Sosial Budaya
- Version 1.0
Table of Contents
- Dalil Kentongan Jidor
- Pengertian Hiburan dan Permainan
- Hukum Hiburan dan Permainan
- Hukum Bertepuk Tangan Dalam Suatu Acara
- Panggilan Sayyidina
- Berdiri untuk Menghormati Seseorang
- Jabat Tangan dengan Dicucup atau Dicium
- Hukum Berjabat Tangan dengan Ghoiru Mahrom
- Hukum Mencium Tangan, Mencium Pipi, Dan Merangkul Orang Lain
- Berobat dengan Suwuk
- Hukum Praktik Orang-orang Pintar (Dukun)
- Tradisi Tasyakuran atau Walimah
- Tasyakuran dan Tabarukan Do’a untuk Janin yang Berumur 3 atau 4 bulan (Neloni), 7 atau 8 bulan (Mitoni/ Tingkepan), ketika Masih dalam Kandungan
- Menanam Ari-Ari (Masyimah, Orang Jawa Menyebutnya Mendem Dulure Bayi)
- Ceta’an/Nyeta’i (Pemberian Suapan Pertama pada Bayi yang Baru Lahir)
- Aqiqah
- ‘Aqiqah/Kekah, Memotong Rambut Pertama dan Pemberian Nama pada Bayi
- Hukum Khitan
- Adat Walimatul Khitan
- Makan Sebelum dan Sesudah Melaksanakan Shalat Ied
- Hukum Mengibarkan Bendera
- Hukum Penghormatan Pada Bendera
- Hukum Mengalungi Hewan Kurban ketika Akan Disembelih
- Waktu Penyembelihan Hewan Qurban
- Hukum Menyembelih Hewan dengan Silatan Bambu
- Menyembelih Hewan dengan Mesin Pemotong
- Hukum Orang Perempuan & Orang Buta Menyembelih Hewan
- Status Tanaman yang Condong ke Tanah Milik Orang Lain
- Hukum Laki-Laki dan Perempuan dalam Satu Kelas
- Citation
- Metadata
Dalil Kentongan Jidor
Sejarah budaya kentongan dan bedug atau biasanya disebut jidor di Indonesia berasal dari legenda Cheng Ho dari Cina, ketika Cheng Ho hendak pergi meninggalkan Indonesia seorang raja dari Semarang mengatakan bahwa dirinya ingin mendengarkan suara bedug dari masjid. Sejak itulah bedug kemudian menjadi bagian dari masjid, seperti halnya di negara Cina, Korea dan Jepang, yang memposisikan bedug di kuil-kuil sebagai alat komunikasi ritual keagamaan.
Mengenai budaya menabuh kentongan dan bedug atau jidor untuk memberitahukan telah datangnya waktu shalat lima waktu sebetulnya tidaklah bertentangan dengan ajaran Islam, karena Rasulullah Muhammad Saw. sendiri pernah memerintahkan hal tersebut 14 abad silam. Hal ini dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz 3 hal. 82:
وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ اْلأَنْصَارِيِّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ “لَمَّا أَمَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاقُوْسِ يَعْمَلُ لِيُضْرَبَ بِهِ لِلنَّاسِ لِجَمْعِ الصَّلاَةِ طَافَ بِيْ وَأَنَا نَائِمٌ رَجُلٌ يَحْمِلُ ناَقُوْسًا فِيْ يَدِهِ فَقُلْتُ يَا عَبْدَ اللهِ أَتْبَعُ النَّاقُوْسَ؟ فَقَالَ وَمَا تَصْنَعُ بِهِ؟ فَقُلْتُ نَدْعُوْ بِهِ إِلَي الصَّلاَةِ قَالَ أَفَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْ ذلِكَ فَقُلْتُ بَلَى فَقَالَ اَللهُ أكْبَرُ اَللهُ أكْبَرُ اَللهُ أكْبَرُ اَللهُ أكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ اَللهُ أكْبَرُ اَللهُ أكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، الحديث (المجموع شرح المهذب، ج 3، ص 82)
Diriwayatkan dari Abdillah bin Zaid bin Abdirabbih al-Anshary, dia berkata; Ketika Rasulullah memerintahkan memukul kentongan demi mengumpulkan manusia untuk melaksanakan shalat, ada seorang laki-laki yang membawa kentongan mengelilingi aku yang sedang tidur, dia bertanya; Hai Abdullah apakah aku ikut memukul kentongan? Kemudian aku bertanya, untuk apa? Dia menjawab; untuk panggilan shalat. Aku bertanya lagi; Apakah aku belum menunjukkan sesuatu yang lebih baik dari itu? Dia menjawab; Ya. Aku berkata; Allahu Akbar Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar, Asyhadualla Ilaha Illallahu, Asyhadualla Ilaha Illallahu, Asyhadu anna Muhammada Rasulullah, Asyhadu anna Muhammada Rasulullah, Khayya ‘alas shalah, Khayya ‘alas shalah, Khayya ‘alal falakh, Khayya ‘alal falakh, Allahu Akbar Allahu Akbar, Laailaha illallah. Al-hadits. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz 3, hal 82)
Pengertian Hiburan dan Permainan
Macam-macam hiburan dalam istilah agama Islam menurut Syekh Ahmad bin Muhammad al-Shawy diistilahkan dengan ”lahwun” dan untuk macam-macam seni musik seperti orkes dan lain sebagainya diistilahkan dengan istilah ”laghwun” yang keduanya memiliki pengertian; segala hal yang dapat menyibukkan seseorang sehingga dapat melupakan kepentingan dirinya sendiri.
Adapun permainan dikategorikan dengan istilah ”la’bun” yaitu; segala hal yang dapat menyibukkan seseorang tanpa ada manfaatnya sama sekali terhadap keadaan diri ataupun hartanya.
Hal ini diterangkan di dalam kitab Tafsir as-Shawy, juz 4, hal. 119:
إِنَّمَا الحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَإِن تُؤْمِنُوْا وَتَتَّقُوْا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ (سورة محمد: 36)
Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah Swt. akan memberikan pahala kepadamu dan dia tidak akan meminta harta-hartamu. (Qs. Muhammad: 36)
اَللَّعْبُ مَـايُشْغِلُ اْلإِنْسَـانَ وَلَيْـسَ فِيْـهِ مَنْفَعَةٌ فِيْ الْحَـاِل وَاْلماَلِ وَاللَّـغْوُ مَـا يُشْغِلُ اْلإِنْسَـانَ عَنْ مُهِمَّـاتِ نَفْسِـهِ (اَلصَّـاوِيْ عَلَى الْجَلاَ لَيْـنِ فِىْ تَفْسِيْـرِ قَوْلِـهِ تَعـَالىَ إِنِّـمَا الْحَيـَاةُ الدُّنْيـَا لَعِبٌ وَلَـهْوٌ)
Hukum Hiburan dan Permainan
- Haram
- Di dalam kitab Ihya’ Ulum al-Diin diterangkan ada golongan yang mengharamkan nyanyian, mereka menggunakan dalil riwayat dari Ibnu Mas’ud al-Hasan al-Bishri dan an-Nakha’i, dengan landasan al-Qur’an Surat Luqman ayat 6 yang berbunyi:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِيْ لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ (سورة لقمان: 6)
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah Swt. tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah Swt. itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (Qs. Luqman: 6)
اِحْتَجُوْا بِقَوْلِهِ تَعَالَى وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْتَرِيْ لَهْوَ الْحَدِيْثِ قَالَ اِبْنُ مَسْعُوْدٍ وَالْحَسَنُ الْبِصْرِيُّ وَالنَّخَعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ إِنَّ لَهْوَ الْحَدِيْثِ هُوَ الْغِنَاءُ (إحياء علوم الدين، ج 2 باب بيان حجج القائلين بتحريم السماع والجواب عنها)
Mereka menafsirkan lafadz lahwal hadits (perkataan yang tidak berguna) ini dengan arti nyanyian.
- Ada sebagian ulama’ memberi hukum haram pada hiburan dan permainan (nyanyian, musik, tarian, ludruk, wayang, dll.) dengan landasan dalil hadits di bawah ini:
وَرَوَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللهَ تَعَالىَ حَـرَّمَ الْقَيْنَةَ (أَىْ اَلجْاَرِيَةَ) وَبَيْعَهَا وَثمَنَهَا وَتَعْلِيْمَهَا
Aisyah ra. Meriwayatkan hadits: Sesungguhnya Nabi Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. telah mengharamkan al-Qoinah (penyanyi wanita/budak wanita yang menghibur), haram menjual belikannya, haram uang hasil darinya dan haram mengajarkanya.
Dalam Ihya’ Ulum ad-Din, Imam Ghozali menafsiri hadits di atas bahwa yang dimaksud perkataan Qoinah ialah budak perempuan yang menyanyi untuk laki-laki di tempat minum-minuman (semacam bar atau club malam/dugem).
فَنَقُوْلُ أَمَّا الْقَيْنَةُ فَالْمُرَادُ بِهَا الْجَارِيَةُ الَّتِيْ تَغَنِّي لِلرِّجَالِ فِيْ مَجْلِسِ الشُّرْبِ (إحياء علوم الدين، ج 2 باب بيان حجج القائلين بتحريم السماع والجواب عنها)
- Golongan dari madzhab Hambali berpendapat nyanyian adalah haram hukumnya, baik dinyanyikan oleh perempuan maupun laki-laki apabila mendatangkan syahwat bagi orang yang mendengarkan atau menyebabkan bercampurnya kaum laki-laki dan wanita atau disertai mabuk-mabukan.
اَلْحَناَبِلَةُ – قاَلُوْا: اَلْغِناَءُ حَرَامٌ سَوَاءٌ كَانَ مِنَ النِّسَاءِ أَمْ مِنَ الرِّجاَلِ إِذاَ كاَنَ الْقَوْلُ يُثِيْرُ الشَّهْوَةَ لِمَنْ اِسْتَمَعَ إِلَيْهِ أَوْ أَدَّى إِلَى اخْتِلاَطِ الرِّجاَلِ بِالنِّساَءِ أَوْ خُرُوْجِ عَنْ حِشْمَةٍ وَوَقاَرٍ (الفقه على مذاهب الأربعة، ج 5، ص 27)
- Makruh
- Menurut Imam Tabrani dalam kitabnya al-Mu’jam al-Ausat hukum dari hiburan dan permainan (nyanyian, musik, seni tari, ludruk, wayang, dll.) adalah makruh.
حَدَثَنَا مُحَمَّدِ بْنِ مَحْمُوِيَّهْ اَلْجَوْهَرِيُّ اَلأَهْوَازِيُّ، حَدَثَنَا حَفْصٍ بِنْ عُمَرُو الرَّبَّالِيْ، حَدَثَنَا اْلمُنْذِرُ بْنُ زِيَادٍ الَطَّائِيُّ، عَنْ زَيْدٍ بْنِ أَسْلَمْ، عَنْ أَبِيْهِ، عَنْ عُمَرُ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ لَهْوٍ يُكْرَهُ إِلاَّ مُلاَعِبَةُ الرَّجُلِ اِمْرَأَتَهُ، وَمَشِيْهِ بَيْنَ اْلهَدَفَيْنِ، وَتَعْلِيْمِهِ فَرَسَهُ» «لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيْثَ عَنْ زَيْدٍ بْنِ أَسْلَمَ إِلاَّ اْلمُنْذِرُ بْنُ زِيَادْ، تَفَرَّدَ بِهِ: حَفْصُ بْنُ عُمَرُو الَرَّبَّالِيْ» (المعجام الأوسط للطبرنى، ج 7 ص 170)
Dan diambil dari pendapat Imam Syafi’i, bahwa beliau berkata: sesungguhnya ghina’ (lagu-laguan) merupakan hiburan yang dimakruhkan, serupa dengan perbuatan batil. Barang siapa terlalu banyak terlena karenanya maka dia dianggap bodoh dan ditolak kesaksiannya. Keterangan dalam kitab al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah:
فَقَدْ نُقِلَ عَنِ اْلإِمَامِ الشَّافِعِى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: اَلْغِنَاءُ لَهْوٌ مَكْرُوْهٌ يُشْبِهُ الْباَطِلُ، مَنِ اِسْتَكْثَرَ مِنْهُ فَهُوَ سَفِيْهٌ وَتُرَدُّ شَهَادَتُهُ (كتاب الفقه على مذاهب الأربعة، ج 5 ص 54)
- Imam al-Qaffal, ar-Rauyani dan Abu Mansur berpendapat bahwa hiburan dan permainan seperti tari-tarian berirama hukumnya makruh tidak sampai haram dengan alasan bahwa hal tersebut termasuk ”lahwun, laghwun dan la’bun” (dagelan, musik dan pemainan). Hal ini diterangkan dalam kitab Ithaf ‘ala al-Ihya’ dan kitab Ihya’ Ulumuddin bab as-Sima’, sama halnya nyanyian dan mendengarkan lagu atau musik. Keterangan dari kitab al-Manhaj, juz 5, hal. 380.
