hacklink hack forum hacklink film izle hacklink Dubai online casinosonline casinos Nederlandmadritbetสล็อตเว็บตรงBetAndreas AzərbaycanjojobetromabetnakitbahisBetsalvadorenbetcasinolevant

Search the OES Encyclopedia

Zakat

Pengertian Zakat

Zakat adalah mengeluarkan sebagian harta untuk diberikan pada yang berhak menerima zakat. Dalam literatur fiqih pada bab zakat para ulama’ madzhab sepakat bahwa golongan orang-orang yang berhak menerima zakat ada delapan, antara lain:

  1. Fakir, yaitu orang yang selalu tidak mampu memenuhi kebutuhan makan dalam sehari.
  2. Miskin, yaitu orang yang kurang bisa memenuhi kebutuhan, tetapi masih bisa mengusahakan.
  3. Amil, yaitu orang yang diberi tugas untuk mengelola zakat.
  4. Mu’allaf, yaitu orang yang baru masuk Islam.
  5. Budak, yang melakukan penebusan dirinya untuk merdeka.
  6. Ghorim, yaitu orang yang terbebani banyak hutang melebihi jumlah hartanya.
  7. Sabilillah, yaitu orang yang berperang di jalan Allah, meskipun kaya.
  8. Ibnu Sabil, yaitu orang yang kehabisan bekal selama dalam perjalanan dengan tujuan baik.

Hal ini diterangkan dalam kitab Tanwir al-Qulub halaman 226.

Pembagian Zakat

Zakat ada dua macam:

  1. Zakat mal (zakat harta)
  2. Zakat fitrah

Jenis barang yang wajib dikeluarkan zakatnya ada 5 macam:

  1. Hewan ternak, seperti kambing, sapi, unta
  2. Emas dan perak
  3. Hasil pertanian, seperti padi, kedelai, kacang dan lain lain
  4. Hasil pertanian, Seperti jenis buah-buahan
  5. Harta yang diperdagangkan.

Fungsi Zakat

Fungsi zakat adalah sebagai berikut:

  1. Ibadah maaliyah (yang berhubungan dengan harta)
  2. Membersihkan harta dan jiwa
  3. Menjuhkan diri dari siksa api neraka

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Fiqih Wadhih;

اَلزَّكاَةُ عِباَدَةٌ مَالِيَةٌ يَتَقَرُّبُهَا اْلعَبْدُ اِلىَ خاَلِقِهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا اَدَاهَا كاَمِلَةً عَلَى وَجْهِهَا الصَّحِيْحُ رَاضِيَةً بِهَا نَفْسُهَا مُبْتَغِيًّا بِهَا وَجْهَ رَبِّهِ تَعَالَى غَيْرَ مُرَاءٍ بِهَا النَّاسَ كاَنَ سَبَباً فِى نَجَاتِهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ وَدُخُوْلِهِ الْجَنَّةَ كَماَ صَرَحَتْ بِهَا اْلاَيَاتُ اْلقُرْاَنِيَّةُ وَاْلاَحاَدِيْثُ النَّبَوِيَّةُ. (الفقه الواضح من الكتاب والسنة، ج 1 ص 464)

Zakat merupakan ibadah malliyah yang dapat dijadikan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada sang khalik azza wajalla. Jika seorang hamba menunaikannya dengan sempurna, sesuai dengan aturan yang benar, ikhlas dan hanya mencari ridla Allah Swt., tidak ada maksud ingin dipuji orang, maka akan menjadi sebab terbebasnya dari adzab api neraka, dan masuk ke dalam surga, sebagaimana telah ditegaskan ayat al-Qur’an dan hadits Nabi. (al-Fiqih al-Wadhih min al-Kitab wa as-Sunnah, juz 1, hal.464)

Dan juga dijelaskan dalam hadits Sahih Bukhari;

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ حِيْنمَاَ بَعَثَهُ إِلَى اْليَمَنِ: فَاعْلَمْهُمْ أَنَّ اللهَ اِفْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ اَغْنِياَئِهِمْ فَتُرَدَّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ. (صحيح البخاري رقم 1308)

