Dzikir dan Doa
- Version 1.0
- Published Monday, October 16, 2023
Table of Contents
Dzikir
Dzikir artinya mengingat atau menyebut. Dzikir kepada Allah berarti: mengingat atau menyebut nama Allah Swt.
Dzikir kepada Allah secara berjamaah sudah menjadi kebiasaan umat Islam khususnya di Indonesia, kalimat-kalimat dzikir banyak sekali, diantaranya membaca lafadz Allah. Dzikir hukumnya sunnah sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an;
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا (41) وَسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً (42)
Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah Swt., zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. (al-Ahzab:41-42)
اِعْلَمْ أَنَّهُ كَمَا يُسْتَحَبُّ الذِّكْرُ يُسْتَحَبُّ الْجُلُوْسُ فِيْ حَلْقِ أَهْلِهِ، وَقَدْ تَظَاهَرَتْ اَلْأَدِلَّةُ عَلَى ذَلِكَ (الاذكار النووى، ص 8)
Ketahuilah sebagaimana disunnahkan dzikir, begitu juga disunnahkan duduk dalam lingkaran orang-orang yang berdzikir, karena banyak dalil-dalil yang menyatakan hal itu. (al-Adzkar an-Nawawi, hal. 08)
Bagi warga Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah bahwa membaca dzikir dan do’a adalah suatu ibadah yang sangat tinggi pahalanya dihadapan Allah Swt. Oleh sebab itu, ciri khas ummat Islam Indonesia yang menganut faham Ahlu Sunnah Wal Jama’ah sangat rajin berdzikir dan berdo’a pada setiap setelah shalat atau pada waktu-waktu tertentu bahkan disetiap hembusan nafasnya selalu berdzikir kepada Allah dalam hatinya, selalu mengingat Allah dalam setiap aktifitasnya yaitu: ketika duduk, berdiri, berjalan, makan, minum, bekerja dan apapun yang dikerjakan oleh anggota dhahirnya, tetapi hatinya tidak pernah luput dari mengingat Allah.
Dzikir Fida’
Dzikri Fida’ merupakan dzikir penebusan, yaitu menebus kemerdekaan diri sendiri atau orang lain dari siksaan Allah Swt. dengan membaca: Laa Ilaha Illallah. sebanyak 71.000 (tujuh puluh satu ribu).
Dengan demikian, dzikir fida’ adalah upaya untuk memohonkan ampunan kepada Allah Swt. atas dosa-dosa orang yang sudah meninggal. Diterangkan dalam hadits dari Siti Aisyah:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قاَلَ لاَإِلهَ اِلاَّاللهُ اَحَدَ وَسَبْعِيْنَ اَلْفًا اِشْتَرَى بِهِ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَذَا فَعَلَهُ لِغَيْرِهِ. (خزينة الاسرار 1884)
Diriwayatkan dari Aisyah ra. Ia berkata; Rasulullah bersabda: barang siapa yang membaca laa ilaaha illah sebanyak tujuh puluh satu ribu maka berarti ia menebus (siksaan) dengan bacaan tersebut dari Allah ‘Azza Wajalla dan begitu juga hal ini bisa dilakukan untuk orang lain. (Khazinah al-Asrar, hal.188)
Adapun dzikir fida’ ini yang selanjutnya disebut dzikir ‘ataqah, oleh para ulama’ dibagi dua macam yakni ‘ataqah sughra yaitu membaca laa ilaaha illah sebanyak 70 ribu kali atau 71 ribu kali dan ‘ataqah kubra yaitu membaca surat al-Ikhlas sebanyak 100 ribu kali. Sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Syarh al-Futuhat al-Madaniyah.