وَلَنَذْكُرُ مـَا لِلْعُلَمـَاءِ فِيـْهِ أَيْ فِي الـَّرقْصِ مِنْ كَلاَمِ فَذَهَبَتْ طَاِئـفَةٌ إِلىَ كَرَاهَتِـهِ مِنْهُمْ اَلْقَفَّـالُ حَـكَاهُ عَنْهُ الَرَّوْيـَانِـيْ فِي اْلبَحْرِ. وَقَـالَ اَلأُسْتـَاذُ أَبـُوْ مَنْصُـوْرٍ تُكَلِّفُ اَلـَّرقْصُ عَلىَ اْلإِيْقـَاعِ مَكْرُوْهٌ وَهَـؤُلاَءِ اِحْتَجُّـوْا بِأَنَّهُ لَعِبٌ وَلَـهْوٌ وَهُوَ مَكْرُوْهٌ.
- Imam Ghozali berpendapat dalam kitab Ihya’ Ulum ad-Din juz 2, bahwasanya nyanyian, orkes dan sejenisnya adalah termasuk hiburan (laghwun) yang dimakruhkan, serupa dengan perbuatan batil tetapi tidak sampai haram, sebagai contoh adalah permainan orang-orang Habasyah dan tarian mereka, Rasulullah pernah menyaksikannya dan tidak membencinya. Dalam hal ini lahwun dan laghwun tidak dimurkai Allah Swt.
اَلْغِنـَاءُ لَـهْوٌ مَكْرُوْهٌ يُشْبِهُ اْلبـَاطِلَ وَقَوْلِـِه لَـهْوٌ صَحِيْحٌ وَلَكِنَّ اللَّهْوَ مِنْ حَيْثُ أَنَّهُ لَـْهوٌ لَيْسَ بِـحَرَامٍ فَلَعْبُ اْلحَبَشَةِ وَرَقْصُهُمْ لَـهْوٌ وَقَدْ كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْـهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ وَلاَ يَكْرَهُهُ بَلِ اللَّهْوُ وَاللَّـغْوُ لاَ يـُؤَاخِذُ اللهُ بِهِ (إحيـاء، ج 2 فى باب السمـاع)
- Menurut Qordowi, hiburan dan permainan (nyanyian, musik, tarian, ludruk, wayang, dll.) hukumnya adalah batil apabila digunakan untuk sesuatu yang tidak ada faidah dan membuat seseorang sibuk sehingga sampai mengganggu atau dapat mengurangi ketaatannya kepada Allah Swt. Sedangkan hukum melakukan sesuatu yang tidak berfaidah tidaklah haram selama tidak menyia-nyiakan hak atau melalaikan kewajiban. Pendapat Qordowi ini berdasarkan hadits:
كُلُّ لَهْوٍ بَاطِلٌ إِذَا شَغَلَهُ عَنْ طَاعَةِ اللهِ (صحيح البخاري، كتاب بدء الوحي)
Setiap hiburan itu adalah batil apabila bisa melalaikan seseorang dari ketaatan kepada Allah Swt.
- Menurut riwayat Imam al-Baihaqi hukum nyanyian atau orkesan dan sejenisnya dihukumi makruh karena dapat menumbuhkan kemunafikan dalam hati, seperti halnya air bisa menumbuhkan tanaman. Diterangkan dalam kitab al-Sunan al-Kubro li al-Baihaqi bab al-Rajul Yaghni Fayattakhidzu al-Ghina’, juz 7, hal. 931.
وَ أَخْبَرَنَا ابْنُ بِشْرَانَ أَنْبَأَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ صَفْوَانَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِى الدُّنْيَا حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ الْجَعْدِ أَنْبَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ طَلْحَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ كَعْبٍ الْمُرَادِىِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِى الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الزَّرْعَ وَالذِّكْرُ يُنْبِتُ الإِيمَانَ فِى الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الزَّرْعَ
- Boleh
- Imam Bukhari meriwayatkan hadits dalam kitab sahihnya bab an-Niswah al-Laati Yahdina al-Mar’ah juz 1 hal 145 dari Siti Aisyah bahwa Nabi pernah bersabda:
4765 – حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ يَعْقُوبَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَابِقٍ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا زَفَّتْ امْرَأَةً إِلَى رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ مَا كَانَ مَعَكُمْ لَهْوٌ فَإِنَّ الْأَنْصَارَ يُعْجِبُهُمْ اللَّهْوُ
Dari hadits tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Nabi menginginkan seorang penyanyi yang dapat disuruh Nabi untuk menghibur kaum Anshar ketika Siti Aisyah menikahkan seorang gadis dengan pemuda Anshar karena kaum Anshar sangat kagum dan senang dengan nyanyian.
- Diceritakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Nasa’i bahwa pada hari raya sahabat Abu Bakar berkunjung ke rumah Siti Aisyah untuk halal bi halal kepada Nabi Saw., ketika beliau masuk beliau menjumpai ada dua gadis di samping Siti Aisyah yang sedang menyanyi, seketika itu Abu Bakar menghardik mereka seraya berkata: Apakah pantas ada seruling syaitan di rumah Rasulullah?! Kemudian Nabi Saw. bersabda: “Biarkanlah mereka, wahai Aba Bakar, sesungguhnya hari ini adalah hari raya”. Adapun bunyi hadits yang menceritakan peristiwa itu adalah sebagai berikut ini dalam kitab Sunan an-Nasai juz 6 hal. 59.
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَفْصِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ عَائِشَةَ حَدَّثَتْهُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ تَضْرِبَانِ بِالدُّفِّ وَتُغَنِّيَانِ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسَجًّى بِثَوْبِهِ وَقَالَ مَرَّةً أُخْرَى مُتَسَجٍّ ثَوْبَهُ فَكَشَفَ عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّهَا أَيَّامُ عِيدٍ وَهُنَّ أَيَّامُ مِنَى وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ بِالْمَدِينَةِ
Dari cerita di atas bisa dibuat dalil bahwa Nabi tidak melarang hiburan dan permainan (nyanyian, orkesan, musik, tarian, ludruk, wayang dll).
- Menurut Imam al-Fauroni: hukum dari hiburan dan permainan (nyanyian, orkesan, musik, tarian, ludruk, wayang, dll) adalah boleh, dengan alasan bahwa semua perkara itu adalah termasuk lahwun, laghwun dan la’bun dan hukum asal dari lahwun, laghwun dan la’bun itu adalah mubah. Diterangkan di dalam kitab al-Itkhaf, juz 06.
وَهَـؤُلاَءِ اِحْتَجُّـوْا بِاَنَّهُ لَعْبٌ وَلَـهْوٌ وَهُوَ مَكْرُوْهٌ وَذَهَبَتْ طَائِـفَةٌ إِلَى إِبَاحَتِـهِ قَـالَ اَلْفَـوْرَانِـيْ فِيْ كِتـَابِهِ اَلْعُمْدَةُ اَلْغِنَـاءُ يُبـَاحُ أَصْلُهُ
- Imam Haromain, Imam al-Makhali, Imam Ibni ‘Imad as-Suhrowardi, Imam Rofi’i dan Ibnu Abi Dam berpendapat: Hiburan tarian atau sejenisnya adalah tidak haram, apabila tidak menyebabkan rusaknya harga diri dan tidak ada penyerupaan laki-laki dengan perempuan atau sebaliknya.
قَـالَ إِمـَامُ الْحَرَمَيْـِن اَلـَّرقْصُ لَيْـسَ بِـمُحَرَّمٍ فَاِنَّـهُ مُـجَرَّدُ حَرَكَاتٍ عَلَى اِسْتِقَامَةٍ أَوْ اِعْوِجَـاجٍ وَلَكِنْ كَثِيْرُهُ يُـحْرَمُ الْمُرُوْءَةُ وَكَذَلِكَ قـَالَ الْمَحَلِّىْ فِى الدَّخَـاِئرِ وَابْنُ الُعِمَـادِ اَلسُّهْـرَوَرْدِيْ وَالرَّفِعِيْ وَبِهِ جَزَمَ الْمُصَنِّفُ فِى الْوَسِيْطِ وَابْنُ أَبِي الدَّمِ (الإتحاف على الإحياء في باب السماع)
- Semua alat musik boleh digunakan tanpa ada pengucualian karena tujuan bermusik adalah untuk hiburan diri, seperti mendengarkan bunyi kicauan burung. Berdasarkan hal tersebut semua bahwa alat musik boleh digunakan dengan syarat tidak menimbulkan adanya kerusakan (fasad). Hal ini berdasarkan kitab Ihya’ Ulumiddin:
فبقى على أصل الإباحة قياسا على أصوات الطيور وغيرها، بل أقول سماع الأوتار ممن يضربها على غير وزن متناسب مستلذ حرام أيضا. وبهذا يتبين أنه ليست العلة فى تحريمها مجرد اللذة الطيبة، بل القياس تحليل الطيبات كلها إلا ما فى تحليله فساد. قال تعالى (قل من حرم زينة الله التي أخرج لعباده والطيبات من الرزق) فهذه الأصوات لاتحرم من حيث إنها أصوات موزونة وإنما تحرم بعارض آخر. سيأتي فى العوارض المحرمة. (إحياء علوم الدين، ج 2، ص: 273)
Hukum Bertepuk Tangan Dalam Suatu Acara
Dalam suatu acara sering kali kita jumpai ketika ada suatu acara yang menarik dan mengesankan, kita memberikan tepuk tangan sebagai apresiasi kepada seseorang yang membawakan acara tersebut. Bagaimanakah hukum bertepuk tangan dalam suatu acara?
Dalam masalah ini para ulama’ memberikan pendapat sebagai berikut:
- Haram, jika sengaja bermain-main, untuk menghina seseorang atau sengaja menyerupai wanita (bagi laki-laki), karena tepuk tangan adalah kebiasaan para wanita.
- Makruh, jika tidak sengaja bermain-main (menurut Imam Ramli).
- Makruh, meskipun sengaja bermain dan berisikan irama (menurut Imam Ibnu Hajar).
- Dianjurkan, jika diperlukan seperti sebagai penyemangat dalam suatu acara dan lain-lain.
Hal ini diterangkan dalam kitab al-Bajuri ‘ala Fath al-Qaariib, juz 1, halaman 175.
