Puasa
- Version 1.0
Table of Contents
- Penetapan Awal dan Akhir Bulan Ramadlan
- Waktu Niat Puasa
- Puasa Sunnah dengan Niat Qadla’ Ramadlan
- Hukum Makan dalam Keadaan Lupa bagi Orang yang Berpuasa
- Hukum Merokok ketika Sedang Berpuasa
- Hukum Mengobati Mata ketika sedang Berpuasa
- Hukum Diperbolehkan tidak Berpuasa pada Bulan Ramadhan
- Hukum Puasa bagi Orang Sakit yang tidak Bisa Diharapkan Kesembuhannya
- Citation
- Metadata
Penetapan Awal dan Akhir Bulan Ramadlan
Masih ada perbedaan di kalangan umat Islam tentang penetapan awal dan akhir bulan Ramadlan. Sebagian menggunakan ru’yah (melihat bulan) dan sebagian lain memakai hisab (hitungan). Bagaimana sebenarnya cara yang tepat dan sesuai dengan ajaran Nabi?
Ada dua cara yang disepakati oleh jumhur (mayoritas) ulama’ untuk menentukan awal dan akhir puasa, yakni:
- Dengan melihat bulan
- Dengan menyempurnakan hitungan bulan Sya’ban.
Sebagaimana keterangan dalam kitab Ghoyatu al-Maqshad Fii Zawaidi al-Musnad bab Ru’yah al-Hilal, Sunan al-Daruqutni bab kitabu al-Shiyam, Ithaaf al-Khairah al-Mahrah bab Kitab Zakat, atau kitab-kitab hadits yang lain:
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ عِيسَى، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَابِرٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ جَعَلَ هَذِهِ الأَهِلَّةَ مَوَاقِيتَ لِلنَّاسِ، صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَتِمُّوا الْعِدَّةَ.
Telah bercerita kepadaku Ishaq bin Isa, Muhammad bin Jabir telah memberitahuku, dari Qais bin Thalqin, dari ayahnya, dia berkata: Rasulullah Saw. bersabda sesungguhnya Allah ‘Azza Waa Jalla Menjadikan bulan-bulan sebagai batasan waktu bagi manusia, maka berpuasalah karena melihatnya (hilal), dan berbukalah karena melihatnya juga. Apabila bulan tertutup mendung maka sempurnakanlah hitungan bulan sya’ban (30 hari). (Ghoyatu al-Maqshad Fii Zawaidi al-Musnad bab Ru’yah al-Hilal)
Dan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin halaman 108 dijelaskan:
لاَيَثْبُتُ رَمَضَانُ كَغَيْرِهِ مِنَ الشُّهُوْرِ اِلاَّ بِرُؤْيَةِ الْهِلاَلِ أَوْ اِكْماَلِ اْلعِدَّةِ ثَلاَثِيْنَ بِلاَفَرْقٍ
Bulan Ramadlan sama seperti bulan lainnya disepakati tidak boleh ditetapkan kecuali dengan telah melihat hilal, atau menyempurnakan bilangan menjadi 30 hari. (Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 108)
Waktu Niat Puasa
Puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari, misalnya makan dan minum dan lain-lain.
Para ulama’ sepakat bahwa puasa Ramadlan hukumnya adalah fardhu ‘ain, karena termasuk rukun Islam. Akan tetapi terdapat ikhtilaf tentang waktu pelaksanaan niat puasa Ramadlan?
- Menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad Ibnu Hanbal.
Niat puasa Ramadlan dilakukan setiap hari pada waktu malam hari dan untuk puasa sunnah tidak wajib niat di malam hari.
وَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُ اْلأَئِمَّةِ الثَّلاَثَةِ إِنَّ صَوْمَ رَمَضَانَ يَفْتَقِرُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى نِيَةٍ مُجَرِّدَةٍ مَعَ قَوْلِ مَالِكٍ إِنَّهُ يَكْفِيْهِ نِيَةٌ وَاحِدَةٌ مِنْ أَوَلِ لَيْلَةٍ مِنَ الشَّهْرِ اَنَّهُ يَصُوْمُ جَمِيْعَهُ. (الميزان الكبرى، ج 2 ص 27)
وَمِنْ ذلك قَوْلُ اْلأَئِمَّةِ الثَّلاَثَةِ إِنَّ صَوْمَ النَّفْلِ يَصِحُّ بِنِيَّةٍ قَبْلَ الزَّوَالِ مَعَ قَوْلِ ماَلِكٍ إِنَّهُ لاَ يَصِحُّ بِنِيَّةٍ مِنَ النَّهَارِ كاَلْوَاجِبِ (الميزان الكبرى، ج 2 ص 21)
Lafadz niatnya adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَداَءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضاَنِ هذِهِ السَّنَةِ فَرْضاً ِللهِ تَعاَلَى
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ رَجَبَ سُنَّةً ِللهِ تَعاَلَى
- Menurut Imam Malik
Niat puasa Ramadlan cukup satu kali pada awal bulan Ramadlan yang dilakukan di malam hari.
وَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُ اْلأَئِمَّةِ الثَّلاَثَةِ إِنَّ صَوْمَ رَمَضَانَ يَفْتَقِرُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى نِيَةٍ مُجَرِّدَةٍ مَعَ قَوْلِ مَالِكٍ إِنَّهُ يَكْفِيْهِ نِيَةٌ وَاحِدَةٌ مِنْ أَوَلِ لَيْلَةٍ مِنَ الشَّهْرِ اَنَّهُ يَصُوْمُ جَمِيْعَهُ. (الميزان الكبرى ج 2 ص 27)
Begitu juga dengan puasa sunnah, seperti puasa di bulan rajab menurut Imam Malik cukup niat satu kali yang dilakukan pada malam hari.
وَمِنْ ذلك قَوْلُ اْلأَئِمَّةِ الثَّلاَثَةِ إِنَّ صَوْمَ النَّفْلِ يَصِحُّ بِنِيَّةٍ قَبْلَ الزَّوَالِ مَعَ قَوْلِ ماَلِكٍ إِنَّهُ لاَ يَصِحُّ بِنِيَّةٍ مِنَ النَّهَارِ كاَلْوَاجِبِ ( الميزان الكبرى ج 2 ص 21 )
Lafadz niatnya adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرٍ عَنْ أَداَءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضاَنِ هذِهِ السَّنَةِ فَرْضاً ِللهِ تَعاَلَى
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرٍ مِنْ رَجَبَ سُنَّةً ِللهِ تَعاَلَى
- Menurut Imam Abu Hanifah
Sah, Niat puasa Ramadlan yang dilakukan pada waktu malam maupun siang hari hingga waktu zawal (matahari condong ke barat) dengan syarat niatnya disesuaikan dengan puasa yang dikerjakan, misalnya puasa Ramadlan, puasa Nadzar dan puasa-puasa yang lainnya. (al-Mizan al-Kubra, juz 2, hal.20)
اَلثَّانِي مَعَ قَوْلِ أَبِىْ حَنِيْفَةَ إِنَّهُ لاَيَجِبُ التَّعْيِيْنُ اَىْ التَّثْبِيْتُ، بَلْ تَجُوْزُ النِّيَةُ مِنَ اللَّيْلِ فَإِنْ لَمْ يَنْوِ لَيْلاً أَجْزَأَتْهُ النِّـيَةُ إِلَى الزَّوَالِ وَكَذلِكَ قَوْلُهُمْ فِي النَّذْرِ الْمُعَيَّنِ (الميزان الكبرى، ج 2، ص 20)
Puasa Sunnah dengan Niat Qadla’ Ramadlan
Terkadang seseorang dalam melakukan kewajiban berpuasa Ramadlan ada udzur (hal-hal yang membolehkan untuk tidak melaksanakannya), akan tetapi dia masih mempunyai kewajiban untuk menggantinya di lain hari. Jika orang tersebut melakukan qadha’ Ramadlan bersamaan dengan berpuasa sunnah dengan niat mengqadla’ puasa Ramadlan, bagaimanakah hukum dari niat tersebut?