وَرُوِىَ اَنَّ الشَّيْخَ اَباَ الرَّبِيْعِ اَلْمَالَقِيّ كاَنَ عَلىَ مَائِدَةِ طَعَامٍ وَكاَنَ قَدْ ذَكَرَ لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ سَبْعِيْنَ اَلْفَ مَرَّةٍ وَكاَنَ مَعَهُمْ عَلىَ الْمَائِدَةِ شَابٌ مِنْ اَهْلِ الْكَشْفِ فَحِيْنَ مَدَّ يَدَهُ اِلىَ الطَّعاَمِ بَكَى وَامْتَنَعَ مِنَ الطَّعَامِ فَقَالَ لَهُ الْحَاضِرُوْنَ لِمَ تَبْكِى؟ فَقاَلَ اَرَى جَهَنَّمَ وَاَرَى اُمِّىْ فِيْهَا. قَالَ الشَّيْخُ اَبُوْ الرَّبِيْعِ: فَقُلْتُ فِىْ نَفْسِىْ اَللَّهُمَّ اِنَّكَ تَعْلَمُ اَنِّىْ قَدْ هَلَّلْتُ سَبْعِيْنَ اَلْفاً وَقَدْ جَعَلْتُهَا عِتْقَ اُمِّ هَذَا الشَّابِّ مِنَ النَّارِ فَقَالَ الشَّابُّ اَلْحَمْدُ لِلّهِ أَرَى أُمِّىْ قَدْ خَرَجَتْ مِنَ النَّارِ وَمَا اَدْرِىْ ماَ سَبَبُ خُرُوْجِهَا وَجَعَلَ هُوَ يَبْتَهِجُ وَاَكَلَ مَعَ الْجَمَاعَةِ. وَهَذَا التَّهْلِيْلُ بِهذَا الْعَدَدِ يُسَمَّى عَتاَقَةَ الصُّغْرَى كَمَا اَنَّ سُوْرَةَ الصَّمَّدِيَّةِ إِذاَ قُرِئَتْ وَبَلَغَتْ مِائَةَ اَلْفِ مَرَّةٍ تُسَمَّى عَاتَقَةَ كُبْرَى وَلَوْ فِيْ سِنِيْنَ عَدِيْدَةٍ فَاِنَّ الْمُوَالاَةَ لاَتُشْتَرَطُ. اهـ (شرح الفتوحات المدنية بهامش نصائح العباد، ص 24)
Diriwayatkan bahwa syekh Abu al-Robi’ al-Malaqi, berada di jamuan makanan dan beliau telah berdzikir dengan mengucapkan Laa Ilaha Ilallah 70 ribu kali. Di jamuan tersebut terdapat seorang pemuda ahli kasyaf. Ketika pemuda itu akan mengambil makanan tiba-tiba ia mengurungkan mengambil makanan itu, lalu ia ditanya oleh para hadirin mengapa kamu menangis? ia menjawab, saya melihat neraka jahanam dan melihat ibu saya di dalamnya. Kata syekh Abu al-Rafi’, saya berkata di dalam hati, “Ya Allah, sungguh engkau mengetahui bahwa saya telah berdzikir Laa Ilaha Ilallah 70 ribu kali dan saya mempergunakannya untuk membebaskan ibu pemuda ini dari neraka”. Setelah itu pemuda tersebut berkata, “Alhamdulillah, sekarang saya melihat ibu saya telah keluar dari neraka, namun saya tidak tahu apa sebabnya”. Pemuda itu merasa senang dan kemudian makan bersama dengan para hadirin. Dzikir Laa Ilaha Ilallah 70 ribu kali dinamakan ataqoh sughroh (pembebasan kecil dari neraka), sedangkan surat al-Ikhlas jika dibaca 100 ribu kali dinamakan ataqoh kubro (pembebasan besar dari neraka) walaupun waktu membacanya beberapa tahun, karena tidak disyaratkan berturut-turut. (Syarh al-Futuhat al-Madaniyah Bihamisyi Nasha’ih al-Ibad, hal. 22)
Membaca Wiridan setelah Shalat
Sudah menjadi kebiasaan kaum muslimin, setelah melaksanakan shalat mereka membaca wirid, baik secara berjama’ah maupun sendirian. Apakah amaliyah tersebut ada dasar hukumnya?
Wirid merupakan bentuk dzikir yang berupa bacaan kalimat thayyibah yang dilakukan setiap saat dengan harapan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dan mendapat ridha serta ampunan-Nya. Di kalangan Nahdliyin, wiridan setelah shalat itu dilakukan secara bersama-sama yang diakhiri dengan do’a. Hal ini sesuai dengan perintah Allah Swt. yang berbunyi:
يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا وَسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً (سورة الأحزاب: 41-42)
Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah Swt. Dengan berdzikir yang banyak, dan bertasbihlah kepadanya, pagi dan sore. (Qs. al-Ahzab: 41-42)
عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَبَّحَ ِللهِ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ وَحَمِدَ اللهَ ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ وَكَبَّرَ ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ وَقَالَ تَمَامُ الْمِائَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ اْلبَحْرِ.
Dari Bara’i, Nabi bersabda: Barang siapa (membaca) tasbih 33 kali, hamdalah 33 kali dan takbir 33 kali, lalu menyempurnakan (hitungan)100 kali dengan membaca kalimat:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
(Tiada tuhan selain Allah Swt., Dia sendirian, tidak ada yang menandingi-Nya, Dia memiliki kerajaan, Dia memiliki segala puji dan Dialah yang berkuasa atas sesuatau). (Irsyad al-‘Ibad, hal. 19. Sunan Abi Dawud)
Dengan demikian wiridan setelah shalat itu adalah hal yang sangat baik untuk dilakukan karena di dalamnya mengandung pujian-pujian kepada Allah Swt.