وَاخْتَلَفَ فِي التَّصْفِيْقِ خاَرِجَ الصَّلاَةِ، فَقِيْلَ يَحْرُمُ بِقَصْدِ اللَّعْبِ وَيُكْرَهُ بِلاَ قَصْدِ اللَّعْبِ وَهذَا هُوَ الْمُعْتَمَدُ عِنْدَ الرَّمْلِيِّ وَقِيْلَ يُكْرَهُ وَلَوْ بِقَصْدِ اللَّعْبِ وَإِنْ كاَنَ فِيْهِ نَوْعُ طَرَبٍ وَهَذَا هُوَ الْمُعْتَمَدُ عِنْدَ ابْنِ حَجَرٍ في شَرْحِ اْلإِرْشَادِ، وَقِيْلَ يَحْرُمُ إِنْ قُصِدَ بِهِ التَّشَبُّهُ بِالنِّسَاءِ لأَنَّهُ مِنْ وَظِيْفَتِهِنَّ وَإِلاَّ كُرِهَ وَهذَا كُلُّهُ إِذَا لَمْ يُحْتَجْ إِلَيْهِ، فَإِنْ اُحْتِيْجَ إِلَيْهِ لِتَهْيِيْجِ الذِّكْرِ كَمَا يَفْعَلُهُ الْفُقَرَاءُ أَوْ لِضَبْطِ اْلأَنْغَامِ كَمَا يَفْعَلُهُ الْفُقَهَاءُ فِي اللَّياَلِيْ أَوْ لِتَدْرِيْسٍ كَمَا يَفْعَلُهُ الْمُدَرِّسُوْنَ فِي الدَّرْسِ لَمْ يَحْرُمْ بَلْ رُبَّمَا كَانَ مَطْلُوْباً .اهـ (الباجوري، ج 1 ص 175)
Terjadi perbedaan pendapat mengenai tepuk tangan di luar shalat. Menurut satu pendapat adalah haram jika sengaja bermain dan makruh jika tidak sengaja bermain, inilah pendapat yang kuat menurut al-Ramli. Menurut pendapat yang lain adalah makruh, meskipun sengaja bermain dan berisi irama, dan inilah pendapat yang kuat menurut Ibnu Hajar dalam kitab Syarh al-Irsyad. Menurut pendapat lain adalah haram jika sengaja menyerupai wanita, karena tepuk tangan itu adalah kebiasaan wanita. Jika sengaja begitu maka makruh. Semua tadi adalah pendapat apabila tepuk tangan tidak diperlukan, jika diperlukan, seperti untuk menyemangatkan dzikir sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang fakir atau untuk menepatkan irama seperti yang dilakukan oleh para fuqaha’ pada malam hari, atau untuk keperluan pengajaran seperti yang dilakukan oleh para guru saat mengajar, maka tidak haram, bahkan dianjurkan/diharuskan. (al-Bajuri ‘ala Fath al-Qariib, juz 1, hal. 175)
Panggilan Sayyidina
Banyak cara dalam upaya memuliakan dan memberi penghor-matan pada orang lain misalnya panggilan gus atau mas bagi putra kyai, raden ageng atau pangeran bagi keluarga kerajaan. Begitu pula dengan panggilan sayyid artinya tuan besar. Di kalangan masyarakat NU sering lafadz sayyidina diucapkan tatkala menyebut nama Nabi dan para sahabatnya. Penyebutan sayyidina pada Nabi Muhammad bertujuan memberikan penghormatan, dan lebih bersopan santun kepada Nabi Muhammad Saw. Dan hukumnya boleh, bahkan dianjurkan, sebagaimana keterangan di bawah ini:
حَدَّثَنِى الْحَكَمُ بْنُ مُوسَى أَبُو صَالِحٍ حَدَّثَنَا هِقْلٌ – يَعْنِى ابْنَ زِيَادٍ – عَنِ الأَوْزَاعِىِّ حَدَّثَنِى أَبُو عَمَّارٍ حَدَّثَنِى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنِى أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ» (صحيح مسلم، باب تفضيل نبينا على بعض)
Telah bercerita kepadaku al-Hakam bin Musa Abu Shalih, telah bercerita kepadaku Hiql (yaitu Ibnu Ziyad) dari al-Auza’i, telah bercerita kepadaku Abu Ammar, telah bercerita kepadaku Abdullah bin Farrukh, telah bercerita kepadaku Abu Hurairah, dia berkata “Rasulullah Saw. Bersabda: “Aku adalah sayyid bagi manusia di hari kiamat dan orang yang pertama kali bangkit dari alam kubur, pertama kali sebagai pemberi syafa’at dan yang di syafa’ati”. (Shahih Muslim: bab Tafdhil Nabiyina ‘ala Jamii’)
وَقَوْلُهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا اْلأَوْلَى ذِكْرُ السِّياَدَةِ، لِاَنَّ اْلأَفْضَلَ سُلُوْكُ اْلأَدَبِ (الباجورى على ابن قاسم ج 1 ص 156 )
Setiap kali menyebut nama Muhammad Rasulullah, yang lebih utama adalah menambah dengan sayyidina, karena lebih utama dengan jalan/cara sopan santun. (al-Bajuri ala Ibni Qasim juz 1, hal. 156)
Dan dalam kitab Tafsir al-Baghawi, Imam Mujahid dan Imam Qotadah berkata: “Janganlah kamu sekalian memanggil nama Nabi dengan namanya secara langsung (wahai Muhammad), tetapi panggillah dengan penuh tawadhu’ dan lemah lembut”. Misalnya memanggil dengan nama keagungan dan kebesarannya: Wahai Rasulullah, dan lain-lain.
وَقاَلَ مُجَاهِدٌ وَقَتاَدَةُ: لاَ تَدْعُوْهُ بِاسْمِهِ كَمَا يَدْعُوْ بَعْضَكُمْ بَعْضًا: ياَ مُحَمَّدُ، ياَ عَبْدَ اللهِ، وَلَكِنْ فَخَّمُوْهُ وَشَرِّفُوْهُ، فَقُوْلُوْا: ياَ نَبِيَّ اللهِ، ياَ رَسُوْلَ اللهِ، فِيْ لَيِّنٍ وَتَوَاضُعٍ (تفسير البغوى ج 3 ص 433)
Berdiri untuk Menghormati Seseorang
Sudah tidak asing lagi di kalangan pesantren dan masyarakat apabila ada seorang kyai atau ulama’ lewat mereka berdiri untuk menghormati kyai tersebut. Penghormatan ini dilakukan untuk menghormati ilmu kyai tersebut. Bagaimanakah hukum berdiri untuk penghormatan tersebut?
Mayoritas ulama’ membolehkan berdiri untuk menghormati seseorang yang datang. Mereka berdalil dengan firman Allah Swt.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا إِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (سورة المجادلة: 11)
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. al-Mujadalah: 11)
ذَهَبَ جُمْهُوْرُ اْلفُقَهَاءِ إِلَى جَوَازِ اْلقِيَامِ لِلْقاَدِمِ إِذَا كاَنَ مُسْلِمًا مِنْ أَهْلِ الْفَضْلِ وَالصَّلاَحِ عَلَى وَجْهِ التَّكْرِيْمِ لِأَنَّ احْتِرَامَ الْمُسْلِمِ وَاجِبٌ وَتَكْرِيْمَهُ لِدِيْنِهِ وَصَلاَحَهُ مِمَّا يَدْعُوْ إِلَيْهِ اْلإِسْلاَمُ لِأَنَّهُ سَبِيْلُ الْمَحَبَّةِ وَالْمَوَدَّةِ وَقَدْ قاَلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ (لاَ تَحْقَرِنْ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْأً وَلَوْ أَنْ تَكَلَّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنَبِّسَطٌ إِلَيْهِ بِوَجْهِكَ). (روائع البيان في تفسير آيات الأحكام، ج 2 ص 454)
Mayoritas ulama’ mengatakan bahwa boleh berdiri untuk (menghormati) orang Islam yang mulia dan baik, dengan tujuan untuk menghormatinya. Menghormati seseorang karena agama dan kebaikannya, termasuk perbuatan yang sangat dianjurkan oleh agama dan karena perbuatan itu merupakan jalan untuk menambah rasa cinta dan kasih sayang. Nabi bersabda janganlah kamu meremehkan perbuatan baik (yang dilakukan seseorang), sekalipun (dalam bentuk) kamu berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang berseri-seri. (Rawaai’ al-Bayan Fii Tafsiri Ayat al-Ahkam, juz 2, hal.404)
Jabat Tangan dengan Dicucup atau Dicium
Sering kali kita melihat seseorang saat bertemu atau berjumpa dengan temannya yang lain mereka saling berjabat tangan, terutama di lingkungan pondok pesantren. Etika ini juga dilakukan oleh santri saat berhadapan dengan orang tua, kyai, atau guru mereka, namun tidak hanya berjabat tangan, melainkan dengan mencium atau mencucup tangan mereka yang dipandang mulia, bahkan ada sebagian dari santri yang mencium kaki kyainya (sebagai wujud penghormatan kepada gurunya).
Namun terkadang hal ini dipandang sebelah mata oleh sebagian orang sebagai upaya pengkultusan atau budaya patron yang kurang baik. Bagaimanakah sebenarnya pandangan agama terhadap perilaku jabat tangan dengan cara mencium, mencucup tangan atau bahkan mencium kaki?
- Makruh, apabila dilakukan terhadap orang kaya karena kekayaannya.
وَافَقَ النَّوَوِيُّ بِكَرَاهَةِ اْلاِنْحِنَاءِ وَتَقْبِيْلِ نَحْوِ يَدٍ أَوْ رِجْلٍ لاَ سِيَّمَا لِنَحْوِ غَنِيٍّ لِحَدِيْثٍ: “مَنْ تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ ذَهَبَ ثُلُثَا دِيْنِهِ”. وَيُنْدَبُ ذَلِكَ لِنَحْوِ صَلاَحٍ أَوْ عِلْمٍ أَوْ شَرَفٍ (بغية المسترشدين ص 296)
Imam Nawawi sepakat terhadap hukum makruh merunduk dan mencium tangan atau kaki apalagi kepada orang kaya, berdasarkan hadits “Barang siapa bertawadhu’ terhadap orang kaya maka hilanglah 2/3 agamanya”. Dan disunnahkan mencium atau merunduk kepada orang-orang saleh, orang-orang yang berilmu dan orang-orang mulia. (Bughyah al-Mustarsyidin, hal 296)
- Sunnah, apabila itu dilakukan kepada orang-orang yang mulia dan orang yang sudah tua.
وَافَقَ النَّوَوِيُّ بِكَرَاهَةِ اْلاِنْحِنَاءِ وَتَقْبِيْلِ نَحْوِ يَدٍ أَوْ رِجْلٍ لاَ سِيَّمَا لِنَحْوِ غَنِيٍّ لِحَدِيْثٍ: “مَنْ تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ ذَهَبَ ثُلُثَا دِيْنِهِ”. وَيُنْدَبُ ذَلِكَ لِنَحْوِ صَلاَحٍ أَوْ عِلْمٍ أَوْ شَرَفٍ (بغية المسترشدين، ص 296)
Imam Nawawi sepakat terhadap hukum makruh merunduk dan mencium tangan atau kaki apalagi kepada orang kaya, berdasarkan hadits “Barang siapa bertawadhu’ terhadap orang kaya maka hilanglah 2/3 agamanya”. Dan disunnahkan mencium atau merunduk kepada orang-orang saleh, orang-orang yang berilmu dan orang-orang mulia. (Bughyah al-Mustarsyidin hal 296)
Menurut Imam al-Hafidz al-Iraqi ra. mencium badan, tangan dan kaki orang-orang saleh atau orang-orang mulia dengan niatan untuk mendapatkan berkah (tabarukan) adalah perbuatan baik dan terpuji.
وَقَالَ اَلْحَافِظْ اَلْعِرَاقِيْ: وَتَقْبِيْلُ اْلأَمَاكِنِ الشَّرِيْفَةِ عَلَى قَصْدِ التَّبَرُّكِ وَأَيْدِيْ الصَّالِحِيْنَ وَأَرْجُلِهِمْ حَسَنٌ مَحْمُوْدٌ بِاعْتِبَارِ الْقَصْدِ وَالنِّيَةِ اهـ. (بغية المسترشدين ص 296)
Imam Hafidz al-Iraqi Ra. berkata: Mencium badan, tangan atau kaki orang-orang yang dianggap mulia dengan maksud mendapatkan berkah, adalah perbuatan baik dan terpuji berdasarkan tujuan dan niatnya. (Bughyah al-Mustarsyidin, hal 296)
Budaya mencium tangan ulama’, kyai, ahli zuhud dan orang yang sudah tua, sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw. Seperti contoh sahabat Abu Ubaidah mencium tangan sahabat Umar, sahabat Ali mencium tangan sahabat Abbas dan sahabat Ka’ab mencium kedua tangan dan lutut Nabi. Sebagaimana keterangan berikut ini:
وَرَوَى اِبْنُ حِباَّنِ إِنَّ كَعْباً قَبَّلَ يَدَيْهِ وَرُكْبَتَيْهِ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ لَمَّا نَزَلَتْ تَوْبَتُهُ (بغية المسترشدين، ج 1 ص 638)
Sesungguhnya Ka’ab mencium kedua tangan dan lutut Nabi. (Hr. Ibnu Hibban). (Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 638)
Hukum Berjabat Tangan dengan Ghoiru Mahrom
- Tidak boleh. Menurut jumhur ulama’ hukum berjabat tangan antara laki-laki dengan wanita lain (ghoiru mahrom) adalah tidak diperbolehkan. Hal ini diterangkan dalam kitab Tanwir al-Qulub hal. 199 dan Hasyiyah as-Shawi ‘ala Syarhi as-Shaghir.
وَتَحْرُمُ مُصَافَحَةُ الرَّجُلِ لِلْمَرْأَةِ اْلأَجْنَبِيَّةِ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ وَكَذَا اْلأَمْرَادُ الْجَمِيْلُ (تنوير القلوب ص 199)
قَوْلُهُ: [وَلاَ تَجُوزُ مُصَافَحَةُ الرَّجُلِ الْمَرْأَةَ]: أَيْ الْأَجْنَبِيَّةَ وَإِنَّمَا الْمُسْتَحْسَنُ الْمُصَافَحَةُ بَيْنَ الْمَرْأَتَيْنِ لَا بَيْنَ رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ أَجْنَبِيَّةٍ، (حاشية الصاوى على الشرح الصغير)
- Makruh. Menurut Imam Ahmad bin Hambal, hukum berjabat tangan antara orang laki-laki dengan perempuan lain adalah makruh. Hal ini diterangkan dalam kitab Masail al-Imam Ahmad bin Hambal
وَكَرَهَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ مُصَافَحَةَ النِّسَاءِ، وَشَدَّدَ أَيْضاً حَتَّى الْمُحْرِمِ. (مسائل الإمام أحمد بن حنبل)
- Boleh. Menurut Syekh Muhammad Amin al-Kurdi, hukum berjabat tangan antara orang laki-laki dan perempuan boleh tetapi dengan syarat harus menggunakan satir seperti kaos tangan atau yang lainnya.
وَتَحْرُمُ مُصَافَحَةُ الرَّجُلِ لِلْمَرْأَةِ اْلأَجْنَبِيَّةِ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ وَكَذَا اْلأَمْرَادُ الْجَمِيْلُ (تنوير القلوب ص 199)
Dalam kitab syarh an-Nail wa Syifa’ al-‘Aliil juz 9 hal 436 dijelaskan bahwa Rasulullah bersabda “Barang siapa berjabat tangan dengan orang yang alim maka fadhilahnya adalah seperti berjabat tangan denganku (Rasulullah)”. Dari sinilah diperbolehkan berjabat tangan bagi orang perempuan, bocah atau budak wanita kepada para alim yang betul-betul menyatukan hatinya dengan Allah Swt.