Dalam masalah ini para ulama’ berpendapat sesuai dengan kadar keyakinan seseorang yang meninggalkan puasa tersebut.
- Tidak sah, puasa sunnah dengan diniati mengqadla’ puasa Ramadlan, jika orang tersebut masih ragu bahwa dia pernah meninggalkan puasa Ramadlan, jadi lebih baik cukup diniati satu puasa sunnah saja.
- Boleh dan sah, puasa sunnah dengan diniati mengqadla puasa Ramadlan. Kalau memang benar-benar pernah meninggalkan puasa Ramadlan.
وَيُؤْخَذُ مِنْ مَسْأَلَةِ اْلوُضُوْءِ هذِهِ اِنَّهُ لَوْشَكَّ اَنَّ عَلَيْهِ قَضاَءٌ مَثَلاً فَنَوَاهُ اِنْ كاَنَ وَاِلاَّ فَتَطَوُّعٌ صَحَّتْ نِيَّتُهُ اَيْضاً وَحَصَلَ لَهُ اْلقَضَاءُ بِتَقْدِيْرِ وُجُوْدِهِ بَلْ وَاِنْ باَنَ اِنَّهُ عَلَيْهِ وَاِلاَّ حَصَلَ لَهُ التَّطَوُّعُ كَمَا يَحْصُلُ فِى مَسْأَلَةِ الْوُضُوْءِ اِلَى اَنْ قَالَ: وَبِهَذَا يَعْلَمُ اَنَّ الْاَفْضَلَ لِمُرِيْدِ التَّطُوُّعُ بِالصَّوْمِ اَنْ يَنْوِىَ الْوَاجِبَ اِنْ كاَنَ عَلَيْهِ وَاِلاَّ فَالتَّطَوُّعُ لِيَحْصُلَ لَهُ مَا عَلَيْهِ اِنْ كاَنَ (الفتاوى الكبرى كتاب الصوم، ج 2 ص 50)
Dapat dipahami dari masalah wudlu’ ini bahwasanya jika ragu-ragu ia punya kewajiban yang harus diqadla’, maka dia harus berniat mengqadla’nya. Jika tidak kemudian dia shalat sunnah, maka niatnya tetap sah dan qadla’nyapun terbayar bahkan seandainya jelas bahwa dia memang mempunyai kewajiban qadla’, jika tidak, maka dia memperoleh sunnah sebagaimana dalam masalah wudlu’…. Dengan demikian diketahui, bahwa yang lebih baik bagi orang yang ingin niat sunnah dalam puasanya, maka dia berniat puasa wajib jika memang ada kewajiban terhadapnya, jika tidak maka dia niat puasa sunnah agar memperoleh apa yang menjadi kewajiban terhadapnya. (al-Fatawi al-Kubra, Bab Kitab as-Shaum, juz 2, hal. 50)
Hukum Makan dalam Keadaan Lupa bagi Orang yang Berpuasa
Ketika sedang berpuasa, kita kadang lupa makan dan minum. Ini tidak lebih karena manusia adalah tempatnya salah dan lupa.
Bagaimana hukum puasa bagi orang yang tidak sengaja makan dan minum pada waktu puasa?
Puasanya tetap sah, diterangkan dalam kitab Syarh Shahîh al-Bukharî li Ibn al-Baththâl, juz VI, hlm. 125:
حَدَّثَنَا اَبُوْبَكْرِبْنِ اَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا اُسَامَةً عَنْ عَوْفٍ عَنْ خِلَاسٍ وَمُحَمَّدِ بْنِ سِيْرِيْنَ عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُوْلِ للهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَمَ: مَنْ أَكَلَ نَاسِيًا وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ. فَاِنَّمَا اَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ
Abu Bakar bin Abi Syaibah bercerita kepadaku, Abu Usamah telah bercerita kepadaku, dari Auf, dari Khilas, dan Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah. “Rasulullah bersabda: Barang siapa makan (sedangkan dia) lupa bahwa dia adalah orang yang berpuasa, maka orang itu hendaknya menyempurnakan puasanya. Karena sesungguhnya itu adalah pemberian makan dan minum dari Allah atau karena Allah telah memberi makan dan minum baginya”.