Diriwayatkan dari Ibnu Abas bahwa Nabi bersabda kepada Mua’adz bin Jabal ketika mengutusnya ke Yaman (Wahai Mu’adz) beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah Swt. mewajibkan kepada mereka untuk mengeluarkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir diantara mereka. (Sahih Bukhari, [1308])

Dengan demikian dapat kita pahami bahwa zakat adalah sebagai sarana untuk membangun hubungan rohani dengan Allah Swt. (hablun min Allah) dan juga terdapat aspek sosial (hablun min an-nas) yang terletak pada semangat kepedulian sosial yang menjadi misi utama ibadah ini, yakni zakat diwajibkan kepada orang-orang yang memiliki harta lebih dan diperuntukkan bagi orang-orang yang membutuhkan.

Zakat Fitrah

Syarat wajib zakat fitrah:

  1. Islam
  2. Merdeka
  3. Memiliki kelebihan biaya untuk dirinya beserta keluarganya dan dari biaya pembayaran hutang, diwaktu hari raya

Diterangkan dalam kitab Nihayah al-Zain halaman 173.

(وَتَجِبُ الْفِطْرَةُ عَلَى حُرٍّ بِغُرُوْبِ لَيْلَةِ فِطْرٍ عَمَّنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ وَلَوْ رَجْعِيَّةً إِنْ فَضَلَ عَنْ قُوْتِ مَمُوْنٍ) لَهُ (يَوْمَ عِيْدٍ وَلَيْلَتِهِ وَعَنْ دَيْنٍ) كَمَا اعْتَمَدَهُ اِبْنُ حَجَرٍ تَبَعًا لِلْمَاوَرْدِيِّ كَقَوْلِ إِمَامِ الْحَرَمَيْنِ دَيْنُ اْلآدَمِيْ يَمْنَعُ وُجُوْبَ الْفِطْرَةِ بِالْاِتِّفَاقِ (وَمَا يُخْرِجُهُ فِيْهَا) أَيْ اَلْفِطْرَةِ )نهاية الزين، ص 173(

Adapun barang yang digunakan untuk berzakat adalah berupa makanan pokok di daerah masing-masing, misalnya beras, gandum, sagu dan lain sebagainya. Ukuran barang yang dikeluarkan untuk zakat fitrah adalah 1 sha’ (4 mud) atau 2,5 kg atau lebih.

(وَهِيَ) اَىْ زَكاَةُ الْفِطْرِ (صَاعً) وَهُوَ أَرْبَعَةُ أَمْدَادٍ وَالْمُدُّ رِطْلٌ وَثُلُثٌ فَلاَ تُجْزِئُ مِنْ غَيْرِ غاَلِبِ قُوَّتِهِ أَوْ قُوَّتٍ مُؤَدٍّ أَوْ بَلَدِهِ لِتَشَوُّفِ النُّفُوْسِ لِذَلِكَ  (فتح المعين، 50)

تُجِبُ زَكاَةُ اْلفِطْرِ بِغُرُوْبِ الشَّمْسِ لَيْلَةَ اْلعِيْدِ عَلَى مَنْ مَلَكَ صَاعًا – وَهُوَ أَرْبَعَةُ أَمْدَادٍ وَالْمُدُّ رِطْلٌ وَثُلُثٌ (التذكرة الباب فصل زكاة الفطر، ج 1 ص 73)

Waktu Mengeluarkan Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah salah satu rukun Islam yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim pada bulan Ramadhan bagi mereka yang mampu.

Tentang waktu mengeluarkan zakat, para ulama memiliki beberapa pandangan sebagaimana berikut:

  1. Boleh, mengeluarkan zakat di awal bulan Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam kitab Hasyiah al-Jamal ‘ala Syarh al-Minhaj, juz III, hlm. 385:

وَصَحَّ تَعْجِيْلُهَا لِفِطْرَةٍ فِيْ رَمَضَانَ وَلَوْ فِيْ أَوَّلِهِ لِأَنَّهَا تَجِبُ بِالْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ فَهُوَ سَبَبٌ آخَرَ لَهَا أَمَّا قَبْلَهُ فَلَا يَصِحُّ لِأَنَّهُ تَقْدِيْمٌ عَلَى السَّبَبَيْنِ (حشية الجمل على شرح المنهج، ج  ٣، ص ٣٨٥)