فَصْلٌ “لاَ تَفْتَرِقُ كَفَّا مُتَصَافِحَيْنِ فِي اللَّهِ حَتَّى تَتَنَاثَرَ ذُنُوبُهُمَا كَالْوَرَقِ” رُوِيَ ذَلِكَ، وَأَنَّهُ “مَنْ صَافَحَ عَالِمًا فَكَأَنَّمَا صَافَحَنِي” ، وَجَازَتْ مُصَافَحَةُ مُوَحِّدٍ وَإِنْ أُنْثَى أَوْ صَغِيرًا ، أَوْ رَقِيقًا إنْ لَمْ يَكُنْ كَبَاغٍ ( شرح النيل وشفاء العليل)
Hukum Mencium Tangan, Mencium Pipi, Dan Merangkul Orang Lain
Sudah menjadi suatu tradisi bahwa mencium tangan, pipi, kaki dan merangkul saat bertemu seseorang yang dimuliakan seperti orang alim, zuhud, shalih. Bagaimana hukum melakukan mencium tangan atau kaki, pipi, dan merangkul orang lain?
- Mencium tangan
- Disunnnahkan, mencium tangan orang yang shalih, zuhud, alim dan lain-lain yang termasuk ahli akhirat. Terdapat dalam kitab al-Majmû’ Syarh al-Muhadzab, juz VI, hlm. 21:
يُسْتَحَبُّ تَقْبِيْلُ يَدِّ الرَّجُلِ الصَّالِحِ وَالزَّاهِدِ وَالْعَالِمِ وَنَحْوِهَا مِنْ أَهْلِ الْاَخِرَةِ (المجموع شرح المهدب، ج ٦، ص ٢١)
- Tidak boleh (makruh tahrim), apabila mencium tangan orang lain karena kekayaan, kekuasaan atau kedudukannya menurut ahli dunia. al-Majmû’ Syarh al-Muhadzab, juz VI, hlm. 21:
وَأَمَّا تَقْبِيْلُ يَدِّهِ لِغِنَاهُ وَدُنْيَاهُ وَشَوْكَتِهِ وَجَاهَتِهِ عِنْدَ أَهْلِ الدُّنْيَا بِالدُّنْيَا وَنَحْوِ ذَلِكَ فَمَكْرُوْهٌ شَدِيْدُ الْكَرَاهَةِ (المجموع شرح المهدب، ج ٦، ص ٢١)
- Haram, menurut Imam Mutawalli, apabila mencium tangan orang lain karena kekayaan, kekuasaanatau kedudukannya menurut ahli dunia. Beliau juga menegaskan bahwa mencium kepala dan kaki. Terdapat dalam kitab al-Majmû’ Syarh al-Muhadzab juz VI hlm. 21:
وَقَالَ الْمُتَوَلِى: لَا يَجُوْزُ. فَأَشَارَ إِلَى تَحْرِيْمِهِ، وَتَقْبِيْلُ رَأْسِهِ وَرِجْلِهِ كَيَدِهِ. (المجموع شرح المهدب، ج ٦، ص ٢١)
- Mencium pipi
- Haram, hukumnya mencium pipi apabila disertai dengan syahwat meskipun dengan anaknya sendiri kecuali istri dan budaknya. Terdapat dalam kitab al-Majmû’ Syarh al-Muhadzab, juz VI, hlm. 21:
وَأَمَّا التَّقْبِيْلُ بِالشَّهْوَةِ فَحَرَامٌ سَوَاءٌ كَانَ فِي وَلِدِهِ أَوْ فِي غَيْرِهِ،……. وَلَا يُسْتَثْنَى مِنْ تَحْرِيْمِ الْقُبْلَةِ بِشَهْوَةٍ وَالنَّظَرَ بِشَهْوَةٍ إِلَّا زَوْجَتَهُ وَجَارِيَتَهُ (المجموع شرح المهدب، ج ٦، ص ٢١)
- Sunnah, mencium pipi anaknya, anak kerabat atau temannya yang masih kecil baik laki-laki maupun perempuan atas dasar kasih sayang. Terdapat dalam kitab al-Majmû’ Syarh al-Muhadzab, juz VI, hlm. 21:
وَأَمَّا تَقْبِيْلُ خَدِّ وَلَدِهِ الصَّغِيْرِ وَوَلِدِهِ قَرِيْبَةٍ وَصَدِيْقِهِ وَغَيْرِهِ مِنْ صِغَارِ الْأَطْفَالِ الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى عَلَى سَبِيْلِ الشُّفْقَةِ وَالرَّحْمَةِ وَاللُّطْفِ فَسُنَّةٍ (المجموع شرح المهدب، ج ٦، ص ٢١)
- Merangkul
- Makruh, merangkul orang lain tanpa adanya sesuatu, misalnya ia baru datang dari bepergian dan lama tidak bertemu. Terdapat dalam kitab al-Majmû’ Syarh al-Muhadzab, juz VI, hlm. 21:
وَأَمَّا الْمُعَانِقَةُ وَتَقْبِيْلُ وَجْهِ غَيْرِ الْقَادِمِ مِنْ سَفَرٍ وَنَحْوِهِ غَيْرِ الْطِفْلِ فَمَكْرُوْهَانِ، صَرَّحَ بِكَرَاهَتِهِمَا الْبَغَوِىُ وَغَيْرُهُ (المجموع شرح المهدب، ج ٦، ص ٢١)
- Sunnah, merangkul orang lain dalam keadaan ia baru datang dari bepergian yang jauh. Terdapat dalam al-Majmû’ Syarh al-Muhadzab, juz VI, hlm. 21:
وَهَذَ الَّذِي ذَكَرَنَاهُ فِي التَّقْبِيْلِ وَالْمُعَانَقَةِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ عِنْدَ الْقُدُوْمِ مِنْ سَفَرٍ وَنَحْوِهِ وَمَكْرُوْهٌ فِي غَيْرِهِ (المجموع شرح المهدب، ج ٦، ص ٢١)
Berobat dengan Suwuk
Masyarakat kita telah lama mengenal pengobatan penyakit melalui doa-doa yang disebut suwuk. Bagaimanakah hukum pengobatan dengan cara suwuk? Sesungguhnya di dalam al-Qur’an telah dijelaskan:
وَتُبْرِئُ الأَكْمَهَ وَالأَبْرَصَ بِإِذْنِي (سورة المائدة:110)
Dan (ingatlah) di waktu kamu (Nabi Isa) menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, (Qs. al-Maidah: 110).
Tentang pengobatan dengan menggunakan suwuk ini pernah ditanyakan pada Rasulullah dalam sebuah hadits berikut:
عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كُنَّا نَرْقِى فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ تَرَى فِى ذَلِكَ فَقَالَ «اعْرِضُوا عَلَىَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا». (سنن أبى داود، جز 1، 230)
Dari ‘Auf bin Malik berkata, bahwasanya kami mengobati penyakit dengan menggunakan suwuk pada zaman jahiliyah, lalu kami bertanya kepada Rasul, wahai Rasul bagaimana pendapat anda tentang hal tersebut? Rasul menjawab, hadapkanlah suwuk-suwuk kalian kepadaku, sesungguhnya hal itu tidak membahayakan selama kalian tidak syirik (menyekutukan Allah Swt.). (Sunan Abi Dawud, juz I, hal. 230)
Diceritakan dalam sebuah hadits Sunan Abi Dawud, mengenai pengalaman para sahabat Nabi yang telah melakukan pengobatan dengan suwuk:
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ رَهْطًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- انْطَلَقُوا فِى سَفْرَةٍ سَافَرُوهَا فَنَزَلُوا بِحَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ فَهَلْ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْكُمْ شَىْءٌ يَنْفَعُ صَاحِبَنَا فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ نَعَمْ وَاللَّهِ إِنِّى لأَرْقِى وَلَكِنِ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَأَبَيْتُمْ أَنْ تُضَيِّفُونَا مَا أَنَا بِرَاقٍ حَتَّى تَجْعَلُوا لِى جُعْلاً. فَجَعَلُوا لَهُ قَطِيعًا مِنَ الشَّاءِ فَأَتَاهُ فَقَرَأَ عَلَيْهِ أُمَّ الْكِتَابِ وَيَتْفُلُ حَتَّى بَرَأَ كَأَنَّمَا أُنْشِطَ مِنْ عِقَالٍ. قَالَ فَأَوْفَاهُمْ جُعْلَهُمُ الَّذِى صَالَحُوهُمْ عَلَيْهِ فَقَالُوا اقْتَسِمُوا. فَقَالَ الَّذِى رَقَى لاَ تَفْعَلُوا حَتَّى نَأْتِىَ رَسُولَ الله -صلى الله عليه وسلم- فَنَسْتَأْمِرَهُ. فَغَدَوْا عَلَى رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرُوا لَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مِنْ أَيْنَ عَلِمْتُمْ أَنَّهَا رُقْيَةٌ أَحْسَنْتُمُ اقْتَسِمُوا وَاضْرِبُوا لِى مَعَكُمْ بِسَهْمٍ ».
Dari Abi Said al Khudzri ra. bahwasanya sekelompok sahabat Nabi berangkat melakukan suatu perjalanan, mereka berhenti diperkampungan Arab. Salah satu dari penduduk tersebut berkata, Sesungguhnya pemimpin kami disengat kalajengking. Apakah ada di antara kalian yang bisa memberi manfaat (mengobati pemimpin kami)? Seorang laki-laki dari sahabat menjawab, betul. Demi Allah Swt. sesungguhnya kami bisa menyuwuk (mengobatinya) tetapi, ketika kami akan bertamu, kalian malah menolak. Aku tidak akan mengobati, sehingga kalian memberi gaji (upah). Bayarlah gaji tersebut dengan seekor kambing. Lalu satu kambing didatangkan. Laki-laki tersebut membaca surat al-Fatihah, kemudian meniupkan ludahnya sehingga pimpinan itu sembuh, (saking cepatnya) seperti orang yang terlepas dari tali serban. Abi Said berkata,” mereka menepati janji dengan memberi gaji (upah).” Lalu para sahabat berkata, “Bagilah (upah tersebut).” Lelaki tukang suwuk berkata, “Jangan lakukan hal itu sehingga kita datang kepada Rasul.” Lalu Rasul bersabda, “Dari mana kalian tahu bahwa ummul kitab bisa dipergunakan untuk menyuwuk? Bagus….kalian, bagilah! Dan aku minta bagian”. (Sunan Abi Dawud, juz II, hal. 232-233)
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa mengobati berbagai penyakit dengan do’a-do’a itu dibenarkan. Dan mengambil ongkos/upah dari pengobatan itu juga diperbolehkan.
Hukum Praktik Orang-orang Pintar (Dukun)
- Dilarang praktiknya orang-orang pintar (dukun) dikarenakan dalam praktiknya menggunakan sihir yang jelas bertentangan dengan syari’at Islam, yakni terdapat kemusyrikan yaitu menggunakan perantara jin dan setan, serta menimbulkan bahaya pada orang lain.
عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ ». (سنن ابى داود رقم 3385)
Dari Abdullah Ia pernah mendengar bahwa Rasulullah bersabda: sesungguhnya suwuk, zimat, dan sihir adalah syirik. (Sunan Abi Dawud, hal. 3385)
- Diperbolehkan praktik orang-orang pintar (dukun) dengan tiga ketentuan yang harus diperhatikan yaitu: Pertama, amalan, hizib, azimat atau yang semisalnya harus menggunakan kalam Allah Swt. Kedua, menggunakan bahasa yang dapat dipahami maknanya. Ketiga, meyakini semua hanya sebatas ikhtiar serta keberhasilan yang terwujud atau semua kejadian yang terjadi semata karena takdir Allah Swt.
وَسُئِلَ بَعْضُهُمْ عَنْ رَجُلٍ صَالِحٍ يَكْتُبُ لِلْحَمَى وَ يَرْقَى وَيَعْمَلُ النَّشْرَةَ وَيُعَالِجُ أَصْحَابَ الصَّرْعِ وَالْجُنُوْنِ بِأَسْمَاءِ اللهِ وَالْخَوَاتِمِ وَاْلعَزَائِمِ وَيَنْتَفِعُ بِذَلِكَ مِنْ عَمَلِهِ وَلاَ يَأْخُذُ عَلَى ذلِكَ اَلْأُجُوْرَ هَلْ لَهُ بِذلِكَ أَجْرٌ أَمَّا الْكُتُبُ لِلْحَمَى وَالرَّقِى وَالنَّشْرُ باِلْقُرْأَنِ وَبِالْمَعْرُوْفِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ فَلاَ بَأْسَ بِهِ اهـ (فتاوى حاشية ص 88)
Tradisi Tasyakuran atau Walimah
Sudah menjadi tradisi di seluruh penjuru nusantara, ketika menye-lenggarakan acara sunatan, maka mengadakan (walimatul khitan) tasyakuran khitanan, acara kemantin dimeriahkan dengan walimatul ‘arus, ketika selesai mendirikan sebuah bangunan juga mengadakan walimah, atau ketika mendapatkan rejeki lalu mengadakan tasyakuran atau walimah, baik tasyakuran itu dimeriahkan secara sederhana atau dengan istimewa. Bagaimanakah tradisi budaya acara tasyakuran atau walimah tersebut dalam pandangan fiqih?