Catatan: Puasanya orang yang makan karena lupa bisa menjadi batal jika ada orang yang mengingatkan bahwa dia sedang puasa, sementara dia tidak menghiraukan dan tetap meneruskan makan. Kemudian dia ingat.
Diterangkan dalam kitab Syarh Fath al-Qadîr, juz II, hlm. 331 berikut:
قَوْلُهُ: (نَاسِيًا لَمْ يُفْطِرْ) اِلاَّ فِيْمَا اِذَ اَكَلَ نَاسِيًا فَقِيْلَ لَهُ: اَنْتَ صَائِمٌ فَلَمْ يَتَذَكَّرْ وَاسْتَمَرَّ ثُمَّ تَذَكَّرَ (شرح فتح القدير، ج 2، ص 331)
Hukum Merokok ketika Sedang Berpuasa
Puasa adalah menahan makan dan minum yang dimulai sejak fajar sampai masuknya waktu adzan maghrib, akan tetapi di kalangan masyarakat kita terdapat beberapa persoalan tentang bagaimana hukumnya orang yang sedang berpuasa tetapi dia menghisap rokok?
Hal-hal yang dapat membatalkan puasa salah satunya adalah masuknya sesuatu/’ain (seperti air, minuman atau makanan) melalui beberapa lubang yang terdapat di dalam anggota tubuh yang bisa sampai ke lambung. Begitu juga dengan asap dari hisapan rokok, apabila seseorang sedang berpuasa dan dia menghisap rokok, maka hukumnya adalah: Membatalkan puasa, karena asap rokok itu mengandung nikotin dan nikotin tersebut adalah termasuk kategori ‘ain. Diterangkan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin;
(فَائِدَةٌ) لاَ يَضُرُّ وُصُوْلُ الرِّيْحِ بِالشَّمِّ وَكَذَا مِنَ الْفَمِّ كَرَاءِحَةِ الْبُخُوْرِ أَوْ غَيْرِهِ اِلَى الْجَوْفِ وَاِنْ تَعَمَّدَهُ لِأَنَّهُ لَيْسَ عَيْناً وَخَرَجَ بِهِ ماَ فِيْهِ عَيْنٌ كَرَاءِحَةِ النُتْنِ يَعْنِى اَلتَّنْباَكُ لَعَنَ اللهُ مِنْ أَحَدِثِهِ لِأَنَّهُ مِنَ اْلبِدْعِ اْلقَبِيْحَةِ فَيَفْطُرُ بِهِ. (بغية المستر شدين باب شروط الصوم، ص 111)
Tidak membatalkan puasa sampainya angin dengan indra pencium, begitu juga menghirup angin atau asap melalui mulut (tidak membatalkan puasa) walaupun disengaja, karena bukan merupakan ‘ain (benda), dikecualikan hal yang ada ‘ainnya seperti asap rokok (tembakau) yang dapat membatalkan puasa karena termasuk katagori memasukkan ‘ain (nekotin) dan juga termasuk bid’ah yang jelek. (Bughyah al-Mustarsyidin, bab Syurut as-Shaum, hal. 111)
Memang sebelumnya Imam Zayyadi pernah berpendapat bahwa merokok tidaklah membatalkan puasa, karena beliau mengira asap yang dihasilkan dari rokok itu sama saja dengan asap pada umumnya dan tidak termasuk kategori ‘ain, tetapi setelah beliau mengetahui kenyataannya secara pasti bahwa asap yang dihasilkan dari rokok tersebut ada kandungan nikotinnya, maka Imam Zayyadi merevisi pendapatnya yang pertama yaitu: Merokok tidak membatalkan puasa direvisi dengan pendapatnya yang kedua yaitu: Merokok dapat membatalkan puasa. Hal ini diterangkan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin, bab Syurut al-Shaum. hal.111-112.
