَانَ فِيهِ لَكِنْ يَصْعَدُ مِنْهُ بُخَارٌ فَهُوَ نَجِسٌ ؛ لِأَنَّهُ بُخَارٌ بِوَاسِطَةِ نَارٍ ، وَلَوْ أُوقِدَ مِنْ هَذَا الْجَمْرِ شَيْءٌ كَيَدِك وَدَوَاةِ دُخَانٍ ، فَإِنْ كَانَ هُنَاكَ رُطُوبَةٌ مِنْ أَحَدِ الْجَانِبَيْنِ بِحَيْثُ يَتَنَجَّسُ بِهَا الطَّاهِرُ كَانَ الدُّخَانُ الْمُتَصَاعِدُ نَجِسًا وَإِلَّا فَلَا ا هـ عَزِيزِيٌّ  (حاشية الجمل على المنهاج باب النجاسة وازالتها، ج 1، ص 179)

  • Menurut ulama’ madzhab Syafi’i bahwa asap dari benda najis bila terbakar maka ada dua pendapat:
  • Najis, karena termasuk bagian yang terurai dari najis, seperti abu yang keluar dari suatu benda najis.
  • Tidak najis, karena asap tersebut adalah asap dari suatu benda najis, seperti angin kentut yang keluar dari perut. Hal ini diterangkan dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, juz 2, hal. 533.

قَالَ اَلْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ * [وَأَمَّا دُخَانُ النَّجَاسَةِ إِذَا أَحْرَقَتْ فَفِيْهِ وَجْهَانِ اَحَدُهُمَا اَنَّهُ نَجِسٌ لِاَنَّهَا اَجْزَاءٌ مُتَحَلِّلَةٌ مِنَ النَّجَاسَةِ فَهُوَ كَالرَّمَادِ وَالثَّانِى لَيْسَ بِنَجَسٍ لِاَنَّهُ بُخَارُ نَجَاسَةِ فَهُوَ كَاْلبُخَارِ اَلَّذِىْ يَخْرُجُ مِنَ الْجَوْفِ] * (المجموع شرح المهذب، ج 2 ص 533)

Hukum Kotoran Hewan

Dalam pandangan fiqih tidak semua kotoran hewan dihukumi najis. Ada beberapa klasifikasi hukum kotoran tersebut:   

  1. Najis, baik kotoran hewan yang halal dimakan, kotoran burung, kotoran ikan, kotoran belalang, atau kotoran hewan yang darahnya tidak mengalir seperti lalat.

اَالشَّرْحُ: حَدِيْثُ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَوَاهُ اْلبُخَارِي بِلَفْظِهِ، وَقَدْ سَبَقَ أَنَّ مَذْهَبَنَا أَنَّ جَمِيْعَ اْلأَرْوَاثِ وَالذَّرْقِ وَاْلبَوْلِ نَجِسَةٌ مِنْ كُلِّ اْلحَيَوَانِ، سَوَاءٌ اَلْمَأْكُوْلُ وَغَيْرُهُ وَالطَّيْرُ، وَكَذَا رَوْثُ السَّمَكِ وَاْلجَرَادِ وَمَا لَيْسَ لَهُ نَفْسٌ سَائِلَةٌ كَالذُّبَابِ فَرَوْثُهَا وَبَوْلُهَا نَجِسَانِ عَلَى الْمَذْهَبِ، وَبِهِ قَطَعَ الْعَرَاقِيُّوْنَ وَجَمَاعَاتٌ مِنَ الْخُرَاسَانِيُّوْنَ (المجموع شرح المهذب، ج 3، ص 433)

فَائِدَةٌ: نَقَلَ عَنِ الْبُرَيْهِمِى أَنَّهُ قَالَ فِى اْلأَصَحِّ أَنَّ ذَرْقَ السَّمَكِ وَالْجَرَادِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْ فِيْهَا نَجِسٌ (بغية المسترشدين، ص ١٥)

  • Suci, kotoran hewan yang darahnya tidak mengalir.

وَفِى الْإِبَانَةِ اَنَّهُ طَاهِرٌ، وَمَعَ الْحُكْمِ بِالنَّجَاسَةِ يُعْفَى عَنْهُ إِذَا عَمَّتْ بِهِ اْلبَلْوَى كَدَمِ الْبَرَاغِيْثِ (بغية المسترشدين، ص ١٥)

Begitu juga dengan kotoran ikan dan belalang, tetapi  pendapat ini dihukumi lemah.

وَحَكَى الْخُرَاسَانِيُّوْنَ وَجْهًا ضَعِيْفًا فِى طَهَارَةِ رَوْثِ السَّمَكِ وَاْلجَرَادِ وَمَا لَانَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ (المجموع شرح المهذب، ج ۳، ص ٤٣٣)

  • Suci, Sebagian ulama’ berpendapat bahwa semua hewan yang halal untuk dimakan, kotorannya dihukumi suci. Tetapi pendapat lain mengatakan semua kotoran hewan itu suci.

ذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى طَهَارَةِ رَوْثِ الْمَأْكُوْلِ بَلْ ذَهَبَ آخَرُوْنَ إِلَى طَهَارَةِ جَمِيْعِ الْأَرْوَاثِ (بغية المسترشدين، ص 14)

Kotoran Ikan

Seringkali kita memasak lauk pauk, misalnya ikan teri, pindang, atau ikan lain yang belum dibuang dan dibersihkan kotorannya. Bagaimanakah hukum mengkonsumsi ikan yang tidak dibuang atau tidak bersih kotorannya?

  1. Tidak boleh, karena ‘ainun najasah (kotorannya) masih melekat.

وَلَا يَحِلُّ أَكْلُ سَمَكِ مِلْحٍ وَلَمْ يُنْزَعْ مَا فِيْ جَوْفِهِ لِأَنَّهُ فِي أَكْلِ السَّمَكَةِ كُلِّهَا مَعَ مَا فِيْ جَوْفِهَا مِنَ النَّجَاسَةِ (الفتاوى الكبرى الفقهية باب المسابقة والمناضلة)

  • Boleh mengkonsumsinya, menurut qaul yang berpendapat hewan yang halal dimakan, maka kotoran hukumnya suci.

(مَسْئَلَةٌ ب) ذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى طَهَارَةِ رَوْثِ الْمَأْكُوْلِ (بغية المسترشدين ص 14)

Sebagian ulama’ yang berpendapat terhadap kesucian kotoran hewan yang halal dimakan… (Bughyah al-Mustarsyidin, hal.14)

Air Susu Bangkai

Bangkai dalam bahasa Arab disebut al-mayyitah. Menurut ulama’, al-mayyitah adalah hewan yang mati tanpa disembelih secara syar’i. Menurut syara’, memakan bangkai itu hukumnya haram. Sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 173:

إنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللهِ (سورة البقرة:173)

Sesungguhnya aku (Allah) hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah (al-Baqarah:173)

Namun bagaimanakah hukum air susu dalam kelenjar susu bangkai?

  1. Najis, menurut Madzhab Imam Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz II, hlm. 182:

فرع: قد ذكرنا أن اللبن فى ضرع الميتة نجس، هذا مذهبنا وقول مالك وأحمد (المجموع شرح المهذب، ج 2، ص 182)

Dan juga dijelaskan dalam kitab Hasyiah al-Bujairami, juz XI, hlm. 232:

قَوْلُهُ: ( خِلَافًا لِلْأَئِمَّةِ الثَّلَاثَةِ ) أَيْ فِي لَبَنِ الْمَيِّتَةِ، حَيْثُ قَالُوا: إنَّهُ يُحَرِّمُ لِأَنَّ اللَّبَنَ لَايَمُوتُ كَلَبَنٍ مَوْضُوعٍ فِي ظَرْفٍ نَجِسٍ لِأَنَّ الْمَيِّتَ عِنْدَهُمْ يُنَجَّسُ بِالْمَوْتِ (حاشية البجيرمي، ج 11، ص 232 )

  • Suci, menurut pendapat Imam Abu Hanifah. Beliau berdalih bahwa air susu yang bertemu dengan perkara najis didalam tubuh hukumnya adalah suci, seperti susu dari kambing hidup. Susu tersebut keluar dari kotoran dan darah. Para ulama’ Fuqaha’ berpendapat bahwa  najis yang berada didalam tubuh itu tidak ada hukumnya, dengan dasar bahwa air mani itu suci meskipun air mani tersebut keluar dari tempat keluarnya air kencing. Sebagaimana keterangan dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz II, hlm. 182:

وقال أبو حنيفة: هو طاهر، واحتج له بأنه يلاقي نجاسة باطنية فكان طاهرا كاللبن من شاة حية، فإنه يخرج من بين فرث ودم، قالوا: ولأن نجاسة الباطن لا حكم لها، بدليل أن المنى طاهر عندكم ويخرج من مخرج البول (المجموع شرح المهذب، ج 2، ص 182)

Hukum Bagian Bangkai, Seperti Tulang, Kuku,Tanduk, Cakar, serta Rambut dan Bulu bangkai

Secara umum hukum bangkai itu najis, kecuali bangkai ikan dan belalang. Bagaimana hukum bagian-bagian dari bangkai, seperti tulang, kuku, tanduk, cakar, rambut, dan bulunya?

  1. Menurut pendapat yang masyhur dari madzhab Syafi’I bagian dari bangkai seperti rambut, bulu, tulang, tanduk, gigi dan kuku hukumnya najis. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz II, hlm. 174. Raudhah al-Thalibin, juz I, hlm. 43:

فرع: فى مذاهب العلماء فى شعر الميتة وعظمها وعصبها، فمذهبنا أن الشعر والصوف والوبر والريش والعصب والعظم والقرن والسن والظلف نجسة (المجموع شرح المهذب، ج 2، ص 174)

القسم الثاني الشعر والعظم أما الشعر والصوف والوبر والريش فينجس بالموت على الأظهر وكذا العظم على المذهب (روضة الطالبين، ج  1، ص  43 )

  • Menurut Madzhab Malikiyah, Hambali, Umar bin Abdul Aziz, Hasan al-Bashri, Ishaq, al-Muzani, Ibn Mundzir: Rambut, bulu halus, bulu unta, bulu burung itu dihukumi suci. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz II, hlm. 174:

وذهب عمر بن عبد العزيز والحسن البصرى ومالك وأحمد (٢) وإسحاق والمزنى وابن المنذر إلى أن الشعور والصوف والوبر والريش طاهرة (المجموع شرح المهذب، ج 2، ص 174)

  • Tulang, tanduk, gigi, bulu halus, bulu kasardan kuku itu dihukumi najis. Hukum najis ini disebabkan karena hewan tersebut sudah mati, akan tetapi bisa disucikan dengan dibasuh. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz II, hlm. 174:

أن الشعور والصوف والوبر والريش طاهرة والعظم والقرن والسن والظلف والظفر نجسة، كذا حكى مذاهبهم القاضى أبو الطيب، وحكى العبدرى، عن الحسن وعطاء والأوزاعى والليث بن سعد أن هذه الأشياء تنجس بالموت لكن تطهر بالغسل (المجموع شرح المهذب، ج 2، ص 174)

Hukum Menggunakan Cuka (Fermentasi dari Khamer) dilihat dari Prosesnya

Cuka adalah benda cair yang berasal dari perasan suatu bahan yang mengandung etanol (alkohol murni)  yang sudah mengalami perubahan kimia. Bagaimana hukumnya bila dalam proses pembuatan cuka kemasukan benda lain (seperti batu) sebelum berubah menjadi cuka?