Dalam pandangan fiqih tradisi budaya acara tasyakuran tersebut tidaklah bertentangan dengan syari’at Islam, sebab tasyakuran tersebut termasuk salah satu jenis walimah yang dianjurkan oleh ajaran Islam sebagaimana hadits Nabi:
أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ . (رواه الشيخان)
“Adakanlah walimah (dalam pernikahan)” sekalipun hanya dengan seekor kambing” (Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Musnad al-Thayalisi, dan banyak terdapat pada kitab hadits-hadits yang lain)
وَأَمَّا سَائِرُ الْوَلَائِمِ غَيْرُ وَلِيْمَةِ الْعُرْسِ فَالْمَذْهَبُ الَّذِيْ قَطَعَ بِهِ الْجُمْهُوْرُ أَنَّهَا مُسْتَحَبٌّ وَلَا تَتَأَكَّدُ تَأَكُّدَ وَلِيْمَةِ اْلعُرْسِ. (كفاية الأخيار ص 68)
Adapun walimah-walimah yang lain selain walimah pernikahan menurut madzhab yang ditetapkan mayoritas ulama adalah sunnah dan kesunatannya menjadi kuat pada walimah pernikahan. (Kifayah al-Akhyar, hal. 68)
Walimah merupakan undangan untuk merayakan kebahagiaan. Sedangkan hukum memenuhi undangan walimah adalah wajib kecuali ada ‘udzur.
Walimah menurut Imam Syafi’i dan pengikutnya tidak kurang dari sembilan macam yaitu:
- Walimatul ‘Arus adalah walimah yang diadakan untuk selamatan resepsi pernikahan.
- Walimatul I’dzar atau Khitan adalah walimah yang diadakan untuk selamatan acara khitanan.
- Walimatul ‘Aqiqah adalah walimah yang diadakan untuk memperingati selamatan hari ke-7 kelahiran bayi.
- Walimatul Khorsi adalah walimah yang diadakan khusus untuk selamatan wanita yang selamat dari thalaq suaminya.
- Walimatul Naqi’ah adalah walimah yang diadakan untuk selamatan orang yang datang dari bepergian.
- Walimatul Waqiroh adalah walimah yang diadakan untuk selamatan bagi orang yang akan atau sudah selesai mendirikan bangunan.
- Walimatul Wadhimah adalah walimah yang diadakan karena telah selamat dari musibah atau mara bahaya.
- Walimatul Khamli adalah walimah yang diadakan karena menyambut kehamilan seorang wanita.
- Walimatul Ma’dabah adalah walimah yang diadakan tanpa ada sebab-sebab tertentu.
Diterangkan dalam kitab Kifayat al-Akhyar, juz 2, hal. 68:
وَقاَلَ اَلشَّافِعِىُّ وَاْلأَصْحَابُ: اَلْوَلِيْمَةُ تَقَعُ عَلىَ كُلِّ دَعْوَةٍ تُتَّخَذُ لِسُرُوْرٍ حَادِثٍ كَنِكاَحٍ أَوْ خِتاَنٍ أَوْ غَيْرِهِمَا. وَاْلأَشْهَرُ اِسْتِعْمَالُهَا عِنْدَ اْلإِطْلاَقِ فِى النِّكَاحِ، وَتَفِيْدُ فِيْ غَيْرِهِ فَيُقَالُ لِدَعْوَةِ الْخِتاَنِ إِعْذاَرٌ، وَلِدَعْوَةِ الْوِلاَدَةِ عَقِيْقَةٌ، وَلِسَلاَمَةِ الْمَرْأَةِ مِنَ الطَّلَقِ خَرْسٌ، وَلِقُدُوْمِ الْمُسَافِرِ نَقِيْعَةٌ، وَلِإِحْدَاثِ اْلبِناَءِ وَكِيْرَةٌ، وَلِماَ يَتَّخِذُ لِلْمُصِيْبَةِ وَضِيْمَةٌ، وَلِمَا يَتَّخِذُ بِلاَ سَبَبٍ مَأْدَبَةٌ (كفاية الأخيار ج 2 ص 68)
Tasyakuran dan Tabarukan Do’a untuk Janin yang Berumur 3 atau 4 bulan (Neloni), 7 atau 8 bulan (Mitoni/ Tingkepan), ketika Masih dalam Kandungan
Sudah menjadi tradisi di belahan nusantara terutama di pulau Jawa ketika suatu keluarga akan dikaruniai seorang anak, maka pada masa kehamilannya sudah menginjak umur 3 atau 4 bulan, 7 atau 8 bulan, keluarga tersebut mengadakan kendurenan atau tasyakuran, (Neloni, Mitoni/Tingkepan) yang acara di dalamnya membacakan surat-surat al-Qur’an seperti Surat Yusuf, Maryam, Muhammad, al-Kahfi, Yasin, Fatah, Mulk, Taubat, ar-Rohman, al-Waqi’ah, dan dilanjutkan dengan tabarukan do’a untuk calon bayi dan keluarga. Yang menjadi persoalan, apakah tradisi ini dibenarkan oleh agama? Dan apakah ada dalil yang mendukungnya?
Ulama’ berpendapat bahwa ritual tersebut dapat dibenarkan, karena termasuk kategori walimah, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafi’i dalam kitab Kifayah al-Akhyar juz 2, halaman 68, sebagaimana telah disebutkan di atas.
Sedangkan dalil dari al-Qur’an yang mendukung adanya tradisi tersebut diantaranya adalah surat al-A’rof ayat 128 yaitu:
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلاً خَفِيْفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَّعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحاً لَّنَكُوْنَنَّ مِنَ الشَّاكِرِيْنَ (سورة الأعراف: 189)
Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) berdo’a kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”. (Qs. al-A’rof: 189)
Menanam Ari-Ari (Masyimah, Orang Jawa Menyebutnya Mendem Dulure Bayi)
Setiap bayi yang lahir pasti disertai gumpalan daging yang berisi darah atau biasanya disebut ari-ari, bersamaan dengan dibersihkannya badan bayi setelah lahir dan dipotong pusarnya, ari-ari tersebut sudah tidak berguna lagi, tetapi adat/tradisi dan budaya di nusantara menganggap dan mengambil ari-ari tersebut dengan sangat terhormat, sehingga ari-ari tersebut dikubur di tanah secukupnya, baik itu ari-ari pembungkus bayi ataupun ari-ari yang sambung dengan tali pusar. Setelah penanaman ari-ari bayi ini selesai, biasanya di atasnya diberi semacam damar, lilin/lentera sebagai penerangan dan ditaburi tiga macam bunga (kembang telon) kemudian disirami dengan air bunga atau memberikan wangi-wangian/kemenyan dan lain-lain, dan ditutup dengan kendi atau kuali.
Dalam konteks sosial dan tradisi budaya yang semacam ini, bagaimanakah pandangan ulama’ mengenai hukum adat tradisi menanam ari-ari dan budaya-budaya yang menyertainya penanaman ari-ari tersebut ?
Hukum menanam ari-ari adalah sunnah, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Asna al-Mathalib Syarh Raudhah at-Thalib:
وَيُسْتَحَبُّ دَفْنُ ماَ انْفَصَلَ مِنْ حَيٍّ لَمْ يَمُتْ فِي الْحَالِ أو مِمَّنْ شَكَكْنَا فِيْ مَوْتِهِ كَيَدِ سَارِقٍ وَظُفْرٍ وَشَعْرٍ وَعَلَقَةٍ وَدَمِ فَصْدٍ وَنَحْوِهِ إكْرَامًا لِصَاحِبِهَا (أسنى المطالب في شرح روضة الطالب باب الصلاة على الميت، ج 1 ص 313)
Disunnahkan mengubur sesuatu (anggota badan) yang terpisah dari orang yang masih hidup atau yang masih diragukan kematiannya, seperti tangan pencuri, kuku, rambut, gumpalan darah, darah akibat goresan dan suatu barang lain yang serupa, demi menghormati pemiliknya. (Asna al-Mathalib fii Syarh Raudhah at-Thalib bab as-Shalatu ‘ala al-Mayyit, juz 1 hal. 313)
Sedangkan hukum dari budaya yang menyertainya seperti menaburkan bunga di atasnya, memberikan wangi-wangian/ kemenyan, menyalakan lampu, damar atau lilin dan menutup dengan kendi atau kuali dan lain-lain, adalah sebagai berikut:
- Haram,karena budaya tersebut termasuk kriteria mubadzir (membuang-buang harta), dan tidak ada manfaatnya. Dan hukum dari memubadzirkan barang adalah haram, sesuai dengan firman Allah إِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْا إِخْوَانَ الشَّيَاطِيْنِ dan juga telah dijelaskan dalam kitab al-Bajuri sebagai berikut ini:
(تَعْرِيْفُ التَّبْذِيْرِ) أَىْ يَصْرِفُهُ فِىْ غَيْرِ مَصَارِفِهِ (قَوْلُهُ فِىْ غَيْرِ مَصَارِفِهِ) وَهُوَ كُلُّ مَا لاَ يَعُوْدُ نَفْعُهُ إِلَيْهِ عَاجِلاً وَلاَ آجِلاً فَيَشْمِلُ الْوُجُوْهُ الْمُحَرَّمَةُ وَالْمَكْرُوْهَةُ (الباجورى على فتح القريب في تعريف التبذير)
Maksud tabdzir atau mubadzir adalah menasarufkan harta di luar kewajarannya, yakni segala sesuatu yang tidak ada gunanya, baik jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga mencakup segala hal yang diharamkan maupun yang dimakruhkan. (al-Bajuri ‘alaa Fath al-Qorib Fii Ta’rifi al-Tabdzir)
- Boleh, menyalakan lampu, damar atau lilin dan memberikan kuali di atasnya dengan niatan agar tidak didekati dan tidak dirusak oleh hewan buas. Dan boleh menaburkan bunga, atau memberikan wangi-wangian/kemenyan, dengan tujuan memulyakan masyimah tersebut. Karena masyimah itu disamakan seperti mayit, berdasarkan hadits nabi; sesuatu yang terlepas dari orang yang hidup adalah mayit.
لِخَبَرِ مَا قُطِعَ مِنْ حَيٍّ فَهُوَ مَيِّتٌ رَوَاهُ الْحَاكِمُ (أسنى المطالب في الشرح روضة الطالب ج 1 ص 11)
Ceta’an/Nyeta’i (Pemberian Suapan Pertama pada Bayi yang Baru Lahir)
Nusantara memang kaya dengan tradisi, selain tradisi adzan dan iqomah di atas, di nusantara terutama di Jawa juga terdapat tradisi yang dinamakan ”ceta’an/nyeta’i” yaitu sebuah tradisi pemberian suapan pertama pada seorang bayi yang baru lahir dan do’a berkah pada sang bayi. Apakah tradisi semacam ini, juga dibenarkan oleh agama?
Dalam hal ini, ulama’ membenarkan adanya tradisi ceta’an tersebut dengan berpedoman pada hadits yang diriwayatkan dari Sayyidatina ’Aisyah ra. dan juga hadits yang diriwayatkan dari Asma’ binti Abi bakar yang menerangkan tentang haliyah keseharian Rasulullah ketika bertepatan dengan adanya kelahiran seorang bayi yang baru lahir, Beliau melaksanakan ceta’an dan berdo’a keberkahan. Hal ini diterangkan pada Kitab al-Ahkam an-Nawawi, yang diambil dari Kitab Shahih Bukhari-Muslim.