Rangkaian Wiridan Setelah Shalat Jum’at
Di kalangan umat Islam Nahdliyyin (Islam kentongan jidor, Islam tahlilan, Islam sing senengane selametan lan nyekar) pada setiap selesai shalat Jum’at pasti mereka banyak yang mengikuti wiridan, dan rangkaian wiridan yang dipakai juga bermacam-macam. Adapun rangkaian wirid yang banyak dibaca adalah beberapa ayat di bawah ini:
- Membaca surat al-Fatihah sebanyak 7 X
- Membaca surat al-Ikhlas sebanyak 7 X
- Membaca surat al-Falaq sebanyak 7 X
- Membaca surat an-Naas sebanyak 7 X
- Membaca do’a di bawah sebanyak ini 4 X:
اَللّهُمَّ ياَ غَنِيُّ ياَ حَمِيْدُ ياَ مُبْدِئُ ياَ مُعِيْدُ ياَ رَحِيْمُ ياَ وَدُوْدُ أَغْنِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
- Membaca do’a di bawah ini sebanyak 5 X:
إِلَهِىْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً وَلاَ أَقْوَى عَلَى نَارِ الْجَحِيْمِ
فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِيْ فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَنْبِ الْعَـظِيْمِ
Sesungguhnya ulama’ salaf mengatakan bahwa barangsiapa mengerjakan rangkaian wiridan tersebut di atas maka dia akan dijaga mulai dari Jum’at ini hingga Jum’at selanjutnya, dia dihindarkan dari godaan setan. Dan barangsiapa beristiqomah membaca doa tersebut, maka Allah Swt. menjadikan dia kaya dan diberikan rizki yang tidak disangka-sangka.
Dan perlu diperhatikan, bahwasanya rangkaian wiridan yang sudah diistiqomahkan oleh kaum Nahdliyin seperti tersebut di atas, bukanlah tanpa landasan dalil, akan tetapi rangkaian wiridan tersebut berdasarkan dalil yang sangat jelas, yang terdapat pada kitab Ithaf as-Saadah al-Muttaqin:
اَلتَّاسِعُ أَنْ يُرَاعِىَ فِيْ قُدْوَةِ الْجُمْعَةِ مَا ذَكَرْناَهُ فِيْ غَيْرِهَا فَإِذَا سَمِعَ قِرَاءَةَ اْلإِمَامِ لَمْ يَقْرَأْ سِوَى اْلفَاتِحَةِ فَإِذَا فَرَغَ مِنَ الْجُمْعَةِ قَرَأَ اَلْحَمْدُ ِللهِ سَبْعَ مَرَّاتٍ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ سَبْعًا سَبْعًا وَرَوَى بَعْضُ السَّلَفِ أَنَّ مَنْ فَعَلَهُ عُصِمَ مِنَ الْجُمْعَةِ إِلَى الْجُمْعَةِ وَكاَنَ حَرَزًا لَهُ مِنَ الشَّيْطاَنِ وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَقُوْلَ بَعْدَ الْجُمْعَةِ اَللّهُمَّ ياَ غَنِيُّ ياَ حَمِيْدُ ياَ مُبْدِئُ ياَ مُعِيْدُ ياَ رَحِيْمُ ياَ وَدُوْدُ أَغْنِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ يُقَالُ مَنْ دَاوَمَ عَلَى هَذَا الدُّعَاءُ أَغْناَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ عَنْ خَلْقِهِ وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ (إتحاف السادة المتقين، ج 3، ص 442)
Tata cara shalat Jum’at yang kesembilan ialah memperhatikan segala sesuatu yang sudah aku sebutkan pada selain Jum’at. Maka ketika mendengar bacaan imam, (makmum) tidak boleh membaca selain al-fatikhah. Maka ketika selesai shalat Jum’at sebelum dia berbicara (apapun), dia membaca Alhamdulillah tujuh kali, Qulhuwa Allahu Ahad dan Mu’awidzatain masing-masing tujuh kali. Sebagian ulama’ salaf meriwayatkan sesungguhnya barang siapa mengerjakan-nya maka dia dijaga mulai dari Jum’at ini hingga Jum’at berikutnya dan dihindarkan dari godaan syetan. Dan disunnahkan setelah shalat Jum’at mem-baca do’a اللهم الخ. Disebutkan bahwa barangsiapa menetapi membaca doa ini maka Allah Swt. menjadikan dia kaya dan diberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. (Ithaf as-Saadah al-Muttaqin, juz 3, hal. 442)
Tahlil
Tahlil berasal dari kata هَلَّلَ – يُهَلِّلُ – تَهْلِيْلاً yang berarti membaca kalimat لااله الا الله . Sedangkan tahlil menurut pengertian yang ber-kembang di masyarakat adalah membaca kalimat thayyibah (shalawat, tahlil, istighfar, fatihah, surat ikhlas, mu’awwidzatain, dan lain-lain) yang pahalanya ditujukan kepada arwah keluarga yang bersangkutan.