  1. Suci, apabila benda yang jatuh ke dalamnya diambil terlebih dahulu sebelum cairan tersebut berubah menjadi cuka. (Hasyiah al-Jamal ‘ala Syarh al-Minhaj ,juz I hlm. 285. Hasyiah al-Bajuri juz I, hlm. 107. Tausyeh ‘ala Ibn Qasim, hlm. 42:

اِنَّهَا تَطَهَّرُ بِالتَّخَلُّلِ اِذَا نَزَعَتَ اْلعَيْنِ مِنْهَا قَبُلَهُ (حاشية الجمل، ج ۱، ص ۲۸۵)

  • Najis, apabila benda yang masuk itu dibiarkan dan tidak diambil sehingga bahan tersebut menjadi cuka. Dan apabila benda yang masuk kedalam cairan itu najis, maka cuka tersebut tetap dihukumi najis meskipun benda itu diambil sebelum cairan tersebut berubah menjadi cuka. (Hasyiah al-Jamal ‘ala Syarh al-Minhaj juz I, hlm. 285, Tausyeh ‘ala Ibn Qasim hlm. 42, Hasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khatib juz I, hlm. 341, Hasyiyah I’anah al-Thalibin juz I, hlm. 110:

اما اذا اتخللت بمصاحبة عين وان لم تؤثر في التخليل كحصاة  فلا تطهر (حاشية الجمل، ج۱ص ۲۸۵)

ولو كان الواقع فيها نجسا لم تطهر بالتخليل وان نزع منها قبله (توشيح على إبن القاسم، ص 42)

وَالثَّانِي الْخَمْرَةُ إذَاتَخَلَّلَتْ بِنَفْسِهَا فَتَطْهُرُ وَإِنْ نُقِلَتْ مِنْ شَمْسٍ إلَى ظِلٍّ وَعَكْسُهُ، فَإِنْخُلِّلَتْ بِطَرْحِ شَيْءٍ فِيهَا لَم ْتَطْهُرْ (حاشية البجيرمي على الخطيب، ج 1، ص 341)

وخرج بذلك ما إذا تخللت بمصاحبتها فلا تطهر لان من استعجل بشئ قبل أوانه عوقب بحرمانه غالبا، سواء كانت لها دخل في التخلل كبصل وخبز حار، أم لا كحصاة. ولا فرق بين ما قبل التخمر وما بعده، ولا بين أن تكون العين طاهرة أو نجسة. نعم، إن كانت طاهرة ونزعت منها قبل التخلل طهرت، أما النجسة فلا وإن نزعت قبل التخلل، لان النجس يقبل التنجيس، واحترز بالاجنبية عن غيرها فيعفى عنه ولا تنجس به، كحبات العناقيد. (حاشية إعانة الطالبين، ج 1، ص 110)

Minyak Beralkohol

Banyak sekali ditemukan minyak yang dicampur dengan campuran alkohol, hal ini dilakukan karena berbagai fungsi, antara lain untuk menekan udara dalam botol minyak. Bagaimanakah hukum minyak wangi yang dicampur dengan alkohol?

  1. Menjadi najis, minyak yang dicampur alkohol, sebab alkohol itu termasuk cairan yang memabukkan, dan cairan yang memabukkan dihukumi najis. (Syarh al-Jamal ‘ala al-Minhaj, juz 1, hal. 170)

(قَوْلُهُ أَيْضًا نَظَرًا لِأَصْلِهِمَا) أَيْ فَمَا كَانَ مَائِعًا حَالَ إسْكَارِهِ كَانَ نَجِسًا، وَإِنْ جَمَدَ وَمَا كَانَ جَامِدًا حَالَ الْإِسْكَارِ يَكُونُ طَاهِرًا، وَإِنْ انْمَاعَ كَالْحَشِيشِ الْمُذَابِ وَكَالْكِشْكِ الْمُسْكِرِ حَالَ جُمُودِه(شرح الجمل على المنهاج، ج 1، ص 170)

  • Tidak najis, sebab tidak memabukkan dan campurannya hanya untuk menjaga kebaikan komposisi minyak.

اَلْمَبْحَثُ الثَّالِثُ فِى تَعْرِيْفِ الْكُحُوْلِ الَّذِيْ اِسْتَفَدْناَهُ مِنْ كَلاَمِ مَنْ يَعْرِفُ حَقِيْقَتَهُ الَّذِيْ يَقْبَلُهُ الْحِسُّ مَعَ مَا رَاَيْناَهُ مِنْ اَلاَتِ صِنَاعَتِهِ وَهُوَ عُنْصُرُ بُخَارٍ يَجِدُ فِى الْمُتَخَمِّرَاتِ الْمُسْكِرَاتِ مِنَ الْأَشْرِبَةِ. فَبِوُجُوْدِهِ فِيْهَا يَحْصُلُ الْأِسْكَارُ وَيُوْجَدُ هَذَا الْكُحُوْلِ اَيْضًا فِى غَيْرِ الْأَشْرِبَةِ مِنْ مُتَخَمِّرَاتِ نَقِيْعِ اْلاَزْهَرِ وَاْلاَثْمَارِ الَّذِى يُتَّخَذُ طِيْبًا وَغَيْرُهُ كَمَا يُوْجَدُ مِنْ مَعْقُوْدِ الْخَشَبِ بِأَلَاتٍ حَدِيْدِيَّةٍ مَخْصُوْصَةٍ وَهَذَا الْأَخِيْرُ أَضْعَفُ الْكُحُوْلِ كَمَا اَنَّ اَقْوَاهُ الَّذِى يُوْجَدُ فِى الْعِنَبِ (المباحث الوفية للسيد عثمان البتاوي)

Pengertian alkohol sebagaimana yang kami dapatkan dari pernyataan orang yang mengetahui hakekatnya serta yang kami lihat dari peralatan industri pembutannya adalah merupakan sesuatu unsur yang dapat menguap yang terdapat pada minuman yang memabukkan. Keberadaan-nya akan mengakibatkan mabuk. Alkohol ini juga terdapat pada selain minuman, seperti pada rendaman air, bunga dan buah-buahan yang dibuat untuk wewangian dan lainnya, sebagaimana juga terdapat pada kayu-kayuan yang diproses dengan mempergunakan peralatan khusus dari logam. Dan yang terakhir ini merupakan alkohol dengan kadar paling rendah sedangkan yang terdapat pada perasa anggur merupakan alkohol dengan kadar tinggi. (al-Mabahits al-Wafiyyah Bab Najasah)

وَمِنْهَا اَىْ مِنَ الْمَعْفُوَاتِ؛ الْمَائِعَاتُ النَّجَسَةُ الَّتِى تُضَافُ اِلَى الْاَدَوِيَةِ وَالرَّوَائِحِ الْعِطْرِيَّةِ لِاَصْلَاحِهَا فَإِنَّهُ يُعْفَى عَنِ الْقَدْرِ الَّذِيْ بِهِ اْلاِصْلَاحُ قِيَاسًا عَلَى الْاَنْفِخَةِ الْمَصْلَحَةِ لِلْجَبِيْنِ

Termasuk najis yang dima’fu (ditoleransi) adalah, cairan-cairan najis yang dicampurkan untuk komposisi obat-obatan dan parfum, cairan tersebut bisa ditoleransi dengan kadar yang memang diperlukan untuk komposisi yang seharusnya. Karena hal itu diqiaskan dengan usus babat yang digunakan untuk menambahkan kualitas mentega. (al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah, juz 1, hal. 25)

Khilaf Tentang Batas Ukuran Air Dua Qullah

Air itu ada dua macam, yang pertama dinamakan air sedikit (maaun qolil) yaitu air yang kurang dari dua qullah. Dan yang kedua dinamakan maaun katsir (air yang banyak) yaitu air dua qullah atau lebih. Air sedikit (maaun qolil) bisa menjadi najis apabila terkena najis meskipun tidak berubah, sedangkan air yang banyak (maaun katsir) tidak menjadi najis meskipun terkena najis, kecuali apabila berubah rasa, warna atau baunya. Dari pembagian tersebut, berapakah ukuran air dua qullah tersebut ?

Air dua qullah ialah air yang mencapai lima geriba (wadah air dari kulit), namun para ulama’ berbeda pendapat dalam menentukan batasan air dua qullah dalam ukuran rithl, sebagai berikut:

  1. Menurut Abu al-Zaid, air dua qullah = 1000 rithl Bagdad.
  2. Menurut Abu Abdillah al-Zubairi yang diperkuat oleh Imam al-Qoffal dan al-Ghazali air dua qullah = 600 rithl Bagdad.
  3. Menurut qoul yang shahih, air dua qullah = 500 rithl Bagdad.

فَالْكَثِيْرُ قُلَّتاَنِ وَاْلقَلِيْلُ دُوْنَهُ وَالْقُلَّتاَنِ خَمْسُ قِرَبٍ وَفِي قَدْرِهَا بِاْلأَرْطَالِ أَوْجَهٌ اَلصَّحِيْحُ الْمَنْصُوْصُ خَمْسُمِائَةِ رِطْلٍ باِلْبَغْدَادِيِّ وَالثَّانِي سِتُّمِائَةٍ قَالَهُ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ الزُّبَيْرِيُّ وَاخْتاَرَهُ الْقَفَّالُ وَالْغَزَالِيُّ وَالثَّالِثُ أَلْفُ رِطْلٍ قَالَهُ أَبُوْ زَيْدٍ وَاْلأَصَحُّ أَنَّ هَذَا التَّقْدِيْرُ تَقْرِيْبٌ فَلاَ يَضُرُّ نُقْصَانِ الْقَدْرِ الَّذِيْ لاَ يَظْهَرُ بِنُقْصَانِهِ تَفَاوُتٌ فِي التَّغْيِرِ بِالْقَدْرِ الْمُعَيَّنِ مِنَ اْلأَشْيَاءِ الْمُغَيِّرَةِ وَالثَّانِيُّ أَنَّهُ تَحْدِيْدٌ فَيَضُرُّ أَيْ شَىْءٍ نَقَصَ (روضة الطالبين، ص 11)

Air yang banyak adalah air yang mencapai dua qullah dan air sedikit ialah air yang kurang dari dua kullah, air dua qullah itu adalah air lima geriba (wadah air dari kulit). Adapun menurut ukuran Rithl ada beberapa pendapat, yang pertama 500 Rithl Baghdad (menurut qoul shahih), yang kedua 600 Rithl (menurut Abu Abdillah al-Zubairi yang diperkuat oleh imam al-Qoffal dan al-Ghazali), yang ketiga 1000 Rithl (menurut Abu az-Zaid), ini adalah hanya perkiraan saja, maka tidak masalah jika terdapat kekurangan dari perkiraan tersebut, dan yang kedua ini adalah ukuran yang pasti, maka jika terjadi kekurangan akan membahayakan. (Raudhah at-Thalibin, hal. 11)

Dan volume air 1 rithl Bagdad adalah sebagai berikut:

  1. Menurut Imam Abu Hanifah, 1 rithl Bagdad = 490,65 gr
  2. Menurut Imam Maliki, 1 rithl Bagdad = 347,55 gr
  3. Menurut Imam Ahmad, 1 rithl Bagdad = 349,16 gr
  4. Menurut Imam Nawawi, 1 rithl Bagdad = 349,16 gr
  5. Menurut Imam Rafi’i, 1 rithl Bagdad = 353,49 gr

Status Air Hasil Sulingan yang Berasal dari Air Najis

Ketika musim kemarau banyak daerah-daerah yang kekurangan air bersih, terutama di daerah perkotaan, lebih-lebih ketika terjadi bencana alam, untuk memenuhi kebutuhan air bersih pada masyarakat, akhirnya pemerintah dan banyak instansi atau organisasi sosial masyarakat yang memanfaatkan air-air yang kotor, untuk diolah/ disuling dengan menggunakan sebuah alat yang sengaja diciptakan untuk mengolah air kotor dengan beberapa proses tertentu, sehingga dapat menghasilkan air bersih yang layak digunakan, baik untuk mandi, bersuci dan dikonsumsi. Dari fenomena tersebut bagaimanakah status air bersih yang dihasilkan dari air najis?

