Ilmu dan Al Quran
- Version 1.0
- Published Monday, October 16, 2023
Table of Contents
Hukum Mengeraskan Bacaan al-Qur’an bagi Wanita di Hadapan Khalayak Umum
Setiap tahun di Pondok Pesantren demo, ketika merayakan acara Haflah Akhirussanah diadakan lomba qiro’ah dan pidato yang diikuti oleh santri putra dan putri. Bagi santri putra sudah tidak ada keraguan lagi dalam hukum fiqih mengenai hukum suaranya. Namun bagi santri putri ini bagaimanakah hukum mengikuti lomba tersebut, karena ada sebagian pendapat yang mengatakan suara perempuan itu termasuk aurot, sedangkan lomba tersebut memakai pengeras suara (sound system), bertempat di atas panggung dan disaksikan oleh seluruh santri dan masyarakat sekitar.
Dari keterangan tersebut di atas, bagaimanakah hukum seseorang perempuan/wanita mengeraskan suaranya ketika membaca al-Qur’an (qiro’ah) atau berpidato dengan menggunakan alat pengeras suara di hadapan khalayak ramai?
- Haram, apabila menimbulkan fitnah atau menimbulkan rasa ladzat atau syahwat.
- Boleh, apabila tidak menimbulkan fitnah atau tidak menimbulkan rasa ladzat atau syahwat, karena suara orang perempuan bukan termasuk aurat menurut pendapat yang lebih shahih.
Hal ini diterangkan dalam kitab I’anah al-Thalibin juz 3, hal. 260.
وَلَيْسَ مِنَ العَوْرَةِ الصَّوْتُ فَلاَ يَحْرُمُ سِمَاعُهُ إِلاَّ إَنْ خُشِيَ مِنْهُ فِتْنَةٌ أَوِ التَّلَذُّذُ بِهِ أَىْ فَإِنَّهُ يَحْرُمُ سِمَاعُهُ أَىْ وَلَوْ بِنَحْوِ قُرْأَنٍ. وَمِنَ الصَّوْتِ اَلزَّغاَرِيْدُ (إعانة الطالبين، ج 3 ص 260)
Suara perempuan tidak termasuk aurat, maka tidak haram mendengarkannya, kecuali jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah atau laki-laki menikmati suaranya, maksudnya haram bagi laki-laki untuk mendengarkannya, walaupun yang dibaca itu al-Qur’an. Dengungan nada tanpa kata-kata (rengeng-rengeng) juga termasuk suara.
وَفِي الْبُجَيْرَمِىِّ وَصَوْتُهَا لَيْسَ بِعَوْرَاةٍ عَلىَ اْلأَصَحِّ لَكِنْ يَحْرُمُ اْلإِصْغاَءُ إِلَيْهِ عِنْدَ خَوْفِ اْلفِتْنَةِ وَإِذَا قَرَعَ باَبَ اْمرَأَةٍ أَحَدٌ فَلاَ تُجِيْبُهُ بِصَوْتٍ رَخِيْمٍ بَلْ تُغَلِّظُ صَوْتَهَا بِأَنْ تَأْخُذَ طَرَفَ كََفِّهَا بِفِيْهَا. اهـ (إعانة الطالبين، ج 3 ص 260)
Suara perempuan bukanlah aurat menurut pendapat yang lebih shahih, tetapi haram mendengarkannya ketika akan menimbulkan fitnah. Apabila seorang laki-laki mengetuk pintu rumah perempuan, maka perempuan tersebut tidak boleh menjawabnya dengan suara yang lembut, melainkan ia harus menjelekkan suarannya dengan cara menutupkan ujung telapak tangannya pada mulutnya.
Hukum Mengikuti Selain 4 Madzhab (Hanafi, Hambali, Maliki, Syafi’i)
Dikalangan Ahlussunnah wal Jama’ah diharuskan untuk mengikuti salah satu dari 4 madzhab (Hanafi, Hambali, Maliki, Syafi’I). Bagaimana hukum mengikuti selain 4 madzhab?