وَالَّذِيْنَ جَاءُوْ مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ (سورة الحشر: 10)
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, Sesungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (Qs. al-Hasyr: 10)
عَنِ النَّـِبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ (كَلِمَتاَنِ خَفِيْفَتاَنِ عَلىَ اللِّسَانِ ثَقِيْلَتاَنِ فِي الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتاَنِ إِلىَ الرَّحْمٰنِ سُبْحاَنَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحاَنَ اللهِ الْعَظِيْمِ) رواه البخارى (أحاديث مخترة من الصحيحين)
Rasul bersabda: dua kalimat yang ringan bagi lisan dan berat (timbangan kebijakannya) di Mizan (timbangan amal akhirat), dan dicintai oleh Dzat yang mempunyai belas kasih adalah kalimat Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahil adzim. (HR. Bukhari dalam kitab Ahadits Mukhtar min as-Shahihain)
قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ماَ الْمَيِّتُ فِى قَبْرِهِ إِلاَّ كاَلْغَرِيْقِ الْمَتَغَوِّثِ يَنْتَظِرُ دَعْوَةً تَلْحَقُهُ مِنْ أَبِيْهِ أَوْ أَخِيْهِ أَوْ صَدِيْقِ لَهُ فَإِذَا لَحِقَتْهُ كاَنَ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْياَ وَمَا فِيْهَا وَإِنَّ هَدَاياَ اْلأَحْياَءِ لِلْأَمْوَاتِ اَلدُّعاَءُ وَاْلاِسْتِغْفاَرُ
Rasulullah Saw. Bersabda: tiada seorang pun dari mayit dalam kuburnya kecuali dalam keadaan seperti orang tenggelam yang banyak meminta tolong, dia menanti doa dari ayah dan saudara atau seorang teman yang ditemuinya, apabila ia telah menemukan doa tersebut, maka doa itu menjadi sesuatu yang lebih dicintai dari pada dunia dan seisinya, dan apabila orang yang masih hidup ingin memberikan hadiah kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah dengan doa dan istighfar’. (Ihya’ Ulum al-Din, juz 4, hal. 476)
Dengan demikian tahlil yang berisi doa, istighfar, bacaan al-Qur’an, tasbih, bacaan Laa Ilaha Ilallah dan kalimat thoyyibah lainnya merupakan hadiah dari orang yang masih hidup kepada orang yang telah mati.
Kesimpulannya, selamatan dan tahlil atau melakukan do’a bersama memohon keselamatan, baik bagi yang masih hidup maupun yang sudah meninggal adalah memiliki dasar dan tidak bertentangan dengan syariat agama.
Adab Do’a
Berdo’a atau memohon kepada Allah Swt. merupakan inti ibadah bagi umat Islam dengan tidak memandang derajat dan pangkat. Semuanya diperintahkan supaya memperbanyak berdo’a kepada Allah, memohon ampunan, memohon keselamatan dunia akhirat, kesehatan jasmani dan rohani, dll.
Orang yang berdo’a seolah-olah munajat (berbicara), berbisik dengan Allah SWT., dengan memakai bahasa yang sopan, yang merendah. Orang yang tidak mau berdo’a adalah orang-orang yang sombong, yang menganggap dirinya lebih tinggi, lebih pandai, lebih mampu, bahkan lebih kaya dari Allah Swt. Kedudukan do’a adalah sangat tinggi dalam ibadah. Karena itu berdo’a dengan khusyu’ dan tawadhu’ sangat dianjurkan oleh agama.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ (سورة المؤمن: 60)
Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenan-kan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”. (Qs. al-Mu’min: 60)
اُدْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ (سورة الأعراف: 55)
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah Swt. tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas[549]. (Qs. al-A’rof: 55)
عَنْ عُمَرَ قاَلَ كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذاَ اَمَدَّ يَدَيْهِ فِى الدُّعَاءِ لَمْ يَرُدَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ (بلوغ المرام، ص 347)
Apabila Nabi mengangkat kedua tangannya dalam berdo’a, Nabi tidak akan mengembalikan kedua tangannya sehingga mengusapkan pada wajahnya. (Bulugh al-Maram, hal. 347)
عَنِ النُّعْماَنِ بْنِ بَشِيْرٍ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ.
Dari Nu’man bin Basyir dari Nabi Saw. Sesungguhnya do’a merupakan ibadah. (Bulugh al-Maram, hal. 347)
Do’a merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah Swt. Orang yang enggan berdo’a maka termasuk orang-orang yang sombong. Berdo’a kepada Allah mempunyai kode etik atau tata krama, salah satunya adalah dengan mengangkat kedua tangan lalu mengusapkannya pada wajah ketika selesai seperti yang telah disyari’atkan Nabi.
Berdo’a dengan Tawassul
Menyampaikan aspirasi kita lewat sesneg atau lewat ajudan. Begitu juga kalau kita ingin menyampaikan suatu keinginan kepada Allah, apabila kita tidak bisa langsung ke Allah, maka kita mohon dengan perantaraan kekasih-Nya, para nabi, para syuhada’ dan orang-orang shaleh.
Sebagian orang mengatakan bahwa berdo’a dengan tawassul adalah syirik, serupa menyembah atau meminta kepada selain Allah, seperti yang telah dilakukan oleh banyak golongan yang meng-klaim, mengkafirkan umat Islam yang bertawassul ketika berdo’a. Sebenarnya bagaimanakah hukum tawassul ketika berdo’a, apakah ada dalil atau dasarnya?
Tawassul kepada Nabi, para sahabat dan orang-orang shaleh adalah merupakan salah satu cara atau perantara ketika berdo’a agar cepat diijabahi atau dikabulkan oleh Allah Swt.