وَرَوَيْناَ بِالْإِسْناَدِ الصَّحِيْحِ فِى سُنَنِ أَبِيْ دَاوُدَ عَنْ عَائِشَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قاَلَتْ: كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى بِالصِّبْياَنِ فَيَدْعُوْ لَهُمْ وَيُحَنِّكُهُمْ، وَفِى رِوَايَةٍ فَيَدْعُوْ لَهُمْ بِالْبَرَكَةِ. (الأحكام النووي ص 244)
Dari Sayyidatina ’Aisyah ra. dia berkata: Rasulullah Saw. sering kedatangan anak-anak bayi yang baru lahir, Beliau langsung mendo’akan dan melaksanakan ceta’an (pada mulut) mereka”. Dan dalam satu riwayat, maka Rasulullah Saw. mendo’akan keberkahan untuk mereka (bayi). (al-Ahkam an-Nawawi, hal. 244)
عَنْ أَسْمَاءَ أَنَّهَا حَمَلَتْ بِعَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ بِمَكَّةَ قَالَتْ فَخَرَجْتُ وَأَنَا مُتِمٌّ فَأَتَيْتُ الْمَدِينَةَ فَنَزَلْتُ بِقُبَاءٍ فَوَلَدْتُهُ بِقُبَاءٍ ثُمَّ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَوَضَعَهُ فِى حَجْرِهِ ثُمَّ دَعَا بِتَمْرَةٍ فَمَضَغَهَا ثُمَّ تَفَلَ فِىْ فِيْهِ فَكَانَ أَوَّلَ شَىْءٍ دَخَلَ جَوْفَهُ رِيْقُ رَسُولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ حَنَّكَهُ بِالتَّمْرَةِ ثُمَّ دَعَا لَهُ وَبَرَّكَ عَلَيْهِ وَكَانَ أَوَّلَ مَوْلُوْدٍ وُلِدَ فِى الإِسْلاَمِ (صحيح مسلم باب استحباب تحنيك المولود)
Dari Sayyidatina Asma’ binti Abi Bakar, dia berkata: “Pada saat saya hamil putra Abdullah bin Zubair di Makah, suatu waktu kami pergi ke Madinah, berhubung saya menyempurnakan shalat, sesampai di Madinah saya berhenti di masjid Quba’ (untuk menunaikan shalat), mendadak saya melahirkan di masjid. Maka seraya saya datang sowan ke Rasulullah Saw., maka Rasulullah membopong/menaruh si kecil di pangkuannya, kemudian beliau meminta tamar (kurma) dan mengunyahnya, lalu disuapkan pada mulut bayiku. Maka makanan yang pertama kali masuk ke mulut bayiku adalah ludah Rasulullah Saw. Kemudian Rasul menceta’i bayiku dengan kurma tersebut, kemudian Beliau berdo’a berkah untuknya. Dan putra Abdullah bin Zubair adalah bayi yang terlahir pertama kali di masa Islam. (Shahih Muslim bab Istihbab Tahniki al-Maulud)
Aqiqah
Kelahiran bayi adalah anugrah dari Allah yang merupakan kebahagiaan tak ternilai bagi orang tua. Sudah menjadi tradisi orang Islam yaitu melaksanakan aqiqah dengan penyembelihan kambing karena hal tersebut adalah sunnah rasul. Hal ini biasa dilaksanakan pada hari ke tujuh dari kelahiran bayi. Acara ini juga diiringi dengan pemotongan rambut bayi yang pertama kali dan disertai dengan pemberian nama.
Berapa kambing yang disembelih ketika melaksanakan aqiqah dan apa saja syarat-syaratnya?
Kambing yang disembelih ketika melaksanakan aqiqah adalah:
- Untuk laki-laki, yang afdhal adalah menyembelih dua ekor kambing.
- Untuk perempuan, yang afdhal adalah menyembelih satu ekor kambing.
وَاَفْضَلُهَا شَاتَانِ لِلذَّكَرِ وَشَاةٌ لِلْأُنْثَى لِخَبَرِ التِّرْمِذِي عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ اَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنْ نَعِقَّ عَنِ اْلغُلَامِ بِشَاتَيْنِ مُتَكَافِئَتَيْنِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ بِشَاةٍ (حاشية اعانة الطالبين، جز ٢، ص ٣٣٥)
Hal ini juga disebutkan dalam hadits berikut ini:
حَدَّثَنَا اَبُوْ بَكْرِ ابْنُ اَبِى شَيْبَةَ وَهِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عُبَيْدِاللهِ بْنِ اَبِى يَزِيْدَ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ سِبَاعِ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ أُمِّ كُرْزٍ قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُتَكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ (سنن ابن ماجة، جز ٢، ص ٢٤٩)
Adapun syarat kambing yang disembelih adalah selamat dari kecacatan dan harus gemuk. Maka tidak cukup hanya dengan menyembelih kambing yang buta, pincang, sakit, sangat kurus, gatal-gatal (gudiken: jawa), gila, hamil dan lain sebagainya.
(قَوْلُهُ وَسَلَامَتُهَا مِنْ عَيْبٍ يَنْقُصُ لَحْمُهَا) فَلَا تَجْزِئُ الْعَوْرَاءُ وَالْعَرْجَاءُ وَالْمَرِيْضَةُ مَعَ الشِّدَّةِ فِي ذَلِكَ بِخِلَافِ الْيَسِيْرِ فَلَا يَضُرُّ وَالْعَجْفَاءُ وَهِيَ الْهَزِيْلَةُ وَالْجُرْبَاءُ وَالْمَجْنُوْنَةُ وَالْحَامِلُ وَنَحْوُهَا (حاشية الباجوري، جز ٢، ص ٣۰٤)
‘Aqiqah/Kekah, Memotong Rambut Pertama dan Pemberian Nama pada Bayi
Setelah masa kelahiran anak yaitu setelah umur tujuh hari, di nusantara ada tradisi yang namanya ‘aqiqoh yaitu upacara pemotongan rambut bayi yang baru lahir dengan menyembelih kambing, sekaligus memberikan nama pada bayi yang baru lahir (Walimatut Tasmiyah).
Upacara aqiqoh biasanya sebelumnya diiringi dengan acara ritual yaitu pembacaan surat Yasiin dan berzanjen (maulidin Nabi) pada hari ketujuh dari kelahiran bayi, pada saat mahalul qiyam (maqom) diadakan upacara pemotongan rambut pertama pada bayi. Tradisi ini biasanya dirangkai dengan acara tasyakuran keluarga, mengundang sanak famili, kerabat dan tetangga.
Bagaimanakah fatwa ulama’ dalam menyikapi hukum pada tradisi tersebut?
Dalam hal ini, ulama’ berpendapat bahwa ‘aqiqah dilaksanakan karena setiap anak (ketika lahir) itu masih tergadaikan dengan ‘aqiqahnya, untuk menebus/membebaskannya maka harus dengan menyembelihkan (hewan kambing) pada hari ketujuh dari hari kelahirannya. Pendapat ini berpedoman pada hadits yang diriwayatkan Samroh Ibnu Jundab ra.
عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى». قال الترمذي: حديث حسن صحيح. (سنن أبي داود، باب في العقيقة)
Hadits diriwayatkan dari Samroh ibnu Jundab ra. menyatakan: Sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: ”Setiap anak itu masih tergadaikan dengan aqiqohnya, disembelihkan (hewan kambing) pada hari ketujuh dari hari kelahirannya adalah sebagai pembebasannya, dilanjutkan pelaksanakan pencukuran rambut dan pemberian nama”. (Sunan Abi Dawud bab Fii al-Aqiqah)
Melaksanakan aqiqoh dihukumi sunnah, sebagaimana di jelaskan dalam kitab al-Muqoddimah al-Khadlramiyah Fashlun Fi al-Aqiqoh, adapun waktu pelaksanaannya adalah mulai bayi dilahirkan sampai dia baligh (ketika sudah baligh, maka dia mengaqiqahi dirinya sendiri, bukan orang tuanya).
Dan waktu yang paling utama untuk aqiqah adalah pada hari ke-7 dari kelahiran bayi, apabila belum mampu pada hari ke-7 maka diaqiqohi pada hari ke-14 atau hari ke-21;
وَالْعَقِيْقَةُ سُنَّةٌ كَالْأَضْحِيَّةِ وَوَقْتُهَا مِنَ الْوِلاَدَةِ إِلَى اْلبُلُوْغِ ثُمَّ يَعُقُّ عَنْ نَفْسِهِ وَالْأَفْضَلُ فِي الْيَوْمِ السَّابِعِ فَإِنْ لَمْ يَذْبَحْ فِيْهِ فَفِي الرَّابِعَ عَشَرَ وَإِلاَّ فَفِي الْحَادِيَ وَالْعِشْرِيْنَ. (المقدمة الحضرمية فصل في العقيقة)
Adapun hewan ‘aqiqah yang disembelih sunnahnya adalah:
- 2 ekor kambing untuk bayi laki-laki
- 1 ekor kambing untuk bayi perempuan
Sebagaimana keterangan di bawah ini:
وَأَفْضَلُهَا شَاتاَنِ لِلذَّكَرِ، وَشَاةٌ لِلْأُنْثَى، لِخَبَرِ التِّرْمِذِيِّ: عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قاَلَتْ: أَمَرَناَ رَسُوْلُ اللهِ (صلى الله عليه وسلم) أَنْ نَعُقَّ عَنِ الْغُلاَمِ بِشَاتَيْنِ مُتَكاَفِئَتَيْنِ، وَعَنِ الْجَارِيَةِ بِشَاة. (حاشية إعانة الطالبين، ج 2، ص 381)
Dan yang paling utama dalam aqiqah, menyembelih dua ekor kambing bagi bayi laki-laki dan satu ekor kambing bagi bayi perempuan, berdasarkan hadits nabi yang diriwayatkan Siti ‘aisyah ra. “Bahwa Rasulullah Saw. memerintahkanku menyembelih dua ekor kambing bagi bayi laki-laki dan satu ekor kambing bagi bayi perempuan. (Hasyiyah I’anah al-Thalibin, juz 2, hal. 381)
Hukum Khitan
Para ulama’ berbeda pendapat tentang hukum khitan bagi anak laki-laki dan perempuan, sebagaimana keterangan berikut ini:
- Wajib khitan bagi anak laki-laki maupun anak perempuan.
- Wajib bagi anak laki-laki dan sunnah bagi anak perempuan.
Sebagaimana diterangkan dalam kitab I’anah at-Thalibin:
وَوَجَبَ خِتَانٌ لِلْمَرْأَةِ وَالرَّجُلِ حَيْثُ لَمْ يُوْلَدَا مَخْتُوْنَيْنِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا. وَمِنْهَا الْخِتَانُ اِخْتَتَنَ وَهُوَاِبْنُ ثَمَانِيْنَ سَنَةً. وَقِيْلَ وَاجِبٌ عَلَى الرَّجُلِ وَسُنَّةٌ لِلنِّسَاءِ. وَنَقَلَ عَنْ اَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ. (اعانة الطالبين ج 4 ص 173)
Dan dihukumi wajib untuk melaksanakan khitan bagi anak perempuan dan anak laki-laki yang sekiranya sebelum dilahirkan sudah dalam kondisi dikhitan. Kewajiban pelaksanaan khitan ini berdasarkan atas Firman Allah Swt: “Ikutilah ajaran Nabi Ibrahim”. Dan diantara ajaran Nabi Ibrahim adalah khitan, nabi Ibrahim berkhitan pada usia 80 tahun. Dan pendapat lain mengatakan pelaksanaan khitan dihukumi wajib bagi anak laki-laki dan dihukumi sunnah bagi anak perempuan, sebagaimana pendapat mayoritas ulama”. (I’anah at-Thalibin, juz 4, hal. 173)
Adat Walimatul Khitan
Adat atau tradisi walimatul khitan/sunatan di wilayah nusantara sudah berlaku sejak nenek moyang sampai sekarang ini. Pelaksanaan sunatan ini, sering dimaknai sebagai masa awal seorang anak untuk mengenal apa yang disebut dewasa. Sedang pelaksanaan khitanan ini di berbagai daerah beragam, ada yang melaksanakan pada hari ke tujuh hari kelahiran, ada yang pada hari ke empat puluhnya, namun rata-rata adalah ketika si anak berumur 7 sampai 9 tahun.
Dan dalam hal ini, banyak sekali model dan tradisi yang berkembang di masyarakat tentang pelaksanaan walimatul khitan ini. Yang menjadi persoalan, apakah ada dasar hukum menjalankan tradisi walimatul khitan/tasyakuran sunatan tersebut?
Dalam konteks ini, ulama’ berpendapat:
- Sunnah meramaikan walimah khitan bagi laki-laki
- Sunnah menyamarkan walimah khitan bagi perempuan.
Sebagaimana keterangan berikut:
وَظَاهِرُ كَلاَمِهِمْ فِي الْوَلاَئِمِ، أَنَّ اْلأَظْهَارَ سُنَّةٌ فِيْهِمَا، إِلاَّ أَنْ يُقَالَ لاَ يَلْزَمُ مِنْ نَدْبِ وَلِيْمَةِ الْخِتَانِ إِظْهَارُهُ فِي الْمَرْأَةِ اهـ. (حاشية إعانة الطالبين، ج 4 ص 175)
Dan dhahir dari perkataan para ulama’ di dalam walimah, sesungguhnya meramaikannya adalah sunnah bagi laki-laki dan perempuan, kecuali apa yang dikatakan para ulama’ tidak menuntut hukum kesunnahan walimah khitan untuk meramaikannya bagi wanita. (Hasyiyah ‘Ianah at-Thalibin, juz 4, hal 175)
Makan Sebelum dan Sesudah Melaksanakan Shalat Ied
Pada saat sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri dan sesudah shalat Idul Adha, para jama’ah disunnahkan untuk makan terlebih dahulu, sebagaimana keterangan sebagai berikut:
عَنْ اِبْنِ بُرَيْدَةِ عَنْ أَبِيْهِ قاَلَ كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَيَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَلاَيَطْعَمَ يَوْمَ اْلأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّى (بلوغ المرام، ص. 105)
Dari ibnu Buraidah dari ayahnya ia berkata, bahwasanya Rasulullah pada hari raya Idul Fitri tidak akan keluar, sehingga beliau makan. Dan beliau tidak akan makan pada hari raya Idul Adha sehingga mengerjakan shalat Idul Adha. (Bulugh al-Maram, hal. 105)
وَالْحَدِيْثُ دَلِيْلُ عَلَى شَرْعِيَّةِ اْلأَكْلِ يَوْمَ اْلفِطْرِ قَبْلَ الصَّلاَةِ وَتَأْخِيْرِهِ يَوْمَ اْلأَضْحَى إِلَى مَا بَعْدَ الصَّلاَةِ (سبل السلام ج 2 ص 65)
Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya makan sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri dan sesudah shalat Idul Adha. (Subul al-Salam juz 2 hal.65)
Dengan demikian, makan sebelum berangkat shalat Idul Fitri hukumnya sunnah. Adapun pada hari raya Idul Adha disunnahkan makan sesudah shalat, seperti yang telah dikerjakan oleh Rasulullah Saw.