- Tidak boleh, menurut Ibnu Shalah
نَقَلَ اِبْنُ الصَّلاَحِ الْإِجْمَاعَ عَلَى أَنَّهُ لَايَجُوْزُ تَقْلِيْدُ غَيْرِ الَأَئِمَّةِ اْلأَرْبَعَةِ أَيْ حَتَّى الْعَمَلَ لِنَفْسِهِ فَضْلاً عَنِ الْقَضَاءِ وَاْلفَتْوَى لِعَدَمِ الثِّقَّةِ بِنِسْبَتِهَا لِأَرْبَابِهَا بِأَسَانِيْدَ تَمْنَعُ التَّحْرِيْفَ وَالتَّبْدِيْلَ (بغية المسترشدين، ص ۸)
- Boleh, dengan syarat digunakan untuk dirinya sendiri (tidak untuk berfatwa dan menghukumi)
وَبِهَذَا يُقَيَّدُ قَوْلُ السُّبْكِيّ يَجُوزُ تَقْلِيدُ غَيْرِ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ فِي الْعَمَلِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ لَا فِي الْإِفْتَاءِ وَالْحُكْمِ إجْمَاعًا كَمَا قَالَهُ ابْنُ الصَّلَاحِ ا هـ )تحفة المحتاج في شرح المنهاج، ج 29، ص 424، المكتبة الشاملة)
Hukum Menulis al-Qur’an dengan Benda Najis
Bagaimana hukum menulis, mencetak al-Qur’an dengan benda najis? bahwa hal tersebut dihukumi haram. Sebagimana diterangkan dalam kitab Hasyiah al-Jamal ‘Ala Syarh al-Minhaj, juz I, hlm. 126:
وَتَحْرُمُ كِتَابَةُ مُصْحَفٍ بِنَجَسٍ وَمَسُّهُ بِعَضْوِ نَجْسٍ وَالسَّفَرُ بِهِ إِلَى بِلَادِ الْكُفْرِ (حاشية الجمل على شرح المنهج، ج ١، ص ١26)
Hal ini juga dijelaskan di dalam kitab Syarh al-Minhaj, juz I, hlm. 79 dan Fath al-Wahab, juz I, hlm. 19.
Qira’ah Sab’ah
Dalam hal membaca al-Qur’an, sudah sering kita mendengar 7 bacaan al-Qur’an atau yang lebih umum disebut dengan “Qira’ah Sab’ah”. Namun banyak di antara kita yang belum mengetahui sejarahnya, perbedaan cara baca dalam Qira’ah Sab’ah dan siapa saja imamnya?
Berikut adalah kronologi, perbedaan Qira’ah Sab’ah dan imam-imam Qira’ah Sab’ah. Kronologis Qira’ah Sab’ah yang diterangkan dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz I, hlm. 123:
وَرَوَى مُسْلِمٌ بِسَنَدِهِ عَنْ أُبَىْ بِنْ كَعْبٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ عِنْدَ أَضَاةِ بَنِى غِفَّارٍ، فَأَتَاهُ جِبْرِيْلُ- عَلَيْهِ السَّلَامَ- فَقَالَ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكَ أَن تَقْرَئَ أُمَّتُكَ اَلْقُرْاَنَ عَلَى حَرْفٍ، فَقَالَ: أَسْأَلُ اللهَ مُعَافَاتَهُ وَمَغْفِرَتَهُ، وَإِنَّ أُمَّتِى لَا تُطِيْقُ ذَلِكَ، ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَّةَ، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَقْرَئَ أُمَّتُكَ الْقُرْاَنَ عَلَى حَرْفَيْنٍ فَقَالَ: أَسْأَلُ اللهَ مُعَافَاتَهُ وَمَغْفِرَتَهُ، وَإِنَّ أُمَّتِى لَا تُطِيْقُ ذَلِكَ، ثُمَّ جَاءَ الثَّالِثَةَ، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَقْرَئَ أُمَّتُكَ الْقُرْاَنَ عَلَى ثَلَاثَةِ أحَرُفٍ، فَقَالَ: أَسْأَلُ اللهَ مُعَافَاتَهُ وَمَغْفِرَتَهُ، وَإِنْ أُمَّتِى لَا تُطِيْقُ ذَلِكَ، ثُمَّ جَاءَ الرَّابِعَةَ، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَقْرَئَ أُمَّتُكَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ، فَأَيْنَمَا حَرْفٌ قَرَءُوْا عَلَيْهِ، فَقَدْ أَصَابُوْا (المجموع شرح المهذب, ج ١، ص.١٢٣)
Diriwayatkan oleh muslim dengan sanad dari abi Ka’ab: sesungguhnya rasullullah saw ketika berada di tanah bani guffar, datanglah malaikat Jibril dan berkata: sesungguhnya Allah perintah kepadamu supaya ummatmu membaca al-Qur’an dalam satu huruf(cara), nabi menjawab: aku mohon kepada Allah kesehatan dan pengampunannya, sesungguhnya ummatku tidak kuasa. Kemudian malaikat jibril datang untuk kedua kalinya dan berkata: sesungguhnya Allah perintah kepadamu supaya ummatmu membaca al-Qur’an dalam dua huruf (cara), nabi menjawab: aku mohon kepada Allah kesehatan dan pengampunannya, sesungguhnya ummatku tidak kuasa. Kemudian malaikat jibril datang untuk ketiga kalinya dan berkata: sesungguhnya Allah perintah kepadamu supaya ummatmu membaca al-Qur’an dalam tiga huruf (cara), nabi menjawab: aku mohon kepada Allah kesehatan dan pengampunannya, sesungguhnya ummatku tidak kuasa. Kemudian malaikat jibril datang untuk keempat kalinya dan berkata: sesungguhnya Allah perintah kepadamu supaya ummatmu membaca al-Qur’an dalam tujuh huruf (cara), maka bacaan manapun yang kamu bisa, lakukanlah.