Hukum tawasul adalah boleh bahkan disunnahkan, karena para sahabat Nabi juga melakukan doa dengan tawassul, sebagaimana keterangan di bawah ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللهَ وَابْتَغُواْ إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (سورة المآئدة: 35)
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Qs. al-Maidah:35)
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَّلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ جَآؤُوْكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُواْ اللهَ تَوَّابًا رَّحِيْمًا (سورة النساء:64)
Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya, datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Qs. al-Nisa’: 64)
Para sahabat Nabi juga melakukan tawassul ketika berdo’a, berikut ini dalil-dalil yang menerangkannya:
قاَلَ اِبْنُ تَيْمِيَّةِ فِي الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ وَلاَفَرْقَ بَيْنَ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ كَماَ زَعَمَ بَعْضُهُمْ فَقَدْ صَحَّ عَنْ بَعْضِ الصَّحاَبَةِ اَنَّهُ اُمِرَ بَعْضُ الْمُحْتاَجِيْنَ أَنْ يَتَوَسَّلُوْا بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ مَوْتِهِ فِيْ خِلاَفَةِ عُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَتَوَسَّلَ بِهِ فَقُضِيَتْ حاَجَتُهُ كَمَا ذَكَرَهُ الطَّبْرَانِىُّ .
Ibnu Taimiyyah berkata dalam kitabnya Shirat al-Mustaqim: Tak ada perbedaan antara orang yang masih hidup dengan orang yang sudah mati, seperti yang diasumsikan sebagian orang. Sebuah hadits sahih menegaskan: Telah diperintahkan kepada orang-orang yang memiliki hajat di masa khalifah Utsman untuk bertawassul kepada Nabi setelah beliau wafat. Kemudian, mereka bertawassul kepada Nabi, dan hajat mereka pun terkabul. Demikian diriwayatkan oleh ath-Thabrany. (al-Kawakib ad-Durriyah, juz 2, hal. 6)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللهم إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ رواه البخارى
Dari sahabat anas, ia mengatakan: pada zaman Umar bin Khaththab pernah terjadi musim paceklik. Ketika melakukan shalat istisqa’ Umar bertawassul kepada paman Rasulullah, Abbas bin Abdul Muththalib: Ya Tuhan, dulu kami, mohon kepada-Mu dengan wasilah Nabi-Mu dan Engkau menurunkan hujan kepada kami, sekarang kami mohon kepada-Mu dengan tawassul paman Nabi-Mu, turunkanlah hujan kepada kami. Allah pun segera menurunkan hujan kepada mereka (HR. al-Bukhari).
Hadits ini diterangkan di berbagai kitab hadits antara lain yaitu:
- Shahih al-Bukhary, bab sual an-Naas al-Imam, juz 1, hal. 128.
- Musnad al-Shakhabah fii al-Kitab al-Tis’ah, bab musnad Umar bin Khaththab.
- Jumhurah al-Ajzaa’, juz 1, hal. 78.
- Kanzu al-Amal Fii Sunani al-Aqwaal.
- Musnad Abi ‘Uwanah, bab Ziyadaats Fii al-Istisqo’
- al-Ahad wa al-Matsany, bab Dzikr Ahl Badr wa Fadhailihim Wa ‘Adadihim, juz 1, hal. 296.
Orang yang melakukan tawassul kepada orang yang shalih atau dengan seorang rasul itu bukan berarti menyembahnya akan tetapi untuk meminta bantuan (sebagai perantara) kepada Allah melalui kekasih-Nya. Dengan demikian tawassul dalam berdo’a membantu cepat terkabulnya do’a dan tidak bertentangan dengan syara’.
Do’a Bersama Umat Beragama
Suatu ketika diadakan sebuah acara bertemakan kebangsaan yang dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat dan pemuka dari lintas agama. Acara tersebut diadakan dengan tujuan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan, serta rasa solidaritas kebangsaan dan patriotisme demi utuhnya NKRI yang kala itu mulai dirongrong oleh berbagai kepentingan.
Di akhir acara, seluruh perwakilan dari lintas agama tersebut secara bergantian memimpin do’a bersama yang diamini oleh seluruh peserta yang hadir yang tentunya juga dari berbagai lintas agama.
Bagaimana hukum do’a bersama (ikut mengamini) sebagaimana paparan di atas?