Hukum atau status air tersebut adalah sebagai air muthlak (suci dan dapat menyucikan) kalau sudah mencapai dua qolah (sama dengan ukuran 60 cm3. Jadi meskipun mulanya berasal dari air limbah, air kotor yang najis, setelah berubah menjadi bersih, baik berubah dengan sendirinya maupun melalui proses tertentu maka bisa dibuat untuk bersuci dan boleh untuk dikonsumsi. Sebagaimana keterangan dalam kitab al-Bajuri di bawah ini:

ماَءٌ نَجِسٌ وَهُوَ الَّذِى حَلَّتْ فِيْهِ نَجَاسَةٌ وَهُوَ مَاءٌ دُوْنَ قُلَّتَيْنِ اَوْ كَانَ قُلَّتَيْنِ فَاَكْثَرَ فَتَغَيَّرَ (الباجوري على الفتح القريب، ج 1، ص 33-35)

Air najis adalah air yang terkena najis dan belum mencapai dua qolah sekalipun tidak berubah atau sudah mencapai dua qolah dan berubah salah satu sifatnya. (al-Bajuuri ‘ala Fath al-Qariib, juz 1, hal. 33-35)

(قَوْلُهُ وَلَمْ تَغَيَّرَهُ) فَاِنْ غَيَّرَتْهُ وَلَوْ يَسِيْرًا تَنَجَّسَ وَلَا يَطْهُرُ بِزَوَالِ تَغَيُّرِهِ مَادَامَ قَلِيْلًا (الباجوري على الفتح القريب، ج 1، ص 34)

Apabila bangkai tersebut merubah air maka menjadi najis sekalipun perubahannya sedikit, dan tidak bisa menjadi suci hilangnya perubahan air tersebut selama airnya masih sedikit (kurang dari dua qolah) (al-Bajuuri ‘ala Fatkhi al-Qariib, juz 1, hal. 34)

Jadi air yang kotor (najis) bisa menjadi suci kembali kalau sudah hilang perubahannya dan mencapai dua qullah.

Hukum Air yang Berubah Karena Dedaunan

Air suci yang secara mutlak bisa digunakan untuk bersuci adalah air yang dari langit dan air sumber yang tidak berubah keadaannya baik warna, bau, atau rasa. Namun, bagaimana hukum menggunakan air yang berubah keadaannya karena disebabkan oleh dedaunan?

Menurut Syaikh Abu Hamid dan Imam Mawardi serta Imam Rauyani yang menukil dari nash Imam Syafi’i, menyatakan bahwa air yang berubah karena dedaunan yang jatuh ke dalamnya dihukumi suci.

Sedangkan Imam Kharasaniyyun menyebutkan bahwa ada tiga pandangan tentang air tersebut, yaitu:

  1. Suci
  2. Tidak suci
  3. Dima’fu, apabila dedaunan tersebut jatuh dengan sendirinya.Sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz II, hlm.53:

الرابعة: الماء المتغير بورق الشجر، قطع الشيخ أبو حامد والماوردى بأنه طهور، وكذا نقله الرويانى عن نص الشافعى، وذكر الخراسانيون فيه ثلاثة أوجه: أحدها: طهور، والثانى: لا، والثالث: يعفى عن الخريفى فلا يسلب بخلاف الربيعى، لأن فى الربيعى رطوبة تخالط الماء، ولأن تساقطه نادر والخريفى يخالفه فى هذين، والأصح: العفو مطلقا، صححه الفورانى والرويانى والشاشى فى كتابه المعتمد وصاحب البيان وغيرهم، ثم الجمهور: أطلقوا المسألة وحررها الغزالى ثم الرافعى، فقال: إن لم تتفتت الأوراق فهو تغير مجاورة ففيه القولان فى العودالصحيح أنه لايؤثر، وإن تعفنت واختلطت ففيها الأوجه، الأصح: العفو قال الرافعى وغيره: وهذا إذا تناثرت بنفسها، فإن طرحت قصدا فقيل على الأوجه، وقيل: يسلب المتفتت قطعا، وهذا أصح. قال الرويانى: ولو تغير بالثمار سلب قطعا، والله أعلم (المجموع شرح المهذب، ج 2، ص 53)

Juga ada keterangan yang lain, bahwa daun pohon yang berjatuhan, hancur, dan bercampur dengan air itu tidak membahayakan (tidak merubah keadaan air) meskipun daun musim semi atau daun yang jauh dari air karena sulitnya menjaga air tersebut. Sebagaimana yang diterangkan dalam kitab al-Iqna’, juz I, hlm. 25:

ولا يضر أوراق شجرة تناثرت وتفتتت واختلطت وإن كانت ربيعية أو بعيدة عن الماء لتعذر صون الماء عنها (الإقناع، ج 1، ص 20)

Hal diatas juga diterangkan didalam kitab Hawasyi al-Syarwani wa al-‘Ibadi, juz I, hlm. 71.

(ولم يدق) ظاهره وإن تفتت وخالط فيخالف ما مر عن الاذرعي سم عبارة شيخنا قضيته أنه لو أخذ ثم طرح صحيحا ثم تفتت بنفسه لم يضر وقياس ما تقدم عن ابن حجر في الاوراق المطروحة الضرر به (حواشي الشرواني والعبادي، ج 1، ص 71 )

Hukum Air yang Kemasukan Bangkai

  Air dilihat dari ukurannya dibagi menjadi dua macam, yaitu air sedikit dan air banyak. Air sedikit adalah air yang kurang dari dua qullah. Sedangkan air banyak adalah air yang jumlahnya mencapai dua qullah atau lebih. Namun, bagaimana sebenarnya hukum air yang kemasukanbangkai?

  1. Najis

Menurut para ulama’, hukum air (baik sedikit atau banyak) dihukumi najis ketika terkena bangkai yang menjadikan salah satu sifat air tersebut berubah. Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz II, hlm. 54:

الصحيح الذى صرح به كثيرون واقتضاه كلام الباقين: أنه نجس، ونقله إمام الحرمين عن دلالة كلام الأئمة وصححه، لأنه يعد متغيرا بالنجاسة ومستقذرا (المجموع شرح المهذب، ج 2، ص 54)

Dan Imam Syafi’i juga berpendapat bahwa air tersebut najis karena salah satu sifat air (bau, rasa dan warnanya) berubah. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Umm, juz I, hlm. 4:

(قال الشَّافِعِيُّ) وإذا كان الْمَاءُ الْجَارِي قَلِيلًا أو كَثِيرًا فَخَالَطَتْهُ نَجَاسَةٌ فَغَيَّرَتْ رِيحَهُ أو طَعْمَهُ أو لَوْنَهُ كان نَجِسًا (الأم، ج 1، ص 4 )

  • Suci

Menurut pendapat Syaikh Abu Muhammad hukum air tersebut adalah suci. Karena bangkai tersebut tidak sampai larut dalam air, maka bangkai tersebut diserupakan berada diluar air.  Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz 2, hlm. 54:

وقال الشيخ أبو محمد: طاهر، لأنه مجاور فأشبه الجيفة خارج الماء (المجموع شرح المهذب، ج 2، ص 54)

Hukum Air Liur

Air liur adalah air yang keluar dari mulut pada waktu tidur. Bagaimana hukum air liur tersebut?

  1. Suci, jika air liur yang keluar itu diyakini tidak berasal dari perut. Seperti keterangan dibawah ini:

Termasuk suci lagi, liur dahak selain yang keluar dari perut, seperti dari kepala atau dada, dan lendir dari mulut orang tidur, sekalipun berbau busuk juga menguning, selagi tidak jelas keluar dari perut. Lendir orang yang berpenyakit selalu mengeluarkan lendir perut, maka lendir semacam ini dima’fu, sekalipun jumlahnya banyak. Fathul Mu’in hlm 11.

  • Najis, apabila diyakini air liur itu berasal dari perut. Karena sudah menyerupai tinja atau kotoran. Seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Muhadzab juz I hlm 47:

وَأَمَّا اْلقَيْءُ فَهُوَ نَجْسٌ لِحَدِيْثٍ عَمَّارٌ وَلِأَنَّهُ طَعَامٌ اِسْتِحَالُ فِي الْجَوْفِ إِلَى النُّتْنِ وَالْفَسَادِ فَكَانَ نَجْسًا كَالْغَائِطِ (المهذاب ج 1 ص 47)

Catatan: Ibn ‘Imaad mengatakan bahwa ada tiga pendapat atas apa yang keluar dari mulut orang tidur. Yaitu:

  1. Suci secara mutlak
  2. Najis secara mutlak
  3. Diperinci antara yang keluar dari perut dan yang keluar dari mulut. Ketika kita sulit membedakan maka ada beberapa ciri-ciri air liur yang keluar dari perut yang bisa kita ketahui diantaranya:
  4. Saat baunya berubah menjadi basin
  5. Jika warnanya kekuning-kuningan
  6. Tidurnya terlelap puas dan dalam rentang waktu yang panjang

Sedangkan ciri-ciri yang keluar dari bibir yaitu:

  • Tidak bau
  • Tidak berwarna kekuning-kuningan
  • Tidak dalam waktu lama
  • Saat tidur posisi kepala lebih tinggi dari pada perut (diatas bantal).

Sebagimana yang diterangkan dalam kitab I’anatut Thalibin juz 1 hlm 85-86:

وَقَدْ ذَكَرَ اِبْنُ الْعِمَادِ ثَلاَثَةُ أَقْوَالٍ فِيْمَا سَالَ مِنْ فَمِّ النَّائِمِ وَهِيَ: قِيْلَ: إِنَّهُ طَاهِرٌمُطْلَقًا.وَقِيْلَ: إِنَّهُ نَجْسٌ مُطْلَقًا. وَالثَّالِثُ: اَلتَّفْصِيْلُ بَيْنَ الْخَارِجِ مِنَ الْمَعِدَّةِ وَالْخَارِجِ مِنَالْفَمِّ.وَذَكَرَ أَيْضًا ثَلاَثَةُ أَقْوَالٍ فِي عَلاَمَةِ الْخَارِجِ مِنَ الْمَعِدَّةِ أَوِ اْلفَمِّ، فَقَالَ:

وَمَنْ إِذَانَامَ سَالَاْلمَاءُ مِنْ فَمِّهِ#مَعَ التَّغَيُّرِ نَجْسٌ فِي تَتِمَتِّهِ

قَالَ الْجُوَينِي مَا مِنْ بَطْنِهِ نَجْسٌ#وَطَاهِرٌ مَاجَرَى مِنْ مَاءٍ لِهَوْتِهِ

وَنَص كَاف مَتَى مَا صَفْرَةٌ وَجَدَتْ#فَإِنَّهُ قَدْ جَرَى مِنْ مَاءٍ مَعِدَّتُهُ

وَقِيْلَمَا بَطْنهإِنْ نَامَ لاَزِمُهُ#بِأَنْ يَرَى سَائِلاً مَعَ طُوْلِ نَوْمَتِهِ

وَاْلمَاءُ مِنْ لَهْوَةٍ بِالْعَكْسِ آيَتِهِ # مِنْبَلِهِ شَفَةٌجَفَتْ بِرِيْقَتِهِ

وَبَعْضُهُمْ إِنْ يَنَمْ وَالرَّأْسَ مُرْتَفَعٌ # عَلَى الْوِسَادِ فَذَا طَاهِرٌ كَرِيْقَتِهِ (اعانة الطالبين ج 1 ص 85-86)

Media Tayammum

Dalam literatur fiqih dapat difahami bahwa tayamum adalah bersuci dengan menggunakan selain air. Hal ini diperbolehkan sebagai alternatif bersuci karena beberapa faktor, misalnya kesulitan menemu-kan air, madlarat yang ditimbulkan oleh air terhadap bagian tubuh misalnya:ketika sakit, dan lain-lain.