Perbedaan tujuh huruf dalam Qira’ah Sab’ah
Banyak perbedaan pendapat tentang makna أَحْرُف dalam Qira’ah Sab’ah. Berikut ini adalah beberapa letak perbedaan ketujuh huruf yang berada dalam Qira’ah Sab’ah diterangkan dalam kitab al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 220-221:
- Dilihat dari segi perbedaan bahasa. Maksudnya adalah perbedaan tujuh bahasa itu adalah dari golongan bani Quraisy, Hudzail, Tsaqif, Hawazin, Kinanah, Tamim, dan Yaman.
ذَهَبَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ إِلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِهَا سَبْعُ لُغَاتٍ مِنْ لُغَاتِ الْعَرَبِ فِى الْمَعْنَى الْوَاحِدِ. عَلَى مَعْنَى أَنَّهُ حَيْثُ تَخْتَلِفَ لُغَاتُ الْعَرَبِ فِى التَّعْبِيْرِ فِى مَعْنًى مِنَ الْمَعَانِى يَأْتِي الْقُرْآنُ بِأَلْفَاظٍ عَلَى قَدْرِ هَذِهِ اللُّغَاتِ وَإِذَا لَمْ يَكُنْ اِخْتِلَافٌ فَإِنَّهُ يَأْتِي بِلَفْظٍ وَاحِدٍ وَقِيْلَ: إِنَّ السَّبْعَةَ هِيَ لُغَةُ قُرَيْشٍ وَهُذَيْلٍ وَثَقِيْفٍ وَهَوَازِنَ وَكِنَانَةٍ وَتَمِيْمٍ وَالْيَمَنِ (التبيان فى علوم القرأن، ص ٢٢۰)
- Dilihat dari segi menentukan kandungan makna yang terdapat dalam al-Qur’an, yaitu tentang perintah, larangan, halal, haram, nasehat, perumpamaan, dan hujjah.
أَنَّ الْمُرَادَ بِالْأَحْرُفِ السَّبْعَةِ الَّتِي نُزِلَ عَلَيْهَا الْقُرْآنُ، سَبْعَةُ أَصْنَافٍ فِي الْقُرْآنِ، إِنَّهَا أَمْرٌ، وَنَهْيٌ، وَحَلَالٌ، وَحَرَامٌ، وَمَوَاعِظٌ، وَأَمْثَالٌ، وَاحْتِجَاجٌ (التبيان فى علوم القرآن، ص ٢٢١)
- Perbedaan dilihat dari makna kata, seperti beberapa kata yang berbeda akan tetapi memiliki makna yang sama.
أَنَّ الْمُرَادَ بِالْأَحْرُفِ السَّبْعَةِ أَوْجُهٍ مِنَ الْأَلْفَاظِ الْمُخْتَلِفَةِ فِى كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ وَمَعْنًى وَاحِدٍ نَحْوُ هَلُمَّ، وَأَقْبِلْ، وَتَعَالَ، وَعَجِّلْ، وَأَسْرِعْ، وَقَصْدِيْ، وَنَحْوِيْ. فَهَذِهِ الْأَلْفَاظُ السَّبْعَةُ مَعْنَاهَا وَاحِدٌ هُوَ طَلَبُ الْإِقْبَالِ(التبيان فى علوم القرأن، ص ٢٢١)
- Menurut pendapat Abu al-Fadhal al-Râzî, bahwasannya perbedaan dalam Qiraah Sab’ah itu terdapat dalam tujuh hal:
- Perbedaan kata benda (isim) yang meliputi bentuk tunggal, tatsniyah (makna dua), jamak, jenis kata laki-laki dan perempuan.
- Perbedaan pada bentuk tashrif (derivasi, perubahan) kata kerja, dari kata kerja madhi (lampau), mudhari’ (sekarang/masa depan), dan amar (perintah).
- Perbedaan bentuk-bentuk i’rab.
- Perbedaan dengan adanya pengurangan pada kata atau penambahan.
- Perbedaan dengan adanya kata atau kalimat yang didahulukan atau diakhirkan.
- Perbedaan pada penggantian huruf.
- Perbedaan logat, seperti fathah, bacaan imalah (miring), tarqiq (tipis), tafkhim (tebal), izhar (jelas), idgham (memasukkan huruf), dan lain sebagainya.