  • Wajib, mengeluarkan zakat pada saat terbenamnya matahari di malam Idul Fitri, sebagaimana hal ini menurut qaul jadid (fatwa imam Syafi’i ketika beliau tinggal di Mesir). Dijelaskan dalam kitab Raudhah al-Thalibin, hlm. 306:

وَفِيْ وَقْتِ وُجُوْبِهَا أَقْوَالٌ أَظْهَرُهَا وَهُوَ الْجَدِيْدُ تَجِبُ بِغُرُوْبِ الشَّمْسِ لَيْلَةَ الْعِيْدِ (روضة الطالبين، ص ٣۰٦)

  • Wajib, mengeluarkan zakat pada saat keluarnya matahari di hari Idul Fitri, sebagaimana hal ini menurut qaul qadim (fatwa imam Syafi’i ketika beliau tinggal di Baghdad) Dijelaskan dalam kitab Raudhah al-Thalibin, hlm. 306:

وَالثَّانِي وَهُوَ الْقَدِيْمُ تَجِبُ بِطُلُوْعِ الْفَجْرِ يَوْمَ الْعِيْدِ (روضة الطالبين، ص ٣۰٦)

وَالْحَاصِلُ أَنَّ لِلْفِطْرَةِ خَمْسَةُ أَوْقَاتٍ وَقْتُ جَوَازٍ وَهُوَ مِنْ اِبْتِدَاءِ رَمَضَانَ فَإِنَّهُ يَجُوْزُ تَعْجِيْلُهَا مِنْ اِبْتدَائِهِ وَلَا يَجُوْزُ إِخْرَاجُهَا قَبْلَهُ وَوَقْتُ وُجُوْبٍ وَهُوَ بإِدْرَاكِ جُزْءٍ مِنْ رَمَضَانَ وَجُزْءٍ مِنْ شَوَالٍ وَوَقْتُ نَدْبٍ وَهُوَ قَبْلَ صَلَاةِ الْعِيْدِ وَوَقْتُ كَرَاهَةٍ وَهُوَ مَا بَعْدَ صَلَاةِ العِيْدِ وَقَبْلَ فَرَاغِ اليَوْمِ فَإِنَّهُ يُكْرَهُ تَأْخِيْرُهَا عَنْهَا مَا لَمْ يَكُنْ لِعُذْرٍ مِنْ اِنْتِظَارِ قَرِيْبٍ أَوْ أَحْوَجٍ وَوَقْتُ حُرْمَةٍ وَهُوَ مَا بَعْدَ يَوْمِ الْعِيْدِ فَإِنَّهُ يُحْرَمُ تَأْخِيْرُهَا عَنْهُ وَتَكُوْنُ قَضَاءً يَجِبُ عَلَى الْفَوْرِ إِنْ كَانَ التَّأْخِيْرُ بِلَا عُذْرٍ وَإِلاَّ فَعَلىَ التَّرَاخِيْ (نهاية الزين، ص 176)

Pengertian Sabilillah dalam Zakat

Termasuk al-Ashnaf al-Tsamaniyah (delapan golongan yang berhak menerima zakat) yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah golongan Fii sabilillah.  Apakah yang dimaksud Fii sabilillah dalam ayat itu?

Mengenahi permasalahan ini ada beberapa pandangan;

  1. Mereka yang berperang membela agama Allah

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tafsir al-Jalalain hal. 420

(وَفِىْ سَبِيْلِ اللهِ) أَيْ اَلْقَائِمِيْنَ باِلْجِهَادِ مِمَّنْ لاَ فَيْءَ لَهُمْ وَلَوْ أَغْنِيَاءَ (تفسير الجلالين، سورة التوبة آية 60 ص 162 )

Fisabilillah artinya adalah orang-orang yang melaksanakan jihad/ berperang (peperangan membela agama Allah. Yakni orang-orang yang tidak mendapatkan harta fai’ (harta yang diperoleh dari rampasan perang) meskipun tergolong kaya-raya. (Tafsir al-Jalalain, hal. 162)