Adapun media tayammum menurut para ulama’ adalah:

  1. Menurut Imam Syafi’i dan Imam Hambali, menggunakan debu.
  2. Menurut Madzhab Maliki dan madzhab Hanafi adalah segala sesuatu yang termasuk bagian dari bumi, misalnya debu, tanah, salju, batu kapur. (al-Mizan al-Kubra, juz 1, hal. 132)

وَأَمَّا ماَاخْتَلَفُوْا فِيْهِ فَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُهُ اْلاِمَامُ الشَّافِعِىُّ وَأَحْمَدُ إِنَّ الصَّعِيْدَ فِى اْلأَيَةِ هُوَ التُّرَابُ فَلاَ يَجُوْزُ التَّيَمُّمُ إِلاَّ بِتُرَابٍ طَاهِرٍ أَوْ بِرَمْلٍ , فِيْهِ غُباَرٌ مَعَ قَوْلِهِ أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَ مَالِكٍ الصَّعِيْدُ هُوَ نَفْسُ اْلأَرْضِ فَيَجُوْزُ التَّيَمُّمُ بِجَمِيْعِ أَجْزَاءِ اْلأَرْضِ وَلَوْ بِحَجَرٍ لاَتُرَابَ عَلَيْهِ وَرَمْلٍ لاَ غُباَرَ فِيْهِ (الميزان الكبرى، ج 1، ص132)

Namun demikian madzhab empat (Syafi’i, Hambali, Maliki dan Hanafi), sepakat bahwa tayammum tidak sah bila menggunakan benda yang telah dimasak atau diproses, seperti arang kayu dan plastik.

Bersuci dengan Air Zamzam

Air merupakan salah satu media yang dapat digunakan untuk bersuci. Air yang mutlak boleh digunakan untuk bersuci adalah air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air dari sumber mata air, air es, dan air embun. Akan tetapi bagaimana hukum bersuci dengan menggunakan air Zamzam?

  1. Makruh, menurut Imam Ahmad berwudhu’ dan atau mandi dengan menggunakan air Zamzam karena ada keterangan dari Abbas Ra. sesungguhnya beliau berkata ketika beliau berada di samping air Zamzam “Saya tidak memperbolehkan air Zamzam digunakan untuk mandi akan tetapi boleh jika digunakan untuk minum dan juga boleh digunakan untuk obat”. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz II, hlm. 27:

وعن احمد رواية بكراهته لانه جاء عن العباس رضي الله عنه أنه قال وهو عند زمزم لا أحله لمغتسل وهو لشارب حل وبل (المجموع شرح المهذب، ج 2، ص 27)

Air Zamzam juga makruh jika digunakan untuk menghilangkan najis, hal ini menurut Imam Mawardi yang terdapat dalam kitab Asna al-Mathalib fi Syarh Raudhah al-Thalib, juz I, hlm. 89:

وَلَوْ ثَبَتَ لم يَكُنْ فِيْهِ دَلِيلٌ قَالَهُ في الْمَجْمُوعِ وَلَوْ حَذَفَ الْمُصَنِّفُ لَا يُكْرَهُ كاَنَ أَنْسَبَ وَأَخْصَرَ وَلَا مَاءُ زَمْزَمَ لِعَدَمِ ثُبُوتِ نَهْيٍ فِيْهِ نعم تُكْرَهُ إزَالَةُ النَّجَاسَةِ بِهِ كما قَالَهُ الْمَاوَرْدِيُّ وَصَرَّحَ بِهِ الرُّويَانِيُّ وَغَيْرُهُ بِالنِّسْبَةِ لِلِاسْتِنْجَاءِ (أسنى المطالب في شرح روض الطالب، ج 1، ص 89(

  • Tidak makruh, menurut Jumhur ulama’ berwudlu’ maupun mandi dengan menggunakan air Zamzam. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz II, hlm. 27:

وأما ماء زمزم فمذهب الجمهور كمذهبنا: أنه لا يكره الوضوء والغسل به (المجموع شرح المهذب، ج 2، ص 27)

  • Wajib, menghilangkan najis dengan menggunakan air Zamzam ketika air yang ada (selain air Zamzam) tidak dapat mencukupi untuk menghilangkan najis. Sebagaimana yang diterangkan dalam kitab Hasyiah al- Bujairami, juz II, hlm. 105:

قَوْلُهُ: ( وَقَضِيَّةُ إلَخْ ) هُوَ الْمُعْتَمَدُ بَلْ قَدْ يَجِبُ بِالنَّجَسِ إنْ لَمْ يَكْفِهِ الْمَاءُ إلَّا مَعَهُ (حاشية البجيرمي، ج 2، ص105)

Disunnahkan Mengulangi Tiga Kali Tiap Anggota Saat Berwudlu’

Diceritakan dari imam muslim bahwa Nabi SAW mengulangi tiga kali tiap anggota saat berwudlu’. Dan diriwayatkan oleh imam bukhari bahwa sesungguhnya saat berwudlu’ Nabi SAW mengulangi satu kali-satu kali (tiap anggota) dan dua kali-dua kali (tiap anggota).  Dan adakalanya beliau membasuh wajahnya tiga kali, kedua tangannya dua kali, dan mengusap kepalanya satu  kali. Dan adakalanya tidak mengulangi tiga kali.

Apakah kesunnahan mengulang tiga kali tiap itu mutlaq?

Tidak mutlaq, menurut waktu dan keadaan, karena Nabi juga melakukan pengulangan 3 kali, 2 kali, dan 1 kali. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Hal ini dijelaskan dalam kitab Fath al-Wahab, juz I, hlm 14:

(وَ)يُسَنُّ (تَثْلِيْثٍ) لِغَسْلٍ وَمَسْحٍ وَتَحْلِيْلٍ وَدَلْكٍ وَذِكْرٍ كَتَسْمِيَّةٍ وَتَشَهُّدٍ لِلْاِتْبَاعِ فِي الْجَمِيْعِ أَخْذًا مِنْ إِطْلاَقِ خَبَرِ مُسْلِمٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ ثَلَاثًا ثَلَاثًا وَرَوَاهُ الْبُخَارِيْ اَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً وَتَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ وَاَنَّهُ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا وَيَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ وَمَسَحَ رَأْسَهُ فَأَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَأَدْبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً وَقَدْ يُطْلَبُ تَرْكُ التَّثْلِيْثِ كَأَنْ ضَاقَ الْوَقْتُ أَوْ قَلَّ الْمَاءُ يَقِيْنًا بِأَنْ يُبْنَى عَلى الْأَقَلِّ عِنْدَ الشَّكِ عَمَلًا بِالْاَصْلِ (فتح الوهاب، ج ١، ص 14)

Hal ini juga dijelaskan di dalam kitab Tuhfa al-Muhtaj bi Syarh al-Minhaj,  juz I, hlm. 81.

Hukum Membasuh bagian dalam Mata

Mata merupakan bagian dari wajah, salah satu rukun wudhu’ adalah membasuh wajah.

Bagaimanakah hukum membasuh mata bagian dalam?

Tidaklah wajib, dan bahkan tidak disunnahkan. Sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Hasyiah al-Jamal ‘ala Syarh al-Minhaj,  juz I, hlm. 174. Sebagai berikut:

وَالْمُرَادُ ظَاهِرُ مَا ذُكِرَ إِذْ لَا يَجِبُ غَسْلُ دَاخِلِ الْعَيْنِ وَلَا يُسَنُّ وَزِدْتُ تَحْتَ لِيَدْخُلَ فِى الْوَجْهِ مُنْتَهَى اللِّحْيَيْنِ(فَمِنْهُ مَحَلُّ غَمَمٍ) وَهُوَ مَا يَنْبُتُ عَلَيْهِ الشَّعْرُ مِنَ الجَبْهَةِ إِذًا لَا عِبْرَةَ بِنَبَاتِهِ فِي غَيْرِ مَنْبَتِهِ كَمَا لَا عِبْرَةَ بِانْحِسَارِ شَعْرِ النَّاصِيَّةِ (حاشية الجمل على شرح المنهج، ج ١، ص ١74-175)

Hal ini juga dijelaskan di dalam kitab Syarh al-Minhaj,  juz I, hlm. 109, Ghayah al-Bayani Syarh Zaid Ibn Ruslan,  juz I hlm. 43, Fath al-Wahab,  juz I hlm. 12, dan kitab Hasyiah Qulyubi,  juz I, hlm. 47.

Tidur yang Tidak Membatalkan Wudlu’

Banyak hal-hal yang menyebabkan batalnya wudlu’, namun bagaimana dengan orang yang tidur apakah wudhu’nya menjadi batal?

Imam Madzahib al-Arba’ah mempunyai pandangan yang berbeda.

  1. Menurut Imam Malik: apabila tidurnya pulas (sekiranya orang tidur tidak merasakan peristiwa-peristiwa di sekitarnya) maka tidur seperti ini membatalkan wudlu’.
  2. Menurut Imam Syafi’i: apabila orang tersebut menetapkan pantatnya pada tempat duduk maka tidur seperti itu tidak membatalkan wudlu’.
  3. Menurut Imam Abu Hanifah: apabila tidurnya dalam keadaan berdiri, duduk/sujud (seperti tingkah shalat) maka tidak membatal-kan shalat, bila selain keadaan seperti itu (tidur berbaring, tengkurap) maka tidur tersebut membatalkan wudlu’.
  4. Menurut Imam Ahmad: apabila tidurnya dengan posisi duduk/ berdiri tidak membatalkan wudlu’ dan bila tidur selain kedua kondisi tersebut maka membatalkan wudlu’.