Dalam hal ini, terjadi beberapa pendapat di kalangan ulama’:
- Tidak boleh, karena do’anya non muslim tidak diterima serta dilarangnya tawasul dengan mereka. Diambil dari keterangan Kitab Hasyiyah al-Jamal:
لاَيَجُوْزُ اَلتَّأْمِيْنُ عَلىَ دُّعاَءِ الْكاَفِرِ لِاَنَّهُ غَيْرُ مَقْبُوْلٍ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَماَ دُعَاءُ اْلكاَفِرِيْنَ اِلاَّ فِىْ ضَلاَلٍ (حاشية الجمل ج2 ص 119)
Dan tidak boleh mengamini do’a orang kafir karena do’anya tidak diterima sesuai dengan firman Allah Swt. dan do’a (ibadah) orang-orang kafir itu, hanya sia-sia belaka. (Hasyiyah al-Jamal, juz 2, hal. 119)
Dan sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam al-Rauyani dalam kitab Mughni al-Muhtaj:
لاَ يَجُوْزُ اَنْ يُّؤَمِّنَ عَلَى دُعَائِهِمْ كَمَا قَالَهُ اَلرُّوْياَنِىْ لِأَنَّ دُعاَءَ الْكاَفِرِ غَيْرُ مَقْبُوْلٍ (مغني المحتاج باب صلاة الاستسقاء، ج 1 ص 438)
Tidak boleh mengamini do’a mereka (orang kafir) sebagaimana pendapat yang dianut oleh Imam al-Rauyani, karena do’a mereka tidak akan diterima. (Mughni al-Muhtaj, bab Shalat Istisqo’ juz I, hal.438)
وَيُكْرَهُ إِخْرَاجُ اْلكُفَّارِ لِلْإِسْتِسْقاَءِ لِأَنَهُمْ اَعْداَءُ اللهِ فَلاَ يَجُوْزُ اَنْ يَتَوَسَّلَ بِهِمْ إِلَيْهِ فَإِنْ حَضَرُوْا وَتَمَيَّزُوْا لَمْ يُمْنَعُوْا لِأَنَّهُمْ جَاءُوْا فِيْ طَلَبِ الرِّزْقِ (المجموع ج 5 ص 69)
Dimakruhkan keluarnya orang-orang kafir untuk ikut shalat istisqo’ (meminta hujan) mengingat mereka adalah musuh-musuh Allah, maka tidak diperkenankan untuk bertawassul dengan mereka. Jika mereka ikut hadir dan keberadaan mereka berbeda dengan umat Islam, maka mereka tidak perlu dilarang karena mereka datang untuk mencari rizqi. (al-Majmu’, juz 5, hal. 69)
- Makruh dalam hal pertemuannya, jika perkumpulan tersebut berada di dalam musholla/masjid apalagi berbaurnya tersebut dilandasi hanya sekedar bekumpul tanpa ada tujuan yang positif.
(وَلاَ يَخْتَلِطُوْنَ) أَهْلُ الذِّمَّةِ وَلاَ غَيْرُهُمْ مِنْ سَائِرِ الْكُفَّارِ (بِناَ) فِيْ مُصَلاَّناَ وَلاَ عِنْدَ الْخُرُوْجِ أَيْ يُكْرَهُ ذلِكَ بَلْ يَتَمَيَّزُوْنَ عَناَّ فِيْ مَكاَنٍ لِأَنَّهُمْ أَعْدَاءُ اللهِ تَعَالَى إِذْ قَدْ يَحُلُّ بِهِمْ عَذَابٌ بِكُفْرِهِمْ فَيُصِيْبَناَ (مغنى المحتاج، ج 1 ص 323)
Orang kafir, baik dzimmi maupun orang kafir selain dzimi, itu tidak diperbolehkan menjadi satu majlis peribadatan kita, demikian halnya ketika kita keluar. Percampuran tersebut makruh, dan mereka harus berbeda dengan kita umat islam ketika berada dalam suatu tempat. Hal ini karena mereka musuh-musuh Allah Swt. yang suatu saat mereka akan ditimpa suatu adzab dengan kekufuran mereka itu dan adzab tersebut akan mengenai kita pula. (Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal. 323)
قَوْلُهُ: (تَحْرُمُ مَوَدَّةُ الْكَافِرِ) أَيْ الْمَحَبَّةُ وَالْمَيْلُ بِالْقَلْبِ وَأَمَّا الْمُخَالَطَةُ الظَّاهِرِيَّةُ فَمَكْرُوهَةٌ. (البجيرمي على الخطيب، ج 4 ص 291)
Haram mencintai orang kafir yakni adanya rasa suka dan kecenderungan hati kepadanya. Sedangkan sekedar bergaul secara lahir saja maka hukumnya makruh. (al-Bujairami ‘ala al-Khatib, juz 4, hal. 291)
- Boleh, mengamini atau memimpin do’a bersama non muslim bahkan sunnah jika isi do’anya memohon hidayah untuk dirinya, dan pertolongan untuk orang Islam.