  • Menurut ulama’ ahli fiqih yang dikutip oleh Imam Qoffal, yang dimaksud sabilillah adalah mencakup kepada semua bentuk kebaikan. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tafsir al-Munir, juz 1, hal. 44:

وَنَقَلَ الْقَفَّالُ عَنْ بَعْضِ الْفُقَهَاءِ أَنَّهُمْ أَجاَزُوْا صَرْفَ الصَّدَقاَتِ إِلَى جَمِيْعِ وُجُوْهِ الْخَيْرِ : مِنْ تَكْفِيْنِ الْمَوْتىَ وَبِناَءِ الْحُصُوْنِ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ لِأَنَّ قَوْلُهُ تَعاَلَى فِىْ سَبِيْلِ اللهِ عاَمٌ فِى اْلكُلِّ (تفسير المنير: ج 1 ص 344)

Menurut sebagian ulama’ ahli Fiqih yang dikutip oleh al-Qoffal bahwa sesungguhnya mereka itu memperbolehkan pentasarufan zakat untuk semua bentuk kebaikan, seperti untuk mengkafani mayit, membangun benteng dan memperbaiki masjid, karena firman Allah Swt. Fii sabilillah itu umum bisa mencakup semuanya. (Tafsir al-Munir, juz 1, hal. 344)

Mengganti Zakat Fitrah dengan Uang Seharga 2,5 Kg Beras

Sebagaimana berlaku di masyarakat, ukuran umumnya zakat fitrah adalah 2,5 kg beras. Dan terkadang diantara mereka menunaikan zakat fitrah dengan cara mengganti ukuran 2,5 kg tersebut dengan uang.

Bagaimana pandangan fiqih tentang zakat fitrah yang dibayar dengan uang seharga ukuran 2,5 kg beras?

  1. Boleh, menurut ulama’ Hanafiyah, yang dijelaskan dalam kitab al-Fiqhu al-Islam, juz IV, hlm. 272 dan kitab al-Mîzân al-Kubrâ, juz II, hlm.12:

دَفْعُ القِيْمَةِ عِنْدَهُمْ: يَجُوْزُ عِنْدَ الحَنَفِيَّةِ أَنْ يُعْطِيَ عَنْ جَمِيْعِ ذَلِكَ الْقِيْمَةِ دَرَاهِمَ أَوْ دَنَانِيْرَ أَوْ فُلُوْسًا أَوْ عُرُوْضًا أَوْ مَا شَاءَ؛ لِأَنَّ الْوَاجِبَ فِيْ الْحَقِيْقَةِ إِغْنَاءُ الْفَقِيْرِ، لِقَوْلِهِ صَلّٰى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: «أُغْنُوْهُمْ عَنِ الْمَسْأَلَةِ فِيْ مِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ» وَاْلإِغْنَاءُ يَحْصُلُ بِالْقِيْمَةِ، بَلْ أَتَمَّ وَأَوْفَرَ وَأَيْسَرَ؛ لِأَنَّهَا أَقْرَبُ إِلٰى دَفْعِ الْحَاجَةِ، فَيَتَبَيَّنُ أَنَّ النَّصَّ مُعَلَّلٌ بِاْلإِغْنَاءِ (الفقه الاسلام، ج 4، ص272 و الميزان الكبرى، ج 2، ص12)

  • Tidak boleh, menurut golongan Syafi’iyah, dijelaskan dalam kitab al-Fiqhu al-Islam, juz IV, hlm. 272  dan kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz VII, hlm.181:

وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّهَا تَجِبُ مِنْ غَالِبِ قُوْتِ الْبَلَدِ أَوِ الْمَحَلِّ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ النَّوَاحِي، وَالْمُعْتَبَرُ فِي غَالِبِ الْقُوْتِ غَالِبُ قُوْتِ السَّنَةِ، وَيُجْزِئُ الْأَعْلَى عَنِ الْأَدْنَى، لَا الْعَكْسُ، وَذَلِكَ بِزِيَادَةِ الْاِقْتِيَاتِ فِي الْأَصَحِّ لَا بِالْقِيْمَةِ (الفقه الاسلام، ج 4، ص272)