وَاخْتَلَفَ اَلْعُلَمَاءُ فِىْ نَقْضِ اْلوُضُوْءِ باِلنَّوْمِ فَنَظَرَ ماَلِكٌ اِلَى صِفَةِ النَّوْمِ فَقاَلَ اِنْ كاَنَ ثَقِيْلاً ( وَهُوَ اَلَّذِىْ لاَ يَحِسُّ صَاحِبُهُ بِمَا فَعَلَ بِحَضْرَتِهِ ) نَقَضَ اَلْوُضُوْءُ وَاِنْ كاَنَ خَفِيْفاً فَلاَ . وَنَظَرَ اَلشَّفِعِىُّ اِلَى صِفَةِ النَّائِمِ فَقاَلَ اِنْ نَامَ مُمَكِّناً مَقْعَدَتَهُ مِنَ اْلاَرْضِ لاَيَنْقُضُ وُضُؤُهُ وَاِلاَّ اِنْتَقَضَ . وَقاَلَ اَبُوْ حَنِيْفَةَ اِنْ نَامَ عَلَى حَالَةٍ مِنْ اَحْوَالِ الصَّلاَةِ (كَأَنْ ناَمَ قاَئِماً اَوْ قاَعِدًا اَوْسَاجِدًا ) لَمْ يَنْقُضْ اَلْوُضُوْءُ وَاِلاَّ نَقَضَ . وَقاَلَ اَحْمَدُ اِذاَ ناَمَ قاَعِدًا اَوْقاَئِمًا لَمْ يَنْقُضْ اَلْوُضُوْءُ وَاِلاَّ نَقَضَ (إبانة الاحكام، ج 1، ص 124)

Para ulama’ berselisih pendapat mengenai apakah tidur itu bisa membatalkan wudlu’? Imam Malik lebih memandang kepada sifatnya tidur itu sendiri, beliau mengatakan: apabila tidur tersebut kategori tidur pulas (sekira orang yang tidur tidak merasakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di depannya), maka tidur seperti ini membatalkan wudlu’, dan apabila tidur tersebut ter-masuk kategori ringan, maka tidaklah membatalkan wudlu’. Sedangkan Imam al-Syafi’i lebih memandang kepada sifatnya orang tidur tersebut. Beliau mengatakan: apabila orang tersebut tidur dengan menetapkan pantatnya pada bumi, maka tidur seperti ini tidaklah membatalkan wudlu’, dan apabila tidak menetapkan pantatnya, maka batallah wudlu’nya. Abu Hanifah berkata: apabila seorang tidur dengan keadaan seperti tingkahnya orang yang sedang mengerjakan shalat (sambil berdiri, duduk atau sujud), maka tidaklah membatalkan wudlu’ dan apabila keadaannya tidak seperti itu, maka tidur tersebut membatalkan wudlu’. Imam Ahmad berkata: Apabila seseorang tidur dengan duduk atau berdiri, maka tidaklah membatalkan wudlu’, dan jika tidak sambil duduk atau berdiri, maka tidur tersebut membatalkan wudlu’. (Ibanah al-Ahkam, juz 1, hal. 124)

Masalah Batal Wudlu’ Menyentuh Perempuan Lain

Sebagaimana diketahui bersama, wudhu’ (bersuci) adalah salah satu syarat dari keabsahan sholat. Salah satu dari sekian penyebab yang membatalkan wudhu’ adalah bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.

Tentang hal ini, bagaimanakah pandangan para ulama tentang batal atau tidaknya wudhu’ karena disebabkan persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram?

Ada dua pendapat tentang batal-tidaknya wudhu’ akibat per-sentuhan laki-laki dengan perempuan yang bukan mahram:

  1. Wudhu’ orang yang menyentuh dan disentuh sama-sama batal, sebagaimana pendapat Imam Syafi’i dalam qoul jadidnya.

وَفِي الْمَلْمُوْسِ قَوْلاَنِ لِلشَّافِعِي رحمه الله أَصَخُّهُمَا عِنْدَ أَكْثَرِ أَصْحَابِهِ أَنَّهُ يَنْتَقِضُ وُضُوءُهُ وَهُوَ نَصُّهُ فِيْ أَكْثَرِ كُتُبِهِ (حاشية ابن حجر على إيضاح في مسائل الحج، ص 236)

Tentang orang laki-laki yang disentuh (oleh perempuan yang bukan mahramnya), Imam Syafi’i memiliki 2 pendapat. Yang ashoh dari kedua pendapat menurut kebanyakan sahabatnya yakni hal tersebut merusakkan (membatalkan) wudhu’nya. Dan pendapat itu adalah nash dari Imam Syafi’i dalam kebanyakan kitabnya. (Hasyiah ibn Hajar, hal. 236)

الثَّالِثُ الْتِقَاءُ بَشَرَتَيْ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ إلَّا مَحْرَمًا فِي الْأَظْهَرِ، وَالْمَلْمُوسُ كَلَامِسٍ فِي الْأَظْهَرِ (منهاج الطالبين، ج 1، ص 6)

Ketiga (dari hal-hal yang dapat membatalkan wudhu’) adalah bertemunya dua kulit laki-laki dan perempuan selain perempuan mahrom sebagaimana dalam pendapat yang adzhar. Orang yang disentuh dengan orang yang menyentuh (sama-sama batalnya) menurut pendapat yang adzhar. (Minhaj at-Thalibin, juz 1, hal. 6)

  • Wudhu’ orang yang disentuh tidak batal, sebagaimana pendapat Imam Syafi’i dalam qoul qodimnya.

وَالثَّانِي لاَ يَنْتَقِضُ وُضُوْءُهُ وَاخْتَارَهُ جَمَاعَةٌ قَلِيْلَةٌ فِيْ أَصْحَابِهِ وَالْمُخْتَارُ الأَوَّلُ (حاشية ابن حجر على إيضاح في مسائل الحج، الصفحة 236)

Pendapat kedua (Imam Syafi’i), tidak batal wudhu’nya (orang yang disentuh). Pendapat ini dipilih oleh segolongan kecil dari para sahabat Imam Syafi’i. Namun, pendapat yang terpilih adalah pendapat yang pertama. (Hasyiah ibn Hajar ‘ala Idhoh fi Masail al-Haj, hal. 236)

Hukum Memegang Potongan Dzakar

Salah satu perkara yang membatalkan wudhu’ adalah memegang alat kelamin seperti dzakar dengan telapak tangan dan telapak jari tangan. Namun, apabila ada salah satu bagian dari alat kelamin yang terlepas, semisal dzakar yang terlepas dari anggota tubuh manusia lalu kita memegangnya dengan menggunakan telapak tangan secara langsung, apakah hal tersebut membatalkan wudhu’?

Ada dua pendapat tentang permasalahan ini:

  1. Batal wudhu’nya, apabila potongan dzakar tersebut masih nampak berbentuk dzakar, karena dengan menyentuhnya masih nyata seperti memegang dzakar.
  2. Tidak batal wudhu’nya, apabila potongan dzakar tersebut sudah tidak nampak berbentuk seperti dzakar atau telah hancur.

Dua pendapat tersebut diterangkan dalam kitab al-Muhadzdzab fi Fiqh as-Syafi’i sebagai berikut:

وَإِنْ مَسَّ ذَكَرًا مَقْطُوْعًا فَفِيْهِ وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا لاَ يَنْتَقِضُ وُضُوْءُهُ كَمَا لَوْ مَسَّ يَدًا مَقْطُوْعَةً مِنِ امْرَأَةٍ وَالثَّانِيْ يَنْتَقِضُ لِأَنَّهُ قَدْ وُجِدَ مَسُّ الذَّكَرِ وَيُخَالِفُ الْيَدُّ الْمَقْطُوْعَةُ فَإِنَّهُ لَمْ يُوْجَدْ لَمْسُ الْمَرْأَةِ (المهذب في فقه الشافعى، ج 1 ص 52)

Jika seseorang memegang dzakar yang dipotong maka ada dua pendapat: 1) Tidak batal wudhu’nya, seperti memegang tangan perempuan yang putus. 2) Membatalkan wudhu’ karena sungguh telah nyata memegang dzakar, berbeda dengan tangan yang dipotong, karena tidak nyata memegang perempuan. (al-Muhadzdzab fi Fiqh as-Syafi’i juz 1, hal. 52, Dar al-Kutub al-Ilmiyah).

Junub

Junub adalah kondisi hadats yang menyebabkan seseorang dilarang untuk melakukan ibadah pada Allah Swt., seperti; mendirikan shalat, membaca al-Qur’an, masuk masjid dan lain sebagainya. Adapun sebab-sebab junub:

  1. Melakukan senggama
  2. Keluar air sperma
  3. Haid
  4. Nifas
  5. Melahirkan
  6. Meninggal dunia

Cara bersuci dari hadats ini adalah dengan cara mandi besar dengan niat tertentu.

Hukum Memegang Sampul al-Qur’an dalam Keadaan Hadats

Seperti yang kita ketahui, menyentuh al-Qur’an dalam keadaan berhadats itu diharamkan. Lantas bagaimana menyentuh sampul al-Qur’an yang putus atau terpisah dari al-Qur’an dalam keadaan berhadts?

  1. Haram

Dihukumi haram dengan alasan karena sampul al-Qur’an termasuk bagian dari al-Qur’an (baik tersambung maupun terpisah) sebagaimana dijelaskan dalam kitab Hasyiah al-Jamal ‘ala Syarh al-Minhaj, jus I, hlm. 120:

وَحَرُمَ بِهَا ….. وَمَسُّ جِلْدِهِ الْمُتَّصِلِ بِهِ لِأَنَّهُ كَالْجُزْءِ مِنْهُ فَإِنْ انْفَصَلَ عَنْهُ فَقَضِيَةُ كَلَامِ الْبَيَانِ الْحِلُّ وَبِهِ صَرَحَ الأَسْنَوِيُّ لَكِنَّ نَقَلَ الزَّرْكَشِيُ عَنْ عَصَارَةِ الْمُخْتَصَرِ لِلْغَزَالِي أَنَّهُ يَحْرُمُ أَيْضًا (حاشية الجمل على شرح المنهج، ج ١، ص١20. شرح المنهج،  ج 1، ص 74-75. فتح الوهاب،  ج 1،  ص 18)

Hal ini juga dijelaskan di dalam kitab al-Iqna’ li al-Syarbiny,  juz I, hlm. 100:

(لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَ) وَيَحْرُمُ أَيْضًا مَسُّ جِلْدِهِ الْمُتَّصِلِ بِهِ لِأَنَّهُ كَالْجُزْءِ مِنْهُ (الإقناع للشربيني،  ج 1،  ص 100. حاشية البجيرمي على الخطيب،  ج 3، ص 266)

Dihukumi haram baik sampul tersebut gandeng maupun terpisah dari al-Qur’an, dengan syarat sampul itu masih dikategorikan al-Qur’an (sampul itu masih ditemukan gandengannya atau mushafnya), ketika tidak ditemukan gandengannya maka tidak haram meskipun ada tulisan لايمسه إلا المطهرون. Hal ini dijelaskan dalam kitab Nihayah al-Zain,  juz I, hlm. 32, sebagai berikut:

وَيَحْرُمُ أَيْضًا مَسُّ جِلْدِهِ الْمُتَّصِلِ بِهِ وَكَذَا الْمُنْفَصِلِ عَنْهُ مَالَمْ تَنْقَطِعْ نِسْبَتُهُ عَنْهُ، كَأَنْ جُعِلَ جِلْدُ كِتَابٍ وَإِلَّا فَلَا، وَلَوْ كَانَ فِيْهِ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ كَانَ جِلْدُ مُصْحَفٍ كَأَنْ كَانَ مَكْتُوْبًا عَلَيْهِ لَايَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَ (نهاية الزين،  ج 1، ص 32)

  • Boleh

Menyentuh sampul al-Qur’an dalam keadaan hadats hukumnya boleh ketika sampulnya terpisah dari al-Qur’an. Keterangan ini terdapat di kitab Hasyiah al-Bujairamy ‘ala al-Khatib, juz III, hlm. 266, sebagai berikut:

وَهَذَا هُوَ الْمُعْتَمَدُ إِذَا لَمْ تَنْقَطِعْ نِسْبَتُهُ عَنِ الْمُصْحَفِ فَإِنْ انْقَطَعَتْ كَأَنْ جُعِلَ جِلْدُ كِتَابٍ لَمْ يَحْرُمْ مَسُّهُ قَطْعًا (حاشية البجيرمي على الخطيب، ج 3، ص 266. مغني المحتاج، ج 1، ص 37266)

 Dan di dalam kitab al-Siraj al-Wahab, juz I, hlm. 2:

يَجُوْزُ مَسُّ جِلْدِهِ وَلَوْ انْفَصَلَ جِلْدُهُ (السراج الوهاب،  ج 1، ص 2)

Hukum Membawa al-Qur’an Bersama Barang-Barang Lain dalam Keadaan Hadats

seorang pedagang buku dan aksesoris disuatu daerah. Setiap bulannya dia pergi berbelanja ke pemasok buku dan aksesoris. Barang belanjaannya bermacam-macam, diantaranya adalah al-Qur’an.