فِي اسْتِحْبَابِ الدُّعَاءِ لِلْكَافِرِ خِلاَفٌ، وَاعْتَمَدَ م ر الْجَوَازَ وَأَظُنُّ أَنَّهُ قَالَ لاَ يَحْرُمُ الدُّعَاءُ لَهُ بِالْمَغْفِرَةِ إِلاَّ إِذَا أَرَادَ الْمَغْفِرَةَ لَهُ مَعَ مَوْتِهِ عَلَى الْكُفْرِ وَسَيَأْتِيْ فِي الْجَنَائِزِ التَّصْرِيْحُ بِتَحْرِيْمِ الدُّعَاءِ لِلْكَافِرِ بِالْمَغْفِرَةِ، نَعَمْ، إِنْ أَرَادَ اللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ إِنْ أَسْلَمَ أَوْ أَرَادَ الدُّعَاءَ لَهُ بِالْمَغْفِرَةِ أَنْ يَحْصُلَ لَهُ سَبَبُهُ وَهُوَ اْلإِسْلاَمُ ثـُمَّ هِيَ فَلاَ يُتَّجَهُ إِلاَّ الْجَوَازُ (شرح المنهاج، ج 2، ص 119)
Tentang hukum kesunnahan mendo’akan orang kafir terdapat khilaf (perbedaan). Imam Romli berpegang teguh pada hukum boleh. Saya (Syekh Zakaria al-Anshori) menyangka bahwa beliau (Imam Romli) berkata tidak ada keharaman mendo’akan orang kafir yang isinya tentang ampunan, kecuali jika dia menghendaki mendapat ampunan ketika mati dalam keadaan kufur. Dan di dalam bab jenazah dijelaskan bahwa mendoakan orang kafir itu hukumnya haram. Ya, jika yang dikehendaki adalah “mudah-mudahan Allah memberikan ampunan kepadanya jika dia masuk Islam”, atau menghendaki dengan doa ampunan itu untuk menghasilkan sebabnya. Dan (sebab dari ampunan tersebut) adalah Islam, kemudian mendapatkan ampunan. Maka, tidak ada pendapat yang diunggulkan, kecuali boleh. (Syarh al-Minhaj, juz 2, hal. 119)
وَقَدْ تَعْجَلُ لَهُمُ اْلإِجَابَةِ إِسْتِدْرَاجًا، وَبِهِ يُرَدُّ قَوْلُ الْبَحْرِ يَحْرُمُ التَّأْمِيْنُ عَلَى دُعَاءِ الْكَافِرِ لِأَنَّهُ غَيْرُ مَقْبُوْلٍ اهـ عَلَى أَنَّهُ قَدْ يُخْتَمُ لَهُ بِالْحُسْنَى فَلاَ عِلْمَ بِعَدَمِ قَبُوْلِهِ اِلاَّ بَعْدَ تَحَقُّقِ مَوْتِهِ عَلَى كُفْرٍ. ثُمَّ رَأَيْتُ اْلأَذْرَعِيَ قَالَ اِطْلاَقُهُ بَعِيْدٌ وَالْوَجْهُ جَوَازُ التَّأْمِيْنِ، بَلْ نَدْبُهُ إذَا دَعَا لِنَفْسِهِ بِالْهِدَايَةِ وَلَنَا بِالنَّصْرِ مَثَلًا (تحفة المحتاج بشرح المنهاج باب صلاة الاستسقاء ج 1 ص 387)
Dan terkadang do’a mereka lekas dikabulkan karena untuk memperdayai, dengan ini perkataan al-Bahri: (haram mengamini do’a orang kafir karena tidak dikabulkan) ditolak karena sesungguhnya kadang-kadang mereka baik diakhir hidupnya Maka tidak ada yang bisa mengetahui dengan tidak diterimanya (do’anya) kecuali setelah nyata matinya kafir. Kemudian saya melihat imam al-Adzro’i mengatakan: memutlakkannya itu jauh menurut satu pendapat: Boleh mengamini do’a orang kafir, bahkan sunnah jika ia berdo’a agar dirinya mendapatkan hidayah dan kita mendapatkan pertolongan umpamanya. (Tuhfah al-Muhtaj bi Syarh al-Minhaj, bab Shalat Istisqo’, juz 1, hal. 387)
وَثاَنِيْهَا (اَلْمُخَالِطَةُ) اَلْمُبَاشَرَةُ بِالْجَمِيْلِ فِى الدُّنْياَ بِحَسَبِ الظَّاهِرِ وَذلِكَ غَيْرُ مَمْنُوْعٍ (تفسير المنير، ج 1 ص 94)
Yang kedua, tidak dilarang untuk bergaul (dengan orang-orang kafir) dengan pergaulan yang baik di dunia. (Tafsir al-Munir li an-Nawawi, juz 1, hal. 94)
أَمَّا مُعَاشَرَتُهُمْ لِدَفْعِ ضَرَرٍ يَحْصُلُ مِنْهُمْ أَوْ جَلْبِ نَفْعٍ فَلَا حُرْمَةَ فِيهِ ا هـ ع ش عَلَى م ر (البجيرمي على الخطيب، ج 4 ص 291)
Adapun bergaul dengan mereka untuk mencegah timbulnya madlarat yang mungkin dilakukan oleh mereka, ataupun mengambil sesuatu manfaat dari pergaulan tersebut, maka hukumnya tidak haram. (al-Bujairami ‘ala al-Khatib, juz 4, hal. 291)
Do’a Menyembelih Hewan ‘Aqiqah
- Membaca syahadat
- Membaca shalawat
- Membaca do’a:
بِسْمِ اللهِ وَاللهُ اَكْبَرْ اللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَاِلَيْكَ اللهم هذَا عَقِيْقَةُ …………………
(menyebut nama yang diaqiqohi) فَتَقَبَّلْ مِنِّي كَمَا تَقَبَّلْتَ مِنْ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّكَ وَإِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلِكَ.
Do’a Menyembelih Hewan Qurban
- Membaca Syahadat
- Membaca Shalawat
- Membaca Do’a
بِسْمِ اللهِ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهم هَذَا مِنْكَ وَاِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنْ ……………………..