(فَائِدَةٌ) لاَ يَضُرُّ وُصُوْلُ الرِّيْحِ بِالشَّمِّ وَكَذَا مِنَ الْفَمِّ كَرَاءِحَةِ الْبُخُوْرِ أَوْ غَيْرِهِ اِلَى الْجَوْفِ وَاِنْ تَعَمَّدَهُ لِأَنَّهُ لَيْسَ عَيْناً وَخَرَجَ بِهِ ماَ فِيْهِ عَيْنٌ كَرَاءِحَةِ النُتْنِ يَعْنِى اَلتَّنْباَكُ لَعَنَ اللهُ مِنْ أَحَدِثِهِ لِأَنَّهُ مِنَ اْلبِدْعِ اْلقَبِيْحَةِ فَيَفْطُرُ بِهِ , وَقَدْ أَفْتىَ ز.ي. بَعْدَ أَنْ أَفْتَى اَوَّلاً بِعَدَمِ اْلفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَرَاهُ اهـ ش.ق. (بغية المستر شدين باب شروط الصوم ص 111-112)
Tidak membatalkan puasa sampainya angin dengan indra pencium, begitu juga menghirup angin atau asap melalui mulut (tidak membatalkan puasa) walaupun disengaja, karena bukan merupakan ‘ain (benda), dikecualikan hal yang ada ‘ainnya seperti asap rokok (tembakau) yang dapat membatalkan puasa karena termasuk katagori memasukkan ‘ain (nekotin) dan juga termasuk bid’ah yang jelek. Dan sesungguhnya Imam zayyadi telah memberikan fatwa seperti ini (merokok ternyata membatalkan puasa) sesudah beliau memberikan fatwa pertama yaitu tidak batalnya pusa karena merokok, sebelum beliau mengetahui kenyataannya secara pasti. (Bughyah al-Mustarsyidin, bab Syurut al-Shaum, hal. 111-112)
Hukum Mengobati Mata ketika sedang Berpuasa
Ketika kita sedang berpuasa, baik puasa sunnah maupun puasa wajib, kita terkena sakit mata, lalu kita mengobati kedua mata kita dengan meneteskan obat cair ke dalamnya. Bagaimanakah hukum meneteskan obat tersebut dan batalkah puasa kita, mengingat obat tersebut ternyata terasa di tenggorokan?
Hukum mengobati mata dengan meneteskan obat cair ke dalam mata adalah:
- Tidak boleh, karena celak atau obat tersebut akan bisa sampai pada tenggorokan.
ثُمَّ تُنَاقِضُهُمْ فِي الْكُحْلِ عَجَبَ جِدًّا وَهُوَ أَشَدُّ وُصُوْلاً إِلَى الْحَلَقِ، وَمَجْرَى الطَّعَامِ مِنَ الْقُطُوْرِ فِي الْأُذُنِ (المحلي لابن حزم، ج 6، ص 215)
- Boleh dan tidak membatalkan puasa, karena obat mata yang terasa ditenggorokan tersebut masuk tidak melalui lubang-lubang tubuh yang bisa membatalkan puasa, melainkan melalui pori-pori, dan hal yang demikian itu tidak membatalkan puasa. Diterangkan dalam kitab Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal. 578:
وَلاَيَضُرُّ اْلاِكْتِحَالُ وَاِنْ وُجِدَ طَعَمُهُ اَىْ الْكُحْلُ بِحَلَقِهِ لِأَنَّ الْوَاصِلَ إِلَيْهِ مِنَ الْمَسَامِ. وَقَدْ رَوَى الْبَيْهَقِيْ: أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَكْتَحِلُ بِالْإِثْمِدِ وَهُوَ صَائِمٌ ” فَلَا يُكْرَهُ الْاِكْتِحَالُ لِلصَّائِمِ” (مغني المحتاج، ج، 1، ص 578)
Hukum Diperbolehkan tidak Berpuasa pada Bulan Ramadhan
Puasa Ramadhan adalah puasa yang wajib dilaksanakan bagi setiap mu’min sebagaimana ketetapan (nash) al-Qur’an bahwa diwajibkan bagi kaum mu’min berpuasa sebagaimana telah diwajibkan bagi kaum-kaum sebelumnya.