Dari cerita tersebut dapat ditarik suatu pertanyaan, yaitu bagaimanakah hukum membawa al-Qur’an bersama dengan barang belanjaannya saat dia dalam keadaan hadats?

Boleh, dengan syarat ketika membawa al-Qur’an tidak niat membawa al-Qur’an atau bermaksud tidak membawa apa-apa.  Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Hasyiah al-Jamal ‘ala Syarh al-Minhaj, juz I, hlm.124, berikut:

(وَحَلَّ حَمْلُهُ فِي مَتَاعٍ) تَبَعًا لَهُ بِقَيِّدِ زِدْتُهُ بِقَوْلِيْ (إِنْ لَمْ يَقْصِدْ) أي الْمُصْحَفِ بِأَنَّ قَصَدَ الْمَتَاعُ وَحْدَهُ أَوْ لَمْ يُقْصَدْ شَيْءٌ بِخِلَافِ مَا إِذَا قَصَدَ وَلَوْ مَعَ الْمَتَاعِ وَإِنِ اقْتَضَى كَلَامُ الرَّافِعِيُّ الْحِلَّ فِيْمَا إِذَا قَصَدَهُمَا وَتَعْبِيْرِيْ بِمَتَاعٍ أَوْلَى مِنْ تَعْبِيْرِهِ (حاشية الجمل على شرح المنهج، ج ١، ص ١24)

Hukum Orang Junub Membaca al-Qur’an

Pada saat acara lomba tilawatil Qur’an lintas asrama dalam rangka Haflah Akhirus Sanah Pondok Pesantren demo XVII 2006 seorang santri putri Pondok Pesantren demo sedang mengikuti acara tersebut, hingga pada tahapan final dia mengalami keraguan untuk tampil, ketika ditanya ternyata dia sedang datang bulan (haid). Bagaimanakah hukum seseorang dalam kondisi junub/hadats besar membaca al-Qur’an?

  1. Menurut Syafi’iyah: haram bagi orang yang junub dengan sengaja membaca al-Qur’an meskipun satu huruf.

اَلشَّافِعِيَّةُ قاَلُوْا يَحْرُمُ عَلَى الْجُنُبِ قِرَاءَةُ اْلقُرْأَنِ وَلَوْحَرْفًا وَاحِدًا اِنْ كاَنَ قاَصِدًا تِلاَوَتُهُ …

Menurut ulama’ Syafi’iyah  bagi orang junub diharamkan membaca al-Qur’an meskipun satu huruf dengan sengaja membacanya, dan seterus-nya. (Madzahib al-Arba’ah, juz 1, hal. 112)

(فَرْعٌ) فِيْ مَذَاهِبِ اْلعُلَمَاءِ فِيْ قِرَاءَةِ الْجُنُبِ وَالْحاَئِضِ: مَذْهَبُناَ اَنَّهُ يَحْرُمُ عَلىَ الْجُنُبِ وَالْحَائِضِ قِرَاءَةُ اْلقُرْآنِ قَلِيْلُهَا وَكَثِيْرُهَا حَتىَّ بَعْضَ آيَةٍ وَبِهَذاَ قاَلَ اَكْثَرُ اْلعُلَمَاءِ

Menurut madzhab ulama’ (syafi’iyah) bagi orang junub dan bagi orang haid haram membaca al-Qur’an baik sebagian ayat maupun banyak dan pendapat ini yang lebih banyak (kuat). (al-Majmu’, juz 2, hal. 178)

  • Menurut Imam Dawud: boleh bagi orang junub membaca sedikit maupun banyak dari ayat al-Qur’an meskipun membacanya dengan disengaja.

وَقاَلَ دَاوُدُ يَجُوْزُ لِلْجُنُبِ وَالْحَائِضِ قِرَاءَةُ كُلِّ اْلقُرْآنِ وَرُوِىَ هَذاَ عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ وَابْنِ الْمُسَيَّبِ قاَلَ اْلقَاضِىُّ أَبُوْ الطَّيِّبِ وَابْنُ الصَّباَغِ وَغَيْرُهُمَا وَاخْتاَرَهُ اِبْنُ الْمُنْذِرِ وَقاَلَ مَالِكٌ يَقْرَأُ اَلْجُنُبُ اْلآياَتِ اَلْيَسِيْرَةِ لِلتَّعَوُّذِ وَفِى الْحاَئِضِ رِوَايَتاَنِ عَنْهُ اَحَدَاهُمَا تَقْرَأُ وَالثَّانِيْ لاَ تَقْرَأُ وَقاَلَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ يَقْرَأُ الْجُنُبُ بَعْضَ آيَةٍ وَلاَ يَقْرَأُ آيَةً وَلَهُ رِوَايَةٌ كَمَذْهَبِناَ * وَاحْتَجَّ مَنْ جَوَّزَ مُطْلَقاً بِحَدِيْثِ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كاَنَ يَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى عَلىَ كُلِّ أَحْياَنِهِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ قَالُوْا وَالْقُرْآنُ ذِكْرٌ وَلِاَنَّ اْلاَصْلَ عَدَمُ التَّحْرِيْمِ  (المجموع، ج 2، ص 178)

Menurut Imam Dawud bagi orang junub dan wanita haid boleh membaca seluruh al-Qur’an hal ini diriwayatkan dari ibnu Abbas dan ibnu Musayyab, Qadhi Abu Tayyib, Ibnu Shabbah, dan yang lain, dan pendapat ini dipilih oleh Ibnu Mundzir. Malik berkata orang junub boleh membaca ayat-ayat pendek karena meminta perlindungan. Dan bagi orang yang haid ada dua pendapat,yang pertama boleh yang kedua tidak boleh. Abu Hanifah berpendapat: “orang junub boleh membaca sebagian ayat dan tidak boleh membaca satu ayat penuh” dan baginya satu riwayat seperti madzhab kita. Dan orang yang membolehkan secara mutlak itu berdasar-kan kepada hadits Siti A’isyah, sesungguhnya Nabi selalu berdzikir kepada Allah Swt. pada setiap saat, HR. Muslim,  mereka berpendapat al-Qur’an tersebut adalah merupakan dzikir dan karena pada asalnya tidak ada keharaman. (al-Majmu’, juz 2, hal. 178)

Hukum Orang Haid Membawa al-Qur’an

Sewaktu pelajaran BTQ (Baca Tulis al-Qur’an) siswa-siswi wajib membawa al-Qur’an, ketika itu ada salah seorang siswi sedang Haid. Sedangkan larangan bagi wanita yang Haid:

  1. Shalat
  2. Puasa
  3. Melewati masjid
  4. Diam di masjid
  5. Membawa atau menyentuh al-Qur’an
  6. Membaca al-Qur’an
  7. Thawaf

Bagaimanakah hukum seseorang yang sedang haid membawa al-Qur’an?  

  1. Tidak boleh membawa al-Qur’an, kecuali al-Qur’an tersebut ada didalam barang bawaan dan perempuan tersebut tidak bermaksud membawa al-Qur’an secara khusus.  Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Kifayah al-Akhyar, juz I, hlm. 77 dan al-Majmû’ Syarh al-Muhadzab, juz III, hlm. 283:

(لاَ يَمَسُّ اْلقُرْأَنَ اِلَّا طَاهِرٌ)، رَوَاهُ الدَّارُقُطْنِى عَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَإِذَا حَرُمَ مَسُّهُ فَحَمْلُهُ أَوْلَى إِلَّا اَنْ يَكُوْنَ فِى أَمْتِعَةٍ وَلَمْ يَقْصُدْ حَمْلُهُ بِخُصُوْصِهِ فَإِنْ فُرِضَ أَنَّهُ الْمَقْصُوْدُ حَرُمَ جَزَمَ بِهِ الرَّافِعِى ( كفاية الاخيار، ج 1، ص 77)

يَحْرُمُ عَلىَ الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ مَسُّ اْلمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ وَالْلُّبْثُ فِى اْلمَسْجِدِ (المجموع شرح المهذب، ج ۳، ص 283)

  • Tidak haram, diceritakan oleh Ibn Shalah bahwa ada pendapat yang tidak lazim yang mengatakan tidak haram secara mutlak memegang mushaf dalam keadaan hadats besar. Didalam kitab al-Tatimmah juga diceritakan oleh al-Ashabus al-Syafi’i tidak haram memegang mushaf kecuali hanya memegang lafadznya sebagaimana diterangkan dalam kitab Qulyubi wa ’Amirah, juz I, hlm. 35:

حَكَى اِبْنُ الصَّلَاحِ وَجْهًا غَرِيْباً بِعَدَمِ حُرْمَةِ مَسِّ اْلمُصْحَفِ مُطْلَقًا وَحُكِىَ فِى التَّتِمَّةِ وَجْهًا عَنِ اْلأَصْحَابِ أَنَّهُ لَايَحْرُمُ إِلَّا مَسَّ اْلمَكْتُوْبِ وَحْدَهُ لَا الْهَامِشَ وَلَا مَا بَيْنَ السُّطُوْرِ قَالَهُ الْاَسْنَوِى (قليوبى وعميرة، ج 1، ص 35)

Hukum Mempercepat atau Memperlambat Masa Haid

Haid merupakan kodrat kaum hawa, namun karena beberapa alasan seorang wanita ingin mempercepat atau memperlambat datang-nya haid. Sebagai contoh saat bulan Ramadhan tiba atau saat melak-sanakan ibadah haji, kedua momen ini adalah momen-momen penting yang sayang sekali jika sampai terlewatkan. Agar dapat berpuasa Ramadhan atau melaksanakan ibadah haji dengan lancar, seorang wanita memutuskan untuk mempercepat atau memperlambat masa haidnya, dengan cara mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menunda atau mempercepat datangnya haid. Dari permasalahan tersebut, bagaimana pandangan agama terhadap hukum menunda atau mem-percepat masa haid karena kepentingan tersebut?

  1. Tidak boleh, dengan syarat:
  2. Apabila penundaan tersebut bisa membahayakan kesehatan

لاَيَجُوْزُ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَمْنَعَ حَيْضَهَا أَوْ تَسْتَعْجِلَ إِنْزَالَهُ إِذَا كَانَ ذَلِكَ يَضُرُّ صِحَّتَهَا لِأَنَّ الْمُحَافَظَةَ عَلَى الصِّحَّةِ وَاجِبَةٌ (فتاوى الكبرى، ج 4، ص 200)

Tidak boleh bagi wanita mencegah haidnya atau mempercepatnya apabila membahayakan kesehatannya, karena menjaga kesehatan itu wajib. (Fatawi al-Kubra, juz 4, hal. 200)

  • Apabila penundaan masa haid tersebut bisa mencegah kehamilan:

أَفْتَى ابْنُ عَبْدِ السَّلاَمِ وَابْنُ يُوْنُسَ بِأَنَّهُ لاَيَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَسْتَعْمِلَ دَوَاءً يَمْنَعُ الْحَبْلَ وَلَوْ بِرِضَا الزَّوْجِ (بغية المسترشدين، ص 247)

Ibnu ‘Abdis Salam dan Ibnu Yunus berfatwa sesungguhnya tidak halal bagi wanita menggunakan obat untuk mencegah kehamilan meskipun suaminya rela. (Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 247)

  • Boleh, apabila tidak membahayakan kesehatan dan tidak mencegah atau memutus kehamilan, sebagaimana keterangan di bawah ini:

وَفِى فَتَاوِى الْقُمَّاط مَا حَصَلَهُ جَوَازُ اسْتِعْمَالِ الدَّوَاءِ لِمَنْعِ الْحَيْضِ (تلخيص المراد فتاوي، ص 247)

Dalam fatwa al-Qimathi terdapat keterangan yang kesimpulannya bahwa diperolehkan menggunakan obat untuk mencegah haid. (Talkhis al-Murod al-Fatawi, hal. 247)

Bagian Anggota Tubuh yang Terlepas bagi Orang yang Hadats Besar

Ketika seseorang yang sedang dalam keadaan hadats besar (junub) dan belum bersuci, sementara sebagian anggota tubuh ada yang lepas dari tubuhnya seperti rambut, kuku atau yang lainnya, apakah anggota tubuh yang putus tersebut wajib disucikan bersama dengan membasuh anggota badan yang sudah lepas seperti rambut, kuku dan lain-lain yang terlepas pada saat dalam kondisi hadats besar?

  1. Menurut Imam Ghazali, sebaiknya membasuhnya, karena bila anggota badan tersebut tidak dibasuh maka di akhirat akan dikembalikan dalam keadaan hadats.

وَاَمَّا قَوْلُ صَاحِبُ اْلاِحْياَءِ وَسَائِرُ أَجْزاَ الْجُنُبِ تُرَدُّ اِلَيْهِ فِي اْلأَخِرَةِ فَيَعُوْدُ اَىْ مَااُزِيْلَ قَبْلَ اْلغُسْلِ جُنُباً (القليوبي، ج 1، ص 67)

Imam ghozali berpendapat: bagian-bagian anggota tubuh (yang terlepas) yang masih menanggung junub diakhirat akan dikembalikan dalam kondisi menanggung junub (hadats). (al-Qolyubi, juz 1, hal. 67)

  • Menurut syekh Zainuddin bin Abd al-Aziz al-Malibari, tidak wajib membasuh anggota badan yang sudah lepas, hanya diwajibkan pada anggota yang dzahir atau yang melekat saja.

(وَ) ثاَنِيْهِمَا (تَعْمِيْمُ) ظَاهِرُ (بَدَنٍ حَتىَّ) َاْلأَظْفاَرَ وَماَ تَحْتَهاَ وَ (الشَّعْرَ) ظَاهِرًا وَباَطِناً وَإِنْ كَثِفَ وَماَ ظَهَرَ مِنْ نَحْوِ مَنْبَتِ شَعْرَةٍ زَالَتْ قَبْلَ غَسْلِهاَ

Syarat yang kedua yaitu meratakan air pada seluruh anggota dzohir badan hingga kuku dan di bagian bawahnya, rambut bagian luar dan dalam, yakni tempat tumbuhnya rambut yang telah lepas sebelum mandi. (Fath al-Mu’in, hal. 10)

Sengaja Memotong Bagian Anggota Badan  pada saat Sedang Hadats Besar

Bagaimana hukumnya orang yang sedang junub (hadats besar), kemudian sengaja memotong rambut, kuku atau anggota tubuh yang lainnya?

  1. Makruh hukumnya bagi orang yang mempunyai hadats besar sengaja memotong bagian anggota badan, karena di akhirat nanti bagian yang dipotong akan dikembalikan dalam keadaan hadats besar. (I’anah at-Thalibin, juz 1, hal.79)

(قَوْلُهُ وَيَنْبَغِيْ أَنْ لا يَزِيْلُوْا إِلَخْ) قَالَ فِي الْإِحْيَاءِ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُقَلِّمَ أَوْ يَحْلِقَ أَوْ يَسْتَحِدَّ أَوْ يُخْرِجَ دَمًا أَوْ يُبَيِّنَ مِنْ نَفْسِهِ جُزْءًا وَهُوَ جُنُبٌ إِذْ يُرَدُّ إِلَيْهِ سَائِرُ أَجْزَائِهِ فِي اْلآخِرَةِ فَيَعُوْدُ جُنُباً وَيُقاَلُ إِنَّ كُلَّ شَعْرَةٍ تُطَالِبُ بِجِناَبَتِهَا اهـ

  • Boleh hukumnya melakukan hal di atas dalam kondisi hadats besar.

وَمَنْ لَزِمَهُ غُسْلٌ يُسَنُّ لَهُ اَنْ لاَّ يُزِيْلَ شَيْأً مِنْ بَدَنِهِ وَلَوْدَمًا أَوْشَعْرًا أَوْظَفَرًا حَتَّى يَغْسِلُ لِأَنَّ كُلَّ جُزْءٍ يَعُوْدُ لَهُ فِى اْلاَخِرَةِ فَلَوْ إِزَلَهُ قَبْلَ اْلغُسْلِ عَادَ عَلَيْهِ الْحَدَثُ اْلأَكْبَرُ تَبْكِيْتاً لِلشَّخْصِ (نهاية الزين، ص 31)

Hukum Mengqadha’ Shalat dan Puasa bagi Perempuan Haid dan Nifas

Sudah menjadi kebiasaan bagi kaum hawa mengeluarkan darah yang dikenal dengan istilah haid atau menstruasi. Ada juga darah yang keluar setelah proses persalinan yang dikenal dengan istilah nifas (keterangan lebih lengkap temukan di kitab Risalah al-Mahîd). Selama masa haid dan nifas perempuan tidak diperkenankan untuk melakukan beberapa ibadah tertentu, termasuk shalat dan puasa.

Jika puasa yang ditinggalkan,maka perempuan diwajibkan untuk mengganti (mengqadha’) puasa tersebut pada hari lain dimana wanita tidak mengalami masa haid (masa suci).Bagaimanakah hukum shalat lima waktu yang ditinggalkan selama masa haid dan nifas?

Perempuan yang haid atau nifas tidak memiliki kewajiban untuk mengqhada’ shalat yang ditinggalkan.Tapi jika yang ditinggalkan adalah puasa maka wajib mengqhada’nya di lain hari. Seperti keterangan dalam kitab al-Muhadzab, juz I, hlm. 177:

فَصْلٌ فِي صَوْمِ الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ  وَأَمَّا الْحَائِضُ وَالنُّفَسَاءُ فَلاَ يَجِبُ عَلَيْهِمَا الصَّوْمُ لِأَنَّهُ لَا يَصِحُّ مِنْهُمَا فَإِذَا طَهَرْتَا وَجَبَ عَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ لِمَا رُوِيَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ فِي الْحَيْضِ كُنَّا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ فَوَجَبَ الْقَضَاءُ عَلَى الْحَائِضِ بِالْخَبَرِ وَقِسْنَا النُّفَسَاءَ عَلَيْهَا لِأَنَّهَا فِي مَعْنَاهَا فَإِنْ طَهَرَتْفِي أَثْنَاءِ النَّهَارِ سَتَجِبُ لَهَا أَنْ تَمْسَكَ بَقِيّةَ النَّهَارِ(المهذب،ج 1، ص 177 المكتبة الشاملة)

Usia Perempuan Menopause (Ayisah)

Menopause adalah masa dimana perempuan sudah berhenti mengalami haid. Dalam istilah fiqih, perempuan yang mengalami menopause disebut dengan ayisah (أيسة). Dalam tinjauan kedokteran, kebanyakan perempuan yang telah berusia 40 tahun mengalami menopause. Akan tetapi, ada para wanita yang meskipun usia mereka sudah lebih dari 40 tahun masih tetap mengeluarkan darah kewanitaan (haid).

Bagaimana pandangan fiqih tentang batas minimal perempuan mulai mengalami masa menopause (sinn al-ya’s)?

Tentang usia permulaan menopause, para ulama berbeda pendapat, sebagaimana keterangan dari kitab Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar al-Khalîl, juz I, hlm. 540:

  1. Menurut pendapat Ibn Sya’ban, usia mulai menopouse adalah 50 tahun.
  2. Menurut pendapat Ibn Syas dan Imam Malik usia mulai menopouse adalah 70 tahun.
  3. Menurut pendapat Ibn Rusyd usia mulai menopouse adalah 60 tahun.

وَأَمَّا الْآيِسَةُ فَاخْتُلِفَ فِيْ ابْتِدَاءِ سِنِّ الْيَأْسِ فَقَالَ اِبْنُ شَعْبَانَ خَمْسُوْنَ قَالَ اِبْنُ عَرَفَةَ: وَلَمْ يَحْكِ الْبَاجِي غَيْرَهُ قَالَ الْأُبَيْ فِيْ شَرْحِ مُسْلِمٍ وَهُوَ الْمَعْرُوْفُ فِيْ سِنِّهَا وَوَجْهُ قَوْلِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اِبْنَةُ خَمْسِيْنَ عَجُوْزٌ فِي الْغَابِرِيْنَ وَقَوْلِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا كُلُّ امْرَأَةٍ تُجَاوِزُ خَمْسِيْنَ سَنَةً فَتَحِيْضُ إِلَّا أَنْ تَكُوْنَ قَرْشِيَّةً وَقَالَ اِبْنُ شَاسٍ سَبْعُوْنَ وَقَالَ فِيْ التَّوْضِيْحِ: وَقَالَ اِبْنُ رُشْدٍ: وَالسِّتُّوْنَ وَقَالَ اِبْنُ حَبِيْبٍ: يُسْأَلُ النِّسَاءُ وَرُوِيَ عَنْ مَالِكٍ وَقَالَ الْأُبَيْ وَفِي الْمَدُوْنَةِ بِنْتُ السَّبْعِيْنَ آيِسٌ وَغَيْرُهَا يُسْأَلُ النِّسَاءُ (مواهب الجليل لشرح مختصر الخليل، ج 1، ص 540)

( قوله وهو ) أَيْ سِنُّ الْيَأْسِ وَقَوْلُهُ اِثْنَتَانِ وَسِتُّوْنَ سَنَةً الخ عِبَارَةُ النِّهَايَةِ وَحُدُوْدُهُ بِاعْتِبَارِ مَا بَلَّغَهُمْ بِاثْنَتَيْنِ وَسِتِّيْنَ سَنَةً وَفِيْهِ أَقْوَالٌ أَخَرُ أَقْصَاهَا خَمْسٌ وَثَمَانُوْنَ سَنَةً وَأَدْنَاهَا خَمْسُوْنَ (اعانة الطالبين، ج 4، ص 41)

Hukum Darah yang Keluar dari Perempuan Menopause (Ayisah)

Bagaimana pandangan fiqih tentang darah kewanitaan yang keluar pada masa-masa menopause tersebut?