Hukum Mengibarkan Bendera
Setiap negara pasti mempunyai bendera sebagai lambang kebesaran dari negara tersebut, misalnya negara Indonesia yang mempunyai bendera kebesaran Merah Putih. Pada setiap momen–momen tertentu, seperti halnya ketika memperingati HUT kemerdekaan NKRI, pemerintah mewajibkan setiap warga negara untuk mengibarkan bendera Merah Putih pada setiap rumah, perkantoran, pabrik dan lain sebagainya. Dari hal tersebut, bagaimanakah hukum mengibarkan bendera menurut Islam, adakah dalil yang menerangkannya?
Hukum mengibarkan bendera adalah boleh, karena Nabi juga pernah memerintahkan sahabat Zubair untuk mengibarkan sebuah bendera pada suatu tempat, sebagaimana keterangan dalam kitab Shahih al-Bukhari:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ: سَمِعْتُ الْعَبَّاسَ يَقُولُ لِلزُّبَيْرِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا هَاهُنَا أَمَرَكَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ تَرْكُزَ الرَّايَةَ (صحيح البخارى، ج 2، ص 303)
Telah bercerita kepadaku Muhammad bin al-‘Allak, Abu Usamah telah bercerita kepadaku, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Nafi’ bin Jubair, dia berkata; “Aku telah mendengar Ibnu Abbas berkata kepada Zubair, semoga Allah meridhai keduanya, di tempat ini nabi Muhammad Saw menyuruhmu untuk mengibarkan bendera”. (Sahih al-Bukhari, bab ma Qiila fi Liwaa’i an-Nabi, juz 2, hal. 303)
Hukum Penghormatan Pada Bendera
Setiap merayakan hari kemerdekaan negara Indonesia, masyarakat diharuskan untuk memperingatinya, yang salah satunya dengan cara mengadakan upacara bendera. Dalam upacara tersebut tentunya tidak terlepas dari penghormatan pada bendera. Dari permasalahan tersebut, bolehkah kita sebagai warga negara, melakukan penghormatan pada bendera?
- Tidak boleh, apabila penghormatan tersebut dilakukan dengan cara bersujud
وَالْقِسْمُ الثَّانِى الأَفْعَالُ كَسُجُوْدٍ لِصَنَمٍ أَوْ شَمْسٍ أَوْ مَخْلُوْقٍ آخَرَ (إسعاد الرفيق، ج 1، ص 55)
Pembagian yang kedua adalah kufur dari jenis perbuatan seperti sujud pada berhala atau matahari atau makhluk yang lain. (Is’ad ar-Rafiq, juz 1, hal. 55)
- Boleh, apabila dalam memberikan penghormatan tersebut tidak sampai mengagungkan seperti mengagungkan Tuhan.
فَإِنْ قَصَدَ تَعْظِيمَ مَخْلُوقٍ بِالرُّكُوعِ كَمَا يُعَظِّمُ اللهَ بِهِ فَلاَ فَرْقَ بَيْنَهُمَا فِى الْكُفْرِ حِينَئِذٍ اهـ شَرْحُ م ر وَقَوْلُهُ، فَإِنْ قَصَدَ تَعْظِيمَ مَخْلُوقٍ إلخ أَيْ فَلَوْ لَمْ يَقْصِدْ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ كُفْرًا بَلْ لاَ يَكُونُ حَرَامًا أَيْضًا (حاشية الجمل، ج 5، ص 124)
Apabila sengaja mengagungkan makhluk dengan rukuk seperti mengagungkan Allah tidak ada perbedaan keduanya tentang hukum kufurnya. (Jika sengaja mengagungkan makhluk hingga perkataan), maksudnya jika tidak bertujuan demikian maka tidak dihukumi kufur dan juga tidak haram. (Hasyiah al-Jamal, juz 5, hal. 124)
Hukum Mengalungi Hewan Kurban ketika Akan Disembelih
Idul Adha merupakan salah satu hari besar Islam, yang mana pada hari itu terdapat hari tasyrik atau hari khusus untuk melaksanakan penyembelihan hewan qurban.
Sering kita jumpai di desa-desa dan perkampungan yang notabene masyarakatnya orang Jawa khususnya orang NU, sebelum hewan kurban disembelih, hewan tersebut diberi kalung rangkaian bunga, kain ataupun yang lainnya yang dalam masyarakat Jawa disebut dengan “sandingan”. Dari fenomena tersebut, bagaimanakah pandangan Islam dalam menghukumi kebiasaan masyarakat yaitu mengalungi rangkaian bunga atau memberi sandingan pada hewan qurban yang akan disembelih?
Hukum mengalungi hewan kurban ketika akan disembelih, dengan sebuah kalung, baik itu terbuat dari bunga, dari kain maupun yang lain, atau lebih umumnya masyarakat Jawa menyebutnya dengan istilah “sandingan” adalah sunnah/boleh, karena nabi Muhammad pernah melakukannya. Hal ini berdasarkan pada perkataan Siti Aisyah ra. yang mana beliau pernah memintali kalung-kalung hadiahnya Rasulullah yang kemudian Rasulullah mengirimkan hadiahnya ke Ka’bah.
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ مَسْرُوقٍ أَنَّهُ أَتَى عَائِشَةَ فَقَالَ لَهَا يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ رَجُلاً يَبْعَثُ بِالْهَدْيِ إِلَى الْكَعْبَةِ وَيَجْلِسُ فِى الْمِصْرِ فَيُوصِي أَنْ تُقَلَّدَ بَدَنَتُهُ فَلاَ يَزَالُ مِنْ ذَلِكَ الْيَوْمِ مُحْرِمًا حَتَّى يَحِلَّ النَّاسُ قَالَ فَسَمِعْتُ تَصْفِيقَهَا مِنْ وَرَاءِ الْحِجَابِ فَقَالَتْ لَقَدْ كُنْتُ أَفْتِلُ قَلاَئِدَ هَدْيِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَيَبْعَثُ هَدْيَهُ إِلَى الْكَعْبَةِ فَمَا يَحْرُمُ عَلَيْهِ مِمَّا حَلَّ لِلرِّجَالِ مِنْ أَهْلِهِ حَتَّى يَرْجِعَ النَّاسُ (إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري، ج 12، ص 369)
Imam Ahmad bin Muhammad telah bercerita kepadaku, Abdullah memberi kabar kepadaku, Ismail memberi kabar kepadaku dari asy-Sya’bi dari Masruqin, sesungguhnya dia datang pada Aisyah, dia berkata pada Aisyah: Wahai Ummul Mukminin, bahwasanya seorang laki-laki mengirimkan kurban ke Ka’bah dan dia bertempat tinggal di Mesir, dia berwasiat supaya ontanya dikalungi, maka tidak henti-hentinya pada hari itu dia berihram sampai orang-orang bertahallul. Masruqin berkata: Saya mendengar tepuk tangan Aisyah dari belakang tabir, Aisyah berkata: Saya memintal kalung-kalung hadiahnya Rasulullah, maka Rasulullah mengirimkan hadiahnya ke Ka’bah. Tidak haram bagi Nabi tehadap sesuatu yang halal bagi manusia sehingga manusia itu kembali. (Irsyad as-Sari li Syarh Sahih al-Bukhari, juz 12, hal. 369)
Waktu Penyembelihan Hewan Qurban
Qurban merupakan sunnah Rasul yang dianjurkan bagi orang Islam yang mampu. Qurban dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah. Adapun hewan qurban antara lain: unta, sapi dan kambing. Kapan waktu penyembelihan dan bagaimana hukumnya jika penyembelihan dilaksanakan di luar waktu yang ditentukan?
Waktu menyembelih hewan qurban adalah mulai dari setelah shalat Idul adha sampai akhir hari tasyriq (tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah). Seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Muhadzab berikut ini:
فَصْلٌ : وَيَدْخُلُ وَقْتُهَا اِذَا مَضَى بَعْدَ دُخُوْلِ وَقْتِ صَلَاةِ الْأَضْحَى قَدْرَ رَكْعَتَيْنِ وَخُطْبَتَيْنِ …………………. وَيَبْقَى وَقْتُهَا اِلَى اَخِرِ اَيَّامِ التَّشْرِيْقِ لِمَا رَوَى جَبِيْرُ بْنُ مُطْعَمٌ قَالَ: قال رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ اَيَّامِ التَّشْرِيْقِ اَيَّامُ ذَبْحٍ، فَاِنْ لَمْ يُضَحِّ حَتَّى مَضَتْ اَيَّامُ التَّشْرِيْقِ نُظِرَتْ، فَاِنْ كَانَ مَا يُضَحَّى تَطَوُّعًا لَمْ يَصِحْ لِاَنَّهُ لَيْسَ بِوَقْتٍ لِسُنَّةِ الْأُضْحِيَّةِ، وَاِنْ كَانَ نَذْرًا لَزِمَهُ اَنْ يُضَحِّىَ لِأَنَّهُ وَجَبَ عَلَيْهِ ذَبْحُهُ فَلَمْ يَسْقُطْ بِفَوَاتِ الْوَقْتِ (المهذب، ج 1، ص ٤٣٢ – ٤٣٣)
Hukum menyembelih hewan qurban di luar waktu yang ditentukan:
- Tidak sah, jika penyembelihan hewan qurban dilaksanakan sebelum hari raya.
فَاِنْ ذَبَحَ قَبْلَ ذَلِكَ لَمْ يُجْزِهِ (المهذب، ج 1، ص ٤٣٢–٤٣٣)
Hal ini juga dijelaskan dalam hadits berikut ini:
حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنِ الْأَسْوَدِ ابْنِ قَيْسٍ عَنْ جُنْدُبِ الْبَجَلِيِّ اَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُوْلُ شَهَدْتُ الْأَضْحَى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَبَحَ اُنَاسٌ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ ذَبَحَ مِنْكُمْ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَلْيُعِدْ أُضْحِيَّتَهُ وَمَنْ لَا، فَلْيَذْبَحْ عَلَى اسْمِ اللهِ (سنن ابن ماجة، جز ٢، ص ٢٤٦)
- Sah, apabila qurban tersebut adalah qurban wajib, contohnya qurban nadzar.
وَاِنْ كَانَ نَذْرًا لَزِمَهُ اَنْ يُضَحِّىَ لِأَنَّهُ وَجَبَ عَلَيْهِ ذَبْحُهُ فَلَمْ يَسْقُطْ بِفَوَاتِ الْوَقْتِ (المهذب، ج 1، ص :٤٣٣)
Hukum Menyembelih Hewan dengan Silatan Bambu
Ketika awal (megengan) dan akhir bulan Ramadhan (pada hari raya Idul Fitri), dan mauludan, biasanya masyarakat banyak yang mengadakan penyembelihan ayam dengan tujuan selametan atau tasyakuran (bersyukur) atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Dalam penyembelihan hewan tersebut disunnahkan dengan memakai sebuah pisau yang tajam, akan tetapi ada juga sebagian orang dalam menyembelih ayam memakai bambu tajam (dalam bahasa Jawa disebut silatan). Dalam pandangan agama Islam, apakah ada pendapat yang membolehkan menyembelih hewan dengan menggunakan silatan/ bambu yangtajam?