لَاتُجْزِئُ الْقِيْمَةُ فِي الْفِطْرِ عِنْدَنَا (المجموع شرح المهذب، ج 7، ص 181)

  • Tidak boleh kecuali dharurat, menurut Ishaq dan Imam Abu Tsur, dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz VII, hlm.181:

وَقَالَ إِسْحَاقُ وَ أَبُوْ ثَوْرٍ: لَا تُجْزِئُ إِلَّا عِنْدَ الضَّرُوْرَةِ (المجموع شرح المهذب، ج 7، ص 181)

Zakat Fitrah untuk Guru Ngaji dan Kyai

Tradisi di kampung biasanya zakat masyarakat sekitar diberikan kepada kyai dan guru ngaji. Bagaimana hukumnya?

Sebagaimana dijelaskan bahwa yang berhak menerima zakat hanya terbatas pada delapan golongan saja, sementara yang lain tidak boleh menerimanya. Dalam hal ini terdapat perincian:

  1. Tidak boleh menerima zakat apabila tergolong orang yang mampu.
  2. Boleh menerima zakat bagi guru ngaji yang tidak mampu dikarenakan waktunya dihabiskan untuk mengajarkan ilmunya. Sebagaimana diterangkan dalam kitab I’anah al-Thalibin, juz 2, hal. 189.

(وَاعْلَمْ) أَنَّ ماَ لاَ يَمْنَعُ اْلفَقْرَ مِمَّا تَقَدَّمَ لاَ يَمْنَعُ الْمِسْكِنَةَ أَيْضاً كَمَا مَرَّ اَلتَّنْبِيْهُ عَلَيْهِ وَمِمَّا لاَ يَمْنَعُهُمَا أَيْضاً اِشْتِغاَلُهُ عَنْ كَسْبٍ يَحْسِنُهُ بِحِفْظِ الْقُرْآنِ أَوْ بِالْفِقْهِ أَوْ بِالتَّفْسِيْرِ أَوِ الْحَدِيْثِ أَوْ ماَ كاَنَ آلَةٌ لِذَلِكَ وَكاَنَ يُتَأَتَّى مِنْهُ ذَلِكَ فَيُعْطَى لِيَتَفَرَّغَ لِتَحْصِيْلِهِ لِعُمُوْمِ نَفْعِهِ وَتَعْدِيْهِ وَكَوْنِهِ فَرْضُ كِفَايَةٍ (اعانة الطالبين، ج 2 ص 189)

Termasuk sesuatu yang tidak mencegah keduanya (status fakir dan miskin) adalah seseorang yang meninggalkan pekerjaan yang dapat memperbaiki ekonominya karena waktunya hanya tersita untuk menghafal al-Qur’an, memperdalam ilmu fiqih, tafsir atau hadits, atau ia sibuk melaksanakan sesuatu yang menjadi wasilah tercapainya ilmu tersebut. Maka orang-orang tersebut dapat diberi zakat, agar mereka dapat melaksanakan usahanya itu secara optimal. Sebab manfaatnya akan dirasakan serta mengena kepada masyarakat umum, disamping itu perbuatan itu juga merupakan fardhu kifayah. (I’anah al-Thalibin, juz 2, hal. 189)

  • Boleh menerima zakat meskipun kaya raya, karena guru ngaji atau kyai adalah termasuk orang yang berjuang di jalan kebaikan, maka termasuk kriteria Fii sabilillah, sebagaimana pendapat sebagian ulama’ Fiqih.