  1. Darah tersebut dihukumi istihadhah (darah penyakit), bukan darah fasad (darah rusak).

(وَالَّذِيْ يَخْرُجُ مِنَ الْفَرْجِ) أَيْ قُبُلِ الْمَرْأَةِ مِمَّا تَتَعَلَّقُ بِهِ الْأَحْكَامُ مِنَ الدِّمَاءِ (ثَلَاثَةُ دِمَاءٍ) فَقَطْ وَأَمَّا دَمُ الْفَسَادِ الْخَارِجِ قَبْلَ التِّسْعِ وَدَمُ الْآيِسَةِ فَلَا يَتَعَلَّقُ بِهِ حُكْمٌ وَالْأَصَحُّ أَنَّهُ يُقَالُ لَهُ دَمُ اِسْتِحَاضَةٍ وَدَمُ فَسَادٍ (الإقناع للشربيني، ج 1، ص 95)

  • Darah tersebut dihukumi darah fasad, bukan istihadhah.

قَوْلُهُ: ( سَوَاءٌ أَخَرَجَ إثْرَ الْحَيْضِ إلَخْ ) شَامِلٌ لِمَا تَرَاهُ الصَّغِيرَةُ وَالْآيِسَةُ، وَقِيلَ إنَّ الْمُسْتَحَاضَةَ هِيَ الَّتِي يُجَاوِزُ دَمُهَا أَكْثَرَ الْحَيْضِ وَيَسْتَمِرُّ، وَعَلَيْهِ فَدَمُ الْآيِسَةِ وَالصَّغِيرَةِ يُسَمَّى دَمَ فَسَادٍ لَا اسْتِحَاضَةٍ اهـ  اج (حاشية البجيرمي، ج 3، ص 215)

  • Jika darah yang keluar dari perempuan menopause itu tidak kurang dari sehari-semalam, maka darah tersebut dihukumi darah haid, dan jika lebih dari kebiasaan haidnya, maka dihukumi istihadhah.

أَقُوْلُ وَقَدْ يَتَوَقَّفُ فِيْ قَوْلِهِ مَشْكُوْكٌ فِيْهِ مَعَ قَوْلِهِمْ أَنَّ الْآيِسَةَ إِذَا رَأَتْ دَمًا لَمْ يَنْقُصْ عَنْ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ حُكِمَ بِأَنَّهُ حَيْضٌ فَمَا مَعْنَى كَوْنِهِ مَشْكُوْكًا فِيْهِ مَعَ أَنَّ هَذَا لَوْ وُجِدَ مِثْلُهُ لِغَيْرِالْآيِسَةِ لَمْ يُجْعَلْ مَشْكُوْكًا فِيْهِ بَلْ يُحْكَمُ بِأَنَّهُ حَيْضٌ بِالنِّسْبَةِ لِقَدْرِ عَادَتِهَا وَيُحْكَمُ لِمَا زَادَ بِأَنَّهُ اِسْتِحَاضَةٌ إِلَّا أَنْ يُقَالَ لَمَّا خَالَفَتْ مَنْ ثَبَتَ لَهُنَّ بِالْاِسْتِقْرَاءِ الْيَأْسُ فِيْ هَذِهِ الْمُدِّ أَوْ وَرَثْنَا الشَّكَّ فِيْمَا رَأَتْهُ مِنَ الدَّمِ حَيْثُ جَاوَزَ الْاَكْثَرَ ع ش قوله: (عَلَى جَمِيْعِهِ) أَيْ عَلَى قَدْرِ الْعَادَةِ وَمَا زَادَ عَلَيْهِ وقوله: (بِذَلِكَ) أَيْ بِأَنَّهُ دَمُ فَسَادٍ وقوله: (وَإِلَّا) أَيْ بِأَنْ أَرَادُوْا الْحُكْمَ بِذَلِكَ عَلَى مَا زَادَ عَلَى قَدْرِ الْعَادَةِ (حواشي الشرواني والعبادي، ج 1، ص 405)

Keterangan tambahan:

  • Jumlah waktu minimal haid adalah sehari semalam (24 jam)
  • Jumlah waktu maksimal haid adalah 15 hari (24 jam x 15 = 360 jam)
  • Darah istihadhah (fasad) adalah darah yang keluar bukan pada masa-masa haid dan nifas.

(قَوْلُهُ بِدُوْنِ سِتَّةَ عَشَرَ يَوْمًا) أَيْ بِمَا لَايَسَعُ حَيْضًا وَطُهْرًا فَإِنْ رَأَتْهُ بِمَا يَسَعُهُمَا فَلَيْسَ بِحَيْضٍ بَلْ هُوَ دَمُ فَسَادٍ (قوله وَأَقَلُّهُ) أَيِ الْحَيْضِ وَقَوْلُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ أَيْ قَدْرُهُمَا مَعَ اتِّصَالِ الْحَيْضِ وَهُوَ أَرْبَعٌ وَعِشْرُوْنَ سَاعَةً. وَالْمُرَادُ بِالْاِتِّصَالِ أَنْ يَكُوْنَ نَحْوَ الْقُطْنَةِ بِحَيْثُ لَوْ أُدْخِلَ تَلَوَّثَ وَإِنْ لَمْ يَخْرُجْ الدَّمُ إِلَى مَا يَجِبُ غَسْلُهُ فِي الْاِسْتِنْجَاءِ (قَوْلُهُ وَأَكْثَرُهُ) أَيْ الْحَيْضِ وَقَوْلُهُ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا أَيْ بِلَيَالِيْهَا وَإِنْ لَمْ يَتَّصِلْ لَكِنْ بِشَرْطٍ أَنْ تَكُوْنَ أَوْقَاتُ الدِّمَاءِ مَجْمُوْعُهَا أَرْبَعٌ وَعِشْرُوْنَ سَاعَةً فَإِنْ لَمْ يَبْلُغْ مَجْمُوْعُهَا مَا ذُكِرَ كَانَ دَمُ فَسَادٍ (إعانة الطالبين، ج 1، ص 72)

وَحَاصِلُ ذَلِكَ أَنَّ الْاِسْتِحَاضَةَ هِيَ الدَّمُا الْخَارِجُ فِيْ غَيْرِ أَوْقَاتِ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ بِأَنْ خَرَجَ قَبْلَ تِسْعِ سِنِيْنَ أَوْ بَعْدَهَا وَنَقَصَ عَنْ قَدْرِ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ وَبِأَنْ زَادَ عَلَى خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا بِلَيَالِيْهَا أَوْأَتَى قَبْلَ تَمَامِ أَقَلِّ الطُّهْرِ أَوْ مَعَ الطَّلَقِ وَلَمْ يَتَّصِلْ بِحَيْضٍ قَبْلَهُ (إعانة الطالبين، ج 1، ص 74)

Pengertian Darah Istihadhoh

Kaum wanita wajib mengetahui tentang hukum-hukum haid, nifas dan istihadhah.

Darah istihadhah adalah darah yang keluar sebelum waktu baligh atau darah yang keluar melebihi dari batas maksimal haid, dan darah-darah yang keluar selain masa-masa haid dan nifas. Sebagaimana keterangan dari kitab al-Bajûri, juz I, hlm. 112, dan Kifayah al-Akhyar hlm. 75:

وَاَقَلُّ زَمَنٍ تَخْيِضُ فِيْهِ الْمَرْاَةُ وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ الْجَارِيَةُ تِسْعُ سِنِيْنَ قَمَرِيَّةَ فَلَوْ رَاَتْهُ قَبْلَ تَمَامِ التِسْعِ بِزَمَنٍ يَضِيْقُ عَنْ حَيْضٍ وَطُهْرٍ فَهُوَ حَيْضٌ وَاِلَّا فَلَا (الباجوري، ج 1، ص ۱۱۲)

إِلَّا أَنَّهُ خَرَجَ فِي غَيْرِ أَوْقَاتِ الْحَيْضِ لِمَرِضٍ أَوْ فَسَادٍ مِنْ عِرْقِ فَمِّهِ فِي أَدْنَى الرَّحِمِ يُسَمَّى الْعَاذِلَ بِالذَّالِ الْمُعْجَمَةِ وَ يُقَالُ بِالْمُهْمَلَةِ فَهُوَ اِسْتِحَاضَةُ وَمَا عَدَا هَذِهِ الدِّمَاءَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْفَرْجِ فَهُوَ دَمُّ فَسَادٍ كَالْخَارِجِ قَبْلَ سِنِّ الْبُلُوْغِ وَاللهُ أَعْلَمْ (كفاية الأخيار، ج  1، ص. 75)

Melahirkan Melalui Jalan Operasi, Adakah Kewajiban Mandi?

Proses melahirkan terkadang tidak dapat dilakukan secara normal demi menjaga keselamatan sang ibu dan jabang bayi. Sehingga diperlukan proses operasi pembedahan (cesar).

Bagaimanakah pandangan fiqih tentang perempuan yang melahirkan melalui proses operasi? Apakah ada kewajiban mandi bagi perempuan tersebut?

  1. Wajib menurut al-Ramli.
  2. Menurut sebagian ulama’ hukumnya diperinci:
  3. Wajib, jika tertutupnya farji itu cacat sejak lahir
  4. Tidak wajib, jika tertutupnya farji itu tidak cacat sejak lahir.

Hal di atas sesuai dengan yang dijelaskan dalam kitab Hawasyi al-Syarwani wa Ibn al-Qasim wa al-‘Ubadi, juz I, hlm. 423 dan kitab al-Bajurî, juz, I hlm. 74:

وَلَوْ وَلَدَتْ مِنْ غَيْرِ الطَّرِيْقِ الْمُعْتَادِ فَالَّذِيْ يَظْهَرُ وُجُوْبُ الْغُسْلِ أَخْذًا مِمَّا بَحَثَهُ الرَّمْلِي فِيْمَا لَوْ قَالَ إِنْ وَلَدَتْ فَأَنْتَ طَالِقٌ فَوَلَدَتْ مِنْ غَيْرِ طَرِيْقَةِ الْمُعْتَادِ وَقَالَ بَعْضُهُمْ قَدْ يَتَّجَهُ عَدَمُ الْوُجُوْبِ لِاَنَّ عِلَّتَهُ أَنَّ الْوَلَدَ مَنِيٌّ مُنْعَقِدٌ وَلَا عِبَرَةَ بِخُرُوْجِهِ مِنْ غَيْرِ طَرِيْقَةِ الْمُعْتَادِ مَعَ انْفِتَاحِ الْاَصْلِي وَرَدَ بِأَنَّ الْوِلَادَةَ نَفْسَهَا صَارَتْ مُوْجِبَةٌ لِلْغُسْلِ فَهِيَ غَيْرُ خُرُوْجِ الْمَنِيِّ اه وَقَوْلُهُ فَالَّذِيْ يَظْهَرُ الخ أي وَفَاقَا لِلشَّوْبَرِيْ وَالْمُدَابَغِي وَقَوْلُهُ وَقَالَ بَعْضُهُمْ الخ وَهُوَ القَلْيُوْبِيْ وَيُوَافِقُهُ قَوْلُ الشِّبْرَامُلِسِيْ وَالْاَطْفِيَحِي وَيَنْبَغِي أَنْ يَأْتِيَ فِيْهِ مَا تَقَدَّمَ مِنَ التَّفْصِيْلِ فِي اِنْسِدَادِ الْفَرْجِ بَيْنَ الْاَصْلِيِّ وَالْعَارِضِ فَإِنْ كَانَ الْاِنْسِدَادُ أَصْلِيًّا قِيْلَ لَهَا وِلَادَةٌ وَكَانَتْ مُوْجِبَةٌ لِلْغُسْلِ وَإِلَّا فَلَا .(حواشى الشروانى وابن القاسم و العباد، ج 1، ص 423

Citation

Santri Pondok Pesantren demo: Version 1.0. In: OES demo. Published by Pondok Pesantren demo, Pasuruan, Indonesia,