Hukum menyembelih hewan dengan silatan (alat yang terbuat dari bambu yang tajam) adalah boleh. Hal ini diterangkan dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab sebagai berikut:
فَإِنْ ذُبِحَ بِحَجَرٍ مُحَدَّدٍ أَوْ لِيْطَةٍ حَلَّ لِمَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ حَدِيْثِ كَعْبٍ بِنْ مَالِكِ فِي الْمَرْأَةِ الَّتِيْ كَسَرَتْ حَجَرًا فَذَبَحَتْ بِهَا شَاةً وَلِمَا رُوِيَ أَنَّ رَافِعَ بْنِ خَدِيْجِ قَالَ يَا رَسُوْلَ الله إِنَّا نَرْجُوْ أَنَّ نَلْقَى الْعَدُوَّ غَدًا وَلَيْسَ مَعَنَا مُدًى أَفَنَذْبَحُ بِالْقَصَبِ فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ فَكُلُوْا لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفْرَ وَسَأُخْبِرُكُمْ ذَلِكَ أَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ وَأَمَّا الظُّفْرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ وَإِنْ ذُبِحَ بِسِنٍّ أَوْ ظُفْرٍ لَمْ يَحِلَّ لِحَدِيْثِ رَافِعٍ بنِ خَدِيْجٍ (المجموع شرح المهذب، ج 9 ص 77)
Apabila hewan disembelih dengan batu yang tajam atau benda yang tajam maka halal, karena ada hadits yang telah aku sebutkan dari haditsnya Ka’ab bin Malik, dalam masalahnya perempuan yang memecah batu kemudian menyem-belih dengan batu tersebut. Dan juga ada hadits yang diriwayatkan oleh Rafi’ bin Khadij, dia berkata: Wahai Rasulullah sesungguhnya besok aku ingin menyembelih hewan, akan tetapi tidak punya pisau, apakah aku boleh menyem-belih dengan bambu? Rasululloh bersabda, “Segala sesuatu yang bisa meng-alirkan darah dan disebut asma Allah atas penyembelihannya, maka makanlah, selain gigi dan kuku dan akan aku beritahu kamu sesungguhnya gigi adalah tulang dan kuku adalah alat penyembelihan kaum Habasah. Dan apabila disembelih dengan gigi atau kuku maka tidak halal berdasarkan hadits Rafi’ bin Khadij. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 9, hal. 77)
Menyembelih Hewan dengan Mesin Pemotong
Pada era sekarang ini teknologi semakin terus berkembang dan maju. Hampir seluruh pekerjaan yang biasa dilakukan oleh manusia, sudah mulai digantikan dengan mesin. Bahkan, hingga untuk menyembelih dan memotong hewan menggunakan mesin.
Ada salah satu pabrik yang memproduksi hewan potong, yang mana ketika dalam proses penyembelihannya pabrik tersebut menggunakan mesin pemotong, alasannya untuk mempercepat proses penyembelihan. Bagaimana hukum menyembelih hewan menggunakan mesin tersebut?
- Boleh, dengan menggunakan alat yang tajam seperti pisau besi, bambu, batu, timah, emas, perak, kecuali tulang, gigi dan kuku. Kitab Jamal Wahab, juz 5, hlm. 241-242:
وَشُرِطَ فِى الْأَلَةِ كَوْنُهَا مُحَدَّدَةً بِفَتْحِ الدَّالِ الْمُشَدَّدَةِ أَىْ ذَاتِ حِدَّةٍ تَجْرِحُ كَحَدِيْدٍ أَيْ كَمُحَدَّدِ حَدِيْدٍ وَقَصَبٍ وَحَجَرٍ وَرِصَاصٍ وَذَهَبٍ وَفِضَّةٍ إِلَّا عَظْمًا كَسِنٍّ وَظُفْرٍ لِخَبَرِ الشَّيْخَيْنِ : مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اِسْمُ اللهِ عَلَيْهِ فَكُلُوْهُ لَيْسَ السِّنُّ وَالظُّفْرُ وَأُلْحِقَ بِهِمَا بَاقِيَ الْعِظَامِ.
- Tidak boleh, apabila matinya hewan itu tidak disebabkan tajamnya sebuah alat akan tetapi disebabkan beratnya alat tersebut. Raudhah al-Thâlibîn, hlm. 457:
القِسْمُ الثَّانِي: الآلَاتُ الْمُثَقَّلاَتُ إِذَا أَثَرَتْ بِثِقَلِهَا دَقًّا أَوْ خَنَقًا لَمْ يَحِلَّ الْحَيَوَانُ وَكَذَا الْمُحَدَّدُ إِذَا قُتِلَ بِثِقَلِهِ بَلْ لَابُدَّ مِنَ الْجَرَحِ (روضة الطالبين، ص 457)
Adapun syarat penyembelihan hewan yang sempurna ada 4 sebagaimana dalam kitab Fath al-Qarib, hlm. 61-62:
- Memotong jalan pernapasan (tenggorokan)
- Memotong jalan makanan dan minuman
- Memotong 2 urat leher yang berada di antara jalannya pernapasan (tenggorokan).
وَكَمَالُ الذَّكَاةِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ أَحَدُهَا قَطْعُ الْحُلْقُوْمِ وَالثَّانِى قَطْعُ الْمَرِىْءِ وَالثَّالِثُ وَالرَّابِعُ قَطْعُ الْوَدَجَيْنِ (فتح القريب، ص 61-62)
Hukum Orang Perempuan & Orang Buta Menyembelih Hewan
Aktifitas menyembelih hewan yang dilakukan oleh orang muslim laki-laki sudah jelas hukum yang membolehkannya dan halal hasil sembelihannya. Namun apabila kaum wanita muslimah, atau seseorang yang tuna netra (buta) yang melakukan penyembelihan hewan, apakah ada dalil yang memperbolehkannya?
Hukum seorang perempuan maupun orang yang buta menyem-belih hewan adalah boleh, sebagaimana keterangan berikut ini:
وَكَذَا تَحِلُّ ذَكاَةُ اْلأَعْمَى وَالْمَرْأَةُ وَإِنْ كَانَ حاَئِضًا وَاحْتَجَّ لِحِلِّ ذَبْحِهَا بِمَا وَرَدَ أَنَّ جَارِيَةَ لِآلِ كَعْبٍ كَانَتْ تَرْعَى غَنَماً لَهُمْ فَمَرِضَتْ شَاةٌ مِنْهَا فَكَسَرَتْ مَرْوَةَ وَذَبَحَتْهَا فَسَأَلَ مَوْلاَهَا رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَأَجَازَ لَهُمْ أَكْلَهَا وَالْمَرْوَةُ الْحَجَرُ اْلأَبْيَضُ وَفِيْهِ دِلاَلَةٌ عَلَى جَوَازِ الذَّبْحِ بِهِ وَاللهُ أَعْلَمُ (كفاية الاخيار، ج 2، ص 228)
Begitu juga halal sembelihan orang buta dan orang perempuan, meskipun dalam keadaan haid. Dan yang menjadi hujjah halalnya sembelihan orang perempuan yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, sesungguhnya budak wanitanya keluarga Ka’ab menggembalakan kambing milik mereka, kemudian ada seekor kambing yang sakit, maka budak tersebut memecahkan batu putih, dan digunakan untuk menyembelih. Kemudian tuannya bertanya kepada Rasulullah tentang hal ini, ternyata Rasulullah memperbolehkan memakannya. Marwah adalah batu putih. Dan dalil ini menunjukkan diperbolehkan dengan batu. (Kifayah al-Akhyar, juz 2, hal. 228)
Status Tanaman yang Condong ke Tanah Milik Orang Lain
Sering kita melihat perselisihan antar tetangga yang mana hal ini terkadang disebabkan oleh hal sepele seperti tanaman tetangga yang condong (Jawa: doyong) ke tanah tetangga lainnya. Perselisihan tersebut dikuatkan pula dengan dalih bahwa tanaman yang condong ke tanah orang lain bukan lagi milik orang yang punya tanaman, sehingga jika tanaman tersebut adalah tanaman yang memiliki buah, pemilik tanah tidak sungkan untuk memanen buah dari tanaman yang dahan pohonnya tersebut masuk ke area tanah miliknya dan mengkonsumsi-nya. Bahkan apabila tanaman tersebut mengotori halaman rumah dan mengganggu jalan, pemilik tanah tidak segan-segan memotongnya tanpa persetujuan dari pemilik tanaman.
Dari gambaran di atas, bagaimanakah hukum tanaman atau bagian pohon condong (masuk) ke area tanah orang lain?
Dalam masalah ini, ada beberapa solusi yang ditawarkan oleh fiqih:
- Bagi pemilik tanah boleh meminta kepada pemilik tanaman agar dahan pohonnya yang condong tersebut supaya dipindahkan.
- Jika pemilik pohon menolak, maka pemilik tanah boleh memindah-kannya sendiri.
- Jika kesulitan, maka pemilik tanah boleh memotongnya, walaupun tanpa seizin hakim. Sebagaimana penjelasan berikut ini:
مَسْأَلَةٌ اِنْتَشَرَتْ أَغْصَانُ شَجَرٍ إِلَى هَوَاءِ أَرْضِ جَارِهِ، فَلِصَاحِبِ اْلأَرْضِ مُطَالَبَتُهُ بِتَحْوِيْلِهَا، فَإِنِ امْتَنَعَ فَلَهُ التَّحْوِيْلُ ، فَإِنْ تَعَذَّرَ فَلَهُ قَطْعُهَا وَلَوْ بِغَيْرِ إِذْنِ الْقَاضِى (بغية المسترشدين، ص 244)
Menyebarnya dahan pepohonan ke atas tanah tetangga, bagi pemilik tanah boleh meminta agar dahan tersebut dipindahkan, jika pemilik pohon menolak, maka pemilik tanah boleh memindahkannya sendiri, jika kesulitan, maka boleh memotongnya, walaupun tanpa seizin hakim. (Bughyah al-Mustarsyidin, hal 244)
Hukum Laki-Laki dan Perempuan dalam Satu Kelas
Dewasa ini, sekolah dengan adanya percampuran pria dan wanita merupakan hal yang lumrah. Apalagi jika tenaga pendidik yang dimiliki masih minim, maka sudah pasti pemisahan antara pria dan wanita menjadi hal yang cukup sulit. Belum lagi jika jumlah ruang kelas yang minim dengan jumlah siswa yang amat banyak, juga adanya kelas-kelas unggulan dan lain sebagainya, tentunya hal ini merupakan sebuah permasalahan dari beberapa permasalahan yang harus diberi solusi jalan keluarnya.
Muncul sebuah pertanyaan: “Bagaimanakah hukum adanya percampuran pria dan wanita dalam sekolah yang tentunya didalamnya tidak luput dari memandang ghoiru mahram?”.
Ada qaul yang memperbolehkan percampuran antara laki-laki dan perempuan dengan syarat:
- Tidak bersentuhan
- Tidak terjadi pemandangan yang diharamkan
وَنَظَرُ الرَّجُلِ إِلَى الْمَرْأَةِ عَلَى سَبْعَةِ أَضْرُبٍ أَحَدُهَا نَظَرُهُ وَلَوْ كَانَ شَيْخًا هَرِمًا عَاجِزًا عَنِ الْوَطْءِ إِلَى أَجْنَبِيَّةٍ لِغَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى نَظَرِهَا فَغَيْرُ جَائِزٍ فَإِنْ كَانَ النَّظَرُ لِحَاجَةٍ كَشَهَادَةٍ عَلَيْهَا جَازَ. (قَوْلُهُ عَلَى سَبْعَةِ أَضْرُبٍ)… قَالَ الْجَلاَلُ الْمَحَلِّيُّ جَوَازُ النَّظَرِ لِلتَّعْلِيْمِ خَاصٌّ بِاْلأَمْرَدِ دُوْنَ الْمَرْأَةِ أَخْذًا مِنْ مَسْئَلَةِ الصَّدَاقِ فَإِنَّهَا تَقْتَضِيْ مَنْعَ النَّظَرِ إِلَى الْمَرْأَةِ لِلتَّعْلِيْمِ وَإِلاَّ لَمَّا تَعَذَّرَ وَالْمُعْتَمَدُ جَوَازُ النَّظَرِ للتَّعْلِيْمِ مُطْلَقًا. اهـ (حاشية الباجوري، ج 2، صحيفة 99-100)
Ada tujuh pembagian tentang pandangan seorang laki-laki kepada perempuan, salah satunya adalah pandangan seorang laki-laki terhadap perempuan lain tanpa ada hajat kebutuhan, yang meskipun seandaianya seorang laki-laki tua, pikun dan sudah tidak mampu lagi untuk melakukan hubungan suami istri (senggama) yang melihat kepada wanita lain tanpa ada hajat, maka tidak boleh. Namun, jika pandangan tersebut ada hajat seperti bersaksi untuk seorang perempuan lain, maka hukumnya boleh. Al-Jalal al-Mahalliy berkata: “Bolehnya seorang laki-laki untuk memandang perempuan lain dengan tujuan mengajar, hanya dikhususkan bagi lelaki belia, bukan perempuan. Sebagaimana didasarkan pada masalah mas kawin sehingga hal ini juga menuntut adanya larangan memandang wanita ketika mengajar, jika tidak tentu tidak sulit. Pendapat yang mu’tamad (dalil yang kuat) memperbolehkan melihat ketika belajar-mengajar secara mutlak. (Hasyiah al-Bajuri, juz 2, hal. 99-100)
Citation
Santri Pondok Pesantren demo: „Sosial Budaya“,Version 1.0. In: OES demo. Published by Pondok Pesantren demo, Pasuruan, Indonesia,