Terdapat beberapa rukhshah (kemurahan) atau diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Siapa saja yang berhak mendapatkan rukhshah (kemurahan) untuk tidak berpuasa?
Rukhshah (kemurahan) dalam puasa ramadhan berlaku bagi:
- Orang yang sudah sangat tua, orang yang sakit dan tidak ada harapan untuk sembuh sehingga dihawatirkan tidak memiliki waktu dilain hari untuk mengqadha’ (mengganti) puasanya. Hukumnya adalah wajib membayar fidyah dengan tanpa mengqadha’ (mengganti) puasa di lain hari.
- Perempuan hamil atau menyusui yang khawatir akan keadaan bayinya jika berpuasa. Hukumnya adalah wajib membayar fidyah dan wajib mengqadha’ (mengganti) puasa di lain hari.
- Orang sakit yang menghawatirkan kesehatannya ketika berpuasa, namun memiliki dugaan kuat bahwa ia akan sembuh. Dan orang yang melakukan perjalanan jauh (musafir) tidak dalam rangka kemaksiatan maka diperbolehkan baginya untuk tidak berpuasa, maka wajib bagi keduanya untuk mengqadha’ (mengganti) puasa di lain hari.
Keterangan ini berdasarkan kitab Fath al-Wahâb, juz I, hlm. 123, kitab al-Muhadzab, juz I, hlm. 178 dan kitab Raudhah al-Thâlibîn, hlm. 344:
(يَجِبُ المُدُّ) لِكُلِّ يَوْمٍ (بِلَا قَضَاءٍ عَلَى مَنْ أَفْطَرَ) فِيْهِ (لِعُذْرٍ لَا يُرْجَى زَوَالُهُ) كَكِبَرٍ وَمَرَضٍ لَايُرْجَى بُرْؤُهُ لِآيَةٍ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهُ الْمُرَادُ لَا يُطِيْقُوْنَهُ أَوْ يُطِيْقُوْنَهُ فِي الشَّبَابِ ثُمَّ يُعْجِزُوْنَ عَنْهُ فِى الْكِبَرِ وَرَوَى الْبُخَارِى أَنَّ عَبَّاسَ وَعَائِشَةَ كَانَا يَقْرَآنِ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَ وَمَعْنَاهُ يُكَلَّفُوْنَ الصَّوْمَ فَلاَ يُطِيْقُوْنَهُ وَقَوْلِى لِعُذْرٍ إِلَى آخِرِهِ اَعَمُّ مِنْ قَوْلِهِ لِكِبَرٍ (وَبِقَضَاءٍ عَلَى غَيْرِ مُتَحَيِّرَةٍ أَفْطَرَ) إِمَّا (لِإِنْقَاذِ آدَمِيٍّ) مَعْصُوْمٍ (مُشْرِفٍ عَلَى هَلاَكٍ) بِغَرْقٍ أَوْ غَيْرِهِ وَمَنْ يُمْكِنُ تَحْلِيْصُهُ إِلَّا بِفِطْرٍ (أَوْ لِخَوْفِ ذَاتِ وَلَدٍ) حَامِلٍ اَوْ مُرْضِعٍ (عَلَيْهِ) وَلَوْ كَانَ فِى الْمُرْضِعِ مِنْ غَيْرِهَا لِأَنَّهُ فِطْرٌ اِرْتَفَقَ بِهِ شَخْصَانِ وَأَخْذٌ فِى الثَّانِيَةِ بِقِسْمَيْهَا مِنَ اْلآيَةِ السَّابِقَةِ قَالَ اِبْنُ عَبَّاسٍ إِنَّهَا لَمْ تُنْسَخْ فِى حَقِّهِمَا وَرَوَاهُ الْبَيْهَقِى عَنْهُ بِخِلَافِ مَا لَوْ خَافَتَا عَلىَ أَنْفُسِهِمَا وَحَدُّهُمَا أَوْمَعَ وَلَدَيْهِمَا وَبِخِلَافِ مَنْ أَفْطَرَ مُتَعَدِّيًا أَوْ لِإِنْقَاذِ نَحْوِ مَالِ مُشْرِفٍ عَلَى هَلَاكٍ وَبِخِلَافِ الْمُتَحَيِّرَةِ إِذَا أَفْطَرَ لِشَيْءٍ مِمَّا ذُكِرَ فَلَا تَجِبُ الْفِدْيَةُ لِلشَّكِّ فِى الْأَخِيْرَةِ وَقِيَاسًا عَلَى الْمَرَضِ الْمَرْجُوِّ بُرْؤُهُ فِى الْأَوَّلَيْنِ وَلِأَنَّ ذَلِكَ لَيْسَ فِى مَعْنَى فِطْرٍ اِرْتَفَقَ بِهِ شَخْصَانِ فِى الثَّالِثَةِ وَلَا فِى مَعْنَى اْلآدَمِى فِى الرَّابِعَةِ وَالتَّقْيِيْدُ بِالْآدَمِىِّ وَبِالْغَيْرِ الْمُتَحَيِّرَةِ مِنْ زِيَادَتِيْ (فتح الوهاب، ج 1، ص. 123)
فَصْلٌ مَنْ عَجَزَ عَنِ الصّوْمِ وَمَنْ لَا يَقْدِرُ عَلَى الصَّوْمِ بِحَالٍ وَهُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيْرُ الَّذِيْ يَجْهِدُهُ الصَّوْمَ وَالْمَرِيْضُ الَّذِيْ لَا يُرْجَى بُرْؤُهُ فَإِنَّهُ لَا يَجِبُ عَلَيْهِمَا الصَّوْمُ لِقَولِهِ عزَّ وَجَلَّ {وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ} وَفِي الْفِدْيَةِ قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا لَا تَجِبُ لِاَنَّهُ أَسْقَطٌ عَنْهُمَا فَرْضُ الصَّوْمِ فَلَمْ تَجِبْ عَلَيْهِمَا الْفِدْيَةُ الصَّبِي وَالمْجْنُوْنِ وَالثَّانِي يَجِبُ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ مِنْ طَعَامٍ وَهُوَ الصَّحِيْحُ لِمَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ الشَّيْخُ الْكَبِيْرُ يُطْعِمُ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ أَدْرَكَهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يَسْتَطِعْ صَوْمَ رَمَضَانَ فَعَلَيْهِ لِكُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ مِنْ قَمْحٍ وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا إِذَا ضَعُفَتْ عَنِ الصَّوْمِ أَطْعِمْ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدًّا وَرَوَى أَنَّ أَنِسًا ضَعُفَ عَنِ الصَّوْمِ عَامًّا قَبْلَ وَفَاتُهُ فَأَفْطُرُ وَأَطْعَمُ (المهذب، ج 1، ص. 178 المكتبة الشاملة)
فَرْعٌ: اَلشَّيْخُ الْهَرَمُ الَّذِى لَا يَطِيْقُ الصَّوْمَ، أَوْ تَلْحَقُهُ بِهِ مَشَقَّةٌ شَدِيْدَةٌ، لَاصَوْمَ عَلَىْهِ. وَ فِيْ وُجُوْبِ الْفِدْيَةِ عَلَىْهِ، قَوْلَانِ. أَظْهَرُهُمَا: اَلْوُجُوْبُ. وَ يَجْرِي الْقَوْلَانِ فِي الْمَرِيْضِ الَّذِي لَا يُرْجَى بُرْؤُهُ. وَلَوْ نَذَرَ فِيْ خِلَالِ الْعَجْزِ صَوْمًا.