وَنَقَلَ الْقَفَّالُ عَنْ بَعْضِ الْفُقَهَاءِ أَنَّهُمْ أَجاَزُوْا صَرْفَ الصَّدَقاَتِ إِلَى جَمِيْعِ وُجُوْهِ الْخَيْرِ: مِنْ تَكْفِيْنِ الْمَوْتىَ وَبِناَءِ الْحُصُوْنِ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ لِأَنَّ قَوْلُهُ تَعاَلَى فِىْ سَبِيْلِ اللهِ عاَمٌ فِى اْلكُلِّ (تفسير المنير، ج 1 ص 344)

Menurut sebagian ulama’ ahli Fiqih yang dikutip oleh al-Qoffal bahwa sesungguhnya mereka itu memperbolehkan pentasarufan zakat untuk semua bentuk kebaikan, seperti untuk mengkafani mayit, membangun benteng dan memperbaiki masjid, karena firman Allah Swt. Fii sabilillah itu umum bisa mencakup semuanya. (Tafsir al-Munir, juz 1, hal. 344)

Zakat Diberikan kepada Santri

Golongan yang berhak menerima harta zakat sebanyak delapan macam golongan diantaranya adalah fii sabilillah, artinya berjuang di jalan Allah Swt. Dari pemahaman ini bolehkah para santri menerima zakat?

Ada perbedaan pandangan di kalangan ulama’ mengenai hal ini, sebagaimana berikut:

  1. Menurut Jumhur Ulama’: santri tidak boleh menerima zakat kalau atas nama fii sabilillah. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Hasyi’ah as-Shawi:

(وَفِىْ سَبِيْلِ اللهِ أَيِّ الْقَائِمِيْنَ باِلْجِهَادِ مِمَّنْ لاَ فَيْءَ لَهُمْ وَلَوْ اَغْنِيَاءَ) وَ يَشْتَرِىْ مِنْهاَ أَلَتَهُ مِنْ سِلاَحٍ وَ دَرْعٍ وَ فَرَسٍ (حاشية الصاوى على تفسير الجلالين، ج 2 ص 53)

Dan (Zakat juga diberikan) kepada orang-orang yang menegakkan agama Allah Swt. yakni mereka yang melaksanakan perang di jalan Allah Swt. yaitu orang-orang yang tidak mendapatkan harta fai’ (rampasan perang) meskipun tergolong kaya raya. Dan zakat itu digunakan untuk membeli peralatan perang, seperti: persenjataan, perisai dan kuda. (Hasyiah al-Shawi’ ‘ala Tafsir al-Jalalain, hal. 53)

  • Menurut Imam Malik: Santri boleh menerima zakat.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Hasyiah al-Shawi:

وَمَذْهَبُ ماَلِكٍ أَنَّ طَلَبَةَ الْعِلْمِ اَلْمُنْهَكِّيْنَ فِيْهِ لَهُمْ اَلْأَخْذُ مِنَ الزَّكاَةِ وَلَوْ أَغْنِيَاءَ اِذَا اْنقَطَعَ حَقُّهُمْ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ، لِأَنَّهُمْ مُجَاهِدُوْنَ اهـ (حاشية الصاوى على تفسير الجلالين، ج 2 ص 53)

Orang-orang yang memprioritaskan seluruh waktunya untuk mencari ilmu, diperbolehkan menerima zakat, meskipun mereka tergolong kaya raya. Dengan syarat mereka sudah tidak mendapatkan jatah dari Baitul Maal. Karena sesungguhnya mereka itu termasuk golongan para pejuang. (Hasyiah al-Shawi ‘ala Tafsir Jalalain, juz 2, hal. 53)

Hukum Zakat untuk Masjid dan Pesantren

Hukum harta zakat dialokasikan pada pembangunan masjid, pondok pesantren, sekolahan atau yang semacamnya:

  1. Menurut mayoritas ulama’ tidak boleh memberikan kepada selain delapan golongan.

وَيَحْرُمُ عَلَى غَيْرِ مُسْتَحِقِّهَا اَخْذُهَا وَيَحْرُمُ اِعْطَاءُهَا لَهُ (تنوير القلوب ص 227)

  • Menurut sebagian ulama’ ahli fiqih yang dikutip oleh Imam Qoffal, mengalokasikan harta zakat untuk pembangunan masjid, pondok pesantren atau semacamnya, hukumnya boleh karena arti fii sabilillah bersifat umum, yaitu hal-hal yang mempunyai nilai kebaikan.