وَنَحْنُ نَنْقِلُ خُلَاصَةَ هَذَا الْمَهْذَبِ مِنْ كَلَامِ أَبِي الْفَضَلِ الرَّازِي فِي اللَّوَائِحِ حَيْثُ يَقُوْلُ: الْكَلَامُ لَا يَخْرُجُ عَنْ سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فِي الْاِخْتِلَافِ. الْأَوَّلُ: اِخْتِلَافُ الْأَسْمَاءِ مِنْ إِفْرَادٍ، وَتَثْنِيَةٍ، وَجَمْعٍ، وَتَذْكِيْرٍ، وَتَأْنِيْثٍ. الثَّانِي: اِخْتِلَافُ تَصْرِيْفِ الْأَفْعَالِ، مِنْ مَاضٍ، وَمُضَارِعٍ، وَأَمْرٍ. الثَّالِثُ: اِخْتِلَافُ وُجُوْهِ اْلإِعْرَابِ. الرَّابِعُ: الْاِخْتِلَافُ بِالنَّقْصِ وَالزِّيَادَةِ. الْخَامِسُ: الْاِخْتِلَافُ بِالتَّقْدِيْمِ وَالتَّأْخِيْرِ. السَّادِسُ: الْاِخْتِلَافُ بِالْإِبْدَالِ. السَّابِعُ: اِخْتِلَافُ اللُّغَاتِ (يَعْنِي اللَّهْجَاتِ) كَالْفَتْحِ وَالْإِمَالَةِ، وَالتَّرْقِيْقِ وَ التَّفْخِيْمِ، وَالْإِظْهَارِ وَالْإِدْغَامِ وَنَحْوُ ذَلِكَ أهـ (التبيان فى علوم القرأن، ص ٢٢٤-٢٢٣)
Imam-imam Qira’ah Sab’ah
Ada dua pendapat tentang masalah 7 bacaan tersebut. Ada yang mengatakan bahwa 7 bacaan tersebut pada masa sahabat Nabi Saw. Tetapi yang masyhur adalah pada masa tabi’in.
Ketujuh imam Qiraah Sab’ah dari golongan sahabat adalah sebagai berikut:
- Utsman bin ‘Affan
- Ali bin Abi Thalib
- Ubai bin Ka’ab
- Zaid bin Tsabit
- Ibn Mas’ud
- Abu al-Darda’
- Abu Musa al-Asy’ari
Sedangkan imam Qira’ah Sab’ah dari golongan tabi’in adalah sebagai berikut:
- Nafi’
- Ibn Katsir
- Abu Amr
- Ibn ‘Amir
- ‘Ashim
- Hamzah
- Al-Kisai
Keterangan ini diambil dari kitab al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, juz I, hlm. 230:
الْمُشْتَهَرُوْنَ بِإِقْرَاءِ الْقُرْأَنِ مِنَ الصَّحَابَةِ سَبْعَةٌ: عُثْمَانُ٬ عَلِىٌّ٬ أُبَيْ وَ زَيْدُ بْنِ ثَابِتٍ٬ اِبْنُ مَسْعُوْدٍ٬ أَبُوْ الدَّرْدَاءِ٬ وَأَبُوْ مُوْسَى الْأَشْعَرِيُّ )الإتقان في علوم القرآن، ج 1، ص 228)
وَاشْتَهَرَ مِنْ هَؤُلَاءِ فِي الْآفَاقِ الْأَئِمَّةِ السَّبْعَةِ:
- نَافِعٌ وَقَدْ أَخَذَ عَنْ سَبْعِيْنَ مِنَّ التَّابِعِيْنَ مِنْهُمْ أَبُوْ جَعْفَرٍ
- وَابْنُ كَثِيْرٍ وَأَخَذَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ السَّائِبِ الصَّحَابِي
- وَأَبُوْ عَمْرٍو وَأَخَذَ عَنِ التَّابِعِيْنَ
- وَابْنُ عَامِرٍ وَأَخَذَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ وَأَصْحَابِ عُثْمَانَ
- وَعَاصِمٌ وَأَخَذَ عَنِ التَّابِعِيْنَ
- وَحَمْزَةُ وَأَخَذَ عَنْ عَاصِمٍ وَالْأَعْمَشِ وَالسَّبِيْعِيْ وَمَنْصُوْرِ بْنِ الْمُعْتَمَرِ وَغَيْرِهِ
- وَالْكِسَائِيْ وَأَخَذَ عَنْ حَمْزَةَ وَأَبِيْ بَكْرِ بْنِ عِيَاشٍ (الإتقان فى علوم القرأن٬ ج ۱ ٬ ص 230)
Citation
Santri Pondok Pesantren demo: „Ilmu dan Al Quran“,Version 1.0. In: Ensiklopedi Fikih. Published by Pondok Pesantren demo, Pasuruan, Indonesia, Pasuruan, 16.10.2023.