اَلطَّرِيْقُ الثَّانِيْ: لِوُجُوْبِ الْفِدْيَةِ مَا يَجِبُ لِفَضِيْلَةِ الْوَقْتِ، وَذَلِكَ فِيْ صُوْرٍ مِنْهَا: فَالْحَامِلُ وَ الْمُرْضِعُ، إِنْ خَافَتَا عَلَى أَنْفُسِهِمَا، أَفْطَرَتَا وَ قَضَتَا، وَ لَا فِدْيَةَ كَالْمَرِيْضِ. وَ إِنْ لَمْ تَخَافَا مِنَ الصَّوْمِ، إِلَّا عَلَى الْوَلَدِ، فَلَهُمَا الْفِطْرُ، وَ عَلَىْهِمَا الْقَضَاءُ. وَ فِي الْفِدْيَةِ أَقْوَالٌ. أَظْهَرُهَا: تُجِبُ، وَ الثَّانِيْ: تُسْتَحَبُ، وَ الثَّالِثُ: تَجِبُ عَلَى الْمُرْضِعِ دُوْنَ الْحَمْلِ (روضة الطالبين، ص 344)
Hukum Puasa bagi Orang Sakit yang tidak Bisa Diharapkan Kesembuhannya
Puasa ramadhan wajib hukumnya bagi semua orang Islam mukallaf. Namun bagaimana hukum puasa bagi orang islam mukallaf yang sakit dan tidak bisa diharapkan kesembuhannya?
- Menurut Qaul Imam Abu Hanifah orang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya tidak wajib berpuasa, akan tetapi wajib membayar fidyah.
- Menurut Imam Malik, tidak wajib berpuasa dan tidak wajib membayar fidyah
Hasyiah al-Jamal ‘ala Syarh al-Minhaj juz III, hlm. 443, Mizan al-Kubrâ, juz II, hlm 19:
Catatan:
1 sho’ : 4 Mud
1 Mud : 6 ons
Fidyah menurut Imam Abi Hanifah dan Imam Ahmad adalah memberikan setengah sha’ dari perharinya baik berupa gandum ataupun kurma. Fidyah Menurut Imam Syafi’I adalah memberikan 1 mud dari perharinya.
شرح م ر قوله وَلَوْ بِعُذْرٍ كَمَرَضٍ أَيْ يُرْجَى بَرَؤُهُ إِذِ الَّذِيْ لَا يُرْجَى بَرَؤُهُ مُوْجِبٌ لِلْفِدْيَةِ فَقَطْ كَمَا سَيَأْتِيْ فِي قَوْلِهِ فِي الْفَصْلِ وَيَجِبُ الْمُدُّ بِلَا قَضَاءٍ عَلَى مَنْ أَفْطَرَ فِيْهِ لِعُذْرٍ لَايُرْجَى زَوَالُهُ (حاشية الجمل على المنهج لشيخ الإسلام زكريا الأنصاري، ج 3، ص 443)
وَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُ أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَهُوَ الْأَصَحُّ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ إِنَّ الْمَرِيْضَ الَّذِيْ لَايُرْجَى بَرَؤُهُ وَالشَّيْخُ الْكَبِيْرُ لَاصَوْمَ عَلَيْهِمَا وَإِنَّمَا تَجِبُ عَلَيْهِمَا الْفِدْيَةُ فَقَطْ مَعَ قَوْلِ مَالِكٍ إِنَّهُ لَاصَوْمَ عَلَيْهِمَا وَلَافِدْيَةَ وَهُوَ قَوْلٌ لِلشَّافِعِيِّ ثُمَّ إِنَّ الْفِدْيَةَ عِنْدَ أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَأَحْمَدَ نِصْفُ صَاعٍ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِنْ بُرٍّ أَوْ تَمْرٍ وَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ مُدٌّ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ (الميزان الكبرى، ج 2، ص 19)
Citation
Santri Pondok Pesantren demo: „Puasa“,Version 1.0. In: OES demo. Published by Pondok Pesantren demo, Pasuruan, Indonesia,