وَنَقَلَ الْقَفَّالُ عَنْ بَعْضِ الْفُقَهَاءِ أَنَّهُمْ أَجاَزُوْا صَرْفَ الصَّدَقاَتِ إِلَى جَمِيْعِ وُجُوْهِ الْخَيْرِ: مِنْ تَكْفِيْنِ الْمَوْتىَ وَبِناَءِ الْحُصُوْنِ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ لِأَنَّ قَوْلُهُ تَعاَلَى فِىْ سَبِيْلِ اللهِ عاَمٌ فِى اْلكُلِّ (تفسير المنير، ج 1 ص 344)

Menurut sebagian ulama’ ahli Fiqih yang dikutip oleh al-Qoffal bahwa sesungguhnya mereka itu memperbolehkan pentasarufan zakat untuk semua bentuk kebaikan, seperti untuk mengkafani mayit, membangun benteng dan memperbaiki masjid, karena firman Allah Swt. Fii sabilillah itu umum bisa mencakup semuanya. (Tafsir al-Munir, juz 1, hal. 344)

Zakat Profesi

Mengeluarkan zakat merupakan kewajiban bagi orang Islam apabila sudah mencapai nisab dan haulnya, baik zakat perdagangan atau makanan hasil pertanian, upah atau gaji yang mencapai nisab zakat seperti PNS/SWASTA, direktur pabrik dan bahkan buruh pabrik yang demikian dikenal dengan zakat profesi.Bagaimanakah hukum zakat profesi tersebut?

Wajib mengeluarkan zakat profesi tersebut dengan syarat telah mencapai nisab dalam 1 tahun, dan diniati berdagang sebagaimana diterangkan dalam kitab Mauhibah dzî al-Fadhal, juz I, hlm. 31:

(قَوْلُهُ وَالْإِجَارَةُ لِنَفْسِهِ أَوْ مَالِهِ) أَيْ فَإِذَا آجَرَ نَفْسَهُ بِعِوَضٍ بِقَصْدِ التِّجَارَةِ صَارَ ذَلِكَ الْعِوَضُ مَالَ تِجَارَةٍ قَالَ فِي التُّحْفَةِ وَالْمَالُ يَنْقَسِمُ إِلَى عَيْنٍ وَمَنْفَعَةٍ وَإِنْ آجَرَهَا فَإِنْ كَانَتِ الْأُجْرَةُ نَقْدًا عَيْنًا أَوْ دَيْنًا حَالًا أَوْ مُؤَجَّلًا تَأْتِيْ فِيْهِ مَا يَأْتِيْ أَيْ مِنَ التَّفْصِيْلِ أَوْ عَرَضًا فَإِنِ اسْتَهْلَكَهُ أَوْ نَوَى قُنْيَتَهُ فَلَا زَكَاةَ وَإِنْ نَوَى التِّجَارَةُ فِيْهِ اسْتَمَرَّتْ زَكَاةُ التِّجَارَةِ وَهَذَا فِيْ كُلِّ عَامٍ (موهبة ذي الفضل، ج 4، ص 31).

Dan diterangkan dalam kitab Subul al-Salâm, juz 2, hlm. 129:

وَ لِلتِّرْمِذِيْ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: مَنْ اِسْتَفَادَ مَالًا فَلَا زَكَاةَ عَلَيْهِ حَتَّى يَحُوْلَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ رَوَاهُ مَرْفُوْعًا، وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ إِلَّاأَنَّ لَهُ حُكْمُ الرَّفْعِ إِذْ لَا مَسْرَحَ لِلْاِجْتِهَادِ فْيْهِ وَيُؤَيِّدُهُ آثَارٌ صَحِيْحَةٌ عَنِ الْخُلَفَاءِ الْأَرْبَعَةِ وَغَيْرِهِمْ فَإِذَا حَالَ عَلَيْهِ الحَوْلُ فَيَنْبَغِي المُبَادَرَةُ بِإِخْرَاجِهَا فَقَدْ أَخْرَجَ الشَّافِعِيُّ وَالْبُخَارِيُّ فِي التَّارِيْخِ مِنْ حَدِيْثِ عَائِشَةَ مَرْفُوْعًا “مَاخَالَطَتِ الصَّدَقَةُ مَالًا قَطٌّ إِلَّا أَهْلَكَتْهُ” وَأَخْرَجَ الْحُمَيْدِيُّ وَزَادَ “يَكُوْنُ قَدْ وَجَبَ عَلَيْكِ فِي مَالِكٍ صَدَقَةٌ فَلَاتَخْرُجْهَا فَيَهْلَكُ الحَرَامُ الحَلَالَ” قال ابن تيمية في المنتقى قد احتج به من يرى تعلق الزكاة بالعين (سبل السلام، ج 2، ص 129)

Hukum Meratakan Pembagian Zakat kepada Delapan Golongan

Pelaksanaan pembayaran zakat adakalanya diberikan langsung kepada Mustahiq (yang berhak menerima), dan Amil zakat.