(menyebut nama yang diqurbani) كَمَا تَقَبَّلْتَ مِنْ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّكَ وَإِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلِكَ.
Do’a menyembelih hewan ‘aqiqoh dan do’a hewan qurban tersebut diterangkan dalam kitab Tanwir al-Qulub halaman 248.
Hukum Berobat dengan Mantra atau Do’a-Do’a
Di zaman ini banyak sekali macam pengobatan modern, tapi pada kenyataannya masih sering dijumpai pengobatan dengan menggunakan do’a–do’a atau mantra.
Bagaimana hukum berobat dengan menggunakan mantra atau do’a-do’a?
- Boleh, dengan ketentuan menggunakan Kalam Allah (al-Qur’an) atau menggunakan nama-nama Allah (Asmaul husna) dan tidak ada unsur syirik atau kemusyrikan di dalamnya. Hal ini dijelaskan dalam kitab Khazinah al-Asrâr, hlm. 66:
(وَقَالَ) القُرْطُبِي تَجُوْزُ الرُقْيَةُ بِكَلاَمِ اللهِ تَعَالَى وَبِأَسْمَائِهِ فَإِنْ كَانَ مَأْثُوْرًا اُسْتُحِبَّ (خزينة الأسرار، ص 66)
Sebagaimana dalam hadits Sunan Ibn Mâjah, hlm. 355, juz III, nomor hadits 3528:
حَدَّثَنَا أَبوُ بَكْرِ بْنُ أِبِى شَيْبَةَ وَعَلَىُّ بْنِ مَيْمُوْنِ الرَّقِيُّ, وَسَهْلُ بْنِ أَبِى سَهْلٍ قَالُوا حَدَّثْنَا وَكِيْعٌ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ عَنِ الزُّهْرِىِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْفُثُ فِي الرُّقْيَةِ (سنن إبن ماجة، ص 355، ج 2، رقم الحديث 3528، سنن ابى داود، ص 230، ج 2، رقم 3886)
- Sunnah, jika kalimat-kalimat yang digunakan untuk berobat adalah ma’tsur (pernah diajarkan Rasulullah) dan tidak ada unsur syirik atau kemusyrikan di dalamnya. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Khazinah al-Asrâr, hlm. 66:
(وَقَالَ) القُرْطُبِي تَجُوْزُ الرُقْيَةُ بِكَلاَمِ اللهِ تَعَالَى وَبِأَسْمَائِهِ فَإِنْ كَانَ مَأْثُوْرًا اُسْتُحِبَّ (خزينة الأسرار، ص 66)
- Dilarang, jika kalimat tersebut tidak diketahui maknanya karena kalimat yang tidak diketahui maknanya akan menimbulkan kekufuran dan keharaman. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Fatâwî al-Kubro al-Fiqhiyah, juz I, hlm. 37:
وَحَيْثُ كان فِي الرُّقْيَةِ اسْمٌ سُرْيَانِيٌّ مَثَلًا لم يَجُزْ اسْتِعْمَالُهَا قِرَاءَةً وَلَا كِتَابَةً إلَّا إنْ قال أَحَدٌ من أَهْلِ الْعِلْمِ الْمَوْثُوقِ بِهِمْ إنَّ مَدْلُولَ ذلك الِاسْمِ مَعْنًى جَائِزٌ لِأَنَّ تِلْكَ الْأَسْمَاءَ الْمَجْهُوْلَةَ الْمَعْنَى قَدْ تَكُونُ دَالَّةً عَلَى كُفْرٍ أو مُحَرَّمٍ كما صَرَّحَ بِهِ أَئِمَّتُنَا فَلِذَلِكَ حَرَّمُوهَا قبل عِلْمِ مَعْنَاهَا (الفتاوي الكبرى الفقهية، ج 1، ص 37، المكتبة الشاملة)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ الْجَزَّارِ عَنِ ابْنِ أَخِى زَيْنَبَ امْرَأَةِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ زَيْنَبَ امْرَأَةِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ-صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ ». قَالَتْ قُلْتُ لِمَ تَقُولُ هَذَا وَاللَّهِ لَقَدْ كَانَتْ عَيْنِى تَقْذِفُ وَكُنْتُ أَخْتَلِفُ إِلَى فُلاَنٍ الْيَهُودِىِّ يَرْقِينِى فَإِذَا رَقَانِى سَكَنَتْ. فَقَالَ عَبْدُ اللهِ إِنَّمَا ذَاكِ عَمَلُ الشَّيْطَانِ كَانَ يَنْخَسُهَا بِيَدِهِ فَإِذَا رَقَاهَا كَفَّ عَنْهَا إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكِ أَنْ تَقُولِى كَمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ-صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا » (سنن ابى داود ص 229، ج 2، رقم 3883)
Citation
Santri Pondok Pesantren demo: „Dzikir dan Doa“,Version 1.0. In: Ensiklopedi Fikih. Published by Pondok Pesantren demo, Pasuruan, Indonesia, Pasuruan, 16.10.2023.