Bagaimana hukum meratakan zakat kepada delapan golongan yang berhak menerima zakat?

  1. Wajib, bagi ‘amil (pengelola zakat) untuk mencari dan meratakan delapan golongan orang-orang yang berhak menerima zakat, yaitu:
  2. Fakir, yaitu orang yang selalu tidak mampu memenuhi kebutuhan makan dalam sehari.
  3. Miskin, yaitu orang yang kurang bisa memenuhi kebutuhan, tetapi masih bisa mengusahakan.
  4. Amil, yaitu orang yang diberi tugas untuk mengelola zakat.
  5. Mu’alaf, yaitu orang yang baru masuk Islam.
  6. Budak, yang melakukan penebusan dirinya untuk merdeka.
  7. Gharim, yaitu orang yang terbebani banyak hutang melebihi jumlah hartanya.
  8. Sabilillah, yaitu orang yang berperang di jalan Allah, meskipun kaya.
  9. Ibnu Sabil, yaitu orang yang kehabisan bekal selama dalam perjalanan dengan tujuan baik. Hal ini diterangkan dalam kitab Tanwir al-Qulûb hlm. 226.

Dan dijelaskan dalam kitab Hasyiah al-Jamal ‘ala Syarh al-Minhaj, Juz VI, hlm. 233:

يَجِبُ تَعْمِيْمُ الْأَصْنَافِ الثَّمَانِيَّةِ فِي الْقِسْمِ إِنْ أَمْكَنَ بِأَنْ قَسَمَ الْإِمَامُ وَلَوْ بِنَائِبِهِ وَوَجَدُوْا لِظَاهِرِ الْآيَةِ سَوَاءٌ فِيْ ذَلِكَ زَكَاةُ الْفِطْرِ وَزَكَاةُ الْمَالِ وَإِلَّا أَيْ وَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ بِأَنْ قَسَمَ الْمَالِكُ إِذْ لَا عَامِلَ أَوِ الْإِمَامَ وَوَجَدَ بَعْضَهُمْ كَأَنْ جَعَلَ عَامِلًا بِأُجْرَةٍ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ فِى تَعْمِيْمٍ مَنْ وُجِدَ مِنْهُمْ لِأَنَّ الْمَعْدُوْمَ لَا سَهْمَ لَهُ فَإِنْ لَمْ يُوْجَدْ أَحَدٌ مِنْهُمْ حُفِظَتِ الزَّكَاةُ حَتَّى يُوْجَدُوْا أَوْ بَعْضُهُم ((حاشية الجمل على شرح المنهج، ج 6، ص 233).

  • Tidak wajib, bagi ‘amil (pengelola zakat) untuk mencari dan meratakan delapan golongan orang-orang yang berhak menerima zakat, maka cukup mencari sebagian golongan yang ada saja.

Dijelaskan dalam kitab I’anah al-Thâlibin, juz II, hlm. 195:

وَالْمُرَادُ تَعْمِيْمُ مَنْ وُجِدَ فِي الْإِقْلِيْمِ الَّذِيْ يُوْجَدُ فِيْهِ تَفْرِقَةَ الزَّكَاةِ لَا تَعْمِيْمُ جَمِيْعِ الْمُسْتَحِقِّيْنَ فِي الدُّنْيَا لِتَعَذُّرِهِ (إعانة الطالبين، ج 2، ص 195)

Citation

Santri Pondok Pesantren demo: „Zakat“,Version 1.0. In: OES demo. Published by Pondok Pesantren demo, Pasuruan, Indonesia,